The Rule's of Angel and Demon
A PANDORA HEARTS FANFICTION
Written by Hatsune juLie Michaelis
Disclaimer : Jun Mochizuki kan?
Pair : OLice, VinceAda slight ElliDa and ElliCho, BreaSha, JackLyss.
Genre : Family/Friendship.
Warning : OOC, aneh, AU, gaje. DON'T LIKE, DON'T READ!
Rule 4 : Demon / Angel must not fighting one to another
Di dunia atas yang damai dan tenang serta selalu bermandikan cahaya, seorang malaikat dengan rambut berwarna peach, mata berwarna ungu mendekati warna merah bagaikan warna mawar sedang menikmati tehnya bersama seorang malaikat lain yang memiliki rambut berwarna keperakan, satu mata berwarna merah dan satu mata tertutup rambut silvernya, dan sedari tadi malaikat itu hanya memakan makanan manis.
"Ojou-sama," panggil Break sambil menggigit permennya.
"Ya, Break?" Tanya Sharon kemudian menyesap tehnya dengan anggun.
"Apa yang kau katakan pada Vincent Nightray?" Tanya Break.
Sharon tersedak, kemudian menyemburkan tehnya yang pasti akan mendarat di muka Break andai Break tak cepat-cepat menghindar.
"Hampir saja," gumam Break.
"Aku tak mengatakan apapun pada Vincent Nightray, aku hanya menyuruhnya membawa Eida pulang kok," kata Sharon cemberut sambil mengelap bibirnya.
Break menatapnya penuh selidik. "Benarkah?"
"Iya," jawab Sharon ngotot.
"Bukannya kau menasihati pria malang itu tentang cinta ya?"
Ukh, Sharon tersudut. "Tidak," jawab Sharon sambil mengalihkan pandangan.
"Jangan bohong padaku, Ojou-sama! Kau tak bisa membohongiku. Sudah pasti kau menasihati bocah itu tentang cinta," kata Break, menyandarkan tubuhnya di kursi, kemudian melahap kuenya.
"Apa salahnya? Aku hanya ingin melihat mereka bahagia. Lagi pula, itu kulakukan karena aku sendiri sudah terlalu tua untuk terlibat cinta-cintaan," kata Sharon menyerah.
"Dan belum siap diusir dari surga yang indah ini kan?" sambung Break.
"Ya seperti itulah."
Diam, Hening, tak ada suara yang keluar dari keduanya.
"Ya sudah, aku mau pergi mengunjungi Gilbert dulu ya!" kata Break, beranjak dari tempat duduknya.
"Sampaikan salamku padanya," kata Sharon sebelum kembali menyesap tehnya.
"Hm, ya," kata Break sambil melambaikan tangan.
"Kak Xarks," batin Sharon.
"Apa?" suara Break mengagetkan Sharon.
"Eh, memangnya aku tadi menyuarakan pikiranku ya?" batin Sharon.
"Apa?" Break mengulangi pertanyaannya.
"Eh?"
"Tadi kau memanggilku kan?"
"Tidak kok," jawab Sharon.
"Begitukah?" Break berpikir. "Mungkin memang hanya perasaanku. Lagi pula, sudah lama sekali sejak kau memanggilku 'kak Xarks', jadi itu tadi pasti halusinasiku. Ya sudah, aku pergi."
"Pergi saja! Aku tak melarang kok," kata Sharon ketus.
Dan Break pun berlalu, meninggalkan Sharonyang mukanya merah padam.
Sharon dan Break sudah kenal sejak bertahun-tahun atau bahkan mungkin beratus-ratus tahun yang lalu, dua orang malaikat yang entah kenapa belum juga diusir dari dunia atas. Keduanya sangat akrab, dan walaupun sering bertengkar, Sharon menyayangi 'kak Xarks'nya dan Break menganggap Sharon sebagai pengganti majikannya yang sudah meninggal.
Awalnya Break dan Sharon bukanlah siapa-siapa, hanya manusia yang belum mengetahui rahasia dunia, mengenai keberadaan makhluk mitologi bernama Malaikat dan Iblis. Tapi, semua itu berubah ketika nenek Sharon yang bernama Cheryl dikunjungi oleh teman lamanya yang bernama Rufus Barma.
Rufus Barma tidak datang sendiri, dia datang ke dunia manusia saat Bloody Valentine Day bersama seorang Iblis lain bernama Zai Vessalius. Rupanya, Zai Vessalius membuat kekacauan di dunia manusia, dia membunuh keluarga tempat Break mengabdi.
Break yang dikuasai amarah berniat balas dendam, dan Cheryl bersedia membantu. Dia memberitahu Break cara agar dapat menjadi bagian dari makhluk bernama Malaikat, atau Iblis, itu. Kemudian Cheryl menyuruh Sharon untuk mengawasi Break.
