Pukul 11, setelah selesai latihan basket, cepat-cepat Jaehyun berlari menghampiri Taeyong yang masih setia menunggu dan menontonnya di kursi penonton.

"Hyung, ayo! Aku lapar!" Jaehyun menarik tangan Taeyong.

Taeyong terkekeh. "Basket memang benar-benar menguras energi ya, Jae. Padahal saat break tadi aku terus menyuapimu sandwich."

Sebenarnya Jaehyun tidak merasa terlalu lapar saat ini. Alasan sebenarnya mengapa ia ingin segera membawa Taeyong pergi dari lapangan ini tentu saja karena Jaehyun tidak suka bagaimana teman-teman tim basket nya, terutama Johnny, menatap Taeyong!

Saat break time 2 kali selama sesi latihan berlangsung tadi, Jaehyun memang sengaja meminta Taeyong menyuapinya sandwich, meskipun ia lebih dari mampu untuk makan sendiri. Jaehyun hanya ingin menunjukkan dengan jelas pada teman-temannya kalau Taeyong itu miliknya. Hanya miliknya seorang!

"Jae! Ayo makan siang bareng! Aku yang traktir!" Johnny berteriak dari sebrang lapangan.

Jaehyun menggeram kesal. Sejak kapan kapten tim basket nya yang terkenal sangat pelit itu mau mentraktirnya makan? 'Alasan saja! Pasti tujuan utamanya hanya agar dia bisa dekat-dekat Taeyong hyung!' Jaehyun menggerutu dalam hati.

Jaehyun sama sekali tidak menggubris perkataan Johnny. Ia mempercepat langkahnya sambil terus menuntun Taeyong, pura-pura tidak dengar.

"Jae, itu temanmu bilang…." Taeyong berhenti bicara saat ia merasakan genggaman tangan Jaehyun yang semakin erat. Ia hanya bisa memandangi punggung Jaehyun dengan bingung. 'Jaehyun sepertinya tidak menyukai temannya yang bertubuh sangat tinggi itu', Taeyong berkata dalam hatinya.

Setelah sampai di tempat parkir, barulah Jaehyun melepaskan genggaman tangannya yang sangat erat di tangan Taeyong.

"Hyung, kita makan siang di apartemenmu saja ya? Kita pesan pizza atau ayam goreng. Aku sebenarnya ingin mengajakmu makan di luar sih, tapi badanku penuh keringat begini. Aku juga lupa tidak bawa baju ganti."

Taeyong mengangguk sambil tersenyum. "Iya Jae, sebaiknya kau memang mengganti bajumu dulu."

Jaehyun terkekeh. "Aduh, aku pasti bau ya hyung."

Taeyong menggeleng. Tanpa Jaehyun duga, Taeyong malah mendekatinya dan membantunya menyeka keringat di wajah, leher, serta lengannya dengan menggunakan handuk kecil.

"Kau harus mengganti bajumu karena memakai baju yang basah tidak baik untuk kesehatanmu, Jae. Nanti bisa masuk angin." Taeyong berkata sambil menekan-nekan handuk kecil di wajah Jaehyun dengan telaten dan lembut.

Jaehyun hanya terdiam. Terlalu terpesona dengan wajah manis Taeyong yang kini hanya berjarak beberapa cm saja darinya. Ia juga sangat terpesona dengan sikap Taeyong yang gentle dan sangat perhatian.

Setelah selesai menyeka keringat di wajah dan leher Jaehyun, kini Taeyong menekan-nekan handuk kecil itu dengan lembut di lengan atas Jaehyun yang terbuka. "Kau punya otot yang bagus, Jae." Celetuk Taeyong.

Jaehyun menyeringai. "Tentu saja."

Taeyong mendengus, lalu tertawa. "Hati-hati, hidungmu nanti terbang."

"Tenang saja, kan ada hyung yang akan menangkapkannya untukku." Jaehyun nyengir.

Taeyong memutar kedua bola matanya. "Ih, garing."

Jaehyun menyeringai semakin lebar. "Jadi, kau suka yang basah, hyung?" Suaranya yang nge-bass sengaja ia buat agar terdengar semakin dalam dan berat, berharap terdengar semakin sexy.

