BAGI YANG UDAH LUPA SAMA CERITANYA JANGMI, KEMBALI BACA CHAPTER SEBELUMNYA YAAA!

. . .

JANGMI

(Rose)

Chapter 3

.

My love is like a red rose

It may be beautiful now

But my sharp thorns will hurt you

Because you will be pricked by my thorns someday

.

FujoAoi

HunHan GS

.

. . .

Ye Ji membuka jendela kamarnya, membiarkan udara masuk, membelainya yang hanya menggunakan gaun malamnya. Ye Ji meraih ponselnya dan kemudian mengirimkan pesan kepada Junki. Raut kecewa dan bersalah terukir di wajahnya saat memikirkan Junki. Setelah mengirim pesan, Ye Ji duduk di meja riasnya, melihat tampilan tubuhnya.

Bercak kemerahan masih melekat di kulit putihnya. Beberapa menjadi kebiruan.

Ye Ji menyentuh satu persatu bercak tersebut dan menutup matanya.

Sentuhan dan hentakan menggairahkan yang amat nikmat.

Dosa memang selalu terasa nikmat dibanding sesuatu yang di perbolehkan.

Ye Ji kembali sadar dan menarik tangannya dari bagian dadanya. Perlahan diperhatikannya tangannya. Di salah satu jarinya, sebuah cincin melilit jarinya dengan manis. Indah sekali.

Ye Ji melepaskan cincin tersebut, lalu memperhatikannya lagi sebelum Ye Ji membuka nakas di mejanya dan meletakkan cincin tersebut di dalamnya, membiarkan cincin itu tidak terpakai.

. . .

Sehun membuka matanya dan merasakan kepala Luhan bersandar pada dadanya. Kulit halus Luhan bersentuhan dengannya

Kemarin malam…

Sehun melepaskan ciumannya terhadap Luhan. Rasanya, tidak cukup, Sehun ingin mencicipi bibir itu sekali lagi sebelum akhirnya Luhan menghalangi dengan menutup bibir Sehun dengan telapak tangannya. "Sudah, untuk malam ini, Tuan muda. Sekarang istirahat!"

Luhan melepaskan tangannya dari bibir Sehun, lalu meraih kancing stelan Sehun. Sehun yang sedikit bernafsu mendekatkan wajahnya pada ceruk Luhan dan menghembuskan nafasnya disana, membuat Luhan kegelian. "Tuan…" Luhan kembali fokus melepaskan dasi Sehun, dan kali ini Sehun mendaratkan kedua tangannya pada pinggang Luhan, lalu mendorong tubuhnya ke tubuh Luhan.

"Shit!" umpat Sehun sebelum dirinya mendorong Luhan ke atas sofa membuat Luhan cukup terkejut.

Sehun naik ke atas Luhan, melepaskan ikat pinggangnya dan melepaskan kancing celananya.

Luhan memberontak dengan cara mendorong tubuh Sehun yang mencoba untuk 'memaksa' Luhan bersetubuh dengannya. Hanya satu cara untuk menghentikan Sehun, Luhan mendorong tubuh Sehun dan membuat Sehun berada pada posisi Luhan sebelumnya. Luhan kemudian mencumbu Sehun dengan panas, sembari tangannya meraih kejantanan Sehun dibagian bawah.

Mengelusnya, membuat Sehun merasa tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.

Luhan dapat merasakan benda di tangan kirinya itu membesar seiring 'godaan' Luhan.

Sehun mendorong Luhan kembali sebelum melakukan serangan balasan dengan melakukan hal yang sama. Memanjakan Luhan dengan godaan di bagian bawah Luhan sambil memberikan cumbuan panas tiada henti.

"Be-Berhentihhh!" rintih Luhan ketika Sehun mulai menarik celananya turun.

Sehun kemudian berhenti dan menghela nafasnya panjang. "Aku mohon, jangan disini. Aku lelah membereskan semua cairan putih itu setiap pagi setelah kita bermain disini," ucap Luhan penuh harap.

"Kalau begitu, kau tidak bisa menolak jika aku membawamu ke kamar, Luhan."

. . .

Luhan terbangun dari lelapnya. Tubuhnya lelah dan kewanitaannya terasa sedikit perih akibat persetubuhan tadi malam. Perlahan dirinya menggeser bed cover yang menyelimutinya, mendapati sepiring sandwich dan segelas susu dengan sebuah note terhimpit di bawah gelas.

'I'm sorry. Aku akan menjemputmu nanti sore untuk membicarakan sesuatu'

. . .

Sudah lama Luhan tidak kemari. Sehun sangat jarang membiarkannya pergi ke sini. Karena Sehun selalu berpikir jika dia membiarkan Luhan pergi kesini, dia akan kehilangan Luhan keesokan harinya.

Luhan berhenti di depan dua guci berisi abu kremasi orang tuanya. Ada foto masa kecilnya di dalam bersama kedua orang tuanya. "Apa kalian bahagia?" tanya Luhan.

Senyum terkembang di wajahnya. "Ayah… Ibu… Kalian tau kan… Aku… Hidup dengan baik disini. Bersama pria yang memintaku hidup bersamanya."

"Ayah… Ibu… Ku harap, kita akan segera bertemu,"

"Aku… Merindukan kalian…"

Seorang pria menjejakkan kakinya tepat di belakang Luhan yang menangis hingga terduduk di depan lemari penyimpanan abu. Pria itu hanya diam memperhatikan Luhan yang tengah melepaskan emosinya di depan kedua orang tuanya.

"Lu… Han?"

. . .

Luhan meletakkan cangkir tehnya. Kemudian menatap pria di depannya.

"Aku mencarimu dalam beberapa tahun belakangan. Akhirnya, kita bisa bertemu di depan kedua orang tuamu. Ini pasti takdir,"

Pria ini mengenalkan dirinya sebagai seseorang bernama Kim Jungmo. "Aku dan ibumu dulu adalah teman semasa sekolah. Lalu, aku mendengar bahwa dia menikah dengan Hangeng, pria yang amat polos semasa sekolah. Dari cerita teman-teman yang lain, mereka bertemu di universitas yang sama, lalu Hangeng yang merasa bahwa kepribadian Heechul yang ceria amat cocok dengannya lalu mereka menjalin kasih," cerita Jungmo mengingat kembali semua cerita teman-temannya.

"Lalu, selama ini kau tinggal bersama siapa?" tanya Jungmo akhirnya.

Luhan menjawab dengan ragu, "Aku tinggal bersama seorang teman,"

"Semenjak orang tuamu meninggal?"

"Ya, dia mengajakku untuk tinggal di rumahnya,"

Jungmo menghela nafas, "Ku pikir kau tinggal sendiri," ucap Jungmo lega. "jujur saja aku sangat khawatir karena tidak mendengar kabar apapun mengenai dirimu,"

"Awalnya… Aku mengira kau sudah ma…" Tiba-tiba ponsel Jungmo berbunyi. "Maaf Luhan, aku akan mengangkatnya dulu,"

Luhan mempersilahkan Jungmo untuk menerima panggilan itu. "Benarkah? Aku akan segera ke sana. Segera,"

Luhan mendengar percakapan singkat Jungmo dan tau bahwa Jungmo akan pamit undur diri. "Aku ingin membicarakan sesuatu ketika baik diriku dan dirimu sama-sama tidak sibuk. Bisakah kau memberi nomor ponselmu?" Jungmo lalu mengulurkan ponselnya dan Luhan langsung menyimpan nomor ponselnya di sana.

