Air hujan jatuh lagi ke bumi. Membuat genangan air di atas tanah. Membasahi seluruh permukaan tanpa pandang bulu.
Hal ini benar-benar membuat Kyungsoo tidak tahan. Dia sudah mengerutkan keningnya sejak tadi. Letih berhadapan dengan hujan yang entah kenapa sering turun beberapa hari ini.
Ketika Kyungsoo turun dari bus, yang pertama dilihatnya adalah Jongin. Sedang duduk di bangku halte dan memegang ponselnya. Jongin menyeringai padanya. Kyungsoo yang sedang suntuk pun menarik sedikit senyumannya dengan paksa.
Jongin mengangkat tas yang diletakkannya di bangku sebelah. Dia menepuk bangku tersebut, mengisyaratkan Kyungsoo untuk duduk. Kyungsoo menurutinya.
"Kenapa kau masih berada disini?" tanya Kyungsoo.
"Hujannya turun sejak sejam yang lalu. Aku tidak punya payung. Jadi aku duduk dan menunggu hingga hujan reda" jawab Jongin sambil melihat kembali ponselnya.
"Hmmm.." gumam Kyungsoo. Tubuhnya menghadap ke depan sambil menatap lelah air-air yang turun dari langit ke atas tanah.
Jongin menoleh ke samping. Dia memperhatikan Kyungsoo yang terlihat lelah dan suntuk. Kepalanya yang menunduk membuat poninya jatuh tepat di atas mata. Jongin memegang ponselnya dengan satu tangan, tangan lainnya bergerak untuk menyeka rambut dari mata Kyungsoo. Dia ingin melihat mata indah Kyungsoo.
"Sangat kesal pada hujan, huh?" tanya Jongin sambil memperhatikan lekat mata bulat Kyungsoo.
Kyungsoo menarik napas tertahan menyadari tangan Jongin berada di keningnya, menyentuh ujung poninya. Badan Kyungsoo menegang seketika. Dia menenangkan dirinya dari kegugupannya agar Jongin tetap menyentuh rambutnya.
"Yah. Kau tahu kan. Aku sangat tidak menyukai hujan".
"Tapi hujan sepertinya menyukaimu. Dia selalu mendatangimu" Jongin menarik tangannya karena wajah Kyungsoo kini sudah bisa dilihatnya secara jelas.
"Dia menguji kesabaranku".
Jongin terkekeh. "Mungkin".
Setelah itu Jongin kembali memainkan ponselnya. Sebal karena tidak diperhatikan lagi, Kyungsoo melirik ponsel Jongin. Ternyata Jongin sedang bermain game.
"Kau bermain game apa?" tanya Kyungsoo.
"Racing Car. Mau bermain juga? Kita tanding. Kau pasti kalah dariku".
"Sombong sekali" cibir Kyungsoo.
Sebenarnya Kyungsoo tidak terlalu menyukai bermain game. Tetapi karena Jongin mengajaknya, dia mau melakukannya. Lagipula dia ingin tahu, seseru apa game yang dimainkan Jongin hingga dia sangat serius bermain.
"Hahaha. Sini ponselmu. Aku harus memasukkan nomormu dulu ke dalam ponselku. Lalu menambahkanmu sebagai teman chat. Lalu memasang aplikasinya, setelah itu kita bertanding".
Kyungsoo memberikan ponselnya. Setelah Jongin memasang aplikasi dan mengatur ini itu, keduanya bertanding balap mobil. Keduanya langsung ayik bermain. Animasi-animasi lucu menambah keseruan game.
"Hei Jongin! Kau menabrakku!".
"Kau juga balas menabrakku Kyungsoo! Tunggu! Jangan ambil hadiah yang itu! Aku mau yang itu!".
"Sudah terlambat".
Keduanya sibuk bermain hingga Kyungsoo lupa kalau tadi baru saja dia suntuk karena hujan. Baru saja dia kesal karena hujan. Kini dia tidak ingat sama sekali dan sibuk tertawa bermain game bersama Jongin.
Jongin menjerit sebagai sang pemenang dalam hatinya. Dia berhasil mendapatkan nomor Kyungsoo. Dia berhasil menghilangkan kekesalan Kyungsoo karena hujan. Dia berhasil mengalahkan hujan.
Dan yang paling penting dia berhasil membuat Kyungsoo tersenyum dan tertawa.
