Gaara membuka kembali matanya cepat kemudian menoleh pada Kankurou.
"Katanya kekasihnya meninggal saat sedang melawan musuh yang menyerang Konohagakure." Ucapnya santai. Ia pejamkan matanya untuk menikmati air hangat di tubuhnya.
Pemuda merah itu menatap lurus ke kejauhan, 'Mungkin saja dia termasuk.' Batinnya.
Bulan purnama di musim dingin bersinar cerah di atas kepalanya tanpa segumpal awan yang menghalangi. Menemani mereka dalam keheningan malam di tengah pemandian yang sepi.
Marriage Kazekage
Ishikawa Natsumi
Naruto : Masashi Kishimoto
Suara burung mencicit di luar sana membangunkan Gaara dari tidur singkatnya. Insomnianya semalam membuatnya hanya bisa terlelap selama beberapa menit dan kini pagi yang cerah sudah menyambutnya. Dilihatnya Kankurou yang masih tertidur di sampingnya dengan lelap. Gaara menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia ingat, hari ini mereka akan tiba di desa Konoha. Ia akan selalu ingat, hari ini adalah hari pertemuan pertamanya dengan calon istrinya. Gaara masih duduk diatas futonnya sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit pagi ini. Tiap kali insomnianya menyerang, ia pasti merasakan sakit kepala di pagi harinya.
Ia bangkit berdiri perlahan. Di sampingnya sang kakak masih tertidur pulas. Tak sampai hati pemuda merah itu untuk membangunkan Kankurou yang terlihat sangat kelelahan. Mungkin ia terlalu keras sepanjang perjalanan ini. Baru ia sadari kalau dirinya begitu terburu-buru untuk sampai di salah satu desa aliansinya itu. Perasaan gelisah memang selalu mengiringi dirinya sejak kepergiannya dari Sunagakure. Gelisah akan pernikahan yang akan dilaksanakannya. Dan yang tak disangka, ia juga merasa ingin segera bertemu dengan gadis yang dipilihkan oleh Hokage. Gadis yang akan menjadi calon istrinya.
Sebelah tangannya mengambil gelas yang masih telungkup di atas meja sedangkan tangan yang lainnya menuangkan air dari teko. Segera saja ia meminum habis cairan bening tersebut seolah ia baru saja menempuh jalan panjang dengan berlari. Yah, dia melakukannya karena hal itu dianggap sebagai penghilang rasa sakit. Nyatanya hal itu tak membantunya sama sekali. Ia memilih kembali ke futonnya, tapi bukan untuk kembali berbaring di atasnya melainkan untuk melipatnya. Ia simpan lipatan rapi itu di sudut ruangan. Sampai saat ini pun kakaknya itu masih belum terbangun dan sampai sekarang pun Gaara tak tega membangunkannya. Pemuda itu membiarkan semuanya tidur lebih lama sebagai balasan atas apa yang dilakukannya selama perjalanan kemari. Lagipula ini hari terakhir perjalanan mereka, Gaara ingin lebih menikmatinya sekarang. Menikmati perjalanan terakhirnya dalam kesendirian.
Ia kenakan busana merah kebangsaannya, tak lupa ia sampirkan guci pasir di punggungnya. Dengan senyum tipis di bibirnya, ia tinggalkan ruangan itu.
Tepat sepuluh menit setelah kepergian Gaara, Temari membuka pintu ruangan itu, "Kankurou!" teriak Temari begitu kakinya menapaki tatami kamar adik-adiknya. Buru-buru ia menerobos masuk ke dalam hingga tak memperhatikan ada undakan untuk turun ketika memasuki kamar itu, "Aduh!" akibatnya kaki kanannya terkilir. Tapi ia tak mempedulikan hal itu. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Gaara dan keselamatannya.
"Bangun Kankurou! Dimana Gaara?!" bentaknya lagi ketika laki-laki itu masih tak bergerak. Kejengkelan mulai menguasai dirinya. Ia guncangkan tubuh adiknya itu sekuat tenaga. Meskipun Temari sudah mengerahkan segenap tenaganya untuk membuat Kankurou sadar, tapi laki-laki itu tetap tak membuka matanya dan hanya beringsut untuk menyelimuti tubuhnya. Rasa jengkelnya kian memuncak sampai ia sanggup untuk memukul adiknya sendiri dengan kipasnya.
Untungnya seorang jonin yang mendengar keributan itu segera menghampiri Temari yang sudah siap dengan kipas ditangannya, "Nona Temari! Kazekage-sama sedang berada di luar." Perkatannya berhasil mencegah Temari untuk melukai adiknya sendiri.
"Benarkah? Apa ada jonin yang menjaganya?" raut kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Biasanya Gaara tak mau ada jonin yang menjaganya ketika berada di sebuah desa. Hal itulah yang membuatnya cemas.
Dengan sigap jonin itu menjawab, "Ada dua jonin yang bersamanya. Anda tak perlu cemas." Ucapnya puas.
Hembusan napas Temari menunjukkan kelegaannya karena telah menemukan sang adik bungsu, "Syukurlah, kukira terjadi sesuatu padanya. Aku akan menghampirinya, kau bangunkan Kankurou." Perintah itu terdengar penuh ancaman sehingga tak seorang pun yang mendengarnya sanggup menolak.
"Ba, baik Nona Temari," jonin itu menyanggupi terpaksa. Kalau Temari saja tak bisa membangunkannya, bagaimana dirinya bisa?
Daun-daun bergemerisik ramai ketika hembusan angin musim dingin menebaknya, sama seperti helaian rambut merah yang bergerak searah dengan udara yang bergerak tersebut. Menghirup udara segar sedikit mengurangi rasa sakit kepalanya. Ia meminta para jonin untuk tetap berjarak lima meter dibelakangnya selama ia berjalan-jalan di tepian sungai yang teduh itu. Diam-diam Temari berjalan di belakangnya, semakin lama semakin dekat hingga akhirnya hanya berjarak satu langkah.
