Sehun dan Kyungsoo tak bisa berhenti menganga melihat perubahan Chanyeol hari ini. Bukan perubahan dari segi penampilan atau apapun, tapi ini tentang mood pria jangkung itu. Bayangkan saja, setelah mentraktir mereka sushi dan pizza ukuran besar, Chanyeol tak berhenti tersenyum, bahkan tak sekali-dua kali memuji langit malam di luar sana yang sebenarnya sama saja seperti malam-malam di musim panas setiap tahunnya. Semula Kyungsoo dan Sehun pikir itu adalah efek dari selesainya pekerjaan mereka. Tapi pemikiran lain datang detik berikutnya.
Perubahan mood Chanyeol pasti dipengaruhi sesuatu yang lebih dari sekedar pekerjaan.
Well, apa lagi selain seorang Byun Baekhyun? Duh.
"Kencanmu kemarin dengan Baekhyun berjalan lancar ya?" Kyungsoo menebak. Ia tak sempat bertanya pagi ini tentang kencan itu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi sepertinya tebakannya belum cukup telak.
"Apa hal bagus terjadi saat kalian berkencan?" Sehun ikutan menebak. Dan kali ini—sangat telak. Pipi Chanyeol yang merona adalah bukti konkretnya.
"A–apa?" Si mangaka terlihat salah tingkah. Matanya dengan sigap menatap objek lain selain dua pasang mata di hadapannya. "T–tidak ada! Kencan kami berjalan baik, itu saja! Tak ada hal bagus apapun yang terjadi kok!" Ia berdalih—seperti biasa. Sehun dan Kyungsoo secara kompak mendengus melihat akting gagal sahabat mereka.
"Yak, tidak perlu disembunyikan segala. Apa kau bahkan sadar kau tak berhenti tersenyum semenjak tadi pagi? Sudah pasti ada hal bagus yang terjadi di antara kalian." Sehun mencondongkan tubuhnya, lalu membentangkan seringaian jahil di sudut bibirnya. "Katakan, apa kalian berciuman kemarin?"
BLUSH!
Tolong jangan tanya seberapa merah wajah Chanyeol sekarang.
.
.
.
###
MANGAKA'S MANGA
Chapter 3 – Puppy Next Door
Main Casts : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Support Casts : Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kris Wu, Kim Jisoo (BP), Lalisa Manoban (BP)
Genre : Romance, Humor
Rate : T
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Chanyeol & Kris (30 tahun)
Baekhyun & Lisa (22 tahun)
Sehun & Jisoo (25 tahun)
Kyungsoo (27 tahun)
###
.
.
.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"YA TUHAN, KALIAN BENAR-BENAR BERCI–"
"Aish, pelankan suaramu, Do Kyungsoo!" Chanyeol langsung membekap mulut Kyungsoo yang memekik tiba-tiba. Diliriknya Sehun yang masih menyeringai di tempatnya, lalu melanjutkan ucapannya, "Dan tidak. Kami tidak berciuman. Jadi, berhentilah heboh sendiri."
Secara teknis, Chanyeol tidak berbohong. Berciuman itu berarti bibir dengan bibir bertemu, dan ada adegan saling kecup di dalamnya. Sementara yang kemarin itu bibir dengan kening saling menempel, jadi itu tidak termasuk ke dalam kategori berciuman'kan? Lagipula, itu bukan atas inisiatif Chanyeol sendiri. Itu murni sebuah kecelakaan.
"Benarkah? Kau yakin?" Sehun masih menggoda Chanyeol.
"Berhenti menanyakan hal yang sama dua kali, Oh Sehun."
"Jadi, itu benar?" Sehun belum menyerah.
"Aish! Sudah kubilang itu tidak benar!"
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"Kau benar-benar yakin?"
Chanyeol menatap datar Sehun. "Kau tahu di ruangan ini adalah tongkat baseball, dan aku tak'kan ragu untuk menggunakannya."
Sehun mengedikkan bahunya, lalu mengambil sepotong pizza di meja.
"Hey, sudahlah." Kyungsoo menengahi. "Kau ambil saja sisi terangnya, Yeol. Setidaknya kau ada kemajuan dalam melakukan pendekatan, bukan?"
Well, itu memang benar, dan Chanyeol tak bisa lebih berterima kasih lagi pada Kyungsoo untuk yang satu ini.
"Omong-omong, besok pertandingannya dimulai pukul delapan. Jangan sampai telat." ucap Sehun pada Kyungsoo. Pria bermata belok itu mengangguk paham.
"Pertandingan apa?" tanya Chanyeol agak penasaran.
"Hanya pertandingan tenis di kompleks rumahku. Itu acara rutin setiap bulan. Kyungsoo biasa menjadi partner-ku."
"Wow, aku tidak tahu kalian hobi bermain tenis." Chanyeol cukup terkejut mendengar penuturan Sehun. Namun kejujurannya itu malah direspon dengan Kyungsoo yang geleng-geleng tak percaya.
"Astaga, aku bahkan tak tahu apa yang lebih mengejutkan. Fakta bahwa kau baru tahu hobi kami atau kau tahu merk shampo yang dipakai Baekhyun."
