Summary : Gadis itu terus berlari, melewati cahaya purnama yang membakar lukanya. Dan ketika sebuah pengkhianatan menghampirinya, dia bahkan tak lagi peduli dengan semak belukar yang terus mengejarnya. Bahkan ketika senyuman yang bisa menyelamatkannya lenyap. Lalu apa yang akan dilakukannya setelah ini? Terus berlari? Atau kembali ke rumah?

Disclaimer : Saint Seiya belongs to Masami Kurumada. And this fiction pure by me.

Warning : OOC, OC, TYPO(s), semi!AU (?)

The Curse and Her Love

RnR?

-Keep Enjoy-

-OOOooooOOOoooo-

Henna berdiri di depan pohon palem. Di sampingnya, Mitsuki sedang tertawa kecil melihat Sophie dan Shun yang sedang bercengkrama. Bibirnya mengeluarkan senandung riang dengan merdu. Hanya beberapa saat sampai akhirnya dia mengalihkan pandangannya ke arah Henna dan tersenyum melihat gadis itu.

"Ne, Henna-chan, di situ ada Ikki-kun, kau tidak mau menghampirinya?" tanya Mitsuki.

Wajah Henna memerah sempurna. Manik birunya ia lemparkan ke arah lain, berusaha menyembunyikan kegugupannya, "Iie, Mitsuki-chan, aku menemanimu di sini saja," jawab Henna. Sedangkan Mitsuki hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyum cerah.

Mereka kembali menikmati waktu-waktu bersama. Bercanda dan berbagi cerita. Tidak sadar kalau di depan sana sudah ada Kanon yang memang berniat menghampiri mereka. Ah, bukan hanya Kanon, Saga dan Shizen menyusul di belakangnya.

"Mitsuki-chan, Henna-chan," panggil Shizen. Lalu, bergabung bersama mereka.

"Shizen,"

"Doushite, Shizen-chan?" jawab Mitsuki. Pandangannya bertemu dengan manik mata Kanon, lalu, dengan cepat ia alihkan ke arah lain.

Saga berjalan mendekati Henna, Mitsuki, dan Shizen, begitu pula Kanon. "Kalian tau 'kan tantangan kali ini?"

Sedangkan Henna mendongak, melihat Saga yang berdiri tak jauh di depannya, lalu mengangguk. "Kalian mau apa ke sini?" pandangannya berhenti pada Kanon yang sejak tadi –ia sadari melihat Mitsuki terus.

"He-Henna-chan…" Mitsuki sweatdrop melihat Henna yang menatap tajam Kanon. Tidak butuh waktu lama untuk menarik Henna sedikit menjauh dari Kanon. Sedangkan Shizen hanya mengerutkan dahinya, bingung, melihat Henna dan Mitsuki.

Sadar akan si kembar, beberapa Goldies mulai merapat ke arah mereka. Dan lekas mengambil posisi wenak untuk melihat drama picisan berikutnya. Misalnya saja Aphrodite yang udah nyemplung lagi ke sungai, ingat, dia ikan. Karena tidak terima Dite dipanggil ikan, readers plus big fans Aphrodite membakar author ramai-ramai. Dan cerita ini dilanjutkan di kehidupan yang akan datang…

END

Maaf tadi ada kesalahan teknis. Ayo lanjut ceritanya (readers : huu!)

Ehem ehem. Setelah berada di posisi wenaknya masing-masing –termasuk Milo yang dengan muka lecek, asem duduk di bawah pohon cabe, niatnya mau gantung diri tapi malah berevolusi menjadi cabe-cabean (?) juga sikit-sikit curi pandang ke arah gemini atau Shizen? Entahlah.

"Jadi kalian ke sini mau mencium kami?!" tanya Henna yang sepertinya baru ngeh dengan kondisi saat itu. Tentu saja dibalas dengan tatapan horror Mitsuki dan Sophie.

