WHEN REVENGE BECOME LOVE
Chapter Four
Nissan's Group Distrik Jung-gu
Seorang yeoja berparas cantik baru saja turun dari mobilnya. Melangkahkan kakinya menuju sebuah gedung yang kini berada digenggamannya.
"Selamat pagi Nona Kim Jaejoong." Sapa seorang security.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Jaejoong noona."
"Pagi. Apa jadwalku hari ini ?"
"Tuan Jung akan menemui noona sekitar pukul 10 pagi."
"Oh, tumben sekali. Akan menjadi sebuah kehormatan bagiku. Yoochun-ah, mari kita keruangan Go Ahra dulu, ada yang perlu aku urus."
Dan Jaejoong menuju ruang kerja Go Ahra diikuti oleh Yoochun yang setia mengikutinya.
"Selamat pagi, Ahra-ssi."
Ahra yang sedang bercermin untuk merapikan make-up nya dengan segera menaruh cermin kecilnya dilaci.
"Pa..pagi Nona Jaejoong, silahkan duduk."
"Terima kasih, Ahra-ssi. Yoochun-ah, kamu bisa kembali keruangan kerjamu, terimakasih telah mengantarku kemari."
"Ne, Jaejoong noona."
"Ada perlu apa Nona ?"
"Saya ingin menjadikan karyawanmu yang bernama Jung Yunho menjadi asistenku, hanya untuk sementara waktu."
"Mwo ? Kenapa nona ?" tanya Ahra.
"Park Yoochun akan cuti selama 2 minggu. Apa anda keberatan ?"
Ahra menggelengkan kepalanya tandanya ia tidak keberatan. Sebenarnya jauh didalam hatinya, ia sangat tidak rela bila Yunho ditarik Jaejoong. Tidak ada lagi pemandangan yang indah menurut Ahra.
"Tidak, Nona Jaejoong. Lalu siapa yang akan menggantikan Jung Yunho ?"
"Hm, aku akan menjadikan Hwang Tiffany saja menjadi asistenmu."
"Ti..tiffany ?"
"Ne, ada apa ?"
"Ti..tidak" jawab Ahra terbata-bata.
"Baiklah, saya akan kembali ke ruangan saya. Tolong beritahu Jung Yunho."
"Iya."
Jaejoong keluar dari ruangan Ahra, meninggalkan Ahra yang terlihat lumayan jengkel. Bagaimana bisa pria tampan seperti Yunho akan digantikan dengan Tiffany yang tidak kalah cantik dengannya, kali ini itulah yang berada dipikiran Ahra.
.
.
.
"Sudah selesai noona ?"
Jaejoong masih meminum kopi paginya, secangkir kopi hangat yang dapat meningkatkan semangatnya. Ditaruhnya dengan perlahan cangkir kopi itu.
"Iya. Yoochun-ah, mulai besok aku akan memberikanmu cuti selama 2 minggu."
Namja bersuara husky itu terkejut, ditutupnya buku agenda yang selalu dipegangnya.
"Mwo ? Kenapa tiba-tiba noona ?"
"Tidak apa-apa, habiskanlah waktu cutimu bersama Junsu ne ?"
"Go..gomawo noona. Tapi, siapa yang akan menggantikan pekerjaan saya ?"
Jaejoong tersenyum manis menatap Yoochun.
"Jung Yunho."
"MWO ?!"
"Sst..jangan berisik Yoochun-ah. Kembalilah keruanganmu, persiapkan catatan mengenai tugas-tugas yang harus dikerjakan Yunho nanti."
"Baik."
Setelah Yoochun pergi, Jaejoong menyalakan laptopnya. Kembali berfokus kepada pekerjaannya. Rambut indahnya yang berwarna hitam pekat digulungnya keatas, menampakkan leher jenjangnya.
Jaejoong tersenyum ketika pintu ruangannya kembali terbuka, dia sangat hapal dengan seseorang yang masuk keruangannya ini.
"Silahkan duduk."
"Kali ini apa yang kamu inginkan, Jaejoong-ah ?"
"Kamu menjadi asistenku Yunho-ah, apakah Ahra tidak memberitahumu ?"