Dan sindiran Kyungsoo membuat Sehun tertawa puas. Sementara si jangkung bermarga Park melayangkan kembali tatapan datar pada kedua sahabatnya. Sial—batinnya. Ia secara tidak langsung dikatai penguntit.
"Omong-omong tentang besok, pertandingan ini bukan hanya tentang tenis." ucap Sehun, ekor matanya melirik Kyungsoo di jeda kalimatnya. "Tapi tentang seorang pria yang mengantarkan bayi, dan pria lainnya yang mengancam akan memakan bayi itu."
Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti. "Maksudmu?"
"Do Kyungsoo." Seringaian Sehun muncul ke permukaan, tertuju langsung pada Kyungsoo yang diam-diam menyimak. "Dia ternyata seorang sadis di lapangan tenis."
"Hey, itu tidak benar! Aku hanya.." Kyungsoo berpikir sejenak. "Sedikit bersemangat. Itu saja."
"Ya, katakan itu pada pria yang mengatakan 'Aku akan membakar hangus rumahmu, dan memakan anak-anakmu, Pak Tua!'." Tawa nista Sehun menggema di ruangan setelah menirukan perkataan Kyungsoo setiap kali mereka bermain tenis. Chanyeol juga pada akhirnya ikut tertawa, meski tidak seheboh yang paling muda.
"Aish, sudah kubilang itu adalah kebiasaan! Aku bisa apa, coba?!" Kyungsoo berusaha membela diri, tapi malah terdengar menggelikan di telinga Sehun. Alhasil, tawa pria albino itu semakin kencang. Kyungsoo sudah sedikit ini untuk meledak, tapi ponselnya yang berdering lebih dulu mengalihkan perhatiannya. "Aku akan kembali setelah mengangkat ini." ancamnya sebelum menghilang di balik pintu.
"Oh, astaga, ahahaha!" Sehun mengusap sudut matanya yang mengeluarkan airmata. "Kau tahu, Yeol? Kyungsoo adalah partner terbaik sepanjang masa, ahahaha!"
Chanyeol tersenyum jahil. "Kenapa kau tidak pacaran dengannya saja sekalian?" godanya.
"Oh, tentu, akan kupikirkan."
Chanyeol sontak dibuat melotot. "Kau serius?"
"Uh-huh." Sehun menyeringai. "Kalau kau menyatakan perasaanmu pada Baekhyun duluan~"
"Sialan." Chanyeol mengumpat. Ia seharusnya tahu Sehun tak'kan memberikan tontonan menarik secara cuma-cuma.
"Oh ya, aku baru ingat." Sehun tiba-tiba berdiri dari duduknya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas-nya, lalu memberikannya pada Chanyeol. "Besok kau libur'kan?"
"Apa ini?" tanya Chanyeol sambil membaca sekilas selebaran yang diberikan Sehun.
"Ada toko es krim yang baru dibuka dekat taman kota. Ajaklah Baekhyun kesana. Kudengar ia suka es krim."
Bola mata Chanyeol sontak membeliak karena perkataan Sehun barusan. Rona kemerahan samar-samar merambat ke pipinya. "M–mengajak Baekhyun? Maksudmu, aku yang mengajaknya? Begitu?"
Sehun memutar bola matanya malas. Sungguh, ia gagal paham pada otak Chanyeol yang selalu mogok setiap kali mereka membahas Baekhyun.
"Tentu saja kau, bodoh. Siapa lagi?"
"T–tapi, bagaimana caranya?"
Sehun menghela napas lelah. Ia bersumpah, jika ada yang membuatnya merasa sangat gemas, itu adalah tingkah Chanyeol. Tidak dalam artian manis atau semacamnya, karena Chanyeol sudah berumur tiga puluh tahun, dan tingkahnya lebih mirip remaja labil yang baru merasakan cinta pertama.
"Besok adalah hari membuang sampah'kan?" Sehun memastikan. Chanyeol mengiyakan dengan anggukan kepala. "Kau diam saja di depan pintu sampai Baekhyun keluar untuk membuang sampah, basa-basi sedikit, lalu ajaklah ia makan es krim. Sederhana, bukan?"
"Um..kau yakin ini akan berhasil?"
"Aish!" Sehun mulai kesal. "Kau itu hanya akan mengajaknya makan es krim, bukan menikah, Park Chanyeol!"
Chanyeol terdiam setelahnya. Well, itu memang benar. Rencana Sehun juga terdengar mudah, jadi kenapa ia masih ragu?
"Dan kali ini, pastikan kau menggenggam tangannya."
"Menggenggam–" Rahang Chanyeol langsung dibuat jatuh. Kedua bola matanya kembali membeliak. "Apa kau sudah gila?! Aku tidak mungkin melakukan hal itu! Bagaimana kalau Baekhyun–"
"TATATA!" Sehun cepat-cepat menghentikan aksi protes sahabatnya. "Lakukan saja, oke?"
