Pembunuhan pertama.
DISCLAIMER: Masashi Kishimoto
Genre: adventure, action, family and hurt/comfrot
Rate:M
NARUTO: Jalan Hidupku
Namikaze Minato, siapa yang tidak tau dia, dengan julukannya Konoha no kiiroi senko banyak musuh yang menghindarinya waktu Perang Dunia Shinobi 3. Seperti julukkannya Minato dapat berpindah tempat secepat kilat dengan Hiraishin no jutsu menggunakkan media kunai cabang tiga yang sudah diberi formula jurus tersebut. Dengan hiraishin no jutsu yang dia miliki, ia pernah membantai hampir 200 pasukkan ninja Iwagakure pada saat PDS3 dalam waktu singkat sungguh hal yang menabjubkan dan juga mengerikan bagi musuhnya. Karena kehebatannya itu, ia dinobatkan menjadi salah satu Pahlawan PDS3.
Menginjak umur 18 tahun ia dinobatkan menjadi Hokage ke-4 menggantikan Sarutobi Hiruzen dari jabatan Hokage ke-3 sebuah pencapaian luar biasa untuk ninja semuda dia. Diumur 20 tahun minato menikahi salah seorang temannya dimasa akademi namanya Uzumaki Kushina atau juga dikenal dengan sebutan Akai chishio no habanero karena saat marah rambut merahnya akan melambai-lambai liar. Kushina juga adalah seorang jinchuuriki dari Kyubi no Yoko tapi itu dulu, sekarang yang menjadi jinchuuriki selanjutnya adalah anaknya Namikaze Menma.
Dulu waktu proses kelahiran dua putra kembarnya, segel Kyubi yang ada diperut Kushina melemah dan hal itu dimanfaatkan oleh sosok bertopeng yang mengaku menjadi Madara. Memanfaatkan kedua putra mereka menjadi sandera, Madara mencoba mengecoh dan menjauhkan Minato dari istrinya. Setelah berhasil menjauhkan Minato, Madara kemudian melepas segel yang ada diperut Kushina menyebabkan Kyubi lepas. Melihat Kyubi lepas Madara langsung meng-genjutsu Kyubi dengan sharingannya. Setelah berhasil menjebak Kyubi dalam genjutsu, Madara lansung melesat kearah konoha. Setelah sampai didalam desa Madara kemudian mensummon kyubi dan memerintahkannya menghancurkan konoha.
Setelah mengamankan kedua anaknya Minato kembali kedesa. Melihat keadaan desa yang hancur, Minato berniat menghentikan amukan Kyubi. Namun niatan itu harus pupus ketika ia diserang oleh Madara dan mengaruskan Minato terlibat pertarungan singkat dengan Madara. Setelah berhasil menghapus kontrak antara Kyubi dan Madara, Minato kemudian kembali kedesa. Setelah sampai didesa Minato disugui oleh sebuah bijudama yang mengarah padanya, namun dengan jikkukan kekai Minato dengan mudah memindahkan bijudama tadi. Minato kemudian membawa Kyubi menjahui desa. Dengan bantuan Jiraya, Kushina dan Hokage ketiga, Minato kemudian mengorbankan salah satu anaknya menjadi wadah Kyubi yang baru karena Kushina sudah tak sanggup menjadi wadah Kyubi lagi. Dengan segel Hakke Fuin Minato kemudian menyegel Kyubi kedalam tubuh Menma, namun sebelum menyegel Kyubi, Minato menyerap sebagian cakra Kyubi untuk menolong Kushina.
Berkat aksinya itu, Minato semakin disegani oleh rakyatnya dan dianggap sebagai pahlawan desa.
Seperti biasa saat ini Minato sedang ada dikantor Hokage, menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Namun ia tak sendirian, diruangan itu juga terdapat dua orang laki-laki satu sudah terlihat tua dan yang satunya lagi terlihat lebih muda dari yang pertama tadi. Mereka adalah Sarutobi Hiruzen Hokage ke-3 dan Jiraya sang Gamma Sannin sensei Minato dulu. Mereka bertiga sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang penting terlihat dari ekspresi yang mereka keluarkan begitu serius.
