Empat hari telah berlalu sejak kejadian selasa pagi di atap sekolah. Hubungan Sakura dengan pacar jadi-jadiannya pun semakin dekat. Ino bahkan Naruto pun sekarang menjadikan kegiatan menggoda Sakura dan Sasuke sebagai hobi baru mereka. Namun, Sakura tidak menyangkal jika kehadiran Sasuke diikuti Naruto membuat hidupnya sedikit berwarna. Selama ini, Sakura beranggapan jika Ino selalu menjadi teman sekaligus sahabatnya saja sudah cukup. Tapi sepertinya ia salah, membuka hati dan lebih terbuka pada semuanya membuatnya lebih nyaman.

Teman-teman di seluruh penjuru Konobi Academy mulai dari teman seangkatan sampai adik-adik kelas seakan mendukung hubungan Sakura dengan Sasuke. Sakura sampai tidak habis pikir, kenapa orang-orang itu bisa dengan kompak membuatnya malu.

Sikap Sasuke pun semakin berani, ia tidak segan-segan merayu Sakura di depan banyak pasang mata. Sasuke yang memiliki paras tampan dan pintar merayu membuat siapapun menjadi iri kepada Sakura. Bahkan saat Sasuke merayu Sakura di depan murid-murid perempuan, mereka jadi jejeritan sendiri. Membayangkan kalau mereka lah yang dirayu. Hal tersebut hanya membuat Sakura sweatdrop.

Hari libur pertama diminggu kedatangan Sasuke ke dalam hidupnya, disambut suka cita oleh Sakura. Satu hari tanpa melihat raut menyebalkan Sasuke yang selalu disertai seringai menggelikan itu, membuat Sakura berkali-kali bersyukur. Dan sepertinya, gadis itu sangat berniat sekali untuk menghabiskan hari liburnya dengan mengurung diri di kamar. Terbukti saat matahari yang hampir tinggi, sosok itu masih bergumul di dalam selimutnya.

Tok tok tok.

"Dek?!" teriak Karin dari luar kamar yang tentu saja tidak disahuti Sakura.

Dor dor dor.

Ketukan di pintu itu pun berubah menjadi gedoran. Haruno Karin harus ekstra sabar untuk membangunkan adik bungsunya ini.

Cklek―Brakkh.

Karena tidak mendapat sahutan setelah menggedor pintu selama lebih dari lima menit, akhirnya anak tertua di keluarga Haruno itu membuka paksa pintu bercat putih tersebut. Setelah pintu terbuka sepenuhnya, Karin segera melangkah mendekati kasur yang didominasi warna merah muda itu lalu menyibak selimutnya. Terlihatlah Haruno Sakura yang dengan wajah polosnya masih tertidur pulas sambil memeluk boneka kelinci berwarna putih kesayangannya.

"Hoi, bangun! Anak gadis kok bangunnya siang banget! Bangun banguun!" Karin menggoyang-goyangkan badan Sakura yang dibalas gadis itu dengan gumaman pelan. "Hei, ini sudah hampir jam setengah dua belas siang. Dek?!"

Tangan Karin yang menggoyangkan tubuh Sakura berhasil ditepis pelan oleh gadis itu. "Hmm, bentar lagi Kak Karin … Hari libur juga~" ucap Sakura dengan suara paraunya. Ia terlihat mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali sebelum kembali tertutup dengan rapat.

Karin yang melihat adik pemalasnya ini menjadi semakin jengkel. Saat akan kembali menyembur Sakura dengan ocehan, atensi gadis berambut merah marun itu sudah teralih ke benda persegi panjang berwarna pink yang tergeletak di atas meja belajar kamar itu. Ponsel Sakura.

Karin yang penasaran, langsung mendekati meja belajar tersebut dan mengambil ponsel Sakura.

Ada email masuk.

Dengan isengnya Karin membuka email yang masuk ke ponsel adiknya itu dan membacanya.

.

From : uchihasasuke

Subject : Kencan

Pinky sayang. Hari ini kita kencan. Jam dua belas nanti aku jemput ke rumahmu. Tidak ada penolakan.

U.S

.

