Gift Of Love
.
Naruto milik Masashi Kishimoto.
.
Real Story by Julie Garwood
.
Tachibana Ema II
.
Warning AU, OOC, miss typo
.
Naruto segera menangkap tubuh Hinata sebelum menyentuh lantai. Mempelainya benar-benar sudah tak sadarkan diri ketika ia memanggulnya dipundak. Setelah itu Naruto memandang menelusuri seisi bar untuk melihat apabila ada yang terlewat.
Akibat ulahnya tadi, para pengunjung bar pada bergelimpangan di lantai. 'Masih kurang,' pikirnya. Ia merasa masih ingin menghajar paman Hinata, Hizashi, si bajingan itu sudah dengan beraninya mencoba memukul mempelainya.
Hizashi yang ketakutan dengan keributan itu, dia bersembunyi di kolong meja. Naruto yang melihat kondisi Hizashi yang sangat mendyedihkan itu, berjalan menghampiri lalu menendang meja tempat persebunyin Hizashi sampai keujung ruangan agar bisa melihat mangsanya lebih jelas.
"Hei, Kau. Apa kau tahu siapa aku, Hyuuga?"
Hizashi yang ketakutan, tetap meringkuk seperti bayi dan tak sanggup untuk bergerak. Saat menjawab pertanyaan Naruto saja, Hizashi hanya menggelengkan kepalanya.
"Lihat aku bajingan," Teriak Naruto marah.
Perlahan Hizashi mendongak menatap Naruto.
"Aku ini Uzumaki Naruto. Jika kau sampai mendekati istriku atau perempuan tua itu, aku akan membunuhmu. Kau mengerti, Hyuuga?"
"K-kau... orang itu?" Hizashi hendak marah saat mendengar pernyataan Naruto, tapi segera diurungkan amaranya itu. Karena rasa takutnya masih menguasainya. Jadi dia hanya mengangguk patuh.
Naruto yang sudah puas dengan jawaban Hizashi berbalik dan keluar dari bar. Tapi sebelum keluar Naruto menyempatkan diri menedang pantat Hizashi dengan ujung sepatu botnya.
Pemilik bar yang mengintip dari tempat persembunyiannya dibalik panggangan, terus mengawasi Naruto yang keluar dari barnya, setelah itu dia memandang ke sekeliling ruang. 'Astaga luar biasa sekali, kehancurannya menyeluruh,' decak kagum si pemilik bar terhadap Naruto.
Di malam yang semakin larut ini, si pemilik bar yakin kalau takkan ada yang mau membeli minum lagi, karena tak satu pun dari para tamunya yang sanggup untuk minum lagi. Mereka semua bergeletakkan dilantai sudah tak sadarkan diri. Pemandangan itu takkan pernah bisa dilupakannya. Ia ingin menyerap setiap detailnya agar bisa ia ceritakan kembali kejadian itu kepada teman-temannya nanti. Dan ia juga sudah tahu bagaimana penutup untuk ceritanya. Seorang Hyuuga menangis seperti bayi pasti akan memancing tawa untuk tamu-tamunya kelak.
.
.
Saat melihat keponakannya dipanggul orang asing itu, kecemasan segera meliputi hati Shizune. "Apa Hinata terluka?" pekik Shizune. Benaknya sudah menggambarkan skenario terburuk untuk keponakannya.
Naruto menggeleng. Dia membuka pintu mobil, kemudian berhenti sebentar untuk menyeringai pada Shizune. "Dia hanya pingsan."
Shizune merasa sangat lega mendengar penuturan orang asing itu. Ia bergeser untuk menyediakan tempat untuk Hinata. Sepintas Shizune memperhatikan keadaan keponakannya, memastikan kalau gadis itu masih bernapas, lalu berpaling memandang penolong mereka lagi. Ia memperhatikan laki-laki itu saat ia menggulung cambuknya dan mengaitkannya kesabuknya kembali.
Shizune tidak mengantisipasi kalau laki-laki itu akan ikut bersamanya menaiki taxi. Ketika Naruto mengangkat tubuh Hinata, tanpa peringatan Naruto duduk disamping Shizune lalu memangku Hinata dipangkuannya.