Taeyong memukul lengan Jaehyun dengan keras. "Otakmu pasti kacau karena kelaparan. Sudah, sudah. Ayo kita pulang! Nanti kau ganti baju, makan, mandi, terus istirahat. Sore nanti ada kumpul OSIS kan?"

Jaehyun mengangguk. "Iya, manager."

Taeyong melotot. "Aku bukan manager-mu!"

"Kalau begitu… mommy?" Jaehyun mengerling jahil.

"Kenapa aku harus jadi ibumu?" Taeyong menjewer telinga Jaehyun.

"Karena kau sering menjewer telingaku, hyung. Sama seperti mom." Jaehyun merajuk.

"Sudah, sudah. Ayo menyetir." Taeyong menepuk-nepuk pipi Jaehyun pelan.

Jaehyun menghela napas panjang. Tadinya ia ingin menggoda Taeyong dengan berkata 'Kau kan calon ibu dari anak-anakku, hyung.' tapi tidak jadi karena kalimat itu sudah terlalu pasaran dan pastinya terdengar konyol sekali kalau Jaehyun yang mengatakannya.

Berbeda dengan tadi pagi, kali ini Jaehyun menyetir dengan kecepatan sedang. Cara menyetirnya pun tidak seperti pembalap amatir lagi.

"Nah, kalau menyetirnya seperti ini kan enak, Jae." Taeyong mendesah pelan sambil menyandarkan punggungnya dengan nyaman di jok mobil.

Jaehyun terkekeh. "Aku kan memang selalu gentle, hyung."

Taeyong mencibir. "Gentle apanya? Kau seringnya seradak-seruduk. Sok manly sekali, tapi jadinya terkesan kasar. Saat kau menuntun tanganku juga. Sakit tau!"

Bukannya merasa simpatik, Jaehyun malah tersenyum semakin lebar karena ekspresi imut Taeyong saat ini.

"Hey! Malah nyengir!" Taeyong memukul lengan Jaehyun bertubi-tubi. Tidak sakit sih, malah terasa geli. "Lain kali, kalau menuntun tanganku lagi, lakukan dengan benar, Jung! Jangan terkesan seperti mau meremukkan tulang-tulangku! Dan tolong, jalannya pelan-pelan. Kakimu memang panjang, tapi kakiku kan tidak. Capek tau mengekor di belakangmu sambil lari-lari kecil. Pasti kau tidak sadar sih. Dan yang namanya menuntun itu berarti kau harus memposisikanku di sampingmu, bukan di belakangmu, dan bukan menyeretku."

Jaehyun meringis mendengar omelan Taeyong. "Maaf hyung, aku tidak tahu." Jaehyun berkata dengan sungguh-sungguh.

Untungnya, saat ini lampu merah, sehingga Jaehyun bisa menoleh dan menatap Taeyong lekat-lekat, meminta maaf dengan ekspresi wajahnya yang memelas.

"Kau harus menuntunku seperti ini." Taeyong meraih tangan kiri Jaehyun dan menggenggamnya dengan lembut. Genggamannya tidak terlalu kuat, namun juga tidak terlalu longgar. Rasanya benar-benar nyaman. Jaehyun tersenyum lebar, senang karena sentuhan Taeyong langsung mengirimkan sengatan-sengatan kebahagiaan tepat ke jantungnya.

"Seperti ini, hyung?" Jaehyun balas menggenggam tangan Taeyong seperti bagaimana cara Taeyong menggenggamnya.

Taeyong mengangguk. "Hmm."

Jaehyun nyengir. Lampu lalu lintas sudah kembali hijau, Jaehyun langsung tancap gas. Taeyong berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jaehyun, tapi Jaehyun tidak mengizinkannya. Ia mempererat genggaman tangannya dengan kuat selama beberapa saat, lalu kembali melonggarkannya sedikit, seperti yang sudah Taeyong ajarkan padanya.

"Aku pandai kok menyetir dengan satu tangan." Jaehyun berkata dengan percaya diri sambil tersenyum simpul. Matanya yang terus terfokus ke depan jadi melewatkan ekspresi kaget yang melintas di wajah Taeyong selama beberapa detik. Taeyong menggigit bibir bawahnya, berpikir dengan melakukan hal itu maka ia akan membuat jantungnya yang bertalu-talu kencang akan kembali berdetak normal. Kali ini, giliran Taeyong lah yang merasakan sengatan-sengatan aneh yang menjalar dari genggaman tangan mereka langsung menuju jantungnya.

