Chapter 4
"ya, dia masih belum mau bicara banyak... sarapan? Sudah. Minum obat juga sudah," Ucap Kyubi . Kyubi pagi ini sudah mendapat telpon dari Kushina sebanyak 4 kali dalam 2 jam sejak subuh. Kushina tak henti-hentinya merecoki dengan pertanyaan yang sama. Kyubi sampai bosan dan memutuskan menjawab seadanya.
"Ya...mm...baik.." Gumannya tak jelas.
" Aku sudah izin pada produser Kishimoto cuti beberapa hari, dia akan mengerti,"
" Dokter baru ? baik akan kuberi tahukan dia"
Kyubi menutup ponselnya setelah Kushina memutuskan hubungan. Kapan Wanita berisik itu akan berhenti mengganggunya. Dia yakin 30 menit kemudian ponselnya akan berbunyi lagi.
Dia berdiri di lobi taman Rumah Sakit, atas saran dokter Naruto harus mencoba turun ke taman di lantai 4 rumah sakit untuk menghirup udara segar dan menggerakan otot-otot nya. Maklum Naruto menghabiskan hampir dua minggu berbaring di kamarnya.
Kyubi melambaikan tangan kepada Naruto, sekedar menanyakan keadaannya Naruto. Adiknya dengan di bantu seorang suster pribadi mencoba duduk di salah satu bangku taman. Di sekita mereka cukup banyak juga yang turun berjalan –jalan di taman, entah itu pasien anak-anak, orang dewasa maupun dokter.
Baru saja Naruto duduk merasakan bangku kayu yang dingin munculah seorang anak-anak berambut kuning jagung dengan mata bulat berwarna hijau menghampirinya. Setengah ngos-ngosan anak itu menatapnya penuh rasa penasaran.
" Kakak orang baru,ya? Nama kakak siapa? Umur kakak ? tidur di kamar nomor berapa?" Tiba-tiba si anak menghujani naruto dengan pertanyan lancar tanpa cela khas anak SD.
Naruto terdiam. Naruto tak tahu apa yang diucapkan anak ini, baginya, si anak hanya terlihat mengerakkan bibir tanpa suara. Si suster mengernyik salah tingkah, anak ini bisa membuat stress pasiennya.
" Hajimemashite,aku Oz Vessalius. Umurku 7 tahun. Aku sekolah di Anizomiah. Aku di kamar Anggrek !" Kata si anak lagi penuh percaya diri.
" Sekarang Kakak" Mata hijau besarnya menunggu jawaban..
Naruto mengangkat alis, tidak mengerti.
" Adik kecil, kak Naru sedang sakit. Kakak tidak bisa men—" Ujar si suster mencoba menjelaskan tapi terpotong oleh Kyubi yang muncul di belakang Oz
" Hei, anak kecil pulang sana! Jangan ganggu dia" Tegur Kyubi kasar.
" Kakak siapa? Kak Naru aja gak marah tuh!" Kata Oz membela diri.
"Nih, bocah ngeyel banget! Sana main ke tempat lain atau mau ku panggil om badut kesini ?" Ancam Kyubi. Biasanya ancaman om-badut bohongan ini manjur di kalangan bocah- bocah ingusan kaya nih anak satu.
" Ma-mana? Mana om badutnya? Gak ada tuh! Kakak bohong ya? Kata mamaku gak boleh bohong nanti hidungnya panjang kalau bohong,loh !" Oz langsung sewot,pura-pura sok berani padahal aslinya wajahnya sudah mengkerut ketakutan sambil memeluk lengan Naruto kuat-kuat.
Naruto menoleh bingung.
" He, anak kecebong, sampai kapan kamu mau gangguin adikku ?" Kyubi sudah hilang kesabarannya.
Dengan entengnya Kyubi mengangkat Oz kaya mengangkat anak kucing.
"Lepasin aku! Kuperintahkan kakak turunkan aku!" Seru Oz sambil melayangkan tinju ke segala arah, mencoba mengenai Kyubi sayangnya pukulan anak SD-nya tak berarti apa-apa bagi Kyubi.