Saat laki-laki itu mengangkat keponakannya, Shizune melihat kalau laki-laki itu sangat lembut saat menyentuh Hinata. Tangan laki-laki itu tetap memegang pipi Hinata sambil menyandarkan wajah gadis itu ke lekuk lehernya. Dan kemudian Hinata mendesah pelan saat posisinya sudah nyaman.
Shizune tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Oleh karena itu Shizune membuka percakapan terlebih dahulu.
"Anak muda, aku Shizune Kimura. Gadis yang baru saja kau selamatkan adalah keponakanku. Namanya Hyuuga Hinata."
"Bukan," kata laki-laki itu dengan kaku. "Namanya Uzumaki Hinata."
Setelah memberikan pernyataan tegas itu, orang asing itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Shizune masih terus memperhatikan Naruto, rasa penarasan masih menyelimutinya.
"Kenapa kau mau menolong kami?" tanya Shizune lagi. "Apa kau disewa oleh seseorang yang berasal dari keluarga Uzumaki?"
Orang asing itu tidak menjawab. Shizune yang kecewa tak mendapat jawaban, mendesah sebelum mengembalikan perhatiannya lagi pada sang keponakan. Dia berharap Hinata cepat siuman, suapaya bisa menyelesaikan keruwetan ini.
"Aku sangat bergantung pada anak yang kau pangku itu, Sir. Aku tidak bisa apa-apa tanpa dia."
"Dia bukan anak-anak," bantah laki-laki itu.
Mendapat jawaban itu Shizune tersenyum, "Memang bukan, tapi aku masih menganggapnya seperti itu," jawab Shizune. "Hinata gadis yang polos dan mudah percaya pada apa pun. Dia mewarisinya dari keluarga ibunya."
"Kau bukan seorang Hyuuga, kan?"
Shizune senang sekali akhirnya laki-laki itu mau berbicara padanya. "Bukan," jawabnya. "Aku bibi Hinata dari pihak ibunya. Nama keluargaku Tachibana sebelum menikah dengan suamiku."
Shizune kembali memandang Hinata, "Yang aku tahu Hinata adalah anak yang kuat, sebelum-sebelum ini dia belum pernah pingsan. Pasti apa yang terjadi dua minggu terakhir ini sangat menguras tenaganya. Lihat sampai ada lingkaran hitam dimatanya, dia pasti kesulitan tidur belakangan ini karena mencemaskanku," lanjutnya. "Tapi meski begitu, pasti ada sesuatu yang cukup mengerikan yang dilihatnya, sampai dia pingsan seperti ini. Menurutmu, apa yang..."
Shizune berhenti berspekulasi ketika matanya menangkap seringai laki-laki itu.
Lalu laki-laki itu menjelaskan, kenapa dia menyeringai. "Dia melihatku."
Hinata mulai bergerak, kesadarannya mulai kembali karena mendengar suara orang berbicara. Kepalanya masih terasa pusing, jadi dia masih kesulitan untuk membuka matanya, lagi pula rasa hangat dari pelukan seseorang ini membuatnya nyaman. Jadi ia malas untuk membuka matanya, jadi biarkan saja posisinya itu, lalu mengosok-gosokkan hidungnya kekehangatan itu, menghirup aroma maskulin yang segar, dan mendesah puas.
"Kurasa dia mulai siuman," bisik Shizune.
Mendengar suara bibinya Hinata membuka matanya. "Siuman?" tanyanya diiringi kuap yang sangat tidak mencerminkan sikap seorang wanita terhormat.
"Kau pingsan, sayang."
"Aku tidak pingsan. Aku..." ia berhenti menjelaskan ketika sadar ia sedang duduk dipangkuan seseorang. 'Bukan seseorang,' pikirnya. 'Tapi dipangkuan laki-laki itu.'
Seketika itu juga wajahnya pucat pasi. Ingatannya sudah kembali sepenuhnya. Shizune mengulurkan tangan kemudian menepuk tangan Hinata pelan. "Tidak apa-apa. Pria baik ini yang sudah menyelamatkanmu."
