Nyaa~~ Chapter 4 update! Yay ^o^/
Kita balas review dulu!
Kuro 'Kaito' Neko:
Yo juga! :D
Eh? Cat dikira SeeU? Kalau SeeU, nanti yang jadi penggemar armor bukan Rinto! Aku buat berpasangan! :)
Itu armor yang baju zirah dalam anime. Bukan baju polisi. :o
Arigatou telah meriview! XD
elluka ga login:
Gak apa kok kalau gak login juga! Yang penting riviewnya! XD
Yap, saya terinspirasi dari Cosplay the series! :D
Eh? Tahu webnya? Saya cuma tahu novelnya!
Saya melanjutkan! Terimakasih atas riviewnya! :D
Draga07:
'Gimana gitu'? Jarang 'sih Kaito jadi mesum di sebuah fic! Jadi, aku pikir Kaito cocok selain Gakupo! XD
Thanks for review!
Declamair ada di chapter sebelumnya! Saya malas menulisnya kembali. Mari kita mulai!
Happy Reading!
.
.
.
.
Normal P.O.V
Rin menyusuri lorong kelasnya, beberapa hari yang lalu ia diajak oleh Miku untuk membuat klub. Sekarang, Rin sudah memiliki banyak anggota klub dan teman termasuk kakaknya. Rin yang dulu sendiri, sekarang memiliki teman untuk berbagi keluh kesah.
Rin memasuki kelasnya, terlihat Miku, Len, Kaito, Kiku, Ring, Lui, Lenka dan kakaknya, Rinto sedang mendiskusikan sesuatu. Rin menghampiri mereka yang sepertinya tak menyadari keberadaannya.
"Hei, sedang membicarakan apa?" tanya Rin dengan senyum. Sementara yang disapa hanya menunjukkan wajah pucat kecuali Kiku dan Lenka yang netral.
"R-Rin… K-kenapa kau di sini?" tanya Len gugup.
'Sepertinya ada yang mereka rahasiakan dariku!' pikir Rin memandang mereka satu persatu. "Kalau kalian tak ingin memberi tahu, ya sudah. Aku mau ke perpustakaan!" ucap Rin ketus, dan berlalu meninggalkan teman-temannya yang bernafas lega.
Len P.O.V
Untung Rin tak curiga! Bila ia curiga, batallah semua rencana kami.
"Jadi Len, kau mau kami membantumu mendapatkan Rin?" tanya Lui. Aku menggangguk. Aku melihat mereka saling bertukar pandang sengan evil smile yang terpajang di wajah mereka. Sepertinya, akan terjadi sesuatu yang gawat…
"Kami akan membantu, tapi kami harus mendapatkan markas yang cocok untuk klub kita. Agar kita bisa menyelesaikan proyek cosplay pertama kita! Aku mau markasnya di sekolah, supaya kita gampang ngumpulnya!" kata Miku panjang lebar. Jadi, ini persyaratannya? Lebih baik aku mendapatkan Rin tanpa minta bantuan mereka 'deh.
"Aku setuju dengan perkataan Miku!" timpal Kaito yang membuat Miku mojok sambil ber-blushing- ria.
"Tapi, kenapa harus aku yang mencari markas di sekolah? Kenapa tak cari sama-sama saja?" tanyaku, ini memang membuatku bingung.
"Begini saja, kita ajukan pada Master agar klub cosplay menjadi eskul resmi. Bagaimana?" usul Ring yang pada dasarnya pintar.
"Setuju! Tapi, apa Master akan setuju?" tanya Lenka kurang yakin.
Mungkin kalian bingung siapa yang dimaksud 'Master'. Sebenarnya, dia adalah kepala sekolah kami, dia meminta kami sebagai muridnya memanggilnya 'Master'. Aneh? Memang!
"Pasti setuju asal kita tampilkan sesuatu yang disukai master!" ucap Kaito dengan senyum meyakinkan.
"Memang apa yang disukai Master?" tanyaku, sepertinya topik pembicaraan jadi berubah.
"Poster hentai! Hwahahaha~~" Kaito menjawab pertanyaanku yang disusul dengan tawa setan miliknya. Master sama hentainya dengan Kaito atau itu memang yang diinginkan Kaito?
"Apa ada yang lain?" tanya Ring sweatdrop.