Sebenarnya Chanyeol bisa saja menolak ide Sehun, mengatai sahabatnya sinting, dan lain-lain. Tapi tak tahu kenapa, pita suaranya tak menyuarakan apapun. Ia hanya bergeming disana, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi besok jika seandainya tangannya—sekali lagi—menggenggam tangan kecil Baekhyun. Apakah akan terasa hangat seperti kencan mereka kemarin? Mungkinkah sensasinya berbeda jika Chanyeol yang menggenggam duluan tangan Baekhyun?
Chanyeol sangat ingin tahu.
###
Sesuai rencana Sehun kemarin, Chanyeol akan mengajak Baekhyun makan es krim hari ini. Si jangkung Park sudah bersiap di depan pintu kamar apartemennya dengan sekantung plastik sampah di tangan (sebagai alibi), menunggu Baekhyun untuk keluar. Omong-omong, ini sudah berlangsung lima belas menit semenjak pria bersurai ash grey itu berdiri disana, dan sampai detik ini pula, ia belum bisa menormalkan laju detakan jantungnya.
Chanyeol sudah mencoba menghembuskan napasnya, bahkan memberi sugesti bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ia masih gugup. Entah kenapa, ia tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk dari rencana Sehun. Padahal jika dipikir-pikir kembali, sepertinya rencana ini akan berjalan lancar-lancar saja. Well, jika Chanyeol bisa mengeluarkan kalimatnya dengan benar—tentu saja.
"Astaga, kenapa dia lama sekali?" gerutu Chanyeol. "Makin lama menunggu, rasanya jantungku seperti mau copot."
"Copot kenapa, Hyung?"
BRAK!
Jika kalian penasaran, suara itu berasal dari Chanyeol. Punggung pria tinggi itu menabrak pintu kamarnya sendiri saking kagetnya mendengar suara Baekhyun di sisi kirinya.
"Omo! Kau baik-baik saja, Hyung?" seru Baekhyun seraya menghampiri Chanyeol yang mengerang kesakitan. Ia juga sama kagetnya, apalagi suara yang dihasilkan tadi cukup keras.
"A–aku baik-baik saja!" Chanyeol dengan cepat bangkit kembali, meski dalam hati masih mengumpat rasa sakit di punggungnya. "K–kau mau buang sampah?" Ia mengubah topik pembicaraan.
"Ah, iya. Kau juga, Hyung?" Baekhyun balik bertanya, yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala. "Kalau begitu, kita sama-sama saja ke tempat pembuangan sampahnya."
Merekapun akhirnya berjalan beriringan menuju tempat pembuangan sampah di luar gedung apartemen. Chanyeol tak mengucapkan apapun setelahnya, pun dengan Baekhyun. Tapi tidak dalam waktu lama. Begitu pintu lift terbuka di lobi, dan Chanyeol telah menghembuskan napas panjang, pria jangkung itu segera melancarkan siasatnya.
"Kau sibuk hari ini?"
"Um..tidak juga. Aku sudah selesai beres-beres, membuang sampah adalah yang terakhir. Memangnya kenapa, Hyung?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya sebentar. Bahasa tubuhnya kembali menunjukkan kegugupan. "Uh..i–itu..kau mau makan es krim?"
Baekhyun refleks menghentikan langkahnya. Ditatapnya Chanyeol dengan mata bak puppy yang menggemaskan itu. "Es krim?"
"Um..aku hanya berpikir..cuaca hari ini panas sekali, dan kudengar ada toko es krim yang baru buka di dekat taman kota, jadi–"
"AYO!"
"Eh?" Chanyeol berkedip terkejut mendengar pekikan Baekhyun.
"Es krim sepertinya enak di cuaca seperti ini! Ayo kita pergi setelah membuang sampah, Hyung!"
Bukannya menjawab, Chanyeol malah melongo di tempatnya. Sungguh, ia tak menyangka Baekhyun akan mengiyakan ajakannya secepat ini. Dan bagian yang paling mengejutkannya adalah si mungil terlihat lebih bersemangat daripada dirinya. Chanyeol bahkan seolah bisa melihat ekor dan telinga anak anjing imajiner pada Baekhyun, menatapnya dengan puppy-eyes yang berbinar-binar. Sial. Pria mungil itu terlihat menggemaskan! Mati-matian Chanyeol menahan dirinya untuk tetap terlihat cool.
"Oke." Chanyeol berdehem, sebisa mungkin mengatur air mukanya agar biasa saja. "Kita pergi setelah membuang sampah."
Detik berikutnya, Baekhyun meloncat kegirangan.
.
.
Toko es krim baru di dekat taman kota tampak didatangi cukup banyak orang hari ini. Selain memberikan harga promo (sebagai tanda dibukanya toko), berbagai macam menu es krim yang disediakan juga sangat menggiurkan. Apalagi desain manis bertemakan pastel dan beberapa fasilitas di dalamnya menjadi nilai jual yang tinggi, membuat para pengunjung tak ingin cepat-cepat pergi dari sana. Sungguh tempat yang cocok untuk didatangi di musim panas seperti ini.
