Thank you for all the people that review-ed my previous chapter!
Ini chapter yang baru, silahkan membaca! Tapi ini dikit banget, maaf ya~
Oke deh, review abis itu ya?
Fairy Tail milik Hiro Mashima!
"Lucy…," bisik Gray, menatap Ruu yang tersenyum malu-malu. Ruu tampak memiringkan kepalanya seperti anak kecil, tidak mengerti kenapa Gray memanggilnya dengan tambahan 'cy'*
Gray mengabaikan reaksi Ruu yang bingung. Dia terus saja berbicara. "Lucy… kau… kau masih hidup? Aku… aku… menunggumu…," ucap Gray tidak terkendali. Ruu semakin takut dan tidak mengerti. Natsu menatap Gray. Sepertinya Natsu juga bingung dengan sikap Gray yang tidak menentu itu. Dia menelan ludah.
Ruu memberanikan diri untuk menjawab Gray. "Ma-maaf, tapi aku tidak mengerti. Nama saya Ruu." Ruu menyela, menatap mata onyx Gray. Iris mata Gray melebar. Dia mengepalkan tangannya, wajahnya tampak frustasi. Frustasi, marah, sedih dan terluka. Entah kenapa semuanya bercampur menjadi satu. Sebenarnya ada apa dengan Gray? Dia begitu aneh kali ini.
"Lucy… kau lupa padaku?" Tanya Gray, tampak terluka. Dia mengucapkan kata demi kata dengan kesungguhan yang entah kenapa tulus. Ruu masih bingung. Dia tidak mungkin mengenal orang ini kan? Atau mungkin saja—mungkin.
Gadis itu keras kepala. Lagi pula dia belum ingat tentang masa laluunya kan? Berarti dia tidak ingat siapa orang ini! "Tetapi aku tidak mengerti apa yang anda katakan—" ucap Ruu. Keheningan menyelinap. Gray tampak sangat terluka. Dia seperti siap meledak kapan saja.
"Keluar," suara Gray terdengar gemetar. Air matanya masih keluar dari matanya. Ruu ketakutan, sedangkan Natsu tampak melawan. Sepertinya lelaki yang terlihat dingin itu benar-benar serius. Natsu sampai heran dibuatnya. Kenapa kini Gray begitu serius?
"Oi hentai-yarou kau—" Natsu marah. Tetapi Ruu memegang lengan Natsu dan berlari pergi. Sedangkan Gray jatuh berlutut. Air matanya jatuh tidak terhenti. Tidak lama kemudian, Mirajane masuk. Mira kaget melihat Gray jatuh sambil menangis. Perempuan berambut silver itu sangat panik mendapati Gray jatuh.
Perempuanitu memekik kaget. "Gray! Kau tidak apa-apa?" Tanya Mirajane kaget. Dia berlutut, menepuk pundak Gray. "Gray! Apa yang terjadi?" Mirajane panik. Gray menunjuk ke arah pintu.
Bibir Gray terbuka. Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi sangat sulit diucapkan. "Lucy," ucapnya. "Dia…" Gray pingsan. Mirajane lalu membawa Gray ke kamarnya.
Dia membaringkan Gray di ranjangnya, ketika dia melihat sebuah figura di meja Gray. Seorang gadis cantik berambut pirang dan seorang lelaki berambut hitam berumur 5 tahun. Mereka tersenyum, tampak sangat bahagia. Mirajane menyentuh foto itu dengan perasaan campur aduk. Satu-satunya gadis yang bisa membuat Gray tersenyum... hanya gadis itu. Satu-satunya.
"Lucy," panggil Mirajane ke udara kosong. "Kau kenapa pergi? Kami sangat merindukanmu. Tadi Gray pingsan. Dia menyebutkan namamu sebelum dia pingsan," cerita Mirajane. Matanya berair. "Kau sudah seperti adikku. Lisanna, kau, dan Elfman. Kalian semua adalah adikku. Aku sangat merindukanmu, imotou," bisik Mirajane, mengelus foto perempuan berambut pirang dan beriris mata cokelat. Mirajane mengusap air matanya. Dia sangat merindukan Lucy… Tapi kemana dia sekarang?
XXX
"Watashi wa Ru-desu. Yoroshiku onegaishimasu~" ucap Ruu memperkenalkan dirinya pada seluruh Fairy Art. Orang-orang di Fairy Art kagum akan Ruu yang begitu cantik. Baru kali ini ada seorang yang begitu cantik selain Erza memasuki depertemen Fairy Art. Banyak perempuan yang berbisik-bisik. Entahlah, mereka sepertinya iri. Tapi Ruu tidak mempersalahkan itu. Selama ini dia sopan terhadap siapapun. Sepertinya semua orang di sini baik. Kecuali.. sikap aneh orang bernama Gray Fullbuster waktu itu. Ada apa ya?
Seorang lelaki tiba-tiba berseru, "Yoroshiku Ruu-channn!" Seru seseorang yang tiba-tiba memeluk Ruu seenaknya. Ruu langsung membanting orang itu membuat orang itu mengeluh kesakitan. Iris mata Ruu melebar ketika melihat orang itu tampak benar-benar kesakitan. Tentu saja perempuan itu merasa bersalah.
Ruu tersenyum meminta maaf. "Ah, su-summimasen! Anda tidak apa-apa?" Tanya Ruu, mengulurkan tangannya pada lelaki berambut cokelat-pirang.
Lelaki itu nyengir. "Perkenalkan, saya Hibiki Lates," ucap orang itu, memberi Ruu sekuntum bunga. Ruu yang di beri bunga, mengangguk dan tersenyum pada lelaki yang bernama Hibiki.
