N A U G H T Y

By Hanluxx1220

Main cast: Xi Luhan-Oh Sehun

Pairing: HunHan

DLDR! Siders? Bengkak~

Disclaimer: All cast milik TYME dan orangtua masing-masing. Semua ide cerita milik author dan author hanya meminjam namanya saja.

.

.

Summary:Wajah si manis ini menipu sekali. Berbanding terbalik dengan sifat nakal yang dimilikinya. "Astaga, bocah ini. Bisakah kau berhenti?"-Sehun. "Seh-, maksudku sunbae tampan! Tunggu aku!"-Luhan.

.

Kris memandang kasihan pada Luhan entah kenapa. Luhan jadi risih sendiri karena dipandangi seperti itu.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Lu, apa kau banyak pikiran? Apa kau stress? Apa kau trauma akan sesuatu? Apa ka-"

"Yya! Ada apa?!"

"Kau terlihat semakin kurus. Padahal tadi pagi kau tidak sekurus ini. Ya... Memang sudah kurus. Tapi siang ini jauh lebih kurus."

"Hmm? Aku merasa biasa saja."

"Buktinya bajumu sudah terlihat sangat longgar di badanmu. Sudah pendek, tambah lagi dengan tubuh kurus kering. Oh... Apakah sarapan yang kubuat tadi pagi sangat sedikit? Mungkin kau cacingan? Bisa jadi."

"Kristupid! Kau terlihat sangat bodoh. Ini bukan kemeja milikku. Ini milik Sehun, bodoh!"

"16 kali!"

"Apanya?"

"Kau memanggilku 'bodoh' sebanyak 16 kali sejak tadi pagi sampai sekarang!"

"Lalu?" Tanya Luhan tidak peduli.

"Oho... Aku lupa menulis nama apa pada kontak appa." Ujar Kris yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.

"Yya, yya, yya!! Aku tarik ucapanku!"

"Good."

Luhan melihat jam tangan hitam yang melingkar pas di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam setengah empat sore. Ia harus pergi ke lapangan skateboard sekarang. Jackson dan yang lainnya pasti sudah menunggu.

"Mmm... Aku... Aku harus pergi ke kelas sekarang. Kau pulang duluan saja. Jangan jemput aku nanti. Aku ada urusan dengan Baekhyun dan Lay sepulang sekolah."

"Baiklah. Aku duluan." Jawab Kris. Sebenarnya Luhan merasa bersalah karena sudah membohongi Kris dan dengan mudahnya Kris langsung percaya begitu saja. Tapi jika ia tidak berbohong Kris tidak akan membiarkannya pergi kemana-mana.

Luhan masuk ke kelas dan mengambil tas sekolahnya kemudian langsung melesat pergi berlari melewati lapangan sekolah yang sangat luas.

"XI LUHAN!" Luhan memejamkan matanya erat saat ada yang meneriaki namanya. Sepertinya ia ketahuan. Luhan membalikkan tubuh mungilnya takut-takut dan langsung mendapati wajah tegas milik ketua osis.

"S-sehun sunbae?" Sebenarnya Luhan senang saat Sehun memanggilnya. Tapi keadaan sedang tidak memungkinkan untuk sekarang ini.

"Kau mau kemana? Siswa kelas XI masih ada kelas tambahan sekarang. Kembali ke kelasmu atau kau akan kulaporkan pada Choi seonsaengnim." Ujar Sehun dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Luhan lupa jika hari ini piket Sehun mengurus sekolah bersama Suho.

"Aku tidak bisa."

"Tidak ada alasan. Cepat kembali ke kelasmu!"

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian."

Kali ini teman-teman Luhan lebih penting dari Sehun. Sebenarnya tidak terlalu penting jika saja teman-teman bodohnya tidak menggunakan mobil mahal Luhan sebagai bahan taruhan mereka.

"Cepat masuk!"

Chup!

