Tittle : Haunted House
Author: Jeruk Mandarin
Pair : Eren x Levi
Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll
Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU
Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.
Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk
*-* Chap ini dateng. Btw chap depan Levi bakalan nyoba ngusir Eren.
.
.
.
Levi—Pria single 35 tahun membeli rumah baru yang membawanya bertemu dengan Eren (7 Tahun) hantu penghuni rumah baru Levi. Bagaimana jadinya jika Levi yang tidak suka anak-anak harus serumah dengan hantu berisik dan menyebalkan seperti Eren?
.
.
.
.
.
.
"Kenapa wajahmu terlihat lelah sekali?"
Levi yang sejak tadi tengah mengaduk-aduk mie dimangkuknya seketika mendongak mendengar ucapan itu. Wajah datarnya tak berubah untuk beberapa saat menatap wajah cemas Hanji yang duduk di seberang meja. Siang ini temanya itu memang entah kenapa datang kekampusnya dan mengajaknya makan siang dan sialnya Levi yang sedang tidak punya jadwal mengajar tak punya alasan untuk menolak ajakan tersebut. Jadilah dia terdampar di restoran mie dekat kampus itu bersama seorang Hanji Zoe—teman baiknya.
"Hm—tidak apa-apa." Respon Levi ambigu. Ia kembali mengalihkan pandanganya pada mie dimangkuknya dan mulai melahap mienya yang sudah terasa seperti bubur lembek yang menjijikan. Tapi rasa mie itu mungkin masih lebih baik bagi Levi ketimbang harus meladeni ke kepoan Hanji setelah ini.
"Ada apa Lev? Kau punya masalah?" Tanya Hanji terdengar khawatir.
Levi menggeleng singkat. Ia mencoba sibuk dengan isi di mangkuknya tapi Hanji tidak sebodoh itu untuk dibodohi. Wanita nyentrik berkacamata itu bukan seseorang yang suka diabaikan! apalagi oleh seorang Levi yang sudah dianggapnya saudara.
"Ceritakan padaku jika kau punya masalah."
"Aku tidak punya masalah." Elak Levi terdengar acuh.
Sebuah helaan panjang meluncur dari Hanji. Ia hanya diam bertopang dagu untuk beberapa menit dengan wajah yang berpikir dan bola mata yang tak lepas dari Levi yang sibuk menandaskan isi mangkuk miliknya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan sampai akhirnya Levi menyelesaikan makananya. Ia meneguk jus jeruk yang tadi sempat di pesanya. Keningnya berkerut heran mendapati tatapan Hanji yang ternyata masih terus saja menatapnya dengan ekspresi kosong.
"Apa kau punya sesuatu hal untuk dikatakan?" Tanya Levi membuat Hanji seperti tersadar dari lamunanya. Levi bertanya-tanya dalam hati, apa kiranya yang sedang Hanji pikirkan sekarang. Apa dia ada masalah di rumah tangganya? Tapi tumben sekali—biasanya jika Hanji punya masalah dengan Erwin maka dia tidak akan berhenti mengoceh dan marah-marah. Tapi melihat reaksinya sekarang sepertinya bukan tentang dirinya—sesuatu yang bisa membuat Hanji berekspresi seperti itu hanya satu hal—yaitu semuanya tentang Levi.
Perkiraan Levi benar adanya—terbukti dari Hanji yang kemudian membuka tasnya kemudian mengeluarkan sebuah kertas dari dalamnya. Sebuah kertas dengan tulisan yang tampak seperti alamat suatu tempat. Levi mengernyit melihat kertas itu di sodorkan padanya, ia baru akan membuka mulut untuk bertanya tapi Hanji sudah lebih dulu menjelaskan.
"Itu alamat rumah orang tuamu Levi—"
DEG
Levi membeku. Ekspresinya terlihat kaget untuk sejenak tapi kemudian beberapa detik berikutnya kembali datar seperti semula seolah-olah bukan apa-apa baginya.
"Kau mencari mereka?"
Hanji mengangguk singkat.
"Aku tau kau merindukan mereka."
"Tidak—aku tidak merindukan mereka." Bantah Levi dengan wajah yang amat tenang. Tapi dibalik meja tanganya sudah saling menggenggam erat dengan buku-buku jari yang memutih. Levi sebenarnya merasa sangat emosional tapi dia tidak ingin Hanji melihatnya lemah.