Kanon melangkah maju mendekati Henna dan Mitsuki. Badannya ia condongkan ke depan, "Bisa dibilang begitu," Henna sudah siap dengan tinjunya, namun lagi-lagi berhasil ditahan Mitsuki. "Tapi aku tidak mau mati dibantai Shaka dan Ikki," ia tegakkan kembali tubuhnya, lalu bergantian menatap Henna dan Mitsuki. "Jadi,"

CUP

Satu kecupan sukses mendarat di bibir Mitsuki. Dengan muka merah padam, Mitsuki memegangi bibirnya, berguman kecil, "Kanon-kun," tentu berbeda dengan reaksi Mitsuki yang membatu, Henna dan Sophie tanpa tanggung-tanggung menghajar Kanon sepenuh hati.

"Dasar pedofil!" teriak Henna sambil menendangi Kanon yang sudah terkapar.

"Aku tidak menyangka Kanon-nii pedofil," Sophie ikut menendangi Kanon. Sedangkan yang ditendang hanya mengaduh kesakitan dan berharap tidak ada satu pun tulang yang bergeser dari temoatnya. Saga yang sejak tadi memperhatikan, kini tertawa melihat sang adis digebukin oleh Henna dan Sophie, yah, setidaknya itu akan menjadi pembelajaran bagi Kanon agar tidak sembarangan mencium orang lagi.

"Saga! Tolongin gue dong!" teriak Kanon.

"Tidak ada penolongan untuk orang ini!" Henna balas meneriaki Kanon. Dan dengan gencarnya lagi, melanjutkan gulatannya yang sempat tertunda, begitu juga Sophie.

Ayo kita do'akan Kanon agar tenang di Elysi–

Kanon belum mati!

Hanya sekarat, oke? Jadi untuk fans besar Kanon di luar sana, jangan nangis dulu. Karena makhluk satu ini mesti harus disimpan untuk kepentingan cerita (readers : jangan buang-buang waktu!)

Kembali lagi ke TKP. Kanon yang sedang dikipasi di bawah pohon oleh Deathmask dan Aphrodite. Jangan berpikir bahwa kedua orang ini bisa akur, dengar saja cekcoknya mulut mereka.

"Sudah dibilang, Anggie, kipasinnya jangan terlalu kenceng," Aphrodite yang berada di sisi kanan Kanon meneriaki Deathmask yang ada di seberangnya. Sedangkan Deathy hanya memasang tampang selow dan kembali ngipasin Kanon ogah-ogahan.

"Anggie, kipas yang benar!" teriak Dite lagi.

"Berisik, Banci! Udah gue bilang jangan manggil gue dengan sebutan Anggie!" bukannya membaik, Kanon justru tambah sekarat karena teriakan dua orang ini. Kepalanya berasa berputar-putar dan sejak tadi terdengar bunyi "ngiiing" di dalam telinganya. Mungkin oktaf teriakan Dite dan DM yang terlalu kencang sehingga mengakibatkan adanya kerusakan di gendang telinga Kanon.

Sedangkan di sisi lain, ada Henna dan Sophie yang masih setia menemani Mitsuki dengan wajahnya yang memerah. Mungkin masih syok dengan kejadian barusan. Wajar saja, dia tidak pernah dicium oleh laki-laki seperti itu. Untung saja abangnya tidak ada di sini, jika ada, sudah dipastikan Kanon tak bernyawa lagi sekarang.

"Mitsu-chan, aku akan menghajarnya lagi setelah ini," ujar Henna, masih berapi-api seperti tadi.

"Aku juga!" balas Sophie. Sedangkan Mitsuki hanya menatap kedua sahabatnya, sendu.

"Daijoubu, aku tidak apa-apa, minna. Kasian Kanon-kun kalau kalian menghajarnya seperti itu," jawab Mitsuki. Tatapannya ia alihkan ke arah Kanon yang masih terduduk di bawah pohon. Ada seulas senyum sendu saat dilihatnya wajah dengan mata terpejam itu.

Lalu, bagaimana dengan Shizen dan Saga?