Pada akhirnya, Taeyong memutuskan untuk membiarkan Jaehyun terus menggenggam tangannya selama di perjalanan, sampai mereka tiba di apartemen, karena Taeyong anehnya merasa sangat nyaman.

.

.

.

Sore harinya, pukul 4, Jaehyun harus pergi ke sekolah lagi untuk menghadiri rapat OSIS yang membahas persiapan festival musik tahunan.

"Hyung, kali ini jangan pakai short pants!" Jaehyun berteriak dari dalam kamarnya.

"Ya iyalah, Jae! Aku kan hanya pakai short pants di rumah! Tadi pagi terpaksa pakai gara-gara tidak sempat ganti!" Taeyong balas berteriak dari dalam kamarnya. Mereka sedang ganti pakaian di dalam kamar masing-masing, bersiap-siap pergi ke sekolah.

Jaehyun terkekeh senang. "Yes! Tentu saja! Hanya aku yang boleh melihat paha mulus Taeyong hyung." Jaehyun bergumam pelan sambil mengancingkan kemeja biru langit-nya.

Jaehyun meraih ponsel dan kunci mobil, memastikan dompetnya sudah berada di dalam saku jeans, lalu berjalan ke luar kamar.

"Hyung, sudah siap belum?" Jaehyun mengetuk pintu kamar Taeyong yang tertutup.

"Beluuuum." Jawab Taeyong.

"Oke." Jaehyun pun berjalan ke dapur, membuka lemari pendingin, dan menegak sekaleng cola. Cuaca di luar panas sekali. Memang sih, tadi Jaehyun sudah mandi, tapi tubuhnya yang memang gampang berkeringat itu membuatnya ingin meminum minuman yang dingin-dingin dan berada di ruangan yang dingin.

Setelah menghabiskan sekaleng cola, Jaehyun meraih sekaleng pocari dingin, lalu berjalan ke ruang tengah, meraih remote AC dan membuat ruangan semakin dingin.

"Aah, segar." Jaehyun menghempaskan tubuhnya di sofa, berbaring sambil menonton TV. Pocari dingin ia letakkan di atas meja di sampingnya.

Sekarang sudah pukul 3 kurang 10. Tapi tenang saja, hanya butuh waktu 40 menit menyetir ke sekolah bila Jaehyun menyetir lambat. Kalau secepat pembalap sih, Jaehyun bisa sampai hanya dalam waktu kurang dari 15 menit!

10 menit kemudian, setelah Jaehyun menghabiskan pocari, dan merasa tidak ada tontonan yang bagus di televisi, Jaehyun bangkit berdiri dan berlajan ke arah kamar Taeyong, kembali mengetuk pintunya. "Hyung, sudah siap?"

"Beluuuum." Terdengar jawaban yang sama.

Jaehyun menghela napas panjang. "Kok lama sekali sih hyung?"

"Berisik!"

Jaehyun pun hanya bisa manyun karena dibentak begitu. Ia kembali berjalan menuju sofa, kali ini dengan langkah gontai.

Taeyong kesal karena ia tidak punya baju!

Oke, ia punya banyak sekali baju di dalam lemarinya, tapi tak ada satupun yang cocok. Semuanya terlihat membosankan.

"Setelah rapat nanti kan… aku akan mengajak Jaehyun jalan-jalan. Masa hanya pakai pakaian yang biasa?"

Ya, Taeyong memang berniat mengajak Jaehyun malam mingguan seusai rapat OSIS nanti. Ia bosan berada di rumah terus. Semenjak menginjakkan kakinya di Seoul, Taeyong belum pernah sekalipun jalan-jalan! Aktivitasya hanyalah berputar di sekitar sekolah dan apartemen.

Jaehyun terlihat segar dan tidak terlihat lelah sehabis latihan basket tadi. Karena itulah, Taeyong memutuskan untuk mengajak Jaehyun jalan-jalan nanti malam, meskipun ia belum bilang pada Jaehyun soal rencananya ini.

"Jaehyun pasti mau kok. Apalagi kalau aku yang traktir makan." Taeyong mengangguk yakin.