Namja yang bernama Yunho tadi menyenderkan kepalanya dikursi. Dia memandang Jaejoong yang sedang berfokus kepada laptopnya, Yunho terpukau, sangat cantik menurutnya.
"Yunho ?"
"Ah, ne. Ahra sudah memberitahuku, tapi bagaimana aku membagi waktuku eoh ?"
"Oh, aku akan menjelaskannya. Jadi ketika jam kerja kamu akan menjadi asistenku dan ketika malam hari kamu menjadi sales di Myeongdong."
"Apa !"
Jaejoong tersentak ketika Yunho tiba-tiba memukul meja kerjanya.
"Kamu meyiksaku Jaejoong-ah ?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya kepada Yunho, dia tersenyum manis ketika melihat namja itu menahan amarahnya. Jaejoong mengangkat tangannya dan menaruhnya dipipi Yunho.
"Tidak." Jawab Jaejoong singkat sambil mengelus pipi Yunho, meggodanya eoh ?
Jaejoong hendak menarik tangannya kembali, tapi Yunho sudah menahannya terlebih dahulu.
"Ya ! Lepaskan !"
"Tidak mau, aku suka. Terasa hangat."
Amarah Yunho pudar begitu saja ketika tangan Jaejoong dengan lembutnya mengelus pipinya.
"Jung Yunho ! Lepaskan !"
Sekuat tenaga Jaejoong menarik tangannya, dan akhirnya terlepas dari genggaman Yunho.
Yunho memajukan wajahnya, hingga kini wajahnya berdekatan dengan Jaejoong, reflek Jaejoong menutup bibirnya dan mundur kebelakang.
Yunho tertawa melihat Jaejoong.
"Kamu pasti berpikir aku akan menciummu eoh ?"
"Bersikap yang sopan Yunho-ah !"
"Ne, aku akan menuruti keinginanmu Jaejoong-ah. Aku mencintaimu."
Kali ini Jaejoong tidak akan tertipu lagi ketika Yunho kembali mendekatkan wajahnya, Jaejoong tetap pada posisinya walaupun wajah mereka terbilang dekat.
Yunho menyeringai, dengan cepat Yunho mencium cherry lips itu. Hanya sebuah kecupan biasa.
"Terimakasih, Jaejoong-ah."
Jaejoong tidak memperdulikan Yunho, dia memalingkan wajahnya. Merasa jengkel karena kali ini ia tertipu.
"Satu lagi, aku menyukai kamu tidak memanggilku se-formal kemarin."
Jaejoong kali ini sangat tidak peduli lagi.
"Silahkan pergi, Jung Yunho ! Tutup kembali pintunya ne."
.
.
.
"Permisi."
"Ah, silahkan masuk Yunho-ssi.
"Tidak usah se-formal itu Yoochun-ah, panggil hyung saja."
"Mianhe, saya hanya terbiasa dengan panggilan formal. Tapi saya akan berusaha, hyung."
"Nah, itu lebih baik. Jadi apa tugas-tugasku eoh ?"
Yoochun menyerahkan selembar kertas kepada Yunho, dan Yunho membacanya dengan seksama.
"Hm, ini sangat mudah untukku."
"Baguslah, hyung. Maafkan aku harus merepotkanmu, hyung."
"Tidak apa-apa."
"Aku menghormati sikapmu hyung, aku sangat tidak mengerti kenapa anak pemilik Group ini bekerja disini."
Yunho tertawa mendengar perkataan namja bersuara husky itu.
"Tidak apa-apa, aku menyukainya."
Yoochun menganggu-angguk mengerti, tentu dia sangat mengerti maksud menyukai dari Yunho.
"Yoochun-ah, apa kamu tahu alamat rumah Jaejoong ?"
"Iya, apa hyung mau tahu ?"
"Ne, beritahu aku."
Yoochun menuliskan alamat Yunho disecarik kertas kemudian memberikannya kepada Yunho.
"Mwo ? Disini ?"
"Iya, wae hyung ?"
"Gedung apartementnya berhadapan dengan gedung apartementku Yoochun-ah."
Yoochun terkekeh melihat mata Yunho yang berbinar-binar, lebih tepatnya seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta.
.
.