"Levi—"
"Aku bilang aku tidak butuh mereka Hanji!" Teriak Levi menggelegar. Teriakan kerasnya itu sempat membuat pengunjung lain menatap padanya dan Hanji penuh penasaran.
"Tapi ibumu merindukanmu Levi—setidaknya temui dia. Orang bilang dia sedang sakit."
Levi menggeleng dengan senyuman kecut. "Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi."
"Levi aku mohon…"
"Tidak Hanji. Aku tidak akan menemui mereka lagi." Ujar Levi kemudian beranjak dari kurisnya. Ia berjalan pergi menuju pintu keluar meninggalkan Hanji yang hanya bisa menghela napas dengan bola mata sendu melihat sikapnya itu.
.
.
.
"BRAK!" Levi membanting kasar pintu toilet kampus yang sepi. Ia berjalan cepat menghampiri wastefel untuk membasuh wajah tampanya beberapa kali. Rasanya segar sekali ketika air keran yang dingin bersentuhan dengan wajahnya. Pikiranya yang keruh perlahan-lahan mulai menjernih seiring napasnya yang kembali normal. Levi menatap bayanganya sendiri di kaca—pikiranya melayang pada suatu memori dimana dia sendirian di stasiun kereta. Levi sendirian dan menangis dan menganggil-manggil 'Ibunya'—Kenapa wanita itu jahat sekali? Kenapa dia dia meninggalkan Levi sendirian disana? Kenapa Levi dibuang? Tidakkah Ibunya menyayanginya seperti Levi menyayanginya dahulu?
"AAARRRGGHHH" Erang Levi keras. Ia tidak peduli apakah ada orang yang akan mendengar suaranya yang jelas dia sekarang perlu menenangkan diri—dia perlu melepaskan emosinya. Levi tidak suka perasaan sesak yang mengganggu ini—dia membencinya dan ingin segera lepas dari perasaan itu.
Tenang—Levi-tenang—katanya dalam hati.
Levi memejamkan mata sjenak kemudian ia menarik napas dan menghempuskanya pelan-pelan beberapa kali sampai akhirnya perasaanya kembali tenang. Levi membuka matanya—pandanganya jatuh pada kaca di depanya. Ia dapat melihat jelas bayanganya sendiri dan bayangan seorang bocah bermata hijau dibelakangnya yang tengah menatapnya khawatir—Kening Levi menukui tajam.
Eren? Kenapa bocah itu ada disini?
Levi kemudian berbalik. Ia bersiap memarahi eren karena ternyata bocah itu mengikutinya ke kampus tapi anehnya tak ada siapapun di belakangnya ketika Levi berbalik. Levi tidak melihat Eren dimanapun—kenapa dia tiba-tiba menghilang?
Levi kembali berpaling pada kaca besar di wastefel tapi tak ada Eren disana. Apa mungkin Levi tadi salah lihat? Tapi sepertinya tidak—dia jelas-jelas melihat Eren dibelakangnya tadi. Apa bocah itu mengerjainya? Kurang ajar! Levi mendengus!
'Dia benar-benar perlu diberi pelajaran!' Pikir Levi kesal.
Ia berjalan cepat keluar dari toilet menuju kantornya. Didekat pintu ruanganya ia melihat Petra yang tengah sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Levi menghampiri wanita berambut kuning mneyala itu.
"Petra?" Panggilnya membuat Petra sontak menghentikan kegiatanya. Wanita itu beranjak dari kursinya untuk membungkuk singkat pada Levi.
"Selamat siang sir—ada yang bisa saya bantu?"
"Apa kau tau bagaimana cara mengusir hantu?"Tanya Levi terdengar tak sabaran.
Petra sempat kaget mendengar pertanyaan Levi.
"Anda akan mengusirnya?"
"Mengusir?" Tanya Levi terdengar bingung.
Petra mengangguk, "Anda akan mengusir anak kecil yang biasa mengikuti anda kesini?"
Jadi benar? Eren sudah mengikuti Levi selama ini? Bahkan sampai ke tempat kerjanya? Tapi bagaimana Petra bisa tau?
"Saya memang punya kemampuan untuk melihat hal-hal seperti itu sir." Jlas Petra singkat melihat wajah bingung Levi.