"Jika paman ingin menghubungiku, aku selalu free setiap saat,"

"Terima kasih. Aku akan segera menghubungimu." Jungmo lalu keluar, meninggalkan Luhan yang menatap Jungmo hingga pergi dengan mobilnya.

. . .

Jaejoong berjalan menuju ruangannya di rumah sakit. Hatinya tidak tenang mengenai sesuatu. "Kyung-ah!" panggil Jaejoong saat melihat Kyulkyung lewat di depan ruangannya. "Ya, dokter?"

"Aku akan pulang sekarang. Apa ada dokter cadangan?" tanya Jaejoong.

Kyulkyung memeriksa catatannya, "Ada dokter Hong yang memiliki janji dengan pasien, dokter. Lalu dia bilang hari ini mungkin dia akan di rumah sakit saja karena dia dan anaknya berteng—,"

"Baiklah, aku harus pulang sekarang. Terima kasih," Jaejoong langsung berlari keluar ruangannya. Membuat Kyulkyung bingung karena belum sempat bertanya alasan Jaejoong harus meninggalkan rumah sakit dengan terburu-buru.

"Dokter!"

. . .

Jaejoong yang baru tiba di rumah disambut oleh beberapa pelayan. Jaejoong menyerahkan tasnya kepada pelayan agar diletakkan di kamarnya dan dia segera berjalan menuju ruang kerja Yunho. Dibukanya pintu brankas dan Jaejoong mengambil dua buah cincin dari emas putih yang saling berpasangan, di tengah salah satu cincin terdapat permata kecil yang amat cantik.

Itu adalah cincin keluarga Oh, yang digunakan untuk melamar seorang gadis yang akan menjadi Nyonya Oh selanjutnya. Tapi, Jaejoong menyimpan cincin ini, merasa bahwa dia tidak dapat memberikan cincin ini kepada Ye Ji sampai akhirnya nanti Sehun mengatakan bahwa dia ingin memberikannya pada Ye Ji.

Tapi, Jaejoong merasa tidak tenang, karena sebenarnya itu adalah cincin pertunangan yang sebenarnya bagi keluarga Oh. Ini adalah cincin yang dulu mengikatnya kepada Yunho sebelum mereka resmi menikah.

Ragu, Jaejoong meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

. . .

Sehun yang sedang membawa mobil untuk menjemput Luhan kemudian mendapat panggilan dari ibunya. "Halo, ibu?"

"…"

"Baik, aku akan kesana," tutup Sehun.

Sehun kemudian menghubungi Luhan. "Lu? Bisakah kau menunggu? Aku harus menemui ibu dulu sebentar saja,"

"…"

"Baik, aku akan segera menjemputmu,"

Sehun segera mengubah destinasinya dan membawa mobilnya menuju mansion. Sehun melihat mobil yang dibawa Jaejoong masih terparkir di depan pintu masuk. Dengan segera Sehun kemudian memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Jaejoong.

Sehun membuka pintu dan masuk ke dalam mansion untuk menemui ibunya. Beberapa pelayan membungkukkan badan kepada Sehun dan memberikan isyarat ke arah ruang kerja ayahnya. Sehun lalu berjalan menuju ruang kerja Yunho dan melihat ibunya yang sedang duduk di sofa memegang sebuah kotak kecil berwarna putih gading. "Duduklah," ucap Jaejoong yang sedang terduduk di sofa.

Sehun kemudian duduk di samping Jaejoong. "Apa itu, bu?" tanya Sehun.

Jaejoong langsung membuka kotak tersebut, memperlihatkan cincin keluarga Oh. "Ini, cincin keluarga Oh, seharusnya diberikan kepada menantu keluarga Oh. Sudah beberapa generasi menggunakannya. Tapi, kemarin, ibu memberikan cincin yang lain kepada Ye Ji,"

Sehun terdiam menunggu penjelasan Jaejoong. "Karena… Sehun,"

Sehun terkejut dengan alasan yang diucapkan ibunya. Apa ibunya tau bahwa dirinya hidup bersama Luhan?

"Ibu tau Sehun tidak menyukai Ye Ji setitik pun saat ini. Sehun hanya menuruti keinginan ayah, dan mengikuti kemauan dari Tuan Seo," Jaejoong membuat Sehun terdiam lagi. "tidak semua cinta tumbuh dengan cepat. Ada juga, cinta yang datang terlambat, ibu memahaminya,"

"Tapi, ibu berharap, kalaupun Sehun ingin membatalkan semua ini, batalkan dengan baik sebelum semuanya terlambat,"

Sehun menatap Jaejoong, lalu memeluknya dengan rasa terima kasih. "Terima kasih, ibu,"

. . .

Luhan membuka pintu pagar sebelum dirinya menemukan prianya, bersandar pada mobil. "Kita akan terlambat," ucap Sehun sambil memperhatikan jamnya. Luhan tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Setelah memasang seat belt, Sehun mulai menghidupkan mobilnya.

"Tadi aku harus pulang ke rumah karena Ibu ingin membicarakan sesuatu,"

"Mengenai pernikahan?"

"…"

"Berapa minggu lagi?" tanya Luhan.

"Kami… Belum memutuskannya,"

"Siapa yang akan mengurus gaun dan cincinnya?"

"… Ibu,"

"Apa perni—"

Sehun menginjak remnya mendadak, membuat Luhan terdorong ke depan. "Pernikahan itu bukan urusan kita berdua, biarkan mereka yang mengurus pernikahan itu," ucap Sehun dengan wajah mengeras sebelum dirinya menginjak gas lagi.

. . .

Luhan membaca menu dengan baik sebelum akhirnya memilih chef's best menu. "Aku juga mengambil itu," ucap Sehun ketika menutup menu. "White wine," tambah Sehun sebelum pelayan pergi mengantar pesanan mereka ke dapur.

"Jadi, bagaimana kepribadiannya? Apa dia baik?"

Sehun mengalihkan pandangannya pada bar yang berada di tengah restaurant, menghindari pertanyaan Luhan mengenai Ye Ji. "Sehun…" kata Luhan dengan memelas.

"Dad… You won't talk to me right now?"

"No. Unless it's not about my wedding, Luhan,"

"Alright then. Bagaimana keadaan kantor?" tanya Luhan akhirnya.

Sehun mendengus mendengar pertanyaan Luhan. "Terlalu banyak hal yang menggangguku akhir-akhir ini," ucap Sehun sambil mengingat bagaimana kepala keluarga Seo yang datang kepadanya untuk mengajaknya makan malam bagaikan seorang bos yang menguruh pegawai barunya untuk membersihkan sepatunya yang kotor.

Luhan mengangguk mengerti.