"Yang membawa cambuk?" bisik Hinata, berdoa semoga tebakannya salah.
"Iya sayang, yang membawa cambuk. Kau harus berterima kasih padanya, dan ya ampun Hinata kumohon jangan pingsan lagi," jawab Shizune saat Hinata mulai tersa lemas.
Dengan kaku Hinata mengangguk. "Aku tidak akan pingsan lagi," kata Hinata. Untuk menjamin janji itu, ia memutuskan sebaiknya dia tidak melihat orang itu lagi. Hinata berusaha turun dari pangkuan laki-laki itu tanpa ketahuan, tapi begitu ia mulai beringsut menjauh, laki-laki itu mempererat pegangan dipinggangnya.
Hinata mencondongkan tubuh ke depan sedikit. "Siapa dia?" bisiknya pada Shizune.
Bibinya mengangkat bahu. "Dia belum memberitahuku," jawabnya. "Mungkin, kalau kau yang bertanya padanya dan mengucapkan terima kasih. Dia akan memberitahukan namanya."
Hinata tahu sangat tidak sopan membicarakan orang itu seolah-olah orang tersebut tidak ada. Ia menguatkan diri sebelum berpaling menatap wajah pria itu. Hinata sengaja memandang dagunya saja ketika berkata. "Terima kasih, Sir. Karena sudah menolongku di bar tadi. Aku berutang padamu selamanya."
Laki-laki itu mengangkat dagu Hinata dengan ibu jarinya. "Kau berutang lebih dari sekedar ucapan terima kasih, Hinata."
Mata gadis itu terbeliak kaget, "Kau tahu namaku?"
"Aku yang memberitahunya, sayang," sela Shizune.
"Aku tidak punya uang lagi," kata Hinata. "Semua sudah kupakai untuk membiayai perjalanan kami. Apa kau sedang membawa kami ke pelabuhan?"
Untuk menjawab pertanyaan Hinata, laki-laki itu menganggukan kepalanya.
"Aku punya kalung emas. Apa itu cukup sebagai imbalan untukmu?"
"Tidak."
Kekasaran jawaban laki-laki itu membuat Hinata sangat kesal. Ia memberengutkan wajanya saat menatap laki-laki itu karena telah bersikap sangat tidak sopan padanya. "Tapi aku tidak punya apa-apa lagi untuk kutawarkan padamu," kata Hinata.
Setelah ucapan Hinata itu, taxi berhenti. Naruto membuka pintu. Ia bergerak dengan sangat cepat untuk ukuran laki-laki sebesar itu. Dalam waktu sekejap saja dia sudah diluar dan membantu Shizune turun sebelum Hinata selesai merapikan gaunnya yang berantakan akibat dikeluarkan secara paksa oleh laki-laki itu.
Saat taxi sudah pergi, laki-laki itu sudah kembali ke sisi Hinata dan merangkul bahunya. Hinata memperotes perlakuan pria itu, "Maaf Sir, aku sudah menikah jadi lepaskan tanganmu dari bahuku. Ini sangat tidak pantas."
'Pria ini pasti mengalami ganguan pendengaran,' rutuk Hinata karena laki-laki itu tidak mengindahkan permohonannya.
Hinata sudah hendak mencoba lagi ketika tiba-tiba saja laki-laki itu bersiul keras. Di tempat yang diterangi cahaya bulan, yang tadinya kosong dalam sekejap mata, Hinata sudah mendapati tempat itu dikelilingi sejumlah laki-laki.
Para awak kapal Naruto yang sedang berkumpul itu menatap Hinata, seolah mereka baru pertama kali ini melihat seorang perempuan cantik. Melihat para awak kapalnya yang terpesona oleh mempelainya, Naruto menundukkan kepalanya, untuk melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan mempelainya.