Begitulah sekiranya isi email yang ditujukan kepada adiknya. Karin menyernyit heran dengan isinya. Kencan? Sejak kapan adik merah jambunya ini memiliki kekasih?

Karin memang sudah mendengar cerita dari Sasori kalau adik kembarnya itu sempat menasihati Sakura untuk berhenti dari sifat menjauhi laki-laki dan mencoba membuka hatinya kembali. Apakah pemuda yang mengirim email ini yang berhasil membuat trauma Sakura sembuh? Kalau memang begitu, Karin dengan senang hati akan membantu!

Karin berjalan kembali mendekati adiknya yang masih dengan antengnya berada di alam mimpi sambil membawa ponsel Sakura.

"Dek, ada email nih. Hoi, ya ampun." Karin menepuk jidatnya. "Ini anak bener-bener pengen kena siram air kayanya," ucap Karin sambil mengguncang-guncang tubuh Sakura. Sesekali ia gelitiki pinggang Sakura.

Sakura tertawa pelan tanda ia merespon gelitikan Karin. "Kak~ bentar deh. Lima menit lagiii~" rengeknya.

Karin berdecak, "Tidak Saku. Ayo bangun, nih pacar kamu kirim email. U-chi-ha, ya Uchiha Sasuke nih. Katanya mau ngajak kamu kencan jam dua belas nanti," ucap Karin sambil membaca nama pengirim email itu. Ia sedikit menyernyitkan dahinya.

Satu detik terlewat. Tidak ada respon.

Lima detik terlewat. Tidak ada respon.

Tepat ke detik sepuluh…

"HAHHH? Uchiha Sa-Sa-Sasuke?!"

.

.

.


Our Story

Story © Asterella Roxanne 2014

Naruto is Masashi Kishimoto's | SasuSaku

Genre : Romance, Hurt/comfort, Little bit Drama, Little bit Humor | WARNING : AU, OOC, OC, Dialog non baku, Typo's maybe. Ketidak-konsistenan aku-kau, atau aku-kamu. | Jika ada kesamaan ide, itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Murni dari pemikiran penulis |

.

.

IV. First Date


.

"HAHHH?! Uchiha Sa-Sa-Sasuke?!"

Sosok berambut merah muda seperti bunga kebanggaan Jepang itu terlonjak bangun dan terduduk di atas kasurnya. Bola mata dengan iris emerald itu terbelalak lebar. Rasa kantuknya hilang dalam sekejap saat gendang telinganya menangkap nama pemuda yang akhir-akhir ini mengisi harinya.

"Iya. Nih kalo nggak percaya." Karin menyerahkan ponsel Sakura. "Cie, yang punya pacar tapi gak cerita-cerita ke kakak," sindir Karin dengan nada sinis yang dibuat-buat.

Sakura menatap kakaknya panik. "Bu-bu-bukan! Dia bukan pacarku, kak! Sumveh," kata Sakura sambil mengangkat tangan kanannya, membentuk tanda peace dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Karin yang melihat kepanikan yang tergambar dalam raut wajah adiknya mau tak mau tertawa keras. Ia sebenarnya tidak marah, malah sangat senang jika memang adiknya ini sudah memiliki kekasih. Sakura hanya menatap bingung kakaknya yang tiba-tiba tertawa.

"Haha. Kenapa mesti panik sih dek? Mukamu lucu banget tau nggak. Haha." Setelah tawanya mereda, Karin melanjutkan. "Kakak nggak marah kok, malah kakak seneng banget kalo kamu emang bener punya pacar."

"Ada apa-ada apa? Kayanya lagi ngobrol seru, kok gak ngajak-ngajak aku sih?" Entah sejak kapan Haruno Sasori sudah berdiri di ambang pintu kamar Sakura. Karin dan Sakura yang mendengar suara Sasori menoleh kearahnya.

"Ih, pengen tau banget ya," sahut Sakura kesal. Ia mulai beranjak dari kasur dan berlari menuju kamar mandi.

Sasori hanya tertawa melihat ekspresi jengkel Sakura, dan berjalan mendekati Karin."Ada apa, kak? Cerita dong~" kata Sasori sambil merangkul pundak kakak kembarnya itu.

