Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by Swinysoo
.
.
AU. OOC. TYPO(s). Tidak sesuai EyD. GaJe.
.
Rated : T
.
.
Happy Reading
"Sakura memenangkan adu lari hari ini!"ucap Tenten bangga dengan sahabat softpink-nya. Dia sedang berbicara dengan Ino sekarang. Tenten bahkan tidak duduk sedari tadi, ia hanya mondar-mandir sambil mengekspresikan betapa kagumnya dia.
Melihat Tenten yang sangat bersemangat bercerita, membuat Ino, Sakura, Hinata, dan Karin hanya memperhatikannya.
Walaupun agak pening-yang entah kenapa-, Ino masih setia mendengarkan ocehan Tenten itu. Ino tersenyum melihat sahabatnya itu sangat bersemangat menceritakan kejadian di lapangan sekolah tadi saat kelas olahraga.
Ino sama sekali tidak keberatan atas apa yang dikatakan Tenten. Ia bahkan antusias ingin mengetahui segalanya, malah ia yang terus bertanya, "Memangnya siapa yang menjadi lawan Sakura?" Ino melirik Sakura melalui ekor mata. Ino sengaja berbicara demikian, agar Sakura menghilangkan senyum kelewatan bangga(?) itu dari wajahnya. Siapa sih, orang yang tidak senang mendapat pujian? tentu semua pasti menyukai itu,'kan. Tapi, karena ulah Ino tersebut, Sakura jadi cemberut.
"Ck, dalam keadaan beginipun kau masih tetap menyebalkan." Sakura berdecak mendengar Ino yang seakan tak percaya dengan kemampuannya. Senyum yang tadi terukir di wajah itu kian menghilang begitu saja.
"Tenten benar! Sakura hebat hari ini." lanjut Karin yang langsung dibenarkan oleh Hinata dengan anggukan kepala. Karin mendekatkan mulutnya ke telinga Ino. "Kau tau? yang menjadi lawan Sakura adalah Shion dan... TEMARI!" Karin berbisik.
"Benarkah?!" Ino terkejut mendengar itu. Iris aquamarine itu membelalak dengan mulut menganga. Ia tidak pernah menyangka atau sedikitpun menduga, kalau lawan Sakura adalah orang yang sangat baik dalam bidang olahraga sekaligus musuh bebuyutan Sakura.
Temari. Siswi yang juga duduk di kelas 2-1 cantik, menarik, cukup kaya adalah musuh Sakura. Bukan karena Sakura populer-tentu saja ia juga populer- , dan kaya-sudah diberitahu sebelumnya, kan. Hanya saja ada hal lain yang membuat Temari tak menyukai Sakura. Padahal, sebelumnya mereka berteman-meski tidak akrab. Menurut yang terlihat oleh Ino cs sih, Temari cemburu dengan kedekatan Sakura dan Gaara. Secara, mereka kan, selalu bersama. Anehnya adalah Temari sendiri telah mengetahui itu sebelum berteman dengan Sakura. Lalu entah kenapa dan mengapa, setelah melihat kedekatan di antara keduanya ketika mereka bersama, yakni Gaara dan Sakura, Temari mulai menjauhi Sakura tanpa alasan yang jelas. Hingga sekarang setiap bertemu atau bahkan tidak sengaja bertatap muka pun Temari pasti memasang muka cemberutnya dihadapan Sakura. Dari situlah mereka mengklaim bahwa Temari menyukai Gaara.
"Eum!" sahut Karin.
"Sakura-chan, kau tak apa-apa, kan?" ucap Ino khawatir dengan meraih kedua tangan Sakura.
Sakura membalas genggaman Ino pada tangannya dan mengelus tangan itu dengan pelan,"Tenang saja, aku bisa mengatasinya, kok!" Sakura menyakinkan Ino agar ia tak perlu cemas dengan apa yang terjadi.
"Syukurlah," Ino lega mendengarnya.
