Title: Skip A Beat!

Pairing : HaeHyuk (Donghae/Eunhyuk)

Rating: NC-17 for this chapter. Overall rating tetep T karena adegan NC nya.. ga rutin.

Summary: Donghae adalah teman masa kecil Hyukjae. Setelah tiga tahun tidak bertemu, Donghae yang sudah menjadi idola kembali- hanya untuk melakukan sesuatu yang membuat Hyukjae bersumpah untuk membalas dendam padanya. "Coba saja kalau kau bisa. Memang dengan cara apa?" -HaeHyuk, Skip!Beat inspired-


A/N : MAAAAAF BARU UPDATE SEKARANG. Langsung menyalahi aturan update yang dibuat sendiri setelah satu chapter. Author macam apa ini. *gantung diri*

Alasan dan sedikit spam, MINGGU KEMAREN SAYA NONTON SS4 DI MEIS! :"DDD Dan, dan, astaga ya, hyuk-oppa ganteng banget, bener-bener attractive, beberapa kali ekspresinya minta dicubit, beberapa kali minta diraep, ga nahan banget gemes pengen lompat terus tiban badannya T^T *tahan hae* #eh

Terus oppadeul yang lain juga ganahan banget. Ryeowook oppa senyumnya manis banget. Teukie oppa baik banget, senyumnya kayak malaikat, aku bisa salaman sama dia! :'') Kekompakan ELF bikin merinding.. pertama kali liat sapphire blue ocean, bagus banget bikin terharu ;_;

I feel like loving super junior more after seeing them in real life.. really, they are so fucking awesome.

*dan author pun dikeroyok readers karena numpang curhat*

MAKASIH BANYAK BUAT REVIEW CHAPTER KEMAREN! Maaf aku gabisa bales reviewnya sekarang karena udah malem dan besok sekolah T_T *curhat lagi* tapi besok kalo sempet bakal kuedit lagi buat bales review-review unyu readers sekalian. Sekali lagi, jeongmal jeongmal gomawoyoo dan mian karena telat updatenya...dan banyak omong di author note. Enjoy!


Disclaimer: Super Junior © SM Entertaiment. Super Junior members belong to themselves, their parents, and God. Cuma plot cerita ini milik saya~


Enjoy!

SKIP A BEAT!

::

A Super Junior Fanfiction

::

© AiNeko-chan


~Chapter 3 : Truth and Lies

Tubuh ramping itu jatuh di atas kasur yang besar dengan cukup keras, membuat rintihan kecil keluar dari bibirnya yang sedikit bengkak. Walaupun kasur di bawahnya terasa lembut, tidak dengan seorang namja lagi yang berada di atasnya, menindih tubuh ramping itu agar tidak bergerak kemana-mana dengan tubuhnya dan mencium bibirnya, sekali lagi.

Mulut itu mengeluarkan lidahnya, mengajak partnernya untuk ikut menautkan lidah dan saling memperdalam ciuman tersebut.

"H-Hae-ahh..." Namja yang berada di bawah mendesah di antara bibir mereka, merasakan tangan yang membuka kain yang menutupi bagian atas tubuhnya, menjelajahinya. ".. Nghh.."

"Kau tahu lagu baruku, Hyukkie?" Dengan nafas yang sedikit terengah, yang berambut coklat- Donghae, membisikkan itu di telinga Hyukjae yang memerah. Namja di bawahnya mengangguk pelan, lalu mendesah lagi ketika Donghae menggigit daun telinganya dengan sensual.

"Beautiful." Bisiknya. "Lagu itu untukmu."

Diam sesaat. Donghae menyeringai kecil melihat warna merah mewarnai wajah namja di bawahnya.

"...B-Bohong!"

"Aku sudah bilang hanya kau yang ada di pikiranku selama selang tiga tahun kita tidak bertemu, bukan?" Hyukjae samar merasakan tangan Donghae menjelajahi bagian atas tubuhnya. Menyentuh, membelai, menambah tekanan di bagian-bagian tertentu. "Setiap membuat lagu baru.. Hanya kau yang terbayang."

Hyukjae menolehkan wajahnya ke samping, tidak bisa melihat wajah Donghae lebih lama lagi. "..Aku tidak percaya.."

Donghae tersenyum. "Akan kutunjukkan buktinya, kalau begitu."

"AAH!"

Teriakan itu keluar spontan dari bibirnya saat tangan lihai Donghae menemukan salah satu bagian sensitif di dada bidangnya. Memainkan salah satu tonjolan kecil itu dengan ritme yang membuat Hyukjae menutup matanya, lebih banyak darah masuk ke kepalanya.