Sejenak, tidak ada lagi yang berbicara, hanya musik pengiring yang memecah suasana diantara Sehun dan Luhan.

"Hujan…" gumam Sehun.

Luhan menoleh, melihat ke arah jendela, "Hujan… Seperti malam itu…"

Sehun menatap Luhan yang masih melihat hujan. "Apa… Kau… Menyesal?"

Luhan menggeleng. "Bagaimana mungkin aku menyesal. Kalaupun aku harus menyesal, hal itu adalah perasaan cintaku padamu," ucap Luhan tanpa mengalihkan pandangan pada hujan.

Sehun kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sebuah kotak kecil berwarna putih gading. "Untukmu," kata Sehun, membuat Luhan menoleh, dan… menatap dengan bertanya-tanya.

"Ini…"

"Cincin,"

Luhan menarih kotak tersebut dan membukanya. "Kau tidak salah… menukar cincin ini pada calon istrimu kan?"

Sehun kemudian berdiri dan berlutut di sebelah Luhan, meraih kotak cincin tersebut dan memasangkan cincin di jari manis Luhan. "Ini milikmu. Sudah ku katakan, dirimu dan calon istriku berbeda. Istriku adalah urusan keluargaku, dirimu adalah diriku,"

Jujur Luhan tidak mengerti dengan sikap Sehun malam ini. Walaupun Luhan sangat bahagia mendapatkan cincin yang amat cantik dari pria yang amat ia cintai, rasa penasaran tetap membuat Luhan bertanya-tanya. Sehun bukan tipe orang yang akan memberikan sesuatu di luar event yang luar biasa.

Sehun kembali ke tempat duduknya dan saat itu wine pun datang, dengan segera Sehun menghabiskan wine di gelasnya lalu dia berdeham.

Luhan tersenyum menatap cincin di jarinya. "Tolong jaga cincin itu," pesan Sehun.

"Kenapa?" tanya Luhan yang masih mencoba untuk mencari kebenaran dibalik cincin-yang-hanya-hadiah ini.

"Kau tidak mengerti ya?" tanya Sehun yang tampak frustasi dengan sikap Luhan. "Cincin itu mahal!" ucap Sehun dengan wajah yang sangat kesal. Luhan kemudian tertawa. "Baiklah. Aku tidak akan menghancurkan moodmu malam ini,"

Kemudian pesanan mereka datang. Sepiring steak yang disiram oleh saus berwarna kuning dengan berbagai garnish berwarna-warni. Sehun mulai memotong dagingnya, begitu pula Luhan. Dengan kecekatannya, Sehun kemudian menukar piringnya dengan piring Luhan, "Terima kasih, Dad," ucap Luhan sambil menikmati dagingnya sambil membalurkan saus itu di atas dagingnya.

. . .

Luhan meneguk winenya sekali lagi dan kemudian menyudahi makan malamnya hari ini. Begitu pula dengan Sehun yang meminta gelasnya untuk diisi lagi dengan wine. "Kadar alkoholmu," ucap Luhan memperingatkan Sehun. "lebih baik kita bermain dalam keadaan separuh waras, Sehun. Sudah berapa lusin pakaian dalamku menjadi lap bekas?"

Sehun mendecih. "Baiklah," ucapnya yang dengan segera meletakkan gelasnya yang masih terisi penuh.

Saat Sehun baru akan berbicara, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Sehun merogoh kantung celananya dan melihat sebuah pesan dari Yeonwoo. Isinya mengenai beberapa proposal yang mereka kirimkan telah diterima oleh klien mereka.

"Sehun…"

"Ya?" jawab Sehun sambil melihat ponselnya.

"Apa kita akhiri saja?"

Sehun merasa dunia berhenti berputar saat itu. Menatap mata gadis di depannya yang matanya penuh dengan keputusasaan dan permohonan. "Kita berakhir disini."

. . .

"Bawa aku kepada putrinya," ucap seorang pria tua yang sedang berada di ranjang mewah miliknya. Tangannya menggenggam sepucuk kertas foto dengan tangan bergetar. Tak lama, pria itu terbatuk, membuat pria satunya yang sedang mendampingi pria itu membantunya untuk duduk.

"Aku harus menemuinya. Segera."

. . .

"Bagaimana?" tanya Luhan dengan senyum jahil di bibirnya.

Sebenarnya, Luhan tidak sedang benar-benar bercanda, dia serius, ingin mengakhiri hubungan ini, mengingat semua resiko yang ia miliki jika tetap berada di dalam pelukan Sehun.

Sehun masih terdiam. Dia masih tidak bisa menggerakkan bibirnya yang tiba-tiba menjadi sangat kaku setelah mendengar pertanyaan Luhan. Bagaikan dibekukan oleh sebuah es dari kutub utara.

Gadis itu kemudian tertawa. "Hahaha! Lihat wajahmu Oh Sehun! Sungguh aku sudah berharap kau akan mengatakan 'tidak, Luhan'. Tapi benar, kau tidak pernah merubah hatimu untukku!" ucapan itu keluar dari mulut Luhan dengan tawa yang tidak berhenti. "sungguh aku takut akan tercekik karena tertawa jika seperti ini!" ucap Luhan.

"Tidak lucu,"

Luhan menoleh menatap Sehun yang menatapnya dengan amarah. "kau pikir mempermainkan diriku lucu?" ucap Sehun.

Sehun berdiri dari duduknya, "Berdiri!" perintahnya. "kita pergi dari sini."

. . .

Sungguh Luhan berdoa dengan panjang pada Tuhan saat Sehun membawanya pergi dari restaurant itu. Luhan takut. Dia tidak tau Sehun akan melakukan apa karena dia sukses membuat Sehun emosi. Jarang sekali Sehun bisa emosi seperti tadi. Paling parah, Sehun hanya akan menatapnya dengan datar.

Tapi, Sehun tidak melukai Luhan sedikit pun. Malah dirinya membawa Luhan untuk bersantai, menikmati pemandangan di sebuah lahan untuk car date di pinggir sungai Han. Sehun memutar koleksi lagu klasiknya, membuat suasana menjadi lebih nyaman bagi mereka berdua.

"Bagaimana jika aku tidak melepaskan dirimu?" ucap Sehun tiba-tiba.

Sehun menatap Luhan dengan sungguh. "aku tidak mau melepaskanmu. Bagaimana?" ucap Sehun.

Luhan tersenyum. "Kalau begitu aku akan berada di sisimu. Sampai kau akhirnya tidak menginginkanku lagi," jawab Luhan. Luhan kemudian kembali menatap sungai Han yang ramai dengan pasangan yang menikmati sebuah prosesi lamaran di spot lamaran terkenal di bawah sana.

"Bukannya itu tidak adil?" tanya Sehun lagi.

"Siapa yang memikirkan itu adil atau tidak ketika cinta sudah membutakan segalanya,"

Sehun akhirnya tersenyum mendengar kata-kata Luhan. "Kau benar. Cinta membuat orang gila,"

"Hei! Aku tidak mengatakan aku gila!" ucap Luhan memprotes kalimat Sehun. Sehun menggeleng. "Kau tidak gila. Tapi sudah tidak waras,"

Luhan mendengus kesal. "KAU BENAR-BENAR!"

