Stuck In The Rain with Midorima Shintaro
By : Yundaichan
Pairing : Midorima Shintaro x Readers/OC
Warning : Typo(s), OOC probably, AU, and many more...
Hak dan kepemilikan Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi
tapi ff ini milik saya.
~Terimakasih buat yang udah menyempatkan diri mereview chapter sebelumnya^^Love Ya!
Well, i hope you like this chapter...
Stuck In The Rain with Midorima Shintaro
By : Yundaichan
.
.
Happy Reading
.
.
Hari ini cuacanya lumayan panas dan aku sedang berjalan menuju rumahku setelah mengikuti berbagai kegiatan wajib—belajar di sekolah. Jarak rumahku dan sekolah tidaklah begitu dekat namun tidak juga tidak begitu jauh makanya aku lebih memilih berjalan kaki, selain menghemat biaya kan bagus juga sekalian olahraga di pagi hari.
Sambil berjalan aku menggumamkan lagu dan menikmati waktuku. Toh, ini juga belum terlalu gelap. Sampai aku merasa ada air yang menitik di pipiku dan juga tanganku. Lalu kucoba membalikkan telapak tanganku di atas. Gerimis? Aku mendongak ke atas dimana yang ku lihat langitnya tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan hitam yang menyelimuti langit dan air hujanpun tidak lama turun dan mulai membasahi tubuhku.
Benar-benar diluar dugaan, tiba-tiba saja turun hujan dalam cuaca yang cukup panas begini—sialnya lagi aku tidak membawa payung—karena aku tidak menyangka hujan tiba-tiba ini akan muncul. Padahal di laporan cuaca tadi pagi juga menyatakan cerah. Ah, Hujannya semakin deras saja, dan aku terus berlari mencari tempat untuk berlindung sambil menaruh tasku di atas kepala.
Akhirnya sebuah restoran kecil ku singgahi untuk berteduh dan beberapa orang juga memilih berteduh di tempat itu. Sambil menunggu hujan reda, aku berdiri di depan restoran itu dalam keadaan yang cukupbasah, badanku menggigil kedinginan—sambil aku memeluk tasku didadaku. Bagaimanapun lebih baik singgah dari pada terus-terusan berlari ditengah hujan deras dan aku juga harus melindungi isi tasku.
Tiba-tiba aku merasa sesuatu menyangkut dipunggungku—jaket? Dan jaket ini adalah jaket sekolahku Shutoku High. Siapa yang memberikannya?
"Kau membutuhkannya nanodayo" aku menoleh pada pemilik suara itu yang ternyata sedang berdiri di sampingku.
"Shintaro-kun?" Yup, dia adalah Midorima Shintaro—teman kelasku sekaligus anak dari teman ibuku. Aku memandanginya heran bisa-bisanya bertemu dengannya ditempat ini. Sepertinya dia juga tidak punya payung. Aku mencoba melepaskan jaket itu.
"Ah, s-sumimasen Shintaro-kun, kau tidak usah rep-"
"Pakai saja nodayo, lagi pula kau terlihat lebih membutuhkannya daripada aku nanodayo." Karena Shintaro-kun memaksa maka aku tidak jadi melepaskan jaketnya—aku memang kedinginan.
"Arigatou Shintaro-kun," Kataku sambil tersenyum lalu membungkuk padanya.
"J-jangan salah paham nodayo," Shintaro-kun membuang pandangannya dariku. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakannya kali ini.
" Aku memberikannya karena tidak baik jika melihatmu dengan seragam yang keadaannya seperti itu nanodayo," itu dia, kalimat seperti itulah yang akan menutupi sifat ke-tsunderannya. Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya itu. Dia sebenarnya peduli hanya saja dia tidak ingin mengakuinya. Tapi, apa maksudnya dengan seragam yang keadaanya seperti itu?