"Akatsuki?" tanya minato setelah mendapat sebuah informasi dari senseinya tersebut.
"Akatsuki adalah sebuah organisasi yang beranggotakkan para kriminal rank S. Dari informasi yang kudapat dari salah seorang anggota mata-mataku, organisasi itu terdiri dari 10 orang. Dua diantaranya diketahui merupakan missing nin dari Konoha." ucap Jiraya menjawab pertanyaan Minato.
"Missing nin Konoha? Siapa meraka berdua?" tanya Hiruzen sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Orochimaru dan Uchiha Itachi." jawab singkat Jiraya.
"Orochimaru ya, aku tak menyangka dia mau bergabung dengan sebuah organisasi. Jika tebakkanku benar, pasti ada hal yang menarik perhatiannya." kata Hiruzen, sambil mengingat-ingat sifat dari mantan muridnya itu.
"Dan untuk Uchiha Itachi..." Hiruzen menjeda perkataannya sejenak sambil tersenyum miris saat mengingat Itachi.
" Aku tak bisa menebak jalan pikirannya, namun aku percaya dia tak akan menghianati desa ini mengingat pengorbanannya untuk desa." lanjut Hiruzen sambil menerawang kemasa lalu.
Minato dan Jiraya terdiam mendengar perkataan Hiruzen, mereka tau pengorbanan yang dilakukan oleh Itachi. Membantai semua anggota clannya sendiri dan hanya menyisakan adiknya Uchiha Sasuke dan semua itu dia lakukan untuk desa. Namun bukannya mendapat julukkan pahlawan dia malah menjadi seorang missing nin sungguh kisah yang tragis.
"Jadi, apa tujuan organisasi itu dibentuk?" tanya Minato memecah keheningan tadi.
"Aku tak tau apa tujuan organisasi tersebut, namun aku punya firasat tujuan mereka pasti buruk." kata Jiraya tak yakin.
"Begitu ya, aku tak begitu kwatir kalo mereka tak membahayakan desa ini." kata Minato.
"Namun jika mereka berani mengacam desa, aku tak segan-segan untuk menghabisi mereka." lanjut Minato sambil memasang wajah serius diakhirnya.
Jiraya hanya menganggukan kepalanya menanggapi pernyataan Minato tadi. "Bagaimana dengan perkembangan Menma?" tanya Jiraya.
"Dia berkembang cukup pesat. Aku rasa saat ini kemampuannya sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang chunin." jawab Minato sambil tersenyum.
"Hm, baguslah kalau begitu. Kau juga harus melatihnya untuk mengendalikan Kyubi yang ada didalam tubuhnya." ucap Jiraya.
"Kurasa kalian jangan terlalu fokus dengan Menma." kata Hiruzen menyela obrolan Minato dan Jiraya.
"Latih juga Naruto, kurasa dia juga memiliki potensi menjadi ninja yang hebat. Aku sering melihatnya berlatih sendiri dari bola kristalku dan aku cukup terkesan dengan kemampuannya." lanjut Hiruzen sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Naruto ya? Aku juga sempat berfikir untuk melatihnya. Namun aku selalu tak sempat, karena aku terlalu sibuk melatih Menma." ucap Minato.
"Kalau tak bisa biar aku saja yang melatihnya." tawar Hiruzen.
Minato tampak berpikir sejenak, kemudian menganggukan kepala menyetujui perkataan Hiruzen, "Hm, baiklah jika itu kemauan anda."
Pooft~
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba muncul seorang anbu bertopeng anjing, yang berjongkok dengan satu lutut ditekuk didepan meja kerja Hokage.
"Ada apa Inu?" tanya Minato saat melihat salah satu anbu kepercayaannya.