.
.
Keeseokan harinya ketika Kyungsoo berada di bus, usai dari latihannya, dia berharap ketika dia tiba di halte bus nanti, dia akan bertemu dengan Jongin lagi. Langit sangat cerah seharian ini. Akan sangat menakjubkan jika mereka bisa berjumpa di hari yang cerah. Selama ini hujan selalu menemani mereka di setiap perjumpaan mereka.
Bus telah mencapai halte pemberhentian. Kyungsoo melangkah keluar dari bus dan ketika itu juga hujan tiba-tiba turun. Sambil menggerutu Kyungsoo berlari masuk ke dalam halte. Dia tidak melihat ada Jongin di halte tersebut. Sempurna. Hujan turun dan Jongin tidak ada. Tidak salah jika Kyungsoo mulai kesal sekarang.
Kyungsoo menduduki bangku dengan keras hingga menimbulkan bunyi derakan. Orang-orang yang berada di halte melihat Kyungsoo dengan heran. Tapi melihat Kyungsoo yang menunjukkan wajah emosi, mereka langsung membuang muka.
Hujan. Kenapa turun di saat sedikit lagi aku mencapai rumah? Tidak bisakah menunggu sebentar lagi? Tidak bisakah tidak turun untuk sehari saja? Aku lelah harus berhati-hati ketika...
Pikiran Kyungsoo berhenti ketika ponselnya bergetar. Ada pesan masuk. Dari Jongin. Kyungsoo langsung tersenyum lebar padahal dia belum mengetahui apa isi pesan tersebut. Hebat sekali pengaruh Jongin kepada dirinya.
Jongin : Dimana?
Kyungsoo : Di halte. Tertahan hujan. Aku kesal
Satu menit, dua menit, dam beberapa menit kemudian, tidak ada balasan dari Jongin. Kyungsoo mulai berpikir yang tidak-tidak. Apa dia salah mengucapkan sesuatu? Kenapa Jongin tidak membalas? Apa dia marah? Tapi kenapa?.
"Kyungsoo".
Seseorang memanggil namanya. Kyungsoo kira dia mengenal suara ini. Kyungsoo bisa menebak dengan mudah mungkin karena dia sudah menghapal suara tersebut setelah si pemilik suara meneleponnya semalaman.
"Jongin!" tebak Kyungsoo, yang terdengar seperti seruan di telinga Jongin, sambil mengangkat wajahnya. Kyungsoo menyengir ketika tebakannya benar.
Jongin tersenyum. Satu tangannya memegang payung yang besar di atas kepalanya dan satunya lagi menyandang sebuah jaket.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyungsoo tersenyum juga.
"Ayo kita pulang".
Jongin membuka tangannya yang disambut dengan senang hati oleh Kyungsoo. Tapi pegangan tangan mereka tidak berlangsung lama karena itu hanya untuk membantu Kyungsoo berdiri. Kyungsoo segera masuk ke bawah payung yang sama dengan Jongin. Payung tersebut sangat besar hingga bisa menutupi tubuh mereka berdua.
Jongin menyerahkan jaketnya kepada Kyungsoo. "Pakailah".
Kyungsoo menyerahkan tasnya kepada Jongin. Dia memakai jaket Jongin yang tentu saja kebesaran di tubuhnya. Jaketnya menebarkan bau tubuh Jongin yang sangat menggoda.
Dengan mata bulat jernih yang menatap Jongin dan jaket yang menenggelamkan tubuh mungilnya, Kyungsoo sungguh mengejutkan sangat menggemaskan. Jongin mati-matian menahan tawanya dan keinginan kuatnya untuk mencubit pipi tembam Kyungsoo. Jongin memberikan senyuman gemasnya. Dia mengangkat hoddie dan memasangkannya ke kepala Kyungsoo.
"Aku akan mengantarmu pulang. Kau cuma perlu menunjukkan padaku kemana arahnya". Jongin mengembalikan tas Kyungsoo.
Jongin dengan sengaja merangkul bahu Kyungsoo untuk merapatkan mereka. Tetapi balasan yang didapatkan Jongin bukanlah rangkulan di pingganggnya, melainkan tubuh Kyungsoo yang langsung berdiri tegak. Jongin tidak tahu apakah Kyungsoo gugup atau takut, tapi Jongin menyesali perbuatannya.