"Hyung, sudah?" 5 menit kemudian, terdengar ketukan lagi di pintu.

"Iya, iya, sebentar lagi!"

Taeyong jadi bertanya-tanya, apa iya Jaehyun terus menunggunya di depan pintu?

Taeyong akhirnya memutuskan untuk memakai t-shirt putih, jeans, dan sneakers merah. Simpel.

Sekarang ia merasa agak kesulitan menata rambut cokelatnya yang agak gondrong. "Poni nya dibiarkan saja? Atau…"

"Hyuuuung!"

"IYA, JAEHYUN BAWEL! MASUK SAJA! AKU SUDAH GANTI BAJU KOK!"

Jaehyun membuka pintu. "Hyung, lama sekali sih! Nanti jangan salahkan aku ya kalau menyetirnya ugal-ugalan lagi!"

Taeyong berdecak. "Sabar, Jae! Aku bingung rambutku diapakan."

Jaehyun mengangkat sebelah alis matanya. "Tidak usah diapa-apakan juga sudah keren kok, hyung. Gaya rambut apapun pasti cocok di wajah manis hyung."

Taeyong memutar kedua bola matanya. Ia mengira Jaehyun mengatakan kalimat pujian itu hanya agar Taeyong cepat selesai dan keluar dari dalam kamar.

"Hhhh, ya sudah, poninya dibiarkan saja."

Jaehyun mengangguk. "Iya hyung. Biar kelihatan cute."

Jaehyun pikir, Taeyong sudah selesai. Ternyata….

"Hyuuung, kenapa malah mengambil eye liner?"

Taeyong mendelik kesal pada Jaehyun lewat cermin. "Memangnya kenapa?"

"Nanti hyung jadi terlihat semakin cantik! Aku tidak mau teman-temanku semakin mengagumi hyung!" Jaehyun merebut eyeliner hitam di tangan Taeyong, meletakkannya di atas kasur, dan cepat-cepat menarik tangan Taeyong, berjalan ke luar kamar.

"Jae, ingat apa yang kukatakan saat di mobil tadi siang?"

Jaehyun berhenti berjalan lalu membalikkan badannya. "Hehehe, maaf hyung." Jaehyun nyengir, sok cute.

Taeyong mendengus kesal.

Jaehyun melonggarkan genggaman tangannya yang terlalu kuat di jemari tangan Taeyong, membelai punggung tangan Taeyong dengan menggunakan ibu jarinya – meminta maaf secara tersirat – lalu mulai menggenggam tangan Taeyong dengan lembut, seperti yang Taeyong sukai.

"Kita pergi sekarang ya?" Jaehyun bertanya dengan nada hangat dan lembut.

Taeyong mengangguk. Ekspresinya masih muram.

Jaehyun mengira Taeyong masih kesal padanya gara-gara perlakuan Jaehyun yang "kasar". Padahal sebenarnya, Taeyong merasa kesal karena Jaehyun tidak mau menunggunya memakai eyeliner! 'Pakai alasan takut teman-temannya semakin mengagumiku segala! Apaan?! Dasar Jung Jaehyun tidak sabaran!' Taeyong terus mengoceh di dalam hati.

"Hyuuung, aku sedih kalau hyung marah atau kesal padaku." Jaehyun menggoyang-goyankan lengan Taeyong dengan manja.

Taeyong mendelik tajam. "Jangan sok manja!"

"Hyuuung…" Jaehyun tanpa sadar malah semakin menunjukkan aegyo. "Hyung, senyum doong. Jangan marah padaku. Aku mau melakukan apapun asal hyung senyum."

Taeyong memicingkan matanya. "Apapun?"

Jaehyun mengangguk. "Hmm."

Taeyong akhirnya tersenyum. Sangat lebar malah. "Kalau begitu, sepulang rapat nanti, kita nonton ya! Terus belanja! Aku ingin beli baju dan snapback. Tenang saja, Jae, nanti aku yang traktir makan kok."

Jaehyun terkekeh. Kalau membuat Taeyong tersenyum ternyata semudah ini sih… Jaehyun tidak keberatan. "Oke, hyung! Aku akan menemani hyung kemanapun hyung mau. Aku akan jadi supir hyung, bahkan sampai pagi sekalipun!"