Lalu kulihat seragam yang kukenakan memang keadaannya memalukan—seragamku basah dan cukup untuk mengekspos pakaian dalam yang kukenakan—memalukan sekali, aku merasakan pipiku menghangat, lalu kueratkan jaket itu ditubuhku. Aku melirik Shintaro-kun yang ternyata sedang melirikku juga—sontak, kami berdua mengalihkan pandangan masing-masing . Tapi, sepertinya aku tadi melihat semburat merah dipipinya.
Dan kamipun terdiam dalam keheningan menunggu hujan reda.
.
.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku sudah lama mengenal Shintaro-kun sejak kecil, karena rumahnya bersebelahan dengan rumahku—ibu kami juga berteman baik, saat ibuku ingin mengunjungi ibunya, aku selalu diajak. Maka dari itu, aku memanggilnya Shintaro—bukan nama keluarganya karena ibunya sendiri juga yang menyuruhku memanggilnya dengan nama Shintaro.
Tapi, sejak kecil aku dan Shintaro-kun tidak berteman layaknya sahabat dari kecil, hanya pertemanan biasa antara kami, dia juga orangnya agak pendiam sedangkan aku, aku bukanlah wanita yang bersifat agresif saat berhadapan dengan lelaki. Jadi kami berdua tidaklah begitu dekat.
Meskipun begitu, tidak dekat bukan berarti kami tidak akrab. Aku biasa meminta tolong padanya untuk membantuku mengerjakan tugas yang tidak kupahami dan biasanya kami mengerjakannya dirumahku atau dirumahnya. Dan saat dia meminta tolong padaku, maka dengan senang hati aku melakukannya meskipun pada akhirnya dia berkata akan mengandalkan dirinya sendiri.
Dari dulu aku sudah tahu kebiasaannya, selain belajar yang giat dia juga selalu mengumpulkan barang-barang aneh yang menurutnya adalah lucky item untuk zodiaknya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia masih mempercayai hal seperti itu hingga sekarang dan aku rasa dia juga tidak mempedulikan pandangan aneh orang lain terhadapnya karena selalu membawa benda-benda aneh itu.
Dan kadang-kadang dia juga memberikan padaku beberapa benda aneh yang menurutnya lucky item untukku. Karena dia juga sudah mengetahui zodiakku. Tapi hari ini aku tidak melihat dia membawa lucky item-nya. Mungkin saja ukurannya lebih kecil ya.
Hujannya belum reda juga dan derasnya pun belum berkurang. Aku dan Shintaro-kun masih berdiam diri. Dan aku merasa bosan dengan keheningan ini—maka aku mencoba untuk membuka percakapan.
"A-ano Shintaro-kun"
"hn…?" kulihat dia sedikit menoleh padaku.
"A-apa kau tidak bersama Takao-kun hari ini?" tanyaku sambil menoleh pada Shintaro.
"menurut oha-asa aku harus menjauhinya hari ini nodayo karena orang dengan bintang scorpio bukan lucky person-ku hari ini nanodayo." Katanya sambil menaikkan kacamatanya.
"Aah-souka…" responku.
Aku mencoba mencuri pandang padanya—kulihat dia sedang melipat kedua tangannya di dadanya dan tubuhnya agak menggigil? Tentu saja, dia hanya mengenakan kemeja putih berlengan pendek. Ah, aku jadi tidak enak padanya, orang yang meminjamkan jaketnya untukku malah menggigil kedinginan?
"Umm…Shintaro-kun…" aku mencoba memanggil Shintaro-kun dan dia menoleh padaku. Aku memberanikan diri melanjutkan perkataanku.
"A-ano, kalau kau kedingina k-kau bisa berbagi jaket ini d-denganku…" aku malu sekali dengan apa yang kukatakan barusan, kenapa harus berbagi? Kenapa tidak memberikan langsung saja padanya? aku bahkan tidak berani memandangi Shintaro-kun saat ini.