Jongin mendengus. Dia menepuk-menepuk bahu Kyungsoo. Bermaksud membuat Kyungsoo berpikir bahwa dia hanya bercanda merangkul Kyungsoo. Jongin memasukkan tangannya ke saku celana.
Tubuh Kyungsoo mulai tenang kembali, tetapi rasa menyesal di hatinya tidak menghilang. Dia ingin Jongin merangkulnya lagi. Kyungsoo mengeluh pada tubuhnya yang entah kenapa menegang secara mendadak. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali tubuhnya bereaksi seperti.
"Bukankah kau bilang kau tidak punya payung?" tanya Kyungsoo berharap dapat mencairkan suasana.
"Memang. Payung ini aku pinjam dari tetanggaku" jawab Jongin dengan santai.
"Kenapa kau sampai meminjamnya?".
"Karena aku ingin menjemputmu. Aku tahu kau tidak betah berlama-lama menunggu hujan reda".
"Terima kasih Jongin" ujar Kyungsoo dengan tulus.
"Sama-sama. Ini sama sekali tidak merepotkanku. Aku yang ingin melakukannya".
Lagi-lagi karena ingin melakukannya. Apa juga karena kasihan? Sebenarnya kenapa sih Jongin rela melakukan ini semua untuk Kyungsoo? Kyungsoo sungguh tidak mengerti.
Kyungsoo menengadahkan tangannya di bawah tepi payung. Air hujan yang turun dari langit mengenai permukaan atas payung. Mengalir ke ujung payung, menetes-netes di telapak tangan Kyungsoo yang terbuka menunggu di bawahnya. Menjadi bersatu dalam cairan. Dalam sekejap tangan Kyungsoo mengapung senggenggam air.
Walaupun Kyungsoo hanya melakukan hal yang kecil dan sederhana, tapi itu berhasil membuat Jongin terpesona terhadap kelakuan Kyungsoo.
"Lihat? Kita selalu bertemu di saat hujan turun" Kyungsoo bangga karena dugaannya benar.
"Aku pikir hujan yang membuat kita bisa bertemu. Lihat, jika hujan tidak turun, mungkin aku masih berada di apartemenku sekarang" balas Jongin dengan tenang.
Kyungsoo merasa semakin gugup dengan perlakuan Jongin kepadanya. Seandainya Kyungsoo bisa mengetahui apa maksud dari semua perlakuan manis dan kata-kata manis Jongin kepadanya, mungkin Kyungsoo bisa sedikit menenangkan dirinya.
"Itu apartemenku! Di lantai tiga, pintu kedua dari tangga".
Kyungsoo yang tidak tahan lagi dengan kegugupan dirinya, hendak berlari keluar dari payung. Tetapi segera ditahan oleh Jongin.
"Kenapa pergi? Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu apartemen" ujar Jongin.
"Oooh... ummn oke".
Jongin menutup payungnya sambil mereka menaiki anak tangga. Ketika Kyungsoo tiba di depan pintu kamarnya, dia berbalik untuk berhadapan dengan Jongin.
"Aku sungguh-sungguh berterima kasih Jongin. Aku tertolong".
"Tidak masalah".
Kyungsoo berdiri panik. Harus bagaimana? Harus bagaimana? Haruskah dia mengundang Jongin masuk ke dalam apartemennya? Tapi…. apartemennya sangat berantakan sekarang. Tadi pagi dia bangun telat karena tadi malam dia terlena oleh kesenangan, efek dari Jongin meneleponnya. Kyungsoo tidak mau memalukan dirinya di depan Jongin.
"Hmm.. Jongin..." sebut Kyungsoo. Jongin menatapnya dengan penuh harap.
"Jaketmu..." Kyungsoo menggenggam ujung jaket di tubuhnya.
Jongin kecewa. "Oh. Simpanlah Kyungsoo. Kau bisa mengembalikannya lain waktu".
"O-oke. Dan uhmm... Jongin...".
Harapan Jongin naik lagi.
"Mengenai payungmu... aku ingin mengembalikannya sekarang. Tapi masalahnya saat ini aku tidak bisa menemukannya. Begini... hmm... kamarku... sangat berantakan".
"Oh" jawab Jongin singkat.
"Tapi kamarku tidak selalu seperti itu! Aku tidak bohong! Kamarku hanya berantakan hari ini saja. Sebelumnya tidak pernah seperti ini! Jadi".