CUP!

Luhan membalas Sehun dengan sebuah kecupan di bibir Sehun. "Kau menyebalkan," ucap Luhan setelah melepaskan kecupannya. Dan tepat saat Luhan akan duduk dengan baik lagi, Sehun menarik tubuh Luhan untuk mencium Luhan dalam.

Kedua tangan dia gunakan untuk menangkup wajah gadisnya sebelum tangan Luhan yang berbalik menangkup wajah Sehun. Perlahan, Sehun menurunkan kursi keduanya. Sesaat ciuman itu terputus, tapi, Sehun kembali menarik Luhan ke atas kursinya.

Decakan akibat ciuman itu memenuhi mobil yang terus memutar lagi klasik, mengabaikan bagaimana tangan kedua insan manusia berbeda jenis itu mulai menjelajahi tubuh pasangannya masing-masing.

Sehun dengan mudah memasukkan tangannya diantara paha Luhan dan menurunkan celana dalam gadis itu tanpa melepaskan dressnya. Sedangkan Luhan berhasil menarik dasi Sehun sembari mencopot kancing kemeja Sehun.

Semakin intens, Luhan mulai menurunkan ciumannya pada dada Sehun dan menjilati dada pria itu, membuat Sehun tertawa geli merasakan sensasi yang diberikan oleh lidah Luhan pada dadanya. "Ohhh… Yeah…" desah Sehun saat Luhan menjilati lehernya.

Tangan Sehun sibuk melepaskan sabuknya sebelum membuka celananya dan mengeluarkan kejantanannya. Luhan berhenti menjilati tubuh bagian atas Sehun dan kemudian meraih kejantangan Sehun. "Dad… Apa yang harus Luhan lakukan?" tanya Luhan sambil mengelus ujung kejantanan Sehun.

Sehun tertawa geli melihat bagaimana tangan Luhan memainkan kebanggannya. "Fuck you little Lu!"

Sehun merasakan bagaimana Luhan memainkan kejantanannya benar-benar seperti sebuah mainan yang bisa dia buat bergerak kesana kemari tanpa memikirkan reaksi yang akan ditimbulkan. "Oh shoot!" ucap Sehun saat merasakan dirinya akan menembakkan cairan tubuhnya itu.

Putih dan kental, ditangan Luhan, tanpa segan gadis itu menjilatnya dengan baik, membuat Sehun kembali terangsang. Luhan yang juga sudah amat terangsang, menaikkan tubuhnya ke atas kejantanan Sehun dan menekan kejantanan Sehun yang dia genggam dengan baik untuk meluncur menuju pusat tubuhnya.

"AAAAH!" pekik Luhan saat penis Sehun menjangkau spot terbaik milik Luhan. "Ah… Tuhhhh-haaaannn…"

Luhan bergetar dan limbung sebelum Sehun menahannya. "Apa kau bisa?" tanya Sehun khawatir dengan kondisi Luhan yang lemas hanya sesaat setelah penetrasi.

Luhan mengangguk. Dirinya kemudian mulai bergerak dengan badan bergetar, menjepit kejantanan Sehun—dan membuat pria ini menjerit nikmat—lalu dengan perlahan dirinya menghentakkan badannya pada Sehun.

Peraduan itu menyebabkan Luhan limbung beberapa kali sebelum akhirnya Luhan menggeram lemah, membuat Sehun tau bahwa Luhan akan mencapai puncak kenikmatannya. Berinisiatif, Sehun menggerakkan kejantanannya, menyebabkan Luhan mendesah panjang yang diikuti basahnya kejantanan Sehun

"Ahhh… Sehunh…"

Luhan limbung dan berbaring pada dada Sehun dengan nafas memburu. Sedangkan Sehun yang akan mencapai puncaknya harus bersabar dengan Luhan. Luhan membutuhkan sedikit waktu untuk kembali bisa 'menggenjot' tubuh Sehun lagi.

"Ahhh. Yahhh! Nikmathhh sekaliii… Sehun-ah! Ah!" desahan Luhan membuat Sehun menggeram seperti Luhan tadi. Tangannya yang semula memegangi pinggang gadis itu menarik Luhan untuk berbaring padanya.

Tepat saat Luhan berbaring, Sehun memuntahkan benihnya yang hangat pada rahim Luhan. Sehun menciumi dahi gadis itu beberapa kali setelah pelepasannya. Kedua tubuh mereka berkeringat dingin, dan Luhan yang masih bergetar akibat seks barusan.

"Tubuhku aneh," ucap Luhan tiba-tiba. "sudah berapa kali kita melakukan ini? Kenapa dengan posisi seperti tadi selalu membuatku lemah?" keluh Luhan, jujur dirinya sangat bergetar saat ini.

Sehun tersenyum, mengelus rambut Luhan lembut, "Karena 'ukuran'ku memang yang paling cocok untukmu," ucap Sehun sebelum kembali mencium Luhan di dahinya.

Luhan kemudian duduk dengan keadaan tubuh yang masih menyatu di atas Sehun, "Ayo kita pulang!" ajak Luhan sambil menggoyangkan pinggangnya dengan sengaja, membuat Sehun memejamkan matanya beberapa kali dan mau tidak mau meloloskan desahan dan erangan nikmat.

"Luhanhhhh! Behave!"

Luhan menggeram begitu pula Sehun, Luhan kembali terjatuh di dada Sehun. "Kau nakal…hhh," ucap Sehun yang kemudian menepuk pantat Luhan. Luhan tertawa geli dibuatnya. Sehun akhirnya memutuskan memeras bokong Luhan beberapa kali, membuat Luhan mendesah dan menegang.

"Apa kita terlalu mencolok?" tanya Luhan saat memperhatikan beberapa orang yang melewati mobil Sehun terus menatap ke arah mobil mereka dengan tatapan aneh. "Sudah terlambat untuk menanyakan itu, Luhan."

. . .

Luhan membuka matanya dan merasakan dirinya berada di dalam pelukan Sehun. "Kau sudah bangun?" tanya Sehun. Luhan kemudian mengangguk sambil menggesekkan kepalanya pada dada Sehun yang telanjang.

Kemarin malam, mereka akhirnya pulang setelah sungai Han semakin sepi. Dengan gila, Sehun kembali menyetubuhi Luhan di garasi tadi malam sebelum dirinya menggendong Luhan kemari. "Aku akan membersihkan diri dulu," kata Sehun sebelum berdiri meraih bathrobenya dan masuk ke dalam kamar mandi.

Luhan meraih nakas dan menemukan ponselnya.

Luhan membuka ponselnya dan menemukan sebuah pesan masuk kemarin malam. Tepat saat dirinya sedang 'mengendarai' Sehun di pinggir sungai Han. Luhan membuka pesan tersebut dan kemudian dirinya melihat ke arah jam.