"Ih, lepasin Sasori. Geli tau nggak." Setelah lepas dari rangkulan adiknya itu, Karin kemudian menyodorkan ponsel Sakura dan menunjukkan isi email itu kepada Sasori. "Nih, ada yang ngajak adek kita kencan tuh."

Setelah membaca pesan singkat itu, senyuman lebar terkembang di wajah Sasori. "Wah, akhirnya tobat juga tuh anak!" seru Sasori.

Sakura yang berada di dalam kamar mandi, tidak sengaja mendengar seruan Sasori merasa tidak terima. Ia pun menyahut, "emang kakak pikir aku punya penyimpangan orientasi seksual apa hah?! Jangan asal ngomong woooy." Karin dan Sasori hanya tertawa. Mereka segera keluar dari kamar itu untuk memberitahu Papa dan Mama mereka hot news ini.

oOo

Sakura yang telah selesai membersihkan diri, segera memakai baju santainya. Hotpants dan tanktop merah muda yang di lapisi baju kaos berwarna kuning kebesaran.

Ia melangkah keluar kamar, menuju ruang keluarga. Sebelumnya, ia sempatkan ke dapur untuk membawa beberapa cemilan. Ia baru bangun tidur, sudah tentu belum sarapan bukan?

Sakura duduk di samping Karin yang entah sedang melakukan apa. Sakura sendiri melemparkan tatapannya ke televisi layar datar di depannya. Beberapa menit telah berlalu, Sakura menyernyitkan dahi kala tidak ada satu pun dari keluarganya yang membuka mulut. Bahkan Sasori yang biasanya selalu menggoda Karin kini tidak membuka mulutnya sama sekali.

Sakura menatap keluarganya satu persatu dengan raut heran, "Apa?" tanyanya kala merasa seluruh pasang mata menatapnya seakan-akan ingin melahapnya hidup-hidup.

TING TONG

Suara bel memecahkan keheningan ruang keluarga itu. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka lalu disusul suara langkah kaki tergesa-gesa yang mengarah ke ruang keluarga.

Bi Satomi menghampiri Sakura yang sekarang sedang mengunyah makanan sambil menonton televisi.

"Maaf, Non Sakura. Anu―ada temen non tuh di depan. Ganteng bangeet~" Perkataan Bi Satomi sukses membuat Sakura yang sedang menelan makanannya tersedak. Melihat Sakura yang membutuhkan air, Sasori dengan sigap mengambil air mineral dan memberikannya ke adik bungsunya itu.

"Nih, dek."

Setelah reda dari tersedaknya, Sakura bangkit dan berjalan ke pintu utama. Dan terlihat lah seorang pemuda dengan gaya coolnya berdiri di ambang pintu. Memakai jeans berwarna hitam, baju kaos berwarna hitam yang dilapisi jaket kulit berwarna dark blue dan tidak lupa sepatu kets yang melapisi kaki si Uchiha itu. Yang tidak berubah hanyalah gaya rambut unik itu saja.

Uchiha Sasuke yang melihat Sakura berjalan menghampirinya segera memasang seringai yang… uh.

"Mau ngapain datang kesini?! Saat libur keluarga Haruno tidak menerima tamu!" ucap Sakura ketus dan baru saja ingin menutup pintu, tangan Sasuke dengan cepat menghentikannya.

Masih dengan seringainya, "Aku sudah mengirim email padamu. Jam dua belas kita akan kencan. Mau tidak mau kau harus ikut pergi denganku."

"Ck, aku tidak mau―" perkataan Sakura terpotong karena selaan dari suara di belakangnya.

"Loh, Sakura, kenapa temanmu tidak di ajak masuk? Tidak sopan." Haruno Kaoru berdiri di sebelah Sakura, "Ayo, nak. Silahkan masuk."

'Buset, pantesan aja anaknya cantik, emaknya juga kaya bidadari gini.'

"Panggil aja Sasuke, tante."

Kaoru hanya manggut-manggut dan menampilkan senyuman manisnya. Lalu mempersilahkan Sasuke untuk memasuki rumah keluarga Haruno.