Akhirnya, Break bisa menjadi Malaikat yang immortal, tapi sebagai bayarannya dia kehilangan mata kirinya. Sharon yang memang memiliki darah Iblis dapat dengan mudah menjadi Malaikat tanpa bayaran apapun, dam dimulailah hari-hari mereka di dunia atas. Tapi, semua usaha Break tersebut sia-sia karena Zai Vessalius sudah diadili oleh Dewa.
"Sharooooon,…" seseorang menyerukan nama Sharon sambil memeluknya dari belakang.
"Kyaaa," jerit Sharon kaget.
Cangkir teh Sharon jatuh, airnya tumpah dan berceceran.
"Ah," kata orang yang memeluk Sharon dari belakang.
Sharon menoleh, wajahnya seram dan horror, sukses membuat orang yang memeluknya gemetar ketakutan. "Tuan Oscar~" kata Sharon dengan senyum Iblisnya.
"Gyaaaaaaa,…" teriakan Oscar pun bergema ke seluruh penjuru dunia atas, bahkan mungkin saja dunia bawah juga mendengarnya.
"Ada apa ini?" Tanya Gilbert shock, karena ketika dia dan Break dalam perjalanan ke tempat Sharon mereka mendengar teriakan Sharon, dan ketika mereka berada di depan pintu kediaman gadis itu mereka mendengar teriakan Oscar, kemudian ketika sudah sampai di TKP mereka melihat Oscar terkapar di bawah kaki Sharon yang memegang Harisen.
"Ah, pasti Oscar-sama mengganggu Ojou-sama ya?" Tanya Break ketika melihat reaksi Sharon yang berbalik badan sambil mendengus kesal.
Gilbert merinding melihat keadaan Oscar ditambah senyum Iblis Sharon.
"Ah, rupanya ada Gilbert-kun juga ya?" tanya Sharon.
Deg,… Gilbert kaget.
"Y,..ya, Sharon-sama?" tanya Gilbert.
"Bagaimana liburanmu kemarin?" tanya Sharon sambil beranjak duduk dan mulai mengisi cangkirnya kembali. "Dan Break!"
"Ya, Ojou-sama?"
"Bawa mayat itu ke rumahnya," kata Sharon.
"Baik, Ojou-sama."
Break mulai menggotong tubuh Oscar keluar dari kediaman Sharon.
"Jadi, Gilbert-kun?" Sharon kembali memusatkan perhatiannya pada Gilbert setelah Oscar dan Break sudah pergi.
"Eh? Apanya?"
"Liburanmu," jawab Sharon. "Bukankah kau mengunjungi Oz-sama dan Alice-chan saat liburan?"
"Ah, iya, aku memang mengunjungi mereka," kata Gilbert. "Awalnya aku hanya ingin memberitakan mengenai sidang yang dijalani Eida-sama, hanya saja mereka kelihatan tak begitu peduli dan malah mengundangku tinggal disana selama sisa liburan."
Sharon tertawa. "Aku duga kau dan Alice-chan bertengkar terus."
"Ya seperti itukah," gerutu Gibert.
"Semoga saja Oz-sama tidak cemburu ya," komentar Sharon. "Kau mau teh, Gilbert-kun?"
Gilbert menggeleng. "Tidak perlu, aku hanya sebentar disini," jawab Gilbert. "Aku dan Break tadinya hendak pergi ke dunia manusia," ujarnya.
Sharon mengerjap kemudian memandang Gilbert bingung. "Untuk apa kalian ke dunia manusia?"
"Lho, Break tidak memberi tahumu ya?" Gilbert pun kelihatan bingung.
Sharon meletakkan cangkirnya. "Tidak, dia tidak memberitahuku."
"Kami hendak men,… Uph," kata-kata Gilbert dipotong oleh bungkaman Break.
"Ojou-sama, kita diminta Rufus ke dunia manusia untuk membawa Jack-sama nih dan jangan pedulikan Gil, dia hanya melantur kok," kata Break ceria dan kemudian menyingkirkan Gil.
"Tung,… Break!" seru Sharon yang diseret Break.
"Tolong jaga rumah ya, Gil," kata Break, yang sudah jauh.
Gilbert hanya bisa menggerutu akibatnya.
"Kenapa sih dia selalu menyembunyikan hal penting dariku," batin Sharon.
X X X
"Kau yakin Jack-sama ada di tempat ini?" tanya Sharon.
"Tentu saja," jawab Break.
Saat ini Break dan Sharon berada di kawasan kumuh di dekat Sabrie. Keduanya sedang mencari Jack yang harus diseret ke pengadilan, yang sampai sekarang perintah itu masih belum ditarik.
"Dasar, apa sih yang dipikirkan Yang Mulia dengan mengirim kita kemari," gumam Sharon.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," komentar Break. "Ini sama halnya dengan saat beliau dengan seenaknya menjadikan Oz dan Alice sebagai manusia kan?"
Tak ada yang bersuara setelahnya, mereka kini dengan awas memperhatikan sekitar mereka, mungkin saja Jack akan muncul dengan sendirinya.