"Maafkan aku sunbae! Aku harus pergi!" Setelah mengecup-kebiasaan baru Luhan-pipi Sehun, Luhan langsung kabur melompati gerbang sekolah.

"Kenapa tiba-tiba disini panas sekali?" Gumam Sehun sambil mengipas wajahnya menggunakan tangan kanannya. Dalam sekejap ia lupa jika Luhan baru saja membolos. Kecupan ringan Luhan benar-benar berbahaya untuk otak dan jantung. Sepertinya Sehun harus memakai plester di pipinya mulai besok.

"Wajahnya menipu sekali. Wajahnya saja yang sangat polos dan manis. Tapi sifatnya benar-benar di luar dugaan." Gumam Sehun.

Sementara itu, Luhan sudah menaiki bus umum yang membuat Luhan gerah bukan main. Pasalnya, sangat tidak mungkin jika harus memakai mobil Kris, kan? Kris bisa curiga nantinya.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Luhan sampai di tempat yang sangat ramai dengan dinding yang penuh dengan warna khas tattoo.

"Luhan!"

Luhan menoleh pada keramaian dan mendapati Jackson yang bersusah payah melambaikan tangannya. Luhan menghampiri Jackson dan menarik tangan sahabat bodohnya itu ke tempat yang lebih tenang.

"Kenapa kau berdiri di tempat penonton, bodoh? Apa kau sudah menyiapkan skateboardku?"

"Aaa, itu... Mungkin Gikwang sudah menyiapkannya." Cengir Jackson.

"Sial! Kau memang tidak bisa dipercaya." Kesal Luhan.

"Jangan marah-mar... Mereka disana!!" Jackson menunjuk pada tiga orang yang sangat ingin Luhan lempar ke atas pesawat yang sedang terbang karena sudah mengorbankan mobil kesayangannya dan tidak mau bertanggung jawab.

"Hai Lu."

Plak! Plak! Plak!

"Yya! Kenapa kau memukul kepala kami?" Protes Gikwang saat Luhan memukul kepala mereka.

"Jangan pura-pura tidak tau!"

"Oh... Sepertinya dia masih kesal." Timpal Youngmin.

Tim Luhan memiliki 5 anggota. Sama seperti All Black. Ada Luhan, Jackson, Gikwang dan si kembar Youngmin Kwangmin. Luhan adalah leadernya disini. Nama tim mereka agak aneh. Mungkin tidak akan aneh jika Luhan bukan salah satu anggota tim ini. Dashing Team. Luhan memberi nama itu karena ia merasa sangat tampan dan gagah. Konyol sekali.

"Lu, jangan buang waktu. 5 menit lagi waktunya kita mulai. Skeatboardmu sudah ada di arena." Ujar Gikwang mengingatkan. Luhan hanya mengangguk pasti dan melangkah menuju tempat start. Luhan menelan ludahnya kasar saat melihat Shinwon -leader All Black- melakukan semuanya dengan sangat baik. Ia jadi takut kalah sekarang.

Sehun side

Sehun sudah menyelasaikan semua tugas-tugasnya hari ini. Dan sekarang ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Namun mobilnya terhenti saat melihat keramaian di ujung sana.

"Kenapa disana ramai sekali? Bukankah tempat itu sudah tidak dipakai lagi sejak dua bulan yang lalu?" Gumam Sehun. Ia memutar mobilnya ke arah keramaian itu dan turun dari mobil. Entahlah, ia hanya merasa penasaran.

"Permisi, ada acara apa disini? Kenapa banyak sekali orang?" Tanya Sehun pada gadis yang sepertinya masih SMP.

"Halo, oppa tampan sekali. Ayo berkencan denganku!" Bukannya menjawab, gadis itu malah mengoceh tidak jelas.

'Kelakuan gadis ini persis sekali dengan Luhan.' batin Sehun. Ia pun menghindar dan bertanya pada pria di depannya.