Taeyong memukul lengan Jaehyun sambil tertawa. "Supir? Cocok juga julukan itu untukmu, Jae."

"Hyuuung, ya ampun… teganya."

Taeyong masih tetap tertawa. "Kau sendiri sih yang mengusulkan sebutan itu! Eh, Jae, kenapa kau jadi sering pakai contact lens?"

"Pakai kacamata ribet sekali, hyung. Lagipula, aku jadi kelihatan lebih ganteng kan kalau pakai lensa kontak. Hehehe."

"Dasar!" Taeyong menjitak kepala Jaehyun dengan gemas.

Taeyong senang sekali karena selama di perjalanan menuju sekolah, Jaehyun tak henti-hentinya membuat ia tertawa.

.

.

.

Oke, sekarang Taeyong merasa tidak senang! Sangat sangat tidak senang!

Ia pikir, rapat persiapan festival akan menyenangkan, ternyata…

"Jae, ini, minum susu cokelat punyaku. Aku kan tidak suka susu cokelat." Doyoung, sang ketua pelaksana festival musik, yang kini duduk tepat di samping Jaehyun, berkata dengan nada manja dan raut wajah minta ditampar Taeyong!

Entahlah, Taeyong juga tidak mengerti, mengapa sejak pertama kali bertemu Doyoung, ia langsung merasa tidak suka pada pemuda bergigi kelinci itu.

Saat ini, Mark, adik kelas sekaligus wakil ketua pelaksana, sedang membagi-bagikan makanan ringan untuk setiap orang yang hadir. Panitia festival musik ini tidak hanya berasal dari anggota OSIS, tapi juga perwakilan semua kelas, siswa biasa yang memang tertarik, dan tentunya anggota klub musik dan teater.

"Jae, ini makan kue brownies punyaku juga." Doyoung berkata sok manis.

Taeyong mendengus. Matanya yang besar melotot tajam dan garang pada Doyoung. Taeyong menggigit dan mengunyah kue-nya dengan bar-bar, membayangkan kalau kue itu adalah Doyoung, tapi tetap saja meskipun cara makan Taeyong sangat tidak berkelas, orang-orang di sekitarnya menganggap ia keren.

"Hyung, aku tidak pernah percaya gossip yang beredar tentangmu." Cicit Jisung, anak kelas 10 yang duduk di samping kiri Taeyong.

Taeyong menoleh, tersenyum sekilas. "Terima kasih."

"Aku juga, hyung!" Jeno, yang duduk di samping kanan Taeyong kini nyengir lebar, matanya juga ikut tersenyum seperti bulan sabit.

"Terima kasih." Taeyong tersenyum tulus pada Jeno. Tapi ekspresinya langsung berubah kelam lagi saat ia melihat Doyoung membersihkan sisa-sisa kue brownies yang menempel di sudut bibir Jaehyun dengan menggunakan tissue.

"Dasar Jaehyun si pecinta makanan! Tidak bisa menolak kalau disodori makanan! Apaan itu si gigi kelinci terus-terusan nyosor?!" Taeyong berbisik dengan sangat geram.

"Hyung, kau tidak suka pada Doyoung hyung?" Pertanyaan Jisung yang tiba-tiba itu membuat Taeyong kelabakan.

"Eh?"

"Aku juga tidak suka padanya, hyung." Jisung berbisik. "Dia bossy sekali. Aku berharap, yang jadi ketua panitia Mark hyung saja. Kalau hyung, kenapa hyung tidak suka pada Doyoung hyung? Dia sering memerintah ini-itu juga pada hyung tanpa embel-embel kata tolong? Pada kakak kelas?" Jisung membelalakkan matanya dengan lucu.

Taeyong merenung. Ia juga tidak tahu kenapa ia langsung tidak menyukai Doyoung pada pandangan pertama!

Doyoung itu… entahlah. Taeyong punya firasat yang buruk tentangnya. Taeyong juga tidak suka cara dia bersikap sok manja dan sok manis di hadapan Jaehyun, tapi sok tegas dan berwibawa di hadapan yang lain.

"Aku tidak suka karena aku ditempatkan di seksi konsumsi." Taeyong berbisik pada Jisung yang hanya mengangguk, dengan polosnya langsung memercayai kebohongan Taeyong.