"I think of what we were like when I first met you," Donghae menggumamkan nada itu di samping telinga Hyukjae sambil terus menggerakkan tangannya. "Your bashful smile, your shy words, your cold hands.."

".. S-stopp, Donghae.. Ah.."

"I thought of you every day, I couldn't do anything." Donghae masih terus menyanyikannya, dengan suara yang bahkan terdengar lebih berat dan merdu dari yang Hyukjae dengar di TV maupun CD. Di tengah jeda kalimat, ia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat daun telinga yang memerah tersebut. "Almost going crazy, Hyukjae-ah."

Tangannya bereksperimen dengan bagian atas tubuh Hyuk lebih jauh lagi.

"Donghae!"

Hyukjae merasa seperti naik ke langit tinggi, kemudian jatuh dengan keras. Celananya terasa sempit dan- lembap. Setelah perasaan itu berakhir, tubuhnya terasa lemas.

Perasaan malu menyelimuti kepalanya sampai tidak sanggup membuka mata.

"Sensitif sekali, Hyukkie." Donghae tertawa, menjauhkan kepalanya dari telinga Hyukjae, menyelingi sesi bernyanyinya sesaat. "Pertama kali?"

Yang ditanya tentu saja terlalu malu untuk menjawab.

Kata 'berisik' keluar tanpa suara dari bibir Hyukjae, selagi ia menutupi kedua matanya dengan satu lengan. Wajahnya semerah tomat.

Terdengar tawa sekali lagi sebagai jawaban.

"Benar begitu? Lucu sekali."

Hyukjae baru saja akan menjawab ketika ia merasakan tangan yang sama membuka resleting celananya, membuatnya tersentak dan membuka matanya. Tangannya dijulurkan secepat mungkin untuk menahan tangan itu mengeskplor lebih jauh.

"H-hae! Apa yang kau lakukan! Jangan..d-disitu.."

Donghae menatapnya dengan tatapan seolah yang ia lakukan adalah hal terwajar yang diketahui seorang manusia.

"Apa yang kau katakan, Hyukkie? Kalau tidak disini, mana bisa kau merasa enak." Ia tersenyum, terlihat lembut, namun entah kenapa membuat Hyukjae merinding.

"Di bawah sana terasa sempit, 'kan?" Ia membelai pelan bagian tersensitif Hyukjae, menyingkirkan tangan Hyukjae disana dalam prosesnya.

"..Ah .."

"Biarkan aku membuatmu merasakan yang terbaik malam ini, Hyukjae-ah." Menahan tangan Hyuk dengan satu tangannya dan membuka satu lapis kain di bawah celana namja tersebut dengan tangan yang satunya, Donghae menggumamkan nada itu lagi. "My beautiful.."

Unable to turn my gaze away

Like a fool, I could only lose myself in you

I want to walk together with you for a lifetime

I want to protect you

I love you, oh love

"D-Donghae-aahh.. S-stop..!"

"Tapi tubuhmu berkata lain, Hyukkie."

Hyukjae menarik kepalanya ke atas, bagian bawah tubuhnya yang mendapat kontak tangan Donghae sama merahnya dengan wajahnya sekarang. Donghae terus memaju-mundurkan tangannya, membuat namja di bawahnya menggeliat tak nyaman.

Ia merasa dunianya diputar. Ditarik dan didorong. Semua yang membuat darah merasuk ke kepalanya dan membuat kepalanya pening.

"Cause you.. you are, so beautiful," suara itu masih terdengar, "Let me gasp this phrase against your lips, I love you." Bersamaan dengan sihir yang dilakukan pemilik suara itu kepada tubuhnya, membuat desahan dan rintihan tak henti keluar dari bibirnya yang sudah menjadi kemerahan.

Kain terakhir yang menutupi tubuhnya sudah hilang entah kemana. Sesuatu yang basah tengah berada di dadanya kembali, dan sebuah tangan masih melakukan sihir di bawah sana dengan tiap gerakannya.

"Aaah! Ah- nggh.. D-dong..haee!"

Namja berambut coklat itu hanya tertawa kecil mendengar tiap desahan yang keluar dari mulut sahabatnya.

Donghae membuat Hyukjae mengulum tiga jarinya. Sebingung apapun Hyukjae saat Donghae meletakkan jari telunjuk yang diikuti jari tengah dan jari manis di depan bibirnya, ia tetap membuka mulutnya berdasarkan intuisi. Ia dapat mendengar Donghae bersenandung kecil saat lidahnya beradu dengan ketiga jari tersebut.

