BANGTAN PLAYBOOK
Cast : All members of BTS
Rate : T
Genre : Friendship-Romance-Family-Drama-GadoGado!
This story(es) is(are) inspired by a sit-com F.R.I.E.N.D.S! DLDR!
BANGTAN PLAYBOOK
Itu cerita lama, tentang Kim Namjoon yang menyukai teman adiknya selama tiga tahun saat SMA. Saking lamanya, cerita itu seolah menjadi tradisi diantara Yoongi, Taehyung, Jimin, lalu Hoseok untuk menceritakannya sekaligus menjadi ajang untuk mengejek Namjoon. Mengejek kebodohan Namjoon yang memiliki otak jenius namun tak berani melakukan apapun atas perasaannya pada Kim Seokjin.
Bagi Namjoon, saat itu Ia tak melakukan apapun atas perasaannya karena ingin fokus belajar. Tapi bohong, alasan sebenarnya adalah karena Kim Seokjin yang menjadi primadona di sekolah mereka, yang ketika berjalan selalu diekori siswa tampan dan populer sedangkan Kim Namjoon hanyalah siswa biasa yang tidak populer-tidak tampan-dan tidak kaya.
Jadi jika dibandingkan dengan saingannya, yang jumlahnya tak terhitung, Namjoon tidak ada bandingannya.
Sayangnya sifat si-super-Namjoon sangat berbeda dengan adiknya. Jika Namjoon memiliki otak jenius, adiknya tidak terlalu. Taehyung memang pintar, tapi rata-rata. Jika Namjoon memilih menyukai diam-diam selama tiga tahun karena Ia tahu bahwa Ia tak memiliki kemungkinan sama sekali, Taehyung tidak.
Saat itu Taehyung baru kembali ke Korea setelah menyelesaikan kuliahnya, dan bergabung kembali dengan Jimin yang ternyata tinggal bersama Jungkook. Jungkook sama seperti Seokjin saat sekolah. Ia tampan-sekaligus-cantik, dipuja banyak orang, dan terkenal suka berganti kekasih. Uh, intinya Ia primadona. Tapi tuan Kim tak mengenal kata gentar jika berurusan dengan cinta, Ia tetap maju mendekat pada Jungkook, tanpa tahu malu jika Ia tak sekaya saingannya, tanpa peduli jika wajahnya yang biasa saja sangat mudah dilupakan jiak dibanding dengan beberapa artis yang mendekati Jungkook.
Selama tiga bulan Taehyung bekerja keras mendapatkan hati Jungkook, selama enam tahun Jungkook betah dengan Taehyung. Urusan pacaran, sama seperti urusan strategi bisnisnya, Taehyung bisa membaca situasi dan membuat peramalan tentang kemungkinan Ia menang dan kalah. Berbeda jauh dari Namjoon yang lebih suka kepastian dan berhati-hati, Taehyung suka tantangan dan berani mengambil langkah jika Ia terlanjur menginginkan satu hal.
Dan hal yang Ia inginkan sejak lama memanglah Jungkook.
"Kook-ie, aku sudah membuat sarapan, kau bisa bangun!"
Itu teriakan, di pagi hari, di apartemen mereka. Ya, berteriak. Entah apa yang membuat pasangan ini suka sekali berteriak dan membentak, namun buktinya keduanya sama-sama tak masalah dan tetap bertahan.
Lalu tubuh cukup tinggi dengan kaus yang terlalu besar dan celana pendek keluar dari kamar dengan mata terpejam dan rambut berantakan. Jungkook terlihat acak-acakan. Tapi itu yang Taehyung sukai.
Yang sudah rapi tersenyum lalu menghampiri Jungkook yang berjalan pelan, menangkup wajahnya dengan gemas dan menciumi wajah itu. "Whoa, aku sudah gila atau apa. Kau terlihat sangat jelek tapi kenapa aku malah suka." Gumamnya sambil terus menghujani Jungkook dengan ciuman.
Yang diejek kesal, mengumpulkan kesadarannya dan cemberut saat membuka mata. Tidak. Jungkook tidak berniat melakukannya dengan imut, "Sialan!"
Tapi Taehyung menemukan kekasihnya semakin menggemaskan, "Jangan bersikap menggemaskan secara berlebihan, Kook!" ucapnya tegas, uw daddy Taehyung! "Hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini, jangan tunjukkan kepada orang lain!"
Jungkook, entah kenapa, malah kesal. "Mana mungkin aku menunjukkan penampilan terburukku pada orang lain selain dirimu. Sudah minggir, aku mau sarapan."
Uh, tsundere.
Taehyung mengekor di belakangnya, ikut duduk di hadapan Jungkook yang memakan sosis goreng bentuk gurita buatan Taehyung.
