KaiHun Area

Day 1: In The Midnight, 12:30

Story by Kim Jonghee a.k.a Jongcay

Kim Jongin

Oh Sehun

Summary:

Di remangnya cahaya bulan, di gersangnya padanga pasir, atau bahkan di dinginnya badai salju yang tengah menyerang, aku tetap … aku tetap akan selalu ada di sisimu.

Disclaimer:

Para cast milik Tuhan, dirinya sendiri, dan orang-orang yang menyayangi mereka. Cerita milik yang buat. Biarpun gaje, tanpa plot, typo bertebaran, tetep cerita punya yang buat.

A/N:

Ehem, sebelum menutup serial KaiHun Day 1, Jongie mau cuap-cuap sebentar, hehe. Sebelumnya terimakasih banyak buat semua yang telah mendukung pembuatan FF abal bin gaje ini. Terharu juga ada banyak Kaihunshipper seperti Jongie T.T

Big Thank to:

, istrinya Sehun Bininya Kai, Michelle Jung, Nagisa Kitagawa, DiraLeeXiOh,KT CB, Zelobysehuna, Kim Xiu Xiu Hunnie, Baekkisseu, Prince Changsa, Urikaihun, Sehunskai, , Kim Seo Ji, Daddykaimommysehun, EXO12-XLKSLBCCDTKS, Xohunaa, awexome dan beberapa Guest yang ikut meramaikan FF Jongie ^_^

Gamshahamnida jeongmal gamshahamnida~ :D

Day 1:

In The Midnight, 12:30 am

Sekalipun Sehun berada di tengah hangatnya musim semi, Sehun tak pernah merasa senyaman ini.

Mata bulan sabit miliknya terpejam erat menikmati terpaan angin musim semi yang kini melibasnya. Senyum tampannya ikut menyemarakan suasana. Terlihat damai dan tanpa beban. Kedua lengannya ia rentangkan, dengan rela membiarkan angin melewatinya.

Tiba-tiba saja sepasang lengan kekar melingkar di perutnya. Hembusan hangat napas seseorang menyentuh leher jenjangnya. Hisapan akan candu aroma tubuhnya tak mengindahkan Sehun dari kebersyukuran.

"Kau menyukainya?" bisik sang pemilik lengan juga hangat napas di leher Sehun.

"Ne! Nan jeongmal johaheyo!" seru Sehun riang. Masih enggan menoleh atau bahkan membuka matanya.

"Kalau begitu, nikmatilah."

Terlepas. Itu yang dirasakan Oh Sehun. Dekapan itu terlepas meninggalkan dingin yang menyergap. Sehun membuka mata dan tak menemukan sang pemilik lengan yang ia yakini sebagai Kim Jongin, si hitam kesayangan.

Semua nampak hampa. Bahkan sang angin tak lagi mengalun lembut, melainkan bergerak gusar seolah sesuatu yang gawat tengah mengejarnya. Panasnya matahari pun tak lagi bersahabat. Gersang merungkupi dengan gelisah yang terselip di sana. Sehun memutar tubuh mencari keberadaan Kim Jongin di antara tinggi dan rapatnya tumbuhan ilalang di sekelilingnya. Hey! Sejak kapan ada ilalang. Yang diingat sehun, dirinya tengah berada di taman musim semi. Tapi ….

"Jonginie?" tanya Sehun lirih pada angin yang berkelebat menerbangkan siluet Jongin di ujung sana. Segera saja Sehun mengejar sang kekasih hati.

Di penghujung jalan yang ia sendiri tak yakin sudah seberapa jauh, Sehun dapat melihat Jongin tengah berdiri juga menoleh ke arahnya. Senyum mempesona yang sanggup melelehkan bekunya hati si pemuda pucat, terpatri jelas di wajah yang tak kalah tampan itu.

"Jonginie," panggil Sehun dengan senyum sumringah. Lekas Sehun berlari ke arah Jongin. Namun, seberkas cahaya melebur tubuh Jongin menjadi butiran debu berwarna keemasan. Sehun tercekat seketika di tempatnya. Langkahnya melambat dengan tangan terulur hendak meraih potongan tubuh Jongin. Sayangnya, langkah jenjang Sehun tak cukup cepat untuk menyelamatkan Kim Jongin.

"Jonginie," lirihnya diikuti isak tangis yang meluncur di kedua sudut matanya.

"Jonginie!"