"Oh, itu ada pertandingan skeatboard. Kalau tidak salah mereka ada taruhan. Jika tim All Black menang, maka mereka akan mendapat mobil BMW dari Dashing Team. Sebaliknya, jika All Black kalah mereka akan memberi hak lapangan ini sepenuhnya pada Dashing Team." Jelas pria yang bernama Taeyong itu. Sehun mengangguk paham dan mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang sedang bersiap untuk pertandingan.

Tapi... Tunggu, tunggu. Mata Sehun melebar seketika saat melihat pria paling kurus, paling kecil dan paling... Ekhm! Manis yang sudah siap memegang skeatboardnya disana.

"Omo! Apakah dia akan ikut juga?" Tanya Sehun pada Taeyong.

"Yang mana?"

"Disana! Yang memakai seragam sekolah yang sama dengan seragamku." Tunjuk Sehun.

"Justru dia adalah tujuan kami kemari. Luhan sangat hebat disini. Kau tau? Dia tidak pernah kalah sekali pun. Ah, pernah satu kali. Itu pun karena dia sedang sakit kepala saat itu dan berakhir dengan Shinwon yang menang dengan besar kepala saat itu." Jawab Taeyong panjang lebar.

"Tapi... Bagaimana jika dia terjatuh disana?" Sehun meringis saat melihat arena khas skeatboard yang sangat cekung seperti mangkuk ramen itu. Pasti sakit sekali jika terjatuh disana.

"Kalau dia jatuh, tulangnya hanya akan patah. Kalau tidak, kepalanya yang bocor. Tapi mereka sudah pakai helm untuk pengaman. Itu saja. Tidak ada yang lain."

"Kau bilang 'HANYA'? Patah tulang itu HANYA?" Tanya Sehun tidak percaya. Taeyong memandang aneh pada Sehun yang terlihat ketakutan. Jelas saja, bagaimana kalau itu benar terjadi pada Luhan? Bukannya apa. Jika Luhan terluka, Sehun akan merasa bersalah karena ia tidak sempat mencegah Luhan disini. Dan Kris... Pasti dia akan sangat marah pada Sehun nantinya. Setidaknya itu yang Sehun pikirkan sekarang. Atau karena alasan lain? Hanya Sehun yang tau.

Sehun bingung harus lewat mana untuk mencegat Luhan. Tidak ada jalan sama sekali.

"Oh, disana!" Ada pintu kecil disana yang menghubungkan lapangan dengan place penonton.

Srrrss...

Baru saja dua langkah berlari, suara khas roda yang meluncur terdengar jelas di telinga Sehun. Luhan sudah mulai. Sorak penggemar yang meneriakkan nama Luhan benar-benar memekakkan telinga.

Sehun hanya bisa memandang dan meringis tiap kali Luhan melakukan gerakan ekstrim.

"Bocah itu nekat sekali, ck!"

"Nah, nah, nah! Ini bagian klimaksnya!" Seru Taeyong tiba-tiba. Sehun ikut menyimak.

"Luhan! Kau pasti bisa!"

"Calon manisku pasti bisa!"

"Kesayangan kami, berjuanglah!"

Sehun mendengus geli saat mendengar teriakan picisan dari penggemar Luhan.

1, 2, 3! Luhan naik ke puncak dan berhenti sebentar.

"Apa yang akan dia lakukan?" Tanya Sehun.

"Luhan akan meloncat."

"Me-meloncat? Bagaimana?"

"Jika dia tidak bisa mendarat tepat di atas skeatboarnya, maka seperti yang aku bilang padamu sejak tadi. Tulangnya akan patah."

Jantung Sehun berdetak terlalu kencang entah karena apa. Mungkin takut? Mungkin saja.

Luhan mendorong skeatboardnya dengan kaki kanan dan langsung melompat dengan melakukan roll depan. Sehun memejamkan matanya erat tak sanggup melihat si bocah kurus menyebalkan patah tulang.

"AAAAAYEEEAAAHHH!!!" Teriakan Taeyong dan para supporter membuat Sehun berjengit kaget dan membuka matanya.