"Eh! Tunggu," Hinata tiba-tiba bersuara. Ia teringat akan sesuatu. Membuat Sakura, Ino, Karin, dan Tenten menoleh ke arahnya. "Bukankah... Temari dekat dengan Shikamaru? Apa kalian masih ingat, mereka pernah pergi bersama?" tanya Hinata.
Sakura, Ino, Karin, dan Tenten saling pandang beberapa detik.
"Y-Ya, sekitar dua hari yang lalu, Shikamaru menemani Temari latihan, kan?" Tenten menjawab duluan, mewakili sahabat-sahabatnya.
"Eum, Temari ikut dalam klub olahraga-sepak bola yang sebentar lagi ingin mengikuti pertandingan dan Shikamaru menemaninya, berarti mereka sangat dekat dan seperti yang terdengar, Shikamaru menyukai Temari." Hinata menjelaskan, di respon dengan anggukan kepala dari keempat sahabatnya. Temari memang seorang gadis, namun ia tetap mengingini ikut klub olahraga bagian sepak bola yang biasanya untuk anak laki-laki. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu.
'Namanya juga orang kaya, apapun kehendaknya, pasti di turuti.' batin Ino.
"Yah, aku pernah mendengar itu sih, sebelumnya,"jawab Tenten, "Lalu?" ia kini bertanya. Tidak hanya Tenten saja yang merasa binggung dengan apa yang dikatakan Hinata, tapi Sakura, Ino, dan Karin juga. 'Kenapa Hinata tiba-tiba membahas masalah itu'batin Karin yang mulai berpikir keras.
"Huh! Kalian tidak mengerti maksudku," Hinata mendengus kesal dengan ketidakpekaan sahabatnya. Masih sama, ekspresi keempat sahabatnya masih sama, sama-sama binggung. Tidak ada yang tahu maksud Hinata sama sekali.
"Baiklah, akan ku jelaskan." Hinata berdiri dari duduknya tepat di depan Sakura, Ino, Karin, dan Tenten berada.
"Tentang berita di MADING yang di terbitkan Shikamaru dan kedekatan Shikamaru dengan Temari. Bukankah ada hal yang mencurigakan?" tanya Hinata.
"Eh, MADING... Shikamaru dan Temari... Hal mencurigakan..." cicit Tenten yang mulai berpikir dengan jari telunjuk dan tengah menjepit pangkal hidungnya sendiri.
"Aku rasa, aku mengerti maksudmu, Hinata-chan," sahut Sakura setelah merasa bahwa apa yang dikatakan Hinata tadi memang ada benarnya. "Kita harus menyelidikinya kali ini." kembali Sakura berkata, wajah itu nampak serius sekarang. Hinata tersenyum senang bukan main, akhirnya salah satu dari sahabatnya mengerti juga apa yang ia maksud.
"Yosh! Mari selidiki!" ucap Tenten dengan mengangkat tangan kanan di udara, saking semangatnya.
"Memangnya apa yang harus diselidiki, Tenten?" tanya Ino, memastikan bahwa sahabatnya yang satu ini benar-benar mengerti atau tidak. Begitu pula dengan Sakura, Hinata, dan Karin.
"Emmm, entahlah," sahutnya enteng. Ia juga tersenyum tipis sambil mengaruk tekuknya yang tak gatal. Gadis satu ini memang polos atau pura-pura polos?. Tidak, Tenten tidak polos, tapi IDIOT. Mungkin.
0o0
Ruang kelas 2-1
Peralatan-peralatan belajar tersusun rapi memenuhi ruangan ini. Ruang kelas persegi panjang yang di huni oleh siswa-siswi terpopuler sekaligus berpengaruh di sekolah memang sangat berbeda dengan ruang kelas lainnya. Bukan sekolah pilih kasih atau apa, tapi siswa-siswinya lah yang merubah kelas ini sendiri. Apa saja yang mereka rubah? Tidak banyak.
Mereka hanya merenovasi-yang pastinya sesuka mereka, mengganti fasilitas yang ada dengan yang baru, dan melengkapinya-seperti lemari buku khusus dan kipas angin di setiap sudut ruang.
Tapi, sekarang siswa-siswinya sedang tidak ada di kelas ini tengah sepi. Maklumlah, siswa-siswinya pada keluar kalau sudah siang-siang begini.
