7 Hours Before Rain
( • )
Banyak yang mengatakan hidup Fang kelewat serius. Pemuda itu jarang—atau malah tidak pernah—bercanda dengan teman-teman sekelasnya, bahkan untuk sekedar tersenyum. Hanya ekspresi datar yang menyiratkan keseriusan hingga dirinya dibanding dengan salah satu kakak kelas mereka yang terkenal minim ekspresi.
Fang tidak pernah menyangkal pemikiran orang-orang terhadapnya, karena pemikiran mereka tidaklah salah. Fang memang kelewat serius, selama 17 tahun hidupnya dihabiskan untuk belajar, untuk membanggakan sang ibu. Melupakan apapun kesenangan pribadinya jikalau hal itu menghambat niatnya. Bahkan termasuk dengan pertemanan. Dalam hidup Fang, Ocho adalah sahabat pertama dan begitu berharga untuknya.
Dia mempercayai Ocho lebih dari dirinya mempercayai diri sendiri. Ocho—entah kenapa—benar-benar mengenalinya, seluruh sifat hingga kebiasaannya. Ocho mengenal baik seorang Fang lebih dari pemuda itu mengenali dirinya sendiri.
"Fang, apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
Saat Ocho menanyakan hal itu, Fang bahkan tidak tahu jika dirinya merasa tidak nyaman. Lagipula apa yang membuatnya merasa tidak nyaman?
Pemuda itu bertanya-tanya.
Saat memasuki kelas, pandangannya tidak sengaja bertemu dengan sang murid baru. Hanya sesaat sebelum keduanya sama-sama mengalihkan pandangan. Hanya sesaat, namun ada getaran aneh dalam dirinya.
Fang yang telah duduk di bangkunya, perlahan mengalihkan pandangannya pada meja di pojok belakang kelas. Manik matanya menangkap sosok si murid baru yang tengah menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian Fang telah menoleh ke bangku di belakang, tempat Ocho duduk.
"Catatanmu nanti aku pinjam, ya?"
"Tumben." Meski begitu, Ocho tetap menganggukkan kepalanya.
( • )