"Coba saja perintah-perintah aku! Memang kau siapa, bocah tengik?" Gertak Kyubi gak kalah sengit. Oz manyun 5 senti.
" Namaku OZ! DASAR TEMPURA, AYAM BAKAR, UDON, DAGING , DAGIIING!" Teriak Oz samb
" Lah, ni bocah makin ngawur aja!"
Dari kejauhan, seorang gadis kecil yang sedang asik-asiknya ngemut tulang di bak pasir (ni orang atau anjing,sih?) merasa radarnya aktif karena mendengar kata 'daging'.
'daging?daging?!' Aura buas di sekitar si gadis kecil bangkit. Bak kucing garong kelaparan, dia langsung mengendus melacak dimana daging itu berada.
" Beep rasa barbeque, salmon sushi, teriyakii~!" Oz teriak-teriak gak jelas.
"Lucu sekali bocah! Kalau mau mesen makanan jangan disini,baka!" Kyubi tertawa meremehkan.
Tapi Kyubi baru saja tak menyadari senyum licik Oz, karena Kyubi sendiri tidak tahu bahwa Oz telah mengucapkan mantra pemanggil bantuan, tepatnya iblis kecil.
"DAGING! DAGING RENDANG! DAGING..."
"Berhentilah ngoceh gak jelas, otakmu koslet atau salah minum oba~"
GRAUKK!
"GHAAAA~" Raung Kyubi membahana kesegala penjuru bumi. Memecah kedamaian, angin ribut,gempa bumi, kekeringan, tsunami (lebay) membuat gempar serumah sakit.
Yes, dengan sukses si gadis kecil loncat dan menerkam langan Kyubi bak macan laper lagi mangsa kuda zebra gak punya dosa yang sering ada di NationGeoraphyChannel.
"Oh,Shit! Damn !F***K! Lepasin gue! Lepasin...!" Umpat Kyubi membabi buta, si Oz kecil langsung di lepas karena ia tak kuat menahan dua beban anak kecil.
" HAHAHAA...Rasain itu!" Ejek Oz penuh tawa kemenangan, meski dia gak suka di lempar ke tanah begitu saja tapi cukup puas dendamnya terbalas.
Sementara itu si gadis kecil masih asik glantungan ngemut tangan Kyubi, seberapa keras usaha Kyubi melepaskan anak itu tidak membuahkan hasil. Mulai dari ngayunin tangan secara brutal, sampai nyungkil ni anak pake linggis. Tetep gak ngaruh. Naas banget nasip Kyubi.
" Benda apa ini? kau cepat suruh dia berhenti!" Perintah Kyubi setengah ngeri ngeliat tangan sendiri, takut kena rabies langka, ganas, tingkat akut stadiun akhir, kronis.
"dia bukan 'benda', dia Alice ! Aku gak mau suruh dia berhenti sampai kakak minta maaf dulu!" Seru Oz sok.
OH! sepertinya Oz sudah pintar memeras orang dan memencundainnya sebagai orang yang terdesak. Dia belum tahu berhadapan dengan siapa rupanya. Kyubi siap menelan bulat-bulat Oz.
"Tuan! Tuan tidak apa-apa? mana yang sakit...mana?" Seru bocah laki-laki berambut hitam bergelombang dari kejauhan, berlari menghampiri Oz.
" Tenang saja, Gilbert. Alice sudah menolongku dari kakak jahat itu" Kata Oz Gilbert membantu Oz berdiri.
"SIAPA LAGI NIH!?" Tanya Kyubi frustasi di kelilingi bocah-bocah satu aliansi.
"Kau!" Seru Gilbert sambil menunjuk Kyubi penuh amarah,
" Berani-beraninya, ya, lukain tuanku. Penjahat!" Maki Gilbert lo, sekarang Kyubi yang di bilang penjahat sama anak-anak kurang asem ini. Kyubi bengong, mangap kaya ikan koi.
" Apa? YANG ADA KALIAN YANG NYAKITIN GUE. SAMBEL BANGET!" Kyubi membela diri. Alice masih gigih ngemut tangannya, baginya serasa ngemut daging beneran.
