Seperti kumbang-kumbang yang terbang mencari bunga, seperti api yang membakar kayu dengan minyak, dan juga seperti api unggun yang menghangatkan tubuhnya. Tidak pernah tau bagaimana kehidupannya dimasa depan, yang ada hanyalah kesenangan di masa kecil yang bahkan tak tergantikan oleh siapapun. Dalam rengkuhan seorang ibu, ia menyamankan posisinya mendekap kehangatan itu sedang api menjalar-jalar di depannya. Semua orang menyanyi gembira, teman-temannya tertawa terbahak, seorang anak lelaki menyanyikan lagu tiga ekor beruang dan itu terlihat lucu untuk ditertawakan, ibunya juga bahkan tertawa. Ketika anak itu selesai bernyanyi, dia lari kepelukan ibunya yang masih tertawa dan ibunya sendiri menggoda anak itu dengan sebutan menggemaskan.
Ini adalah liburan dengan teman-teman ayah. Sedang yang lain tertawa, ia lebih suka mendekap pada ibunya terlalu introvert, tidak bisa mengkespresikan diri. Bukannya dia manja, dia hanya terlalu sayang pada ibunya. Dia menatap ayahnya yang begitu gagah sebab ia adalah seorang anggota keamanan negara, dia ingin seperti ayahnya tentu saja namun ibunya selalu melarangnya. Anak kecil yang tadi bernyanyi menghampirinya bersama ibunya yang menggandengnya. Perlahan pelukan ibunya melonggar dan dia enggan untuk pergi dari pangkuannya.
"Kyuhyun-ah, bermainlah dengan Sungmin." Bujuk ibunya, Kyuhyun menggeleng dia tidak mau jauh dari ibunya. Melihat itu, anak di depannya mengulurkan tangan sambil tersenyum memuakkan.
"Tidak apa-apa Kyuhyun-ah tidak ada hantu disini." Katanya mengulurkan tangan. Tidak ada tanda-tanda sambutan, ibunya sendiri yang meraih tangannya untuk membalas tangan Sungmin dan membiarkan mereka berdua bergandengan.
"Sementara kami menyiapkan makanan, kalian bermainlah yang tenang. Jangan bertengkar ya…" kemudian para ibu meninggalkan mereka.
Kedua mata Sungmin berkedip menerima semua penolakan dari wajah Kyuhyun, namun ia tetap mengulurkan tangannya untuk digenggam dengan sedikit memaksa ia menggenggamnya erat membiarkan tangan mereka berdua bertaut. Sungmin tau jika Cho Kyuhyun adalah seorang pendiam terbukti dari caranya hanya menempel pada sang ibu tanpa mau bergabung dengan anak-anak lain. mereka kini duduk jauh dari api di dalam ruangan villa di depan TV dan membawa mainan, sementara Kyuhyun tetap diam Sungmin mengganti chanel TV melewati beberapa chanel jika saja ada yang ingin Kyuhyun tonton. Namun anak itu tetap diam seperti diam adalah hobinya.
Malam itu mereka berdua tertidur di depan TV di ruang tengah, tidak ada yang tahu secara jelas sampai dua buah tangan menggapai keduanya dan dengan cepat membawa mereka keluar, Kyuhyun tidak tahu apa yang terjadi ia hanya merasa badannya terpental dengan sangat keras di dekat rumput tempat api unggun tadi dinyalakan, ia melihat Sungmin meringkuk disebelahnya terbatuk dan mendapat luka lecet di pipi. Saat kesadarannya kembali ia menemukan kobaran api yang sangat besar di gedung villa. Dari kejauhan dia melihat ibu Sungmin yang dipapah sang suami mendekat kearahnya mereka melihat kondisi Sungmin dan dirinya. Tapi dimana ibu dan ayahnya?
"Ibu—ayah—." Kyuhyun merengek tidak menemukan kedua orang tuanya. Ia berdiri dan hendak berlari mencari mereka dalam kobaran api yang besar namun Ibu Sungmin lebih dulu memeluknya menyuruhnya untuk tetap diam bersama Sungmin. Sampai ia melihat ayah Sungmin kembali ke kobaran api meninggalkan istrinya yang berteriak histeris dan menangis keras memanggil namanya.