Sakura yang masih mematung di ambang pintu, membuat Sasuke ingin menggodanya sebentar. "Puas mengagumi pesonaku? Pinky sayang?" Dan detik itu juga Sakura tersadar dan langsung memberikan deathglare mematikan a la Haruno Sakura yang tentu saja diabaikan oleh Sasuke.

Sakura berjalan memasuki rumah dengan hentakan-hentakan kaki yang menandakan ia sedang kesal.

Sasuke tiba di ruang tamu kediaman Haruno. Ia bisa melihat semua anggota keluarga―tebak Sasuke―berkumpul di situ dan menatapnya penuh selidik. Sasuke hanya bisa tersenyum kikuk.

"Silahkan duduk," kata Kaoru mempersilahkan Sasuke duduk di sofa yang masih kosong. Sakura sendiri memilih duduk di samping Mamanya.

Sasori yang lebih dekat duduknya dari Sasuke lebih dulu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Aku Sasori, kakak kesayangannya Sakura―aduh, apa sih kak? ―Oh, dan di sebelah aku ini, Kak Karin." Setelah berjabat tangan dengan Sasori, Sasuke kemudian beralih menatap Karin seraya mengulurkan tangan.

"Uchiha Sasuke."

Karin membalas jabatan tangan itu dan menjawab dengan nada tegas. "Haruno Karin. Anak tertua di keluarga Haruno." Tatapan iris ruby milik Karin menatap intens onyx di depannya. Menilai kepribadiannya.

"Ehm," deham sang kepala keluarga. Membuat seluruh pasang mata menatapnya. "Jadi, kamu siapanya Sakura?" Kali ini gantian, iris emerald Shinichi memandang dari atas ke bawah penampilan Uchiha Sasuke. "Saya Papanya Sakura."

Dengan penuh percaya diri, Sasuke menjawab. "Saya pacarnya Sakura, om."

"Sudah berapa lama?"

"Baru seminggu yang lalu."

Shinichi mengangguk-anggukan kepala bersurai merah darahnya. "Jadi, ada apa kamu ke sini?"

Sasuke terdiam sebentar. "Saya ingin mengajak Sakura kencan om," jawabnya dengan tenang.

Sakura yang mendengarnya melotot. Kelewat jujur banget ini anak!

"Baiklah. Sebelum jam enam sore, Sakura sudah harus berada di rumah," ucap Shinichi. Sakura yang mendengar persetujuan Papanya hampir mengeluarkan bola mata―karena lagi-lagi terkejut. Ia diizinkan? Apakah Papanya yang tampan dan jenius itu terbentur sesuatu sampai ia di perbolehkan pergi kencan dengan laki-laki menyebalkan itu? Kencan?!

"Iya, om. Saya akan mengantar Sakura pulang sebelum jam enam sore. Dengan selamat."

Karin diam-diam mengembangkan senyumnya. "Nah, kamu sudah diizinin sama Papa. Ganti baju atau apa gitu, dek?" tanyanya. Sakura tidak bereaksi.

Karin yang gemas melihatnya, menatap Kaoru meminta persetujuan untuk menggeret adik merepotkannya ini.

"Ayooo."

.

Karin dengan antusias membongkar lemari pakaian Sakura. Tapi, baru beberapa detik, kegiatannya terhenti lalu berbalik menatap Sakura yang saat ini malah asyik tidur-tiduran.

"Dek, dress kamu kemana? Kok kaos semua sih isi lemari ini?" tanya Karin.

Sakura mengangkat kepalanya agar dapat melihat Karin, "Aku buang semuanya kak~" jawabnya dengan malas.

"Hah?" Karin hanya cengo mendengar perkataan santai adiknya. "Astaga, Sakura. Kamu cewek beneran atau cewek jadi-jadian sih? Masa iya mau pergi kencan pakai hotpants dan baju kebesaran gitu?!"

'Iyaaa, aku cewek jadi-jadian. Emang kenapa?!' dumel Sakura dalam hati.

"Cowok kamu sumpah ganteng banget dek, masa tega kamu malu-maluin dia dengan dandan kaya gini?! ―blablablabla."

