Disclaimer: YunJae dkk bukan milik saya.
Warning: AU, BL, Don't Like Don't Read
OC: Jung Jiyool
.
.
Lotus Candles
.
.
Cinta tidak memiliki aturan khusus, namun seberapa mampu pelakunya membahagiakan orang yang dikasihinya?
.
.
Pantai vulkanik, kepulauan yang indah, dan situs sejarah penuh warna. Demikian deskripsi sederhana Jaejoong mengenai kampung halamannya.
Ia memang sedang membutuhkan refreshing, namun ia tidak dalam mood untuk bervakansi. Ia menuruti saran ummanya karena Jiyool terlihat begitu bersemangat, dan barangkali bisa ia gunakan sebagai balasan atas jasa Yuno. Berkat kehadiran Yuno, ia sudah merasa sangat terbantu, karena hanya dengan sekali lihat akan sulit untuk membedakan pria itu dengan Yunho, bahkan orangtuanya tak menyadarinya.
Meskipun ia yakin yang dilakukannya belum sepadan dengan budi pria itu, sebab ia hanya bisa menunjukkan tempat-tempat indah yang ia tahu. Sedangkan dirinya terkesan memanfaatkan kebaikan Yuno semata.
Sebelum kembali ke kediaman orang tuanya, ia mengajak Jiyool dan Yuno ke pulau Odongdo yang merupakan pungkas dari kegiatan tamasya mereka di Yeosu. Pulau Odongdo terkenal akan pemandangannya yang indah, terutama bunga kamelia merahnya yang biasanya mekar secara penuh pada musim semi, dan bila masanya seluruh pulau seolah tertutupi olehnya.
Mereka berkeliling pulau dengan menaiki kereta tur, tak lupa sesekali mengabadikan keindahannya. Yuno mengelola toko bunga, sehingga Jaejoong kira pria itu akan menyukainya.
"Yuno sshi…."
"Ne?"
"Apa kau tahu bahasa bunga kamelia merah?" Secara mendadak Jaejoong merasa penasaran akan sejauh mana pengetahuan Yuno mengenai sesuatu yang digeluti dalam kesehariannya.
Yuno tahu, namun ia tampak canggung untuk mengutarakannya. Ragu-ragu ia membalas tatapan Jaejoong, memandang tepat pada sepasang doe eyes yang seolah membiusnya.
"In love…."
Tanpa sebab yang jelas, Jaejoong buru-buru mengalihkan atensinya. Pun ia tak tahu mengapa tiba-tiba dirinya merasa gugup mendapati Yuno yang menatapnya dalam-dalam, hingga tanpa sadar merangkul Jiyool dengan lebih erat. Untung saja mereka masih berada di atas kereta yang masih berjalan, sehingga ia yakin tak akan dipandang aneh oleh Yuno lantaran secara mendadak membuang pandangan ke sekitar.
"Kalau … bunga matahari?"
Yuno terkesiap. Mungkinkah Jaejoong sudah tahu atas apa yang dilakukannya pagi itu?
"Ano—dalam mitologi Yunani, bunga matahari berasal dari wujud seorang nimfa bernama Clytie yang jatuh cinta terhadap Helios sang dewa matahari. Kesetiaannya tak tergoyahkan, Clytie rela memandangi Helios mulai pagi hingga malam menjelang, meski ia tak pernah diindahkan, pun cintanya tak sedikitpun berbalas."
Yuno tak mendengar Jaejoong menyahut penjelasan panjangnya. Barangkali ia terlalu banyak bicara, sampai-sampai Jaejoong mungkin tak begitu menangkap uraiannya.
"Ah, sederhananya—aku selalu memandangmu."
Lagi-lagi Jaejoong dibuat salah tingkah oleh Yuno. Entahlah, agaknya ia terlalu percaya diri, hingga ia merasa kalau setiap bahasa bunga tadi memang ditujukan kepadanya. Ditambah paras Yuno yang serupa dengan Yunho, membuatnya terbayang bahwa suaminya lah yang kini bersamanya.
"Joongie."
"Eh?"
"Turnya sudah berakhir." Dengan dagunya, Yuno menunjuk wisatawan lain yang mulai menuruni kereta yang juga mereka tumpangi.