Ternyata diluar dugaannya, mempelainya malah sedang sibuk untuk memelototinya. Naruto nyaris tersenyum melihat pelototan mempelainya itu. Perlahan Naruto meremas bahu mempelainya sebentar untuk membuatnya menghentikan sikap kurang ajarnya itu. Kemudian mengalihkan perhatiannya pada Shizune.
"Apa kalian punya barang bawaan?" tanya Naruto.
"Hinata, apa kita punya barang bawaan?" tanya Shizune membalikkan pertanyaan Naruto ke keponakannya.
Hinata yang berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu, tidak memperdulikan pertanyaan bibinya. "Sudah kubilang aku ini sudah menikah," gerutunya. "Sekarang lepaskan aku."
"Hinata?" tanya bibinya lagi.
Karena Naruto yang keras kepala, dan tidak mau melepaskan Hinata, sekuat apa pun Hinata berusaha. Pada akhirnya dengan berat hati Hinata menyerah. "Ya, bibi. Aku membawa beberapa beberapa pakaian ibuku untuk kau pakai. Yume sedang menunggu kita di dermaga tempat kapal kita berlabuh. Dia yang membawa tas-tas kita. Bagaimana kalau kita ke sana sekarang."
Hinata berusaha melangkah menjauh dari laki-laki itu, tapi kemudian ditarik merapat kembali. Tanpa memperdulikan mempelainya, Naruto yang melihat anak buahnya Jiraya, dibagian belakang kerumunan, memberi isyarat pada pria itu untuk mendekat.
Hinata yang melihat seorang laki-laki berambut panjang berwana putih dan bertubuh lebih besar dari sang penyelamatnya. Terbeliak kaget melihat sosok besar itu mendekatinya. Cukup lama Hinata menatap pria itu, hingga dia menyimpulkan kalau laki-laki itu akan terlihat menarik kalau rambut panjangnya dipotong seperti penolongnya. Naruto. Jiraya yang merasa diperhatikan pun, mengalihkan pandangannya ke Hinata. Kedua tanganya bersedekap di dadanya sambil mendelik menatap Hinata.
Hinata pun tak mau kalah, dia pun balas mendelik pria itu.
Tanpa diduga Hinata pria itu malah tersenyum saat dipandang seperti itu olehnya. Karena tak tahu harus bersikap seperti apa untuk menanggapi sikap aneh itu, Hinata masih terus mendelik ke pria itu.
"Jiraya, suruh dua awak mengurus barang bawaan mereka," perintah Naruto. "Kita naik, Sarenggan begitu fajar menyingsing."
Hinata yang menangkap sinyal kalau si raksasa penolongnya, mau menyertakan dirinya dalam perjalanan ini, ia segera bertindak.
"Aku dan bibiku sudah aman sekarang," kata Hinata. "Orang-orang ini sepertinya... sudah cukup untuk menjaga kami sekarang. Jadi aku ucapkan terima kasih sekali lagi, dan maaf karena sudah membuang-buang waktu berhargamu untuk menjaga kami tadi."
Naruto masih saja tidak menghirukannya. Dia malah memanggil anak buahnya yang lain. Ketika sosok pria yang bertubuh lebih kurus dari pria yang tadi, mendekat. Naruto mengangguk ke arah Shizune. "Urus perempuan tua itu, Kakashi."
Shizune terkesiap mendengar Naruto memanggilnya seperti itu, kemudian berkata. "Aku ini bukan perempuan tua. Aku tidak bisa menerima penghinaan ini. Umurku baru menginjak kepala empat, anak muda. Aku masih masih muda dan masih kuat."
Sebelah alis Naruto terangkat sedikit menderngar penyangkalan itu, tapi ia tetap menahan senyumnya. Perempuan tua itu biar bagaimanapun juga dimata Naruto, dia perempuan yang sangat lemah.
"Kau harus minta maaf pada bibiku," kata Hinata.
Hinata kembali berbalik menghadap bibinya sebelum laki-laki itu sempat bereaksi atas pernyataan yang didengarnya. "Aku yakin dia tidak bermaksud seperti itu padamu, bibi. Dia memang orang yang kasar."
"Kakashi cepat," perintah Naruto, karena dia sudah mulai bosan dengan sikap mempelainya.