Baekhyun dan Chanyeol sendiri memilih kursi di lantai dua. Bukan Chanyeol yang memilih—tentu saja. Itu ide si mungil Byun yang ingin makan es krim sambil melihat pemandangan taman kota dari lantai dua. Begitu selesai memesan es krim yang mereka inginkan, keduanya terlibat dalam situasi canggung. Well, sebenarnya hanya Chanyeol yang merasa begitu, karena Baekhyun malah terlihat biasa saja, cenderung bersemangat malah.
"Kau pernah kemari sebelumnya, Hyung? Tempat ini ramai sekali." ujar Baekhyun seraya melihat sekelilingnya.
"Tidak, ini kali pertama."
"Begitu." Baekhyun memakukan atensinya pada Chanyeol. Ia tersenyum bocah disana. "Tapi sepertinya es krim disini enak-enak. Terima kasih sudah mengajakku kemari ya, Hyung~"
Jika Chanyeol diumpamakan sebagai es krim, bisa dipastikan ia sudah meleleh sekarang. Tapi untungnya, pelayan toko datang di saat yang tepat. Ia membawakan es krim pesanan mereka sehingga atensi Baekhyun kembali teralihkan.
"Woah~ kelihatannya enak!" seru Baekhyun. Pria mungil itu tak membuang banyak waktu, dan segera menyendokkan strawberry fronana ice cream pesanannya ke dalam mulut. "Mmm~ enaknya!"
Chanyeol tak bisa menahan senyumannya kali ini. Seolah memiliki tombol otomatis, itu mengembang begitu saja. Pria mungil di hadapannya tentu saja tak menyadari hal tersebut, karena terlalu asyik dengan salah satu makanan kesukaannya. Tapi tak apa. Daripada menikmati black forest ice cream miliknya, Chanyeol lebih tertarik menatap senyuman Baekhyun yang manis. Pikirnya, momen seperti ini sangatlah langka, jadi ia tak bisa melewatkannya barang sedetik.
"Oh?" Chanyeol tersentak saat memerhatikan Baekhyun. "Baek, um..itu..ada es krim di pipi kirimu."
"Eh?" Baekhyun meraba pipi kirinya. "Disini?"
"Bukan, sedikit ke atas." Tapi Baekhyun tak mengenainya sama sekali. Merasa gemas, Chanyeol-pun mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bukan disitu," Lalu mengusap es krim di pipi Baekhyun tanpa berpikir dua kali. "Tapi disi–"
Ucapan Chanyeol sontak terhenti kala netranya bertabrakkan dengan netra Baekhyun dalam jarak yang cukup dekat. Detakan jantung keduanya tiba-tiba memelan, sama-sama terpaku saking terlalu terkejut dengan aksi yang bermarga Park. Lalu, pelakunya sendiri? Sepertinya ia baru sadar akan hal yang dilakukannya.
"M–maaf!" serunya seraya duduk kembali di kursinya. Pipinya memanas sampai ke telinga, dan satu-satunya yang dapat ditatapnya hanyalah lantai toko. Dalam hati, ia rutuk habis-habisan kebodohannya barusan.
"Ah, tidak apa-apa, Hyung." Baekhyun terkekeh kikuk. "Tapi es krim-nya sudah hilang'kan?"
Chanyeol mengangguk cepat menjawabnya. Terburu-buru, ia makan es krim-nya sendiri agar tak perlu menatap obsidian Baekhyun. Tak dipedulikannya rasa dingin yang memenuhi mulutnya. Siapa tahu itu akan membantu suhu wajahnya kembali normal.
"Oh ya, Hyung, aku ingin menanyakan sesuatu." Baekhyun mengeluarkan topik baru.
"S–soal apa?"
"Bukankah kau bekerja sebagai penerjemah manga Jepang? Apa kau tahu kapan manga terbaru Richard Park dirilis?"
"Uhuk! Uhukk!" Dan Chanyeol tersedak. Hebat.
"Omo, kau baik-baik saja, Hyung?" Baekhyun dengan sigap memberikan botol minum yang dibawanya pada Chanyeol. Pria tinggi itu langsung meminum seperempat isinya. "Sudah baikan?"
"Y–ya, terima kasih." Chanyeol memberikan kembali botol minum Baekhyun. "Maaf, kau tanya apa tadi?"
"Manga terbaru Richard Park, Lisa—sahabatku—ingin tahu jadwal rilisnya, karena katanya manga karya Richard Park selalu cepat habis terjual."
Sial—Chanyeol mengumpat lamat-lamat. Di antara banyaknya topik pembicaraan, kenapa harus ini yang dibahas?
"Um..itu.." Chanyeol berpikir cepat. "Aku tidak bekerja di SM. Maaf." ucapnya berbohong. Tapi dilihat dari raut muka Baekhyun, sepertinya pria mungil itu memercayainya.
"Ah, begitukah? Sayang sekali." Baekhyun mengangguk paham. "Padahal kupikir kau tahu, makanya kutanyakan padamu."