"Setelah sarapan kita akan pergi ke kantorku sebentar, Kook, lalu kita ke apartemen Jimin."
.
.
.
Ini adalah hari Sabtu. Sejak pagi Hoseok dan Yoongi sudah berkumpul di apartemen Jimin bersama Namjoon. Kelimanya bersama Seokjin sarapan bersama, dan Seokjin yang memasak.
Beberapa kali Seokjin menaikkan alisnya, merasa tak yakin, sambil bergumam, "Aku tak menjamin jika kalian akan pergi dengan selamat tanpa sakit perut atau mual. Aku bersumpah aku sendiri tak yakin dengan masakanku sendiri."
Namun di luar dugaan, semua orang menyukai sarapan buatan Seokjin. Sebenarnya itu hanya american breakfast, tapi Seokjin membuatnya dengan sempurna. Bahkan Namjoon memuji masakan Seokjin hingga tiga puluh menit setelah sarapan selesai, tentu saja membuat Yoongi dan Hoseok berseloroh diam-diam tanpa sepengetahuan Seokjin.
"Adakah yang melihat cincin pernikahanku?" Seokjin tiba-tiba bertanya, keluar dari kamar tidurnya, dengan wajah kebingungan.
"Jika kau mau pamer, ya aku sudah melihatnya. Dan itu sangat bagus." Jawab Yoongi malas. Ia menjawab tanpa melihat Seokjin dan tetap menonton TV.
Seokjin memutar bola matanya kesal. Berjalan dengan menghentak tepat di depan layar TV sehingga Yoongi terganggu.
"Seokjin akan bertemu Soojin hari ini, hyung, dan Ia akan mengembalikan cincinnya." Jimin, tanpa diminta, menjelaskan pada yang lain. "Kau sudah mencari di kamar mandi, Jin?"
Seokjin berkeliling apartemen dengan tangan di dahinya, Ia pusing. "Tidak, Jim, aku yakin aku masih memakainya saat membuat sarapan tadi."
"Kau tak perlu mengembalikannya, kurasa, Jinseok. Aku yakin mantan calon suamimu tak akan mau menerimanya." Jawab Namjoon menenangkan. Ia lalu berpindah duduk di sebelah Yoongi dan Hoseok, mendekatkan wajahnya ke kedua temannya, lalu berbisik, "Aku menemukannya dan membuang cincin itu dari balkon apartemen."
Yang dibalas pelototan oleh kedua temannya. Tapi Namjoon bangga melakukannya, Ia tersenyum lebar dan menaikkan dagunya, "Seokjin harus melupakan mantan calon suaminya agar bisa hidup lebih baik, dan aku membantunya."
"Dasar gila." Desis Yoongi. "Sialan," Hoseok ikut menyumpah hampir bersamaan dengan teman seapartemennya. Tapi Namjoon tak peduli.
Tak lama pintu apartemen Jimin terbuka, ada Jungkook dan Taehyung yang datang membawa sekerat bir pesanan Jimin. Ketika Taehyung menata bir ke dalam lemari es, Jungkook berteriak dengan riang, "Seokjin hyung, dimana kau!"
"Jangan ganggu Seokjin, kook! Dia sedang kehilangan cincinnya dan hari ini Ia akan bertemu Soojin!"
Jungkook mencibir peringatan Jimin dengan acuh, kembali meneriakkan nama Seokjin hingga yang dicarinya berdiri di hadapannya dengan wajah kusut. "Katakan hal yang sangat penting atau aku akan memasakmu, Jungkook."
Bukannya takut akan desisan-ancaman Seokjin, Jungkook malah tersenyum lebar. "Tebak apa yang kudapatkan."
"Aku tak peduli." Seokjin langsung berbalik, tak ingin menanggapi gurauan Jungkook–Ia belajar banyak setelah sebulan tinggal dan mengenal Jungkook, bahwa lelaki ini suka sekali bercanda dan menggoda.
Tapi Jungkook mendecakkan lidahnya, lalu mengangkat tangannya saat Seokjin berbalik. Ia menunjukkan tangannya, menunjukkan cincin di atas cincin pertunangannya dengan Taehyung. Ada dua cincin di satu jari manis Jungkook.
Hampir saja Seokjin ingin berseloroh dan mengatakan jika bukan waktunya Jungkook pamer bahwa Ia memiliki dua cincin. Tapi untungnya otak Seokjin bekerja dengan baik, pun matanya lebih jeli dari biasanya.
Itu cincinnya!
Ia memekik dan meloncat ke Jungkook, yang dengan gesit menghindar, tentu saja.
"Aku menemukannya di trotoar gedung apartemen. Kurasa cincin mahal ini menggelinding atau jatuh."