Taeyong menghela napas panjang. Ia tidak sepenuhnya berbohong sih. Ia memang suka memasak, tapi bukan berarti ia senang berada di seksi konsumsi.

Ia pikir, ia akan berada di seksi acara atau dekorasi, seperti yang Jaehyun katakan, dan ia senang karena Jaehyun sering berada di kedua seksi tersebut. Eh, ternyata… sang ketua pelaksana, Kim Doyoung, malah menempatkannya di seksi konsumsi, di mana Jaehyun tidak pernah terlibat di dalamnya, seolah-olah Doyoung memang sengaja ingin menjauhkan Taeyong dari Jaehyun!

Selama rapat berlangsung, Taeyong tidak bisa fokus. Saat rapat setiap seksi juga. Matanya selalu curi-curi pandang ke arah Jaehyun, dan pasti selalu ada Doyoung di dekatnya!

Taeyong menggertakkan giginya. Ia ingin rapat ini segera berakhir.

.

Tepat pukul 6, akhirnya rapat selesai!

Taeyong segera menghampiri Jaehyun dan menarik tangannya, tanpa memberikan kesempatan pada Jaehyun untuk berpamitan pada Doyoung – yang masih mengajaknya ngobrol. "Ayo, Jae!"

"Hyung, tadi Doyoung mengajakku…"

"Jangan! Jangan terima ajakannya." Taeyong memotong kata-kata Jaehyun.

Jaehyun terkekeh. "Dia mengajakku makan, tapi aku bilang… aku sudah janji akan menemani Taeyong hyung."

Taeyong tersenyum puas. "Bagus."

"Ngomong-ngomong, hyung, kau jadi tertular aku ya? Lihat! Sekarang malah kau yang menarik-narik tanganku begini."

Taeyong baru sadar. Ia memperlambat langkahnya, jadi berjalan di samping Jaehyun. Genggaman tangannya pun ia longgarkan. "Maaf Jae, aku…"

"Tidak apa-apa hyung. Aku malah senang." Jaehyun cengengesan seperti orang idiot.

Taeyong tertawa. "Dasar aneh! Eh iya, Jae, besok latihan basket siang kan? Jam berapa? Aku boleh ikut lagi kan?"

"Jangan!" Jaehyun langsung menjawab dengan cepat.

Taeyong mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Aku tidak suka melihat bagaimana cara Johnny hyung dan teman-teman tim basketku yang lain menatap hyung!"

"Cih! Biar saja! Aku mau tetap datang!" Taeyong keras kepala. 'Aku juga tidak suka melihat bagaimana cara Doyoung menatapmu, Jae! Sangat menyebalkan! Doyoung itu sok manja dan sok manis sekali di hadapanmu! Aku benci padanya!' Taeyong menambahkan dalam hati.

"Hyuung, kau diam di rumah saja, ya?"

"Tidak mau! Aku mau melihatmu latihan!"

"Hyuuung…"

"Diamlah, Jae! Dan ayo cepat! Aku sudah tidak sabar ingin segera nonton, lalu belanja, lalu makan."

"Makan dulu, hyung…"

Taeyong tertawa. Sungguh, ia tidak bisa merasa kesal terlalu lama pada pria berlesung pipit di hadapannya ini.

"Oke, oke, mau makan apa?"

"Sushi dan udon! Ayo hyung!" Jaehyun melepaskan genggaman tangan Taeyong, tapi kali ini ia merangkul pundak Taeyong dengan sebelah lengannya, membuat Taeyong tersenyum senang.

Ia tahu, sebagai "mantan kakak tiri", ia terlalu protektif pada Jaehyun. Tapi ia sungguh-sungguh tidak suka bila ada orang lain yang bermanja-manja pada Jaehyun, apalagi kalau Jaehyun yang bermanja-manja pada orang itu!

'Aku tidak salah kan? Memang karena itu kan, alasan mengapa aku kesal pada Doyoung tadi? Aku kakak yang terlalu protektif.' Taeyong bertanya-tanya dalam hatinya.

.

.

.

Catatan Author : Ceritanya slow, nggak apa-apa ya? Hihihi. Makasih lho yang udah review. *kecup kalian satu-satu*