Shizune berpaling pada laki-laki yang berdiri disampingnya itu. "Dan kau, kau mau membawaku ke mana?"
Sebagai jawaban, Kakashi menggendong Shizune ala putri.
"Hei, turunkan aku. Kurang ajar kau!"
"Tidak apa-apa, manis," jawab Kakashi. "Wajahmu terlihat pucat sekali. Dan astaga kenapa tubuhmu bisa seringan kapas seperti ini?"
Shizune sudah hendak memprotes lagi. Tapi pertanyaan laki-laki itu selanjutnya mengubah pikirannya. "Kenapa tanganmu penuh dengan luka memar-memar seperti ini? Beritahu aku siapa yang melakukannya, dengan senang hati akan kugorok lehernya untukmu."
Shizune tersenyum senang pada laki-laki yang menggendongnya. Dia menilai kalau usia pria itu sepantaran dengannya. Entah sudah berapa tahun Shizune tidak tersipu-sipu seperti ini.
"Te-terima kasih, Sir," kata Shizune terbata-bata sambil merapikan gelung rambutnya. "Kau baik sekali."
Hinata sangat terkejut dengan sikap bibinya. Astaga, lihat bibinya baru saja mengedip-ngedipkan matanya dan bersikap seperti gadis muda pada laki-laki yang menggendongnya. Hinata terus memperhatikan keduanya sampai mereka lenyap dari pandangan, lalu menyadari kalau kerumunan orang tadi sudah pada bubar. Dan hanya tinggal dirinya dan sang penyelamat yang ada di sini.
"Apa bibiku aman bersama pria itu?" desak Hinata ingin tahu.
Jawaban yang diterima Hinata hanya geraman pelan, sepertinya laki-laki itu sedang kesal pikir Hinata.
"Itu artinya ya atau tidak?" tanya Hinata.
"Ya," jawab Naruto sambil mendesah ketika Hinata menyodok rusuknya.
"Hei Sir, tolong lepaskan aku."
Akhirnya setelah lama terkurung dalam dekapan si pria raksasa, Hinata bisa terlepas juga. Karena Naruto menuruti permintaan itu tanpa peringatan. Hinata yang terkejut kalau akan dilepaskan, hampir terjungkir jatuh karena kehilangan keseimbangannya.
Setelah Hinata berhasil mengendalikan dirinya dan berdiri membelakangi laki-laki itu, dia kembali bertanya. "Apa aku akan aman bersamamu?"
Lama Naruto tak menjawab pertanyaannya, Hinata berbalik hingga dia berdiri berhadapan dengannya, wajahnya sejajar dengan bahu laki-laki itu. Ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu bot Naruto. "Tolong jawab aku," bisik Hinata dengan nada manis penuh bujukan.
Naruto tidak terkesan dengan bisikan manis Hinata, pria itu malah terkesan marah padanya. "Ya Hinata kau akan selalu aman bersamaku."
"Tapi aku tidak mau aman bersamamu," pekik Hinata. Begitu tersadar kalau dia sudah berteriak Hinata segera menutup mulutnya. Dan buru-buru meralat perkataannya. "Mmm, maksudku, aku memang selalu ingin merasa aman. Semua orang juga seperti itu, bahkan penjahat pun..."
Hinata berhenti bebicara ketika laki-laki itu menyeringai lebar. "Aku ingin merasa aman tanpamu. Kau tidak berencana berlayar bersama aku dan bibiku, kan? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Naruto menjawab pertanyaan pertama Hinata dan mengabaikan pertanyaan keduanya. "Ya, aku akan berlayar bersamamu."
"Kenapa?"
"Karena aku mau," kata Naruto malas-malasan. Dia memutuskan untuk menunggu sedikit lagi sebelum menceritakan secara detail pada Hinata.
Saat Hinata mendorong dada Naruto dengan jarinya untuk menarik perhatiannya lagi, Hinata kembali berkata. "Maaf, Sir. Tapi kau tidak boleh berpergi beramaku. Kau harus mencari kapal lain. Tidak aman untukmu jika kau naik kapal yang sama denganku."