Niat Temari yang ingin mengejutkan adiknya itu gagal total ketika Gaara berucap, "Ada apa Temari?" dengan datar seolah kakaknya itu hendak melaporkan sesuatu. Ia bisa merasakan cakra Temari walupun sangat sedikit.
Meski gagal, wanita itu tetap tertawa, "Tidak ada, tak bisakah kau sedikit lebih manis sebagai adik?" kini ia berjalan bersisian.
Bibirnya membentuk sebuah garis walaupun ujung-ujungnya sudah tertarik, "Aku bukan hanya adikmu, tapi juga Kazekage Sunagakure." Sekilas pernyataan tersebut tidak terdengar seperti jawaban untuk Temari, tapi pernyataan itu cukup memberikan sebuah alasan yang menjawabnya.
"Ya aku tahu, itu berarti kau atasanku sekarang." Wanita itu tersenyum sendu. Ia sedih karena tak bisa bergurau lagi dengan adiknya yang satu ini, tapi ia juga bangga karena adiknya itu berhasil menjadi orang terpenting di desanya.
Gaara tak merespon. Ia tahu kakaknya itu hanya ingin merebut perhatian adiknya, sayangnya Gaara tidak dalam posisi untuk melakukan itu. Segala tuntutan yang dibebankan padanya membuat ia tak memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga. Keberhasilannya menjadi pemimpin desa harus dibayar mahal dengan semakin sedikitnya waktu bersama keluarga. Padahal ia masih beruntung memilikinya dibandingkan Naruto.
"Ada lagi yang kau pikirkan, Gaara?" tanya Temari lembut. Tak biasanya Gaara berjalan santai dan menghabiskan waktu dengan tidak melakukan apapun. Apalagi dengan hobi bertarungnya.
"Tidak," jawabnya tenang. Ia memang tidak sedang memikirkan apapun. Tapi tujuannya melakukan semua ini untuk membiarkan kedua saudaranya itu beristirahat.
Lagi, Temari tersenyum sendu, "Baiklah, jika kau tak ingin mengatakannya," ia mengerti jika Gaara tak ingin mengatakannya. Sejak dulu laki-laki itu memang selalu begitu, "Tapi, kenapa kau tidak membangunkan Kankurou? Bukankah seharusnya kita segera pergi?" keluar juga pertanyaan itu.
Agaknya Gaara paling tidak ingin menjawab pertanyaan yang satu ini. Ia paling tidak bisa mengekspresikan kasih sayangnya, "Kankurou itu sulit untuk dibangunkan, kita akan pergi setelah dia bangun." Tepat setelah ucapannya berakhir, terdengar panggilan untuknya dari belakang.
"Gaara! Temari! Kenapa kalian meninggalkanku?" sambil memakai sebelah sepatunya, Kankurou berlari mengejar dua saudaranya dengan kesalah pahamannya.
~#~#~#~
Ketukan singkat di pintu apartemennya membuat Sakura harus mendatangi pintu itu dan melihat siapa yang ada dibaliknya. Ia sedikit mengumpat ketika ada tamu di saat-saat dirinya sedang membaca, hobinya sejak beberapa bulan terakhir. Padahal buku yang sedang dibacanya sampai di bagian yang paling seru.
"Siapa?" pertanyaannya menggantung di udara begitu ia melihat seseorang dibalik pintu itu.
Seorang lelaki berbaju ketat, berambut bop, dan beralis tebal sedang tertawa lebar di hadapannya, "Hai Sakura-chan!" sapa laki-laki itu penuh semangat.
Sakura ikut tertawa begitu melihat pemuda nyentrik itu, "Hai Lee, ada apa?" tanyanya ceria terbawa suasana yang menguar dari lelaki di depannya itu.
Pemuda bernama Lee itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan ekspresi malu-malu ia berujar, "AKu hanya ingin melihatmu saja." jawabnya.
Bagaimana pun sebagai seorang perempuan, rona merah muda muncul juga di pipi Sakura jika ada yang bicara seperti itu, "Oh begitu," timpalnya malu. Beberapa detik kemudian ia bisa menguasai dirinya lagi, "Ayo masuk." Ajaknya setelah dirasa suasana mulai mencair.
"Tidak perlu!" sergah pemuda itu cepat, "Kudengar kau mengambil cuti dari rumah sakit. Kukira kau sedang tidak sehat, karena itu aku datang kemari." Lee menjelaskan maksudnya dengan salah tingkah.
Senyuman manis Sakura berikan atas niat tulus pemuda yang telah mencemaskan dirinya itu, "Arigatou ne sudah mengunjungiku." Ucapan penuh terima kasih meluncur dari bibir tipisnya.
Pemuda berambut hitam itu menampilkan cengiran lebarnya disertai semburat merah muda di pipinya setelah mendapatkan senyuman dari gadis pujaannya, "Sama-sama," selagi mereka mengobrol, tidak ada salahnya ia mencoba untuk mengajak gadis itu untuk berkencan lagi, "Ano, apakah kau ada waktu siang ini?" tanyanya ragu-ragu. Biasanya Sakura selalu menolaknya tiap kali ia mengajaknya. Tapi dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya pasti ada satu yang berhasil.
Gadis pink itu terlihat berpikir, lalu menjawab, "Sepertinya siang ini..." perkataanya terputus ketika seseorang menginterupsinya.
"Dia sibuk siang ini," Shikamaru menjawabnya mewakili Sakura. Suaranya berhasil merebut perhatian kedua orang yang tadinya sedang mengobrol.