Chanyeol terdiam. Ia jadi merasa tidak enak telah berbohong pada pria mungil di hadapannya ini. Tapi di saat bersamaan, ia juga tak bisa mengatakan bahwa sesungguhnya ialah si Richard Park itu. Well, memang bukan hal yang sulit untuk mengakui hal tersebut, tapi Chanyeol hanya belum siap melakukannya, apalagi manga terbarunya adalah tentang dirinya dan pria mungil itu.
"Tapi aku bisa menanyakannya untukmu." Chanyeol tiba-tiba memberikan penawaran lain. Ia sudah memikirkannya matang-matang tadi, dan sepertinya cara ini adalah yang paling aman untuk membantu Baekhyun. "Aku punya kenalan yang bekerja di SM, aku akan menanyakannya kalau kau mau."
"Sungguh?" Chanyeol mengangguk pasti. Senyuman Baekhyun-pun merekah sempurna. "Woah, terima kasih banyak, Hyung! Kalau begitu, tolong tanyakan ya~"
"Tentu." Diam-diam, Chanyeol menghembuskan napas lega. Setidaknya ia bisa menebus kebohongannya dengan cara ini.
"Sejujurnya, aku agak penasaran dengan sosok Richard Park, karena Lisa sangat menyukainya." ujar Baekhyun. "Sepertinya mangaka ini terkenal sekali ya? Meskipun aku belum pernah membaca karyanya, tapi kalau itu sampai selalu cepat habis terjual, bukankah itu artinya semua karyanya hebat?"
"Ah, kupikir biasa saja." Chanyeol menggaruk pipinya kikuk. Dipuji secara tidak langsung begitu, entah kenapa membuat si jangkung merasa senang sekaligus malu sendiri. Apalagi yang memujinya adalah pria yang ia taksir.
"Kalau begitu, boleh aku minta nomor ponselmu, Hyung?"
"Eh?"
"Masalahnya adalah Lisa orangnya tidak sabaran. Kemarin saja ia terus menerus menghubungiku, menyuruhku cepat-cepat menanyakan ini padamu. Aku hanya berpikir, kau bisa langsung menghubungiku begitu mendapatkan informasi dari kenalanmu itu, Hyung. Tidak apa'kan?"
LEBIH DARI TIDAK APA. BAHKAN JIKA TIDAK DIMINTA SEKALIPUN, AKU AKAN DENGAN SENANG HATI MEMBERIMU NOMOR PONSELKU, BAEKHYUNNIE!
Begitulah kata hati Chanyeol yang terdalam bersorak kegirangan. Seandainya saja hanya ada ia seorang diri disana, ia sudah pasti menyerukannya keras-keras seperti orang gila. Beruntung itu hanya perandaian. Walaubagaimanapun, ia harus menjaga image cool-nya.
"Tentu." Chanyeol meraih ponselnya, lalu memberikannya pada Baekhyun. "Tulis nomormu, nanti akan kuhubungi."
Merekapun bertukar nomor ponsel. Chanyeol tak bisa lebih bahagia lagi dari ini. Di antara semua hal yang diam-diam ia cari tahu mengenai Baekhyun, hanya nomor ponselnya yang tidak ia ketahui. Tapi saat ini—detik ini, ia mendapatkannya secara cuma-cuma. Astaga, mimpi apa ia semalam? Dan omong-omong, pria jangkung itu menyimpan nomor si mungil dengan nama 'Puppy Next Door'. Mulai sekarang pula, ia akan memasang kata sandi di ponselnya agar Sehun dan Kyungsoo tidak bisa membajaknya. Hell, ia menolak untuk digoda habis-habisan oleh dua makhluk itu.
"Woah~ coba lihat itu, Hyung!" seru Baekhyun, membangunkan Chanyeol dari lamunannya. Pria mungil itu menunjuk area sewa sepeda di taman kota.
"Sepeda?"
Bersamaan dengan pertanyaan Chanyeol, Baekhyun menatap pria bermarga Park itu dengan puppy-eyes andalannya. "Ayo kita naik itu!"
"Apa?" Chanyeol mengerjap kaget.
"Ayolah~"
Chanyeol menelan ludahnya susah payah. Sial. Hatinya melemah.
Ia. Luluh. Di. Tempat.
"B–baiklah.."
.
.
Dan Chanyeol menyesal setelahnya.
Pria tinggi itu memaki mentah-mentah otaknya yang tak memikirkan kemungkinan yang akan terjadi saat ia mengiyakan permintaan Baekhyun tadi. Well, pertama-tama, sebagai yang paling tua, tentu saja Chanyeol yang harus mengambil peran untuk mengayuh sepedanya. Tapi masalahnya terletak pada hal kedua, yakni Baekhyun yang duduk di jok belakang, dengan kedua tangan memegang erat pinggang si jangkung. Alhasil, pria bersurai ash grey itu harus menerima kenyataan bahwa jantungnya berpacu terlalu cepat karena hal ini.
Astaga, hancur sudah image-nya jika Baekhyun sampai melihat pipinya yang kini tengah merona.
"Woohoo! Ini benar-benar menyenangkan! Kayuh lebih cepat lagi, Hyung!" Baekhyun bersorak gembira seperti bocah SD.