Tak lama, Donghae mengeluarkan jarinya tanpa peringatan, membuat Hyukjae hampir tersedak.

"Hae... Apa yang kau lakukan...?" Ucapan Hyukjae terpotong saat Donghae memegang kedua kakinya dan melebarkannya. Membuat wajah Hyukjae memerah lagi- kalau bisa lebih merah lagi dari sekarang- ketika ia merasa pandangan Donghae tepat diarahkan kepada bagian terahasia tubuhnya. Ia berusaha menutupnya kembali, tapi pegangan Donghae terlalu kuat, sampai ia yakin akan mendapat bekas biru disana besok.

"Tenang, Hyukkie."

Lalu Hyukjae merasa sesuatu masuk ke dalam dirinya, membuatnya berseru karena perasaan tak nyaman dan menggerakkan tubuhnya untuk mengeluarkan benda itu dari dalam sana.

"Ssh, Hyukkie.." Donghae memegang salah satu bahunya dengan satu tangan, dan Hyukjae menyadari ia tengah memasukkan jari tangannya ke dalam. "Hyukkie.."

Bukannya mengeluarkan, satu jari lagi masuk, mengikuti jari sebelumnya dan membuat gerakan melebar di dalam lubang kecil Hyukjae. Rintihan keluar dari bibir merah itu, matanya terpejam erat.

"Donghae, keluarkan!" serunya. "Rasanya aneh, Donghae-aaahh...n-ngh.. Keluarkan!"

Tapi Donghae tidak mempedulikan seruan-seruan itu. Ia justru menambah satu jari lagi. "Relax," bisiknya. Hyukjae, dengan air mata yang terancam jatuh, akhirnya mengangguk, mencoba membiasakan diri dengan perasaan aneh tersebut- yang anehnyam lama kelamaan berubah menjadi perasaan yang menginginkan lebih saat Donghae menemukan titik di dalam dirinya yang membuatnya melihat bintang. Rintihannya berubah menjadi desahan nikmat.

Donghae tersenyum.

Hyukjae masih menutup matanya saat Donghae mengeluarkan jarinya dari dalam tubuh di bawahnya dan menggunakannya untuk membuka celananya sendiri.

Sesuatu yang lebih besar dari tiga jari Donghae melakukan kontak dengan lubang kecilnya, membuat mata Hyukjae membuka lebar dan melirik ke bawah untuk melihat benda tersebut.

Sontak, seluruh darah seperti naik ke atas kepalanya, lagi.

.

.

Faktanya, Hyukjae memang suka melihat video yadong sebagai kegiatan rutin.

(Selain melihat video-video Donghae, kalau kau mengecek tombol history di halaman YouTubenya, kau akan menemukan banyak judul video aneh yang sepertinya tidak pantas dilirik anak di bawah umur.)

Dan ia, tentunya, tahu pasti mengenai hubungan seks. (Tentu saja, ia sudah lewat tujuh belas tahun!)

Dan ia tahu ia sudah legal untuk melakukan hal yang selama ini hanya ia lihat lewat situs mencurigakan atau majalah-majalah yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur.

.

Tapi semua itu ia bayangkan lakukan dengan seorang yeoja!

.

Yeoja cantik berkulit putih, bermata indah dan bertubuh bagus- oke, tak terlalu bagus juga tidak apa-apa, tak berkulit putih juga tidak apa-apa. Matanya tidak terlalu indah juga tidak apa-apa, yang penting, dia cintai dan mencintainya setulus hati. Dan tentu saja, yang penting, dia seorang yeoja!

"Aku akan masuk, Hyukkie."

"A-apa..? T-t-tunguu, Hae- AAAHH!"

Bukan dengan dia!

Bukan dengan namja tampan yang ia kenal dekat sebagai sahabat masa kecilnya!

Sebagai seorang namja, harusnya ia yang dominan, membisikkan kata cinta dan gombalan-gombalan di telinga partnernya sambil bercinta.

Bukan sebaliknya!

.

"S-sakit.. Hae.. Ahh.." Air mata mengalir dari kedua matanya, membasahi pipi dan bibir merahnya. Sesuatu itu masih berusaha menembus tubuhnya, membuatnya seperti terobek menjadi dua.

"Ssh, kau akan terbiasa sebentar lagi."

Donghae terdiam sebentar, memberi waktu pada Hyukjae untuk menyesuaikan diri dengan ukurannya. "Gwaenchana, Hyuk-ah.." Ia berbisik di telinganya yang memerah dan mulai bergerak.

"Uaaahh!"

.