Seokjin masih memekik dan meloncat senang sambil mengangkat cincin itu. Ia senang karena dengan cincin ini, Ia akan meneruskan adegan yang sudah direncanakannya akan Ia lakukan di hadapan Soojin.
Sedangkan tiga orang yang duduk di sofa, yang sejak tadi memperhatikan seluruhnya, melotot tak percaya. Yang dua terkikik puas sedangkan yang satu melongo tak percaya. "Itulah karma."
.
.
.
Hingga setelah makan siang Hoseok dan Yoongi masih ramai di apartemen Jimin membicarakan banyak hal berdua, mulai dari hal tidak penting seperti perdebatan mereka tentang bagaimana seharusnya ponsel yang sedang diisi dayanya, apakah dalam keadaan mati atau hidup. Hingga perbincangan serius setaraf kinerja buruk pemerintah Korea dan hubungan bilateral Korea dan Rusia yang membuat Korea terlihat labil dalam menentukan blok.
"Serius, hyung, kau punya waktu 24 jam tinggal bersama di apartemen kalian tapi kenapa malah berdiskusi ramai di apartemenku, sih?" Park Jimin, yang sangat jarang merasa terganggu, akhirnya merasa risih hanya karena dua temannya berada di ruang tamu rumahnya seharian.
Jimin tak pernah risih mengenai siapapun yang berada di apartemennya selama apapun, Ia malah senang jika apartemennya ramai. Jika Jimin merasa terganggu hanya karena Hoseok dan Yoongi berada di apartemennya hingga siang, itu artinya..
"Kau akan membawa kekasihmu ke apartemen, Park Jimin?" tembak Hoseok.
Tepat sekali. Pipi Jimin bersemu merah lalu Ia membanting pintu kamarnya sambil memekik mirip burung, "Uh, dia bukan kekasihku! Tapi aku suka ketika memikirkan jika Ia akan menjadi kekasihku."
"Jimin mengalami pubertas sekali lagi, sepertinya."
Keduanya mengangguk, tapi tidak segera pergi. Hoseok malah membuka ponselnya, membuka chatroom yang berisi keenam temannya, dan mengetik;
Hoseokki: [Jimin akan membawa kekasihnya, penari yang seksi bernama Kim Dongin, ke apartemennya. Kuperkirakan mereka akan makan malam bersama kemudian menghabiskan waktu di apartemen Jimin. Kuundang teman-temanku yang baik untuk segera duduk di apartemen Jimin dan melihat kekasih Jimin.]
MonsterKim: [Aku tak janji, tapi kuusahakan.]
KimGeenie: [Dasar gila]
Chimchim: [F*ck hyung! Kadang aku membenci mulut embermu!]
Chimchim: [Tapi kumaafkan karena kau menyebutnya sebagai kekasihku. Namanya Kim Jongin, bodoh!]
Kooks: [Aku dan Taehyung akan datang setelah selesai quickie]
Kooks: [KIM TAEHYUNG SIALAN YANG MENULIS TADI, BUKAN AKU!]
Dan benar saja, sebelum jam makan malam kelimanya sudah berkumpul, kecuali Namjoon yang masih harus memimpin rapat intern di rumah sakit, dan Jimin yang sedang bersiap di kamarnya. Kelimanya memutuskan memesan makan malam hanya agar tidak melewatkan momen ketika mereka bertemu kekasih (seksi) Jimin.
Pukul tujuh lewat, bel apartemen Jimin berbunyi. Kelima lelaki yang duduk di depan tv, yang menunggu pesanan makanan mereka datang, berbalik. Mengira-ngira siapa yang datang; bisa saja pengantar makanan atau kekasih Jimin, kemungkinannya sama-sama 50:50.
Tapi suara memekik dari dalam kamar Jimin terdengar keras, diikuti suara benda terjatuh–pasti itu tubuh Jimin–lalu suara teriakan lantang, "Biar aku yang membuka, biar aku, biar aku, biar aku, biar aku!"
Jimin berlarian, hingga berdiri di depan pintu, merapikan pakaian dan rambutnya sebelum membuka pintu dengan senyuman lebar. "Selamat malam!" suara Jimin memekik, riang dan renyah.
Tapi itu adalah Yoonji si pengantar makanan, yang sangat terkejut dengan sapaan ramah sekaligus wajah tampan Park Jimin. Mahasiswa itu sudah kenal baik dengan mereka selama tiga tahun ini, ketujuhnya ramah padanya dan sering memberi yang tip berlebih padanya. Tapi ini pertama kalinya Ia disambut seramah ini, oleh Jimin hyungnya pula. Ia tergagap, "Se-selamat malam juga, hyung. Ini... pesananmu?"