"T-tidak usah nanodayo, s-sudah kubilang kau lebih membutuhkannya daripada aku nanodayo meskipun saat ini aku merasa kedinginan dan juga membutuhkan jaket itu nanodayo tapi aku ini laki-laki dan tentu saja daya tahanku lebih baik nanodaa…atchuhh"
Ingin rasanya aku tertawa karena Shintaro-kun tiba-tiba bersin—tapi kuurungkan niatku. Lalu kulepas jaket itu.
"Ti-tidak apa-apa Shintaro-kun, lagipula jaket ini juga terlalu besar untukku. Kau tidak ingin sakit dan ketinggalan pelajaran untuk besok kan?" kataku lalu menyerahkan jaket itu padanya.
"A-aku memang tidak ingin ketinggalan pelajaran nanodayo, tapi kau tidak usah…"
"Kalau kau sakit siapa yang akan mengajarkan pelajaran yang tidak kumengerti nantinya?" Tunggu, apa yang barusaja kukatakan? Haah, aku malu sekali aku terdengar seperti memaksanya saja untuk berbagi jaket, aku yakin wajahku memerah sekarang. Dan Shintaro-kun sedang memandangiku dengan pandangan terkejutnya karena kata-kataku barusan.
"Ma-maksudku b-bukan…" kenapa aku jadi gugup begini?
"B-baiklah kalau kau memaksa nanodayo" memaksa? Shintaro-kun bahkan menganggap perkataanku itu memaksa. Lalu dia mengambil jaket itu dari tanganku dan langsung mengenakannya.
.
.
"[name]…"
"A-ada apa…"
"Masuklah kesini nanodayo" ma-masuk? Maksudnya? aku lihat Shintaro-kun membuka lebar jaketnya yang tidak dikancing.
"T-tunggu, ma-maksudnya a-aku akan masuk…ke…ke situ?" kataku terbata-bata sambil menunjuk dada Shintaro-kun.
"K-kau j-jangan salah paham nanodayo, ka-kau sendiri yang meminta untuk berbagi jaket, dan a-aku juga masih ingin mengajarimu pelajaran yang tidak kau pahami nodayo, t-tapi…tapi bukan berarti aku peduli kau memahaminya atau tidak nanodayo"
Aku merona dan juga senang mendengar perkataan Shintaro-kun meskipun aku bingung maksudnya. Baiklah, aku mendengus lalu aku mencoba memberanikan diriku masuk ke dalam jaket itu—tapi tiba-tiba seseorang menyenggolku.
Aku terjatuh tapi tunggu, sepertinya tidak, tubuhku tertahan—kedua tanganku sedang berada di dada seseorang dan aku merasa ada tangan yang memegangi kedua pundakku.
"Kau tidak apa-apa [name]?" itu suara Shintaro-kun. Aku mengadahkan kepalaku ke atas dan kulihat wajah Shintaro-kun yang juga sedang melihatku—kupandangi matanya, irisnya yang berwarna hijau serta bulu matanya yang lebat dan lentik 'mata yang cantik' batinku.
"Araa…Shin-chan?" tiba-tiba suara seseorang meyadarkan kami berdua. Kulihat Shintaro-kun mengedipkan matanya beberapa kali, tapi tiba-tiba dia memelukku? Bukan, dia menarikku hingga wajahku menabrak dadanya dan tubuhku agak rapat dengannya—lalu dia menyembunyikanku didalam jaket itu. Hangat. Dan aku bisa merasakan detak jantungnya seirama dengan detak jantungku. Cepat sekali.
Aku tidak menyangka akan sedekat ini dengan Shintaro-kun, kami memang biasa berdekatan dan itu sudah biasa bagiku tapi saat ini—aku tidak tahu bagaimana mengutarakan perasaanku sekarang—antara malu, marah ataupun senang. Dan jantungku bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Eeeh…Apa yang kau lakukan disini Shin-chan?" Aku kenal suara itu—Takao-kun, salah satu teman kelasku dan juga orang yang selalu bersama Shintaro-kun.
"A-aku sedang menunggu hujannya reda nanodayo, la-lagi pula apa yang kau lakukan disini dan aku sudah bilang padamu untuk menjauhiku karena kau bukan lucky personku hari ini Takao" kata Shintaro-kun.