Bukankah ini tidak adil?

.

Bukankah ini tidak adil bagaimana Donghae memanipulasi tubuhnya, membuatnya bereaksi kebalikan dengan yang ia harapkan? Membuat pikirannya terselimuti nafsu yang terlarang?

.

Bukankah ini tidak adil.. Ketika Donghae mengambil sesuatu yang sangat berharga baginya, membuatnya menangis karena sakit, kemudian meminta lebih. Membuatnya menjadi seperti anak domba yang tidak bisa melakukan apa-apa di hadapan serigala pemangsa?

.

"Saranghae, Hyukjae."

Membuatnya tenggelam dalam untaian kata-kata manis yang Donghae lontarkan.

Kau sangat tidak adil, Lee Donghae. Ucapnya dalam hati selagi perasaan terbang tinggi kemudian jatuh itu menyelimutinya sekali lagi. Rintih terakhir keluar dari bibirnya dan ia jatuh. Donghae di atasnya.

Untuk beberapa saat, mereka sama-sama terdiam, mencoba mengatur nafas dan mengembalikan tenaga untuk bangkit.

"Donghae..?" Ucap Hyukjae ketika nafasnya sudah stabil dan Donghae sudah berguling untuk berbaring di sampingnya.

"Mm?"

Hyukjae tersenyum.

.

"Nado.. Saranghae."

.

-o-o-

.

Pagi datang dengan cepat. Hyukjae membuka matanya karena sinar matahari yang merasuk dari jendela. Sedikit merasa aneh dengan langit-langit yang tidak biasa dan kasur yang lebih empuk dari yang ia punya di rumah.

"Umma-? Argh!"

Rasa sakit itu menjulur ketika Hyukjae mencoba posisi duduk. Dalam sekejap, penjelasan kenapa ia tidak ada di rumahnya dan kenapa sekujur tubuhnya, terutama bagian belakang, terasa sakit, merasuk ke dalam otaknya dan membuat wajahnya kembali memerah mengingat apa yang terjadi semalam.

"Bwooya Hyuk! Apa yang kau lakukan?" Ia mengacak-acak rambutnya sendiri frustasi, bercampur malu. Seluruh tubuhnya terasa lengket dan aneh. Dan kalau melihat ke cermin yang ada beberapa meter dari kasur tempatnya tidur, ia dapat melihat beberapa bekas merah di atas kulit putih tubuh bagian atasnya. Hickeys. Wajahnya terlihat dan terasa lebih parah.

Film-film yadong yang ia tonton benar-benar memalsukan keadaan setelah hubungan seks yang selalu terlihat romantis dan sempurna. Ia mencibir dalam hati.

"Sudah terlambat kalau menyesal sekarang, pabbo. Bagaimana kau akan menghadapi Donghae setelah ini?" Katanya kepada dirinya sendiri. Menghela nafas panjang kemudian menutup kepalanya dengan bantal terdekat.

.

Ngomong-ngomong, dimana Donghae?

.

"Mungkin sudah turun duluan untuk sarapan. Sekarang pasti sudah sekitar jam 8," pikir Hyuk. "Untung hari ini hari Minggu. Haah, sebaiknya aku mandi dulu. Dimana bajuku tadi malam?"

Dengan menggunakan kasur dan beberapa lemari dan meja sebagai penyangga- karena pantatnya terlalu sakit untuk digerakkan- untuk berjalan normal. Dan dengan menahan malu, ia mengumpulkan helaian baju miliknya yang entah kenapa tersebar di seluruh ruangan kamar hotel mewah tersebut. Kemudian masuk ke kamar mandi yang ia temukan dan membersihkan tubuhnya disana.

Setelah merasa cukup bersih dan baikan dengan guyuran air hangat, Hyukjae yang wajahnya memerah kembali melihat kondisi kasur yang berantakan, memutuskan untuk menghilangkan perasaan itu dengan merapikan kembali seprai dan selimut yang kotor dan berserakan. Setelahnya, ia melihat sekeliling dan menemukan handphone-nya di atas meja.

15 missed call

7 : Umma

5 : Sora-noona

3 : Sena! o_o

10 text messages : Sena! o_o

'Ya! Dimana kau! Jangan keluar malam-malam dan membuat keluargamu khawatir, Pabbo! -_-'

Hyukjae tersenyum getir melihat sms paling bawah yang dikirim Sena. Makin scroll ke atas, Hyukjae dapat melihat kekhawatiran gadis itu. Pasti keluarganya telah menelponnya karena khawatir dirinya tidak pulang-pulang tadi malam.