Luhan kemudian berdiri dari kasur, meraih bathrobenya dan 'memaksa' masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Sehun yang tengah menyiram tubuhnya dibawah shower cukup kaget. "Aku harus pergi. Kita mandi bersama saja, lebih cepat," ucap Luhan.

"Pergi?" tanya Sehun.

"Aku harus menemui seseorang," jawab Luhan santai saat meraih sabun di sebelah kirinya.

Sehun merebut sabun itu sebelum Luhan kembali mengambilnya. "Ini…" ucap Luhan yang sesaat berhenti menyabuni tubuhnya. "mengenai diriku."

. . .

Ye Ji memperhatikan jamnya, lalu dirinya menemukan Junki, melambaikan tangan padanya dengan sebuket bunga di tangannya. Ye Ji sangat terharu dengan Junki yang mengingat hari bersejarah mereka berdua hari ini. Biasanya, Ye Ji yang akan memberikan surprise pada Junki, dengan berakting sehari sebelumnya dengan menjadi biasa saja, membuat Junki tidak mengingatnya sama sekali.

Ye Ji memeluk Junki yang masuk ke dalam café dengan erat. "Oh my god! Aku sangat menyayangimu!" ucap Ye Ji sambil mengecup bibir Junki, membuat Junki membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Ye Ji kemudian menarik Junki ke kursi yang sudah dia pilih tadi.

Junki mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam jasnya. Kotak itu terbilang besar untuk sebuah kotak perhiasan. Junki kemudian membuka kotak yang ternyata berisikan kalung mutiara yang amat cantik. "Untukmu, happy anniversary, Seo Ye Ji," ucap Junki dengan senyuman.

Ye Ji menangis menatap Junki. "Aku akan memasangkannya untukmu," kata Junki yang kemudian mengambil kalung itu dan melilitkannya pada leher Ye Ji. "Bagaimana?" ucap Junki menanyakan pendapat Ye Ji.

Ye Ji membuka kameranya, lalu tersenyum senang sambil menyentuh kalungnya. "Ini lebih istimewa dibanding apapun," ucap Ye Ji.

Junki menggeleng. "Tidak. Ini hanya hadiah biasa. Aku lebih berterima kasih padamu selama ini. Aku tidak bisa membayar kebaikanmu," ucap Junki dengan sungguh-sungguh.

Ye Ji menggeleng. "Aku melakukannya karena aku cinta padamu, Junki. Kau hanya perlu mencintaiku selamanya," ucap Ye Ji dengan wajah penuh harap. "apa kau berjanji?"

"…Aku berjan-ji…"

. . .

Luhan memberhentikan taksi yang dia kendarai di sebuah café. Setelah turun dari taksi, Luhan segera menemukan pria yang mengiriminya pesan. Teman ibunya kemarin, Kim Jungmo.

"Selamat pagi, Luhan," ucap Jungmo. "ku harap aku tidak mengganggu pagimu," kata Jungmo.

Luhan tersenyum. "Tidak masalah, Tuan," ucap Luhan. "ada apa anda memanggil saya?" tanyanya.

Jungmo tersenyum membalas senyuman Luhan dan dirinya kemudian mengeluarkan sebuah foto keluarga yang Luhan kenal betul foto tersebut. Itu adalah foto dirinya bersama keluarga ayahnya di China. Itu sudah sangat lama. Saat itu Luhan hanyalah seorang bocah yang suka memanjat pohon kering dan juga menceburkan dirinya ke dalam kolam di rumah saudara jauh ayahnya.

"Kau mengenali foto ini bukan?" tanya Jungmo. Dan Luhan mengangguk dengan antusias. "Aku ingat foto ini diambil sebelum ayah membawaku dengan kereta menuju kota untuk berangkat ke Korea lagi,"

Jungmo mengangguk mengerti. "Luhan, yang harus kau tau, dunia adalah sebuah tempat yang amat luas. Kau tidak tau kau akan bertemu dengan siapa di sepanjang kesempatan hidupmu kali ini. Dan siapa saja yang belum kau temui padahal adalah seseorang yang amat dekat padamu,"

"Luhan, ini adalah foto keluarga ibumu,"

Jungmo mengeluarkan sebuah foto kekuningan, dimana ada seorang pria dengan seorang gadis yang jauh lebih muda dan juga seorang bayi.

"Dan… bayi itu adalah ibumu,"

Luhan tidak bisa mempertanyakan keaslian foto itu ketika dirinya sendiri dapat menemukan fitur wajah ibunya di wajah pria yang sedang merangkul gadis muda—yang dapat Luhan kenali sebagai nenek Luhan—yang sedang menggendong ibunya.

"Ibumu, kehilangan ayahnya dua hari setelah foto keluarga ini diambil. Penyebabnya, karena kakekmu yang sedang bekerja di kapal barang kecil dengan tujuan China dikabarkan tewas di dalam kasus tenggelamnya kapal tersebut akibat badai di lautan," jelas Jungmo.

"Nenekmu tidak bisa mencari kakekmu karena nenekmu harus menghidupi anaknya dengan keadaan serba pas-pasan. Berminggu dirinya menunggu, yang dia dengar hanya kabar bahwa kapal itu sudah sepenuhnya tenggelam dan semua awak yang ditemukan telah tewas di lautan,"

"Mendengar kabar itu, nenekmu sempat terpuruk. Tapi, seorang pedagang ikan di pasar yang bersimpatik pada nenekmu akhirnya menawarkan bantuan kepada nenekmu. Dan pada akhirnya mereka menikah. Dia adalah orang yang selama ini kau anggap kakek,"

Luhan terkejut mendengar penjelasan Jungmo.

"Kakekmu. Kakek kandungmu, dia menunggumu Luhan. Dia mencari kalian semua, keluarganya,"

"Tapi, karena ibumu juga telah meninggal, pencariannya mencapai jalan buntu. Dirinya tidak bisa menemukan dua orang paling berharga dalam hidupnya. Kakekmu secara tidak sengaja bertemu denganku di salah satu perjalanannya ke Korea untuk menemukan Heechul. Mendengar Heechul yang telah meninggal, dia terpuruk, kesehatannya memburuk,"

Mendengar penjelasan Jungmo, Luhan merasa dirinya tengah diledakkan dengan sebuah dinamit yang ditanam di dalam dada dan kepalanya. Semuanya seperti drama pagi hari yang ingin Luhan tonton selama masa sekolah.

"Setelah diriku mengatakan bahwa Heechul memiliki anak perempuan tunggal, dirinya mulai membaik. Dia memberikanku kepercayaan untuk mencarimu karena dia sangat ingin bertemu denganmu,"

Luhan bergetar.

Bertemu dengan seseorang yang memiliki ikatan darah dengannya setelah sekian lama. Entah kenapa Luhan ketakutan. Sebagian dirinya ingin bertemu dengan kakeknya yang sebenarnya. Sebagian dirinya lagi takut, dirinya akan ditolak. Dirinya yang kotor akibat statusnya saat ini.

"Temuilah dia Luhan," bujuk Jungmo.

Luhan ingin menolak. Ingin sekali.

Tapi, mendengar keadaan kakeknya yang pasti amat terpukul, Luhan ingin bertemu dengannya, mewakili nenek dan ibunya. Menjadi obat bagi luka-luka kakeknya itu.