"Nii-san, kita harus bagaimana?" sementara para goldies sudah mulai mengerubuni mereka. Juga Mitsuki, Sophie, dan Henna. Ada rasa waswas di hati Shizen. Jangankan dicium cowok, mencium mereka saja enggak pernah.

"Tenanglah, Shizen," niatnya mau menenangkan sang adik, tapi tentu di hati tak bisa berbohong bahwa sebenarnya Saga juga waswas.

"Oi, tinggal kalian yang belum," Aiolia duduk di atas pohon sambil menguap lebar. Menandakan, ia benar-benar bosan menunggu sekarang. Sedangkan, sang kakak, Aiolos, menatap Saga sambil tersenyum menenangkan. Seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Dan yang bimbang kini, adalah Saga. Dia tidak mungkin mencium Henna, tidak karna ia masih sayang nyawa. Mencium Sophie? Katakan "Hallo" pada Cape Sunion. Mitsuki juga tidak memungkinkan. Dan yang tersisa satu-satunya kini adalah…

Saga melirik ke arah gadis di sampingnya. Shizen. Juga sedari tadi tak mengalihkan tatapannya pada Saga, meminta bantuan secara tak langsung dengan sang kakak. Dan Saga hanya bisa menghela napasnya.

"Shizen…"

Panggilnya, pelan.

Tanpa membuang waktu lagi. Segera ia cubit bibir itu dengan cubitan dari bibirnya. Hanya mengulum pelan dan sebentar. Namun berhasil membuat darah Shizen berdesir dan teman-temannya lainnya menatap syok.

Semuanya terdiam.

Tidak ada yang berbicara atau pun bergerak dari tempatnya.

"S-Saga-nii…" Shizen menatap takut Saga sambil memegangi bibirnya. Begitu juga Kanon yang langsung bangkit ketika melihat Saga mencium Shizen. Tatapan horror tak urung dilayangkan oleh Henna, Sophie, dan Mitsuki. Tapi satu lagi, seorang yang sejak tadi berdiri di urutan paling belakang, sejak tadi terdiam membatu, tak berkomentar apa-apa, atau heboh seperti biasanya, Milo. Dengan penuh kecemburuan dan kemarahan yang menatap Saga sambil mengepalkan tangannya.

Dan Saga yang sudah berkeringat dingin saat mendapati rekan sesame gold saintnya juga menatapnya horror. "Tu-tunggu. Kalian harus mendengarnya dulu. Aku-bukan-pedofil!" ujar Saga, frustasi.

"Kalau bukan pedofil, lalu yang barusan itu apa?" tanya Shura. Kata-katanya yang terlihat biasa, namun dengan nada yang menusuk.

"Ternyata kembar sama saja." cemoh Dite.

"Ciuman itu bukan berdasarkan cinta," Aiolos yang sejak tadi diam memperhatikan kini angkat bicara.

Dan, yang lainnya sontak melihat pria pemilik cloth Sagittarius itu dengan penasaran.

"Benar. Aku tidak mungkin mempedofilkan orang yang sudah ku anggap adik sendiri. Lagian, ciuman itu hanya sebatas ciuman sayang yang diberikan oleh kakak kepada sang adik," kini, nada wibawanya kembali. Saga menatap yang lainnya dengan tegas. Dan suasana mencair seperti semula. Tapi…

"Jelas, kau memiliki maksud tersembunyi pada Shizen, Ga!" Kanon terkekeh di depan Saga. Menatap keduanya dengan tatapan usil dan membuat Shizen semangkin merona. Lalu…

Nah, mau tau kisah hidup Kanon?

Dengan awal yang begitu tentram agak horror karna bisa menciumi gadis cantik bak malaikat, Mitsuki. Dan akhir yang sangat –atau bahkan melebihi kata horror dan tentram. Mencium sepatu Saga dengan indah dan romantisnya.