Menghela nafas. Apa yang dikatakan sahabatnya kalau ia bercerita apa yang terjadi tadi malam? Bercinta dengan Lee Donghae? Pasti Sena akan tertawa dan mengatakan hal seputar : 'Kau mabuk? Sekarang sudah siang, berhenti bermimpi!' Atau 'Ya! Segitu ngefansnya dengan Donghae oppa sampai kau mimpi jadi homo? Kembali ke jalan yang benar, Hyukkie-ah!' Atau 'Kuharap aku yang memimpikan itu!'

Hyukjae memasukkan handphone itu ke kantung celananya. Ia bisa menelepon keluarganya nanti, sekalian pulang. Sekarang ia harus menemukan Donghae dulu. Walaupun ia juga tak begitu yakin apa yang harus ia katakan. Tapi ia merasa harus bicara dengan sahabat—(em, walaupun ia tidak yakin sebutan itu masih berlaku sejak kejadian semalam) -nya itu.

Dengan langkah yang agak tertatih-tatih, ia menutup pintu kamar itu dan mengambil kuncinya untuk diserahkan ke Donghae nanti.

Tapi bahkan belum sempat ia melangkahkan kaki ke anak tangga pertama untuk mencari Donghae di lobi atau ruang makan, telinganya menangkap suara yang sangat familiar dari ruangan di sebelahnya.

"-masih tidur di kamarku."

Suara Donghae?

Pintu kamar itu sedikit terbuka, mungkin karena angin. Hyukjae tidak ingin jadi seorang pengintip. Tapi apa boleh buat, rasa keingintahuan menguasainya. Dan ia memang perlu bertemu dengan Donghae, bukan? Jadi ia mengendap dan mengintip ke dalam kamar yang interiornya tak jauh berbeda dengan kamar Donghae tadi. Perlahan supaya tidak ketahuan.

"Jadi, kau tidur dengan teman masa kecilmu? Si cowok putih yang kita lihat kemarin itu?" Suara orang lain merasuk ke telinganya. Teman Donghae, mungkin? Jantung Hyukjae berdebar lebih keras menyadari dia yang tengah dibicarakan kedua orang di dalam kamar tersebut.

Sebuah helaan nafas. "Yah.."

"Bagaimana rasanya?"

Hening sesaat.

"Biasa saja."

DEG

Apa?

"Hei, tidur dengan namja itu lebih menantang, tahu. Masa komentarmu cuma 'biasa saja'?" Suara itu berkata lagi.

"Tidak ada bedanya dengan tidur dengan yeoja, ah. Bahkan dengan perempuan terasa lebih lembut. Maaf saja, berbeda dengan hyung. Ternyata aku masih normal."

"Ah, kau ini tidak seru."

"Mana uangku?"

"Aish, benar-benar tidak seru kau, Hae. Nih, ambil saja."

Suara kertas yang dilempar ke atas benda padat, sepertinya meja.

.

"Oppa!"

Suara lain tiba-tiba terdengar. Kali ini suara seorang wanita.

"Kalian ini, sudah meminjam kamar orang, mengobrolkan hal frontal begitu, lagi." Suara feminin itu berkata lagi. "Lebih baik kalian bersiap-siap. Syutingnya akan dimulai beberapa jam lagi."

"Masih beberapa jam lagi, masih banyak waktu~" suara Donghae. "Yoona-ah~"

"Ne, oppa?"

"Neomu neomu yeppeu da~"

"Gombal seperti biasa, Hae." Suara laki-laki yang tadi terdengar mengejek. Suara perempuan itu tertawa kecil, "Ne, gomawo oppa."

"Ya! Aku serius! Diam saja, hyung!" Donghae merengek. "Yoona-ah~ kau tahu lagu terbaruku?"

"Oh, Beautiful?"

"Ne. Mau kuberitahu sebuah rahasia?"

"Pasti gombal lagi." laki-laki itu terdengar menahan tawa, tapi Donghae mengabaikannya.

"Yoona-ah, lagu itu.." nada suaranya turun, hampir seperti bisikan keras. ".. kubuat untukmu."

"Kau tahu lagu baruku, Hyukkie?" Dengan nafas yang sedikit terengah, yang berambut coklat- Donghae, membisikkan itu di telinga Hyukjae yang memerah. Namja di bawahnya mengangguk pelan, lalu mendesah lagi ketika Donghae menggigit daun telinganya dengan sensual.

"Beautiful." Bisiknya "Lagu itu untukmu."

"Kau sudah bilang itu ke berapa yeoja, oppa?" Suara feminin itu tertawa kecil lagi.