Jaejoong melakukan hal yang sama, namun ada yang masih mengganjal pikirannya, "Sebentar, tadi kau memanggilku apa?"
"Huh?" Alis Yuno terangkat, "Joongie?"
"Aish, menggelikan." Jaejoong bergidik, "Berhenti memanggilku begitu."
Sebetulnya tak jarang pula Jaejoong memperingatkan ibunya agar tidak memberinya panggilan yang menurutnya terlampau manis untuk ukuran pria tersebut. Dan tanpa disangkanya, Yuno justru tergelak setelahnya.
"Wae? Apa yang lucu?" Bibir dan matanya membulat mewakili kebingungannya.
"Haha, nandemonai."
"Oi—oi!" Jaejoong tidak puas dengan jawaban Yuno, apalagi pria itu berlagak tak ada yang salah, dan dengan santainya menggandeng Jiyool mendahuluinya.
Yuno hanya tersenyum mendapati Jaejoong kembali menyejajarkan langkah dengannya, meskipun ia masih dihadiahi pandangan menyipit penuh selidik. Ada kesenangan tersendiri ketika ia bisa menggoda pria manis itu. Dan yang tak kalah penting baginya saat ini adalah memenuhi janjinya kepada Jiyool.
"Yay~ es klim~"
Ia bahkan turut senang mendengar seruan riang Jiyool setelah ia menyinggung apa yang pernah disanggupinya. Rambut sebahu dan poni rata bocah itu yang turut bergoyang seiring lompatannya membuat rasa gemasnya membuncah. Dan tubuhnya seolah bereaksi tanpa kendali dari dirinya manakala dadanya berdebar menyenangkan ketika Jiyool menggandeng Jaejoong di sisi yang lain, membuatnya merasa menjadi bagian dari keluarga kecil nan bahagia.
"Tapi jangan kebanyakan, baby…."
"Nee, Papa~"
Apa mungkin ia bisa memiliki kebahagiaannya sendiri suatu hari ini nanti? Dan andaikan ia yang lebih dulu hadir dalam kehidupan Jaejoong, mungkinkah ia yang akan mendapatkan hati pria itu?
.
.
.
Kecanduan bagaikan benang ruwet yang teramat sulit untuk diuraikan. Demikian pula dengan Yunho, yang merasa terus mendambakan heroin di kala ia begitu membutuhkan pelampiasan atas emosi negatifnya. Segalanya bermula sejak ia dipaksa untuk meninggalkan cinta dan kebahagiaannya, ditambah segenap tuntutan serta beban berat senggulung batu yang ditumpukan di pundaknya.
Sebagai zat depresan, heroin menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional pada tubuhnya. Yunho membutuhkannya manakala ia ingin merasa tenang tanpa bayang-bayang masa depan yang begitu mencekam. Terkadang itu pun bisa membantunya untuk tidur di kala insomnia, hingga pernah membuatnya tak sadarkan diri, dan sebetulnya ia paham bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan koma bahkan kematian.
Ia pun sadar langkah yang diambilnya sungguh keliru, namun ia tak berdaya untuk menghentikannya. Apalagi pikiran bawah sadarnya seolah mendorongnya untuk terus mengkonsumsi zat terlarang itu.
Tak salah bila bubuk kristal putih itu disebut-sebut sebagai jenis narkotik yang amat kuat sifat mencandukannya, dan sejak pertama memakainya Yunho sudah dapat dipastikan menjadi ketergantungan. Selain itu, serbuk yang dihasilkan dari morfin tersebut memberikan efek yang sangat cepat, baik secara fisik maupun mental, sehingga Yunho kerap kali mengalami fase sakit yang berkesinambungan ketika putus menggunakannya.
"Kau hanya harus memiliki keinginan kuat untuk berubah."
Park Yoochun datang tepat waktu. Ia berhasil menggagalkan Yunho yang hendak menghirup candunya. Dan sebagai akibatnya, Yunho meringkuk di tempat tidurnya karena kembali merasakan sakit itu; saat dimana tulang dan sendi-sendinya terasa ngilu tak tertahankan. Badannya berkeringat tidak wajar bak orang kepanasan, namun kenyataannya ia menggigil seperti kedinginan, dengan mata dan hidung yang berair.