Mata Jimin berputar, mendengus kesal sambil memberi jalan pada Yoongi yang berjalan di sebelahnya dan membayar tagihan dengan senyum yang ditahan.
Ketika Jimin berjalan dengan wajah tertunduk dan bahu melorot, teman-temannya malah mengejek. "Jadi kau berkencan dengan pengantar pesanan makanan atau seorang pelatih tari, Jim?"
"Kurasa kau berbohong saat bilang bahwa Ia seksi dan tampan,"
"Kekasih Jimin mirip dengan pengantar makanan yang biasa mengantar makananku, uh."
Jimin menoleh menatap teman-temannya dengan wajah kusut, "Sialan. Kuharap Budha mendengar ucapan buruk kalian dan mengirim karma secepatnya."
Yang disambut tawa keras teman-temannya, mereka puas. Tapi tawa mereka tak bertahan lebih dari lima menit, di menit keempat sekali lagi bel apartemen Jimin berbunyi sekali lagi.
Jimin mencoba bersikap pintar. "Siapa kemungkinan yang berada di depan pintu dan memencet bel, Namjoon hyung atau Jonginku?"
Yang paling menahan agar tak ikut tertawa sejak tadi, Seokjin, menenangkan teman seapartemennya, "Namjoon hyung pasti langsung masuk tanpa memencet bel, Jim, kurasa itu Jongin...mu." ucapnya tak yakin saat memberi sufiks kepemilikan di belakang nama Jongin seperti cara Jimin memberi kepemilikan.
Maka Jimin berjalan berbalik, menegakkan tubuhnya, dan membuka dengan senyuman kecil. Ia masih tak mau terlihat terlalu sumringah di hadapan Namjoon hyung seperti Ia pada Yoonji si pengantar makanan tadi, namun terlalu takut untuk memasang wajah buruknya siapa tahu Jongin yang menunggunya.
Dan benar saja!
Itu Namjoon hyung, dengan senyuman lebar hingga matanya hilang. Teman-temannya tertawa keras di belakang, lebih keras dari sebelumnya karena kebodohan Jimin malam ini.
Tentu saja–"Sialan, hyung!"–Jimin menyumpahi Namjoon!
"Jim, jangan marah padaku. Aku hanya memencetkan bel apartemenmu untuk teman kencanmu."
Jimin sudah siap menendang selangkangan Namjoon keras-keras jika lelaki itu tidak melangkah kesamping dan tangannya menarik lelaki yang sejak tadi bersembunyi di kanan pintu apartemen dan tak terlihat sekalipun Jimin membuka lebar pintunya.
Saat itu Jimin tak peduli dengan Namjoon, atau tawa teman-temannya yang tertelan. Ia senang bukan main senangnya saat bertemu Jongin.
Lelaki itu tampan, tinggi, dan rapih. Sempurna. Dengan senyumannya yang manis dan malu-malu, Ia bergumam, "Hai, Jimin."
Ya Tuhaannnnn, pipi Jimin pasti me–
"Jim, pipimu merah." Bisik Namjoon ketika Ia melangkah masuk dan melewati Jimin.
Tapi Jimin sama sekali tak peduli, bahkan ketika bibirnya tersenyum hingga sobek saking senangnya. "Selamat malam, Jongin!" suaranya serak, mirip remaja pubertas.
Cukup lama mereka saling tersenyum di depan pintu hingga suara dehaman berkali-kali menginterupsi. Itu pasti teman-teman sialannya. Jimin memutar bola mata, "Kukenalkan dengan teman-temanku?"
Lelaki dengan melanin yang cukup banyak–membuatnya semakin seksi, sungguh–itu mengangguk semangat, lalu mengekor Jimin untuk masuk. Teman-temannya sudah mirip anak TK, menaruh mangkuk mie ke meja dengan cepat, menghadap ke Jongin dan Jimin dengan semangat pula. Bahkan Taehyung, Seokjin, dan Jungkook yang tadi duduk di sofa memunggungi Jongin langsung berdiri dengan lututnya, memegangi sandaran sofa, mirip anak anjing.
"Teman-teman," setengah hati Jimin menyebut mereka, "Ini Jongin."
"Jongin-ah, ini..." Jimin masih kesal, "ini mereka." Ia tak mau menyebutkan nama mereka, Ia masih kesal.
Tapi teman-temannya tak merasa bersalah sama sekali, menyapa Jongin layaknya burung, "Haiii, Jongin."
Jongin menyapa kembali keenam lelaki teman Jimin dengan senyuman malu. "Kau pasti Seokjin teman seapartemen Jimin."
Yang disebut namanya memekik dan mengangguk senang sementara Jungkook mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan memekik, "Aku juga pernah tinggal bersama Jimin hyung!"
Taehyung tak mau kalah, "Aku dan Jimin dan Seokjin sekelas saat SMA!"