Hell, Chanyeol bisa apa kalau Baekhyun sudah sesenang ini? Otaknya bahkan sudah terlalu blank untuk berpikir jernih, apalagi pegangan si mungil pada pinggangnya telah berubah menjadi pelukan. Ini buruk. Chanyeol merasa kepalanya pening. Ia bahkan tak sadar bahwa kakinya tengah mengayuh pedal sepeda dengan cepat di jalanan menurun.
"T–tunggu, Hyung! Ini terlalu cepat!"
Tersentak dengan pekikan Baekhyun, Chanyeol cepat-cepat mengerem sepedanya. Tapi karena momen yang terlambat, ditambah jalan yang menurun, itu tak membantu usahanya sama sekali. Sehingga pada akhirnya–
BRUK!
Mereka terjatuh dari sepeda.
"Akh.." Chanyeol mengerang seraya mengusap lengannya yang berdenyut nyeri. Sepertinya itu agak lecet. Tapi daripada memikirkan lengannya, ia lebih kepikiran pada pria mungil di sampingnya yang juga ikut mengerang kesakitan. "B–Baek, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanyanya khawatir.
"Sakit.." Baekhyun memegang lututnya yang berdarah. Chanyeol seketika panik.
"A–astaga, bertahanlah, Baek! Aku akan segera memanggil ambulans!"
"Ambu–Hyung!" Baekhyun melotot. Dengan cepat, ia hentikan aksi Chanyeol yang berlebihan itu. "Aku baik-baik saja, Hyung. Ini hanya lecet."
Well, itu memang benar. Itu hanya lecet. Chanyeol saja yang berlebihan menanggapinya.
"Tapi kau kesakitan, Baek. Kau yakin kau baik-baik saja?" Chanyeol semakin khawatir. Tapi bukannya menjawab pertanyaan itu, Baekhyun malah terkekeh geli melihatnya. Yang ditertawai tentu saja mengerutkan dahinya kebingungan. "Kenapa kau tertawa?"
"Hahaha~ astaga, Hyung! Kau harus lihat raut mukamu sekarang ini, benar-benar terlihat lucu! Hahaha~"
Oke, Chanyeol gagal paham. Memangnya ada apa dengan raut mukanya? Apa keputusannya untuk memanggil ambulans itu salah? Bukankah tadi Baekhyun sendiri yang bilang lututnya sakit?
"Sudahlah, Hyung, aku baik-baik saja." Baekhyun berusaha berdiri, meski sedikit meringis setelahnya. Ia tersenyum lebar pada Chanyeol yang masih menekuk alisnya. "Lihat? Aku masih bisa berdiri, jadi tak perlu memanggil ambulans, oke?"
"Kau yakin?" Chanyeol masih ragu, tapi Baekhyun mengangguk pasti. Pria tinggi itu berpikir sesaat. Walaubagaimanapun, ia tak bisa membiarkan luka Baekhyun begitu saja. Setidaknya ia harus mengobatinya terlebih dahulu. Diedarkannya pandangannya untuk mencari apotek atau minimarket, dan ia menemukannya di belokan kanan. Hanya berjarak lima meter dari tempat mereka.
"Akan kuobati lukamu dulu." Chanyeol membenarkan posisi sepeda, lalu duduk di jok depan. "Naiklah. Kau bisa'kan?"
Baekhyun mengangguk seraya tersenyum.
.
.
Baekhyun sesekali meringis kala dinginnya alkohol menyentuh permukaan kulit lututnya yang lecet. Tapi kemudian pria mungil itu tersenyum kecil melihat betapa seriusnya Chanyeol yang bersimpuh di hadapannya, berusaha mengobati lukanya. Si jangkung bersurai ash grey itu bahkan tak sekali-dua kali meniup lukanya. Sungguh kontras dengan reaksinya yang berlebihan tadi. Mengingatnya, entah kenapa membuat Baekhyun geli sendiri. Untung saja ambulansnya tak sempat dihubungi.
"Terima kasih banyak, Hyung~" ucap Baekhyun setelah Chanyeol menutup lukanya dengan band-aid. "Duduklah, aku akan mengobati lukamu." Ia menepuk kursi kosong di sampingnya.
"Eh? A–aku baik-baik saja kok." Chanyeol mengelak cepat. Ia berdiri dari posisinya, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Baekhyun. Tapi ia salah jika pria mungil itu memercayainya begitu saja.
"Eyy~ apa kau tak sadar dengan luka di lenganmu sendiri? Aku akan mengobatinya pelan-pelan, jadi berikan lenganmu, Hyung." Baekhyun memaksa. Tangannya terulur, menagih lengan Chanyeol. Percaya atau tidak, si jangkung menurut begitu saja. Ia duduk di samping Baekhyun, kemudian memberikan lengannya untuk diobati.