"Hmm…aku juga singgah disini karena aku tidak punya payung, whoaahh Shin-chan, kau menyembunyikan seseorang?" Mati aku.
"Pffttt….hahaha…" aku yakin Takao-kun sekarang tertawa sambil memegangi perutnya.
"Tidak kusangka Shin-chan ternyata kau punya pacar ya? haaah, kau mendahuluiku Shin-chan, hmmm…siapa namanya?"
Rasanya wajahku memanas mendengar Takao-kun bertanya seperti itu—kukepalkan kedua tanganku menahan emosiku. Aku berniat keluar dari jaket ini namun kurasakan kedua tangan Shintaro-kun menahan kepalaku dan pinggangku. Sampai-sampai rasanya pengap sekarang.
"D..Dia bukan pacarku, dia ini [name] nanodayo." Ada rasa sedikit kecewa saat kudengar Shintaro-kun mengatakan itu. Tapi memang benar aku bukan pacarnya.
"Ooh [name]-chan ya… jadi kalian berdua ini pacaran ternyata? "Haahahaha…dan untuk apa kau menyembunyikan [name]-chan seperti itu? hahaha…kau benar-benar melindunginya seperti kau melindungi lucky item-mu ya Shin-chan. Ahahaha"
Sekarang Aku benar-benar malu, malu pada Shintaro-kun. Ingin sekali kubentak si bakao ini—tapi apa daya bergerakpun tidak bisa karena Shintaro-kun menahanku.
"D-diamlah bakao kami ini tidak pacaran. [name] sedang sakit nanodayo," Sakit?
" dan akan tambah sakit jika dia berada dalam cuaca seperti ini tanpa menggunakan jaket nanodayo" Shintaro-kun menggunakan alasan jika aku sakit. Hmm, aku tidak mengerti tapi semenjak singgah ditempat ini aku memang agak merasa pusing.
"Aaahh…ternyata Shin-chan memang peduli pada [name]-chan yaa…? Tapi kan kau tidak harus menyembunyikannya seperti itu Shin-chan…ppfffttt, apa kau tidak malu orang-orang sedang melihat kalian berdua… hahahaha"
Kuso, aku baru sadar kalau kami ini sedang ada di tempat umum. Dan yang dikatakan Takao-kun memang benar, seharusnya tidak seperti ini. kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku meminta untuk berbagi jaket dengannya?
"B-bukan begitu maksudku bakao, [name] tidak punya jaket, dan aku juga harus menggunakan jaketku agar tidak kena masuk angin nanodayo, dan akan lebih merepotkan jika [name] pingsan disini karena cuaca seperti ini, dan aku tidak peduli jika orang-orang sedang memperhatikan kami nodayo"
"Tapi pelukanmu itu terlalu erat loh Shin-chan, aku yakin [name]-chan sesak napas didalam sana." Benar Takao-kun. Lalu kurasakan Shintaro-kun melonggarkan pelukannya. Tapi aku masih tetap berada dalam kehangatan jaket Shintaro-kun setidaknya aku bisa bernapas dengan lebih baik, aku benar-benar tidak ingin memperlihatkan wajahku sekarang. Apalagi ada Takao-kun bisa-bisa wajahku jadi tambah memanas dan memerah keseluruhan karena dia pasti akan meledekku.
"Hmm…ne [name]-chan dengar ya…" kata Takao-kun yang sepertinya sedang berada dekat denganku. Dan pelukan Shintaro-kun kembali mengerat.
"Shin-chan itu sebenarnya peduli padamu loh [name]-chan, karena kalian sudah berteman dari kecil, bahkan Shin-chan pernah bilang padaku kalau satu-satunya gadis dikelas kita yang diperhatikannya hanya kau saja [name]-chan…haha…benarkan Shin-chan…" aku tidak tahu sekarang bagaimana cara menanggapi pernyataan Takao-kun, tapi ada perasaan senang yang kurasakan dan membuatku tersenyum saat ini.