Pertama kalinya Jimin malu atas kelakuan teman-temannya, "Jongin, kita langsung pergi saja, bagaimana?"
Teman-temannya, sekali lagi mirip burung, mengatakan, "Jangaaaaan," bersamaan. Tapi Jimin keburu malu, menarik tangan Jongin dan meninggalkan teman-temannya.
Keenamnya kembali duduk seperti semula setelah Jimin dan Jongin menutup pintu, melanjutkan makan malam mereka dengan mie yang mulai mengembang hanya agar bisa menyapa Jongin seperti tadi. Terdiam beberapa saat, mereka baru mencerna jika teman kencan Jimin kali ini benar-benar luar biasa.
"Bagaimana bisa seseorang bisa setampan itu?" gumam Hoseok, Ia hampir linglung. Seokjin ikut membalas, "Melaninnya, rambut coklatnya,"
Giliran Jungkook yang menyahut. "Apalagi senyumannya. Aku sempat menahan nafas saat melihat senyumannya."
"Wow, Jeon Jungkook!" Itu Taehyung, yang duduk di sebelah kekasihnya namun merasa tak dianggap. "Terimakasih telah mengatakannya."
Episode drama Taekook sepertinya akan dimulai sebentar lagi. Hoseok dan Yoongi, sebagai penonton setia drama mereka, menantikan episode terbaru dengan sumringah dengan menaruh dagu di atas tangannya.
Jungkook memutar bola matanya sambil tersenyum, "Tae, kau pikir siapa yang akan kupilih antara kau dan Jongin tadi?"
Senyuman muncul di bibir Taehyung, "Kau memilihku?"
"Jangan mimpi, jelas aku memilih Jongin!" ucap Jungkook jujur, atau bodoh. "Kau bisa lihat otot dadanya menyembul dan bisepnya... hmmm, aku sungguh lapar karena Jongin tadi."
Entah Taehyung yang terlalu bodoh karena masih bertahan dengan Jungkook yang kelakuannya seperti ini, atau memang Jungkook yang suka sekali memancing perkara di hubungan mereka. Karena malam ini episode drama pasangan gila ini berlanjut, memberi makanan pada jiwa-jiwa haus perkara seperti Yoongi dan Hoseok.
Seokjin memilih pergi dari medan perang, pindah duduk ke sebelah Yoongi ketika Hoseok berdiri. "Mau kemana, Hoseok hyung?"
Lelaki itu tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pantatnya. "Jung Hoseok harus menyelesaikan rekaman lagunya untuk dipentaskan, warga biasa. Kupastikan tak akan melupakan kalian ketika aku terkenal kelak."
Yoongi memutar bola matanya sementara Seokjin meminta penjelasan pada produser di BigHit yang duduk di sebelahnya ini. "Apa maksudnya, hyung?"
Tepukan di bahu Seokjin membuat lelaki itu berjengit, Hoseok menyejajarkan wajahnya dengan wajah Seokjin. "Hyungmu ini memiliki pertunjukan besok malam, akan kutunjukkan padamu bagaimana kerennya aku. Datanglah bersama yang lain, Seokjin,"
"Jangan dengarkan ucapan Hoseok, Jinseok." Namjoon menepuk bahu Hoseok dan menatap mata temannya beberapa detik, lalu duduk di meja di hadapan Seokjin ketika Hoseok memutuskan pergi dari apartemen Jimin. "Apa rencanamu malam ini, Jinseok?"
Taehyung dan Jungkook masih bertengkar, jika kalian ingin tahu. Kali ini mereka berdebat dengan suara keras di dapur, yang tak memiliki pembatas dengan ruang tengah di mana ketiganya sedang duduk. Seokjin tak peduli, "Aku... Jimin menyuruhku laundry."
Namjoon mengangguk.
"Tapi aku tak tahu caranya."
Yoongi yang duduk di sebelah Seokjin mengeluarkan suara tercekat dengan keras, Ia tak percaya dengan pendengarannya.
"Uh, hyung. Rumahku memiliki setidaknya 10 asisten yang bekerja untuk kami, aku tak pernah mencuci pakaianku."
Sekali lagi Namjoon mengangguk, kali ini diikuti senyuman. "Kebetulan sekali, Jinseok, aku juga berencana laundry. Bersamaku?"
Seokjin mengangguk semangat dan tersenyum lebar. "Kau mau mengajariku?"
Senyuman di bibir Namjoon semakin lebar saat melihat lelaki di hadapannya itu bersemangat mirip anak anjing. "Tentu saja." Menggemaskan. "Aku akan mengambil pakaian kotorku dan kita akan bertemu di tempat laundry di basement."