"Master suka lagu 'kok!" ucap sebuah suara dari arah pintu. Kami mengaihkan pandangan pada sumber suara. Di sana terlihat seorang pria sedang memakan kripik singkong balado(?).
"Akaito?! Kenapa ada di sini?!" Suara kaito memecah keheningan(?). Kini pandangan teralihkan pada Kaito.
"Hehehe~ Habis tak biasanya adikku berangkat pagi! Jadi, aku mengikutimu," jawab pemuda bersurai merah darah tersebut dengan enteng.
Rasanya pernah dengar nama 'Akaito' deh. Tapi, di mana ya?
"BAkaito! Jangan mengikuti adikmu yang keren ini! Memang kau siapa 'hah?" tanya Kaito dengan nyolotnya.
"Aku kakakmu, baKaito! Jangan nyolot pada kakakmu 'dong!" balas Akaito tak kalah nyolot. Kakak Kaito 'toh. Pantesan mukanya sama.
Kalau tak salah, Akaito itu terkenal karena sering narsis dan menjadi pusat barang bajakan seperti Kaito yang pusat barang hentai. Ah! Jadi dia yang namanya Akaito Shion yang sering aku dengar dari teman-temanku dan saudaraku yang selalu mendapat barang bajakan dalam sekejap!
Kaito dan Akaito terus beradu mulut. Aku dan yang lainnya hanya bisa diam. Kalau menanggapi pasti kena getahnya!
"Kalau Nii-san bertengkar lagi, akan aku mutilasi kalian…" Sebuah suara datar terdengar dari ambang pintu kelas. Kami memandang pintu kelas sedikit takut karena ucapan orang itu. Disana terlihat seorang pemuda berambut ungu kehitaman dengan perban yang menutupi mata kanannya sedang berdiri di ambang pintu.
"TAITO!" teriak Akaito dan Kaito bersamaan. Senpai aneh! Siapa lagi 'nih yang datang?!
"Aku sering bilang 'kan, kalau Nii-san berkelahi aku yang turun tangan? Mau aku turun tangan sekarang?" tanya pemuda yang dipanggil 'Taito' itu.
"Taito-kun?" suara atau lirihan dari Kiku membuat kami semua menoleh padanya. Apa Kiku mengenalnya 'ya?
"Ah… Kiku-chan. Kukira ada di kelasmu…" balas Taito dengan datar.
"Kiku, kau mengenalnya?" tanyaku. Kiku mengangguk.
"Aku pacarnya."
Hening melanda kelas yang masih sepi itu.
.
.
.
.
"TAITO PUNYA PACAR?!" pekikan Kaito dan Akaito memecah keheningan yang sebelumnya melanda kelas ini.
KRRRRRIIIIIIIIIIIIIIINGGG
Dan bunyi bel pertanda pelajaran akan dimulai pun, menjadi pemecah keheningan kedua setelah teriakan Kaito dan Akaito.
Shion bersaudara, Kiku, Ring, Lui, Lenka dan Rinto pun meninggalkan kelas ku yang mulai dipadati(?) murid. Rin pun masuk ke kelas dengan wajah masam. Aku tak tega melihat wajah Rin yang masam itu…
Rin P.O.V
Setelah berbunyi, aku memutuskan untuk menuju kelas. Aku memasuki kelas dengan wajah masam, aku masih kesal dengan sikap semua anggota klub itu!
Beruntung saat di perpustakaan aku bertemu dengan Meiko-senpai. Dia menenangkanku dengan beberapa cerita lucunya dengan teman yang disukainya namun tak dia akui(?), Meiko selalu menganggap temannya itu musuh karena mereka selalu tak akrab.
Kalian ingin tahu siapa yang diceritakan Meiko? Akaito Shion jawabannya.
Si kakak kelas yang narsis dan sumber bajakan itu. Setauku dia sekelas dengan Meiko-senpai di kelas 12-1. Dan kabarnya, dia adalah kakak Kaito-san! Miku pasti senang mengetahui info ini!
"Rin, kau marah 'ya?" Suara Len membangunkanku dari lamunanku. Marah? PASTI!
"Tidak…" jawabku berbohong. Len malah merengut.
"Kau tak bisa membohongiku, Rin!" teriak Len. Aku hanya membelalakkan mata saat Len berteriak.
"Ehem. Kagamine-kun. Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya guru di depan yang tadinya mengajar.