Keadaan tiba-tiba menjadi hening detik berikutnya. Ruang di sekitar mereka hanya diisi suara sayup-sayup orang berlalu-lalang. Baekhyun sibuk mengobati luka Chanyeol, sementara Chanyeol sibuk memerhatikan Baekhyun. Bagaimana bulu mata si mungil berkedip, betapa lucunya kedua belah bibir tipis itu kala mengerucut, atau ketika surai pinkish-nya bergoyang karena hembusan angin. Sungguh pahatan yang sempurna. Chanyeol bahkan tak tahu sudah berapa banyak detakan abnormal yang dihasilkan jantungnya hanya dengan menatap Baekhyun. Namun ia akan membiarkannya untuk sekarang. Lagipula, Baekhyun sepertinya tak menyadarinya.
"Aku minta maaf untuk yang tadi." kata Baekhyun, meleburkan keheningan yang ada. "Kalau aku tak memintamu mengayuh dengan cepat, kita pasti tak'kan berakhir seperti ini. Maaf ya, Hyung.."
Chanyeol cukup terkejut dibuatnya. Tentu saja, karena ia tak pernah berpikir ini adalah kesalahan Baekhyun. Ia justru berpikir bahwa kecelakaan ini adalah salahnya yang kehilangan fokus.
"Kenapa minta maaf? Ini bukan salahmu, Baek. Aku yang tak berhati-hati tadi."
Baekhyun menundukkan kepalanya. Raut bersalah tampak kentara di wajah manisnya. "Tapi tetap saja..aku juga bersalah.."
"Sudah kubilang itu bukan salahmu, Baekhyun." Chanyeol memotong lugas. "Aku yang tak fokus pada jalanan tadi. Berhenti menyalahkan dirimu."
Baekhyun mendongak, mempertemukan netranya dengan obsidian Chanyeol. "Hyung.." Tatapannya tiba-tiba menjadi intens, yang mana menghantarkan kegugupan tersendiri di diri pria jangkung itu.
"B–B–Baek, apa yang kau lakukan?" Chanyeol mulai tak bisa mengontrol suaranya kala wajah Baekhyun mendekati wajahnya. Tak hanya suara, rona pipinya bahkan tak bisa diajak kerja sama lagi. Itu nyaris memenuhi wajahnya.
"Diam disitu, Hyung."
"K–k–k–k–kenapa?" Chanyeol semakin gugup. Pegangannya pada kaki kursi sontak mengerat. Dan saluran pernapasannya mendadak tersendat karena aroma vanilla dari tubuh Baekhyun menyeruak ke hidungnya dengan semena-mena. Ia benar-benar terpojok sekarang.
"Itu.." Baekhyun berucap dengan suara yang berhasil meremangkan bulu kuduk Chanyeol. Wajahnya semakin dekat, dan dekat, dan—"Ada ulat di bahumu."
"Ada ul–" Chanyeol mematung untuk tiga detik. Rona yang semula memenuhi wajahnya, berubah cepat menjadi warna pucat pasi. Lalu, di detik keempat—"HUWAAAAAAAAAAAAAA! SINGKIRKAN! SINGKIRKAN DARIKUUUU!"
Pria tinggi itu panik sambil berlari kesana-kemari. Baekhyun yang tak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu, malah bingung sendiri.
"H–Hyung, tenanglah! Aku bisa–"
BRUK!
Chanyeol yang terlalu panik, pun berakhir dengan menabrak Baekhyun setelah kakinya tersandung kaki kursi. Itu tak disengaja, omong-omong. Gara-gara itu pula, ia dihadapkan pada posisi 'berbahaya', yakni Baekhyun berada di bawahnya. Dan itu bukan bagian terburuknya. Adalah ketika bibir mereka hanya berjarak satu sentimeter, dengan napas hangat menerpa satu sama lain, yang membeliakkan dua pasang bola mata itu.
Hebat.
Chanyeol merasa kepalanya sangat pening, tapi entah kenapa ia tak bisa bergerak dari posisinya. Ini semua terlalu tiba-tiba, dan ia tak bisa lagi fokus. Penglihatannya pada hal di sekitarnya mulai mengabur. Satu-satunya yang ia tangkap sebelum semuanya menggelap adalah suara Baekhyun yang menyerukan namanya.
.
.
"Nghh.." Chanyeol mengerang begitu kelopak matanya ia buka perlahan. Titik pandangannya membaik di kedipan keenam. Ia menatap sekelilingnya yang terasa tak asing, lalu mengerutkan dahinya saat tersadar bahwa ia berada di dalam kamar apartemennya sendiri. Kenapa ia berada disana? Bukankah ia sedang bermain sepeda bersama Baekhyun?—batinnya bingung.
"Ah, Hyung? Kau sudah sadar?"
Bersamaan dengan rasa penasaran itu, suara Baekhyun di ambang pintu lantas mengalihkan atensi Chanyeol. Pria tinggi itu berusaha merubah posisinya menjadi duduk, sebelum memusatkan netranya pada pria mungil itu.
"Apa..yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol, raut mukanya masih agak linglung.
"Kau tidak ingat?" Baekhyun duduk di kursi, tepat di samping ranjang Chanyeol. Senyum jahil samar-samar ia tahan. "Kau pingsan tadi siang, Hyung."