Sebagai seorang psikolog, Yoochun tak kurang-kurang menceramahi Yunho agar berhenti menggunakannya. Dan setiap kali Yunho dipindahtugaskan keluar negeri, ia hanya bisa mempercayakan kawannya itu pada sang sekretaris—kakak perempuannya, Park Soojin, yang merupakan calon istri pilihan nenek Jung. Sejatinya ia tak ingin Soojin dicap sebagai wanita penghancur rumah tangga orang, namun ia tahu kakaknya itu tak pernah berniat buruk. Bahkan Soojin yang acap kali memusnahkan barang haram yang disimpan Yunho.
"Yakinlah bahwa kau bisa sembuh, dan kau akan kembali mendapatkan kendali penuh atas tubuhmu. Jangan biarkan bubuk itu semakin memberikan dampak buruk pada jiwa dan ragamu," imbuh Park Jiyoung, seorang praktisi hipnoterapi, yang juga merupakan teman dekat Yoochun.
Mereka harus tega melihat Yunho melewati masa sakaunya tanpa obat. Yunho lebih membutuhkan pendampingan dan motivasi untuk melalui salah satu proses detoksifikasi alamiah pada tubuhnya.
"Sudah, Kahi … sepertinya cukup untuk hari ini," tahan Yoochun ketika Jiyoung hendak memberikan motivasi tambahan. Sebenarnya Jiyoung lebih pantas menjadi kakaknya, bahkan usianya lebih dari Soojin, namun Yoochun tak pernah menganggapnya demikian.
"Tetua Jung bisa mati berdiri kalau melihat keadaan cucu semata wayangnya yang seperti ini," desis Yoochun gusar. Ia lantas melayangkan pandangan ke arah Soojin yang sejak beberapa saat lalu terlihat sedang berbincang via ponsel.
Yunho tampak lebih tenang setelah kesakitan yang dilaluinya, dan ia masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya meskipun ia terlihat seperti sedang tidur. Menangkap apa yang dikatakan Yoochun, ia lebih tak ingin bila Jaejoong yang mendapatinya dalam keadaan demikian.
"Nenek Yunho?" tanya Yoochun begitu Soojin selesai menelepon. Ia tahu kakaknya tak selalu tampak tegang bila menerima telepon, kecuali jika itu berhubungan dengan wanita tua itu.
"Begitulah, beliau menanyakan keadaan calon penerus keluarga Jung—dan sejauh yang ku ingat beliau tak pernah menyebutnya buyut," tuturnya panjang seraya menduduki tepi ranjang Yunho.
Kening Yoochun mengernyit, "Memangnya beruang ini benar-benar menghamilimu, Nun?"
"Menurutmu?" Soojin selalu memberikan jawaban ambigu disertai senyum misterius, tak sedikitpun mengurangi rasa penasaran Yoochun.
"Kalaupun kau benar hamil, kenapa aku tak melihat tanda-tandanya? Seingatku kalian tiga bulan di Las Vegas. "
Raut muka Soojin berubah masam, "Kau pikir aku mendampinginya ke sana untuk berbulan madu?"
"Tapi bukankah itu salah satu tujuan nenek Yunho?"
"Aish, aku tak ingin membahasnya," gumam Soojin sambil membetulkan selimut Yunho.
Yoochun mendengus, "Ya sudah, aku akan kembali ke klinik." Ia pun mengikuti langkah Jiyoung yang mulai meninggalkan kamar Yunho. "Dan kau, kapan pulang ke rumah?"
Soojin paham maksud Yoochun. Adiknya itu hanya tak ingin dirinya dicap buruk, terlebih oleh pasangan Yunho, mengingat ia terlalu patuh dengan menuruti setiap arahan nenek Jung.
"Kalau sudah tak ada mata-mata di luar sana," jawabnya asal.
"Ck, terserahmu sajalah."
.
.
.
Yuno berharap bisa lebih lama bersama Jaejoong dan Jiyool. Namun hanya sehari bermalam di kediaman keluarga Kim, kemudian pulang pada pagi harinya seusai sarapan. Hingga siang ia masih bersama mereka di kereta, dan mulai sore harinya ia kembali pada rutinitasnya di toko bunga. Untuk saat ini ia hanya duduk santai di kursi kasir, mengingat ia hanya menunggu jam tutup, pun belum ada pekerjaan yang mesti ia lakukan.