Untuk apa? untuk mengisi perut kosong karena baru selesai mengikuti kelas olahraga yang amat sangat menguras tenaga mereka tentunya. Ehhh...
Tidak semua ternyata, masih ada satu siswa yang tersisa. Di meja paling depan pojok kanan, seseorang berperawakan tinggi, tampan, dan berambut raven sedang duduk dengan santai-nya. Menikmati musik yang mengalun melalui earphone yang bertengger di telinga sambil memejamkan mata. Kalau dilihat, tumben sekali keempat sahabat seperguruannya tidak ada. Padahal mereka selalu bersama, apapun alasannya.
"Hei, kau! Pangeran narsis," teriak Sakura memenuhi ruang kelas. Kedua kaki mungil itu melangkah dengan cepat menuju tempat siswa tadi berada. Kaki itu berhenti tepat di sampingnya.
Tidak ada respon.
"Apa kau tuli?" kali ini dengan nada meninggi. Sakura sepertinya sedang dalam mood yang tidak baik akhir-akhir ini.
Ada respon, walau hanya pergerakan mata. Bisa terlihat melalui mata siswa itu, untuk melirik saja ogah-ogahan apalagi menatap Sakura. Siswa ini bahkan hafal dengan suara Sakura. Tidak perlu melihatnya pun ia sudah tau. Maka dari itu, setelah melirik selama sedetik ia langsung memutar bola matanya kembali ke arah lain. Jangan lupa, ia juga menambah volume pada ponselnya.
"HEI! Apa kau akan terus berdiam diri, melihat semua orang membicarakan kita?" Merasa di abaikan oleh makhluk(?) dihadapannya, Sakura mulai geram.
Krik.
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu? Bahkan sedikit?" ucapnya, penuh penekanan di akhir kata.
Krik. Krik.
"Kau tak ingin menghajar Shikamaru si pemantau bodoh itu? Menghukumnya, misalkan? Atau, kau bisa menyuruhnya keliling sekolah untuk memberitahukan bahwa berita itu palsu, atau apalah... agar semuanya kembali seperti semula." Nada bicara Sakura melemah.
Krik. Krik. Krik.
Sakura naik darah, "KYA! K-Kau... Apa ini yang kau mau? Semua orang membicarakan tentang berita bodoh itu dan mempercayainya. Apa itu yang kau mau, hah?" Sakura binggung harus apa lagi sekarang. Ia hanya berbicara sendiri dari tadi. Mondar-mandir lalu berhenti, duduk, berdiri, dan sekarang ia sedang berkacak pinggang.
Hanya sang jangkrik-lah yang setia menjawab setiap pertanyaan Sakura.
"Wahhhhh, buahaahaa! Lihatlah dirimu sekarang?" Sakura menjeda perkataannya. Tertawa itu terdengar mengerikan. "Ahh... Aku tau, apa kau mulai menyukaiku? makanya kau tak ambil pusing dengan apa yang terjadi. Kau pasti senang semua orang berkata kita berpacaran."
Siswa yang diketahui adalah Sasuke kini menoleh, kedua matanya membelalak sempurna, mendengar Sakura berujar terakhir kali. Sasuke bahkan melepas earphone pada telinganya, untuk mendengar lebih jelas perkataan Sakura yang tadi terdengar samar-samar olehnya.
Sakura berhasil mendapat perhatian Sasuke. Mendapat hal itu Sakura malah semakin menjadi saja, "Benar, kan? Kau menyukaiku. Wahh, aku tak menyangka pesonaku begitu besar, sampai-sampai kau terpikat oleh-"
Bruk
"Akh!" Sakura meringis kesakitan. Kedua bahunya kini dipegang Sasuke erat, sangat erat. Sasuke mendorong tubuh Sakura ke dinding terdekat(?) cukup keras. Tubuh Sakura kini di himpit Sasuke.
"Apa kau bilang! Menyukaimu?" Sasuke menatap Sakura yang ada di depan wajahnya. Hanya berjarak beberapa centi saja.