"Pingsan? Aku?" Chanyeol menunjuk dirinya sendiri, dan Baekhyun mengangguk sebagai jawaban. Tautan alis pria bersurai ash grey itu menjadi semakin dalam. Ia mencoba mengingat rentetan kejadian hari ini. Dimulai dari kilas balik saat ia dan Baekhyun bermain sepeda setelah makan es krim, lalu Baekhyun yang tiba-tiba mendekati wajahnya, juga saat ia panik karena ternyata ada ulat di bahunya. Ia pingsan setelahnya? Di depan Baekhyun?
"Aish, memalukan sekali.." umpat Chanyeol sepelan mungkin. Sambil menahan rona di pipi, ia bertanya pada Baekhyun, "Jangan bilang..kau sendirian yang membawaku kemari?"
Baekhyun tertawa mendengarnya. "Astaga, tentu saja tidak. Aku meminta bantuan Kyungsoo Hyung dan Sehun Hyung."
"Kyungsoo dan Sehun? Kau memanggil mereka?"
"Ah, itu.." Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku agak panik tadi, jadi aku langsung menghubungi mereka. Tapi mereka pulang setelah mengantarmu kesini."
Chanyeol tak segera merespon. Ia melirik ruang kerjanya sekilas, lalu kembali menatap Baekhyun. Ekor matanya menjadi awas. "Mereka..mengatakan sesuatu padamu sebelum pulang?"
"Hm.." Baekhyun berpikir sesaat. "Kyungsoo Hyung berpesan padaku untuk tak masuk ke ruang kerjamu." Kemudian terkekeh pelan. "Tapi untuk apa juga aku melakukannya? Itu bukanlah tindakan yang sopan'kan?"
Chanyeol diam-diam menghela napas lega. Well, setidaknya tempat kramat dalam kamar apartemennya aman untuk sekarang. Walaubagaimanapun, tak ada yang boleh masuk ke ruang kerjanya kecuali ia, Sehun, Jisoo, dan Kyungsoo. Bisa terjadi masalah besar kalau identitasnya yang seorang Richard Park ketahuan oleh Baekhyun.
"Oh ya, Sehun Hyung juga memintaku untuk menyuruhmu membuka pesan darinya begitu kau sadar."
"Pesan?" Chanyeol mengambil ponselnya di atas nakas samping ranjangnya. Terdapat satu pesan dari pria albino itu, sepertinya sebuah gambar. Tanpa secuil rasa curiga, dibukanya pesan tersebut. Dan hal yang terjadi selanjutnya jarang ditanyakan lagi—bola mata Chanyeol membeliak utuh.
Itu adalah foto dirinya saat pingsan.
Sialan!—umpat Chanyeol. Bahkan setelah ia memasang kata sandi, ada saja sampah yang meracuni ponselnya. Oh Sialan Sehun itu bahkan menambahkan caption pada foto tersebut, bertuliskan 'foto natal tahun ini~'. Hell, pantas saja ia menyuruhnya cepat-cepat membuka pesan darinya.
"Akan kubalas kau, albino sakit jiwa." desis Chanyeol seraya menghapus foto nista itu. Bulat sudah tekadnya untuk membuat Sehun pacaran dengan Kyungsoo.
"Apa kau lapar, Hyung?" Baekhyun menggeser manik hazel Chanyeol pada nampan yang dibawanya. "Aku tadi membuatkan sup untukmu. Siapa tahu kau lapar saat bangun, hehe~"
Sial. Sial. Sial.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Tak bisakah makhluk mungil bersurai pinkish itu menjadi tak lebih manis daripada ini? Lama-lama Chanyeol tak bisa menjamin keselematan mentalnya sendiri.
"Karena kau sudah siuman, aku akan pulang sekarang." Si mungil bangkit dari duduknya. Bibir tipisnya melengkungkan sebuah senyuman manis pada yang lebih tinggi. "Sup-nya masih panas, jadi tiup dulu sebelum dimakan ya?" Ia membungkukkan badannya sedikit untuk berpamitan. "Aku pul–"
Tapi lengannya ditahan dengan cepat oleh tangan Chanyeol.
"Jangan pergi."
"Eh?" Baekhyun berkedip terkejut. Chanyeol tak membalas untuk sesaat. Maniknya tetap ia pusatkan pada netra si mungil, meski jantungnya mulai berdegup dalam hentakan tak biasa.
"B–bisakah.." Pegangan tangan Chanyeol mengendur, dan berlabuh pada jemari lentik Baekhyun—menggenggamnya. "Kau tinggal disini sebentar lagi?"
TBC
EAAAAAAAA~ that kampret moment karena TBC tiba-tiba muncul, wakakak! Yah, intinya mah saya apdet bareng Sayaka Dini dan Brida Wu malam ini. Jadi, jangan lupa kasih review ya~
SPECIAL THANKS:
Untuk kalian yang setia menunggu, terutama yang sudah memberikan komen dan saran di kotak review. I FREAKING HEART YOU, GAESSS! Semoga chapter kali ini memuaskan penantian kalian /giving flying-kiss/