Sakura menutup kedua telinganya. Kak Karin mulai lagi deh cerewetnya.

Karin menutup pintu lemari, dan berjalan mendekati Sakura. Diseretnya adik bungsunya itu ke kamar miliknya sendiri. "Oke, kakak yang bakal dandanin kamu. Tidak boleh ada protes!"

Sakura hanya bisa mengasihani dirinya sendiri.

.

Di ruang tamu, Sasuke berbincang ringan dengan keluarga Haruno. Awalnya memang ia merasa terintimidasi. Apalagi oleh kedua orang di depannya yang berjenis kelamin laki-laki ini. Ia merasa seakan ingin di telan hidup-hidup. Tapi, beruntunglah saat Nyonya Haruno mengganti topik menjadi lebih ringan selagi menunggu ke datangan Sakura.

"Oh, jadi Nak Sasuke sekarang tinggal sendirian di Jepang? Wah, kamu benar-benar mandiri ya," ucap Kaoru. Shinichi yang menangkap nada memuji keluar dari mulut istrinya, langsung mendelik ke arah Kaoru.

"Maaf menunggu~" seru Karin membuat semua mengalihkan perhatian ke arahnya. Kini, di samping Karin yang memasang senyum lebar, terdapat Sakura yang menunduk malu. Lain hal dengan Karin yang merasa sangat bangga bisa mendandani adik bungsunya ini.

"Sakuu, kamu cantik banget!" seru Sasori. Ia langsung menghampiri Sakura dan dipeluknya erat. Dan saat Sasori akan mencium pipi adiknya, tangan Karin sudah mendarat ke telinga Sasori dan dijewernya kencang.

"Aduh-aduh, kak. Iya, iya. Jangan cemburu gitu dong, aku kan cuma mau nyium Sakura," kata Sasori sambil mengelus-elus telinganya yang memerah.

"Ngomong apa kamu? Mau aku jewer lagi, hm?"

Sasuke yang melihat pertengkaran duo merah itu hanya sweatdrop. Kemudian, ia mengalihkan perhatian ke Sakura yang masih menunduk malu. Sasuke benar-benar terpana pada sosok Sakura sekarang, sangat berbeda dengan Sakura yang biasa tomboy di sekolah.

Haruno Sakura memakai dress lima sentimeter di atas lutut berwarna soft pink. Di bagaian roknya bermotif bunga-bunga dan sedikit mengembang, sedangkan polos untuk bagian atas. Hanya pita kecil di dada sebelah kanan yang mempermanisnya. Oh tidak lupa wedges berwarna soft pink juga membuat tubuh pendek Sakura sedikit lebih tinggi.

Satu kata yang di serukan oleh otak Sasuke saat melihat Sakura…

'Cantik.'

"Ehm," deham Sasuke untuk menghilangkan kecanggungan. "Sudah siap?" Dibalas dengan anggukan kikuk Sakura.

Sasuke menggumam pelan, "Baiklah. Om, tante, Kak Karin, dan Kak Sasori saya izin untuk pergi sama Sakura." Membungkuk hormat, kemudian Sasuke mendakati Sakura lalu dirangkulnya pinggang mungil gadis itu. Percuma saja mengelak, Sakura hanya bisa pasrah.

Setelah Sakura dan Sasuke menghilang dari pandangan, seluruh anggota keluarga Haruno menghela napas. Bahkan tanpa sadar, sedari tadi mereka menahan napas. Lucu sekali.

"Putri bungsuku ternyata sudar besar. Sepertinya Papa suka dengan pacarnya Sakura itu, dia tegas dan jujur," kata Shinichi memecahkan keheningan yang berlangsung kurang lebih satu menit.

Karin memandang ke arah pintu yang baru saja di lewati Sakura, "Aku tahu kenapa dia bilang takut saat kau menyuruhnya untuk membuka hati lagi, Saso. Aura Sasuke kurang lebih sama dengan pemuda brengsek tiga tahu lalu itu."

Raut jenaka yang sering menghiasi wajah baby face Sasori kini memudar. Terganti dengan raut datar dan mata hazel yang berkilat penuh dendam. Tangannya pun tanpa sadar mengepal, menahan amarah yang bergejolak dihatinya.