"Bukan cuma namja, Yoong. Aku yakin pasti ke cowok yang dia tiduri tadi malam juga."

"Yah! Itu aku tidak serius! Kalau ke Yoona aku serius!"

"...B-Bohong!"

"Aku sudah bilang hanya kau yang ada di pikiranku selama selang tiga tahun kita tidak bertemu, bukan?" Hyukjae samar merasakan tangan Donghae menjelajahi bagian atas tubuhnya. Menyentuh, membelai, menambah tekanan di bagian-bagian tertentu. "Setiap membuat lagu baru.. Hanya kau yang terbayang."

Hyukjae menolehkan wajahnya ke samping, tidak bisa melihat wajah Donghae lebih lama lagi. "..Aku tidak percaya.."

Donghae tersenyum. "Akan kutunjukkan buktinya, kalau begitu."

Hyukjae mengeratkan genggaman tangannya yang gemetar.

"Aku jadi kasihan dengan namja itu. Hei, dia teman masa kecilmu 'kan? Memangnya kau tidak merasa bersalah sudah menjadikannya bahan taruhan begini?"

"Dianya juga mau. Kenapa aku harus merasa bersalah?"

(Hei, suara tawa Donghae tak pernah terdengar sejahat ini sebelumnya, sialan.)

"Lagipula, memberikan tubuhnya untuk orang yang baru ditemui lagi setelah bertahun-tahun.. Ditambah lagi, sesama laki-laki." Donghae terdengar malas. "Entah terlalu naif atau bodoh. Kalau aku sih akan menyebutnya bodoh. Kalau dia segitu percayanya dengan orang lain, mungkin bisa saja dia dijadikan budak oleh semua orang."

"Jahat, ah, oppa~"

"Kalau tidak jahat bukan Hae namanya, haha."

"Aish. Daripada membicarakan dia terus, lebih baik kunyanyikan lagu buatmu, ne? Yoona-ah~"

Dan lagu yang sama dengan yang ia dengar tadi malam mengalun kembali di telinga Hyukjae. Membuat retakan fiksional yang tergambar di hatinya semakin banyak. Semakin luas. Membuat dadanya terasa sakit dan pikirannya diselimuti berbagai hal. Marah? Sedih? Kecewa? Ia tidak tahu lagi.

.

Namja tidak boleh menangis.

.

Karena itu, yang ia lakukan adalah membuka pintu kamar itu dan melangkah ke dalamnya, tidak menghiraukan tatapan tiga orang yang melihatnya dengan bola mata melebar, tidak peduli dengan rasa sakit fisik maupun psikis.

Perlahan ia mendekati satu orang yang berambut coklat, tengah duduk di atas sofa dengan seorang wanita cantik bersandar di sampingnya. Menggertakkan giginya, ia juga menghiraukan pekikan spontan dua orang lainnya saat tangan kirinya meraih kerah baju yang dipakai namja itu dan memaksanya berdiri. Tangan kanannya yang terbentuk menjadi kepalan keras kemudian melayang tepat ke rahang namja tersebut. Lee Donghae itu sendiri.

BUAGH

Efeknya, Donghae terperosok ke lantai dengan pipi yang melebam. Suara "argh" meleset keluar dari mulutnya.

"KAU BRENGSEK, Lee Donghae!" Teriaknya penuh amarah, kemudian berlari ke arah namja yang terkapar itu untuk melancarkan serangannya lagi. "BRENGSEK!"

Tapi sebelum ia bisa mencapai sosok itu, sepasang tangan menahan tangannya, menahannya melukai artis itu lebih jauh lagi. "H-hei, tenang, tenang." Kemudian Hyukjae menyadari itu orang yang menyinggung tentang 'taruhan' dan 'uang' dalam percakapan mereka sebelumnya. Hyukjae menatap namja tinggi itu dengan penuh amarah.

"Kurang ajar, Hyukjae, apa masalahmu?" Suara Donghae membuat Hyukjae menolehkan kepalanya lagi ke arah namja yang mencoba berdiri dibantu yeoja di sebelahnya. Kontes menatap sesaat dan Donghae menyeka sedikit darah dari mulutnya, tahu persis arti dari wajah penuh amarah Hyukjae. Monyet kecil yang nakal, menguping itu tidak baik, kau tahu.

"KAU! Masih bertanya apa masalahku? KAU MASALAHNYA!" Hyukjae menjawab dengan teriakan keras.