Faktanya, Saga melempari Kanon dengan sepatunya saat lagi-lagi mendapati Kanon tengah mengusilinya dan Shizen.

Selesai dengan kelompok 2. Mari beralih pada kelompok 1 yang jelas mendapat urutan paling terakhir.

Ikan sudah siap di dalam ember. Di atas pohon tergantung secarik kertas yang menjutai di antara dedaunan. Begitu pun Milo, dengan muka kusutnya berjongkok di hadapan ember yang berisikan beberapa ikan emas. "Lebih baik ikan ini kita goreng saja," ujarnya.

"Milo-nii!" teriak Sophie, geram. Tangannya terkepal kembali.

"Bercanda Sophie…" Milo segera mengambil salah satu ikan tersebut, dan dengan langkah cepat –setengah berlari– Milo memasukkannya ke dalam ember satunya. Lalu memanjat pohon untuk mengambil secari kertas sisa itu.

"MENDADANI ORANG DENGAN MATA TERTUTUP"

Kata demi kata tercetak jelas dengan huruf kapital. Mata Milo terbelalak, dan teman-teman sekelompoknya langsung mengerubuni Milo. Mungkin mudah saja bagi Henna. Karna dengan mata tertutup pun ia masih bisa melihat, setidaknya seperti itu teorinya. Tapi, bagaimana dengan Aiolia, Mu, dan Milo? Jangan tanya lagi. Berdandan saja tidak pernah, apalagi mendadani orang.

Dengan lemas, ketiganya menatap satu sama lain. Mengambil beberapa make up seadanya.

"Siapa yang mau jadi sukarelawan?" tanya Aiolia. Menatap teman-temannya satu per satu. Namun, serempak, mereka mundur. Milo mendesah, begitu juga Aiolia, dan Mu. Henna yang melihat ketiganya, tersenyum simpul.

"Mitsu-chan, mau menjadi sukarelawanku?" pandangannya ia alihkan ke arah Mitsuki. Dengan senyum super manis dan puppy eyes yang membuat semua orang tak bisa berkutik saat melihatnya. "Aku tidak akan membuat wajahmu menjadi hancur kok," lanjutnya lagi. Mitsuki, yang mau tidak mau mengiyakan tawaran Henna, kini mendekat ke Henna.

"Nah, Shaka-nii juga mau jadi sukarelawan?" Henna menatap kakaknya. Dan dengan spontan Shaka langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak, terima kasih, Henna,"

"Ayolah, Shaka-nii. Setidaknya bantu kami," Henna masih berusaha membujuk kakaknya.

"Tidak, Henna." tegas Shaka.

"Jadi, Shaka-nii gak mau membantuku?" aura gelap langsung menyebar ke seluruh penjuru, membuat bulu kuduk meremang. Bahkan Mitsuki dibuatnya mundur beberapa langkah. Karena masih ingin hidup dengan anggota tubuh lengkap, Shaka segera bersujud di hadapan Henna, membuat semuanya sweatdrop setengah mati melihat kelakukan Shaka yang sungguh OOC saat di hadapan Henna.

Henna tersenyum puas melihat Shaka yang akhirnya bersedia menjadi 'sukarelawan."Nah, Dite-san, Deathmask-san, mohon bantuannya yaa," kata Henna dengan senyum 'mautnya.

"Apa?! Gue kagak mau!" satu tonjokan sukses dilayangkan Aphrodite untuk Deathmask. Denyutan hebat mulai dirasakan Deathmask di ubun-ubun kepalanya. Begitu juga dengan ringisan yang keluar indah dari mulutn Deathy.

"Ikuti saja. Aku masih mau hidup." bisik Dite.

Berhasil mendapat sukarelawan, kelompok 1 kini memakai kain putih polos untuk menutupi kedua mata mereka. Perlahan, tangan mereka memoleskan bedakyang –entah sadar atau tidak– sangat tebal.

"Milo, sepertinya ketebalan deh,"

"Mil, ini lipstick sampe keluar dari bibir gimana ceritanya?"