"Ini soal Naruto, tuan Hokage." jawab anbu berinisial Inu tadi.
"Ada apa dengan Naruto?" tanya Minato heran, pasalnya baru kali ini ada laporan mengenai anaknya tersebut seingatnya anaknya tak pernah membuat masalah.
"Naruto berkelahi dan..." anbu inu menjeda ucapannya sepertinya ia tengah menimbang-nimbang sesuatu mengenai laporannya.
"Dan..? Dan apa Inu?" kata Minato penasaran.
"Naruto membunuh anak warga sipil yang menjadi lawannya." lanjut anbu Inu ragu-ragu.
Semua mata yang ada diruangan tersebut (kecuali inu) membulatkan mata tak percaya. Naruto membunuh? Setahu mereka Naruto adalah anak yang tak pernah terlibat masalah apa pun dan sekarang mereka mendengar kalo Naruto membunuh seorang warga sipil, sungguh tak dapat dipercaya.
"Apa kau yakin itu Naruto Inu?" tanya Hiruzen tak percaya.
"Saya yakin, tuan Hokage ke-3." jawab Inu pasti.
Minato masih belum sadar dari keterkejuttannya, namun beberapa saat kemudian ekspresi wajahnya menjadi datar. "Tunjukkan aku tempatnya Inu." perintah Minato, ekspresinya masih terlihat datar.
Hiruzen yang melihat itu merasa kwatir, "Minato, kuharap kau jangan bertindak kasar padanya." ucap Hiruzen memperingati namun tak direspon oleh Minato.
Inu yang mendengar perintah Minato langsung mengangguk singkat. Ia kemudian menghampiri Minato dan memegang pundak Minato, kemudian menghilang dengan shunsin.
Sepeninggalan Minato, Hiruzen mendesah pajang, "Haahh..., kuharap tak terjadi hal yang buruk."
Sedangkan dengan Jiraya, ia masih terdiam dan mengamati percakapan tadi.
.
Pofts~
Sebuah kepulan asap muncul ditempat yang sepertinya adalah gang kecil. Setelah asap menghilang terlihat dua sosok yang menunjukkan Minato dan anbu Inu. Didepan mereka, terlihat seorang anak yang memiliki surai kuning sedang jatuh tertunduk, terlihat tangan anak itu berlumuran cairan merah darah. Didepan anak itu terlihat seorang anak yang sepertinya lebih tua dua tahun dari anak berambut kuning tadi terkapar tak sadar diri yang kemungkinan memang sudah meninggal dengan luka tusukan didadanya.
Minato yang melihat itu langsung menghampiri Naruto anak yang memiliki surai kuning tadi. Setelah dekat Minato kemudian menepuk pelan bahu Naruto, membuat Naruto menoleh padanya.
"Ayah.." kata naruto pelan.
Beberapa saat yang lalu, sebelum kejadian..
Hari ini akademi sedang libur dan Naruto berencana pergi latihan ketempat favoritnya di dekat danau pinggir hutan. Memakai kaos putih polos dan celana pendek berwarna biru tak lupa juga sebuah jaket berwarna jingga membalut kaos putihnya Naruto kemudian berjalan keluar dari kediaman Namikaze. Saat dijalan tak sedikit juga warga yang menyapanya dan hanya dibalas dengan senyuman saja. Untuk mempercepat tujuannya Naruto kemudian masuk kedalam sebuah gang gang kecil.
Brukk!
Tanpa sengaja Naruto menabrak seseorang dan membuat orang itu jatuh tersungkur. Dengan cepat Naruto kemudian meminta maaf, "Maafkan aku. Aku tidak sengaja."
Bukannya menerima permintaan maaf Naruto, orang itu malah mendorong Naruto dan menyebabkan Naruto jatuh kebelakang. "Maaf katamu!" seru orang tersebut tak terima.