"A-anu… Tak ada, sensei…" jawab Len dengan keringat dingin. Makanya jangan teriak!
BRAK
Sekarang pintu kelas didobrak dengan sangat kencang. Kali ini perhatian kelas tertuju pada pintu yang didobrak.
"Permisi, Kiyo-sensei. Saya mau memanggil Len, Rin dan Miku," ucap sang pendobrak dengan sopan, Ring. Muka dua kau, Ring.
"Silahkan. Tapi, lain kali jangan didobrak. Setidaknya ketuk dan membuka dengan sopan. Mengerti?" nasihat Kiyo-sensei. Ring hanya mengangguk yang kupastikan ia tak mengindahan nasihat Kiyo-sensei.
Ring pun segera menarik lenganku, Len dan Miku. Lalu melesat tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Kiyo-sensei dan murid kelas lainnya yang sweatdrop dengan sikap Ring yang semaunya.
Ring membawaku, Len, dan Miku ke depan pintu Master. Lalu membuka dengan sopan pintu tersebut. Kami yang diseret Ring tadi hanya mengikuti dari belakang. Ngapain ke ruangan Master? Memang kami dipanggil 'ya?
"Aku sudah membawa mereka!" teriak Ring dengan semangat. Kenapa ia begitu semangat? Dan kenapa Kaito-senpai, Kiku, Lui, Lenka, Rinto-nii ada di sini?
"Kalian 'kok lama 'sih?" keluh Kaito-senpai dengan kesal.
"Sekarang, tolong jelaskan apa yang ingin kalian persentasikan." Master ikut bicara.
"Persentasikan apa?" tanyaku, jujur aku tak tahu kenapa aku ada di sini.
"Kami ingin klub cosplay kami menjadi eskul resmi di sekolah ini. Setidaknya, tolong berikan kami ruangan untuk kumpul klub kami," ucap Ring tanpa mengindahkan pertanyaanku.
"Apa yang ingin kalian tampilkan dengan klub cosplay kalian?" tanya Master. Aku hanya diam mendengarkan.
"Kami ingin menyanyi dengan cosplay Vocaloid dari Crypton Future Media," jawab Ring. Aku diam mencoba memahami yang mereka bicarakan.
"Vocaloid? Apa kalian akan mengenakan seragam Vocaloid yang biasa, atau menggunakan kostum lain?" tanya Master lagi. Ring terdiam seraya berfikir. Sepertinya, Ring belum bisa`menjawab pertanyaan Master kali ini.
"Kami akan mengenakan kostum Vocaloid dengan tema 'Neko'," jawab Kaito-senpai menggantikan Ring yang terdiam.
"Neko 'ya? Sepertinya menarik. Tapi, aku ingin anggota klub kalian lebih dari 15." Persyaratan dari Master membuat kami semua terbelalak kaget.
"15? Apa tak terlalu banyak, Master?" tanya Lui yang ikut nimbrung di tengah pembicaraan.
"Tidak. Pokoknya lebih dari 15," jawab Master dengan ngototnya.
"Baik, akan kami usahakan." Ucap Ring semangat.
Lalu kami pun meninggalkan ruangan Master. Tapi, karena lamanya kami di ruang Master, hingga saat kami keluar bel istirahat berbunyi. Jadi, kami memutuskan untuk makan di kantin.
Setibanya di kantin, kami mencari tempat duduk. Untungnya ada satu meja kosong yang tepat menunjukkan taman sekolahnya di sebelah meja tersebut. Tempat yang sempurna!
Kami menuju meja itu. Kami kembali berpencar untuk mendapatkan makanan setelah menaruh barang di meja itu.
Tak lama, kami kembali berkumpul di meja tersebut. Tak ada satu pun dari kami yang berbicara. Hanya suara dari meja lain saja yang terdengar.
"Hoi! Makan gak ngajak-ngajak! Otouto macam apa kau?!" ucap sebuah suara dengan nada nyolot. Kami menengadahkan kepala kami bersamaan pada sumber suara.
Terlihat seorang pemuda bersurai merah darah dengan mata merahnya yang memandang kami. Aku pastikan dia sedang memakan cemilan. Huh! Remah-remah makanannya jatuh di meja kami! Jorok sekali dia!
"Akaito! Kenapa kau di sini?!" pekik Kaito. Aku tak mengerti situasi ini.