"Apa kau bersedia Luhan?"

. . .

Ye Ji turun tepat di depan rumahnya menggunakan taksi. Sebelum Ye Ji masuk, dirinya menyempatkan untuk memeriksa kalung yang diberikan Junki kepadanya. Masih melilit leher indahnya.

Ye Ji kemudian masuk ke dalam rumah, menemukan ibunya yang sedang menyiapkan makan malam. "Wah… Apa ada pesta?" tanya Ye Ji saat melihat berbagai hidangan mewah di atas meja. Sushi dan alkohol. Benar saja!

Chahee tersenyum melihat Ye Ji yang amat senang dengan menunya hari ini. "Tidak. Ibu hanya ingin memakan sushi dan minum," kata Chahee sambil memperagakan bagaimana orang yang sedang meneguk soju. "ayahmu tidak pulang lagi malam ini. Dia ada urusan di luar katanya,"

Ye Ji mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku mandi dulu, bu," pamit Ye Ji.

Saat Ye Ji melangkah, Chahee memanggil Ye Ji lagi. Ye Ji berbalik badan melihat Chahee.

"Kalungmu… bagus sekali."

. . .

Jaejoong dan beberapa rekanan spesialis jantung berada di dalam confrence room kecil di lantai yang sama dengan UGD. Tak lama saat mereka masuk, direktur rumah sakit masuk ke dalam ruangan.

"Selamat malam semuanya, maaf aku mengumpulkan kalian seperti ini," ucapnya.

"Saat ini aku mengumpulkan seluruh dokter yang merupakan spesialis jantung disini karena rumah sakit akan menerima tamu VVIP dalam waktu kurang lebih 48 jam lagi. Beliau adalah teman dekatku. Kunjungan ini adalah kunjungan penting baginya. Jadi, dirinya mengharapkan rumah sakit kita untuk membantunya mencapai target kunjungannya kali ini dengan membantunya menyetabilkan kesehatannya,"

"Untuk tim dokter jantung, Dokter Gong akan menjadi kepala tim dokter spesialis untuk VVIP kita,"

"Untuk tim dokter yang akan berjaga dan dokter yang juga mengatur semua perawat, kami menunjuk dokter Oh Jaejoong,"

Jaejoong mengangguk mengerti mendengar arahan direktur rumah sakit.

"Nama tamu ini adalah Kim Yeongseok. Pemilik perusahaan properti Gu Li."

. . .

Luhan menutup pintu taksi dan memasuki rumah dengan lelah. Saat Luhan membuka pintu rumah, dirinya mencium aroma gosong beserta aroma ramyun nikmat yang pasti sedang hangat. Dan Luhan langsung dapat mengetahui siapa pelaku itu semua.

Prianya, Oh Sehun.

Tidak, Sehun bukan tipe pria yang akan menghancurkan dapur. Sehun adalah seorang koki handal. Dia bisa memasak. Hanya saja, biasanya Sehun selalu mendapat panggilan bisnis ketika dirinya meninggalkan daging di dalam panggangan.

Tidak heran daging menjadi gosong.

"Ramyun?" Sehun menawarkan Luhan yang baru melepaskan sepatunya di depan pintu.

Sehun menyesap mienya sambil memperhatikan Luhan yang kelelahan. "Butuh 'pijatan'?" tanya Sehun sambil menggerakkan alisnya nakal.

"Aku akan mandi dulu. Jangan ganggu,"

Sehun terkejut dengan ucapan Luhan. Selelah-lelahnya Luhan, baru pertama kalinya dirinya melihat Luhan selelah itu dan tampak tidak ingin diganggu oleh Sehun sama sekali.

Sehun kemudian menjawab, "Baiklah,"

Setelah mematikan api, Sehun menikmati ramyunnya sendirian sambil melihat berita. Benar-benar sepi, Sehun merasa tengah sendirian di rumah. Dengan cepat dia menghabiskan ramyunnya, dan langsung menuju kamar. Tampak pakaian Luhan berada di depan pintu kamar mandi, maka Sehun langsung melepaskan bajunya.

Luhan yang tengah berdiri dibawah guyuran air dingin terkejut ketika merasakan sebuah tangan besar menggosok tubuhnya dengan sabun dari belakang. "Cepat mandi, kau bisa sakit jika lama-lama disini," ucap Sehun sambil terus menyabuni Luhan.

Tangan Sehun mengusap leher Luhan, membuatnya kegelian, lalu tangan Sehun turun menuju punggung dan lalu mengarah ke dada Luhan, memainkannya sebentar. Tangan Sehun tidak berhenti sampai disitu untuk menggoda Luhan, tangannya meluncur menuju kewanitaan Luhan, menyelipkan tiga jarinya ke dalam sana dan membuat Luhan melenguh. "Ti-Tidakh… Sehunhhh," tolak Luhan sambil mencoba berpegangan pada besi di depannya.

Tapi, Sehun tidak memperdulikannya dan malah memutar tangannya di dalam sana.

PLAK!

Luhan menampis tangan Sehun dengan wajah dingin dan tidak ingin diganggu. Segera Luhan membilas tubuhnya dan menggunakan bathrobenya meninggalkan Sehun yang masih menatapnya.

Sehun segera membilas tangannya dan memakai pakaiannya, mengikuti Luhan yang sedang memakai baju tidurnya. "Ada apa?" tanya Sehun.

"Tidak ada,"

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku Luhan,"

"Aku tidak harus menceritakan semua hal kepadamu, Sehun," ucap Luhan sambil melihat ke arah Sehun dengan wajah mengeras. "sama seperti pernikahanmu,"

"Apa?" Sehun tak percaya dengan ucapan Luhan barusan. "kau tau itu bukan hal yang sama, Luhan!"

Sehun menaikkan suaranya ketika mendengar Luhan berbicara seperti itu kepadanya. Luhan mendengus. Sehun kemudian menarik lengan Luhan dan menatapnya marah.

"Kau tidak punya hak marah, Oh Sehun. Kau yang memulai segala hal yang berbau rahasia seperti ini,"

Sehun tertawa tidak percaya, "Jadi, ini rencana balas dendammu?"

Sehun menggeleng dan lagi-lagi dia tertawa tidak percaya kepada Luhan. Tangannya melepaskan lengan Luhan yang sedari tadi dia genggam. Luhan mendecih. "Aku tidak pernah berencana untuk balas dendam Oh Sehun. Jika kau mengartikan tindakanku sebagai balas dendam," kata Luhan terputus. "kau benar-benar kekanakan,"

Luhan mendorong Sehun dan meninggalkan pria itu yang masih tidak terima dengan keputusan Luhan.

Setelah dirinya keluar dari kamar mandi dan berpakaian, Sehun mengambil kunci mobilnya dari atas nakas, membuat suara yang jelas bahwa dirinya marah kepada Luhan yang terduduk di sisi kasur sambil menatap ponselnya. Dia kemudian turun menuju garasi dan meninggalkan rumah menggunakan mobil.