Naruto yang diperlakukan seperti itu menatap tajam orang yang telah mendoronnya tadi. Dapat naruto liha didepannya berdiri tiga orang anak yang kelihatannya dua tahun lebih tua darinya, matanya menyipit ketika merasa familiar dengan tiga anak tadi.
Tak jauh beda dengan Naruto, tiga anak tadi juga merasa familiar dengan Naruto. Tak berselang lama ketiga anak tadi menyeringai, "Oh, coba lihat. Bukankah dia bocah yang menjadi sok pahlawan dulu." ucap salah satu anak yang memiliki tubuh besar.
"Mungkin kita bisa bermain sebentar dengan dirinya." ucap anak yang lainnya.
Naruto yang mendengar itu hanya menatap datar ketiga anak tadi. Berdiri dari posisinya yang terduduk diatas tanah, Naruto kemudian membersihkan debu yang menempel dicelannya. "Aku tak menyangka bisa bertemu dengan kalian lagi." ucap Naruto datar. "Namun jika kalian mencoba menantangku sebaiknya kalian pergi saja, karena aku takut kalian menangis ketika kalah." senyum mengejek Naruto tunjukan pada tiga orang anak tadi.
"Kurang ajar!" teriak pemilik tubuh besar yang sepertinya bosnya.
Kitiga anak tadi langsung melesat meyerang Naruto. Salah satu dari mereka langsung memukul Naruto, namun dengan mudah Naruto menangkap pukulan anak tadi. Tak memberi kesempatan menyerang lagi, Naruto kemudian menarik tangan tersebut dan memberikan sebuah pukulan yan telak mengenai perut anak tadi dan membuat sianak tadi jatuh tersungkur sambil memegangi perutnya.
Melihat temannya tumbang teman anak tadi mengambil inisiatif meyerang Naruto juga, dia kemudian memukuli Naruto dengan membabi buta.
Naruto dengan mudah menghindari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan teman anak tadi. Merasa bosan menghindar terus, Naruto kemudian menendang dagu anak itu, membuat anak itu itu sedikit melayang. Tak sampai disitu saja, sebelum anak itu jatuh Naruto memutar badannya dan memberikan tendangan lagi keperut anak itu, menyebabkan anak itu terlempar menabrak dinding gang.
Baru saja Naruto menurunkan kakinya, sudah disambut oleh kepalan tangan yang menuju wajahnya. Naruto hanya memiringkan wajah ketika kepalan tangan itu mendekati wajahnya, namun matanya melebar saat melihat sebuah kunai di kepalan tangan itu dengan cepat Naruto melompat kebelakang untuk menghindari kunai yang akan menyayat wajahnya itu.
Crass
Walaupun sudah berhasil menghindar namun pipinya terkena goresan kunai tersebut, terlihat setetes darah mengalir dari pipi tan Naruto. Memegang sebelah pipinya yang berdarah, Naruto menatap tajam bos dari dua orang anak yang dia lawan tadi, terlihat sebuah kunai tergenggam ditangan kanan anak bertubuh besar itu, "Hanya pengecut yang menggunakan senjata, sedangkan musuhnya tak memegang senjata apapun."
"Hahahaa.." tawa pecah dari mulut anak berbadan besar tadi. Ia kemudian menatap Naruto sinis, "Tak ada yang melarang menggunakan senjata bukan bukan?"
Naruto mendengus kasar mendengar ucapan anak berbadan besar itu. "Apa kau tidak malu, heh?"
"Buat apa aku malu, tak ada yang melihat kita kecuali dua orang tak berguna itu." Ucap anak itu sambil menunjuk dua anak buahnya yang terkapar tak berdaya. "Sekarang giliranku yang akan melawanmu." lanjutnya sambil menerjang Naruto.
Naruto juga ikut menerjang anak berbadan besar itu, adu pukul dan tendangan tak terelakkan lagi sesekali bos komplotan tadi menyabetkan kunainya kearah Naruto namun selalu dapat dihindari.