Beberapa saat yang terasa panjang, kekosongan itu diisi dengan isak tangisan ibu Sungmin dan para petugas yang datang bergantian memadamkan api, ia melihat siluet dua orang dari kejauhan dan itu ibu dan ayahnya. Kyuhyun berlari kencang dan memeluk ibunya yang menangis tersedu, di punggung sang ayah ia menemukan pria lain yang adalah Ayah dari seorang Lee Sungmin. Ayahnya pun menangis dan semakin keras ketika meletakkan tubuh kaku itu di depan sang istri dan anaknya. Tanpa menjelaskan apapun, Ibu Sungmin mengerti bahwa orang yang paling ia cintai telah pergi meninggalkannya dan anak mereka satu-satunya.
"Dia menyelamatkanku dari jatuhan besi, besi itu tepat menimpa jantungnya." Penjelasan itu tidak berguna karena pada akhirnya semua tidak akan kembali.
"Kami, berhutang budi pada kalian." Kini ibunya memeluk ibu Kyuhyun yang terisak di depan jasad sang Suami sementara Sungmin juga menangis begitu keras memanggil-manggil sang ayah.
Ketika orang dewasa saling memeluk, tak satupun dari mereka sadar bahwa seorang anak kecil lebih terluka dengan duduk di belakang mereka. Kyuhyun mendekat, untuk pertama kalinya ia datang memeluk Sungmin.
"Ayahmu menyelamatkan ayahku, jangan khawatir karena aku bersamamu."
.
Tidak, itu tidak lama berlangsung sebab setelahnya ayah Kyuhyun meninggal dalam sebuah tragedy kepolisian sehingga Kyuhyun dan keluarga memutuskan untuk pindah dari Korea meninggalkan semua kenangan yang pernah ada dan semua aksi yang terjadi, untuk waktu yang sangat lama.
Kyuhyun kembali setelah sangat lama meninggalkan Korea, tinggal di asrama dan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Mengikuti audisi pencarian bakat karena Korea terkenal dengan itu. Ia menjalani hidup bagaiamana remaja lain lakukan, berterima kasihlah pada Ahra kakaknya yang membiayainya hingga kini juga keluarga mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah sepanjang tahun, ia kembali bertemu Sungmin. Pada sebuah pesta ulang tahun Lee Hyuk Jae, Sungmin datang bukan sebagai undangan melainkan pendekor ruangan. Ia mengangkat apapun yang disuruhkan padanya, kadang membersihkan sisa sampah akibat pesta. Kyuhyun hanya memperhatikannya begitu, seperti burung yang enggan pergi dari pohon ia diam enggan beranjak, music hanya sekedar kebisingan untuknnya.
Sungmin tak banyak berubah, ia masih manis seperti dulu. Matanya masih cemerlang, polos dan jujur. Hanya badan yang meninggi dan sedikit lebih besar dari dulu. Tidak terlalu kurus, ia berisi. Kyuhyun tak bisa memastikan bagaimana jantungnya bekerja, tapi kata-kata ayahnya terngiang di kepalanya. Jika bukan karena ayah Sungmin, dirinya dan ibu mungkin tidak akan hidup sampai saat ini. namun Sungmin bisa saja tidak tahu dirinya atau ia bahkan telah melupakan semua.
Kemudian Kyuhyun mendekat, untuk sekedar sok akrab ia membuka pertanyaan tentang diri Sungmin. Ia benar, Sungmin tidak mengenalnya sama sekali. Apa begitu banyakkah ia berubah? Dan Kyuhyun tidak pernah berfikir untuk cepat-cepat mengaku. Maka permainan ini akan tetap menjadi permainan.
Kyuhyun masuk dalam sekolah seni yang kemudian akan menjadi training di sebuah agensi yang akan mendebutkannya, ia tinggal di asrama dan punya kebebasan yang minim untuk hura-hura keluar lebih banyak menghabiskan waktu untuk tetap diruang latihan dan bernyanyi. Ia kehilangan Sungmin lagi karena rutinitas mereka.