"Kau tak ingin kembali jadi manusia kak Xarks?" tanya Sharon tiba-tiba.
Break berhenti tiba-tiba, membuat Sharon menabrak pria itu.
"Aduh," seru Sharon.
"Kenapa anda bertanya seperti itu, Ojou-sama?" Break berbalik memandang Sharon.
Urat kemarahan muncul di dahi Sharon.
"Cukup," bentak Sharon. "Jangan panggil aku Ojou-sama, panggil aku Sharon!" Sharon berteriak. "A-ku bu-kan no-na-mu," kali ini Sharon berkata pelan dan penuh penekanan sambil menusuk dada Break dengan jarinya.
"O-,"
"Aku bukan Nona-mu," ulang Sharon sambil berjalan meninggalkan Break.
"Tung,… O- maksudku Sharon, kenapa kau marah?" Break mengejar Sharon, dan betapa terkejutnya Break ketika melihat Sharon berwajah seperti akan menangis.
"Kau tanya kenapa aku marah?"
"Dan kali ini aku juga ingin bertanya kenapa kau mau menangis," ujar Break.
Sharon menarik nafas dalam-dalam. "Itu karena kau tak pernah mempercayaiku," jawab Sharon sambil melihat langsung mata Break.
Break terdiam, dia bingung. "Aku tak pernah-,"
"Tentu saja kau pernah," potong Sharon.
"Kalau begitu aku minta maaf," kata Break.
"Dengarkan aku!"
"Aku mendengarkanmu dari tadi."
"Diamlah Break! Kau bukan lagi Kevin Regnard, kau adalah Xerxes Break, kak Xarks-ku," kata Sharon. "Tak sadarkah kau kalau aku bukanlah nona-mu, bukan gadis kecil yang gagal kau lindungi dari Zai?," protes Sharon. "Aku adalah Sharon Rainsworth, bukan gadis kecil yang mudah mati."
"Beratus-ratus tahun yang lalu, kau adalah gadis kecil yang gampang mati," kata Break tenang.
Sharon mebgeluarkan Harisennya kemudian memukul Break. "Dasar Break B-O-D-O-H!" teriak Sharon kemudian dia menangis.
Break hanya bisa memalingkan muka sambil menunggu Sharon diam, walaupun itu artinya harus jadi pusat perhatian.
"Ojou-sama."
"Aku bukan nona-mu," protes Sharon sambil tetap menangis.
"Baiklah, Sharon-chan,"
"Sharon saja."
"Jangan banyak protes!"
"Maaf."
"Aku tak pernah menganggapmu sebagai nona-ku yang gagal kulindungi, karena kau lebih dari itu, kau adalah seseorang yang paling kusayangi," kata Break.
Sharon menengadah menatap Break. "Benarkah?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja."
"Tapi kau tak pernah mempercayaiku," kata Sharon.
"Aku hanya tak ingin kau sedih. Dan karena aku tak bisa menghadapi anak-anak yang menangis," kata Break, berhasil mendapatkan pukulan Harisen Sharon lagi.
Sharon berbalik meninggalkan Break. "Ya sudah, ayo cari Jack-sama," kata Sharon.
Break memasang ekspresi ingin tertawa. "Kau sudah tidak marah?"
"Marah? Untuk apa?" Sharon tidak berbalik. "Kalau aku sayaaaang sekali sama kak Xarks?"
"Aku juga menyayangimu Ojou-sama," kata Break sambil berjalan disamping Sharon.
"Oh ya Kak Xarks," panggil Sharon.
"Ya?"
"Kenapa banyak yang mengira kira akan menjalin cinta seperti yang dialami Alice dan Oz-sama?"
Break mengedikkan bahu. "Mungkin karena kita sering bertengkar."
"Apa maksudnya itu?"
"Pepatah lama mengatakan kalau sering bertengkar itu tanda cinta," jawab Break.
Sharon mendengus. "Tidak masuk akal."
Dan keduanya kembali menyusuri jalanan di dunia manusia dengan diselingi pertengkaran tidak penting yang biasa mereka lakukan, kembali mencari seorang Malaikat yang harus segera mereka adili karena telah jatuh cinta pada seorang manusia yang bahkan tak akan hidup lama.
F I N
Author's Note :
Apakah kalian semua mengira Sharon dan Break akan mengalami kisah cinta seperti petunjuk saya di chapter 3?
Awalnya memang akan saya buat begitu, tapi ngga jadi karena saya sudah kehabisan ide untuk membuat scene cinta-cintaan. Sekali-kali Family sama Friendship ngga buruk-buruk amat kok.
Dan saya sangat sadar kalau cerita ini –walaupun ngga jelek- bisa dibilang ngga terlalu bagus. Jadi, saya ngga maksa buat REVIEW, ada yang baca aja saya udah seneng.
Ok, chapter terakhir akan saya usahakan apdet secepat mungkin.