"Apa kau hanya bisa menghindar saja, hah!" teriak anak itu sambil memberikan sebuah tendangan kearah Naruto.
Bugh
Srett..
Naruto sedikit meringis ketika menahan tendangan anak berbadan besar itu, tubuhnya sedikit terdorong kebelakang. 'Walaupun hanya anak dari warga sipil, tapi tenaganya tak bisa diremehkan.' batin Naruto sambil menatap anak didepannya. 'Aku harus segera mengakhiri ini, waktu latihanku terbuang banyak disini.' lanjutnya sambil menerjang lawannya.
Melihat Naruto maju anak tersebut juga tak mau kalah, dia juga ikut merangsek maju menerjang Naruto. Adu pukul tak terelakkan lagi, melihat ada celah anak berbadan besar tersebut mecoba menusuk perut Naruto.
Naruto yang melihat sebuah kunai menuju perutnya, kemudian memegang tangan anak berbadan besar tadi, lalu menekuk tangan anak tadi dan..
Jlebb
Kunai yand dipegang anak tadi menusuk dirinnya sendiri tepat didada sebelah kiri. Mata anak bertubuh besar tadi melotot dan tak berselang lama tubuhnya roboh.
Naruto yang melihat itu kemudian meloncat kebelakang, tubuhnya bergetar saat melihat tubuh musuhnya tak bergerak lagi. Mengangkat tangannya dapat Naruto lihat cairan merah darah, tubuhnya terasa lemas hingga membuatnya jatuh tertunduk. 'Ini bukan salahku, ini bukan salahku' batin Naruto menyangkal kalau dia telah melakukan sebuah pembunuhan.
Karena terlalu bergelut dalam pikirannya Naruto tak menyadari kalau ada yang mendekatinya. Saat merasakan pundaknya ditepuk seseorang, Naruto kemudian mendongakkan kepalanya dapat ia lihat seorang pria yang hampir memiliki wajah sepertinya sedang menatapnya datar. "Ayah.." ucapnya pelan.
.
.
Minato masih memegang pundak Naruto, ekspresinya tak bisa dibaca. Melihat sekelilingnya dapat Minato lihat dua orang anak tak sadarkan diri yang sepertinya hanya pingsan. "Inu, bereskan semua kekacauan ini. Bawa tubuh anak yang sudah meninggal ini kekeluarganya dan bawa juga dua anak yang pingsan itu kerumah sakit."
"Baik!" ucap anbu Inu yang kemudian membawa pergi tiga orang anak tadi.
Naruto masih pada posisi sebelumnya, ia merasa tak mampu berdiri apalagi saat ayahnya menatapnya. Ini adalah pertama kalinya ia membunuh seseorang dan ia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, seperti ada rasa menyesal dan takut namun juga ada rasa senang juga. Sebuah perasaan yang tak dapat di ekspresikan.
Minato yang melihat anaknya duduk tertunduk kemudian memegang lengan Naruto, lalu mengangkatnya hingga membuat Naruto ikut berdiri. Setelah melihat Naruto berdiri, Minato kemudian membawa Naruto pergi dengan hiraishin dan meninggalkan seberkas cahaya kuning.
Splash
Sebuah cahaya kuning muncul disebuah tempat yang sepertinya terlihat seperti ruang tamu dikediaman Namikaze. Minato melepaskan lengan Naruto, wajah mereka saling berhadapan.
Naruto yang melihat wajah Minato, cepat-cepat menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah Minato yang berekspresi datar.
Kushina yang tak sengaja melewati ruang tamu, melihat Minato dan Naruto. Merasa penasaran Kushina memutuskan mengampiri mereka. Kushina yang melihat Naruto menunduk, hanya mengernyit heran. Namun keheranannya berubah menjadi raut terkejut saat melihat tangan Naruto berlumuran darah. "Astaga, apa yang terjadi?" ucap Kushina kaget lalu mengambil sebuah handuk kecil lalu menghampiri Naruto dan membersihkan darah yang menempel di tangan Naruto.