Lalu Seokjin memakan dengan cepat jjajangmyeonnya, mengira-ngira apa yang harus Ia lakukan nanti bersama Namjoon. Ini pertama kali baginya, sungguh, dan Ia bersemangat seperti seorang anak kecil entah kenapa.
Tanpa disadari Seokjin, mata Yoongi sejak tadi menatap lurus dengan seringaian di sudut bibirnya. Memperhatikan Namjoon dan caranya mengambil langkah. Dan Namjoon tidak bodoh, Ia sadar jika Yoongi menatapnya intens, membalas tatapan Yoongi dengan gerakan dagu samar, "Apa?" tanyanya tanpa suara.
Dan dijawab gelengan Yoongi.
Namjoon tak peduli. Yang penting malam ini Ia memiliki waktu berduaan dengan Seokjin di pusat laundry.
FIRST STRIKE!
.
.
.
Hingga pukul sembilan, Jimin dengan kesal yang telah sampai di ubun-ubun, mematikan ponselnya karena tak berhenti bergetar sejak tadi. Alasannya? Bisa ditebak; teman-temannya. Terbilang jarang sekali mereka ramai di groupchat, tapi malam ini mereka seolah memiliki waktu luang hingga membuat ponsel Jimin tak berhenti bergetar.
"Ada apa dengan ponselmu, Jimin?"
Jimin menggeleng, sesekali melirik tangan kirinya yang berada di genggaman tangan Jongin ketika mereka selesai makan dan sedang menikmati wine. "Tidak, hanya teman-temanku yang entah kenapa sangat ramai malam ini."
Lelaki itu menggerakkan ibu jarinya di punggung tangan Jimin dengan lembut, "Kurasa teman-temanmu sangat menyenangkan, Jim."
Sambil menahan dentuman di dadanya atas semua perlakuan Jongin, Jimin menggeleng dan berusaha bersikap tenang. "Uh, sama sekali tidak, Kai. Mereka sangat ramai, saaaangat ramai."
Lelaki di hadapannya tersenyum, "Bukankah itu artinya menyenangkan?"
Tapi Jimin terlanjur tak mendengarkan ucapan Jongin, matanya terpaku pada garis wajah Jongin yang mengesankan ketika Ia tersenyum. "Wow, aku menyukai senyumanmu, Kai."
"Apakah ini rayuan?"
"Jika kau menganggap ini rayuan, aku tak masalah."
STRIKE AGAIN! DOUBLE STRIKE!
.
.
.
Apartemen Jimin dan Seokjin sudah kosong saat Namjoon dan Seokjin datang membawa dua keranjang berisi pakaian; satu milik Namjoon dan satu campuran milik Jimin dan Seokjin.
"Hyung, aku sungguh berterimakasih padamu. Jimin bisa marah besar jika tahu aku belum mencuci pakaian kami."
Namjoon tersenyum, lebih lebar dari biasanya, dan bersikap tenang. Ia membuka lemari es dan mengambil bir dengan kasual, duduk di meja makan memperhatikan Seokjin yang sedang memisahkan pakaiannya dengan pakaian Jimin.
Di mata Namjoon... Seokjin tetaplah Seokjin yang tampan sekaligus cantik. Seokjin itu menawan, karena tidak hanya lelaki namun perempuan juga tertarik pada lelaki ini. Mulai dari sifatnya, pribadinya, hingga wajahnya.
Seokjin mengangkat wajahnya tiba-tiba. "Hyung, kau lapar?"
Sedangkan Namjoon yang tertangkap basah sedang mengamati sosok Seokjin gelagapan, "Eh? Kenapa?"
"Kau lapar tidak? Aku bisa membuatkanmu garlic bread jika kau mau."
Mana mungkin Namjoon menolak? Menerima tawaran sederhana Seokjin sama artinya banyak keuntungan baginya; merasakan masakan Seokjin, bisa mengulur waktu untuk tetap tinggal, berbincang dengan Seokjin pula. Lengkap.
Ia pindah ke sofa di ruang santai saat wangi garlic bread memenuhi apartemen. Mulutnya dipenuhi liur begitu juga dadanya yang dipenuhi dentuman keras. Apapun yang berhubungan dengan Seokjin selalu membuatnya bersemangat sejak lama, dan tetap demikian setelah sekian lama.
Seokjin menyusul duduk di sebelah Namjoon, setelah menaruh piring berisi potongan garlic bread dan botol saus di meja, Ia menaikkan dan melipat kakinya, bersandar di lengan sofa hingga tubuhnya menghadap Namjoon. "Bagaimana?"
Namjoon tertawa kecil saat menyuapkan panganan buatan Seokjin, menyadari jika lelaki di sebelahnya ini tak menggunakan sufiks seperti ketika Ia berada diantara teman-temannya. "Kau tidak memanggilku dengan sufiks lagi."