" Tak akan ku maafkan siapa pun yang menyakiti tuanku!" Seru Gilbert sambil mengopy kalimat salah satu tokoh film samurai kesukaannya. Karena gak mau kalah dari Alice, Gilbert ikut menyerang Kyubi. Dia mencengram kuat kaki kiri Kyubi. Meninjunya dan menendang sekuat-kuatnya.
"Aduh- sakit,woi! apaan sih?!"
" SERAANG!" Teriak Oz provokatif kayak lagi ikut tauran antar sekolah.
Kyubi yang malang dalam 2 menit sudah jadi karung tinju anak-anak. Ketiga iblis kecil ini tak henti hentinya memukul setiap senti tubuh Kyubi yang bisa di sentuh. Kyubi dalam perang sejauh ini ia kalah jumlah. Setiap berhasil menangkap satu, yang lain bakal bantuin rekannya lolos. Mukulin perutnya, dendang lututnya, apa saja pokoknya. Lawan mereka kaya lawan simpanse cacingan mabok kebanyakan ngisap lem. Alhasil sekarang Kyubi terguling-guling di rumput, bergulat bareng tiga bocah bersemangat juang tinggi. Kyubi telah salah meremehkan anak kecil ini. Mereka iblis.
Si suster dan Naruto cuma bengong ngeliatin nasib apes Kyubi.
"Suster! sus, tolong bantuin saya! Jauhin anak-anak ini- AKH! Rambut Keren gue! " Seru Kyubi.
"Aduh... Adik-adik jangan main seperti itu! Kasihan mas-nya !Sudah ya? sudah.." Lerai si suster di medan perang.
"MAIN? SUS SAYA TERANIYAYA! BUKAN MAEN!" Teriak Kyubi gak terima. Masih guling guling liar mencoba membebaskan diri.
"Sudah...sudah..." Si suster malah kaya Nunung OVJ. Gak tahu harus ngapain.
Sementara itu Naruto ikut berdiri khawatir melihat pertempuran di depannya. Tapi dia tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tak ada perkataan Kakaknya maupun ketiga anak itu yang masuk pendengarannya. Semua berkutat garang tanpa suara.
" Jangan...! berhenti kalian...hah..hh!" Naruto mencoba memanggil tapi ia langsung merasakan nyeri di tengkorak belakangnya. Naruto sedikit terhuyung. Diam sebentar mengelengkan kepala lalu berjalan berlahan medekat.
Kyubi dan anak-anak itu terus berbicara tanpa suara, setiap Naruto mencoba memaksakan diri mendengarkan, semakin sakit tengkoraknya.
Naruto merasakan dengungan di kedua kupingnya, melihat Semua berbicara bisu begitu membuat Naruto mual. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Penglihatannya mendadak kabur, perutnya serasa di tonjok tangan tak kasat mata.
"Hosh...hosh...hh"
Naruto terhuyung kebelakang, ambruk. Dia tak tahan lagi.
TAP
Ada yang menopang pundaknya.
"Kau tak apa-apa? " Tanya orang ini, ternyata dokter yang menangkapnya. Naruto tak mendengar. Si dokter berambut panjang blue deep membantunya jongkok. Seperti tahu apa yang harus dilakukan, dokter ini menepuk-nepuk pundak Naruto agar bisa mengeluarkan semua isi perutnya, mengatasi mual yang mencengramnya.
"OHOK..ohokk..hoee~k... " Naruto langsung memuntahkan air minumnya tadi pagi. Matanya merah berair menahan pening yang mencengram kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" Tanya sekali lagi dokter muda ini sambil menggunakan bahasa isyarat tangan.
"Aku baik-baik saja! apa yang kau lakukan...hh...HAH?!" Bentak Naruto sambil menepis kasar tangan si dokter. Dia benci dianggap seperti orang tuli yang tak mengerti apa-apa.
Si dokter menangkap tangan Naruto dan menatapnya tajam,
" Aku sudah tahu dari Kushina-san. Jangan berlagak begini !" Katanya dengan muka serius.
Naruto mematung.
"HUWAAA~" Mendadak Naruto mengerang ketakutan sambil menutup kupingnya kuat-kuat.
Kyubi terkejut mendengar teriakan Naruto dan langsung berlari mengecek Naruto, begitu juga si suster dan ketiga anak tadi. Semua langsung berlari menghampiri Naruto.