"Hey bakao, aku tidak pernah bilang begitu nanodayo…"
"Ara…jujur saja Shin-chan, kau hanya malu mengakuinya karena kau itu tsundere…ppfftt hahaha,…"
Dukk! Sepertinya ada yang habis dipukuli.
"Akkhh…Shin-chan, tega sekali kau memukul kepalaku, ssshhh sakit tahu Shin-chan"
"Salahmu sendiri nanodayo, siapa suruh kau mengatakan hal yang bukan-bukan nodayo, dan sebaiknya kau pergi saja dari sini Takao…" kata Shintaro-kun.
"heeh, yang kukatakan memang benar kok. Hmmm…sepertinya hujannya sudah mulai reda Shin-chan apa kau belum mau pulang?"
"Kau duluan saja nanodayo…"
"Aha…ternyata kau masih ingin lama-lama dengan [name]-chan ya..ahaha…"
"B-bukan begitu nanodayo, aku tidak ingin pulang bersamamu karena sudah kubilang kau bukan lucky person-ku hari ini bakao…"
"Hehe…jaa, kalau begitu Shin-chan, ambillah ini." sepertinya Takao-kun memberikan sesuatu untuk Shintaro-kun.
"Huh, minuman?" tanya Shintaro-kun.
"Itu masih hangat Shin-chan, kalian berdua mungkin membutuhkannya, yaa… kalau begitu aku duluan yaa, ja-ne"
Sepertinya Takao-kun sudah pergi. Tapi Pelukan Shintaro-kun masih erat.
"Shi-shintaro-kun, k-kau bisa melepaskanku"
"G-gomen [name]…" dan kurasakan pelukan Shintaro-kun mengendor—meskipun aku tetap masih ada dalam jaket bersamanya.
"Da-daijoubu-desu" kataku sambil menyembunyikan wajahku—menunduk dan mengatur nafasku yang tadinya sesak. Dan seperti kata Takao-kun, hujannya juga sudah mulai reda. Sepertinya sudah bisa pulang.
"Shintaro-kun, hujannya sudah mulai reda bagaimana kalau kita pu-"
"Minumlah ini nanodayo…" Shintaro-kun memotong perkataanku lalu menyerahkan sekaleng Minuman untukku. Mungkinkah pemberian Takao-kun?
"Ini masih hangat nanodayo" Lalu Shintaro-kun membuka kaleng minuman itu dan menyerahkannya padaku. Kuambil saja minuman itu—lalu meneguknya. Coklat hangat—nikmat diminum dalam cuaca seperti ini.
"A-arigatou, Shintaro-kun…" kataku berterimakasih lalu tersenyum padanya. Tapi aku merasa tidak enak kalau meminumnya sendiri. Dia juga sudah melindungiku dalam jaket ini.
"Shi-shintaro-kun kau juga boleh minum kok." aku menyerahkan minuman itu padanya.
"Ti-tidak usah nanodayo aku tidak…"
"Aku memaksa…" aku menundukkan wajahku, entah kenapa aku tiba-tiba mengatakan itu. Shintaro-kun kemudian mengambil minuman itu—dan kulihat dia langsung meminumnya, tapi tunggu dulu aku ingat adegan ini dalam shoujo-manga yang biasa aku baca, minum dalam satu tempat…berarti ciuman tak langsung kan…? Aku merasa pipiku menghangat lagi.
.
.
"K-kenapa kau memandangku seperti itu [name]?" Shintaro-kun menyadariku memandangnya terlalu lama—spontan aku langsung menyembunyikan wajahku didadanya.
"Ti-tidak…aku hanya…" Lalu kurasakan tangan Shintaro-kun memelukku? Iya aku merasakan tangannya ada dipinggang dan dipunggungku. Pelukan Shintaro-kun tidak seperti yang tadi. Kali ini berbeda—lebih nyaman.