"Eye shadow nya menor. Entar kalo aku kelihatan kayak tante-tante gimana, Mil?!"

"Milo–"

"Lu bisa diam gak sih, Dite?! Gue mana bisa dandanin orang! Lu tinggal nunggu hasilnya aja kok heboh bener!" bentak Milo. Sedangkan Dite yang ada di hadapannya tentu memasang wajah cemburut imut yang membuat semua orang gemes ingin melemparnya. Eit, tapi syukurlah, karena kedua mata Milo kini sedang tertutup oleh kain dan membuatnya tak bisa melihat ekspresi Dite barusan.

Dite melirik sekilas Deathmask yang sedang didandani Aiolia. Sungguh, pemandangan yang ajeb, karena kepiting itu benar-benar terlihat seperti tante –atau om-om yang akan pergi mangkal ke Taman Lawang. Tentu tak terhindari tawa keras Dite yang spontan saat melihatnya, belum lagi gerakan tubuhnya yang tiba-tiba gegulingan di rumputan. Membuat mascara yang baru saja Milo ambil untuk memoleskan bulu mata Dite belepotan ke pipi dan kelopak mata Dite.

"Woi, elu kenapa sih?!" bukan hanya Milo yang terheran-heran, sukarelawan lain serta para penonton juga menatap Aphrodite terheran-heran.

"Anjir, najong sumveh ngeliat itu topeng!" Milo bergidik ngeri saat mendengar Dite berbicara dengan bahasa alaynya. Belum lagi tawa khas kuntilanak yang menggelegar, membuat bulu kuduk yang lainnya meremang.

"Aphrodite-san, kau tidak apa-apa?" Henna bertanya dengan suara pelan. Dan dibalas anggukan sengal-sengan Dite, meski tak bisa melihat secara langsung, Henna tetap bisa tau apa yang dilakukan oleh pria setengah piippwariapiip satu itu.

Setelah Aphrodite berhasil menguasai dirinya lagi dan keadaan kembali normal, mereka pun melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Hingga,

JRENG

JRENG

JRENG

"AIOLIAAA! Lu apaiin muka gue?!" Deathmask berteriak keras, menyebabkan cermin yang ia gunakan untuk melihat wajahnya retak-retak. Reaksi lainnya tak jauh berbeda dengan Aiolia. Bahkan Dite sampai melempari seluruh alat make up ke arah Milo.

"Aku gak mau tau! Pokoknya kembalikan wajahku yang cantik seperti semula!" para goldies langsung ngakak berat saat melihat Dite dan Deathmask yang –benar-benar menyerupai banci taman lawang.

"Lu mau mangkal di mana? Bar-bar di Sanctuary gak kekurangan wanita untuk menampung makhluk seperti kalian!" dengan indahnya –lagi-lagi– Kanon dilempari sepatu. Kali ini bukan mencium sepatu kakaknya seperti tadi. Yang ini lebih istimewa karena, dan lebih…

"Huanjir! Deathmask! Lu berapa taun gak nyuci kaki?! Ini sepatu bau jigongnya ZEUS!"

Seketika petir, badai, topan datang menerpa Kanon.

Sedangkan di sisi lain, Mu yang berkali-kali membungkukan badannya, meminta maaf kepada Shaka karena telah membuat wajah manusia setengah dewa yang rupawan itu jadi hancur. "Aku benar-benar tidak mengerti mendadani orang. Mohon maafkan aku, Shaka," entah sudah keberapa kalinya Mu berkata demikian kepada Shaka. Meski yang dijawab oleh orang itu selalu sama.

"Tidak apa, Mu. Aku mengerti. Dan setidaknya ini lebih baik dari mereka berdua." Shaka tetap kalem seperti biasannya. Bahkan berjalan pelan ke arah sungai untuk mencuci mukanya. Tentu Mu yang masih merasa bersalah mengikuti temannya yang satu ini. Tak lupa membantu sang saint virgo membasuh wajahnya.