Naruto yang diperlakukan seperti itu oleh ibunya hanya diam saja, agaknya ia sedikit senang ternyata ibunya masih perhatian terhadapnya.
"Atas dasar apa kau melakukannya Naruto?" tanya Minato yang sedari tadi hanya terdiam.
Naruto lantas tak menjawab langsung, ia masih terdiam. "Dia memang pantas mendapatkannya." jawab Naruto masih menundukkan kepalanya.
"Seharusnya kau dapat menyelesaikan dengan kepala dingin." ucap Minato. "Membunuh seorang warga sipil yang harusnya kita lindungi. Perbuatanmu saat ini masih bisa ku maafkan." lanjutnya.
Kushina yang mendengar Naruto telah membunuh seorang warga sipil terkejut. Merasa bingung Kushina bertanya pada Minato, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
""Bukan apa-apa, hanya masalah kecil." jawab Minato.
"Hm, begitukah. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, jika memang Naruto telah membunuh seseorang, aku mau kau meminta maaf pada keluarganya, Naruto." ucap Kushina sambil memberi saran pada Naruto. "Aku tak tau pergaulan macam apa yang kau tiru hingga kau menjadi berandalan seperti ini."
Naruto masih pada posisi sebelumnya, namun jika dilihat lebih jeli sebenarnya Naruto tersenyum miris mendengar ucapan Kushina. 'pergaulan macam apa katanya? Kau tidak tau tentangku dan kau menuduhku berandalan' Naruto membatin miris. Ingin rasanya ia mengungkapkannya, namun rasanya percuma saja jika mereka tak percaya.
"Aku juga tak menyangka jika kau tumbuh menjadi liar, ku kira kau anak yang tak pernah membuat keonaran. Tapi kurasa aku salah menilaimu." kata Minato seakan memojokkan Naruto.
Naruto yang mendengar ucapan Minato, langsung mengangkat kepalanya. Naruto kemudian menatap datar kedua orang tuanya. "Kalian tak tau apa-apa tentangku dan kalian melihatku seolah-olah aku anak berandalan yang suka berkelahi."
"Kami adalah orang tuamu, tentu kami tau tentangmu." ucap Kushina.
Naruto tersenyum miris, "Benarkah, apa kalian tau apa makanan kesukaanku? Apa kalian tau hobiku? Aku bahkan mengira kalau kalian lupa hari ulang tahunku? Dan apa kalian tau bahwa aku begitu kecewa punya orang tua seperti kalian, hah!" ucap Naruto keras diakhirnya, ia begitu kesal dengan sifat orang tuanya yang seolah-olah tau semua tentangnya.
Minato dan Kushina terdiam ketika mendengar ucapan Naruto. Sekarang mereka sadar bahwa mereka memang tak tau apa-apa tentang Naruto, bahkan mereka lupa hari ulang tahunnya Naruto yang pada dasarnya sama dengan Menma.
"Sudah ku duga." ucap Naruto pelan. Ia kemudian berjalan menuju pintu keluar rumah. "Apa kalian tau, jika aku tak membunuhnya dia akan membunuhku atau memang kalian ingin aku dibunuhnya supaya kalian tak perlu lagi membiayai hidupku." ucap Naruto berhenti didepan pintu, ia kemudian membuka pintu dan keluar dari kediaman Namikaze meninggalkan Minato dan Kushina yang masih terdiam.
.
.
Naruto menghembuskan napas lega setelah berhasil keluar dari situasi tadi. Moodnya menjadi buruk gara-gara peristiwa hari ini. "Ck, aku jadi malas latihan." decak Naruto sebal. Naruto melihat tangannya sejenak, ini baru pertama kali ia membunuh orang walaupun tak disengaja. Ia merasa sedikit bersalah dengan anak yang dibunuhnya, "Argh.., kenapa aku jadi begini. Harusnya aku tak perlu merasa bersalah padanya." ucap Naruto sambil mengacak-ngacak rambutnya. Ia kemudian melanjutkan jalannya dengan tujuan tak jelas.