Kira-kira dua tahun kemudian, ia bertemu kembali. Mereka akan masuk universitas. Dirinya juga, namun lebih bebas sebab ia punya jadwal yang padat. Kyuhyun baru saja mendebut solo menjadi artis pendatang baru dan telah memukau banyak orang dengan rupa dan suaranya. Ia bukan tipe orang yang bangga berlebihan pada dirinya sendiri.
Kemudian mereka bertemu lagi, hari dimana ia melakukan fanmeetingnya. Sungmin dengan masker, tak sulit mengenalinya karena matanya yang bulat dan polos itu. ia bersama seorang gadis, yang membuat Kyuhyun sedikit cemburu. Hari dimana hal mengerikan datang dalam hidupnya, ia menyakiti banyak hati orang lain termasuk Sungmin. Tapi itu bukan bagian dari rencana hidupnya, itu bagian dari agensi dan Kyuhyun tak dapat melakukan apapun selain menurut. Dari sana ia baru mengerti bahwa seorang penyanyi dan yang lainnya bukan lagi hanya pekerja seni, namun mungkin lebih dari itu.
Sampai saat itu, waktu mempertemukan mereka kembali dalam sebuah kecelakaan. Lagi-lagi, hal yang dulu pernah terjadi pada orang tua mereka kini terjadi padanya. Sungmin menyelamatkannya dari tragedi itu, dan mulai hari itu Kyuhyun memiliki keyakinan luar biasa terhadap nasib sehingga ia mengulurkan tangannya pada Sungmin untuk digenggam.
Tidak ada sebuah kebetulan, ini sudah terencana dan entah mereka berdua juga tidak tahu apa yang terjadi. Kyuhyun bukan jatuh cinta pada Sungmin karena ia telah menyelamatkannya atau dia adalah fansnya. Namun bisa dibilang waktu yang lebih dari itu.
.
.
Kembali pada masa sekarang. Kyuhyun telah mengakhiri ceritanya mengenai dia dan Sungmin adalah teman masa kecil yang telah berpisah lama, mendapati dua orang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut. Sungmin menganga, karena dia sama sekali tidak ingat dengan Kyuhyun ibunya menyuruhnya untuk menghapus kenangan buruk tentang yang terjadi ketika ayahnya meninggal, sehingga dia tidak pernah mendengar cerita tentang Keluarga Kyuhyun dan lainnya di hari itu. Kyuhyun hanya mengangguk padanya memberi kepastian bahwa apa yang dia katakan adalah benar. Sementara Bora duduk di hadapan mereka mengintimidasi, Sungmin menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Heol, mengapa kau tak bercerita padaku, Lee Sungmin? Bukankah kita teman?"
"Maafkan aku, Bora-ya. Aku ingin tapi kau tau kau sangat jauh dan aku tidak mungkin bercerita panjang lewat pesan." Bora melunak, ia kembali pada dirinya sendiri. Mendekat lalu memeluk Sungmin erat menunjukan jiwa manjanya yang seperti biasa.
"Aku rindu padamu, Sungmin-ah." Katanya, Kyuhyun memilih bangkit dari sana setelah nafasnya yang tertahan melihat adegan itu.
"Hei, aku bahkan memikirkanmu setiap hari, merindukanmu setiap hari!" Bora menunjuk Kyuhyun yang akan beranjak dari tempat duduk, memandang perempuan itu dengan aneh.
"Kau lupa? Aku fansmu! Aku sering datang fanmeeting bersama si kunyuk ini!" Bora menunjuk Sungmin.
"Maafkan aku." Kata Kyuhyun menunduk, kemudian memilih masuk ke kamar meninggalkan mereka berdua.
"Hey, Ming. Apa dia tinggal disini?" Bora berbisik.
"Tidak selalu, hanya jika tidak ingin bertemu reporter."
"Kalau begitu beritahu aku kapan saja dia kemari, aku tidak keberatan menemaninya jika kau sibuk kerja."
"Dia sibuk, dia akan pulang larut setiap harinya."