Seketika air mata merebak di mata pemuda berambut bop itu, "Apa kalian akan berkencan?" tanyanya penuh kesedihan.
Shikamaru menoleh ke arah Lee, "Tidak," jawabnya malas kemudian beralih pada Sakura, "Hokage-sama memanggilmu." Tangannya mengambil sebatang rokok dari kotaknya dan menyalakannya dengan pematik api pemberian Asuma.
Seolah baru saja mendapat perintah, Sakura bergegas masuk ke apartemennya, "Baik, tunggu sebentar!" ucapnya sebelum menutup pintu.
Lelaki berambut nanas itu bersandar santai di dinding sambil menghisap rokoknya nikmat. Lee, masih dengan tatapan bercucuran air mata, bertanya lagi kepada Shikamaru, "Benarkah dia sibuk siang ini?" nada ragu terdengar dari suaranya yang bergetar.
'Ck, mendokusai.' Pikir Shikamaru jengkel, "Ya, dia masih akan sibuk hingga beberapa bulan lagi." Jawabnya mendramatisir setelah menghembuskan asap rokoknya.
Seketika semangat masa muda dalam diri Lee padam. Kepalanya tertunduk dan air matanya mengalir lebih deras, "Kenapa dia bisa sesibuk itu?" gumamnya penuh penyesalan.
Mendengar gumaman Lee, Shikamaru lantas menjwabnya, "Kau juga akan tahu sebabnya nanti,"
Tubuh Lee semakin lesu mendengar penuturan lelaki kepercayaan Hokage itu. Setelah menghela napas berat, ia berpamitan, "Kalau begitu aku pulang dulu. Tolong sampaikan pada Sakura-chan ya?" Tanpa menunggu sahutan dari Shikamaru, ia berjalan pelan menuruni tangga.
"Ck, mendokusai," sahutnya di sela-sela isapan rokoknya.
Beberapa detik berikutnya, Sakura muncul dari balik pintu apartemennya. Matanya menyipit ketika seseorang yang sebelumnya ada sudah menghilang, "Dimana Lee?" kepalanya menoleh ke sisi kanan dan kirinya.
Shikamaru berdiri tegak. Ia lepaskan batang rokoknya, "Dia sudah pulang." Jawaban ketus keluar dari mulutnya.
Gadis gulali itu menatap Shikamaru curiga, "Kau tidak mengatakan yang aneh-aneh kan?" pendaran cakra biru sudah melapisi tangannya, mengancam siapa saja yang sudah bicara bodoh tentangnya.
Tetapi lelaki itu masih saja menghisap rokok dengan santainya. Ia berjalan melewati gadis itu menuju tangga turun, "Tidak," jawabnya sebelum menapaki tangga pertama, "Cepat sedikit, Hokage sudah menunggu."
Cakra di tangannya menghilang begitu ia mengingat tugasnya. Ia segera menyusul Shikamaru yang sudah lebih dulu menuruni tangga, "Tunggu aku, Shikamaru!" teriaknya.
~#~#~#~
Kazekage dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan segera setelah Kankurou bangun dari tidur panjangnya. Mereka tinggal menempuh tiga belas kilometer lagi untuk sampai di Konoha dan itu artinya 40 menit lagi mereka sampai di sana dengan melompati pohon.
Kankurou yang melompat di belakang Temari merasa ada yang aneh dengan langkah kaki kakaknya itu. Berkali-kali ia mendarat dengan kaki kirinya padahal tidak bagus untuk mendaratkan kaki berulang seperti itu. Pemuda berambut jabrik itu juga melihat Temari berusaha mengganti kakinya ketika akan mendarat di dahan berikutnya agar ia menggunakan kaki kirinya.
'Pasti ada yang tidak beres dengan kakinya,' simpul Kankurou setelahnya. Jika ia yang langsung menegurnya, Temari pasti menyangkalnya. Ia harus membicarakannya dulu dengan Gaara. Jadi, ia mempercepat langkahnya hingga tepat berada di samping adiknya, "Gaara, kurasa ada yang tidak beres dengan kaki kanan Temari."
Gaara berhenti mendadak saat itu juga begitu ia mendengar penuturan Kankurou. Temari yang tidak memperkirakannya salah berpijak dengan kaki kanannya hingga ia meringis kesakitan, "Kau terluka Temari?" tanya pemuda bertato Ai itu dingin. Nada bicaranya berubah menjadi dingin bukan karena marah, tapi karena ia mencemaskan kakak perempuannya itu.
Temari tak menjawab, ia menunduk menekuni kedua kakinya. Kalau sudah begini, ia tak bisa menyangkalnya.
Pemuda bersurai merah itu melompat ke dahan tempat Temari berdiri, "Duduklah," katanya singkat. Seperti yang diduga Kankurou, Temari selalu menuruti apa kata Gaara. Wanita itu duduk dengan melipat kakinya, "Tunjukkan kaki kananmu." Nada perintah tak sengaja Gaara berikan kepada kakaknya.
Butuh waktu cukup lama untuk Temari mematuhi perintah ini, walaupun akhirnya ia menunjukan kakinya.
Gaara membuka sepatu Temari hingga terlihatlah pergelangan kakinya yang membengkak, "Kenapa kau tidak mengatakannya?" tatapan intimidasi dan pertanyaan tajam dari Gaara sanggup membuat siapapun menjawabnya.
"Aku tak ingin menghambat perjalanan ini." jawabnya pelan. Ia merasa begitu lemah sampai merepotkan Gaara dan yang lainnya.
Sang Kazekage muda lebih merilekskan ekspresinya, "Kau tak akan menghambatnya, mulai dari sini aku akan memapahmu." Ia tambahkan senyum tipis untuk menenangkan Temari.