"Hm—"
Petra tersenyum, "Anda yakin ingi n mengusirnya?" Tnyanya lagi.
"Ya—aku akan mengusirnya." Jawab Levi mantap.
Petra terlihat ngeri mendengar jawaban Levi tapi wanita itu tampaknya tak ingin berkomentar apa-apa. Petra malah membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah benda yang terlihat seperti sebuah jimat.
"Letakan ini di pintu masuk rumah anda sir. Dia tidak akan bisa masuk ke rumah anda lagi." Ujar Petra menyodorkan jimat itu pada Levi yang dengan senang hati menerimanya.
"Terimakasih."
Petra membalasnya dengan senyuman manis dan semburat kemerahan dipipinya.
.
.
.
Pulang kerja hari ini Levi merasa sangat bersemangat untuk pulang. Tak sabar rasanya untuk memasang jimat itu di pintu dan melihat apakah itu benar-benar dapat bekerja mengusir hantu atau tidak. Levi merasa tak sabar untuk mengusir Eren dari rumahnya—ahhh-tidak tapi dari hidupnya juga. Levi akan memastikan bocah itu menghilang dari sekitarnya. Jika Eren tidak bisa masuk ke rumahnya lagi mungkin bocah itu akan mencari tempat tinggal baru jadi dia tidak akan lagi mengganggu malam Levi yang tenang dan damai. Tak akan ada suara rengekan ketakutan dikala malam dan Levi bisa tidur dengan tenang mulai skarang. Levi tak sabar!
Yosh! Dengan rencananya itu Levi bahkan sampai rela naik taksi agar bisa cepat sampai ke rumahnya. Seperti kata Petra sebelum masuk ia sengaja menggantung jimat pemberian Petra didekat pintu.
'Kita lihat apakah ini dapat memberi bocah badung itu pelajaran atau tidak.' Pikir Levi dengan seringai tipis diwajahnya.
.
.
.
Dimalam hari hujan lebat mengguyur kawasan pemukiman tempat Levi tinggal. Tak hanya tumpahan air yang tumpah ruah, petir juga menyambar menggelegar serta angin dingin tak hentinya berhembus. Levi terlihat tak terganggu dengan cuaca ekstrim diluar sana. Pria 35 tahun itu malah merasa luar biasa nyaman dengan sekitar kamarnya yang dingin tetapi ia sendiri malah merasa hangat dengan selimut tebal yang membungkus kakinya dan sebuah buku ditanganya.
Bermenit-menit berlalu Levi membaca sambil beberapa kali menguap lebar. Rasanya ia mulai mengantuk—Levi memutuskan untuk menutup bukunya. Ia meletakan buku itu di nakas didekat tempat tidurnya kemudian ia berbaring nyaman ditempat tidurnya seraya menarik selimutnya yang tebal tinggi-tinggi.
Nyamana sekali~ Batin Levi senang.
Ia memejamkan matanya perlahan. Beberapa menit kemudian dalam suasana yang menenangkan seperti itu membuat Levi perlahan-lahan hampir terlelap. Tapi sayangnya sebuah telpon malah mengusiknya yang hampir sampai kealam mimpi. Dengan mata yang luar biasa berat Levi meraih ponselnya di nakas—keningnya berkerut heran melihat nama Hanji Zoe diponselnya? Tumben sekali temanya itu menelponya disaat seperti ini.
"Hallo? Hanji ada apa?" Tanya Levi setelah memencet tombol jawab di ponselnya.
"Paman Leviiiii huweeee~~~" Terdengar suara cempereng seorang bocah menangis diseberang. Levi mengenal suara itu—itu suara keponakanya atau bisa dibilang itu suaranya Armin—anak dari pasangan Hanji dan Erwin.
"Armin?" gumam Levi terdengar heran. Kesadaranya perlahan-lahan mulai pulih setelah mendengar suara segukan dari keponakanya yang terdengar menghawatirkan. Kenapa Armin menangis seperti itu?
"Paman Leviiii~ Armin kangeeennn…huks…"
Levi trsenyum kecil, "Kau merindukan paman?"
"Sangaaaatttt! Kapan paman main kesini?"
"Uhm~ Maaf Armin tapi akhir-akhir ini paman sedang sibuk."
"Yahhh~" Suara Armin terdengar kecewa.
"Mungkin besok paman bisa ke rumahmu?"