"Aku? Hah, lihat dirimu sendiri." Donghae tersenyum sarkastik. "Tidak ada yang menyuruhmu percaya padaku, brengsek. Apa itu salahku kalau kau begitu bodoh?" Tatapannya yang diajukan tepat ke mata Hyukjae tidak mengisyaratkan kedamaian seperti biasanya. Hanya kebencian yang beradu dengan tatapan sama milik Hyukjae.

..Aku mempercayaimu karena kau sahabatku.

Kata-kata itu terlintas di dalam benaknya, namun tidak ia katakan. Ia masih menunduk untuk menghindari tatapan dingin namja tersebut dan menggigit bibir untuk menahan amarah yang memaksa keluar saat Donghae mengeluarkan suaranya lagi.

"Kau bahkan tidak akan bisa bertahan di dunia ini dengan kenaifanmu. Ah, apa harus kusebut, kebodohan, hah?"

Kata-kata itu menarik benang kesabaran terakhir Hyukjae.

"TUTUP MULUTMU! Jangan bicara seolah aku yang salah!"

"Memang kau yang salah, monyet sialan."

"LEE DONGHAE—!"

"Hei!"

Namja di belakangnya menahan Hyukjae lagi. Membuatnya menggeram dan mengeluarkan sejumlah kalimat kotor, membuat namja itu menghela nafas dan mengeratkan pegangannya.

"Dengar, tidak ada gunanya kalau kau berkelahi dengannya disini," ia berkata dengan nada yang menenangkan sambil terus menahan pergerakan lengan Hyuk, "Kalau manajer dan produser kami datang, kau hanya akan menjadi pihak yang kalah. CCTV bisa membuktikan kau yang menyebabkan artis Lee Donghae terluka, dan kau bisa dituntut. Tentu saja, kecuali kalau kami memberikan kesaksian yang berbeda."

Ia melanjutkan, "Jadi, aku yakin kau sudah cukup tenang untuk berpikir, tinggalkan tempat ini. Demi kebaikanmu juga."

Hyukjae menunduk, menahan amarahnya dengan menggigit bibir bawah ketika menyadari kebenaran kata-kata yang dilontarkan namja tersebut di samping telinganya. Menyesakkan bagaimana status Donghae sekarang dapat membuatnya bagaikan ikan kecil terperangkap di dalam jaring. Sementara pemangsanya dapat berenang bebas seakan lautan adalah miliknya. Air mata memaksa keluar dari kedua matanya, namun ia tahan agar tidak jatuh.

Di sudut matanya, Hyukjae dapat melihat senyum di wajah Donghae.

"Lihat, kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa." Ucapnya dengan nada paling menyebalkan yang pernah Hyukjae dengar. "Menyesal sebanyak yang kau mau, balas dendam jika kau bisa. Menghilang dari hadapanku. Dan ingat kalau dunia ini tidak sebaik yang kau kira, Hyukjae."

Balas dendam.

"Hah." Lengkungan kecil muncul di sudut bibirnya. "Ide yang bagus, Lee Donghae. Lihat saja.."

Menghiraukan tatapan bingung dua orang yang ada di samping dirinya dan Donghae, dan Donghae sendiri yang mengernyitkan alis, Hyukjae mengeluarkan satu lengannya dari lengan namja di belakangnya dan menunjuk Donghae dengan telunjuknya.

"LEE DONGHAE! Aku akan balas dendam padamu!"

Dengan cara apapun.

"Oh?" Donghae memiringkan kepalanya, berekspresi seolah tertarik dengan kata-kata Hyukjae barusan."Coba saja kalau kau bisa. Memangnya dengan cara apa?" lanjutnya dengan senyum meremehkan.

"Yunho-hyung, tolong bawa dia keluar."

Namun sebelum pemuda bernama Yunho di belakangnya bisa mengambil tangan Hyukjae lagi, namja itu sudah memasukkannya terlebih dahulu ke kantong celana, mengeluarkan sesuatu– kunci kamar Donghae yang ia ambil beberapa saat lalu dan melemparkannya tepat ke muka Donghae. Keras.

"Aku akan masuk ke dunia hiburan," ucapnya, mengamati selagi kunci berwarna perak itu mengenai dahi Donghae dan jatuh ke lantai dengan sukses.

"Dan menjadi artis yang lebih terkenal darimu, Lee Donghae."

.

Dan dengan itu, ia berlari keluar atas keinginannya sendiri. Akhirnya membiarkan satu tetes air mata jatuh selagi kakinya membawanya pergi dari hotel yang menjadi salah satu kenangan terburuk dalam hidupnya.

.

-o-o-

.

"HYUKJAE! DARI MANA SAJA KAU?"