"Tapi kita semua tahu, Sasuke bukan dia," kata Shinichi tenang. Yang secara tidak langsung membuat Sasori tersadar dari rasa dendamnya tadi. Cengiran lebar kini sudah kembali terpasang.

"Benar juga kata Papa. Dan jika laki-laki brengsek itu muncul di hadapanku, jangan harap wajahnya akan berbentuk seperti manusia lagi," ucap Sasori dengan penekanan yang mendalam di suaranya.

Karin tidak menimpali, ia memandang saudara kembarnya dengan raut khawatir. Sasori memang sering bercanda, tapi jika ia sudah marah―apalagi menyinggung tentang tiga tahun yang lalu, tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Seakan ia memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang.

"Kak," panggil Sasori tiba-tiba. Menghentikan lamunan Karin. "Melihat Sakura kencan, aku juga pengen. Kita kencan juga yuk~"

Shinichi dan Kaoru yang dari tadi terdiam karena mendengar bahasan topik masa lalu yang cukup sensitif itu akhirnya tertawa melihat Sasori telah kembali ke mode cerianya. Karin pun hanya menghela napas, sekali-kali menuruti saudara kembarnya ini tidak apa 'kan?

"Baiklah. Kakak ganti baju dulu."

Sasori bertepuk tangan. "Okee, yang cantik ya kak~"

oOo

Suasana hening menyelimuti keadaan di dalam mobil yang dikendarai oleh Sasuke itu. Tidak ada yang membuka suara. Sasuke yang fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Sakura hanya membuang muka ke jendela di sebelahnya.

"Ehm." Sasuke memecah keheningan. "Kamu cantik," puji Sasuke tulus.

Sakura yang mendengar itu sesaat merona, tapi tiba-tiba ia sadar dan memasang muka cuek. "Dari pada nambahin dosa, mending jujur. Gak usah nyindir-nyindir gitu," ucap Sakura sinis.

Sasuke menyernyit tak suka. Padahal ia sudah membuang segala egonya untuk memuji Sakura. Tapi malah ditanggapi dengan cuek oleh gadis di sebelahnya ini.

"Terserah."

Lagi mereka terdiam. Sakura yang memang sifat awalnya tidak bisa diam, mulai nyerocos.

"Kau mau bawa aku kemana sih? Aku tidak mau kau bawa ke taman bermain. Kekanakan," protes Sakura saat dilihatnya jalanan yang dilalui mengarah ke taman bermain.

"Siapa yang mau ke taman bermain? Aku tidak sekekanakan itu," ucap Sasuke datar. 'Sial! Ku kira ia suka ke taman bermain. Memang susah kalo berurusan dengan cewek yang beda dari yang lain gini.'

"Jadi mau―"

"Diam dan ikuti saja."

Sakura mau tak mau terdiam menuruti perintah laki-laki di sampingnya ini. Dan tiga puluh menit kemudian, mobil yang mereka kendarai memasuki wilayah Konoshi Mall. Mall super mewah yang ada di daerah itu.

Sasuke keluar dari mobilnya dan mengitari mobil itu untuk membukakan pintu untuk Sakura. Sakura keluar dari mobil dan melihat sekelilingnya.

"Kau mengajakku ke Konoshi Mall? Waw, baru seminggu pindah ke Jepang, sudah mengetahui tempat-tempat seperti ini," komentar Sakura.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan dan menjawab dengan malas. "Asal kau tahu, aku bukan baru pertama kalinya ke Jepang. Rumahku yang sebenarnya ada di sini, bukan di Amerika."

Mendengar penjelasan Sasuke, Sakura hanya membulatkan mulutnya dan ber'oh' ria seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Ayo, masuk. Pertama, kita akan menonton bioskop. Tidak ada penolakan," ucap Sasuke penuh penekanan. Takut di tolak mentah-mentah seperti tadi. Ia segera menggenggam erat tangan Sakura dan berjalan masuk ke Konoshi Mall.