Kyubi mendapati Naruto telah terbaring di rumput meringkup ketakutan. Naruto terus berteriak gila sementara dokter di sebelahnya mencoba menyadarkannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Kyubi marah. Dia langsung berlari merebut Naruto dan memeluknya erat-erat. Menatap penuh emosi ke dokter dokter memandangnya datar.
" Syukurlah kau datang. Tolong bantu baringkan dia di meja taman sana" Kata lebih tepatnya sebuah perintah kepada Kyubi, tanpa memandangnya. Kyubi tidak sudi mengikuti perintah dokter menyebalkan ini tapi dia tidak punya pilihan lain. Bersama dengan suster dan dokter muda ini Kyubi membopong Naruto kemeja kayu taman yang cukup lebar.
" Jangan biarkan dia terlalu keras mengerakkan kepala dan memaksa indra pendengarannya. Dia akan mendapat efek yang cukup kuat jika keras kepala seperti tadi" Kata si dokter. Kedua tangannya mendekap kepala Naruto lalu menolehkan ke kanan-kiri berlahan dan hati-hati. Naruto tertidur setelah di bius si dokter.
Kyubi mendengus kesal, gak terima adiknya di perlakukan seakan dia anak keras kepala.
"DOKTER TAMPAN~!" Panggil ke tiga monster ceria di samping Kyubi, sempet buat Kyubi budek.
"Dokter, dokter! Kakak ini kenapa? sakit apa?" Tanya Oz sambil berjingrak-jingrak kaya kangguru.
" Kenapa kakak ini bobo dicini? dokter bawa permen gak?" Timpal Alice gak kalah heboh.
" A-aku mau pipis..." Seru Gilbert takut-takut, gak nyambung.
Kepala Kyubi terasa mau meledak mendengar suara cempreng mereka yang gak henti-hentinya berteriak-teriak.
"Kalian pergi main di sana dulu,ya. Dokter mau periksa kakak ini, dulu " Pinta si dokter sambil melempar senyum. Oz, Gilbert dan Alice ber 'yah...' kecewa lalu menurut. Mereka berlari menjauh dengan kaki kecil mereka. Kyubi tapjub dengan kemahilan si dokter songong ini berhasil mengusir 3 little demon barusan, dia harus berguru padanya suatu saat nanti buat bekal. Mau gak mau Kyubi harus kagum dengan profesi seorang dockter. Bayangin aja semua yang di katakan setiap dokter pasti di ikuti semua orang tanpa membantah, mejik bukan. Bahkan 3 iblis itu berhasil di usir tanpa perlawanan oleh si dokter. Mungkin cita-cita menjadi dokter kelak bisa di pertimbangankannya. Kyubi seyum-seyum sendiri.
" Dokter... erh...?"
" Nezumi. Itu namaku. Saya ahli bedah syaraf Naruto mulai sekarang." Jawab Nezumi sambil terseyum tipis.
" Baik, pak dokter Nezumi. Jadi kau yang di maksud Ibuku?"
"ya. Untuk adikmu ibumu ingin di tangani timku secara khusus."
" Selain tadi apa lagi yang harus kutahu?" Tanya kyubi gak munat. Pasti jawabannya banyak.
"Tidur harus cepat, Jangan sering melihat cahaya lampu, Tidak boleh di biarkan keluar sendiri, tidak boleh dibuat stress, kepala tidak boleh terkena tekanan keras seperti lantai, tembok, bantal keras dan jaga pola makannya" Jelas dokter Nezumi lancar seperti baca resep.
Kyubi menatap dokter Nezumi gak percaya. Naruto terdengar seperti anak kucing rapuh yang baru lahir.
"Lalu apa yang bisa dia lakukan ?" Muka Kyubi setengah memelas memohon keringanan.
"apa saja yang tidak beresiko." Jawab Dokter Nezumi enteng.
Sasuke berjalan secepat yang dia bisa, setengah berlari kecil malah di sepanjang lorong rumah sakit besar Konoha. Hatinya langsung melompat senang saat mendengar Naruto sudah sadar dan di pindahkan ke rawat inap umum biasa hari ini.