Giliran Sakura yang diam. Ia ingin berontak, tapi tak bisa. Sasuke terlalu kuat untuknya.
"Kau," Sasuke berbicara, tapi mata onyx-nya malah berkeliaran(?) menatap Sakura dari ujung kaki hingga kembali lagi ke wajahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Sasuke membuat Sakura menyilangkan kedua tangan di depan dada, "APA YANG KAU LIHAT?" Sakura berteriak, membuat Sasuke sedikit menjauhkan wajahnya ke belakang.
"Aku tidak melihat apa-apa. Hanya... ingin memastikan saja." Sasuke berbicara dengan nada menggoda. Kedua iris mata itu semakin menatap lekat iris mata Sakura, menatapnya dalam-dalam.
'Memastikan'batin Sakura. Perkataan Sasuke terlalu ambigu untuknya. Apa maksud Sasuke dengan kata itu.
Pipi Sakura memerah. Ini aneh, sangat aneh. Sakura binggung dengan perasaannya kini. Ia membenci perlakuan Sasuke padanya, namun di sisi lain ada perasaan hangat-entah dari mana dan sejak apa itu-saat Sasuke menatapnya, seperti ini.
Merasa jarak di antara mereka semakin menipis, Sakura membuang wajah ke samping. Sasuke sendiri hanya menyunggingkan senyum tipisnya ketika Sakura memutuskan sepihak(?) kontak mata yang ia jalin tadi.
"Kau cantik juga ternyata." ujar Sasuke. Ia masih memegang bahu Sakura, namun tidak seerat tadi. Sakura menoleh, mendengar Sasuke berkata seperti itu. Yang benar saja, kata-kata itu sungguh langka untuk Sakura. Ia bahkan sempat tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Sasuke menatapnya lagi. Sakura memanas kembali. Kedua pipinya serasa terbakar entah kenapa. Sakura tidak punya pilihan lagi, selain membalas tatapan Sasuke itu.
Begitupun sebaliknya, Sasuke juga mengalami hal yang sama setelah menatap Sakura untuk yang kedua kali ini. Hanya saja Sasuke bisa menyembunyikan semburat merah tersebut. Sehingga mungkin hanya sedikit terlihat.
Wajah mereka semakin dekat, dekat, dan dekatttt.
"Ayo kita ma-..."seorang siswi tiba-tiba memasuki ruang kelas. Ia terkejut bukan main ketika melihat pemandangan di depannya.
Sasuke dan Sakura pun begitu, namun masih pada posisi yang errr, patut di curigai.
"...suk" lanjut siswi tadi.
"Ah, maksudku keluar. Ayo?" ajaknya lagi pada temannya yang juga ingin memasuki kelas itu. Namun masih berada di luar.
"Maaf menggangu, silahkan teruskan..." ucapnya untuk yang terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi dari situ.
"Ada apa? kenapa tidak jadi ma-, sudahlah, kita pergi saja." Perkataan teman siswi itu di potong oleh siswi tadi-siswi yang melihat adegan yang di suguhkan Sasuke dan Sakura.
Hingga keduanya kini tidak terlihat lagi.
Sedangkan Sasuke dan Sakura kini hanya saling tukar pandang tak jelas, sampai mereka menyadari jarak mereka kini. Sontak keduanya menjauh satu sama lain. Lebih tepatnya Sasuke yang menjauh dari Sakura. Lalu setelah itu Sakura berseru, "I-ini tidak seperti yang kalian lihat! Hei, kembalilah!"
Terlambat. Siswi itu telah menghilang seperti di telan bumi.
"KYA! Ini semua salahmu!" teriak Sakura membahana ke arah Sasuke. Ia marah sekarang. Lalu dengan cepat, ia melangkahkan kaki menjauh dari Sasuke. Tepatnya, ia ingin pergi.
Sasuke tentu santai-santai saja. Ia tidak begitu perduli dengan apa yang terjadi. Tapi tidak bagi Sakura yang tidak ingin namanya tercoreng hanya untuk berita-berita bodoh lagi.