Sedangkan Mitsuki dan Henna.

"Astagaa, cantiknyaa…" puji Shizen saat melihat Mitsuki yang sudah selesai didandani Henna.

"Well, aku gak pandai mendadani orang sih," jawab Henna sambil mengarahkan cermin ke arah Mitsuki.

"Henna-chan, ini sudah cukup, arigatou." Mitsuki memegang wajahnya, lalu tersenyum lembut kepada Henna. "Arigatou juga, Shizen-chan." Lanjutnya kemudian.

"Mitsu-chan, kamu cantik sekali," Sophie menepuk-nepuk pipi Mitsuki. Gemas.

"Ahaha, padahal Sophie-chan jauh lebih cantik," Mitsuki memeluk Sophie.

"Sudahlah, kalian sama-sama cantik kok," Henna tertawa melihat kedua temannya yang lain.

Sedangkan Shizen tersenyum geli, lalu berkata, "Henna-chan juga sangat manis,"

"Eh? Masa sih? Rasanya enggak deh," gadis itu memperhatikan dengan cermat wajahnya di dalam cermin. "Padahal Shizen-chan juga lebih manis," matanya menatap Shizen yang sedang tersenyum manis.

"Kau benar-benar mirip 'dia." Shizen mengelus surai pirang milik gadis yang lebih pendek darinya itu.

"Dia?" tersadar akan apa yang diucapkannya, Shizen segera menggelangkan kepalanya lalu melempar senyum termanisnya kepada Henna.

"Bukan siapa-siapa, lupakan."

Sophie dan Mitsuki menghampiri Shizen dan Henna yang sedang berbincang kecil. Mengajak mereka berkumpul bersama goldies lainnya.

"Jadi karena per-timnya sudah selesai, sekarang waktunya…"

"INDIVIDU!" Milo dan Aiolia serempak berkata ala host di IMB (Indonesia Mencari Banci) salah maksudnya (Bakat). Dan serempak juga mereka ditimpukin alat-alat make-up.

"Cukup menistai kami!" teriak Deathmask.

"Kami gak mau sendiri-sendiri," Henna juga menyambung, lalu bergidik ngeri saat membayangkan tantangan memalukan apa yang akan didaptnya.

"Intinya, sudahi permainan ini." Aiolos yang sejak tadi diam, kalem, kini bersuara. Menatap sang adik dengan tegas. Membuat nyali Aiolia seketika ciuut untuk mencuri boxer kakanya lagi. Ouh, ternyata ini toh kebiasaan Aiolia kalau lagi nyungsep ke kamar kakaknya. Mari kita demoiin ramai-ramai, takutnya entar malem kamar kamu yang malah dimasukin Aiolia terus… *horror*

Kembali ke cerita. Di mana duo goldies nista itu dijudge habis-habisan oleh teman seperjuangannya. Hingga,

Kruyuuk

Semua mata tertuju kepada Aldebaran yang tengah memegangi perutnya.

"Maaf teman-teman, tapi aku lapar. Hahaha." Aldebaran tertawa santai sambil mengusap tengkuknya.

Saga sebenarnya juga sejak tadi merasa lapar kini menghela napas, lalu berinisiatif, "Baiklah, bagaimana jika kita membakar ikan yang sudah kita tangkap itu? Mengingat hari juga mulai gelap,"

"Tidaak!" Sophie spontan berteriak, kini menyebabkan dia menjadi pusat perhatian.

"Sophie, kamu kenapa?" tanya Shun yang duduk di samping Sophie.

"E-eh, itu… ano…"

Milo menghampiri adiknya, lalu menyodorkan bento yang sejak tadi sudah ia siapkan untuk Sophie. "Kali ini saja, ya, Sophie? Nii-san juga sudah menyiapkan makanan untukmu," dan ternyata, scorpio yang selama ini kita kenal sangat ceroboh juga adalah sosok kakak yang baik di sisi lainnya. Membuat yang lainnya tersenyum lembut dan beberapa menatap tak percaya.