"Yey! Akan aku tunggu paman!" Teriak Armin girang diseberang telpon.
"Uhm—sekarang pergilah tidur. Ini sudah malam." Pesan Levi singkat. Bola mata hitamnya sempat melirik pada jam dinding dikamarnya dan menemukan sudah jam 0.23 pagi tapi ternyata keponakanya itu masih belum tidur. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Hanji sampai membiarkan bocah 7 tahun seperti Armin begadang seperti itu?
"Huks~~ Armin tidak bisa tidur paman." Curcol Armin terdengar sedih.
Kening Levi mengernyit—"Kenapa?"
"Okaasan menyuruhku tidur sendirian mulai sekarang."
Levi tersenyum kecil, "Bukankah sudah seharusnya seperti itu?"
"Tapi Armin belum siap! T_T Armin takut… dikamar Armin gelap paman—Armin takut. Huks" Jawab Armin dengan setengah terisak.
"Apa yang kau takutkan huh?"
"Armin takut hantu."
'Eren takut tidur sendirian. Eren takut hantu.'
DEG!
Eren? Levi baru ingat bahwa dia belum melihat bocah itu berkeliaran selama beberapa jam terakhir. Aneh, biasanya kan dijam seperti ini bocah itu sudah membuat kegaduhan diatas atau menangis berisik agar Levi memperhatikanya tapi malam ini kenapa sepi dan hening sekali? Terlalu tenang sampai Levi merasa begitu kosong dan aneh didalam dirinya.
"Paman? Paman mendengarkanku?"
Kelopak mata Levi mengerjap cepat, membawa dirinya kembali ke realita. Oh ya~ Dia sampai lupa sedang bicara dengan Armin.
"Yeah…"
"Kenapa paman diam? Bicara paman. Temani Armin bicara agar Armin tidak takut lagi."
"Sebaiknya kau cepat tidur nak. Kita bertemu besok. Paman sekarang mau tidur."
"Pa—"
PIK
Levi mematikan sambungan telpon secara sepihak. Ia tahu keponakanya mungkin akan ngambek padanya beesok tapi untuk sekarang biarlah itu dia urus nanti. Sekarang dia lebih penasaran dengan apa yang terjadi pada Eren.
Levi beranjak bangun dari tempat tidurnya yang hangat. Tak lupa ia memakai sandal rumahnya agar terlindung dari lantai yang beku. Levi berjalan menuju lantai atas dimana kamar Eren berada. Kakinya berhenti didepan pintu hijau zamrud milik Eren kemudian dibukanya perlahan pintu tersebut. Kening Levi mengernyit heran mendapati suasana kamar yang hening dan gelap.
"Bocah-? Kau didalam?"
"…"
"Bocah?"
"…"
"Eren!"
"….."
Tetap tak ada siapapun yang menjawabnya. Ini aneh—pikir Levi heran. Apa Eren sudah menghilang dari rumahnya?
DEG!
Oh ya! Levi ingat bahwa dia meletakan jimat didepan pintu tadi siang agar Eren tak bisa masuk kedalam rumah dan hasilnya sekarang Eren benar-benar tidak bisa masuk kedalam rumahnya? Ternyata jimat pemberian Petra ampuh untuk mengusir hantu?
Levi menyeringai kemenangan. Ia berjalan kembali ke kamarnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya dikasurnya yang nyaman dan hangat. Levi membungkus tubuhnya yang pendek(!) dengan selimutnya yang tebal.
Ughh… nyaman sekali—pikirnya senang. Levi memejamkan kedua matanya bersiap-siap terbang kealam mimpi. Dengan tidak adanya Eren dirumahnya mulai sekarang tidur Levi pasti akan lebih nyenyak. Dia tidak akan diganggu lagi oleh suara berisik dan tangis cempreng dan menyebalkan bocah badung itu—Levi akan tidur nyenyak mala mini—tidur nyenyak—
Ya-
Harusnya seperti itu…
Harusnya Levi bisa tidur nyenyak..
Tapi kenapa?
Kenapa dia malah tidak bisa tidur? Pikiranya malah penuh oleh Eren! Bayangan Eren yang mungkin tengah menangis diluar sana dalam kegelapan mengusik benak Levi. Ia mencoba mengenyahkan bayangan itu dari benaknya. Tapi percuma saja pikiran-pikiran aneh tentang Eren malah semakin mengusiknya membuat Levi merasa lama-lama hilang kesabaran. Ia terduduk ditempat tidurnya dengan pikiran 'Kenapa aku memikirkanya? Aku pasti sudah gila!'