~#~#~#~
Berbeda dengan dugaannya, ia dibawa menuju gerbang desa. Awalnya Sakura mengira Shikamaru akan membawanya ke gedung Hokage, tapi ternyata di sanalah mereka, di satu-satunya gerbang desa Konoha yang menjulang tinggi. Benar yang dikatakan Shikamaru, Hokage sudah menunggunya sambil mengobrol dengan para jonin yang sedang bertugas menjaga. Tak biasanya mantan gurunya itu datang lebih dulu darinya.
"Hokage-sama," panggil Shikamaru menandakan keberadaannya.
Kakashi menghentikan obrolannya dan lekas menoleh ke asal suara, "Kalian sudah di sini?" tanyanya retoris. Tatapannya beralih kepada Sakura yang berdiri di samping Shikamaru, "Kazekage akan tiba sebentar lagi." Katanya memberitahu.
Sakura mengangguk paham. Berarti ia ada di sini untuk menyambut Kazekage, menyambut calon suaminya, "Aku harus bagaimana nanti?" otaknya berpikir keras menyusun serangkaian kata-kata pertama untuk membuka pembicaraan. Sejauh yang ia ingat, Gaara bukanlah tipe orang yang suka membuka percakapan, itu artinya ia yang harus bicara lebih dulu.
"Tenanglah sedikit," celetuk Shikamaru. Gadis pink itu menoleh padanya lalu mengernyit bingung, seakan bertanya maksudmu aku? Shikamaru memutar bola matanya. Ia tak menyangka medic-nin yang terkenal paling cerdas di desa itu bisa selamban ini, "Kau pikir tamu suka melihat wajah ditekukmu itu?"
Pertanyaan retoris dari Shikamaru itu membuat Sakura sadar kalau ekspresinya memang tidak enak dipandang. Jadi, dengan cepat ia tersenyum dan menunjukkan wajah cerianya.
"Oh, itu mereka!" seru salah seorang jonin yang memegang teropong sambil menunjuk setitik bayangan bergerak di kejauhan.
Beberapa menit menunggu lagi, akhirnya Gaara dan yang lainnya tiba di sebuah gerbang megah, pintu masuk menuju desa Konoha.
"Selamat datang di Konoha," sambut Kakashi seraya menjabat tangan Gaara sambil tersenyum di balik maskernya.
Sang Kazekage pun tersenyum tipis menerima penyambutan itu dengan senang hati, "Terima kasih," ujarnya singkat.
Seorang gadis berambut gulali menatap sang pemuda merah diam-diam sementara lelaki berambut nanas disampingnya menatap malas ke arah wanita berkucir empat yang berdiri dibelakang Gaara. Para jonin dan Kankurou menyapa jonin Konoha yang sedang bertugas diiringi tawa renyah.
"Kuharap kalian bisa menikmati waktu kalian di Konoha. Shikamaru akan mengantar kalian menuju penginapan," Kakashi mempersilahkan tamu-tamunya untuk berjalan lebih dulu mengikuti Shikamaru sebagai penunjuk jalan.
"Maaf, tapi ada yang terluka diantara kami. Bisakah kita ke rumah sakit dulu?" Gaara melirik Temari yang malu karena lukanya diakibatkan oleh kecerobohan dirinya sendiri. Iris jeruk nipisnya beralih pada Kankurou, "Kankurou, kau dan yang lainnya bisa ke penginapan lebih dulu." nada perintah terdengar dari suaranya.
'Sepertinya dia sudah biasa memerintah orang,' batin Sakura menebak-nebak.
"Baiklah, kau tidak ingin salah satu dari mereka ikut?" tanya Kankurou menunjuk para jonin di belakanngnya.
"Aku tidak memerlukannya di sini." jawabnya. Tangannya meraih siku Temari dan menuntunnya untuk berjalan.
Mengerti dengan keadaan mereka, akhirnya Kakashi sendiri yang menunjukkan jalan menuju rumah sakit, "Baiklah, lewat sini." kemudian ia berjalan lebih dulu. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia kembali menoleh ketika mengingat sesuatu, "Sakura, ikut aku!"
Ia merasa seperti sudah diselamatkan setelah sekian lama tersesat. Sejak Kazekage menginjakkan kaki di gerbang desa, Sakura hanya bisa menonton mereka yang saling berbicara satu sama lain. Ia tak tahu harus berbuat apa sementara yang lainnya sibuk dengan teman-temannya. Bahkan Shikamaru mengobrol dengan Temari.
Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di rumah sakit konoha. Naluri Sakura sebagai ninja medis langsung muncul ke permukaan begitu menginjak lantai rumah sakit, "Jadi, siapa yang terluka?" tanyanya.
Gaara menatap Sakura tanpa berkata apapun. Temari menyikutnya untuk menyadarkan lelaki itu, "Aku, kakiku terluka." Akhirnya ia sendiri yang menjawabnya. Ia ingat kalau Sakura adalah ninja medis dan beberapa kali datang ke desa Suna untuk mengajar perawat muda.
"Kalau begitu silahkan kemari," Sakura membawa Temari ke UGD.
Gaara masih terdiam memandangi kepergian kakaknya yang dibawa Sakura. Kakashi hanya tersenyum simpul, "Sakura adalah salah satu ninja medis kebanggaan desa kami. Kakakmu aman bersamanya." Ujarnya ketika dilihatnya Gaara masih terpaku.
Rumah sakit itu terbilang sepi, hanya ada seorang perawat yang berjaga di nurse station di depan pintu masuk. Gaara menoleh pada Kakashi, "Apa kau sudah menemukannya?" tanyanya ambigu.