"Baiklah… terima kasih, Nii-san."

"Baiklah, Saga, kami akan menyiapkan apinya."

Dan begitulah mereka, mulai bergotong royong menyiapkan alat memasak. Tikar sudah digelar dan kayu-kayu bakar juga sudah terkumpul. Tinggal menunggu waktu sampai api sempurna dihidupkan.

Para gadis sudah merapat satu sama lain. Berbagi cerita kembali. Dan hal itu sungguh membuat Shizen senang. Kekeluargaan yang mereka ciptakan itu, membuat Shizen juga merindukan keluarganya, dan pada saat itu juga, ia bersumpah akan menjaga semua orang di sini, menjaga mereka dari hal-hal yang tak ingin ia ulang kembali di masa lalu.

"Shizen-chan ayo bernyanyi!" pinta Sophie.

"Eh, giamana ya… aku gak bisa nyanyi,"

"Suara Shizen-chan pasti merdu kok," Mitsuki tersenyum manis, seraya memegangi pundak Shizen.

Melihat Shizen yang tampaknya masih enggan, Henna menarik-narik lengan baju Shizen, "Ayolah SAhizen-chan, sekali saja… kami ingin mendengarnya," dengan jurus mautnya, yang membuat Shizen tak bisa berkutik di tempat.

"Urgh… baiklah, baiklah, tapi jangan menatap seperti itu," Shizen mengalihkan pandangannya dari Henna, dan detik selanjutnya tertawa keras, begitu juga Henna, Sophie, dan Mitsuki.

"Dakara ima ai ni yuku
Sou kimetanda
Poketto no kono kyoku wo
Kimi ni kikasetai

Sotto voryuumu wo agete
Tashikamete mita yo"

Suara Shizen mengalun lembut di tengah kesunyian mereka. Senyum hangat keluar dari bibirnya, memamerkan keindahan parasnya. Beberapa goldies menghentikan kegiatan mereka tatkala mendengar Shizen bernyanyi.

"Shizen?" panggil Saga.

"Oh, good-bye days ima
Kawaru kiga suru
Kinou made ni so long
Kakkoyoku nai yasashi sa ga soba ni aru kara
Lalalalala with you"

Kini, masa lalu hanyalah tinggal kenangan. Sebuah pelajaran berharga bagi Shizen untung saling mencintai dan mengasihi. Dia membuka matanya, lalu melihat lebar-lebar apa yang disungguhkan di dalam kehidupannya saat ini.

Shizen melirik Sophie yang tampak menikmati nyanyiannya. Lalu merangkul gadis yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.

"Katahou no iyafon wo
Kini ni watasu
Yukkuri to nagarekomu
Kono shunkan

Umaku aishite imasu ka?
Tama ni mayou kedo"

Sophie, Henna, dan Mitsuki berpandangan satu sama lain, lalu tersenyum penuh arti. Mengambil napasnya dalam.

"Oh, good-bye days ima
Kawari hajimeta mune no oku alright
Kakkoyoku nai yasashi sa ga soba ni aru kara
Lalalalala with you"

Shizen tersenyum saat yang lainnya juga ikut menyanyi.

Dan, semua saint yang ada di situ kini mendekat ke arah mereka. Menikmati paduan suara dari gadis-gadis cantik multitalenta. Saga dan Kanon juga mengacak rambut Shizen, sayang. Menyalurkan kehangatan kekeluargan yang sudah lama tak ia rasai.

"Dekireba kanashii
Omoi nante shitaku nai
Demo yatte kuru desho?
Sono toki egao de
Yeah hello! My friend nante sa
Ieta nara ii no ni…

Onaji uta wo kuchizusamu toki
Soba ni ite I wish
Kakkoyoku nai yasashi sa ni
Aete yokatta yo"

Terima kasih karena kehangatan ini. Karena kebersamaan ini.

Selamat datang, hari di mana, waktuku hanya akan terisi oleh kalian dan cinta kalian.