Sakura yang mendengar 'bioskop' langsung terpekik senang. "Bioskop? Aaa aku senang sekali. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali aku menonton bioskop. Terima kasih, Sasuke~"

Deg.

Perasaan hangat menjalari hati Uchiha Sasuke saat mendengar gadis di sampingnya mengucapkan namanya. Ya, ini adalah kali pertama Sakura memanggil nama kecilnya, dan entah kenapa hal itu membuat Sasuke senang. Apalagi ditambah saat gadis itu menyebut namanya, diiringi dengan senyuman yang sangat manis.

Sasuke hanya mampu membalas dengan senyuman tipis. "Sama-sama, Sakura." Dan ini pun, kali pertamanya juga memanggil gadis merah muda itu dengan nama kecilnya.

'Kemajuan yang bagus. Kami sudah berani memanggil dengan nama kecil masing-masing.'

oOo

Haruno Karin dan Haruno Sasori yang saat ini sedang berkencan berjalan-jalan sambil beberapa saat memasuki toko yang menurut mereka menarik. Cukup banyak belanjaan yang sudah terbeli, dan kebanyakan dari barang yang terbeli adalah milik Sasori.

"Kau mengalahkan ku, Saso. Kau sebenarnya cowok apa cewek sih? Nafsu belanjamu besar banget," komentar Karin saat melihat adiknya itu menenteng enam kantong di tangan kanan yang merupakan belanjaannya sendiri dan tiga kantong di tangan kiri merupakan belanjaan milik Karin.

"Hehe, aku 'kan jarang belanja kak. Makanya sekali belanja, jadi sebegini banyak," ucapnya dengan cengiran tanpa dosa.

Karin mendengus mendengar jawaban adiknya itu. Lalu matanya menatap sebuah café yang menarik perhatiannya. "Dek, istirahat bentar yuk. Di café itu." Karin menunjuk sebuah café tak jauh dari tempat mereka berjalan.

"Baiklah―eh, di depan café itu ada toko buku. Aku ke toko buku dulu ya kak? Ada yang mau aku beli. Kakak duluan aja masuk ke café itu."

Karin hanya mengangguk mengiyakan. Ia sangat tahu, saudara kembarnya itu memang sangat mencintai buku. Saat sampai di depan café, Sasori meminta tolong untuk memegangi kantong-kantong belanjaan dengan alasan sangat repot jika ia yang membawa masuk ke dalam toko buku.

Baru Karin ingin membuka mulut untuk protes, adiknya itu telah kabur masuk ke dalam toko buku. "Dasar adik kurang ajar," dumel Karin dan dengan langkah di seret-seret ia memasuki café yang berada bersebrangan denga toko buku tersebut.

.

Sasori segera mencari buku yang ingin ia beli. Dua buah buku tebal untuk refrensi tugas kuliahnya, beberapa komik, dan Novel.

"Ah, Novel karya Shimuzaki Yusaka edisi lima sudah terbit belum ya? Sudah satu tahun lebih dari peluncuran Novelnya yang edisi ke empat," gumam Sasori. Ia masih menelusuri bagian 'Novel', dan matanya yang bermanik hazel itu berbinar kala menangkap bertumpuk buku di dekat kasir bertuliskan 'Our Story – Black and white facts. Karya Shimuzaki Yusaka'. Dengan hati riang gembira ia segera melesat ke tumpukan buku dan ingin mengambil salah satu buku itu.

Tapi, tangan orang lain dengan bersamaan memegang buku yang dia ambil. Sasori pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa si pemilik tangan ini.

"Maa―Kak Konan?"

.

Karin yang merasa keberatan dan risih dengan banyaknya kantong di tangannya, membuat langkah gadis berambut merah marun itu tidak seimbang. Apalagi tak jarang kantong-kantong itu menyangkut ke meja pelanggan lain di café itu saat ia berjalan. Karin hanya bergumam meminta maaf, sebelum ia melanjutkan langkahnya.

Karena terlalu fokus dengan langkahnya―apalagi Karin yang sedari tadi menunduk kebawah―menubruk seseorang yang berdiri di depannya. Karin yang memang tidak seimbang gara-gara kantong-kantong berat itu langsung jatuh terduduk.