Untuk sesaat Kakashi tidak mengerti apa maksudnya, tapi di detik berikutnya ia ingat. Sambil tertawa, ia berkata, "Kau sudah melihatnya sejak tadi." Jawabnya ringan.
Sang Kazekage muda mengernyit sebentar, "Maksudmu?" ia sama sekali tak memperhatikan perempuan-perempuan yang melewatinya sejak tadi.
Sang Hokage tertawa, "Dia Sakura, medic-nin terbaik desa kami." Ujarnya bangga, "Salah satu murid terbaikku." Tambahnya pelan.
~#~#~#~
"Kakimu terluka dan kau masih memakainya berjalan?" tanya Sakura tak percaya. Tangannya berpendar karena cakra kehijauan. Bengkak di kaki Temari kembali berangsur-angsur hilang.
Temari menghembuskan napas lalu tersenyum, "Yah, kupikir hanya luka seperti ini tak bisa menahan perjalanan kami." Cara bicaranya yang dewasa membuat Sakura kagum. Ia satu-satunya perempuan dalam kelompok itu, dan dalam keadaan kaki terluka ia masih kuat berjalan sejauh berpuluh-puluh kilometer.
"Baiklah, sudah selesai. Kau bisa istirahat di sini dulu jika kau mau." Tawar Sakura. Melihat lukanya yang cukup dalam tadi, pasti terasa menyakitkan jika dipakai untuk berjalan. Tapi ia berhasil menyembuhkannya dalam waktu singkat.
"Aku akan pulang ke penginapan saja," Temari menolaknya dengan suara keibuan seraya turun dari kasur rumah sakit.
"Tunggu, biar kuantar!" seru Sakura sambil membereskan peralatannya dengan cepat.
Temari tersenyum lagi, "Tidak perlu, aku tahu dimana mereka menginap." Jawabnya ringan. "Aku pasti akan sangat senang jika punya adik perempuan sepertimu." Temari memakai sepatunya lagi dan meraih kipasnya yang disandarkan di dinding, "Sampai jumpa lagi dan terima kasih sudah merawatku!" serunya sebelum melewati pintu UGD.
'Aku memang akan menjadi adikmu,' batin Sakura.
Sementara itu Kakashi dan Gaara sedang berjalan-jalan di sekitar rumah sakit dan akhirnya berhenti di sebuah taman. Langit sudah menampakkan semburat jingganya. Anak-anak berlarian menuju ibunya masing-masing yang sudah memanggil mereka untuk pulang. Sang Hokage bersandar di salah satu besi pembatas dan Gaara berdiri disampingnya, mereka menonton kejadian itu tanpa berkata apa-apa. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Beberapa orang tua menyapa kakashi, dan pria itu mengangguk membalas sapaan mereka.
"Apa hanya dia?" tanya Gaara sekali lagi dengan ucapan yang ambigu setelah taman itu benar-benar sepi.
"Hm?" Kakashi menoleh tak paham. Tapi selama apapun ditunggunya, Gaara tak juga menjelaskan maksudnya. Jadi Kakashi hanya bisa menyimpulkan kalau pertanyaan itu tekait dengan Sakura, "Kurasa hanya dia yang memenuhi kriteria."
Pelan-pelan laki-laki bersurai merah itu menghembuskan napasnya, ia bersyukur sekarang. Ia bersyukur pada Kami-sama karena telah mengabulkan permohonannya. Ia bersyukur karena Kakashi sudah memilih gadis itu untuk menjadi calon istrinya.
Mengira Gaara tak bereaksi apapun, Kakashi bertanya, "Apa kau tidak suka?" Ia salah tanggap mengenai diamnya Gaara sebagai penolakan.
"Bukan," jawab pemuda itu singkat. Ia pejamkan matanya kemudian bersedekap, "Apa dia sudah setuju?" tanyanya lagi setelah membuka matanya.
Kakashi menaikkan kedua alisnya, "Yah, dia sudah setuju," terselip jeda di antara ucapannya. Ia melanjutkannya lagi, "Ia menerimanya demi desanya."
Seulas senyum tipis tercetak di bibirnya. Akhirnya ia menemukan gadis yang sama seperti dirinya. Layaknya yang sudah dikatakan Temari, gadis itu menerima pernikahan ini demi desanya.
"Hokage-sama!" panggilan dari seorang gadis bersuara renyah terdengar dari kejauhan. Gadis itu berlari dari ujung jalan sampai ke hadapan pimpinan desanya, "Kucari kemana-mana, ternyata ada di sini." keluh si gadis pink.
"Apa Temari sudah selesai kau rawat, Sakura?" Kakashi menegakkan badannya, mata sayunya menatap Sakura kemudian melirik sang Kazekage muda.
"Ya, lukanya tidak terlalu parah," ia menoleh kepada Gaara, "Temari-san sudah kembali ke penginapan." Senyumannya luntur seketika begitu dihadapkan dengan wajah tanpa ekspresi di hadapannya.
"Kerja bagus," tutur sang Hokage singkat. Jari-jarinya ia masukkan ke dalam saku celananya, menampilkan pose santai khas dirinya, "Kalau begitu aku akan kembali ke gedung Hokage. Sakura, tolong antarkan Kazekage ke penginapannya."
Sakura spontan terkesiap begitu mendengar perintah atasannya yang terbilang cukup membuatnya tegang, "Ba, baik Hokage-sama!" tapi pada akhirnya ia tetap menerima perintah itu. Setelah mendengar jawaban anak buahnya, Kakashi langsung menghilang diiringi suara letupan dan kepulan asap. Sakura berbalik menghadap Gaara, dengan canggung ia berkata, "Mari, lewat sini Kazekage-sama." Seraya menunjukkan jalannya. Gaara sedikit merilekskan ekspresinya sampai senyum yang sangat tipis terbentuk di bibirnya. Lelaki itu mengikuti langkah Sakura yang sudah berjalan lebih dulu di depannya.