Entah kesurupan hantu apa, kakinya membawanya datang menjenguk Naruto. Kakaknya saja tidak pernah di tengoknya jika tidak di paksa ibunya dengan ancaman pemotongan uang jajan jika menolak. Perasaanya seperti was-was sekaligus deg-degkan bercampur membayangkan wajah Naruto terseyum padanya.
(thembacksong: MC Mong : Sick enough to die)
I found the way to let you leave
I never really had it coming
I can't believe the sight of you
I want you to stay away from my heart
Narr
Neohui jip apeuro gago isseo
Ppalli jeonhwa badeo
Naega apaseo jugeul geot gatgeodeun
Neo motbomyeon naega jinjja jugeul geot gatae
Jeonhwa jom badajwo 1bunman
Nae mal jom deureojwo bwa jamkkanman
Jugeul geot gataeseo nan sumdo mot swieo
Na jom salja jebal han beonman
Neoui jip apeseo ne siganjjae
Jjijeojineun nae mam neon moreun chae
Utgo inni haengbokhani
Modeun chueokgwa nal beorin chae…
Sasuke berlari sepanjang lorong bagaikan film korea dimana dia menjadi seorang kekasih yang ingin sekali melihat pacarnya.
Apeugo sumi makhineun chimmuk
Eoneusae nae nunmureul garyeobeorin bitmul
Meorieseo balkkeutkkaji soreumi kkichil deut
Nae piga sotguchineun gibun
Jungdok doen geotcheoreom
Harujongil ontong gotongseureon
Jebal jiokgateun yeogiseo nal kkeonaejwo
Ige kkumiramyeon eoseo nal kkaewojwo
Modeungeosi da geojitmarirago haejwo
Naege malhaejwo malhaejwo na sal su itge Oh
Nafasnya memburuh. Tangan kanannya memegang tas kertas milik Hinata yang dititipkan padanya.
I found the way to let you leave
I never really had it coming
I can't believe the sight of you
I want you to stay away from my heart
Sementara di waktu yang bersamaan Hinata juga baru tiba di rumah sakit, dia menghampiri meja resepsionis. Dia membawa serta sekeranjang parsel buah di tangan.
(Lala lala lalala Lalala la lalalala
Lala lala lalala Lalalala la lalalala)
Haneuri naege naerin beoringa
Anim geuri swipge nareul beorilkka
Eokjiro nugungareul saranghamyeo tto saragalkka Oh
Byeoldeul saireul nubigo nae mameul noraero chaeugo
Don't leave, let me freeze
Nal jom dowajwo Help me please
music off.
skip time
" Apa Hinata-hime sudah kembali?" Tanya Neji ke Tanaka, kepala pelayan tua yang masih tampak bugar milik Hyuga mension.
"Belum tuan. Nona belum pulang" Jawab Tanaka sambil menunduk hormat.
Neji meyipitkan mata curiga. Hinata seharusnya pulang lebih dulu dengan supir pribadi, tapi sejak tadi dia tidak melihat mobil Hinata. Apa dia terjebak macet. Tapi itu didak mungkin. Ini di jepang bukan jakarta yang macetnya gila-gilaan. Apa lagi ia juga sekolah di sekolah yang sama. Apa dia keluar sebentar. Atau jangan-jangan dia pergi kerumah sakit lagi. Menjenguk temannya itu. Neji menghela nafas pasrah.
Neji kawatir Hinata akan mendapat masalah besar jika Hiashi tahu bahwa ia berani menemui Naruto lagi.
Bunyi pintu di buka.
" Selamat datang tuan Hiashi. Bagaimana hari anda?" Sapa sopan Tanaka.
" Selamat sore Tanaka. Di kantor seperti biasa. Aku berharap kau bisa menghiburku dengan segelas anggur." Ucap Hiashi letih . Tanaka terseyum.
Neji menahan nafas melihat Hiashi tepat di depan pintu.
"Neji ? Kenapa berdiri di situ? " Tanya Hiashi yang baru sadar akan keberadaan Neji.