Dalam kesendiriannya itu, ia kembali teringat akan kenangan manisnya tentang Jaejoong. Di bawah remang malam, tidur di ruangan yang sama dengan Jaejoong, dan ia sudah cukup senang meski hanya bisa memandanginya yang sudah terlelap dari sofa di tepi kamar. Awalnya Jaejoong mempersilahkan dirinya untuk menempati ranjang itu, barangkali karena dirinya adalah tamu jadi tak seharusnya ia tidur di sofa. Namun ia bersikeras menolak, dan sempat menimbulkan keributan kecil berujung tawa karena awalnya sama-sama tak mau mengalah. Ia pun tanpa sadar mengulum senyum bila mengingatnya.
"Hyung, ku rasa ini bukan untuk kita."
Lamunan Yuno buyar begitu mendengar suara Changmin. Dilihatnya adiknya itu menuruni tangga tanpa celemek berlogo toko lagi, dan tampak rapi seperti akan bepergian.
"Hm? Apa itu?" Yunho menerima sebuah buku usang yang diangsurkan Changmin kepadanya. "Dan kau mau ke mana?"
"Seseorang mengundangku makan malam."
"Kekasihmu?" Yuno menyeringai, "Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Tahu-tahu kau sudah akan melamarnya."
Changmin hanya memutar bola matanya menghadapi kakaknya yang sok tahu. Tentu ia mengerti mengapa kakaknya bisa menyimpulkan demikian. Namun bukan berarti ia hendak melamar seorang gadis dengan musik dan makan malam romantis, hanya karena sekarang ia mencangklong sarung gitar di bahunya.
"Aku mendapat kesempatan untuk bernyanyi di kafenya."
"Jadi, kekasihmu adalah seorang bos kafe?" Yuno tak menyembunyikan ekspresi ketakjubannya.
"Tch, kau pikir aku akan berhasrat kepada pria tua dan gendut?"
Tawa Yuno spontan pecah begitu mencerna perkataan Changmin. Tetapi melihat Changmin sudah bersiap pergi, membuatnya kembali berminat pada buku di tangannya. Changmin tahu ke mana ia terfokus, sehingga mengutarakan penjelasannya yang tertunda,
"Terlihat seperti diary, tapi isinya lebih mirip surat yang tak pernah dikirim. Tadi malam aku menemukannya waktu melihat-lihat lagi barang-barang Okaan."
Yuno rasa Changmin sedang merindukan ibu mereka sehingga melakukannya.
"Aku baru tahu Okaan pernah menulisnya—juga tentang fakta lain yang … mengejutkan…."
"Eoh?"
Yuno cukup tercengang mendapati Changmin yang tampak serius menanggapi suatu hal, padahal biasanya selalu bersikap masa bodoh. Membuatnya semakin penasaran akan isi dari buku tebal bersampul coklat itu.
Ia kemudian meletakkan buku itu di atas meja dan mulai membuka lembar pertamanya. Ia menatap bingung pada sebuah foto yang tampak seperti lorong gelap, dengan dua kantong di tengahnya. Ia ingin bertanya pada Changmin mengenai apa yang dilihatnya, namun adiknya itu sudah berada di antara para pejalan kaki yang berbondong menyeberang ke sisi lain jalan. Jadi ia memutuskan untuk membuka lembar berikutnya.
Our beloved twins….
Sebaris frasa yang sanggup membuat mata Yuno terbeliak, apalagi kini ada foto lain yang terlihat lebih jelas dari foto sebelumnya. Sesuatu di dalam kantong-kantong itu sudah menyerupai makhluk mungil—sepasang bayi. Namun yang jelas, calon anak kembar pada foto itu bukan dirinya dan Changmin, karena ia dan adiknya jelas lahir di tahun yang berbeda.
Dengan hati-hati ia membuka lembar lainnya, sedikit tak siap untuk menemukan kejutan berikutnya, serta bertanya-tanya apakah buku itu memang betul-betul milik mendiang ibunya. Ia takut untuk memercayainya, sedangkan sisi hatinya yang lain memaksa dirinya untuk meyakininya karena ia tak mungkin salah mengenali tulisan tangan ibunya.
.
Aku begitu ingin tahu kata apa yang pertama kau ucapkan.