Sehun terlonjak dari tidurnya. Napasnya terengah seakan dia baru saja diburu seseorang. Seperti de javu, Sehun merasakan lengan kekar melingkar di perutnya. Mendongak, Sehun dapat melihat wajah Jongin beberapa senti di atasnya.

Fiuh~

Rupanya Sehun tertidur di dada si hitam kesayangan. Sehun bernapas lega sejenak. Ternyata tadi itu hanya bunga tidur semata.

Lengan Sehun terulur meraih dada Jongin di depannya. Begitu perlahan begitu takut untuk menyentuhnya. Sehun senang karena yang disentuhnya sesuatu yang padat, tidak kabur atau hanya seberkas cahaya laksana proyeksi. Kedua sudut bibir Sehun melengkung indah. Jemarinya ikut bermain-main sebentar di atas dada Jongin. Bergerak-bergerak menyusun serangkaian huruf membentuk frasa.

"Saranghae!" tulis Sehun. Kembali Sehun mendongak dan sesuatu paling tidak diharapkan terjadi. Sedikit demi sedikit tubuh Jongin terurai menjadi partikel-partikel seukuran pasir di gurun sana. Dimulai dari ujung kepala, wajah, lalu turun ke leher.

Sehun hanya sanggup terengah menyaksikan Jongin kembali menghilang tepat di hadapannya. Bahkan hingga tubuh Jongin melebur bersama pasir, Sehun hanya mampu terisak tanpa bergerak. Tubuhnya serasa kaku tak bisa digerakkan, seolah takdir memang menginginkannya melihat kekasihnya hancur di hadapannya.

"Jonginie." Suara Sehun tercekat di tenggorokan. Tanpa terasa buliran bening di sudut matanya jatuh juga. Matanya terpejam merasakan sesak di dada.

Tidak! Kenapa harus seperti ini? Ada apa sebenarnya ini?

"Sehunie?"

Sehun menggeleng dalam pembaringan. Tidak, ia tidak ingin melihat apapun! Setelah mengabur dalam pendar cahaya keemasan, hancur dalam butiran pasir, sekarang apa?! Tubuh membeku sedingin es?

"Sehunie?"

Lagi, panggilan itu kembali berdengung di pendengaran Oh Sehun. Sehun menangis kian keras, gelengan kepalanya kian kuat, kedua tangannya mendekap kedua telinganya rapat-rapat. Tidak ingin mendengar, melihat, atau apapun yang berhubungan dengan menghilangnya Jongin di hadapannya.

"Oh Sehun!" sebuah lengan menyentak dekapan di telinga Sehun. Terkejut, Sehun terbangun dengan mata terbuka, reflek pemuda albino itu memeluk pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya itu, erat. Seketika itu juga tangisnya pecah di ceruk leher Kim Jongin. Satu-satunya objek yang terus-terusan menghilang dalam mimpinya.

"Gwaenchanha, ada aku di sini." Mendengar itu malah membuat Sehun kian mengeratkan pelukannya. Jongin dibuat bingung sendiri dengan tingkah Sehun yang seperti ini. Tidak biasanya. Kalaupun Sehun bermimpi buruk, pemuda itu hanya akan meminta segelas susu hangat dan minta ditemani sampai ia terlelap kembali. Tapi ini ….

"Gwaenchanha. Semuanya baik-baik saja Sehunie," bujuk Jongin sembari menepuk-nepuk punggung Sehun. Tangisannya sudah tidak sekencang tadi, tapi sepertinya pemuda itu belum mau menurunkan intensitasnya.

Tapi, aku merasa kau tidak akan apa-apa, Jonginie ….

FIN

A/N:

Pleulisseu~ (/\)

Jangan timpug Jongie dengan ending yang gaje ini~ :3
Lagi kesemsem sama lagu barunya Beast yang 12:30, tapi gak ada hubungannya sama FF ini, hehe
mau mengkonfirmasi beberapa pertanyaan, hehe

Pertama, kenapa pendek, ini emang kumpulan drabble, hehe. Kalau panjang, gak janji bisa update cepet, pasti lama banget, hehe. Jadi, pas ada ide, Jongie langsung ketik, makanya pendek-pendek.. hehe

Lupa mau ngejawab pertanyaan apa lagi (/\)

Yosh! Udah segitu aja ending serial KaiHun Area Day 1~ ^_^

Sampai jumpa di serial KaiHun lainnya~ :D

Terimakasih buat semuanya~ :""