"LUHAN MENANG!!! YEAY!" Sorak Taeyong tepan di telinga Sehun.

"Benarkah? Luhan menang? Yeay! Luhan menang! Wuhuuu!!!" Tanpa sadar Sehun juga bersorak senang saat Luhan mendarat dengan mulus. Ani, tidak terlalu mulus. Ada memar di pelipis kiri Luhan dan luka berdarah di pergelangan tangannya.

"Ekhm!" Dengan satu deheman Sehun mengembalikan wajah datar dan coolnya setelah tidak sadar sudah menjadi pendukung Luhan selama 2 detik barusan.

Tanpa aba-aba Sehun menghampiri Luhan yang hanya tertawa lepas setelah mendapatkan luka dimana-mana.

"Ikut aku!"

"H-hey! Kenap–.. Sunbae? Kenapa kau disini?"

"Jangan banyak bertanya."

"Tapi kau mau membawaku kemana? Aku belum selesai disini. Teman-temanku belum mulai!" Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luhan tajam.

"Tapi kau sudah selesai, kan? Kau bisa menemui temanmu setelah ini. Paham?" Luhan hanya mengangguk pasrah dan mengikuti kemana Sehun membawanya pergi.

.

.

.

"Sunbae, ini rumahmu?"

"Hmm."

"Kau tinggal sendirian?"

"Hmm." Ya, rumah Sehun hanya berjarak 45 meter dari arena skeatboard. Rumahnya sangat luas dan berwarna abu-abu pucat. Sangat maskulin.

"Rumahmu rapi sekali. Tidak seperti rumahku dan Kristupid." Sehun mendengus jengah karena sedari tadi Luhan terus mengoceh tidak penting dan membuat telinganya ingin lepas saja.

"Kenapa kau memanggil kakakmu dengan sebutan 'Kristupid'?"

"Karena dia bodoh." Jawab Luhan asal. "Eeii... Kenapa kau selalu cepat respon jika aku berbicara sesuatu yang berhubungan dengan Kristupid? Jangan-jangan... APA KAU MENYUKAINYA?! OH TIDAK!" Lanjut Luhan yang membekap mulut kecilnya.

"Yya! Apa maksudmu? Aku tidak suka orang yang kelebihan kalsium dan memiliki alis yang menukik seperti Kris!" Ujar Sehun.

"Oh... Berarti kau menyukai orang yang mungil dan memiliki alis indah sepertiku, hmm?"

"Kau bukan mungil. Tapi pendek." Jawab Sehun yang mengukur tinggi Luhan setinggi lututnya.

"Eih! Aku tidak sependek itu!"

Sehun tidak mengubris ucapan Luhan dan pergi ke sebuah ruangan entah mau apa.

Dalam 26 detik, Sehun kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna putih dan duduk di samping Luhan.

"Jangan bergerak, kalau perlu jangan bernafas." Ujar Sehun.

"Yya! Kau ingin aku mati?"

"Sedikit. Ani, aku hanya bercanda."

"Ha.ha.ha. lucu sekali Oh Sehun."

"Aku akan mengobatimu. Jangan protes."

"Aku tidak terluka!"

"Ini apa?" Ujar Sehun yang menekan lebam di pelipis Luhan sehingga yang terluka sedikit meringis karenanya.

Sehun menuangkan sedikit alkohol pada kapas yang ada di tangannya. Perlahan Sehun menempelkan kapasnya pada lebam Luhan pelan-pelan.

"Sshhh..."

"Apakah sakit?" Tanya Sehun hati-hati. Luhan mengangguk samar sebagai jawabannya tanpa membuka mata sama sekali. Sehun tersenyum tipis melihat wajah Luhan yang kentara sekali jika sedang kesakitan.

"Sekarang kau baru merasa sakit. Saat terjatuh tadi kau tidak merasakan apapun?"