"Yah… Hanya mencari jalan keluar dari 'Akai Akuma' yang ingin menerkamku tadi…" jawab orang yang dipanggil Akaito itu. Oh… Jadi, dia yang diceritakan Meiko-senpai…
"Siapa yang kau panggil 'Akai Akuma', 'Akai Wasabi'?!" Kali ini sebuah suara ikut nyeletuk dalam pembicaraan. Aku mendapati Meiko-senpai yang sedang melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah garang!
"KYAAAAAAAAAAA~ AKAI AKUMA!" pekik Akaito-senpai dengan histeris. Harusnya, Meiko-senpai tak usah berpose begitu. Kalau orang mesum yang melihatnya bisa gawat. Ah… Aku lupa! Kaito-senpai kan mesum!
"HYAHAHA~ MATI KAU AKAI WASABI!" teriak Meiko-senpai yang disusul dengan cekikkan dari Meiko-senpai pada Akaito-senpai.
"Meiko-senpai… Tolong hentikan!" kataku mencoba melerai. Meiko-senpai memandangku. Aku hanya bisa memandang prihatin Akaito-senpai yang wajahnya memucat.
"RIN-CHAN! SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN AGAR KAU MEMANGGILKU 'MEIKO-NEE', HAH?!" teriak Meiko-senpai sambil melepas cekikkan dari Akaito-senpai dan memelukku erat. Bisa mati aku!
"S-se-sesak…" ucapku terbata-bata, sayangnya, Meiko-senpai tak mendengarnya.
Len P.O.V
Aku hanya melihat Sakine-senpai yang sedang memeluk Rin. Uuh… Kalau jujur, aku juga mau memeluk Rin seperti itu.
Aku mendapati Rin bergumam pelan. Gawat, wajahnya sudah pucat kehabisan nafas!
"Sakine-senpai! Rin bisa mati!" ucapku sembari menggebrak meja kantin dan berdiri. Aku benar-benar khawatir kali ini!
"Ups! Gomen, Rin-chan! Oh ya, kau artis itu 'kan?" tanya Sakine-senpai mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengangguk mengiyakan. "Oh… Jadi, kau Kagamine Len yang terkenal karena SHOTA," lanjutnya dengan penekanan kata 'shota'. Aku benci kata itu!
"AKU GAK SHOTA!" teriakku. Ukh… Kenapa mereka semua malah ketawa.
Aku melihat Rin tertawa dengan tulus. Manis… Mungkin sekarang wajahku sudah merah.
"Mou! Henji wa kimatteru hazusa. 'Wedding' sou bijon wa kanpeki! Souda, sumu no wa sou to atari ga iina. Kodomo wa san nin kana!~" Kaito menyanyikan sepenggal lirik lagu Suki Kirai yang baru-baru ini aku download dari komputerku. Pasti dia sengaja.
"HWAHAHAHAHA~~~" Kali ini suara tawa mereka makin membesar. Bahkan, Akaito-san dan Sakine-senpai ikut tertawa, paling keras 'malah!
KRIIIINGG~
Bunyi bel menghentikan tawa mereka. Untung bel sudah berbunyi! Aku segera melesat ke kelas meninggalkan mereka yang masih terdiam.
Normal P.O.V
"Hei, aku boleh gabung dengan kalian?" tanya Meiko. Miku yang mendengarnya hanya mengangguk semangat.
"Boleh! Makin banyak anggota lebih baik! Tapi, Senpai tahu dari mana tentang grup kami?" tanya Miku sedikit heran.
"Aku menguping di kantor Master tadi," jawab Meiko enteng.
"Kalau begitu, aku juga ikut!" ucap Akaito. Miku mengangguk dan segera kembali ke kelas.
Mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Meiko hanya memasang wajah sebal pada Akaito selama perjalanan menuju kelas mereka. Akaito yang ditatap seperti itu hanya nyengir gaje.
'Makin ada kesempatan 'nih!' pikir Akaito.
'Kenapa malah makin deket sama si Akai Wasabi 'sih? Aku kan ikut klub itu supaya jauh darinya! Urg… Kenapa aku jadi memilirkannya sih! Aku harus melupakannya! Harus bisa Meiko!' pikir Meiko gusar.
TBC
A/N: Oke, sudah selesai!Mungkin disini alurnya agak lambat. Tapi, biarlah. Semoga readers senang! Makasih bagi yang bersedia membaca dan meriview fic saya! C:
