Title : Perfectly Imbalanced (Indonesian)

Author : Supergelie

Main pairing : ChanBaek / BaekYeol

THIS STORY BELONGS TO SUPERGELIE

AND I JUST TRANSLATE IT INTO INDONESIAN

PLEASE DO NOT REUPLOAD THIS STORY!

T/N: Chapter kali ini ditranslate sama sunbaeku 'sehunblackpearl'. Aku sama sekali gak ikut campur sama chap ini T.T Dia murni ngerjain sendiri. Thanks lah pokoknya, jadi ff ini bisa cepet update, hahahaha... Oh iya, ada yg tau ff a song we left unsung? Itu ff baekyeol yg akan diterjemah sma translator abal2 ini selanjutnya. Aku dah dpet izin dari author aslinya kok, tenang aja. Tinggal nunggu waktu luang, hehehe... sekedar peringatan, ini ff rate m lho, wkwkwkwk XD juga yg nugguin ff asli karyaku yang love confession, bersabar ya. Berhubung kamis depan ujian, pempublishan ff terpaksa ditunda. Mianhae...

Setelah dilihatnya Chanyeol berlalu, Baekhyun menganggapnya sebagai tanda bahwa tempat itu sudah aman. Dia mulai merangkak – walaupun dia tidak mengerti kenapa dia melakukannya – ke ujung counter ketika tiba-tiba sepasang kaki menghadang jalannya.

Tidaaak.

Dia menelan ludahnya.

"Baekhyun?"

Dia menengadah dan dilihatnya Luhan yang menatapnya khawatir. "Kau sedang apa –?" Luhan berbalik dan menendang Baekhyun – masuk ke dalam counter lagi – dengan pelan.

"Aw!"

"Ssshhh!"

Baekhyun menurut dan masuk lagi ke dalam counter dan bersandar di situ.

Dia melihat si mata besar menyeringai padanya.

"Luhan, sedang apa kau di situ?" tanya Kai.

"Oh, hei Kyongsoo." ujar Chanyeol.

Baekhyun melihat si mata besar, menengadah dan tersenyum.

Dia terpekik halus ketika si mata besar itu berdiri. "Hey."

KATANYA!

"Aku tidak tahu kau bekerja di sini."

"Kai memandang mereka berdua bergantian.

"Oh, ini hanya kerja paruh waktu," balas Kyungsoo sambil mengangkat bahunya.

Manusia jalang ini sebenarnya bisa bicara.

"Well, senang bertemu denganmu di sini." Chanyeol kemudian sadar kalau Kai sudah pergi. "Sampai bertemu lagi."

Dia berputar tepat ketika Luhan mulai berjalan.

Baekhyun menyilangkan lengannya dan memelototi waitress itu. "Jadi kau tidak bisu."

Kyungsoo tersenyum licik padanya, "Tidak sama sekali."

Baekhyun mengerucutkan bibirnya marah. "Bitch." Dia memutar bola matanya kemudian berdiri. "Dengar, aku tidak tahu permainan apa yang kau – "

"Well, setidaknya sangat jelas bukan permainan bersembunyi dan mencari"

Baekhyun mengepalkan tangannya mencoba mengendalikan rasa kesalnya. "Aku tidak peduli, kalau kau ada masalah, katakan langsung padaku, bitch."Dia berbalik dan berlalu, menghentakkan kakinya sekuat rasa kesalnya.

.

.

.

.

Hari berikutnya, Baekhyun mendapati dirinya duduk di kursi panas ketika Luhan mulai menginterogasinya di dalam ruang ganti. Dia menghindari pertanyaan-pertanyaan Luhan di rumah sampai di sini, di studio dan akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa selamanya melarikan diri dari Luhan. Tidak jika mereka masih tinggal satu atap.

Tidak jika Luhanlah yang mencuci pakaiannya.

Tidak jika Luhan yang membersihkan rumah.

Tidak di saat Luhan yang memberi makan Brad Pitt.

Tidak ketika Luhan yang berbenah di rumah.

Kecuali memasak.

Jadi Baekhyun memutuskan berhenti menghindar.

"Lulu, sudah kubilang perutku tidak enak –"

"Aku tidak tanya itu. Yang kutanya, apa yang sedang kau lakukan di bawah counter, merangkak."Luhan memotongnya, memperjelas bagian yang dicetak miring.

"Tentu saja aku harus bersembunyi. Ada Chanyeol di situ." Jelas Baekhyun. " Juga Kai."

Luhan kemudian menyadari kalau bukan hanya dia yang bermasalah.

Dan dia bersyukur yang dialami Baekhyun lebih parah lagi.

Hohohoho

Mereka mendengar derit pintu terbuka dan segera berbalik.

"Oh, kalian berdua di sini," ujar fotografer seraya masuk ke dalam. "Kurasa aku sudah mengatakan konsep untuk hari ini kan? Persamaan gender."

"Lalu?"

"Dan salah satu dari kalian berdua harus melakukan cross-dress."

Ahahahaha.

Kumohon biarkan aku sendiri.

"Dan semua staff setuju Baekhyun akan melakukannya."

Luhan tersenyum bahagia.

"KE-NA-PA?!"

"Well, tentu saja karena kau lebih pendek dari Luhan," fotografer itu, Chen, yang namanya baru saja mereka tahu beberapa saat lalu, membalas. "Baiklah, aku akan menyerahkannya diurus oleh stylist. Oh dan akan ada beberapa orang penting yang hadir hari ini untuk wawancara jadi para staff sangat gugup tapi aku tahu kalian berdua pasti akan melakukannya dengan sangat baik."

Kecuali Baekhyun yang sudah merencanakan kematiannya.

"Baiklah, sampai jumpa 20 menit lagi." Chen kemudian menghilang di balik pintu.

Baekhyun menjatuhkan dirinya ke lantai. Rohnya melayang meninggalkan tubuhnya.

Luhan mengembalikan kembali rohnya ke tempatnya seharusnya, "Ayolah kau pasti bisa melakukannya dengan sempurna. Bukannya kau sudah terbiasa?" godanya.

"Aku benci kau. AKU BENCI KALIAN SEMUA!"

Luhan hanya menertawakan nasibnya, nasib Baekhyun.

.

.

.

.

Chanyeol tidak bisa merasa lebih nyaman lagi di dalam mobil ibunya sambil meneliti edisi baru HOMME Fatale. Baekhyun dengan bangga ada di setiap lembar. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan dia memang tidak bermaksud untuk menyembunyikan rasa senangnya, sama sekali. Gila, dia bahkan tidak pernah tahu Baekhyun adalah model.

Seharusnya aku tahu dari awal. Ya Tuhaaaaan.

Chanyeol betul betul sedang dalam suasana hati yang baik untuk melakukan wawancara.

"Majalah ini betul-betul mengesankan," bisik Nyonya Park, mata masih terpaku pada majalah itu. "Mereka tidak hanya menampilkan lelaki-lelaki cantik, tapi lelaki cantik dengan latar belakang yang juga mengesankan. Majalah ini akan menjadi rekan kerja sama yang sangat sempurna untuk perusahaan kita."

Chanyeol mengangguk.

Mobil pun berhenti dan mereka mengalihkan pandangan mereka dari majalah.

"Oh kita sudah sampai." Nyonya Park keluar duluan kemudian diikuti Chanyeol.

Selamat pagi Nyonya Park. Kami merasa terhormat Anda mau hadir hari ini." Sang Direktur menyapa Nyonya Park sambil menuntun mereka masuk ke dalam studio. "Saya senang bertemu dengan anda juga Tuan Park."

Chanyeol tersenyum.

"Ini betul-betul waktu yang sempurna untuk Anda datang berkunjung. Kami sedang melakukan pemotretan dengan dua model andalan kami."

"Baik sekali." ujar Nyonya Park sambil berjalan memasuki studio.

Chanyeol langsung merasa takjub begitu melangkahkan kakinya di dalam studio. Ada pakaian-pakaian mahal di rak, pencahayaan, kamera di mana-mana dan para staff bekerja di sekeliling studio, semua melakukan pekerjaannya masing-masing.

Mereka tetap di belakang sebentar sampai mereka melihat dua model di depan.

Satu memakai setelan hitam khusus sedangkan yang satu lagi...

Baekhyun.

Mengenakan gaun.

Tepatnya gaun berwarna merah muda.

Dengan rambut dikuncir kuda.

Dan lolipop.

Chanyeol merasa dipenuhi rasa bahagia.

"Baekhee?" sebut Nyonya Park.

Chanyeol tersadar seketika. "Ouch, sial"

"BAEKHEE!" Nyonya Park berteriak antusias dan berjalan menghampiri Baekhyun.

Oh Demi Bunda Maria.

KENAPA DIA IBUKU?

.

.

.

.

Begitu Baekhyun melihat Nyonya Park berjalan ke arahnya, berteriak 'BAEKHEE', dia langsung menarik Luhan, meminta pertolongan. Tapi karena Luhan setengah-idiot, dia tidak tahu harus melakukan apa kecuali turut bersimpati atas derita Baekhyun.

"Baekhee!"

"Nyonya Park, hai." Baekhyun memaksa tersenyum dan membalas sapaan Nyonya Park.

Sang Direktur berjalan ke arah mereka dalam keadaan bingung. "Um, Nyonya Park –"

"Uh, Direktur!" Chanyeol segera menarik sang direktur bersamanya. "Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."

"Baekhee?" Luhan mendengar si fotografer, Chen, berbisik. "Um, maaf Nyonya. Tapi dia –"

"Chen" Luhan segera menghampiri dan menghalangi pandangan Chen. "Aku harus memberitahu sesuatu padamu."

"Kau terlihat sangat luar biasa Baekhee. Apa kau model di sini?" tanya Nyonya Park berharap.

".. ya. Saya.. um.. paruh waktu."

"Ooouh, betapa mengesankan." Ujar Nyonya Park dengan wajah berseri-seri kemudian menarik Baekhyun dan memeluknya. "Aku tidak sabar menunggu kau dan Chanyeol punya bayi yang sangat lucu."

Baekhyun membelalakkan matanya.

BAYII?!

AKU DAN CHANYEOL?!

Tidak sampai jutaan tahun ke depan pun tidak akan aku mau melakukannya dengan Chanyeol.

Walaupun abs nya sangat sexy..

Dan pinggulnya sangat menggoda...

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya dan melepaskan dirinya dari pelukan Nyonya Park. "Bicara soal Chanyeol, ada di mana dia saat ini?"

"Oh, Channie!" Nyonya Park berbalik dan mengisyaratkan pada Chanyeol untuk datang. "Apa kau tidak merasa senang melihat kekasihmu?"

Chanyeol tersenyum pada Baekhyun. "Kau terlihat begitu sempurna, sayang."

Baekhyun memandangnya malu-malu. "Trims."

Dan Baekhyun seolah mendengar Luhan mendengus di suatu tempat.

Dia memutuskan mengabaikannya dan memilih mengobservasi penampilan Chanyeol yang terlihat lebih segar dengan pakaian casual. Sebenarnya dia merasa sangat senang, seolah dia tidak pernah tahu Chanyeol akan terlihat semenarik ini hanya dengan memakai pakaian yang tidak terlalu mewah. Itu membuatnya terlihat lebih tidak menakutkan dan menyeramkan – yang tentu saja adalah alasan kenapa dia selalu lari darinya, Chanyeol terlihat seperti seseorang yang akan langsung mengurungmu di ruangannya begitu kau menyerah akan hasratnya.

Hasrat.

TUNGGU.

APA YANG SEDANG DILAKUKANNYA DI SINI?

APA YANG SEDANG MEREKA LAKUKAN DI SINI?

Seolah tersadar kembali, Baekhyun menarik Chanyeol seraya berkata pada Nyonya Park. "Boleh saya beribacara secara pribadi dengannya sebentar saja Nyonya Park?"

"Sudah kubilang panggil aku Ibu. Tentu saja. Kau boleh membawanya sekarang juga." Nyonya Park berbalik pada Direktur yang berdiri, menunggu penjelasan.

Baekhyun berjalan berjingkat dan menjewer telinga Chanyeol, menarik pria raksasa itu bersamanya.

"Aw Aw. Baek. Telingaku Telingaku! Telingaku sakit Baek! Telingaku kesakitan!"

"Baekhyun mengabaikannya sampai mereka mencapai sebuah ruangan di suatu tempat di ujung gang.

Dia mendorong Chanyeol ke dalam dan membanting pintunya.

"Sedang apa kau di sini?!"

"Aku bisa menjelaskannya."

"Well, memang sebaiknya kau jelaskan!"

"Sebenarnya Homme Fetale mengundang kami untuk melakukan wawancara dan berhubung majalah mereka sangat populer, ibuku bersedia melakukan wawancara supaya bisnis kami leih diketahui masayarakat luas."

"Perusahaanmu sudah jelas diketahui masyarakat secara luas."

"Well,, ibuku ingin supaya dia lebih dikenal lagi secara luas."

Pebisnis memang selalu mengesalkan. Baekhyun menghela, "Baiklah aku mengerti. Tidak ada yang tahu aku Baekhee, bukannya aku tidak mengakuinya, jadi apa yang akan kita lakukan? Ibumu mengira aku Baekhee, yang jika dilihat dari beberapa aspek, memang betul, tapi –"

"Baekhyun." Potongnya. "Aku mengerti."

"Well selamat kalau begitu."

"Dengar, aku akan mengurus masalah ini. Aku ini pebisnis. Aku tahu cara mengatasi hal seperti ini."

"Kau memang sebaiknya melakukannya." Baekhyun menyilangkan lengannya.

Chanyeol berjalan ke arah pintu dan memutar kenopnya. Dia berhenti dan mengumpat pelan. "Oh shit."

"Apa?"

Chanyeol memutar kenopnya lagi. "Sial."

"Apa? Kenapa?"

Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun. "Pintunya tidak bisa dibuka."

"APA?"

"Terkunci dari luar."

"APA MAKSUDMU TERKUNCI DARI LUAR?! SIAPA YANG MENGUNCINYA?!"

Chanyeol menyangkal. "Seharusnya kau yang memberitahuku. Kau yang menutupnya!"

Baekhyun berjalan dan mencoba membuka pintu itu tapi sayangnya, "TERKUNCI!"

"Sudah kubilang."

"Apa kau membawa ponselmu?"

Chanyeol mencakar kantongnya kemudian mengambil ponsel dari dalamnya. "Ya... Tapi tidak ada sinyal." Katanya sambil berputar-putar mencoba mencari sinyal.

"Lakukan sesuatu. Aku harus segera kembali ke sana. Aku sedang dalam pemotretan."

"Oke oke. Tenang dulu. Rileks." Chanyeol kemudian melihat tongkat besi di antar kursi-kursi rusak di gudang itu. Dia mengambilnya dan menepuk debu yang menyelimutinya, berharap tongkat besi itu dapat, menyelamatkannya dari murka Baekhyun. Dia menginginkan mati yang sedikit lebih damai.

"Apa yang mau kau lakukan dengan benda itu?" Baekhyun bertanya saat dilihatnya Chanyeol menggenggamnya erat.

"Tidak tahu." Chanyeol mengangkat bahunya.

"Apa maksudmu kau tidak –" Baekhyun melompat terkejut karena suara yang diakibatkan pukulan Chanyeol dengan tongkat besi itu ke kenop pintu.

Chanyeol menggaruk lehernya. "Kupikir akan berhasil."

Baekhyun menghentakkan kakinya kuat dan mengerang. Well, lagipula dia memang tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik sendiri. Saat akhirnya Baekhyun dapat mengendalikan dirinya, dia menjatuhkan dirinya ke lantai dan duduk bersandar di dinding sambil menyilangkan lengannya. Merasakan keheningan yang tiba-tiba, Chanyeol berbalik ke Baekhyun. Baekhyun diam lebih menyeramkan daripada Baekhyun sendiri. "Baekhyun?"

"Apa? Lagipula, bukannya kita akan bisa keluar." Balas Baekhyun tanpa memandangnya sedikitpun.

Chanyeol akhirnya duduk di sisi lain. Well, keheningan Baekhyun sangat tidak mengenakkan. Mungkin Chanyeol sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan dan jeritan-jeritan Baaekhyun tepat di wajahnya sehingga rasanya menyeramkan melihat Baekhyun tenang seperti ini. Well, ini tidak dihitung karena situasi ini bahkan tidak mendekati defenisi tenang sedikitpun.

Chanyeol pada akhirnya tidak sabar lagi dan berdehem. "Um, Baekhyun."

"Apa?" balas Baekhyun frustasi. Dia melihat Chanyeol menciut mendengar tanggapannya. "Maaf... Ada apa?" balas Baekhyun sekali lagi, kali ini lebih tenang.

Chanyeol bermain-main dengan tangannya. "Aku hanya sedkiti penasaran... Kenapa kau selalu terlihat kesal setiap kali kita bersama? Kau benci aku?"

Pertanyaan itu membuat Baekhyun serasa ingin menggantung diri sekarang juga. Jujur saja.

Tapi yeah, memangnya siapa yang peduli?

Baekhyun menghela nafas. "Kau serius?"

"Well, kau tidak harus menjawab –"

"Aku tidak bisa menyalahkanmu atas apapun. Jelas sekali, belum ada kesalahan yang sudah kau lakukan kecuali menjadi seorang idiot. Salahnya hanya aku... Tapi aku sudah berusaha." Baekhyun menjawab terdengar sedikit... sedih. Chanyeol dapat merasakan kejujuran dalam kata-kata Baekhyun dan hal itu membuatnya khawatir bahwa di balik topengnya Baekhyun menyimpan sesuatu yang lebih.

"Berusaha?"

"Sudahlah, lupakan saja."

Mereka tetap seperti itu sampai hampir satu jam. Chanyeol memperhatikan setiap gerak Baekhyun dan Baekhyun berusaha menghindari Chanyeol seolah hidupnya bergantung pada itu dan sebenarnya suasana di antara mereka tidak begitu kaku, Chanyeol dapat merasakannya.

Pendapatnya tenatang Baaekhyun sama sekali belum berubah.

Dia tetap terlihat cantik di matanya.

Bukan hanya karena make upnya – bahkan sebenarnya make up nya membuat Baekhyun terlihat lebih sepert boneka – dia betul-betul cantik. Mungkin Baekhyun bukan satu-satunya calon yang sempurna. Mungkin dia memang betul menginginkan pria itu. Sungguh menginginkannya. Bukan hanya sekedar hasrat. Tapi dia tahu Baekhyun tidak akan pernah setuju. Oleh karena itu dia merasa takut, yang dapat dilakukannya hanya mengawasi dari jauh.

Tapi dia tidak tahu bahwa mereka berdua mungkin saja iya dan mungkin juga tidak takut.

Akan sesuatu.

Jelas sekali.

Baekhyun menghela nafas keras.

"Apa kau bosan?" tanya Chanyeol dengan jelas bermaksud mengatakan "Maaf kau terjebak di sini denganku."

"Kenapa kau jadi baik?"

Chanyeol terperanjat.

"Maaf aku tidak bermaksud untuk bersikap kasar. Hanya saja, rasanya sangat aneh kalau orang sepertimu tidak congkak atau sombong atau suka menghina atau yang seperti itu. Maksudku, kau itu sangat kaya. Bisa memiliki apapun yang kau inginkan, semua gadis yang kau inginkan – atau pria – kalau untuk kasusmu – jadi itu terasa sangat aneh."

"Kau tahu? Tidak semua orang kaya itu congkak."

"Well, kau agaknya memberi kesan seperti itu pertama kali kita bertemu. Aku bahkan belum tahu kau CEO waktu itu dan kau terasa sangat menakutkan bagiku."

"Benarkah?"

"Yeah. Dengan telepon dan yang lainnya."

"Yang meneleponku waktu itu Sehun, temanku."

Baekhyun terdiam. ".. well, aku tidak tahu. Lalu setelah itu kau datang mengetuk pintu kami. Dan aku merasa, dia datang ke sini secara pribadi tanpa membuat janji atau menelepon terlebih dahulu."

"Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu?"

"Karena itu yang para CEO lakukan." Ujar Baekhyun tak acuh. "Jadi aku beranggapan kalau kau itu idiot."

"Ouch."

Baekhyun terkekeh. "Sebenarnya hal itu sangat baik. Tapi kemudian aku merasa frustasi karena kau tidak seburuk yang kubayangkan."

"Percayalah, kau bahkan belum mengetahui setengahnya."

"Aku tahu."

Makanya aku menghindarimu.

"Well," Chanyeol meluruskan kakinya. "Kau sendiri juga tidak begitu buruk."

Baekhyun memiringkan kepalanya bingung.

"Kalau kita bertemu dengan cara yang lebih baik, pasti sekarang aku sudah main-main denganmu."

Baekhyun terkekeh dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah yang terbentuk di wajahnya.

Chanyeol tidak bisa menyembunyikan seringaiannya. "Karena itu aku muncul di depan pintu rumahmu."

"Kupikir itu karena kau butuh pacar sewaan."

"Yeah, aku tidak sengaja mengatakan pada ibuku kalau aku punya pacar sewaktu dia menjodohkanku dengan seorang gadis."

Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Kau sudah bertunangan?"

"Yeah, kalau bukan karenamu mungkin sekarang aku sudah ditunangkan. Tiba-tiba saja dia muncul dan mengatakan aku akan menikah dengan gadis ini... kau tahulah." Chanyeol mengangkat bahunya.

"Ngomong-ngomong kau tidak terlihat begitu senang membicarakannya jadi tidak akan kutanya bagaimana rupanya."

"Well, itu ada alasan tertentu yang sangat jelas."

"Kalau memang ada alasan yang sangat jelas, lalu kenapa dia sepertinya sangat menyukaiku? Ibumu maksudku."

"Oh yah. Aku uumm.. sudah mengurus hal itu. Latar belakangmu dan yang lainnya."

Baekhyun ternganga. "Park. Chanyeol."

"Hanya sedikit kebohongan..."

"PARK CHANYEOL!"

"Well, aku tau ibuku pasti akan meneliti latar belakangmu! Aku tidak ingin menimbulkan lebih banyak masalah untukmu jadi aku melakukan apa yang bisa kulakukan." Chanyeol mencoba membela diri.

Baekhyun memijit keningnya. "Kau betul-betul membuatku sakit kepala. Yang benar saja?!" Dia berbalik ke kiri dan mendengar suara gersak diikuti semacam decitan dari arah tumpukan kursi kayu. Baekhyun membatu. Pada bunyi gersak kedua, Baekhyun meloncat dan segera melompat ke Chanyeol, menggenggam erat bajunya. "TIKUS!"

"Apa?" Chanyeol terkejut karena Baekhyun melompat dan bersembunyi di belakangnya, sekaligus mendorongnya ke depan. "Ada apa?"

"Apa maksudmu ada apa? Ada tikus besar mengerikan di sana." Baekhyun berteriak dan Chanyeol berbalik ke depan, tepat ketika si tikus berlari ke arah lain.

"OH MY GOD!"

"Baekhyun itu hanya tikus."

"TIKUS ATAU TIKUS BESAR BAGIKU SAMA SAJA" Baekhyun berteriak tepat di telinga Chanyeol.

Chanyeol menutup telinganya untuk melindungi telinganya dari bahaya suara Baekhyun. "Dia tidak akan bisa menyakitimu."

Tikus itu berlari lebih dekat ke arah mereka membuat Baekhyun berteriak lebih kuat. "Chanyeol bunuh dia!"

"Apa? Apa maksudmu bunuh? Aku tidak akan membunuh seekor tikus lemah."

Baekhyun bergeser dari posisinya frustasi. "Baiklah kalau kau tidak mau, aku akan melakukannya sendiri." Baekhyun berdiri tegak dan merebut tongkat besi yang dipakai Chanyeol untuk merusak kenop pintu tadi dari tangan Chanyeol. Chanyeol langsung berdiri dan menarik Baekhyun.

"Baek, hentikan. Dia tida tidak akan menyakitimu!"

Baekhyun mengabaikannya dan terus memperhatikan tikus itu.

"Baek –"

Berdecit.

"AHHH!" Baekhyun mengayunkan tongkat besi itu, mengenai Chanyeol, yang berdiri di belakangnya, tepat di kepalanya, lalu melempar tongkat itu ke tumpukan kursi rusak. Penglihatan Chanyeol mengabur dan dia jatuh ke lantai dengan keras. Baekhyun memiringkan alisnya, bingung, ketika dilihatnya tidak ada tikus keluar dari kursi yang berserakan. "Chanyeol, dia sudah pergi – Ya Tuhan!" Dia berseru begitu melihat pria tinggi itu terduduk di lantai. "KEPALAMU BERDARAH!"

"Yeah, aku bertanya-tanya kenapa aku tidak merasakan apa pun." Chanyeol berbisik kesakitan.

Baekhyun berlutut di depannya. "Apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin tongkat besi terlibat dan..."

Baekhyun memekik dan merasa bersalah. "Maafkan aku!"

"Yeah.. sudah terlanjur terjadi jadi..."

Baekhyun merobek bagian bawah gaunnya.

"Baekhyun? Apa yang kau lakukan?"

"Setidaknya kita harus menghentikan darahnya." Baekhyun berbisik sambil meletakkan kain di luka Chanyeol. "Sakit?"

Chanyeol tidak menjawab, dia hanya memandangi Baekhyun. Hal seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Pasti. Lucu. Setiap kali mereka bersama, pada akhirnya Baekhyun akan melukainya dengan sesuatu. Chanyeol terkekeh.

Zona bahaya.

"Kenapa kau tertawa? Ya Tuhan, Kau gila."

Chanyeol mengedipkan matanya. "Apa? Tidak. Aku hanya teringat sesuatu." Dia mengangkat tangannya menyentuh kepalanya yang terasa sakit, dan tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Baekhyun. Baekhyun segera – tentu saja – menarik tangannya. Chanyeol menyeringai dan menggenggam tangan Baekhyun. "Tanganmu sungguh lembut."

Baekhyun memukul tangan Chanyeol. "Itu pelecehan seksual."

"Aw!" Chanyeol berpura-pura merasa sakit.

"Ada apa? Kau baik-kaik saja? Apa kepalamu sangat sakit?" Baekhyun merasa khawatir, menanyakan pertanyaan beruntun. Tentu saja, Baekhyun langsung sadar dan memukul lengan Chanyeol. "Ugh! Brengsek!"

Chanyeol tertawa senag tapi berhenti tiba-tiba karena merasa sakit. "Leherku mulai terasa sakit."

"Duuh, tentu saja. Kau bersandar di beton." Jawab Baekhyun. Setelah sedikit berargumen dengan sisi waras di kepalanya, akhirnya Baekhyun menyerah. Dia duduk dengan baik di lantai dan menepuk pangkuannya. Chanyeol menatapnya dengan pandangan bertanya. "Kalau memang sakit, kau boleh meletakkan kepalamu di sini."

Chanyeol tidak dapat percaya dengan apa yang didengarnya.

"Lagipula lukamu juga kan gara-gara aku." Baekhyun menambahkan dengan agak malu dan dia menggigit bibirnya. Ketika Chanyeol mulai tersenyum, Baekhyun membantunya meletakkan kepalanya di atas pangkuan Baekhyun dengan baik. "Kepalamu berat sekali."

"Ada banyak hal tersimpan di kepalaku." Balas Chanyeol, melihat ke atas, kepada Baekhyun.

"Misalnya?"

Misalnya tentang betapa cantiknya kamu.

"Beberapa ... hal," bisik Chanyeol sambil menutup matanya.

"Kau akan tidur?"

"Apa aku tidak boleh tidur?"

Setelah diam beberapa saat, Baekhyun akhirnya bicara. "Well, tidurlah kalau kau memang mau tidur." Chanyeol membalasnya dengan senyum.

Sesungguhnya Chanyeol terlihat seperti bocah ketika dia menggulung seperti ini, berusaha menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Baiklah, Baekhyun jadi merasa lebih bersalah, terima kasih. Ngomong-ngomong mereka memang betul-betul bertemu dengan cara yang salah. Tapi kesan pertama tidak akan bertahan selamanya. Mungkin dua hari lagi atau lebih dia akan menganggap kebodohan Chanyeol mempesona dan bukannya menjengkelkan.

Baekhyun tidak sadar, tangannya sudah bergerak mengelus rambut keriting Chanyeol dengan tangannya sambil bersenandung lembut.

.

.

.

.

"Apa kau sedang kerasukan? Atau apa?" Sehun bertanya pada orang di sisi lain telepon sambil menyetir di sekitar kota, satu tangan menggenggam setir. "Pertama, kau membawaku ke toko yang baru dibuka itu. Dan sekarang kau membelikan toko bubble tea untukku?"

"Kenapa? Kau tidak menyukainya?"

"Tidak. Itu membuatku ngeri. Yang benar saja? Sebenarnya apa yang salah denganmu?"

"Apa kau tidak bisa menerima saja bentuk keramahan seseorang?"

Sehun tersedak. "Maaf? Kai, kau tidak pernah ramah. Kami sudah mengenalmu bertahun-tahun dan kau saudaraku dan kalau aku tidak salah ingat, kau selalu memukulku dengan mainanmu."

"Aku tidak melakukan itu."

"Kau melakukannya. Terakhir kau bersikap seperti ini adalah saat kau jatuh cinta dengan – tunggu."

"Apa?"

"Kau sedang jatuh cinta kan?"

""Apa? Apa yang kau katakan?"

"Ouch, Kai, aku bahkan bisa mendengar kau sedang merona sekarang. Dan hal itu sangat bagus karena aku betul-betul tidak ingin melihatnya." Sehun berbisik. "Baiklah, sekarang katakan. AYO KATAKAN!"

"Baiklah, baiklah. Lagipula ini bukannya pertama kalinya kau tahu perubahan hatiku. Aku sepertinya sedikit menyukai teman Luhan."

"Siapa?"

"Teman Luhan. Baekhyun. Kau belum bertemu dengannya?"

"Tidak. Aku hanya tahu Luhan. Dan tidak tahu temannya."

"Well, kalau kau kenal Luhan maka kau akan bertemu Baekhyun cepat atau lambat." Sehun memutar bola matanya.

"Tunggu apa dia yang sedang bersamamu saat di restauran?"

"Oh, aku harus pergi." Kai berteriak dan segera memutuskan sambungan.

"Wow." Bisik Sehun sarkastis sambil menjatuhkan tangannya. Dia berhenti ketika dilihatnya kendaraan yang cukup familiar lewat. "Chanyeol?!" Dia lanjut mengemudi tapi berhenti lagi saat melihat sosok familiar keluar dari pintu, dan seperti yang diharapkannya. "Luhan?"

Luhan melihat ke arahnya, kaget.

"Well, well, well, bertemu lagi."

Luhan menggigit bibirnya megingat pertemuan pertama mereka, dimana dia sangat mempermalukan dirinya. Sangat sangat mempermalukan dirinya. Sembilan kali sangat mempermalukan dirinya.

Luhan mencoba melarikan diri, tapi Sehun lebih cepat melompat dari mobilnya dan menahan tangan Luhan. "Kau tidak akan bisa lari kali ini."

"Sedang apa kau di sini?"

"Aku hanya sedang mengendara. Ada apa? Kau terlihat kesusahan."

Luhan menarik tangannya dan menghela nafas berat. "Aku tidak tahu di mana Baekhyun berada. Tiba-tiba saja dia menghilang dan aku tidak bisa menemukannya di mana-mana. Aku bahkan tidak bisa meneleponnya."

"Kau bisa memakai ponselku." Kata Sehun menawarkan ponselnya.

Luhan ragu-ragu awalnya tapi dia terlalu khawatir pada Baekhyun sekarang ini, dia akan menerima setiap pertolongan yang bisa didapatnya. Dia menerima ponsel Sehun dan mulai menekan nomornya. Setelah beberapa detik, mereka mendengar lagu TTS. Luhan menarik ransel Baekhyun yang sedang disandangnya lebih dekat ke telinganya dan sadar lagu itu berasal dari dalam ransel. Dia memutuskan sambungan dan menghela. Bagaimana dia akan menemukan Baekhyun sekarang?

"Apa kau akan menunggu di sini lagi?"

Luhan mengangguk.

Baiklah, satu lagi déjà vu.

.

.

.

.

Chanyeol perlahan-lahan mulai terbangun tepat saat Baekhyun berhenti bersenandung. Baekhyun menatap Chanyeol yang menggosok-gosok matanya dengan jarinya. Dia betul-betul terlihat seperti anak kecil. Bedanya hanya dia tidak kecil. Malah, dia sangat besar. Walaupun begitu, dia tetap manis.

Chanyeol akhirnya sadar sepenuhnya dan menatap tepat ke mata Baekhyun, mengejutkan Baekhyun yang sedang memperhatikannya. "Uh, hai." sapa Baekhyun kaku.

"Sudah berapa lama aku tidur?"

"Tidak terlalu lama."

Chanyeol, perlahan-lahan berusaha duduk dan Baekhyun meluruskan kakinya yang mulai terasa kesemutan. Chanyeol memeriksa jam. "Sudah jam 5 sore."

"Yang benar saja." Baekhyun meringis diikuti juga dengan ringisan perutnya.