Aku tidak tahu kenapa Shintaro-kun memelukku sekarang. Tapi aku benar-benar menikmati momen ini—dan kudengar lagi detak jantung Shintaro-kun yang cepat seirama denganku. Aku merasa hangat dan nyaman. Membuatku ingin tertidur—lalu perlahan kupejamkan mataku.
.
~Author lewat~
Hmm kemaren lagi mood buat ngetik akhirnya Yun kembali dengan chapter bareng Midorin, oh iya tadinya pengen masukin adegan payung-payungan tapi gak jadi, dan saya sadar kok 'luckyperson' itu gak pernah disebutin Midorin yak :3
dan gomen-nee.. yang sebesar-besarnya buat penggemar MidoTaka, siapa tau ada yang gak suka Takao muncul disini.., ini fic kan punya saya #plakk# emang bener kok... saya juga suka pairingnya MidoTaka sih.
yaah...saya harap kalian menikmati dan gak kecewa ama chapter ini, semoga romance/doki-dokinya ngena kalo kagak *maka maafkanlah aku yang gak berguna ini.
silahkan tinggalkan review kalo berminat...LOVE YA^^
And forgive me if you find many error, i'm just a human being *Bows
STUCK IN THE MOMENT WITH YOU
By : Yundaichan
.
.
Hujan sudah reda—dan orang-orang pun mulai meninggalkan restoran kecil itu. Namun Shintaro masih berdiam diri di depan restoran itu, si pemuda bertubuh tinggi dan bersurai hijau serta mengenakan jaket sekolah yang ternyata menyembunyikan seseorang didalam sana. Kedua tangannya sedang memeluk objek yang tidak lebih tinggi darinya sedang menikmati kehangatan dari balik jaket yang ia kenakan.
Kepala Shintaro menunduk irisnya memperhatikan gadis yang sedang berada dalam jaket serta pelukannya. Gadis itu ternyata sedang tertidur. Dan memberanikan tangan Shintaro mengelus surai halus gadis yang sedang berada dalam jaket serta pelukannya itu.
Menyadari [name] yang sudah tertidur lelap, Shintaro tidak tega untuk membangunkannya. Dengan hati-hati Shintaro melepaskan jaketnya lalu memasangnya dari depan ditubuh [name], lalu perlahan diangkatnya gadis itu dalam gendongannya ala bridal style. Shintaro memandangi wajah polos [name] yang sedang terlelap dalam mimpi indahnya. Wajah manis dan rona merah halus dipipi [name] membuat Shintaro ingin sekali mengelus dan menciumnya—wajah Shintaro menghangat. Benar-benar manis pikirnya. Dan Shintaropun mulai melangkahkan kakinya sambil menggendong [name] yang sedang tertidur dan berselimutkan jaket.
Akhirnya Shintaro tiba dirumah [name] dan disambut kedua orangtua [name] yang kaget mengira telah terjadi sesuatu pada putri mereka, namun Shintaro bisa menjelaskan kalau [name] hanya tertidur dan tidak tega untuk membangunkannya. Kedua orang tua [name] bernafas lega, lalu Shintaro dipersilahkan membawa [name] kekamarnya—dengan hati-hati Shintaro meletakkan [name] di ranjangnya tanpa membangunkannya. Dan membiarkan ibu [name] yang membuka seragam[name].
Setelah pamit dengan kedua orang tua [name], Shintaro langsung menuju rumahnya—mengganti seragamnya dan makan malam bersama keluarganya. Setelah makan dan menyikat gigi,Shintaro merasa sangat lelah dan ingin segera tidur saja, mungkin karena efek kedinginan tadi pikirnya. Tapi sebelum itu Shintaro mengambil ponselnya dan membaca sesuatu disana. Shintaro tersenyum..
.
.
~Lucky person anda hari ini adalah [name's starsign]~
~Thanks a lot to you guys who have viewed, fav, and following this fic^^Love Ya!
NEXT:
Ch 4 Mayuzumi Chihiro
Ch 5 Kise Ryota?