Pernyataan aneh itu berhasil menarik perhatian Naruto. "Oh, kenapa begitu?"
"Karena suamiku tidaka menyukainya," kata Hinata. "Apa kau pernah mendengar tentang Uzumaki Naruto? Pasti kau pernah dengar, kan? Karena semua orang tahu tentang suamiku itu. Suamiku akan membunuhmu raksasa, jika dia tahu aku berpergian bersamamu, dan kau tak mau hal itu terjadi, kan? Dan hei, kenapa kau malah tersenyum?"
"Kenapa kau memanggilku Raksasa?" tanya Naruto.
"Karena kau terlihat seperti Raksasa."
"Apa sebaiknya aku memanggilmu Si Bawel?"
"Kenapa?"
"Karena kau sangat bawel."
Rasanya Hinata ingin sekali menjerit karena frustasi. "Kau ini siapa? Dan apa maumu?"
"Kau masih berutang padaku, kalau boleh aku mengingatkan."
"Ya, Tuhan. Apa kau akan terus mengungkit-ungkit soal itu?"
Anggukan pelan Naruto membuat Hinata berang. Sepertinya laki-laki itu menikmati semua perselisihan ini. Menyadari hal itu kemarahan Hinata perlahan lenyap. Dia tahu dia takkan bisa membuat laki-laki itu mengerti. Laki-laki itu terlalu bodoh. Akan lebih baik jika dia segera melepaskan diri dari orang barbar ini, pikir Hinata. Tapi pertama-tama hal yang harus dilakukannya adalah menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Baiklah," putus Hinata mengalah. "Aku memang berutang padamu. Sekarang beritahu aku apa saja utangku padamu, dan aku akan berusaha untuk membayarnya."
Naruto maju selangkah agar bisa menangkap tubuh gadis itu kalau-kalau ia pingsan lagi sebelum mendengar jawabannya. "Namaku Naruto, Hinata."
"Lalu?" tanya Hinata, ia betanya-tanya kenapa laki-laki itu tiba-tiba saja memberitahukan namanya.
'Haduh... Sepertinya gadis ini agak lambat untuk menyadari apa yang baru saja aku katakan,' pikir Naruto dengan mendesah panjang.
"Dan kau Uzumaki Hinata, kau berhutang malam pengantin padaku."
Satu
Dua
Tiga
Dan tepat dimenit kelima, Uzumaki Hinata menjerit histeris, dan Naruto tidak berusaha untuk menenangkannya. Karena Naruto sendiri sedang terkejut dengan sikap mempelainya, awalnya Naruto mengira kalau Hinata akan pingsan, tapi kenyataannya sungguh diluar dugaan.
Sudah hampir lima menit berlalu, gadis itu masih saja terus menjerit histeris. Karena sudah tidak tahan dengan suara jeritan itu, akhirnya Naruto menyeret Hinata ke kantor Kyubi Shiping Company, walau dengan penuh perlawanan Hinata yang tidak ingin disentuh olehnya. Saat sesampainya dikantor, Naruto menyerahkan perempuan histeris itu ke tangan bibinya. Setelah keluar dari kantornya Naruto baru mengeluarkan tawa yang sejak tadi ditahannya. Sebenarnya Naruto sangat menikmati reaksi mempelainya tadi saat dia memberikan penyataannya.
.
.
Setelah membereskan beberapa hal kecil lainnya. Naruto baru bergabung dengan awak kapalnya, Kakashi dan Jiraya. Mereka berdua sedang mendelik kesal padanya, dan Naruto tak memperdulikan hal itu. Bagaimanapun juga, memang salahnya karena sudah memerintahkan mereka untuk membawa Hinata ke kabinnya. Karena Naruto sendiri tidak sanggup untuk membawanya, jika harus berhadapan lagi dengan mempelainya, kalau mempelainya saja masih histeris.
"Apa dia sudah berhenti menjerit-jerit?" tanya Naruto memecah suasana yang tak enak itu.