Ia juga bisa mendengar suara tangis anak kecil. Ah, apakah ia menabrak anak kecil?

Karin pun buru-buru bangkit berdiri, mengesampingkan rasa sakit di pinggangnya karena jatuh secara tiba-tiba tadi, dan membungkuk minta maaf.

"Maaf, saya tidak sengaja. Sungguh, apakah ada … yang ter-lu…ka?"

Perkataan Karin semakin kecil saat matanya melihat siapa korban yang ia tabrak. Mata dengan iris ruby milik Karin terbelalak saat melihat sosok di depannya. Seorang pria beperawakan tinggi, dengan garis wajah tercetak jelas menandakan ia sudah mulai berumur. Seorang pria berambut hitam panjang yang dikuncir satu kebelakang. Seorang pria yang saat ini sedang menenangkan gadis berumur sekitar tiga atau empat tahun yang sedang menangis.

Dan sebuah nama meluncur dari mulut Haruno Karin.

"Kak… Itachi?"

.

.

oOo

TBC


A/N :

jeng jeng!

Haha, maaf sekali jika chapter ini tidak kerasa feelnya. Maafkan...

Apalagi ini sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Aku―Asterella Roxanne―mengucapkan mohon maaf lahir batin jika ada salah kepada readers semua. Ehehe. Dan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA :D #telatwoy #digampar

Balas reviews :

hanazono yuri : iya, sudah gak dipake lagi. Apakah chap ini feelnya dapat?

Subarashii Shinju : haha aku juga pengen punya kakak kaya Sasori #pelukSaso. makasih ya semangatnya. berkat kamu aku jadi lebih semangat nulis nih :D udah update...

Luca Marvell : hihi, makasih. aku senang kalau humornya bisa terasa oleh pembaca :)

Natsuyakiko32 : wkwk Saso rada-rada apa nih? :D iya makasih, aku akan jaga kesehatan kok. udah update hihi...

Zagy : khusus buat kamu, chap 4 ini aku panjangin :)

Mina Jasmine : tersangkanya trauma Sakura masih lama terungkapnya, ikutin aja ya :) gpp kok baru review, aku ttp seneng hehe :)

ai-chan : udah di panjangin nih.. kuharap ini termasuk update kilat ya? :D

Jeremy Liaz Toner : hihi, aku juga makin cinta sama kamu kalo kamu review terus ff ini :D #plak

aitara fuyuharu : hehe, sama ih aku jg pengen pny kakak kaya Saso :D sepertinya kmu bisa nebak, Sasu bakal nyakitin Saku atau nggak...

Guest : Udah update..

Cheirae Brownnky : udah update, termasuk kilat gak nih? :D

Dimsis : udah lanjut ya :)

Irie Kotoko : wah beneran ngerasa tegang ya? kukira gak dpt feelnya kemarin :3

Guest : sip, udah update..

aurelsarrs : 'Sasu kok' kenapa nih? udah lanjut ya..

.

Makasih banyak yang sudah mereviews, fave, alert. Jujur, author sangat senang sekali jika para pembaca sekalian menyukai cerita buatan saya. Author semakin bersemangat untuk terus menulis kelanjutan cerita ini. Author juga berharap, semoga para readers tidak merasa bosan ya...

p.s : oh ya, cuma ingin mengklarifikasikan saja meskipun tidak ada yang tanya. Haha. Begini, cerita yang saya buat ini, tidak ada yang berending incest ya. SasoSaku ataupun SasoKarin. itu murni saya buat karakter Saso yang suka nggombal, apalagi sama Karin. Jadi ya... begitu. Hehe. Sasori yang begitu hanya bentuk perwujudan kasih sayang aja kok dan dibumbui kejahilan.

p.p.s : nah nah, ada yang bisa nebak gak tuh kenapa Karin nyebut nama Itachi padahal pada saat ketemu Sasuke yang bermarga Uchiha dia nya biasa aja :D Monggo, silahkan bertebak-tebakan :D

p.p.p.s : akhir kata dari Author, mind to review, please?

Sign, Asterella Roxanne. 29 Juni 2014.