"Well, kita tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Memangnya tidak ada orang yang lewat sini?"

"Ruangan ini adalah bagian paling dalam di studio ini. Kupikir tidak ada orang yang mau lewat sini."

Chanyeol berdiri dan mengambil ponsel dari sakunya, berusaha menangkap sinyal. "Kita harus segera keluar dari sini. Atau kita bisa mati kelaparan." Baekhyun merinding memikirkan kemungkinan itu.

Chanyeol mondar-mandir di sekitar ruangan itu – dan Baekhyun memandanginya – sampai dia tiba di sudut ruangan dan memanjat di tumpukan kursi. Matanya melebar ketika dilihatnya harapan yang muncul di penunjuk sinyal ponselnya. "Yes!" teriaknya dan dia segera menghubungi Sehun. Baekhyun berjalan mendekatinya.

"Halo?"

"Sehun. Ya Tuhan. Syukurlah."

"Chanyeol? Ada apa?"

"Dengar, di mana kau sekarang?"

"Aku di..."

"Studio Homme Fatale."

Telinga Baekhyun langsung menajam begitu mendengar suara yang sangat familiar baginya. "Luhan?"

Chanyeol langsung bertanya pada Sehun setelah mendengar Baekhyun. "Kau sedang dengan siapa?"

"Uh... Luhan."

Baekhyun langsung juga menaiki kursi agar bisa mendengar lebih dekat. "Luhan!"

"Baek? Kaukah itu?"

"Ya, ini aku."

"Kenapa kau bersama Chanyeol?! Apa yang terjadi?!"

"Kami terkunci di sebuah ruangan."

"Apa? Di mana?"

"Di ruangan paling ujung di lorong yang kita gosipkan berhantu."

"Baiklah. Tetap di sana. Kami segera datang."

Chanyeol dan Baekhyun langsung ber high-five ria sambil tertawa lega. Beberapa menit kemudian, terdengar suara sesorang menendang pintu lalu membukanya. Luhan langsung masuk dan menyerang Baekhyun dengan pelukan mematikan. "Baek?! Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja... Lulu, aku tidak bisa bernafas."

"Oh!" Luhan langsung melepaskan pelukannya dan tertawa. "Maaf. Kupikir terjadi sesuatu padamu." Dia menatap sekilas pada Chanyeol lalu menatap Baekhyun sekali lagi. "Apa terjadi sesuatu padamu?"

Tentu saja Baekhyun mengerti maksud kata-kata Luhan. "Tidak. Tentu saja tidak."

Luhan mengacak-acak rambut Baekhyun. "Ayo, kita bersihkan dirimu." Mereka keluar berpasang-pasangan. "Oh, dan ngomong-ngomong, Baekhyun ini Sehun, teman Chanyeol, dan Sehun ini Baekhyun, temanku."

"Yeah, senang bertemu denganmu." Ujar keduanya bersamaan, membuat keduanya sama-sama terkejut.

"Sudah kubilang, kalian berdua pasti langsung akrab." bisik Luhan pada Sehun.

Di sisi lain, Sehun, tersadar akan sesuatu.

Baekhyun? Ah, jadi ini orang yang dicintai Kai?

Dia terus menatap Baekhyun, mencoba menyelidikinya, sampai Baekhyun tiba-tiba berbalik ke arahnya. "Apa?"

"Oh, tidak. Hanya saja kau terlihat agak familar."

Tentu saja itu hanya alasan. Yah, walaupun dia memang agak sedikit familiar dengan gaun dan wig itu.

"Well, tentu saja familiar," bisik Chanyeol dari belakang Sehun. "Dia itu Baekhee."

Sehun berhenti seketika itu juga. "Dia – Kau Baekhee?!"

Baekhyun melotot pada Chanyeol lalu berbalik lagi pada Sehun. "Kuharap itu tidak membuatmu merasa jijik."

Tentu saja tidak.

Tidak, jika saudaraku jatuh cinta padamu.

Kau yang ternyata adalah Baekhee, dari semua orang.

"Oh, dia sudah tahu." Ujar Chanyeol sambil mengangkat bahunya dan menyuruh mereka untuk lanjut berjalan.

Jadi singkatnya, Kai jatuh cinta pada versi laki-laki dari tunangan Chanyeol.

...

Wow, semoga beruntung kalau begitu.

Aku akan menonton ditemani popcorn.

TBC

Well, gimana menurut kalian hasil trans sunbaeku? Bagus kah? Oke, maaf kalo masih ada kesalahan di mana-mana, gimana pun kami kan masih belajar u,u. Ditunggu reviewnya ya...

Maaf kemaren lupa nyertain credit untuk original version.

Read original version here:

story/view/286536/1/perfectly-imbalanced-yaoi-baek hyun-chanyeol-hunhan-kray-baekyeol-kaibaek

(hilangkan spasinya ya^^)