.
"Selamat datang Tuan, silahkan duduk." Kata Jaejoong dengan sopan ketika seorang namja paruh baya memasuki ruangannya.
"Gomawo, Jaejoong-ssi. Apa aku menganggu pekerjaanmu ?"
"Tidak Tuan Jung, suatu kehormatan tersendiri bagi saya anda mengunjungi saya."
"Tidak usah sungkan Jaejoong-ssi, duduklah. Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu.
Jaejoong duduk disofa dihadapan Tuan Jung. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan Tuan Jung, tentu rasa canggung meliputi dirinya.
"Iya, apa itu Tuan Jung ?"
"Begini, kamu pasti sudah mengetahui Jung Yunho anakku bukan ?"
"Ne, saya mengetahuinya."
"Aku ingin kamu membimbingnya Jaejoong-ssi, cepat atau lambat ia akan menggantikan posisiku."
"Ne, saya mengerti Tuan. Saya telah menjadikan Jung Yunho sebagai asisten saya, dengan begitu ia akan lebih mudah saya bimbing." 'Dan tentu saja akan memudahkanku untuk menyuruh-nyuruhnya.' Tambah Jaejoong dalam hati.
"Bagus Jaejoong-ssi, aku menyukai tindakanmu."
Tuan Jung meminum secangkir teh yang telah disuguhkan oleh Jaejoong.
"Sepertinya kamu cocok dengan anakku Jaejoong-ssi."
Jaejoong tidak jadi meminum tehnya, ia terkejut bukan main.
"Ma..maksud anda Tuan Jung ?" tanya Jaejoong terbata-bata.
"Aku berniat menjodohkanmu dengan Yunho, umur kalian berdua sudah tidak muda lagi Jaejoong-ssi."
"Mwo ? Taa..pii..."
Tuan Jung terkekeh melihat gelagat Jaejoong yang gelisah.
"Pikirkanlah dengan baik Jaejoong-ssi. Aku akan mengunjungi kedua orangtuamu untuk meminta restu mereka."
Jaejoong tidak mampu berkata-kata lagi. Sungguh suatu hal yang bodoh bila ia menikah dengan seseorang yang sangat ia benci.
"Tapi, bagaimana dengan Yunho, Tuan ?" tanya Jaejoong.
"Tanpa memberitahunya pun aku sudah mengetahui kalau ia mencintaimu."
Jaejoong terduduk lemas, akal sehatnya tidak dapat berpikir jernih saat ini.
"Aku anggap kamu menyetujuinya Jaejoong-ssi. Aku permisi dulu."
Tuan Jung pun keluar dari ruangan Jaejoong, sebuah senyum tipis nampak dibibirnya.
"Bagaimana ini. Aku tidak mungkin menikah dengan pria bodoh seperti Yunho." Lirih Jaejoong.
"Tapi, bila aku menolak. Bagaimana bila aku dipecat Tuan Jung." Lirihnya lagi.
"Tuhan, bantu aku !"
.
.
.
"Jadi begitu ? Kamu licik sekali hyung memanfaatkan Tuan Jung."
Ya, Yunho telah menceritakan semuanya kepada Yunho. Yunho agak merasa sedikit lega ia tidak memendamnya seorang diri, selain Yoochun, Yunho juga telah memberitahu Appanya. Dan alhasil sang Appa berniat menikahkan mereka berdua.
"Hm, tapi Jaejoong sangat membenciku."
"Aku tahu, hyung."
"Lalu bagaimana ?"
"Percepat saja pernikahan kalian."
Seperti mendapat sebuah pencerahan, Yunho menepuk pundak Yoochun. Mengakui kepintaran Yoochun.
"Sepertinya tidak buruk juga. Bersiaplah Kim Jaejoong." Desis Yunho.
"Aku merinding bila kamu berbicara seperti itu hyung."
"Hahaha..mianhe, ayo kita istirahat siang dulu Yoochun-ah."
"Ne, ke Myeongdong saja ne ? Lumayan dekat dari sini."
"Terserah saja."
.
.
.
At Myeongdong
"Noona, mau pesan apa ?"
"Ramyeon dan soju."
"Soju ? Ini masih siang noona."