Luhan hanya menatap melalui jendela. Ini belum saatnya Sehun tau. Karena Luhan saja belum yakin, apakah orang yang akan dia temui itu benar adalah kakek kandungnya sendiri atau bukan.

. . .

Seharian Luhan habiskan untuk menunggu Sehun kembali ke rumah. Untuk pertama kalinya Sehun bahkan tidak akan muncul di depan rumah Luhan untuk memastikan Luhan aman. Luhan takut, Sehun akan membencinya karena Sehun berpikir bahwa Luhan sedang membalaskan dendamnya pada Sehun.

Malam mulai datang, langit menggelap. Dan sepertinya Sehun tidak akan pulang lagi malam ini. Luhan melihat ke arah jendela kamar sekali lagi. Sehun benar-benar pergi. Luhan menghela nafas, putus asa. Mungkin hubungan ini benar-benar sudah berantakan, dan Sehun memilih untuk mengakhirinya.

Walaupun itu tandanya, Sehun telah melanggar janjinya pada orang tua Luhan.

Luhan memperhatikan jari manisnya yang dilingkari sebuah cincin pemberian Sehun. Luhan berjalan menuju nakas disebelah kasur, meletakkan cincin itu kembali ke kotaknya. Luhan tidak dapat menatap cincin itu lebih lama lagi. Itu hanya akan mengingatkannya pada Sehun.

Tiba-tiba ponsel Luhan berdering, berharap Sehun akan bertanya mengenai keadaannya, apakah Luhan aman? Atau bahkan Sehun ingin memberitahukannya bahwa pria itu akan pulang dan kembali ke pelukan Luhan lagi.

Luhan berharap. Tapi, harapan hanyalah harapan.

Paman Jungmo.

Luhan mengangkat panggilan itu.

"Halo, selamat malam, Paman,"

"…"

"Benarkah?"

"…"

"Baik Paman, aku akan segera bersiap-siap,"

Luhan berdiri dari posisi duduknya di sofa tadi dan berjalan menuju klosetnya, mencari dress yang cocok. Akhirnya Luhan memilih sebuah dress berwarna baby blue dengan motif floral berwarna pink. Luhan menggelung rambutnya, dipadukan dengan pita berwarna putih.

Yang perlu Luhan lakukan hanya menunggu Jungmo menjemputnya. Luhan menanti di kamarnya, hingga dirinya mendapatkan panggilan masuk lagi. "Halo, Paman?"

"…"

"Baik,"

Luhan meraih sneakersnya dan berjalan menuju pintu pagar. Luhan menemukan mobil terparkir di depan, dan Jungmo tampak berada di kursi pengemudi setelah dirinya menurunkan jendelanya. "Naik, Luhan,"

Luhan mengangguk dan membuka pintu mobil Jungmo. "Kita akan langsung menuju bandara," kata Jungmo setelah Luhan memakai seat beltnya.

. . .

Ye Ji menerima pesan dari Junki bahwa Junki ingin mengajak Ye Ji berjalan-jalan ke Jeju. Karena Junki mengambil cuti beberapa hari. Reaksi Ye Ji? Tentu saja dia amat senang.

Ye Ji dengan semangat menurunkan koper kecilnya dari atas lemari dan mulai mengepak barangnya satu persatu. Berbagai pakaian ia siapkan, beberapa bahkan tampak seksi, itu membuat Ye Ji semakin tersenyum senang. Junki pasti akan sangat 'terpuaskan' oleh 'servis' Ye Ji kali ini.

Mengingat Junki, Ye Ji kembali dilempar ke beberapa minggu lalu, ketika ayahnya bersikeras ingin menjodohkan Ye Ji dengan Sehun. Entah apa alasannya, pria itu—ya, Ye Ji mulai memanggilnya 'pria itu' semenjak ayahnya menjadi lebih keras kepala—berkata bahwa Sehun adalah pria baik-baik yang berasal dari keluarga terpandang.

Ketukan di pintu kamarnya mengalihkan perhatian Ye Ji. Chahee kemudian masuk membawakan apel yang sudah dipotong bersama dengan semangkuk kecil mayonaise, kesukaan Ye Ji. "Koper?"

Ye Ji mengangguk. "Temanku mengajak pergi ke Jeju minggu ini,"

Chahee mengangguk paham. "Hanya berdua?"

Ye Ji mengangguk dan menusuk apel di piring yang Chahee bawakan. "Dia sengaja mengambil cuti karena selama ini dia terlalu sibuk bekerja. Karena itu dia membawaku," jelas Ye Ji, mencoba menepis kecurigaan Chahee nantinya.

Chahee mengangguk paham. "Kalau begitu, ibu tinggal."

. . .

Luhan berdiri bersama Jungmo di daerah kedatangan internasional bandara Incheon. Pesawat yang terbang dari Beijing itu telah tiba di Korea beberapa saat lalu. Mereka hanya perlu menunggu tamu yang mereka sambut saat ini.

"Itu dia,"

Jungmo menunjuk ke arah sebuah caddy yang tengah mendekat. Caddy itu diisi oleh beberapa orang berbadan besar dan menggunakan baju hitam, mereka semua adalah bodyguard, Luhan tebak. Dan tepat di depan mereka, caddy tersebut berhenti, dan semua orang di atas caddy tersebut turun, kecuali satu orang. Pria itu memilki fitur wajah yang sama dengan ibunya.

Tidak salah lagi, dia adalah kakeknya.

"Tuan Kim," sapa Jungmo sambil membungkuk dalam.

Semua bodyguard yang sebelumnya turun berbalik membungkukan badan pada Luhan. "Luhan?"

Pria itu menatap Luhan lama. Luhan tidak dapat membaca ekspresi pria itu saat ini.

"Luhan, naiklah," ucap Jungmo.

Sesuai arahan, Luhan naik ke atas caddy, mendudukkan dirinya disamping pria tadi. Tangan pria itu menggenggam tangan Luhan erat. Luhan kembali menggenggam tangan yang sudah keriput itu. "Selamat kembali, kakek."

. . .

Sehun tiba di depan rumahnya, untuk memastikan Luhan baik-baik saja. Kemarin, dia harus disibukkan oleh ibunya yang membawanya untuk mempersiapkan baju pernikahan Sehun nanti. Jadi, dia tidak bisa pulang karena lelah.

Tapi, hari ini Sehun malah melihat Luhan yang berdandan dengan cantik menaiki mobil dan segera meninggalkan rumah mereka. Dan yang membuat Sehun semakin curiga, hari sudah malam. Kenapa Luhan pergi begitu saja?

Penasaran, Sehun pun mengikuti mobil itu. Sehun menyadari bahwa mereka akan menuju bandara Incheon dari jalan layang yang mereka ambil.

Sehun terus membuntuti mereka sampai akhirnya Luhan turun dari mobil dan terlihat sedang bersama seorang pria yang Sehun tebak seumuran dengan orang tuanya. Luhan dan pria itu berjalan bersama menuju pintu kedatangan internasional. Tak lama, sebuah caddy berhenti di depan Luhan. Semua orang kecuali satu, turun dan membungkukkan badan pada Luhan.

