Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira, Varia New Member (Selena dan Xenon) belongs to Eltrish. And don't forget that Xanxus and Squalo belongs to each other! (Fufufu, who can deny this fact?)

Warning: OOC, typo, cussing words, cerita amburadul, cacat, maksa, GJ, dan karya dari seorang penulis amatiran.

Fic ini juga merupakan fic dalam rangka meramaikan fandom KHR dengan pairing XS bersama Arisu-san!

Enjoy the story! ;)


"VOI! Ayunkan tanganmu lebih kuat lagi!" teriak Squalo pada Selena. Bocah perempuan di hadapannya pun kembali menganyunkan pedang dengan sekuat tenaganya. Kali ini barulah Squalo terlihat puas. "Baiklah, kau boleh istirahat sebentar, bocah sial."

Selena pun tersenyum dengan lebar kemudian meraih tubuh Squalo dengan kedua tangannya. "Es krim! Es krim! Es krim!" pinta Selena setengah mendesak. Sepertinya ia tak sabar ingin diberi hadiah setelah seharian ini berlatih keras.

Squalo hanya mendesis pelan. Putri kecil Varia ini memang selalu seenaknya. "Iya! Iya! Kau boleh minta es krim pada Lussuria!"

Tidak tunggu lama Selena pun langsung melesat pergi keluar dari ruang mencari Lussuria.

"LUCULIAAAAAAAAAA!"

Squalo hanya menghela nafas pelan sembari mengamati kepergian Selena. "Dasar, padahal ia baru menyelesaikan 4 dari 7 tahap latihan yang kuberikan. Sifat bos brengsek yang seenaknya itu benar-benar persis menurun padanya!" gerutu Squalo sembari melangkahkan kakinya menyusul Selena.

Sementara itu, di lain tempat.

"Bidik sasaranmu dengan benar, bocah brengsek." perintah Xanxus pelan. Ia mengamati bocah kecil di hadapannya lekat-lekat dengan tatapan tajam.

Xenon mengangkat pistol di tangan mungilnya dan kembali membidik sasaran. Sesuai perintah Xanxus, kali ini Xenon membidik sasarannya dengan benar dan pelurunya pun mengenai sasaran tepat di tengah. Xanxus tersenyum dengan puas.

"Kerja bagus, bocah brengsek." puji Xanxus meski wajahnya tetap terlihat datar seperti biasa.

"Voi!"

Alis Xanxus langsung berkerut begitu mendengar kata ajaib itu terlontar dari mulut Xenon. Biarpun dari luar penampilan Xenon nyaris menjadi miniaturnya yang sempurna, pimpinan Varia itu selalu yakin sifat Squalolah yang menurun pada Xenon.

"Cukup satu orang saja di rumah ini yang mengucapkan kata bodoh itu."

"Voi?"

"Itu artinya ini adalah terakhir kalinya aku mendengar kata itu terucap dari mulutmu, mengerti bocah sial?"

Xenon terdiam dan mengunci mulutnya rapat-rapat kemudian barulah ia mengangguk pelan. Keduanya pun terdiam beberapa saat, sampai akhirnya bocah kecil miniatur pemimpin Varia itu kembali buka mulut. "Popa..." panggil Xenon pelan.

Xanxus tidak menyahut tapi sepasang matanya yang merah menyala memandangi Xenon seakan menunggu bocah kecil itu bicara.

"Aku ingin... makan es krim." ungkap Xenon.

Xanxus perlahan mengalihkan pandangannya ke arah jam yang melekat dengan sempurna di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu artinya Xenon tak hanya melewatkan waktu sarapan namun ia juga sudah melewatkan waktu makan siang. Tak heran kalau bocah kecil ini sudah kelaparan.

"Kau boleh pergi." ujar Xanxus singkat.

Tidak tunggu lama Xenon pun melangkahkan kakinya pergi keluar. Sepeninggalan Xenon, tidak perlu waktu lama untuk membuat Xanxus bosan berada di ruangan itu sendirian. Akhirnya pimpinan Varia itu pun melangkahkan kakinya pergi.


"Bocah sial itu sudah menyelesaikan 4 dari 7 tahap. Untuk ukuran bocah dia memang berbakat." ujar Squalo terdengar serius. "Mungkin hanya perlu waktu 1 minggu baginya untuk menyelesaikan semua tahapan yang ada."