"Aku tidak terjatuh. Hanya tergores sedikit saja." Bantah Luhan lucu.

"Selesai!" Sehun menjauhkan tangannya dan membereskan kotak obat

"Sehun... Aku..."

"Aku kakak kelasmu, Xi Luhan."

"Tapi ini di luar sekolah. Jangan terlalu formal begitu. Aku tidak suka memanggilmu dengan sebutan sunbae." Kesal Luhan.

"Terserahmu saja."

"Sehun, jangan bilang pada Kris soal ini ya?"

"Kenapa?"

"Nanti dia akan melapor pada appa, dan mobilku akan disita selama dua minggu." Ujar Luhan sembari menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Hmm, ada syaratnya."

"Apa?"

"Jangan pernah sembarangan mencium pipiku lagi. Arasseo?"

"Bagaimana mungkin? Aku tidak mau!" Ujar Luhan lengkap dengan wajah murung manisnya.

"Kalau begitu aku akan bilang pada Kris."

"Tapi..." Luhan menarik pundak Sehun dan mencium pipi Sehun agak lama dari biasanya. Sehun mengerjapkan matanya bingung. Luhan menciumnya lagi.

"Itu untuk terakhir kalinya. Tapi aku tidak janji. Kalau kau menciumku di waktu mendatang, maka aku akan bebas lagi menciummu. Arra?" Luhan benar-benar maniak cium. Setidaknya hanya dengan pipi Sehun.

"Itu tidak akan terjadi. Sekarang pulanglah. Aku mau istirahat."

"Kita lihat saja. Ngomong-ngomong ongkosku mana?" Luhan mengulurkan tangannya untuk meminta uang transportasi dari Sehun.

"Kenapa aku? Bukannya kau datang kesini karena kemauanmu sendiri?"

"Aish, aku kehabisan uang. Kau tega padaku?" Sehun berdecak kesal dan mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian memberikannya pada Luhan.

"Terimakasih untuk obat dan uangnya Sehun! Aku pulang dulu." Luhan memberikan Sehun flying kiss pengganti cium pipi. Sedangkan Sehun hanya menggelengkan kepalanya.

.

.

"Errhhh... Hari ini lelah sekali." Sehun merenggangkan otot-otot kakunya kemudian bersandar pada sofa. Belum sempat memejamkan mata, matanya kembali membola saat melihat Luhan datang kembali dengan raut wajah yang sangat kesal.

"Kenapa kau kembali lagi, bocah pendek kurus?" Luhan tidak menjawab dan malah duduk di sebelah Sehun.

"Ada senior tua datang kemari. Aku ingin mengawasi kalian berdua." Bisik Luhan.

"Nugu?"

"Sehunna!"

"BoA noona?" BoA melambaikan tangannya dan duduk di sofa tunggal.

"Eh, ada Luhan juga disini?"

"Iya!" Jawab Luhan sedikit ketus. Sehun ingin sekali terkekeh melihat wajah lucu Luhan saat ini. Namun gengsi sudah menggerogoti hampir semua jiwa Sehun.

"Noona, aku akan mengambilkan minum dulu untukmu." Pamit Sehun yang langsung pergi setelah mendapatkan anggukan dari BoA.

"Aku akan membantu Sehun." Ujar Luhan tanpa melihat pada BoA yang hanya tersenyum maklum dengan sifat Luhan.

"Sehun! Dia siapamu? Sepertinya dekat sekali." Tanya Luhan saat sudah di dapur. Sehun menatap Luhan ragu-ragu. Sepertinya ia harus bercerita pada bocah ini daripada Luhan terus mengganggunya.

"BoA noona... Dia... Ekhm! Dia... Dia kekasihku."

"MWO?!"

.

.

.

.

.

TBC

udah fastup kan? :"v

Tralala... Udah jelas belom si nyak Boa? Wkwkwk... Review kuy biar gue semangat ngetiknya. Ayolah, ayoooo

Siyu~

15.00 WIB

03 Juli 2017