"Ah, Selamat Sore paman. Anda pulang lebih awal..." Neji membungkuk hormat dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
" Ada yang tidak beres? Kenapa kaku begitu?" Hiashi memandang curiga Neji. Neji langsung menghindar tatapan tajamnya.
" Kenapa Hinata belum pulang? Ku lihat mobilnya tidak ada "
Baik Neji maupun Tanaka tak menjawab.
" Jadi...dia pergi menemui anak itu lagi?"
Hiashi memandang penuh murka ke Neji dan Tanaka bergantian.
DEG
Hiashi sudah tahu.
Rambut Hinata melambai-lambai seirama gerak langkah Hinata.
" Kurasa inilah lantai yang benar" Guman Hinata pada diri sendiri untuk ke 3 ini dia benar-benar yakin. Betapa bodohnya dia sampai tersesat di rumah sakit sendirian. Suster itu memang menyuruhnya naik kelantai 4 dan melewati jembatan layang menuju gedung Rawat inap Umum Barat lalu naik ke lantai 10. Masalahnyaa rumah sakit konoha seperti perkomplekan gedung apartemen. Terdiri 5 gedung 20 lantai, 6 taman, 3 gedung praktek Rumah sakit,satu gedung perpustakaan dan satu gedung dokter umum. Harusnya mereka memberikan bonus peta.
Setelah membaca papan bertulis ' Bangsal rawat inap umum nomor 600- 700 ' Hinata sedikit terpompa semangatnya. Segera saja dia bergegas mencari kamar yang tepat. Dia tak sanggup menahan senyum di pipinya.
Larinya terhenti ketika dia menangkap sosok pemuda tak asing memotong menatapnya datar. Kedua tangannya di masukkan ke saku celana.
" Sudah ku bilang untuk menjauhinya,kan?" Kata Sasuke Dingin.
"Sa-sasuke ... kun!" Hinata terbata-bata. Pemuda ini selalu membuatnya ketakutan dan merasa melakukan kesalahan sama seperti pandangan ayahnya padanya.
" Jangan pura-pura tidak paham. Pulanglah atau kau akan menyusahkan Naruto Lagi" Perintah Sasuke kasar.
"Ta-tapi aku hanya ingin melihat keadaan Naruto-kun..."
" Kau ini ..." Desis Sasuke. Dia menyampar kasar tangan Hinata dan meyeretnya pergi.
Hinata meringis kesakitan di gandeng kasar Sasuke. Dia tidak mau pulang begitu saja, dia harus melawan!
"Tu...tunggu..." Seru Hinata, berusaha melepaskan cengkraman terus menyeretnya menuju lift.
" Tu-tunggu! Sasuke-kun aku tak mau !" Kata Hinata setengah berhenti. Mata onyx Sasuke beradu dengan mata lavender Hinata.
" Aku harus memberikannya ini dulu," Kata Hinata sambil menunjukan parsel buahnya. Seumur-umur dia belum pernah membentak Sasuke. Tapi dia mencoba tetap berdiri tegak, menatap tajam ke arah Sasuke. Dia harus meyakinkan Sasuke kalau dia sangat ingin bertemu Naruto.
Sasuke dengan kasar merebut keranjang parsel Hinata dan melemparnya kuat-kuat ke seberang tempat sampah.
Brakk
Keranjang buah itu menghantam tong sampah. Semua buahnya tumpah dan menggelinding di lantai. Begitu juga tempat sampahnya, terbanting dengan bunyi yang cukup keras. Hinata shock di tempat.
" APA KAU BELUM SADAR JUGA? " Teriak Sasuke emosi, mengagetkan Hinata.
" Naruto begitu karna KAU ! Seharusnya kau jauhkan dia dari masalah jika kau perduli!" Sembur Sasuke, matanya berkilat penuh amarah.
Hinata ketakutan, tubuhnya seperti macet tak mau menuruti perintahnya untuk lari. Kakinya bergetar lemas.
" Sekarang kau datang membawa masalah lagi. Hiashi akan tahu kau disini dan dia tidak akan senang mendengarnya !" Seru Sasuke penuh penekanan.
Hinata diam seribu bahasa.
"Ayo! ku antar kau pulang!" Tanpa persetujuan dari Hinata, Sasuke meyeret Hinata masuk lift.