Xanxus dengan tenang mendengar laporan dari Squalo lalu melirik ke arah Selena yang duduk tak jauh darinya. Bocah kecil itu sedang duduk dengan tenang sambil melahap es krim hageen-dazs coklat yang dengan sukses mengotori wajah juga pakaiannya, begitu juga dengan Xenon yang duduk di sebelahnya. Xanxus menyerngit jijik lalu memberi isyarat mata pada Squalo untuk segera mengambil es krim coklat bodoh itu dari Selena dan Xenon.

Sembari menghela nafas, Squalo pun beranjak bangun dan mengambil es krim coklat terkutuk itu dari tangan mungil Selena dan Xenon.

"Voi! Acara makan kalian sudah selesai!" seru Squalo setengah berteriak tanpa mendengarkan protes dari kedua bocah itu. Ia melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuang sisa es krim yang ada. Dengan berat hati Selena pun menyudahi acara makannya. Selagi Squalo masih berada di dapur, Ia melirik ke arah Xanxus sembari tersenyum. Dengan satu gerakan cepat ia turun dari kursinya lalu berlari ke arah Xanxus.

"Popa!" pangilnya manja.

Xanxus melirikkan matanya pada Selena yang sekarang berdiri di pinggir kursinya. "Apa maumu sampah kecil?"

"Mayu dudyuk." jawabnya. Xanxus mengangkat alisnya dengan heran. Melihat wajah bingung Xanxus, Selena pun kembali berkata seakan menjelaskan, "Mayu dudyuk bersyama popa."

Mata Xanxus memicing. Ia memandangi Selena beberapa saat, bocah itu masih tersenyum dengan manis padanya dengan harapan bisa duduk di pangkuan pimpinan Varia itu. Namun alih-alih memangku, Xanxus malah menyelentik kening Selena pelan.

"Kau boleh bicara seperti itu setelah wajahmu bersih dari es krim bodohmu sampah kecil sialan."

Malu-malu Selena mengelap es krim yang belepotan di wajahnya dengan kedua tangan. Terima kasih untuk tindakan bodohnya itu, kini tangan Selena pun menjadi lengket. Putri kecil Varia itu mengerutkan wajahnya. Jelas ia merasa tak nyaman dengan kedua tangan yang lengket.

"Yengket!" teriaknya. Selena merengutkan wajahnya sambil mengelapkan kedua tangannya pada bajunya sendiri seakan berusaha menghilangkan es krim terkutuk itu.

Xanxus meraih lap bersih yang ada di atas meja lalu melirik ke arah Selena. "Berikan tanganmu, bocah brengsek." ujarnya setengah memerintah.

Mematuhi perkataan Xanxus, Selena memberikan kedua tangannya yang lengket pada Xanxus. Sambil menyerngit jijik pimpinan Varia itu mengelap tangan mungil Selena hingga sisa es krim coklat perlahan menghilang. Selagi Xanxus masih membersihkan tangan Selena, suara pintu terbanting pun terdengar. Sosok Squalo yang lagi-lagi dengan sukses menghancurkan pintu di markas Varia itu pun muncul.

"VOI! Sekarang waktunya kalian untuk mandi, bocah-bocah si-" Perkatan Squalo tertahan di tenggorokannya begitu matanya menemukan sosok Xanxus sedang membersihkan tangan Selena. Rain guardian itu spontan nyengir lebar. Tidak hanya sekali, ini kedua kalinya Xanxus memberi 'perlakuan khusus' pada bocah itu.

"Wah, wah, apa aku menganggu momen ayah dan anak?" sindir Squalo masih sambil nyengir lebar. Xanxus melirikkan matanya tajam pada Squalo.

"Tutup mulutmu hiu brengsek." Ujarnya setengah menggeram. Sindiran Squalo sudah lebih dari cukup untuk menghentikan Xanxus membersihkan es krim di tangan Selena dan membiarkan bocah kecil itu yang melanjutkan sisanya.

Sambil membersihkan tangannya, Selena melirik ke arah Xanxus dan Squalo sambil tersenyum. "Popa! Moma!" panggilnya.

"VOI! Sudah berapa kali aku harus katakan padamu agar jangan memanggilku dengan panggilan bodoh itu? Aku bukan perempuan, brengsek!" protes Squalo.

Tidak menggubris Squalo, putri kecil Varia itu tersenyum lebar. "Aku ingyin ke kebun binyatang!"

"Voi! Kebun binatang!" seru Xenon ikut terdengar antusias.