Di sini kakakmu memanggil eomma untuk pertama kalinya.
Tidakkah kau juga, anakku?
.
Hari ini Yuno meniti langkah pertamanya dengan hati-hati.
Bagaimana denganmu, putraku?
Apa kau justru mendahului kakakmu?
Kemarin?
Atau hari sebelumnya lagi?
Ibu sangat merindukanmu….
.
Yuno tak mengerti, namun air matanya jatuh begitu saja. Ada namanya di antara tinta yang melebur. Ia seolah melihat bagaimana ibunya menuliskannya di sela tangisannya. Ia tak ingin menerka-nerka, namun ia sudah mendapat jawabannya. Ia merasa tak sanggup untuk membaca seluruh isinya, namun ada halaman khusus yang tak mampu ia lewatkan.
.
Rasanya baru kemarin ayah kalian bersorak penuh haru begitu tahu kalian hadir di perut ibu.
Tetapi waktu terlewat tanpa aba-aba, semakin hari ibu semakin dapat merasakan betapa nyatanya kehadiran kalian.
Semakin hari pula ayah kalian semakin memanjakan ibu, memberikan apapun yang ibu inginkan, dan ayah mengatakan semua itu demi kalian.
Ayah kalian adalah yang terbaik, pria tangguh yang patut kalian banggakan.
Namun takdir tak mengizinkan kita lebih lama bersama, tak memberikan kesempatan bagi dirinya untuk menyampaikan teladan kepada kalian.
Ayah berpulang mendahului kita.
Hari berganti, mungkin kalian kerap mendapati suara sumbang yang semakin tidak sedap untuk didengar.
Tenang, anak-anakku … beliau bukan orang jahat, beliau adalah nenek kalian yang begitu terpukul sepeninggal ayah.
Tutup telinga kalian, cukup ibu yang mendengarkan.
Hingga tiba saatnya kalian lahir menyapa dunia, jagoan-jagoan ibu dan ayah….
… Yuno dan Yunho….
Dua wujud tempat ibu mencurahkan kasih sayang seutuhnya, tak pernah terhenti oleh waktu, tak pernah terhalang oleh keadaan.
Namun sekali lagi nasib memisahkan kita.
Nenek begitu menyayangi Yunho, hingga nenek mengambil Yunho dari ibu dan Yuno.
Setelah kepergian ayah, nenek selalu beranggapan bahwa Yunho satu-satunya harapannya.
Yunho, Jung Yunho….
Anakku yang bahkan tak sempat ku susui….
Maafkan ibu….
Apa kau membenci ibu karena tak pernah menemuimu?
Apa kau akan cemburu pada saudaramu?
Andai bisa, pasti ibu akan membawamu serta.
Meninggalkanmu bagaikan kehilangan separuh jiwa….
.
"Jung … Yunho…?"
.
.
.
"Kau pikir untuk siapa seluruh kekayaan keluarga Jung ini nantinya, kalau bukan untukmu dan anak cucumu? Aku sudah renta, aku tak bisa mati dengan tenang selama keluarga Jung tak memiliki penerus. Melihatmu lebih memilih lelaki itu membuatku murka. Dan aku tidak akan membiarkan keluarga Jung terhenti pada generasimu."
Kata-kata neneknya di hari sebelumnya seperti bergema di telinga Yunho. Ia tahu neneknya teramat menyayanginya, hanya ingin memberikan yang terbaik kepadanya, namun terkadang terasa begitu salah dan menyakitkan. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Sementara ia tak mengerti apa yang terjadi pada ibunya, pun tak ada satu pun kenangan tentang wanita yang telah melahirkannya itu di rumahnya, bahkan jika itu adalah foto bersama ayahnya.
Selama ini neneknya membesarkannya seorang diri, ditambah mengurusi bisnis keluarga yang begitu besar, memegang kendali ribuan karyawan, namun tanpa pendamping lagi. Karena itu ia tak pernah benar-benar mampu membenci neneknya.
Helaan napasnya bersamaan dengan matanya yang tertutup. Ia ingin kembali tidur. Namun ia tersentak merasakan sepasang lengan yang memeluknya dari belakang. Kantuknya lenyap seketika membaui aroma vanilla yang teramat dirindukannya.