"Tidak apa-apa! Aku bisa melakukan untuknya."
"Hmm…" Sungmin dibakar api cemburu, dan dia bingung bagaimana harus menolak permintaan Bora itu.
.
Sungmin merasa tulangnya remuk karena terlalu lelah bekerja, hari ini pekerjaan begitu menumpuk dan pulang kuliah tadi ia tidak sempat beristirahat dengan baik karena harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat, Sungmin tau jika pulang kerja bukan hal yang baik dalam menyelesaikan tugas-tugas itu maka ia menggunakan waktu di sela-sela jam pulangnya untuk menyelesaikan semuanya. Kini ia pulang dengan menyeret langkahnya, mambayangkan Kyuhyun ada di rumah dan mungkin telah terlelap atau menonton TV membuatnya sedikit merasa lega, lelahnya sedikit berkurang.
Ketika ia baru saja menggeser pintunya pelan, belum sempat memberi sapaan tentang kehadirannya, pemandangan menakjubkan terjadi pada matanya. Kyuhyun benar sedang menonton TV dengan Bora tidur dipahanya. Perasaannya sakit dan cemburu menguar dimana-mana dari pelosok jantungnya, ini tidak bisa untuknnya walau Bora temannya sekalipun. Sungmin menghela nafas sedikit keras menunjukan kehadirannya.
"Aku pulang." Keduanya tersikap, menatap Sungmin.
"Apa aku mengganggu kalian? Maafkan aku. Aku akan langsung ke kamar aku lelah sekali." Katanya kemudian masuk ke kamarnya.
"Ming—" Kyuhyun mencoba memanggilnya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun urung, selama ada Bora disini maka ia tidak akan bisa untuk menjelaskan apapun pada Sungmin.
" Apa kau tidak pulang? Ini sudah sangat larut untukmu."
"Ah, ini hampir pukul 12. Apa kau ingin mengantarku?"
"Maafkan aku, tapi apa kau ingin orang-orang membuat rumor?"
"Ah, benar. Maafkan aku, aku akan pulang sekarang."
Bora bersiap-siap untuk pulang ke rumah, melambai pada Kyuhyun dan telah berteriak pada Sungmin untuk memberitahu bahwa dia telah pulang. Sampai pada Kyuhyun mengunci pintunya dan ia langsung masuk ke kamar Sungmin.
"Ming—"
"Jangan sekarang Kyu, aku sangat lelah dan ingin tidur saja."
"Kau tidak akan bisa benar-benar tidur dengan perasaan cemburu."
Sungmin membuka matanya melotot "Aku tidak cemburu!"
Kyuhyun terkekeh, merebahkan tubuhnya disamping Sungmin.
"Ohya, kau masih ingat Bora fansku, kan? Tidak seharusnya kau cemburu."
"Bagaimana jika kau menyukainya? Dia wanita yang cantik dan terlihat sangat cocok untukmu!"
"Nah, kau bilang kau tidak cemburu."
Sungmin memerah, ia menutup rapat bibirnya bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Kyuhyun meraih wajahnya sambil terkekeh.
"Tenang saja, aku masih sangat mencintaimu."
.
Hari berganti hari lagi, kemudian menjadi bulan yang cukup menyebalkan untuk Sungmin sendiri. Sebabnya adalah Bora, karena perempuan itu berubah menjadi begitu mencari perhatian Kyuhyun tiap harinya. Sungmin pernah melarang Kyuhyun untuk datang kerumahnya lagi karena iapun tidak merasa begitu nyaman dengan hal itu. ia pulang dalam keadaan lelah dan melihat kekasihmu diperlakukan oleh orang lain membuatmu kesal, jadi Sungmin mengusirnya. Namun Kyuhyun memberikan masukan lain, karena ia terlalu nyaman berada di rumah Sungmin maka ketika tinggal di rumahnya Sungmin pun harus serta dengannya.