"Sewaktu aku mengancam akan menyumpal mulutnya," jawab Jiraya. Saat melanjutkan ucapannya wajah laki-laki itu mengerutkan dahinya. "Dia memukulku dengan tasnya."
"Kurasa sekarang dia sudah tidak terlalu takut lagi," ucap Naruto mendesah lelah.
"Aku tidak yakin kalau dia pernah merasa takut," sela Kakashi sambil menyeringai. "Apa kau tahu, tadi saat kau menyeretnya ke kantor. Dia kelihatan sangat marah sekali padamu."
Jiraya mengangguk menyetujui ucapan temannya itu. "Setelah kau pergi pun, dia masih saja menjerit-jerit, mengatakan kalau semua itu hanya lelucon yang kejam. Bahkan bibinya saja tidak mampu menenangkannya. Istrimu bahkan meminta seseorang untuk mencubitnya, supaya dia terbangun dan mendapati semua ini hanya mimpi buruknya."
"Ya, benar sekali," Kakashi mengiyakan sambil terkekeh. "Dan apa kau tahu? Tobi menganggap serius permintaan istrimu itu."
"Apa Tobi menyentuhnya?" tanya Naruto penasaran.
"Tidak, dia tidak menyentuhnya," Jiraya buru-buru menjawab, karena takut kaptennya marah karena salah paham. "Dia hanya berusaha mencubitnya, itu saja. Dia berpikir kalau dia bisa membantu istrimu untuk tenang. Kau kan tahu sendiri, bagaimana sikap anak itu, kan?" lanjutnya. "Dan apa kau tahu? Saat Tobi berusaha menyentuhnya, mempelai mungilmu langsung berubah menjadi kucing liar."
"Naruto, bagaimana kalau Hinata ditempatkan dikabin yang sama dengan bibinya, mungkin dengan begitu dia bisa merasa lebih baik," saran Kakashi, karena dia merasa kasihan dengan perempuan itu.
"Tidak!" jawab Naruto cepat, dia menggelengkan kepalanya kesal. Dia tidak setuju dengan saran itu. "Dia tetap dikabinku."
Kakashi terdiam sejenak, kemudian berkata. "Uhm... begini bocah. Mungkin ini akan menjadi masalah dan sedikit rumit," katanya lambat-lambat. "Dia tidak mengetahui kalau kabin itu milikmu."
Naruto tidak khawatir sama sekali dengan hal itu, karena baginya memang sudah seharusnya begitu bukan? Seorang mempelai perempuan harus tidur bersama mempelai laki-lakinya.
"Dia akan segera tahu kabin siapa yang ditempatinya itu," jawab Naruto untuk menghilangkan rasa penasaran awak kapalnya itu.
"Kondisi bibinya sangat buruk," kata Kakashi kemudian, mengalihkan pembicaraan. "Beberapa tulang rusuknya retak. Begitu dia tidur nanti, aku akan membuka bajunya dan memasang perban."
"Apa keluarga Hyuuga yang memukulinya?" tanya Jiraya.
Naruto mengangguk sebagai jawabannya.
"Bajingan mana yang melakukannya?" tanya Kakashi marah.
"Sepertinya Hizashi yang mendalangi semua itu," jelas Naruto.
"Apa kita mau memulangkan Shizune?" tanya Kakashi lagi.
"Kita memang berlayar ke arah sana," jawab Naruto. "Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan perempuan itu. Apa dia cukup kuat untuk menempuh perjalanan ini?" tanyanya pada Kakashi. "Atau apa kita akan terpaksa harus menguburnya di laut?"
"Dia akan baik-baik saja," jawab Kakashi memperkirakan. "Dibalik semua lebam itu, sebenarnya dia sangat tangguh. Ya, jika aku memanjakannya, dia akan baik-baik saja."
"Begitu? Ya baiklah, rawat dia dengan baik," jawab Naruto. "Aku pergi dulu, masih ada beberapa tugas yang harus aku bereskan."
Setelah mengucapkan hal itu Naruto pergi meninggalkan kedua awak kapalnya itu.
.
.
TBC