Langit kemerahan sudah menghilang digantikan langit gelap berwarna hitam pekat. Keadaan semakin canggung setelah semakin jauh mereka berjalan di jalanan desa Konoha yang menyepi. Pikiran-pikirannya yang sudah menyusun kata demi kata sesaat sebelum Gaara menapakkan kaki di Konoha, menghilang bagai asap tertiup angin. Begitu dihadapkan dengan orangnya langsung, gadis itu tak bisa berkutik sedikit pun. Tak sedikit dari orang-orang di sekitar mereka yang melirik dengan ingin tahu. Mereka segera berbelok melalui jalan yang lebih sepi. Namun, keduanya tetap berjalan berdampingan dengan jarak satu meter.
Bicara soal hitam, sepertinya lingkar hitam di sekitar mata Gaara bertambah. 'Apa dia masih tidak bisa tidur? Bukankah Shukaku sudah diekstrak dari tubuhnya?' gumam Sakura dalam hati. Dengan kenyataan itu seharusnya Gaara sudah bisa tidur karena Shukaku tidak akan mengambil alih tubuhnya ketia ia tertidur.
Sejak mereka memulai perjalanan dari taman itu, ia belum pernah melirik ke samping sedikit pun. Ia takut tertangkap basah sedang mencuri-curi pandang ke arah seorang Kazekage. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Diam-diam ia memutar bola mataya hingga bayangan Gaara tertangkap dari sudut matanya. Sayangnya, keadaan jalan yang tidak memiliki penerangan yang cukup membuat matanya tak mampu menangkap detil-detil wajah sang Kazekage. Sakura mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalanan tanah yang lembab di musim dingin ini.
'Tunggu!' cegah Sakura pada dirinya sendiri. Jika matanya tidak salah, ada pantulan sinar lampu temaram dari rumah-rumah di wajah Gaara. 'Laki-laki itu berkeringat di malam musim dingin? Pasti ada sesuatu yang tidak beres.' Gadis itu mencoba untuk memberanikan diri bertanya, "Kazekage-sama? Anda baik-baik saja?" masih dengan sopan santunnya, Sakura berhenti melangkah dan lebih mencermati wajah Gaara.
Pemuda merah itu mengernyit, "Apa maksudmu?" lelaki itu malah menjawab pertanyaan Sakura dengan pertanyaan lagi.
Buru-buru Sakura mengoreksi ucapannya, "Maaf, aku hanya..." belum selesai ia menjelaskan, kata-katanya sudah disambung oleh lelaki di depannya.
"Kau tahu aku sedang kurang sehat?" kali ini Gaara tiba-tiba bertanya. Salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyum miring yang tak tertangkap mata Sakura.
Cahaya yang sangat minim di sana membuat Sakura tak bisa melihat bagaimana ekspresi Gaara, ia tak tahu lelaki itu sedang tersinggung atau senang, "Maafkan aku, tapi tolong izinkan aku memeriksa kondisimu."
Seminim apapun cahayanya, tapi anggukan Gaara sebagai jawaban tetap sampai ke mata Sakura. Senyum lega di bibir gadis itu menghangatkan suasana di tengah musim dingin. Gaara mendekati Sakura. Terus mendekat dan semakin dekat. Selangkah lagi hingga gadis itu mencium dadanya, ia berhenti. "Rahasiakan ini dari keluargaku." Kalimat singkat itu ia bisikkan sambil membungkuk mendekati telinga Sakura. Terdengar seperti ancaman bagi orang yang medengarnya. Tapi Sakura tak menganggapnya begitu, dibalik suara berat dan dalam itu terdengar suara yang lembut. Lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang untuk melihat reaksi Sakura.
Detik berikutnya Sakura sadar apa yang seharusnya ia perbuat, "Aku mengerti," sampai di sana Sakura memikirkan kembali apa yang harus dikatakannya, "Tempat tinggalku lebih dekat dibanding penginapan yang dikatakan Hokage-sama."
Sebelah alis transparannya terangkat, Sakura kurang beruntung karena tak bisa melihat ekspresi itu, "Kau akan memeriksaku di sana?" tanya Gaara tak percaya.
Baru beberapa langkah ia lanjutkan, gadis musim semi itu menoleh lagi pada Gaara, "Kalau di tempat lain, keluargamu pasti tahu." Jawab Sakura ringan.
Akhirnya di sanalah mereka, di depan pintu apartemen mungil milik Sakura. Sepertinya seluruh pemilik kamar di apartemen itu adalah wanita. Beberapa kali Gaara melewati pintu-pintu kamar yang tertutup, ia tetap bisa mencium aroma kue yang dipanggang, parfum menyengat, dan beberapa kali ia mencium aroma bunga.
Tangan lentik Sakura bergerak membuka kunci dengan cekatan sehingga pintu itu bisa terbuka lebar, "Silahkan masuk, Kazekage-sama." Tak pernah sekalipun ia melupakan etika untuk menghadapi seseorang yang lebih tinggi jabatannya dibanding dirinya. Walaupun itu calon suaminya sekalipun.
"Permisi," Gaara berucap pelan saat melangkahkan kakinya memasuki apartemen tersebut.
Sakura berjalan lebih dulu untuk menyiapkan minuman. Di saat seperti ini ia selalu merutuki kebiasaannya yang selalu lupa untuk membeli bahan makanan. Ia hanya punya teh dan kopi sebagai minuman untuk para tamunya.