Itu mustahil, karena rumah Kyuhyun bisa jadi padat kamera mengintai dan para penggemar dimana-mana. Lagipula, rumahnya lebih dari cukup dari yang ia inginkan. Pada suatu hari Sungmin benar-benar marah dan menyuruh Bora berhenti melakukannya, ia bilang bahwa itu mengganggunya. Dan secara sekaligus menyuruh keduanya berkencan diluar saja, lebih dari cukup ia begitu lelah dan marah dan juga sakit hati, Sungmin mengerti bahwa ia harus membatasi sikap disini. Tapi ini terlalu berlebihan.
Sungmin melempar tas Kyuhyun keluar dan bicara keras pada Bora. Yang membuat ia marah bukan Bora, lebih kepada Kyuhyun. Ia mengerti mengapa Bora seperti itu, dia adalah fans Kyuhyun. Tapi ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun tidak pernah memberinya batasan untuk bersikap, seperti bersandar di pundaknya, menaruh kepala di pahanya, mendengarkan music bersama, memeluk Kyuhyun, memainkan rambutnya atau hal lainnya. Walau Sungmin tau itu hanya Bora sepihak.
Setelah berteriak cukup untuk mengeluarkan emosi, Sungmin membanting pintu kamarnya dan mengurung diri disana. Selama lebih dari sepuluh jam ia beraktivitas yang melelahkan, sekolah membuatnya lelah pikiran kemudian bekerja paruh waktu membuatnya lelah fisik, dan sekarang di rumahnya sendiri membuatnya lelah emosi.
"Sempurna." Gumamanya sendiri diatas tempat tidur.
Tidak ada hal yang paling sempurna dari ini, kan?
Di tengah malam, Sungmin merasa benar-benar haus. Jadi ia pergi kedapur untuk mengambil segelas air. Siapa sangka TV masih menyala dan ruang tamu masih dalam keadaan terang. Kyuhyun duduk disana, tapi kemana perginya Bora? Bagaimanapun, emosinya telah surut dan ia mempertanyakan keberadaan temannya itu kini.
"Dimana Bora?" Kyuhyun menoleh acuh tak acuh.
"Kusuruh pulang."
"Kau tak mengantarkannya? Ini larut sekali."
"Kau mau membuatku terjebak rumor? Lagian, tadi kau yang berteriak menyuruh kami untuk berkencan diluar saja." Sungmin meneguk airnya, ia mengetik beberapa huruf untuk dikirimkan pada Bora memastikan gadis itu sampai dirumah dengan selamat.
"Lalu mengapa kau tidak takut dengan rumor saat kau disini?"
"Bodoh, kau laki-laki tentu saja tidak ada rumor." Sungmin tersedak ludahnya sendiri, dengan tiba-tiba perasaan sedih menghampirinya kepalanya menunduk merasa berat.
"Ya, kau benar. Aku laki-laki dan kau juga."
Kyuhyun tidak bermaksud begitu, tapi kata-katanya masuk ke dalam hati Sungmin dengan cepat.
"Ming, aku ingin kita pergi liburan. Hanya 3 hari." Kyuhyun menggenggam jemarinya erat, mengangkat wajah Sungmin untuk ia tatap.
"Ambillah libur, aku juga akan melakukannya. Hanya untuk 3 hari." Ulang Kyuhyun.
"Kemana kita akan pergi?"
"Kemana saja yang membuat kita senang."
.
.
Pada kenyataannya Kyuhyun tidak begitu menyukai ada banyak orang, tapi penyanyi adalah mimpinya dan tampil di depan orang adalah kewajibannya, seperti telah terbiasa ia menjalaninya dengan suka cita. Sangat mengerti bagaiaman para penggemar mulai membuntutinya kemanapun, Sungmin salah satunya tapi Sungmin bukan penggemar. Dia adalah seseorang yang telah kehilangan sosok ayah demi dirinya, keluarganya walau semua mahluk di dunia ini akan mati juga, tapi kenangan buruk dan hutang budi adalah masalah mutlak di keluarganya.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita menjemur sesuatu di bawah terik matahari. Kulitnya telah sedikit keriput, dan tubuhnya sedikit membungkuk walau wajahnya tetap menjadi cantik meski sudah berumur. Satu hal yang tidak berubah adalah, ia masih punya rambut yang indah.