Luhan hanya diam. Kemudian pria yang tadi bersama Luhan memerintahkan Luhan untuk naik, dan kemudian mereka pergi, dengan tangan pria tua yang tidak turun tadi menggenggam tangan Luhan.

Sehun mengepalkan tangannya dengan erat dan memasang wajah dinginnya.

Apa Luhan sudah lama menduakannya?

Bersetubuh dengan pria lain? Pria tua itu?

Siapapun bisa mengatakan bahwa Sehun tengah marah melihat wajahnya yang merah dan tatapannya datar. Sehun kemudian pergi, tidak berniat untuk mengikuti Luhan lagi.

. . .

Luhan tiba bersama dengan Yeongseok di rumah sakit di dampingi oleh Jungmo. Yeongseok segera dipindahkan ke ranjang rumah sakit sesaat setelah Yeongseok tiba di rumah sakit. Para dokter dan perawat sibuk, menyiapkan perawatan terbaik mereka untuk Yeongseok. Luhan menunggu di koridor VVIP dengan Jungmo. Luhan tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari pintu ruangan VVIP. Secercah cahaya yang Luhan terima, Luhan berharap cahaya itu tidak akan padam lagi dalam waktu dekat.

Pintu koridor VVIP terbuka, seorang pria paruh baya, yang lebih muda beberapa tahun dibanding kakeknya—tebak Luhan, muncul, menggunakan jas dokternya, "Selamat malam, semuanya,"

Luhan membungkukkan badan, dan ketika Luhan memperhatikan kembali, dirinya terkejut. Wanita yang Luhan kagumi selama ini. Wanita yang selalu membuat Luhan terpana akan kecantikannya. Dokter Oh. "Selamat malam, semuanya. Perkenalkan, saya Kim Jaejoong, saya yang bertanggung jawab untuk merawat Tuan Kim selama kunjungannya ke Korea. Saya mohon kerjasamanya,"

Luhan membungkukkan badan pada Jaejoong sekali lagi.

"Dokter, perkenalkan, ini, adalah cucu dari Tuan Kim. Namanya, Luhan,"

Para dokter membungkukkan badan pada Luhan. "Nona Luhan, direktur rumah sakit ini adalah teman kakek Nona di China dulu," jelas salah satu perawat.

Direktur rumah sakit tersenyum melihat Luhan. "Sebagai seorang kakak, kakekmu adalah orang yang sangat baik. Beliau membantu saya selama saya menjalankan tugas disana sebagai dokter muda. Walaupun saat itu beliau juga sangat terpuruk, tapi beliau selalu tulus membantu saya. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membantunya,"

"Terima kasih, direktur,"

"Baiklah, saya izin masuk," kata direktur rumah sakit.

"Tunggu," kata Jaejoong, saat Luhan akan ikut masuk ke dalam. "Sepertinya, aku pernah melihatmu di suatu tempat," ucap Jaejoong, mencoba mengingat dimana dia bertemu Luhan sebelumnya.

Luhan tersenyum. "Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya, dokter Oh."

. . .

Sehun tiba di rumah sakit untuk menemui ibunya. Saat memasuki UGD, hanya beberapa perawat yang ada, tidak seperti biasanya yang ramai, mewaspadai adanya pasien yang datang. Sehun kemudian mendekat ke arah seorang perawat yang sedang berjaga. "Apa kau melihat Kyulkyung?" tanya Sehun.

Perawat itu menjawab, "Kyulkyung sedang mendampingi dokter Oh untuk memeriksa seorang pasien VVIP yang baru datang," jawabnya.

Sehun mengangguk mengerti dan kemudian mengucapkan terima kasih. Sehun lalu berjalan menuju ruangan ibunya. Saat itu, pandangan Sehun jatuh pada seorang gadis, Luhan. Berdampingan dengan seorang pria yang tadi mengantarkannya ke bandara, keluar dari rumah sakit. Mereka tampak akrab. Siapa pria itu?

"Sehun? Kenapa kemari malam-malam?"

Sehun menoleh, melihat ibunya yang tiba bersama Kyulkyung. "Ayo masuk!" ajak Jaejoong sambil membuka ruangannya. Dan disaat Sehun melihat ke tempat terakhir kali Luhan berada, Luhan sudah tidak disana.

. . .

To be Continued

. . .

HULLA SEMUANYAAA!

Lama tidak jumpa!

Akhirnya ku kembali bawa chapter ke 4-nya Jangmi. Aku bahagia dan amat bersyukur bisa kembali ngeupdate cerita ini.

Sejauh ini ceritanya baru hampir mendekati klimaksnya. jadi kalian masih harus bersabar agar FF ini selesai. But, worry not! Karena FF ini udah aku bikinin draft, insya Allah jadi lebih mudah nulisnya. Hehehe.

Oh iya, aku minta maaf kalo chapter ini berantakan. Karena terakhir kali aku nulis ini itu sebelum bulan puasa. Jadi udah sebulan lebih aku nulis draftnya baru bisa aku publish. Kalau ada kesalahan dan kekurangan, aku minta maaf sebesar-besarnya ya!

Hm…

Aku juga mau ngumumin sesuatu lagi.

Tbh, aku sampe sekarang masih ragu, mau lanjut nulis apa nggak. Tapi jujur, aku seneng banget pas aku bisa nulis Jangmi lagi dan beberapa draft yang udah aku simpen. Mungkin, keputusanku kemaren itu terlalu buru-buru dan ya… aku ngerasa aku ga bisa nulis lagi karena kena writer block untuk waktu yang lama. Aku sampe sekarang mulai membiasakan untuk nulis lagi dan mulai ngestock draft selama libur, jadi aku bisa lanjutin kapan aja.

Terus, aku juga baca setiap support yang kalian kirim di review waktu aku ngepublish announcement kemaren. Aku sangat mengapresiasi support kalian. Jujur aku sedih karena beberapa kalian masih sangat mensupport aku, tapi aku selalu ngecewain. Aku minta maaf banget ke kalian semua.

Oh iya, dulu aku pernah bilang aku mau bikin cerita di watty kan?

Kayaknya aku bakalan nyoba watty deh beneran. Tapi aku bikin akun baru sih kayaknya.

Dan yang ngefollow akun IG-ku, pasti tau aku ngadain poll, kalian lebih prefer Sehun sebagai anak orang kaya apa seorang Putra Mahkota. Sampai saat aku nulis author note ini, resultnya itu, Sehun sebagai anak orang kaya menjadi preferency kalian dibanding Sehun sebagai putra mahkota. Ya… walaupun aku sendiri lebih milih Sehun sebagai putra mahkota. Tapi, aku tetap ngikutin hasil vote kok.

Hm… Ya… Aku ga tau mau nulis apa lagi disini.

Intinya, terima kasih sudah ngasih support ke aku, mohon maaf aku selalu ngecewain kalian.

Selamat dinikmati Jangmi chapter ini, dan tunggu kelanjutannya Jangmi ya!

- FujoAoi –

.

.

.

Roses fall

But the thorns remain

. . .