Xanxus dan Squalo sama-sama terdiam dan hanya mengedipkan matanya berulang kali tanpa bisa berkomentar.

Kebun binatang.

Secara pribadi Squalo merasa tempat itu adalah tempat terkutuk! Tidak ada apa-apa disana selain hewan-hewan bodoh yang bau dan membosankan. Mengunjungi tempat itu tentu hanya akan membuang waktunya percuma. Masih banyak misi-misi berbahaya yang lebih baik ia kerjakan daripada harus pergi ke tempat bodoh itu!

"TIDAK!" tolak Squalo cepat. "Aku tidak akan mengajakmu kesana! Kalau kau mau pergi, ajak saja Lussuria, atau Bel, atau Mammon, atau Levi, atau siapa pun! Aku tidak akan sudi pergi ke tempat bodoh itu!"

Wajah Selena pun berubah sendu. "Tapyi... Selenya mayu bersyama moma."

"Kubilang aku tidak sudi pergi ke tempat bodoh itu!"

Xanxus yang sedari tadi terdiam pun hanya memandangi Selena dengan tangan menopang dagu. Pada momen pimpinan Varia itu kembali membuka mulut, ia melakukan suatu keputusan yang sangat di luar dugaan. "Baiklah, bocah sial." ujar Xanxus setuju. "Aku akan mengajak kalian berdua ke kebun binatang."

"APA?" teriak Squalo, setengah memekik. "Kau? Mengajak mereka ke kebun binatang? Kau ini mulai gila ya? Apa kau tak tahu tempat seperti apa kebun binatang itu? Kotor, panas, dan membosankan!"

Xanxus hanya melirik rain guardiannya dengan satu lirikan tajam yang cukup untuk membuat Squalo mengunci mulutnya rapat-rapat. Kemudian ia pun kembali menatap bocah kecil yang tengah kegirangan di depannya.

"Jangan salah, aku tidak bilang akan mengajak kalian dengan cuma-cuma." ujar pimpinan Varia itu tenang. Selena pun berhenti bersorak dan memandang Xanxus dengan pandangan bingung. Squalo hanya bisa mengangkat alisnya heran, ia tidak bisa menebak jalan pikiran bosnya itu.

"Aku akan mengajak kalian ke kebun binatang bodoh atau apalah itu kalau salah satu di antara kalian berdua berhasil melukaiku."

Wajah Selena dan Xenon masih tetap bingung, tapi Squalo sudah bisa menebak rencana yang ada di kepala Xanxus.

"V-Voi, kau nggak bermaksud bertarung dengan mereka kan?" tanya Squalo. Dari suaranya, jelas sekali terdengar kalau Squalo berharap tebakannya salah. Dua bocah kecil bertarung melawan pimpinan Varia? Sekali pun Squalo sendiri mengakui kalau kedua bocah itu berbakat, sekali pun ia yakin Xanxus akan mengurangi tenaga, tidak ada jaminan kalau kedua bocah itu akan baik-baik saja!

Xanxus tidak menjawab dan hanya menatap rain guardiannya itu dalam-dalam. Squalo tahu kalau tebakannya tepat. " Tidak, kau tidak boleh bertarung melawan mereka! Mereka berdua masih bocah kecil yang belum bisa bertarung dengan benar!"

"Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri apakah bocah-bocah ini akan berguna sebagai anak buahku atau tidak."

"Tapi mereka tidak mungkin menang melawanmu!" teriak Squalo masih bersikeras agar bosnya itu mengubah keputusannya.

"Mereka memang tidak akan mungkin menang. Aku hanya menyuruh salah satu dari mereka untuk melukai wajahku, mudah kan?"

"Itu juga tidak mungkin!"

"Kalau begitu saja mereka tidak bisa, berarti mereka hanyalah sampah tak berguna."

"XANXUS!"

"Diam, hiu brengsek. Aku tidak akan mengubah keputusanku." Xanxus pun beranjak bangun dari kursinya dan melangkahkan kakinya keluar. Sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali menoleh pada Squalo. "Bawa kedua bocah brengsek itu ke ruang tengah dan pastikan mereka sudah siap."

Sebelum Squalo sempat protes ba-bi-bu, sosok Xanxus sudah menghilang dengan sukses. Squalo menggertakkan giginya seperti menahan emosi, namun sayangnya menahan emosi itu bukanlah karakter Squalo.

"DASAR BOS BRENGSEEEEEEEEK!"


Thanks for reading!

Review (critics and comments) would be appreciated!

See you next time~