Gadis yang diajak berkenalan mengangguk."Saya Ruu, senang bertemu dengan anda," balas Ruu sopan. Hibiki menepuk pundak Ruu.
"Karena kau sudah selesai membantu Natsu, bagaimana kalau kau ku antar pulang, Ruu-chan?" Tawar Hibiki. Ruu memiringkan kepalanya, lalu mengangkat bahu. Dia sepertinya tidak bermasalah dengan itu.
"Ya, boleh saja!" Jawab Ruu antusias. Hibiki kemudian mengantar Ruu sampai ke sebuah rumah besar—milik Lyon, tentu saja. Bedanya, Ur juga tinggal di situ. Begitupula Ruu.
Rumah itu sangat besar. Mungkin seperti gaya raja Inggris jaman dahulu. Bahkan Hibiki berdecak kagum ketika melihat rumah itu. Dia mengatakan pada Ruu bahwa dia sepertinya pernah melihat rumah ini di mana.. tapi dia tidak begitu ingat. Dia kemudian masuk ke perkarangannya.
Seseorang membuka pintu. "Ruu-chi, kau sudah pulang!" Seru Lyon, membuka pintu dan membeku ketika melihat Hibiki yang mencium tangan Ruu. Lelaki itu sepertinya tidak suka.
"Sedang apa kau dengan adikku!" Geram Lyon dengan kemarahan maksimum. Dia berniat menonjok Hibiki ketika Ruu menghalanginya. Lyon heran kenapa adiknya melarangnya.
"Nii-chan! Dia hanya teman yang mengantarku untuk—yah, untuk kembali ke rumah. Nii-chan nggak usah begitu, deh." Ruu memutar bola matanya. Hibiki melihat Lyon.
"Kau… Lyon Vastia?" Hibiki tampak terkejut melihat Lyon yang kini memeluk Ruu. "Kau pacar si Vastia ini, Ruu? Kenapa kau tidak pernah bilang?" Sepertinya ada nada aneh terselip di kata-katanya.
"Pacar? Hahaha, tidak! Lyon ini kakakku," jelas Ruu, merangkul kakaknya. "Terima kasih Hibiki-senpai karena mengantarku pulang. Lyon nii-chan, ayo masuk," ajak Ruu, dan pintu rumah besar itu menutup. Hibiki mengangkat satu alisnya.
"Menarik…" Hibiki tersenyum. Dia kemudian meninggalkan kakak-beradik tidak sedarah itu.
Lyon kesal sekali karena dia pulang dengan Hibiki. Dia mengomel-ngomel. "Ruu, kukira kau sudah lebih dewasa untuk memperhatikan bergaul dengan siapa—tapi kau bergaul dengan cowok seenaknya! Apaan itu!?" Lyon marah.
Ruu kelihatan tertawa. "Tidak apa-apa kali kak. Hibiki itu baik kok—"
"Nii-chan tidak suka!" Seru Lyon memotong. Dia kemudian membuka kulkas untuk mengambil apa saja yang ada di dalam kulkas. Matanya menangkap orange juice. Kemudian dengan cekatan dia mengambil jus itu lalu menuangkannya ke gelas. Setelah gelas itu penuh, dia meminumnya. "Pokoknya—" Lyon meneguk jusnya. "Nii-chan tidak setuju. Nii-chan yang akan mengantarmu Ruu-chi. Ngerti?" Lyon mendelik.
Ruu tersenyum manis. "Oke," angguknya begitu patuh. Pipi Lyon memerah melihat senyuman manis Ruu.
"O—ke. Aku ke kamar dulu," kata Lyon. Dia menyembunyikan rona merahnya. Setelah menutup pintu kamarnya, Lyon bersender di pintu kamarnya. Ada apa denganku?
XXX
Gray mengutuk dirinya sendiri kenapa dia berkata itu pada dirinya sendiri. Ruu itu Lucy? Kalau benar Ruu itu Lucy, kenapa dia sama sekali tidak mengingatnya? Bagaimana caranya agar Ruu mengingatnya?
"Masuk," ucap Gray ketika dia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata Natsu.
"Gray, kenapa kau menyuruh kita keluar saat Ruu ada?" Natsu mengerutkan dahinya. Gray menggeram. Kemudian dia menghela napas panjang. Apakah dia akan bilang pada Natsu?
Gray menjawab, "Dia adalah cinta pertamaku. Atau setidaknya dia mirip dengan cinta pertamaku," jelas Gray. Dia kemudian menunjuk sketsa yang ada di dindingnya. Natsu sadar. Dia melebarkan iris matanya. Itu… Ruu… mirip sekali…
Dengan senyuman getir Gray mengangguk. "Yah. Mirip kan? Itulah kenapa aku kaget dia tidak mengingatku. Sayangnya, aku hanya tahu bahwa Lucy sudah meninggal karena kecelakaan—" kemudian dia mengerling ke arah pintu, "Tapi kenapa dia masih di sini?"
Natsu tidak bisa menjawab. Dia bungkam saja. Padahal hatinya sudah berdebar-debar karena Ruu… mampukah ia melawan sahabatnya ini? Tanpa berkata banyak, Natsu kemudian pergi. Tanpa mengatakan apa-apa. Gray menatap saja punggung sahabatnya.
"Mungkin… aku harus mengajaknya ke rumahku…" Gray bertopang dagu. Kemudian dia mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi.
*cy: Orang Jepang melafalkan Lu dengan Ruu.
Bagaimana? Fail? Akhirnya aku berhasil meng-update. Maaf kalau dikit... aku memang pemalas.
Review ya! Kalau banyak aku buat chapt depan lebih banyak! :P