"K-Kau, jelaskan pada mereka nanti." Sakura berujar lagi, membuat Sasuke melongo di tempat. Lalu kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruang kelas dan Sasuke sendiri.
'Sakura, cukup menarik. Lihat saja, aku akan merebutnya darimu. Seperti kau merebut kekasihku.' batin Sasuke. Seringaian kini menghiasi wajah tampan itu.
0o0
Atap sekolah
Seorang siswi tengah menatap langit biru berawan di sini. Sepertinya ia sedang menikmati cuaca cerah siang sendiri. Wajah cantik itu mengerut, ketika awan bergerak menampilkan matahari di baliknya. Cahaya matahari menerpa wajah mulusnya, membuat sang siswi tersenyum tipis. Dalam keadaan begini ia tampak seperti gadis cantik pada umumnya. Terlihat lucu dan menggemaskan.
"Matsuri-san, ada apa?" tanya dua orang-siswa dan siswi-yang mendekat kearahnya.
Gadis itu sendiri masih pada posisinya yang membelakangi kedua orang itu. "Apa yang kalian lakukan sedari tadi? Kalian membuatku menunggu di sini!" ucapnya dengan nada cukup keras. Wajah yang tadi terlihat damai kini berubah menjadi menakutkan.
"Maafkan kami Matsuri-san, tadi kam-," pembicaraan siswi ini terputus karena siswa yang ada di sebelahnya membekap mulutnya.
"Apa masalahnya sekarang? Bukankah kami telah menuruti semua yang kau mau, sebelumnya." siswa yang ada di sebelah siswi itu angkat bicara. Sedang si siswi kini tengah panik, harus bagaimana menghentikan perkataan siswa yang sudah lancang berbicara kepada Matsuri-di depan mereka.
"Apalagi sekarang, hah? Jangan bertindak sesuka hatimu, MAT-SU-RI-san!" si siswa berkata dengan nada penuh penekanan ketika menyebutkan nama itu. Ia mulai geram dengan perlakuan gadis yang di ketahui bernama Matsuri ini.
"Kya, sudah cukup!" bisik si siswi berusaha menenangkan si siswa.
"Ouhhh. Apa kau marah sekarang?" ejek Matsuri. "Jangan lupa bahwa kedudukan ayahmu masih ada di tanganku. Apa kalian ingin aku memecatnya, hah?" ia berbalik badan sekarang. Matanya menatap tajam kedua orang itu.
Keduanya kini diam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Beginilah keadaannya. Mereka akan melemah kalau sudah menyangkut masalah orang tua. Terutama si siswa tadi. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah mengepal kedua tangan di samping tubuhnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Takut. Tentu saja mereka takut. Matsuri tidak pernah main-main dengan perkataannya. Ia sangat berbahaya dan sialnya, ia adalah anak bungsu dari pemilik sekolah ini sekaligus anak pemilik perusahaan terbesar di Jepang tempat orang tua mereka bekerja.
Kalau saja orang tuanya tidak diikutsertakan dalam masalah ini, mungkin si siswa sudah menghajar gadis di depan itu sekarang. Tak peduli ia seorang gadis atau apa.
"Sudahlah. Sejauh ini, kalian telah melakukan semuanya dengan baik. Aku hanya ingin mengatakan itu." Matsuri berkata sambil berjalan mendekat ke arah kedua orang tadi. "Dan terakhir, terus pantau mereka!" bisiknya, tepat di tengah siswa dan siswi itu. Sebelum pergi meninggalkan mereka dan juga atap.
"Gadis keparat," rahang si siswa mengeras mengatakan kata itu.
0o0
Asrama Konoha High School
Kamar 220
Sakura baru saja pulang dari sekolah. Ia mendengus bosan memasuki kamar, wajah yang selalu ceria itu nampak murung saat ini. Ia bahkan mengacuhkan tatapan 'bertanya' dari ketiga sahabatnya, yang memandangi ia dari pertama kali melangkah masuk ke kamar mereka.