Dan, selamat tinggal masa lalu. Sungguh, hal-hal yang kemarin didapat adalah pembelajaran berharga untuk masa depanku.

Terima kasih.

"Lalalalala… good-bye days"

Prolog

Shizen sedang merangkai bunga di hutan. Dia memang tidak bisa melihat rumah yang gersang tanpa tanaman. Kebetulan sekali, di dekat Athens ada hutan yang memiliki banyak tumbuhan asri, jadi, pagi ini, di sempatkannya untuk pergi ke sana dan mengambil beberapa bibit tanaman.

"Shizen?" suara bass dari seorang pria terdengar dekat di telinganya. Saat ia menolehkan wajahnya ke samping, muncul sosok bertubuh tegap dengan surai biru gelap tengah berdiri tak jauh darinya.

"Scorpio Milo, kan?" tanya Shizen, hanya memastikan bahwa orang yang kini sudah duduk di sampingnya adalah saint scorpio.

"Yup, dan kau sedang apa di sini?" Milo melihat bunga-bunga yang tadi Shizen cabut.

"Mengambil beberapa bunga untuk Kuil Gemini yang gersang," Shizen tertawa pelan, "Kau sendiri?"

"Sebenarnya aku…"

Diam beberapa saat, hingga

CUP

Sati kecupan mendarat di bibir Shizen. Awalnya dia membelalakan matanya, terkejut, namun akhirnya pun kelopak matanya tertutup, menyembunyikan bola mata yang indah itu. Pasrah, dengan apa yang Milo lakukan.

TBC

Caca : Update! Update! Yeaay! ^^ ciee yang dua kali kena cium XD
Shizen :
I-iie!
Caca : *ngakak*
Shizen : Le-lebih baik kita langsung balas review saja!
Caca : Tunggu dulu… Caca mau minta maaf kalau ada typo(s) dan kesalahan lainnya, dan…
Shizen : Terima kasih yang sudah singgah di kotak review. Datang lagi ya ^_^

AmuletWin777
Shizen : Kanon-nii gak macam-macam kok ^_^
Caca : Oh ya, di sini Kanon dan Mitsu masih belum punya hubungan apa-apa ya :D
Shizen : Tapi Kanon-nii tetap setia dengan Mitsu-chan kok! ^_^
Caca : Yup! Eh, Teru, kamu ngapaiin daritadi?
Shizen : *sweatdrop* A-ahaha
Caca : Terima kasih telah mereview, Wina-chan!
Shizen :
Hontou, hontou ^_^

Gianti-Faith
Caca : Sophie, good job!
Shizen : Hihihi, Mitsu-chan emang cocok pakai baju maid itu ^_^
Caca : Kalau Aldebaran? :v
Shizen : Aldebaran lucu kok ^_^
Caca : *sweatdrop* 'ni anak.. -_-'
Shizen : Ahh, terima kasih sudah mampir, Sophie-chan, Gianti…
Caca : Datang lagi ya!~

TsukiRin Matsushima29
Caca : Wahh, kayaknya seru tuh kalau Rin pake pakaian maid!
Shizen : E-eeh? Rin? Kenapa gak coba aja dulu… Rin kawaii kok
Caca : Thea jugaaa! *seretin Thea*
Shizen : Nitsu-nee mau coba juga? ^_^ *dorong Nitsuki ke ruang ganti*
Alvis : Eh? Kemana semua orang? O.o

Matsushima Maiko
Alvis : Eh? Ada Rhea…
Caca : *balik* Oi, ngapaiin kamu di sini? -,-
Alvis : Ngunjungin Rhea
Caca : Dasar nih anak. Oh iya, gimana kalau Rhea pake pakaian maid? Sexy tuh :3
Alvis : *blush* Jangan macam-macam, Caca–
Caca : Mai-nee!... buat Rhea pake pakaian maid gih! :D #kabur
Alvis : Jangan kabur woy! *ngejar*

RnR?