Tangan Seokjin menyobek garlic bread menjadi potongan kecil, menyuapkannya dengan senyuman kecil pula. "Sudah kubilang aku tak suka memanggilmu 'hyung'."
"Tapi kau melakukannya jika bersama yang lain."
Mata Seokjin berputar. "Yang benar saja. Bisa mati aku jika tak memanggilmu dengan sufiks." Seokjin menelan makanan di mulutnya, "Apalagi aku merasa kau yang paling dituakan di sini."
Namjoon mengakui. "Sejujurnya Yoongi yang paling tua, meski kami satu angkatan."
Bahu Seokjin mengendik, Ia tak peduli. "Bagaimana garlic bread buatanku?"
Tentu saja! "Enak."
Seokjin tersenyum lebar. "Aku selalu percaya diri pada garlic breadku."
"Kau tak percaya diri pada hal lainnya?"
Seokjin terdiam, menatap mata Namjoon yang menatap matanya lurus. Matanya berkedip beberapa kali, tak siap dengan topik seserius ini. "Eh?"
"Kim Seokjin merasa tak percaya diri?"
Tentu saja. "Bukankah itu hal yang wajar? Merasa tak percaya diri."
"Kupikir Kim Seokjin selalu percaya diri dan menyukai dirinya."
Seokjin tertawa. Terdengar terlalu naif jika Ia memang seperti ucapan Namjoon. "Tidak, Namjoon, aku juga merasa insekur atas beberapa hal. Kau pikir aku apa? Dewi?"
Ya. Namjoon hampir refleks menjawab dengan lantang. Tapi lelaki itu berhasil menahan dirinya, mengamati objek paling menarik di dunia, menurutnya, Kim Seokjin. "Apa yang membuatmu insekur, Jinseok?"
Seokjin baru sadar, jika sejak awal Namjoon selalu memanggilnya dengan panggilan itu. Sejak awal. Berbeda dengan dirinya yang hanya berani memanggil Namjoon tanpa sufiks jika mereka berdua, Namjoon lebih berani dengan selalu memanggilnya demikian bahkan ketika bersama yang lain.
"Banyak sekali,"
"Salah satunya?"
Seokjin menggumam, Ia berpikir sambil menatap garlic bread yang sisa setengah di tangannya. "Hubungan." Gumamnya lirih, lalu menatap mata Namjoon. "Aku tak pernah berhasil pada hubungan,"
Namjoon tidak terkejut. Semua mendekati Seokjin hanya karena main-main, hanya karena tertantang untuk bersama primadona sekolah dan primadona kampus, bukan bersama Seokjin karena cocok dan jatuh cinta.
"Sejak SMA hingga aku kuliah, aku tak pernah berada dalam satu hubungan lebih dari 3 bulan. Kau ingat, julukanku saat SMA adalah 'one night stand Kim Seokjin'."
Namjoon pernah mendengarnya. Dan Ia membenci julukan itu.
"Julukan itu berlanjut saat aku kuliah, lebih parah, rata-rata aku hanya berpacaran selama satu bulan." Tanpa sadar Seokjin cemberut, merasa kasihan pada dirinya sendiri.
Tangan Namjoon terjulur menggenggam tangan Seokjin, tanpa sadar. "Tidak apa, Jinseok. Itu wajar. Kau hanya... belum menemukan seseorang yang serius denganmu."
Seokjin merasa tersentuh. Ia memang punya kakak lelaki, namun hubungan mereka tak pernah seperti ini. "Kau sungguh percaya jika aku bisa menemukan lelaki yang serius?"
"Ya. Akan ada satu lelaki yang tulus mencintaimu, benar-benar mencintaimu tanpa alasan, bukan karena fisikmu, tapi karena hatimu. Lelaki yang setiap melihatmu, merasa jika Ia melihat dunianya dan masa depannya."
Seokjin mendengus, "Kau sangat baik memilih kata-kata, Namjoon, tapi jangan berlebihan."
"Aku sungguhan, Jinseok. Akan ada lelaki yang seperti itu dan kau akan bertemu dengannya, percaya padaku."
Seokjin kembali tersenyum, membalas genggaman tangan Namjoon dengan senang hati pula. "Lelaki yang akan bersungguh padaku? Yang akhirnya membuatku merasakan a real-passionate-relationship?"
Kepala Namjoon mengangguk.
"Terimakasih, Namjoon." Ucap Seokjin dengan senyuman, tulus berterimakasih hingga Ia tanpa paksaan saat tersenyum. Ia beranjak, memeluk leher Namjoon dengan kedua lengannya dan menarik Namjoon ke dalam dekapannya. "Terimakasih, kau yang terbaik."