Ketiganya saling pandang sambil melempar pertanyaan satu sama lain melalui batin masing-masing(?). Tidak ada yang tau Sakura kenapa. Hingga salah satu dari mereka pun memutuskan untuk bertanya,"Sakura, what is happened?" ucap Tenten sok inggris.
Buk
"Bukan waktunya bercanda, Tenten!" Hinata yang kesal melempar boneka bear di pelukannya ke sahabat satu ini yang terkenal dengan ke-idiot-annya.
"Aw! Sakit Hinata-chan .." rengek Tenten sambil mengelus-elus permukaan keningnya yang tidak kenapa-kenapa(?).
"Sakura kau kenapa?" kali ini Karin yang bertanya, sebab kedua sahabatnya sedang adu mulut sekarang.
Sakura masih diam, tetapi tetap melakukan aktifitasnya. Melepas seragam sekolah dan mengambil handuk. Sakura berjalan gontai menuju kamar mandi. Karin di buat binggung dengan kelakuan Sakura.
"Apa telah terjadi sesuatu, Sakura?" tanya Karin lagi. Ia hanya merasa bersalah saja, karena tadi mereka tidak menemani Sakura untuk bertemu kelima siswa aneh di sekolah. Sakura sendiri juga tidak ingin di temani, jadi mereka berempat memutuskan untuk pulang saja. Lagian mereka juga lelah hari ini.
Kalau bolehjujur, sebenarnya mereka tidak ingin ikut-ikutan berkelahi. Bayangkan saja, satu dari mereka pun mampu membuat gempar sekolah, apalagi kalau kelimanya. Bisa-bisa sekolah mengalami gempa seketika akibat mulut mereka.
Sakura juga bersedia untuk melawan mereka sendiri tadinya. Jadi, bukan salah mereka berempat meninggalkan Sakura. Itu Sakura sendiri yang meminta.
Karin mencoba bertanya lagi,"Apa mereka mengeroyokmu?"
Blushhh
Sakura memerah untuk yang kesekian kalinya hari ini. Pertanyaan itu membuat Sakura mengigat kembali kejadian beberapa jam lalu. Kejadian dimana ia dan Sasuke berdekatan.
"Sa...ku...ra..." panggil Karin penuh selidik. Karin juga mulai berjalan ke arah Sakura yang terhenti di depan kamar mandi. Entah kenapa ada hal mencurigakan tercium oleh Karin pada Sakura saat ini.
Sedetik, dua detik.
"E-eh! Ti-tidak, tidak apa-apa, hehe" Sakura tersenyum palsu pada Karin.
Sedang orang yang di senyumi melongo melihatnya. Begitu pun dengan kedua insan yang berseteru tadi-Hinata dan Tenten.
"Kau aneh Sakura," ucap Hinata yang merubah arah duduknya ke arah Sakura. Karin baru saja mangap, ingin bicara begitu. Tapi sudah keduluan Hinata.
"Aneh? T-tidak, apa yang aneh memangnya. Aku, kan, memang selalu begini."Sakura mulai ngaur bicara. Semakin membuat Karin, Hinata, dan Tenten curiga dan terus menatap ke arahnya.
Mendapat tatapan begitu Sakura berusaha mencari topik pembicaraan lain, "I-Ino kemana? Kok, dia tak ada disini?"elak Sakura.
'Pertanyaan yang bagus Sakura'batinnya.
"Oh. Ino. Ia pergi menemui ayahnya di rumah sakit. Kan, tadi siang kau sendiri yang bilang kalau ayahnya sudah bisa di jeguk." tutur Tenten.
"Hahhhh," Hinata dan Karin mendengus lega mendengar perkataan Tenten yang tumben-tumbenan benar.
"Ah, iya. Aku lupa?" Sakura kembali pada senyum palsunya. "Kalau begitu, aku mau mandi dulu, ya! Aku juga ingin pergi ke rumah sakit menjeguk paman Inoichi sekaligus menemui ayahku. Sudah, kan bertanyanya! Aku mau mandi dulu."
BLAM
Sakura memasuki kamar mandi dan menutup pintunya, cukup keras. Ia mengelus dadanya ketika berada di dalam kamar mandi, "Huh, hampir saja,"ucapnya.