"Tidak apa-apa Kyungsoo" potong Jongin sambil tersenyum paham.
Kyungsoo melemas, "Yah, kira-kira begitulah".
"Kalau begitu aku pulang sekarang. Bye Kyungsoo".
"Bye Jongin".
Kyungsoo mengamati Jongin pergi dari gedung apartemen. Dia terus mengamati hingga Jongin yang berjalan pulang dengan payungnya tidak terlihat lagi oleh Kyungsoo.
.
.
Jongin terus cemas selama menunggu teleponnya hingga diangkat.
"Apa lagi?" Taemin menjawab telepon dari Jongin dengan sebal.
"Taemin! Aku sangat bingung! Ini membuatku frustasi!" jawab Jongin tidak mempedulikan kesebalan sepupunya yang terdengar jelas.
"Ada apa? Kau masih belum mendapatkan nomor Kyungsoo?".
"Aku sudah mendapatkan nomor Kyungsoo! Tapi sekarang bukan itu masalahnya!".
"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Taemin tertarik karena seingatnya sepupunya kemarin berkata dia malu meminta nomor Kyungsoo.
"Itu tidak penting! Sekarang...".
"Jawab pertanyaanku. Kalau tidak, aku tidak mau lagi membantumu" sela Taemin.
"Tentu saja aku memintanya, duh" jawab Jongin segera.
"Bgaimana kau memintanya?" Taemin terus bertanya.
Jongin tahu dia harus menjawab pertanyaan Taemin lebih dahulu baru Taemin akan meladeninya. Sepupunya memang mengesalkan. "Aish.. Baiklah! Baiklah! Kau memang sangat mengenalku!".
"Aku mengajaknya bermain game. Aku bilang padanya sebelumnya aku harus mempunyai nomor ponselnya dulu. Aku menambahkan nomornya dalam chatku. Lalu aku memasang aplikasi game dalam ponselnya. Lalu kami bermain. Dan begitulah ceritanya aku bisa mendapatkan nomor ponselnya! Apa kau puas?!".
Taemin terbahak-bahak mendengarnya. "Hahaha. Kau memang adik sepupuku yang pintar! Caramu sangat cerdas! Astaga. Kau memang bisa berpikir melakukan apapun untuk Kyungsoo!"
Wajah Jongin merona. Untung Taemin tidak bisa melihatnya. "Itu tidak penting lagi! Sekarang ada yang lebih penting!".
Taemin berusaha menghentikan tawanya. "Baiklah. Apa itu?".
"Kyungsoo tidak mau mengajakku masuk ke dalam apartemennya!" seru Jongin dramatis.
"Apa? Jongin, aku tidak mengerti apa masalah dari hal itu".
"Tentu saja masalah! Biasanya jika kita mengantar pulang seseorang, orang tersebut akan menawarkan kita untuk masuk. Entah itu menawarkan minuman hangat atau lainnya".
"Laluuuu?" Taemin masih belum menangkap masalah dari hal ini.
"Kenapa Kyungsoo tidak begitu kepadaku?! Apakah karena dia takut padaku?! Kenapa dia harus takut padaku?! Atau jangan-jangan dia membenciku?! Bagaimana ini?!" jerit Jongin histeris.
"Tenang Jongin! Tenang! Astaga. Kau sungguh mengherankan jika sudah mengenai Kyungsoo" Taemin takjub.
"Bagaimana ini?" keluh Jongin.
"Tenanglah pabbo! Kau benar-benar tidak bisa berpikir dengan jelas jika sudah seperti ini! Dengarkan aku! Kyungsoo tidak mungkin membencimu! Kalau dia membencimu, dia pasti sudah pergi menyingkir jauh-jauh darimu".
"Lalu, jika Kyungsoo tidak mengajakmu masuk ke dalam apartemennya, mungkin dia punya alasan untuk itu. Mungkin sedang ada orang di dalam apartemennya… seperti temannya!" Taemin buru-buru menambahkan kata terakhir ketika didengarnya Jongin menggeram kesal di seberang telepon hanya karena mendengar ada seseorang dalam kamar Kyungsoo. Astaga. Tidak hanya mengherankan, Jongin juga menyeramkan.