.
.
.
Eren Yaeger—bocah bermata hijau zamrud itu tampak duduk meringkuk dengan tubuh yang bergetar didepan sebuah bangunan toko yang telah tutup. Beberapa kali ia terlihat berteriak saat mendengar suara petir yang menggelegar diatasnya. Isakan pilu bocah itu begitu keras dan menyayat hati tapi tak ada seorangpun yang mendengarnya. Orang-orang yang kebetulan lewat tak satupun menyadari kehadiran bocah itu. Mereka seolah-olah tak tahu bahwa ada seorang bocah tengah menangis dengan tubuh bergetar ketakutan didekat mereka.
Eren yang malang… Mungkin harusnya dia tidak mengikuti Levi ke tempat kerjanya dan membuat Levi marah padanya sampai tak membiarkanya masuk rumah. Tadi sore sewaktu Eren mengikuti Levi pulang kerumah dia melihat Levi meletakan sesuatu di dekat pintu dan entah kenapa setelahnya Eren mendapati dirinya tak bisa masuk ke rumah. Dia tidak bisa mendekati pintu dan berakhir dengan dirinya yang sekarang menggigil seperti gelandangan di emperan toko.
"Hiks… hiks…Eren takut—" Isaknya dengan tubuh yang sepenuhnya bergetar dan menggigil kedinginan.
Dia takut—
Siapapun tolong selamatkan dia.
Eren tidak mau tinggal sendirian seperti itu.
Levi—sir Levi tolong—
"Hei bocah."
DEG!
Eren sontak mengangkat wajahnya mendengar suara yang familiar itu. Iris Hijaunya sepenuhnya membola melihat seorang pria berambut ebony hitam berdiri menjulang didekat kaki kecilnya dengan sebuah payung hitam ditanganya.
"S-sir?" Gumam Eren dengan tatapan mata yang terkesan tak mempercayai apa yang dia lihat sekarang. Levi disana? Levi menjemputnya?
"Ayo pulang." Ujar Levi seraya mengulurkan tanganya.
Eren menatap tangan yang terulur itu ragu. Dia ingin menyambut uluran tangan itu tapi Eren tidak akan bisa—dia tidak akan bisa menyentuh Levi. Percuma saja tanganya nanti akan menembus tangan Levi begitu saja.
"Apa yang kau tunggu? Cepatlah aku mulai lelah sekarang." Ujar Levi dengan nada agak kesal.
Eren tersentak—bola matanya bergetar menatap Levi yang mulai terlihat tak sabaran menunggunya.
Jemari mungil Eren yang gemetar perlahan bergerak untuk menyambut uluran tangan Levi…
Tuhan—Eren mohon tolong biarkan Eren bisa menyentuhnya—Eren memejamkan matanya…
Dia takut dengan kemungkinan bahwa dirinya hanya akan menembus Levi saja seperti waktu itu. Tapi ternyata keajaiban terjadi. Tangan mungil Eren tak menembusnya. Si bocah bisa merasakan tangan hangat Levi bersentuhan dengan tangan mungilnya dan rasanya luar biasa hangat—
Ini bukan mimpi kan?
Eren membuka kelopak matanya perlahan. Ia menatap takjub tanganya yang digenggam Levi. Kepala coklatnya mendongka menatap pada yang lebih tua untuk melihat ekspresinya.
"Apa?" Tanya Levi datar.
Eren nyengir lebar, surai coklatnya menggeleng cepat.
"Kenapa sekarang kau malah nyengir seperti itu bocah badung? Dasar tidak tau sopan santun." Gerutu Leci terdengar kesal.
Eren terkikik.
"Sudah sebaiknya sekarang kita pulang." Ujar Levi membuat Eren beranjak untuk berdiri.
Keduanya lantas berjalan menembus gelapnya malam sambil sesekali terdengar celotehan riang Eren.
"Ini artinya sir Levi sudah memaafkan Eren kan?"
"Diam!"
"Sir Levi baik! Eren sayang sir Levi!"
"Aku bilang diam bocah!"
.
.
.
TBC