Setelah melepaskan sepatunya, Gaara merasakan hal yang selama ini ia hiraukan sejak tadi. Rasa sakit di kepala Gaara kian menyakitkan seiring langkahnya mendekati apartemen Sakura. Pertahanannya sudah mencapai batasnya di sini. Tubuhnya limbung ketika ia melewati sebuah kursi. Tanpa bisa ditahan, tubuhnya terjatuh membentur kursi kayu tersebut hingga menimbulkan suara gaduh. Beruntung Sakura sedang tak berada jauh darinya sehingga gadis itu bisa langsung menghampirinya.
"Kazekage-sama!" Sakura meraih tubuh Gaara, "Anda baik-baik saja?!" kepanikan melanda pikirannya. Dengan tenaga wanitanya, ia berusaha untuk mendudukan pemuda itu.
Kerutan di dahi Gaara semakin dalam akibat menahan sakit. Ia memejamkan matanya serapat-rapatnya seakan hal itu bisa mengurangi sakitnya. Wajahnya tertunduk tak kuasa menghentikan serbuan rasa nyeri di kepalanya. Sakura masih belum melakukan apapun. Ia masih belum mengerti apa yang dirasakan Gaara sampai pemuda itu menggenggam rambut merahnya frustasi. Gadis pink itu terkesiap ketika ia menyadari kondisi Gaara.
"Apa kau bisa bangun?" tanya Sakura lebih panik daripada sebelumnya.
Samar-samar suara Sakura terdengar, Gaara mengangguk untuk menjawab pertanyaannya dengan susah payah. Gadis musim semi itu memapah Gaara dengan perlahan menuju sebuah sofa panjang di dekat jendela. Beberapa langkah menuju benda empuk itu terasa begitu sulit dilakukan Gaara. Dengan penuh kesabaran, Sakura berhasil menidurkan Gaara di atas sofa setelah melepaskan gentong pasirnya. Bulir-bulir keringat di dahi sang Kazekage muda itu semakin bertambah. Terdengar suara Gaara yang meringis.
"Kenapa kau diam saja kalau kondisimu seperti ini?" Sakura mengernyit kesal. Ia tetap bertanya walaupun tahu Gaara tak mungkin bisa menjawabnya, 'Kenapa para lelaki suka sekali menyembunyikan kondisinya?' batinnya jengkel. Cakra hijau berpendar di kedua tangannya. Tangan kirinya ia tempatkan tepat di dahi Gaara sedangkan tangan lainnya bergerak memeriksa bagian-bagian vital di tubuhnya.
'Aliran cakranya kacau sekali.' pikiran Sakura berputar-putar menebak-nebak apa hal yang bisa membuat laki-laki itu bisa sampai seperti ini, 'Di kepalanya tak ada luka apapun. Apa terjadi pendarahan dalam?' pikirnya. Ia pindahkan kedua tangannya di kepala Gaara.
Beberapa menit setelahnya, Gaara kembali tenang. Pendaran cakra hijau di tangan Sakura perlahan menghilang. Yang bisa gadis itu lakukan hanya menstabilkan aliran cakranya saja terutama yang menuju ke kepala. Sakit kepala Gaara hanya mereda tapi belum sembuh total. Harus dilakukan pemeriksaan yang lebih lengkap di rumah sakit.
"Kau tidak bisa menyembunyikan hal ini terus-menerus dari keluargamu." Ucap Sakura mengawali pembicaraan seriusnya dengan lelaki itu, "Kau harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." Setelah menghela napas dalam, Gaara berusaha mendudukan tubuhnya sendiri. Melihat hal itu Sakura sigap membantunya, "Seharusnya kau berbaring lebih lama, kalau tidak..." suaranya menghilang ketika emeraldnya menangkap iris jade Gaara sedang menatapnya intens.
"Kakak-kakakku tak perlu mengetahuinya." Timpal Gaara kemudian. Tatapannya beralih pada setangkai bunga putih dalam vas di tengah meja.
Sakura sudah membuka mulutnya untuk protes, tapi ia urungkan niatnya. Ia paham kenapa Gaara menyembunyikan kondisinya. Ia mengerti jika Gaara tak ingin membuat satu-satunya keluarga yang ia miliki merasa cemas. Terutama Temari yang pasti akan khawatir berlebihan hingga membahayakan dirinya sendiri, seperti tadi pagi contohnya.
Sekejap lelaki itu menutup matanya. Ia membukanya lagi ketika ia menoleh untuk menatap Sakura, "Lagipula, kau sudah tahu tentang kondisiku."
Gadis pink itu berdiri dan mendudukan tubuhnya pada kursi kayu di seberang Gaara, "Itu berbeda, aku ini seorang ninja medis. Itu memang sudah jadi tugasku untuk.." protes Sakura terputus ketika Gaara mendadak berdiri.
"Sebentar lagi kau juga akan jadi keluargaku." Masih dengan wajah datarnya, Gaara mengatakan hal itu dengan ringannya, "Cukup hanya kau saja yang tahu tentang kondisiku." Lanjutnya tanpa memperhatikan Sakura yang mengetat disertai wajahnya yang memerah.
Sulit dipercaya kata-kata itu muncul disaat seperti ini. Dia juga mengatakannya tanpa ekspresi yang membuat Sakura kesal setengah mati. Ingin rasanya ia berteriak di depan wajah datarnya itu, wajah yang sama seperti mendiang lelaki yang sangat dicintainya. Ia kesal karena lelaki itu mengingatkan dirinya kepada Sasuke hingga Sakura jadi membayangkan Sasuke-lah yang mengatakan hal tadi.