"Sudahlah, pesankan saja."
Namja bermata onyx itu menuruti kemauan Jaejoong.
"Ada masalah apa noona ?"
"Tidak ada, Minnie. Bagaimana kuliahmu hari ini ?" tanya Jaejoong mengalihkan perhatian namja itu.
"Aku sedang mengerjakan tesis-ku noona, tadi aku sudah bertemu dosen pembimbingku."
"Oh, apabila kamu lulus, apa mau bekerja Nissan's Group ?"
"Apa boleh noona ? Aku mau, tentu saja !"
"Hm, cepatlah lulus."
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua. Jaejoong menuangkan soju-nya dan ingin meminumnya.
"Tidak baik disiang hari meminum alkohol, Jaejoong-ah."
Jaejoong tersentak ketika tangannya ditahan oleh namja bermata musang itu.
"Itu bukan urusanmu !"
Jaejoong menarik kasar tangannya dan menghabiskan soju-nya dalam sekali teguk.
"Yoochun-hyung, apa kabar ?"
"Baik, Changmin-ah."
"Apa kami boleh bergabung bersama kalian ?"
"Ti.."
"Tentu saja boleh !" putus Changmin dengan cepat.
Dan alhasil, Yunho dan Yoochun duduk dimeja persegi itu bersama Jaejoong dan Changmin.
Suatu kebetulan yang menyenangkan bagi Yunho bisa bertemu dengan Jaejoong disini.
"Apa hyung kekasih noona-ku ?"
"Bu.."
"Ne, aku Jung Yunho."
"Wah selera noona bagus juga, aku Shim Changmin. Aku adik Jaejoong noona."
"Oh, senang berkenalan denganmu Changmin-ah."
"Aku sudah selesai !"
Jaejoong meninggalkan tempat itu, sungguh ia merasa jengkel. Pembicaraannya selalu saja dipotong.
"Tunggu aku, Jaejoong-ah !"
"Kenapa kamu selalu suka mengikutiku eoh ?"
"Karena aku menyukainya."
"Tapi aku tidak !"
"Ya ! Jangan meninggalkanku Jaejoong-ah !"
"Ck, merepotkan. Tolong belikan bungeoppang (roti ikan mas) sekarang dan juga sikhye (sari nasi manis). Antarkan keruanganku."
Jaejoong kembali berjalan menuju kantornya. Sebuah seringaian mengiringi langkahnya.
"Ck, menyusahkan." Gumam Yunho.
.
.
.
"Ini pesananmu Jaejoong-ah."
"Taruh saja disitu dan kembali keruanganmu."
"Tidak ada kata-kata terimakasih ?"
"Oh, go-ma-wo." Jawab Jaejoong dengan mengejakannya.
"Yunho-ah ! Tunggu !"
Yunho tersenyum ketika Jaejoong memanggilnya kembali, ditutupnya kembali pintu yang terbuka setengah itu.
"Ada apa ?"
"Tolong suruh Yoochun kesini, aku ingin mengajaknya makan bersama."
"Lalu aku ? Aku juga belum makan siang."
"Salahmu sendiri, siapa suruh mengikutiku tadi, cepat kembali keruanganmu dan panggil Yoochun."
BRAKK
Jaejoong tersenyum ketika pintu ruangannya dibanting, dia merasa senang karena telah membuat Yunho merasa jengkel kepadanya.
'Dasar menyebalkan.' Batin Jaejoong.
Aku mencintai kamu yang membenciku
-Jung Yunho-
To be continued
Give me some review ~
Reply Review ~
Jaejoong jahat sama Yunho ? Memang itu tujuannya ~
Yup, Tuan Jung dan Jung Yunho orang yang berbeda. Tuan Jung adalah Appa dari Jung Yunho.
FF Ze kali ini memang gak terlalu berat, cukup sudah Ze buat 2 FF yang selalu hurt. Sekali-kali buat yang Romance aja gak apa kan ?
Benar, jadi Yunho dan Jaejoong punya tujuan masing-masing. Dan tahukah apa tujuan mereka ? ^^
Okey, sekian ~
Semoga bermanfaat LOL
Balikpapan, 02 Juni 2013
ZE.