"Ibu…" Wanita itu menoleh ke arah mereka berdua, Sungmin terlebih dahulu maju untuk mendapat pelukan darinya.
"Apakah kau makan dengan baik? Kau lebih gemuk." Sungmin mencubit pelan lengan wanita itu namun dia terkekeh.
"Ibu makan dengan baik?" wanita itu mengangguk antusias.
"Banyak, sekali." Katanya tersenyum menyebabkan keriput disekitar matanya terlihat lebih jelas. Masih sama, menurunkan mata dan senyuman seorang Lee Sungmin. Kyuhyun berdeham menyadarkan keduanya bahwa orang asing tengah menonton mereka.
"Ah, ibu ini Cho Kyuhyun." Wanita itu kini menatap Kyuhyun tanpa berkedip, sudah barang tentu ia tau siapa Kyuhyun. Dia penyanyi terkenal.
Wanita itu mendekat, mencoba menulusuri wajah itu dengan lebih dekat sehingga kini mereka benar-benar bertemu sesama mata. Wanita itu menaikan tangannya perlahan untuk memberikan sebuah usapan dipipi Kyuhyun membuat pria itu memejamkan matanya merasakan kedamaian itu.
"Cho Kyuhyun?" ucapnya pelan hampir tak terdengar. Kyuhyun mengangguk.
"Ini aku bibi." Kyuhyun memberikannya sebuah pelukan istimewa hangat dan juga menenangkan. Aroma matahari masih tersisa di pakaiannya terlihat bahwa wanita ini terlalu banyak bekerja di bawah sinar matahari.
"Astaga, Kyuhyunie. Apa kabarmu dan keluarga?" Kyuhyun melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat wanita itu.
"Mereka baik, Arra Noona akan menikah sebentar lagi." Mata wanita itu kembali membesar terlihat kaget akan berita dari pemuda di depannya.
"Astaga, dia sudah tumbuh besar rupanya."
Perempuan itu menuntun Kyuhyun untuk masuk ke dalam rumah sederhana miliknya mengabaikan para tetangga yang terlihat heboh memperhatikan Kyuhyun yang begitu tampan, dan juga mengabaikan Sungmin yang menganga tidak tahu apa-apa.
Pada akhirnya mereka duduk di ruang tengah dengan menikmati secangkir teh dan kue jahe tradisional yang enak sekali menurut Kyuhyun. Sungmin memposisikan diri di depan Kyuhyun menatap kedua orang yang terlihat sangat dekat tanpa ia ketahui. Jadi cerita Kyuhyun ke Bora itu benar adanya? Bukan karangan untuk menutupi hubungan mereka?
Ketika perempuan itu menatap Sungmin yang hanya diam di depan mereka, ia baru menyadari bahwa wajah Sungmin tampak bodoh karena tidak tahu apa-apa.
"Hei, apa kau sama sekali tidak kenal dia?" ibunya menunjuk Kyuhyun.
"Ya, dia artis dan penyanyi."
"Bukan itu maksud ibu! Ini Kyuhyun, anak paman Cho yang dulu sering menangis itu." Kyuhyun cemberut karena imagenya begitu buruk.
"Aku lupa." Jawabnya singkat.
"Sudahlah lupakan, jadi bagaimana kalian bertemu dan kemari bersama?"
Kyuhyun menggeleng, "kami bertemu begitu saja."
"Lalu?"
"Ya, tentu saja ingin bertemu bibi. Sekaligus berbicara serius."
"Tentang masa lalu kita?" wanita itu tertawa.
"Ya, masa lalu dan masa depan bi. Masa lalu tentang keluarga kita, masa depan tentang keluargaku dan Sungmin."
"APA?" ibu dan anak itu menyahut bersamaan.
TBC
Aku berharap kalian masih mau membaca meski ini sudah lama sekali, kkkk
Maafkan ya, aku baru habis UTS ditambah kesibukan lain di sekolah. Kalau sempat silahkan dibaca dan aku harap setelah baca kalian bersedia untuk review demi perkembangan cara nulisku yang hacur ini.
Gomawoyo…