"Kau lebih kurus sekarang. Dia tak mengurusmu dengan benar."
Bisikan itu terdengar seperti mantra-mantra yang membuainya. Ia sempat terpikir bahwa dirinya mengalami halusinasi, namun telapak tangan yang diraihnya begitu hangat dan nyata. Perlahan ia membalikkan tubuhnya hingga berbaring miring saling berhadapan, dan senyum yang terlampau manis menyambut pandangannya.
"Mana Jiyool?" Yunho bertanya kikuk karena ia bingung untuk memulai.
"Malam ini milik kita berdua." Jaejoong memberikan sentuhan awal pada bahu Yunho dan meremasnya lembut. Di antara keremangan kamarnya, ia masih dapat menangkap ketegangan sesaat pada roman muka sang suami, namun ia tak menghentikan gerak telapak tangannya.
Jika Yunho memang mulai jenuh dengannya, ia akan kembali membangkitkan kehangatan hubungannya. Dan andaikata hati Yunho sudah terbagi dengan yang lain, ia akan kembali membuat pria itu hanya mencintainya. Untuk saat ini ia ingin mengabaikan apapun selain dirinya dan Yunho. Dan kenyataannya Yunho pun tak menolak kedatangannya.
"Kau ingat pertemuan pertama kita?"
"Saat kau memenangkan kompetisi desain museum kota."
Jaejoong terkekeh pelan mendengar jawaban Yunho. Ia meraih telapak tangan Yunho dimana cincin pernikahan mereka tersemat, kemudian menggenggamnya dengan posesif.
"Aku hanya runner up waktu itu."
"Bagiku kau pemenangnya, beberapa juri kurang objektif."
"Benarkah?" Jaejoong lebih merapat pada Yunho dan menaruh perhatian penuh pada apa yang hendak dikatakan suaminya itu.
"Aku mengenal secara pribadi beberapa dari mereka, karena di antaranya bekerja kepada Jung Property. Kebanyakan akan memenangkan seseorang yang berpengaruh. Dan aku masih cukup bersabar hanya dengan memutasi mereka."
"Kau tak pernah menceritakan ini sebelumnya." Mulut Jaejoong terbuka.
Yunho menunjukkan senyum tipis, "Aku bahkan masih ingat inti dari pidato kemenanganmu saat itu—bahwa arsitektur bukan soal menang atau kalah, tapi sesuatu yang kita bangun untuk kehormatan diri sendiri."
Keduanya lantas terdiam, saling memandang lekat-lekat, menyelami keindahan manik mata masing-masing. Sebelah tangan Jaejoong tergerak untuk memberikan usapan lembut pada pelipis Yunho yang berplester. Betapa mereka amat merindukan momen seperti ini. Begitu banyak hal yang ingin mereka ceritakan, topik yang ingin mereka obrolkan, hingga tak tahu dari mana harus memulai, dan akhirnya hanya menjadi rangkaian kata yang tertelan kembali.
"Yun…."
"Hm?"
"Bisakah kau hanya melihatku?"
Tak terdengar sahutan dari Yunho. Berikutnya yang Jaejoong rasakan adalah sentuhan memabukkan di bibirnya. Serta-merta dadanya berdebar-debar seperti saat pertama melakukannya.
.
.
Ada kisah di balik perjalanan tiap manusia. Ada alasan mengapa mereka menjadi seperti dirinya sekarang. Pikirkanlah sebelum menghakimi seseorang.
.
.
TBC
Terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan review di chapter sebelumnya; FlowAraa23, 5351, DahsyatNyaff, irna. lee. 96, minjaeboo, Vic89, Guest, angelhana9, nabratz, dea, jema agassi, alby, Ai Rin Lee, Jjorien, Dipa Woon, maxyunjae, cyaaz, nidayjshero, mei. azzahra1, vemilion, Guest, babychokyu
Terima kasih juga untuk yang sudah fav atau follow, juga untuk yang sudah memberi dukungan semangat untuk terus nulis, dan salam kenal juga bagi yang belum kenal.
Note: Sebenernya gak begitu rumit kan ya? Apalagi rencananya gak panjang kok. Dan alasan utama naruh ff ini di rated M karena mengandung drugs. Ambil positifnya saja ya teman-teman, kalau ada.
Thanks for reading #B
20140817