"Mungkin saja dia tidak mau mengajakmu masuk karena ada sesuatu di kamarnya. Atau alasan yang paling sederhana, kamarnya berantakan".
Jongin teringat sesuatu. Suaranya mulai tenang. "Dia memang mengatakan sesuatu kepadaku tentang kamarnya berantakan….".
"Benar kan? Bukan hal yang besar jika dia tidak mengajakmu masuk".
"Yah..."
Taemin bisa mendengar nada tidak keyakinan pada suara Jongin.
"Jika kau belum yakin, kenapa tidak kau coba saja lagi? Atau mungkin bertanya bolehkah kau mampir ke apartemennya".
"Aku akan mencobanya. Tapi sebelumnya.. aku harus melakukan sesuatu...".
"Apa itu?" tanya Taemin penasaran.
"Mengajaknya kencan..."
.
.
.
Kyungsoo dan Jongin berdiri berhadapan ketika mereka berada di halte bus kembali. Bangku-bangku halte sudah penuh diduduki oleh penunggu lainnya karena itu mereka berdiri. Semuanya menunggu hal yang sama. Bukan, bukan bus. Melainkan hujan reda.
Meski saat ini Kyungsoo sedang berdiri dan tidak melakukan apa-apa, tapi dia tidak merasa suntuk ataupun kesal sedikitpun karena hujan. Dia pikir mungkin dia tidak akan bisa suntuk jika posisinya seperti sekarang.
Kyungsoo berdiri menyandar di pojokan halte, sedangkan Jongin berdiri berhadapan dengannya dengan posisi tubuh mereka yang rapat. Tubuh mereka tidak menempel, tapi sedikit pergerakan saja akan membuat seluruh tubuh mereka bisa bersentuhan. Belum lagi keduanya yang bergantian bertatapan dengan salah tingkah.
Jika sudah seperti ini, mana mungkin Kyungsoo sempat merasa suntuk lagi. Kini seperti yang sebelumnya terjadi, Kyungsoo gugup setengah mati. Kyungsoo menatap Jongin, mencari tahu apakah Jongin mengalami hal yang sama seperti dirinya. Jongin balas menatap, membiarkan Kyungsoo menemukan jawaban apa yang dipertanyakan dalam hatinya.
Alih-alih mencari tahu, pikiran Kyungsoo malah melenceng akibat posisi Jongin yang berdiri di depannya. Jongin seolah seperti sedang melindunginya dari hujan dan kejahatan lainnya. Kyungsoo terkekeh dengan pemikiran terakhirnya.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Jongin menyengir.
"Tidak ada".
"Ohh...".
Kyungsoo melihat Jongin menggigit bibir bawahnya. Jongin seperti akan mengatakan sesuatu.
"Hmm.. Kyungsoo. Aku sedang berpikir.. jikaseandainyaakumengajakmuberkencanapajawabanmu?".
"Hah?" Kyungsoo tidak mengerti apa yang dibicarakan Jongin karena dia berbicara dengan sangat cepat.
Jongin merutuk dirinya dungu. Karena gugup bicaranya jadi berantakan. Dia menarik napas, lalu bersiap mengulanginya lagi.
"Aku bertanya... apakah kau mau berkencan denganku?".
"Apa?! Kencan?!" seru Kyungsoo dengan pelan. Tidak mau sampai terdengar orang-orang di dekat mereka.
"Yah... apa jawabanmu?" tanya Jongin.
Kyungsoo serasa tidak bisa berpikir jernih. Jongin mengajaknya berkencan! Jongin mengajaknya berkencan! Kencan! Kencan dengan Jongin!
"Aku mau". Sudah pasti Kyungsoo tidak akan melewatkan kesempatan emas ini.
Jongin tersenyum. Dia lega Kyungsoo menerima ajakan kencannya.
"Dan… ayo kita buktikan" ucap Jongin tiba-tiba.
"Buktikan apa? " tanya Kyungsoo sangat bingung.
"Buktikan kalo kita bisa bertemu ketika hujan tidak turun".
Kyungsoo tersenyum lebar mendengar penuturan Jongin. Jongin tersenyum geli atas ucapannya sendiri.
"Ayo kita buktikan".
Jongin akan membuktikannya kepada Kyungsoo. Selain dari kesimpulan bahwa mereka hanya bertemu saat hujan turun, Jongin juga akan berusaha untuk membuat Kyungsoo percaya kalau dia bukanlah orang yang tidak bisa dipercaya oleh Kyungsoo.