Di luar kamar mandi lagi-lagi ketiga sahabatnya saling pandang. Aneh dengan kelakuan Sakura yang tidak seperti biasanya.
Lagi-lagi Tenten berulah dengan berkata, "Hinata-chan, apa kau memeluk boneka itu ketika tidur?" tangan mungilnya menunjuk ke arah boneka bear milik Hinata yang tadi mengenai wajahnya.
"Bingo, memangnya kenapa?" sahut Hinata ngak niat. Karin kini mendekat, merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Itu... aku pernah mendengar berita di televisi sebelumnya... kalau boneka bear bisa hidup di malam hari," ujar Tenten sedikit berbisik.
"J-jangan bercanda, Tenten. Kau sengaja, kan, menakut-nakuti ku." Hinata menyengol Tenten menggunakan lengannya. Ia berpikir pasti Tenten ingin balas dendam padanya, karena lemparan tadi.
"Tidak, kok. Ini fakta. Aku nonton ON THE SPOT tau! Yang informasinya luas dan terpercaya. Kalian tau, kan. ON THE SPOT yang menyajikan berita serba tujuh-tujuh itu?" Tenten mengangkat tangan di udara dengan jari tujuh terbuka dan tiga tertutup.
"Benarkah?" Karin berseru tak percaya.
"K-kau, kenapa baru bilang.."Hinata mulai merengek. Ia melempar boneka bear kesayangannya itu sejauh sepuluh meter dari tempat tidur. Hinata juga mulai berkaca-kaca saat ini. Kalau sudah begini, Hinata akan susah sembuhnya-sembuh dari ketakutan-dan mulai menitikkan air mata.
"Hinata-chan, jangan nangis dong? Nanti aku di marahi Sak-, HINATA-chan, k-kau k-kenapa? Hei, kalian! Hinata kenapa?" potong Sakura yang baru keluar dari kamar mandi, namun sudah di suguhkan dengan keadaan Hinata yang amat memprihatinkan.
"Mati aku," Tenten mengigit bibir bawahnya erat. Pasrah kalau ia nanti mendapat 'asupan' dari Sakura, apapun bentuk atau rupanya.
.
.
.
.
Tbc
Catatan :
CHAP 4 UP! CHAP 4 UP! #promosipaketoa#
Telat again, telat again, TELAT AGAIN!. Soo mungkin ketularan OM TELOLET OM nih sekarang. Ngak nyambung. #TETTOT.
Di chap ini mohon baca pelan-pelan, yak! Karena mungkin sulit di mengerti. Soo aja binggung, apalagi para reader ..
Langsung balas review aja,#senyum
sqchn : Haloooo juga sqchn-san! Hehehe. Makasih udah mau nunggu fic Gaje Soo. Nih udah lanjut, kok.
Khoerun904 : Soo rasa udah di jawab pertanyaannya di chap ini. Dan lelaki itu, entar juga Khoerun tau siapa dia. Seiring berjalannya waktu #EA. Makasih untuk reviewnya!
Luca Marvell : Hai, Luca! Salam kenal, yak! Makasih untuk reviewnya, ^-^. Bisa jadi itu, hehehe...
Kokuma Yangmal : Hai Kokuma! Salam kenal juga! #senyummanis. Makasih udah suka fic ini dan udah ngenyadarin Soo akan masalah itu. Maaf, ya... #pasangmukamemelas. Soo LUPA. Aneh banget pasti, yak? Nanti Soo perbaikin deh di chap selanjut-selanjutnya. Semoga saja udah gak ada typo di chap ini.
Makasih untuk semangatnya dan mau nunggu fic ini, #senyumlagi.
Yosh! Dah selesai. Gak mau basa-basi lagi deh. Langsung aja, untuk para reader yang udah baca fic ini, mohon bantuannya,ya! Dan untuk kritik dan sarannya, Soo udah kasih tau di chap-chap sebelumnya agar jangan sungkan, okey!
Sampai jumpa lagi di chap selanjutnya...
Arigatou,
Swinysoo