.
.
.
Hari Minggu. Tidak biasanya keenam orang ini sudah berkumpul di apartemen Jimin. Enam, karena Jimin masih tidur. Apalagi yang diharapkan keenam lelaki itu selain cerita Jimin tentang Jongin dan kencannya.
Dan ketika Jimin keluar dari kamarnya, dengan wajah bengkak dan rambut berantakan, matanya terbuka lebar saat teman-temannya ramai seperti anak TK. "Bagaimana kencanmu, Jim?"
"Kenapa kau tidur di kamarmu? Kau tak pergi ke apartemen Jongin?"
"Kuharap aku mendengar cerita yang menarik, Jim!"
Jimin menggerutu, mengabaikan kelompok anak TK–teman-temannya–dan menuangkan jus jeruk lalu meneguknya. Hampir saja Ia menjawab racauan teman-temannya dan menyuruh mereka diam ketika Jongin sudah keluar dari kamarnya. Dengan pakaian lengkap dan rambut dan wajah yang sudah rapi.
Teman-temannya semakin ramai saat melihat Jongin. Tentu saja, Hoseok yang paling bersemangat. "Hai, Jongin!"
Jongin tersenyum, masih dengan senyuman manisnya, lalu membungkuk kecil menyapa keenam teman Jimin. "Ini hari Minggu, kalian sudah berkumpul? Sarapan bersama?"
Buru-buru Jimin menaruh gelasnya dan menghampiri Jongin. Ia takut jika mulut temannya yang ember itu mengatakan hal yang tidak-tidak. "Kau bersiap pulang?"
Jongin mengangguk, melingkarkan tangannya di pinggang Jimin dengan kasual dan mengecup bibir penuh Jimin dengan kasual pula. Melihat adegan ciuman, keenam lelaki lainnya mengeluarkan suara 'aw' panjang dengan senyuman lebar. Jungkook bahkan menangkup pipinya dengan telapak tangan dan memandang dengan mata berbinar.
Dan Jimin sadar. Jika Ia seolah melakukan fanservice, melakukan hal ini di depan teman-temannya, maka Ia segera melangkah mundur.
"Aku harus pulang, studio kami mulai sejak pagi di hari Minggu dan hari ini giliranku mempersiapkan studio."
Jimin paham. Maka Ia mengantar Jongin sampai ke pintu setelah menunggu lelaki itu berpamitan–juga digoda oleh temannya–menyempatkan berciuman dengan Jongin di depan pintu, dan melambaikan tangan ketika Jongin melangkah pergi.
Back to reality. Ia menutup pintu dan berbalik, menemui keenam temannya yang duduk dengan senyuman lebar menatapnya. Seperti anak kecil yang sengaja bertingkah manis di depan Mamanya agar diberi permen.
"Oke, time to Jongin-bashing-time. Siapa mau melakukannya pertama?" Jimin sudah siap, Ia hafal teman-temannya yang suka mengkritik.
Keenamnya saling berpandangan. Namjoon membuka mulut, "Well, Jongin seorang pelatih tari dan tubuhnya sebagus itu. Tapi Ia bersikap terlalu pemalu."
"Ya. Pemalu." Jika pemalu adalah hal buruk yang perlu dikritik.
"Dan terlalu manis."
Eh? Tidak ada kalimat pedas?
"Bukankah Ia tak terlalu tampan?" Yoongi berucap. Lainnya menoleh, mengangguk kecil, menatap Jimin.
Sekali lagi, Jimin sudah siap mendengar kritikan, bahkan siap mendengar yang lebih jahat dari ini. "Teruskan."
"Tidak, Jim! Jongin sempurna!" pekik Seokjin hampir bersamaan dengan Jungkook. "Ya, dia sempurna!" yang lainnya ikut menimpali, setuju jika Jongin sosok yang menarik sekaligus mengesankan di saat yang sama. "Perfect, Jim, perfect!"
"Serius?"
"Ya! Aku merestuimu dengan Jongin!" ucap Hoseok, diikuti anggukan yang lain. Jimin tersenyum lebar kemudian, terlalu sering mendapat penolakan dari teman-temannya mengenai teman kencannya bahkan kekasihnya. Ia duduk mendusal Taehyung dan Jungkook, tersenyum lebar dan menghela nafas lega.
"Jongin memang... sempurna."
Dan senyuman Jimin yang lebar sayangnya tidak diikuti oleh Yoongi, yang hanya menatap senyuman Jimin dalam diam. Tak ada yang bisa Ia katakan sejak tadi Jongin keluar dari kamar Jimin kecuali kritikan, bahkan ucapannya tadi tak sepedas biasanya. Hanya satu penyebabnya, Park Jimin.
-TBC-
ILY!