Jika saja seandainya Jongin tahu kalau Kyungsoo sudah sangat mempercayainya dan mempunyai impian besar bersama Jongin. Jika saja seandainya Jongin tahu.
.
.
.
TBC
Ada yang nanya cerita pribadikah ini. Jawabannya benar! Yang pernah terjadi sama Hana adalah cerita prolog. Ceritanya hana lagi berdiri nungguin hujan reda. Lalu seorang cowok datang. Kami sama-sama berdiri. Kami saling nggak kenal, tapi entah kenapa kami ganti-gantian bertatapan. Seolah sama-sama saling melihat kapan salah satu dari kami akan lebih duluan pulang.
Waktu itu hujannya sebentar deras, sebentar berhenti, sebentar deras, sebentar berhenti. Hana mutusin pulang duluan pas hujan berhenti keempat kalinya. Tidak terduga, dia ngikutin hana dari belakang tapi dengan jarak yang jauh. Yang jadi pertanyaan, kenapa cowok itu gak pulang aja dari tadi waktu hujan mereda kedua atau ketiga kalinya? Iya kan? Hahaha. Mungkin pikiran kami untuk memutuskan siapa yg pulang terlebih dahulu itu benar kali yah hahaha.
Sampai sekarang hana gak tahu siapa cowok itu dan nggak pernah jumpa lagi. Mungkin dia pernah melihat hana dan dia tahu kami searah. Jadi begitu hana jalan pulang, dia ikut juga dari belakang. Dari situlah ide ff ini hana dapat hehehe
Baca ff terbaru hana yah. Ff chenmin, judulnya "Dahamkke" . Terimakasih banyak!
Beng beng max : udah dilanjut
Huang zi lien : Taemin yah sama Jongin. Iya semangat Jongin!
Vidyafa11 : Jadiannya masih lama :(
Diyayee : Iya dek, ini dia hahaha. Wajah mereka yang mirip mendukung jalan ceritanya. Juga Taemin yang penyanyi. jadi cocok banget jadi teman Kyungsoo dan jadi penghubung mereka hehehe. Aslinya Jongin itu iseng kalo udah kenal dekat. Tapi dia di depan Kyung sok cool. Sering kan orang yang saling suka kayak begitu hehehe. Iya terimakasih dek. Sama-sama semangat kita yah!
Zulfahwu : Polosnya sih bisa dibikin. Tapi kalo sifatnya jadi keukean suliiitt... maaf yah hehehe
MrblackJ : fluffy sampai akhir. Tenang aja # gampang. Ditunggu aja yah!
Insooie baby : gak. Dia malah bersyukur nanti. Tunggu aja chap depan hehehe. Oke...
Meliarizky7 : udaaaahhh
SognatoreL : haha. Hana gak ingat sih pernah ngalami kejadian yang sama atau gak. Tapi mungkin pernah makanya itu hana bisa menjelaskan jatuh cinta mereka hehehe
Bangminki : iya. Tapi dia sudah berhasil sekarang.
N13zelf : benarkah seperti itu? Wah, hana harus baca ulang nih hehehe. Gak riwet kok, tenang aja hehehe
KyungMiie : aku juga suka jongin yang gitu!
lollyaiko : iya kamu :) hana salah ketik kemaren hahaha maaf aww Jongin yang iseng dibilang romantis xD
PandaCherry : gak :( cuma ada taemin yang ngambil peran lebih banyak. Gak bisa langsung dijadikan. Kalau jadian berarti tamat hehehe
Dokydo19 : hana pernah main game yang ada musim gugurnya. Di musim gugurnya itu sering hujan. Makanya panen panen terus untuk persiapan musim dingin yang sulit mau nanam sesuatu. Cerita ini kan bersetting di korea. Disana tidak ada musim hujan. Sebenarnya menurut yang hana baca di internet, di korea hujan lebih sering turun saat musim panas. Cuma kalo disini dibikin jadi musim panas, jadi aneh kalo setiap saat turun hujan, padahal musim panas.
nioktavia96 : Jongin :)
Nisakaisa : gakpapa. Terima kasih sudah memberikan komentar. Oke, semangat!
Terimakasih banyak semuanya!
Aku menulis untuk berpikir
Wish You Have A Happy Life Everyday!