" Maafkan aku..." Ucap Hinata pelan. Mereka dalam perjalan pulang menggunakan mobil Hinata. Hinata dan Sasuke duduk bersama di belakang. Ini rencana Sasuke untuk membuat kesan ke Hiashi seakan-akan Hinata baru saja pergi bersamanya untuk menghilangkan kecurigaan Hiashi.
"..." Sasuke memilih diam. Perasaanya sedang kacau. Peristiwa tadi di kamar Naruto begitu memukulnya. Semua masih segar di ingattannya.
FLASHBACK
TING~
Bunyi denting lift menunjukan Sasuke sudah sampai di lantai 10. Ketika dia keluar dari pintu lift Sasuke tak sengaja melihat dua orang pria, yang satu seperti wanita berambut panjang dan yang satu seperti anggota boyband berambut oranye menyala. Kedua terlihat cekcok. Sasuke tadinya tidak perduli dan melewati mereka begitu saja tapi langkahnya terhenti ketika mendengar si rambut oranye menyebut cukup keras Nama Naruto.
" Dia tidak mungkin berada disini terus. Semua orang bisa gila kelamaan di rumah sakit begitu juga Naruto!" Seru Kyubi mencak-mencak.
" Berarti kau menganggapku gila. Kau lihat sendiri tadi, dia hampir membahayakan dirinya sendiri" Kata Nezumi santai.
"Apa?"
" Gangguan otak belakang Naruto bisa berimpas ke indra yang lain. Pertama dia tuli kalau di paksa dia bisa buta dan mati rasa lalu.."
'ADIK SAYA TIDAK TULI,NEZUMI BRENGSEK!" Teriak Kyubi penuh amarah.
Nezumi menatapnya santai dambil mengakat alis.
" Tapi dia memang. Ini kenyataan"
"KAU...!" Kyubi menarik kasar kerah baju Nezumi. Tangannya mengepal siap meninju wajah tampan Nezumi. Nezumi diam menunggu tanpa merubah ekspresinya. Kyubi seperti ragu dan tidak jadi menonjok Nezumi. Dilepas Nezumi dan membiarkan Nezumi bernafas.
Sasuke sebisa mungkin melambatkan jalannya tapi tidak menimbulkan kecurigaan. Dia ingin mendengar lebih banyak lagi. Ada banyak yang ingin di ketahuinya.
" Apa Naruto masih bisa di kembalikan seperti semula?" Tanya Kyubi nadanya sedikit melunak.
" Nilainya 50-50 %. Beruntungnya kita hidup di dunia modern segala yang tak mungkin jadi mungkin. Ruginya,sulit memperbaiki syaraf panca indra karena tidak seperti menambal Kabel coslet"
"Jadi...?"
"Oprasi akan tetap di lakukan meski presentasi sukses hanya 7%. Hasilnya ada di tangan Tuhan. Jadi kalian harus menerima kenyataan terburuk sekalipun "
Nezumi dan Kyubi terdiam cukup lama.
"Aku belum lama melihat wajahnya. sejak 9 tahun... berpisah.." Kata Kyubi datar, wajahnya menunduk sedih.
Klik
Sasuke membuka pelan pintu kamar Naruto, takut membangunkan si empu.
"Sasuke? " Tegur Naruto, serentak mengagetkan sedang duduk di tempat tidur, di pangkuannya Ipad New tergeletak menyala.
"Aku senang kau datang menjengukku. Kupikir tak ada yang tahu aku disini..." Kata Naruto sambil tersenyum manis.
Sasuke meng 'hn...' pelan seperti biasa. Di perhatikan Naruto sama seperti biasa hanya saja tubuhnya sedikit menyusut.
"apa benar yang di ucapkan orang tadi..?" Guman Sasuke.
"Hah? Apa? " Tanya Naruto tak mengerti.
" Bukan apa-apa." Buru-buru Sasuke meralat ucapannya.
"Ini..!" Sasuke menyodorkan tas kertas ke wajah Naruto. Naruto mengambinya dengan wajah heran.