"Kakak!"
Naruto menoleh ketika ada memanggilnya, "Naruko? Sedang apa kau disini?" tanyanya ketika melihat Naruko menghampirinya.
"Sebenarnya tadi aku mau kerumah Yui. Tapi melihat kakak yang berjalan sendirian seperti gelandangan, aku memutuskan menghampiri kakak." jalas Naruko panjang lebar. "Jadi kakak mau kemana?"
Naruto medelik tajam kearah Naruko ketika dirinya disebut gelandangan. "Sepertinya aku tersesat." jawab Naruto asal.
"Eh, tersesat?" tanya Naruko bingung.
"Hm, sepertinya aku tersesat dijalan kehidupan."
Naruko sweatdrop mendengar ucapan kakaknya yang seperti pria bermasker yang sering datang kerumahnya. "Kau mirip dengan kak Kakashi."
"Siapa itu Kakashi?" tanya Naruto.
"Bukan siapa-siapa, dia hanya orang yang tak punya semangat hidup yang sukanya hanya baca novel yang entah apa isinya." jawab Naruko, sambil meyebutkan keburukan Kakashi.
Naruto hanya mengangguk saja menanggapi jawaban Naruko, yang terdengar seperti sebuah celaan itu. "Sepertinya dia orang yang mencurigakan."
"Kakak benar, penampilannya saja seperti pencuri." ucap Naruko menyetujui pendapat Naruto. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu." lanjut Naruko.
"Naruko.." panggil Naruto, menghentikan langkah Naruko yang akan pergi.
"Ada apa?" tanya Naruko.
Naruto kemudian menghampiri Naruko dan mengangkat dua jarinya menuju dahi Naruko.
Naruko yang melihat itu sudah siap menerima sentuhan didahinya itu, perbuatan yang sering kakaknya lakukan.
Pluk
"Eh!" seru Naruko heran. Naruko kemudian mendongak keatas dan dapat Naruko lihat kakaknya menepuk pelan kepalanya bukan menyentuh dahinya seperti biasanya.
"Jaga dirimu baik-baik Naruko." kata Naruto sambil menatap Naruko lembut.
"Eh? Kakak tenang saja, aku kan cuma mau main kerumah Yui." jawab Naruko enteng.
Naruto tersenyum lebar mendengar jawaban Naruko. Ia lalu mengacak gemas rambut merah Naruko.
Naruko yang rambutnya diacak-acak oleh kakaknya menjadi cemberut. "Jangan, acak-acak rambutku kak. Aku bukan anak kecil lagi."
"Hahaha.., bagiku kau tetaplah adik kecilku yang manis." ucap Naruto sambil tertawa. "Sudah sana pergi." lanjutnya.
Dengan wajah cemberut, Naruko kemudian berjalan mejauh dari Naruto.
Naruto masih ditempatnya dan memandang punggung Naruko yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Naruto kemudian menatap awan diatasnya yang bergerak tertiup angin. "Entah kenapa aku merasa kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama." gumam Naruto, yang kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa tujuan itu.
TBC
Yo~
Bagaimana chap ini? Bagus atau ngebosenin?
Maaf kalau chap ini terlihat seperti sebuah drama, hanya ini yang muncul dikepala saya.
Disini saya buat Naruto itu kekuatannya masih tingkat genin dan hanya bisa taijutsu saja. Untuk ninjutsu Naruto belum bisa, karena Naruto belum bisa mengontrol cakranya.
Dan untuk yang bertanya Naruto keluar desa atau tidak, akan terjawab dichap depan.
Terima kasih sudah membaca fict ini dan terima kasih juga sudah mau review.
.
.
Sampai jumpa lagi...