Akhirnya Sakura menyerah dengan protesnya yang sama sekali tak digubris pemuda itu. Sakura berdiri dan melangkah menuju dapur untuk membuat teh yang tadi sempat tertunda, "Baiklah, tapi kau tetap harus diperiksa dengan alat yang lebih lengkap di rumah sakit." Ucapnya sembari menuang air panas ke dalam gelas, 'Sebentar,' Sakura menghentikan kegiatannya, innernya menyadarkan dirinya tentang sesuatu, 'Sejak kapan aku menggunakan bahasa informal kepada seorang Kazekage?' pikirnya bingung.
Saat Sakura tengah menyelami pikirannya, Gaara kembali duduk. Tapi bukan di sofa melainkan di kursi kayu dengan meja agar Sakura bisa duduk di seberangnya. Ia bisa melihat jelas Sakura yang sedang merenung dari sana, "Aku akan menuruti apa katamu. Bisakah aku diperiksa di rumah sakit malam ini?" tidak ada salahnya ia memeriksakan kondisinya sekarang. Sakura sudah setuju untuk tidak memberitahu kakak-kakaknya dan lagi suasana rumah sakit di malam hari pasti sepi, hal itu bisa mengurangi kemungkinan orang lain tahu tentang kondisinya.
Gadis musim semi itu tersadar dari renungannya. Tangannya mengangkat dua cangkir teh yang tadi telah ia buat, lalu Ia menyimpan nampan itu di atas meja yang meenjadi satu-satunya penghalang dirinya dengan Gaara. Duduk saling berhadapan seperti itu membuat Sakura merasa canggung, "Maaf saya sudah menggunakan bahasa yang tidak sopan," Kepalanya menunduk bersalah sekaligus malu, "Jika Anda diperiksa malam ini, dikhawatirkan tenaga medis yang dibutuhkan sedang tidak ada. Lebih baik Anda pergi ke rumah sakit besok pagi." Lanjutnya.
Gaara mengerutkan dahinya heran, kenapa gadis itu mendadak merubah cara bicaranya? Hal itulah yang menjadi pikirannya sekarang, "Kau tidak perlu menggunakan bahasa formal denganku." selain itu ekspresi Sakura mendingin. Seolah ia baru saja membuat jarak diantara mereka. Padahal Gaara baru saja bisa merasa nyaman berada dekat dengan Sakura.
Manik emerald Sakura menatap Gaara, "Tapi..." baru saja ia hendak memprotes.
Pemuda bertato Ai itu berdiri lagi. Walaupun mendadak berdiri membuat sakit kepalanya lebih terasa, tapi jika ia terus berada di sini suasana akan semakin tak mengenakan, 'Mungkin dia butuh waktu untuk menerimaku.' Batin Gaara. Ia membuka pintu kaca menuju beranda, "Aku akan ke penginapan sekarang. Selamat malam." Kemudian lelaki itu perlahan berubah menjadi butiran-butiran pasir dan menghilang tertiup angin musim dingin. Garis tipis senyumnya tak sempat terlihat Sakura karena laki-laki itu tersenyum sesaat sebelum tubuhnya terurai menjadi pasir.
Gadis pink itu mendekat ke pintu, "Selamat malam," bisik Sakura berharap angin akan menyampaikannya kepada sang Kazekage muda yang sudah menghilang seluruhnya dari beranda apartemennya.
To Be Continue...
~#~#~#~
A/N: Yeay! Akhirnya bisa beres chapter 4! Maaf ya kalau kurang memuaskan(-_-"). Aku juga nganggap chap yang ini beda banget sama sebelumnya. Mungkin gaya menulisku berubah (#hah) yah... tapi aku berusaha yang terbaik buat kalian semua para readers apalagi yang udah jadiin fic ini favoritnya \(^_^)/ Arigatou! Disinilah GaaSaku moment dimulai, untuk yang udah nungguin maaf banget kalau updatenya lama (*hehehe) Oke...waktunya jawab pertanyaan...!
QACorner :D
Q:Motif utama para tetua memaksa Gaara untuk menikah dengan gadis konoha itu apa?
A:hohoho, itu akan dijelaskan nanti ;D
Q:Apakah nanti disini Gaara akan dibuat memiliki banyak kesamaan dengan Sasuke?
A:Umm,, kalau itu sih kayanya ga juga... aku buat karakter Gaara sesuai sama animenya (berusaha supaya ga ooc :'). Kalau ada kesamaan dengan sifat-sifat Sasuke, itu cuma kebetulan (alias aku jga baru sadar pas lg ngetik)...hehehe...
Q:Gimana dengan Naruto? Apa dia bakal tetep konyol? Atau sudah lebih dewasa dan lebih serius?
A:hohoho, itu juga akan terlihat nanti :D ingatkan aku kalau Naruto sampai ga muncul ;)
Q:Bukannya petapa udah meninggal?
A:Kalau yang ini mungkin salah di akunya juga.. sebelumnya aku mau bikin petapa genit masih hidup, tapi kesininya mungkin ga akan jadi. Kita liat aja nanti, kalaupun ada dia ga berpengaruh besar untuk cerita fic ini, ok?(*dijitak readers)
Q:Sebenarnya setting cerita ini apa sehabis perang dunia shinobi?
A:Begitulah ;)
Q:Ini settingnya setelah kaguya kan? Berarti diceritain kalau Sasuke mati setelah melawan kaguya gitu ya?
A:Begitulah ;)
Udah kejawab kan semua? Makasih yang udah mau mereview dan membaca fic yang updatenya lama ini... special buat yang udah ngancem harus update, maaf ya author ga bisa buru-buru soalnya ngetik fic ini pun di sela-sela tugas sekolah dan rumah yang bejibun..mohon dimaklumi (readers: ga bisa gitu dong Thor!) yayaya, sebisa mungkin bakal diusahain update secepatnya -_-"
Sampai di sini dulu Author's Note kali ini,, mohon review untuk chap ini... matta ashita !