"Itu seragam yang dititipkan Hinata padaku"
" Ini baju seragamku, benar! Terima kasihnya,teme!" Seru Naruto berseri-seri setelah mengecek isinya. Naruto melempar senyum hangatnya otomatis Sasuke membuang muka. Menghiraukan debaran hati yang tidak biasa. Dia harus tahan. Sasuke tidak mau menyerang Naruto begitu saja tanpa persetuan Naruto dulu (meski dia sudah pernah melakukannya).
" Sekolah? kapan?" Tanya Sasuke seirit-iritnya.
"Mey." jawab Naruto singkat.
"Mei? itukan delapan bulan lagi" seru sasuke gak percaya.
"Meybe yes meybe no!" jawab Naruto spontan.
Sasuke gondok . Aktifin ameterasu. Lalu segedung di bakar habis sama Sasuke. Trus bunuh diri minum baygon agar bisa menyusul Naruto di surga.
Oke, yang di atas gak beneran, aslinya Naruto jawab gini :
" Hari senin aku akan sekolah lagi. kau kan ingin menantangku,ingat ?" Jawab Naruto riang.
Sasuke terdiam.
"Aku tunggu kalau begitu." Sasuke tanpa berlama-lama lagi pergi meninggalkan kamar sambil melepar senyum mengejek.
"memang orang bodoh sepertimu bisa menang dari ku?"
Naruto juga membalas tersenyum..
FLASHBACK OFF
"Sasuke-kun? " Panggil Hinata, Sasuke tersadar dari lamunannya.
" hn..?"
" Kita sudah sampai dirumah mu." Kataa Hinata langsung turun.
Sebelum Hinata menutup pintu, Sasuke menahannya. Hinata menatapnya bingung.
"Bilang pada yang lain, Naruto akan masuk hari senin depan" Kata Sasuke lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Hinata yang sedang berusaha mencerna apa yang baru saja di dengar.
Malam hari di kediaman Hyuga.
Hiashi berdiri didepan jendela besar memandangi bulan perak bersinar menerangi ruang kerjanya yang gelap. Hanya cahaya bulan yang di biarkan masuk menerangi setengah ruangan itu.
" Boss memanggil saya ?" Dari sisi gelap ruangan muncul pria tinggi berpenampilan serba Merah.
" Aku punya tugas untukmu, Grill." Kata Hiashi tanpa memandang tamunya ini.
" Tentu saja saya akan kerjakan...apapun itu. Asal..." Kata Grill sambil mengulung-gulung poninya"
" Apa yang kau inginkan?" Tanya Hiashi, masih acuh tak acuh.
" Khukhukhu... tentu saja izin untuk membuka tempat praktek rumah sakitku " Saru Grill penuh semangat, seakan-akan seharusnya bosnya harus sudah tahu.
Hiashi mendengus, Grill memang terkenal sadis dan seorang psikopat berdarah dingin. Sekarang saja dia sedang menggembor-gemborkan keinginannya untuk membuka rumah sakit aborsi dan penjualan organ tubuh manusia yang semuanya berasal dari korbannya sendiri.
" Bagaimana boss?" Tanya Grill beserta gaya manjanya.
"Ya. Setelah kau membunuh anak ini," Kata Hiashi sambil menunjukan foto seseorang ke wajah merebut foto itu dan memandangnya penuh nafsu.
" Dia manis sekali. Rasanya aku ingin segera mencabit-cabit perutnya dan mengkoyak-koyak isinya lalu..." Tubuhnya bergetar ingin segera menumpahkan perasaannya yang siap meledak seperti petasan.
" . Simpan rencanamu nanti. Aku mau secepatnya kau bereskan !" Seru Hiashi tidak sabaran. Grill terseyum nenunjukan gigi sepertii gergaji itu
" Tenang saja,boss. Semua akan beres secepat biasanya. Karena aku Shinigami terbaik, DEATH!" kata Grill sambil bergaya seperti biasa kemudian menghilang datanpa jejak.
Seyum tipis terpampang di wajah Hiashi.
" Aku tak bisa mentoleransi orang yang ingin mengancam bisnisku, Minato. Semoga kau bisa belajar banyak dan mundur secepatnya" Kata pria paruh baya ini serius,tangannya meremas kuat foto dalam genggamnya.
Tbc