Suara umma-nya bordering di telinga Hyukjae bagaikan weker yang tidak sempat ia matikan segera setelah Hyukjae melangkahkan kaki ke dalam rumahnya.

"Pergi di atas jam malam! Menginap tanpa bilang-bilang! Kau lupa atau bagaimana kalau catatan yang kau tinggalkan di dapur hanya berkata kau PERGI KE MINIMARKET BERSAMA TEMAN?"

Tapi nasehat ummanya keluar dari telinga kirinya secepat itu memasuki telinga kanannya. Tidak ada lagi yang ia rasakan selain menyesal sekarang.

"Ne, umma. Mianhae."

Umma-nya sedikit terkejut dengan reaksi anaknya, tidak sempat berkata apa-apa lagi saat namja yang dimaksud sudah berjalan cepat ke arah kamarnya di lantai dua. Suara membanting pintu terdengar setelah itu.

Hyukjae bersandar di depan pintu kamarnya dengan perasaan campur-aduk. Raut wajahnya masih mengisyaratkan kemarahan. Melihat lurus ke depan, isi kamarnya terpampang di wajahnya, membuatnya menggertakkan gigi. Matanya melihat sekeliling, ke setiap barang-barang dengan figur idolanya- ah, salah. Mantan idolanya sekarang.

Kau sangat tidak adil, Lee Donghae. Ucapnya dalam hati selagi perasaan terbang tinggi kemudian jatuh itu menyelimutinya sekali lagi. Rintih terakhir keluar dari bibirnya dan ia jatuh. Donghae di atasnya.

Untuk beberapa saat, mereka sama-sama terdiam, mencoba mengatur nafas dan mengembalikan tenaga untuk bangkit.

"Donghae..?" Ucap Hyukjae ketika nafasnya sudah stabil dan Donghae sudah berguling untuk berbaring di sampingnya.

"Mm?"

Hyukjae tersenyum.

.

"Nado.. Saranghae."

BREEEEK

LEE DONGHAE BRENGSEEEEEEK!

BUKAN MANUSIA!

JELEK HOMO!

"MEMBUSUK DI NERAKA SANAA!" Teriakan yang terakhir keluar keras dari mulutnya bersamaan dengan bunyi robekan yang lain. Iya, dia baru saja merobek poster terakhir yang terpasang di kamarnya. Tepat di bagian wajahnya ; membuat foto namja berambut coklat di dalamnya terbagi menjadi dua. Oh, betapa dia berharap bisa mengutuk namja itu sehingga wajahnya benar-benar bisa dirobek dua seperti ini.

"Lihat saja," desisnya, mengambil album-album namja itu yang dia beli dan melempar semuanya ke tempat sampah, tidak berniat mendengarkannya lagi. "Aku tidak main-main dengan ancaman itu, Lee Donghae."

.

::TBC


A/N :

XD

Jadi, inilah kenapa nama ceritanya Skip A Beat hahaha tapi setelah ini alurnya beda jauh kok, Hyuk gaakan punya kepribadian kecil-kecil yang akan keluar kalo dia marah. Soal Siwon- entah ya bakal jadi kayak Tsuruga Ren atau nggak XD tapi Donghaenya bakal kurang lebih berkepribadian Bu Puo Shang :3

Mian adegan NCnya begitu doang, ternyata saya nggak kuat bikin dengan bahasa sendiri ._. Kalo bikin versi english nya pasti akan lebih panjang kok. *janji apa ini*

Mian juga kalo ada beberapa OOCness, first hurt/comfort scene gagal, dan soal Yunho dan Yoona yang nongol, mereka bukan antagonis. Aku nggak benci mereka, lagipula. Dengan randomnya menggunakan nama Yunho karena nulis sambil dengerin Mirotic..

Super Junior members will come out later!

.

.


Kontras dengan kata-katanya, air mata menggenang di sudut mata Hyukjae, tak peduli berapa kali ia menyekanya dengan lengan yang juga gemetar. Album-album yang retak berada di dalam tempat sampah di sebelahnya. Robekan dan kertas yang tergulung tak berbentuk berserakan di seluruh kamarnya. Umma-nya akan berseru histeris kalau melihat keadaan ini, tapi ia tidak peduli. Tidak bisa peduli untuk saat itu.

"Nado.. Saranghae."

(Bukankah tidak adil, bagaimana sekarang ia menyesali kata yang ia ucapkan waktu itu?)

.

Membenamkan kepalanya ke lekukan lutut sekali lagi, Hyukjae tenggelam dalam tangisan keduanya hari itu.

.


Reviews make update faster~ *hug hyukkie*