Chapter 4 : Glade Tour

"Baiklah, kurasa cukup untuk saat ini. Aku yakin kalian lapar. Pergilah ke ruang makan untuk sarapan. Tengah hari nanti akan ada pertemuan para Keeper, dan sebaiknya kalian berdua ikut," kata Newt sambil menunjuk Thomas dan Reyna.

Mereka berempat menuruni menara pohon. Minho dan Thomas mengantar Reyna ke ruang makan, sedangkan Newt mengambil arah berlawanan. Dia bilang dia akan mengumpulkan para Keeper untuk pertemuan nanti siang.


PJO and HOO belong to Rick Riordan

The Maze Runner belongs to James Dashner

.

.

Warning(s) : OOC, author newbie (dan mageran xD), maybe typo(s), dll, dst, dsb..

Enjoy ^^


Mereka tiba di ruang makan dan menghampiri salah satu meja dekat pantry. Ruangan itu lengang, tidak ada orang lain di sana selain anak bertubuh gempal yang tadi ditugasi Newt. Dia sepertinya baru keluar dari ruang di belakang pantry, mungkin dapur.

"Hei. Frypan sudah menyiapkan sarapan. Duduk saja dulu," kata anak itu.

"Makasih, Chuck." Minho segera menempatkan diri di salah satu kursi. Thomas mengambil kursi di sampingnya, sedangkan Chuck duduk di depan Thomas, membuat Reyna duduk berhadapan dengan Minho.

Reyna memperhatikan sekitarnya. "Apa di sini hanya ada anak laki-laki?" Sepanjang perjalanan ke ruang makan, Reyna hanya melihat anak laki-laki yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Begitulah. Anak yang datang dari kotak selalu laki-laki. Kami terkejut waktu kau datang, apalagi kau datang dari labirin," jawab Chuck.

Reyna mengamati anak laki-laki di sebelahnya. Dia terlihat masih anak-anak, tidak seperti Thomas dan Minho atau para glader lain yang terlihat lebih remaja.

"Kau yang paling muda? Berapa umurmu?" tanya Reyna kemudian.

Chuck mengangkat bahu. "Entahlah, mungkin sekitar dua belas. Kurasa aku memang yang termuda di Glade."

"Chuck ini adalah adik kecil kami," Minho menimpali.

"Oh."

Seseorang dari dalam pantry datang menghampiri meja sambil membawa piring. Dia bertubuh tinggi besar dengan celemek di badannya. Wajahnya ramah dengan senyum lebar yang menunjukkan gigi-gigi putihnya.

"Halo. Jadi kau kah cewek pertama itu? Senang bertemu denganmu, Non," katanya, tangannya menaruh piring-piring di meja.

"Ini Frypan, dia koki kepala kami. Masakannya cukup lezat untuk ukuran laki-laki," ujar Minho.

"Hei, setidaknya aku lebih baik daripada kau, Minho. Menggoreng telur saja sampai gosong," balas Frypan yang mengundang cekikikan dari tiga orang lainnya. Ia beralih pada Reyna. "Bagaimana denganmu? Mungkin kau bisa bergabung bersama juru masak. Kami belum pernah merasakan masakan perempuan, kau tahu?"

Reyna tidak terlalu mengerti maksudnya, tapi dia tersenyum pada sang koki. Frypan masuk lagi ke dapur untuk mengambil piring yang lain. Minho dan Thomas sudah mendapat piring mereka, tapi belum mereka sentuh.

Reyna menatap mereka dan bertanya pelan, "Apa maksudnya aku bisa bergabung dengan juru masak?"

Minho mendongak menatap Reyna. "Well, setiap greenie yang datang ke Glade pasti akan dapat kesempatan untuk mencoba tiap pekerjaan yang ada. Kami punya delapan pekerjaan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Keeper. Kau sedang berhadapan dengan salah satunya." Minho tersenyum bangga.

"Kau seorang Keeper?" Reyna menaikkan alisnya.

Sebelum Minho sempat bersuara Frypan sudah kembali lagi dengan dua piring lain. "Ini untukmu," kata Frypan sambil meletakkan satu piring di depan Reyna. "Masakan selamat datang yang kubuat khusus untuk glader perempuan pertama di Glade."

Reyna menatap masakan yang disajikan Frypan padanya. Piringnya memang terlihat istimewa, Frypan memberinya dua potong besar waffle bersiram sirup di atasnya. Yang lain hanya mendapat sandwich sederhana dengan telur mata sapi. Hal ini membuat Thomas dan Minho menatap piring Reyna dengan iri.

"Frypan, apa aku dapat juga?" tanya Chuck penuh harap.

"Ya, tentu." Frypan menaruh piring sandwich yang satu lagi ke hadapan Chuck. "Kau selalu kelaparan, Chuck. Aku maklum karena pekerjaanmu cukup banyak." Laki-laki besar itu mengambil kursi dari meja lain dan meletakkannya di kepala meja mereka.

Selagi Reyna dan tiga orang lainnya menyantap sarapan ―Reyna akui keahlian Frypan dalam memasak tidak perlu dipertanyakan, Frypan bercerita tentang saat pertamanya tiba di Glade. Dia tidak ingat apa-apa saat itu, bahkan namanya. Selama seminggu penuh dia dipanggil Greenie oleh para glader, panggilan wajib untuk anak baru sebelum mereka ingat nama mereka. Dia juga mengatakan bahwa nama aslinya adalah Siggy, tapi para glader lebih suka memanggilnya Frypan.

Ketika mereka selesai makan, Frypan memberesi piring-piring kotor dan membawanya ke dapur. Minho dan Thomas berjalan ke Homestead ―pondok tidur, untuk tidur dan mengistirahatkan badan mereka sebelum berkumpul nanti siang. Sedangkan Reyna tidak tahu harus melakukan apa.

"Mungkin aku bisa memberimu tur keliling Glade?" tawar Chuck ragu-ragu. "Eh, itu... kalau kau mau."

Reyna tersenyum padanya. "Tentu, Chuck. Terimakasih."

Jadilah Chuck memandu Reyna pagi itu, mengenalkan seisi Glade padanya. Pertama mereka berkeliling Homestead. Tempat itu terdiri dari kumpulan pondok berbentuk rumah panggung dengan dua lantai. Lantai bawah yang tidak berdinding dipenuhi tempat tidur gantung yang berjajar. Chuck menjelaskan lantai bawah adalah tempat para glader tidur, dia juga tidur di sana. Kemudian lantai atas adalah kamar-kamar berpenyekat dan berpintu. Kamar-kamar itu dikhususkan untuk Komando Utama dan para Keeper.

Di belakang pondok ada beberapa anak yang sedang berurusan dengan barang-barang pertukangan. Sekumpulan kayu teronggok di antara mereka.

"Itu para builder. Merekalah yang membangun pondok-pondok dan rumah pohon di Glade. Para builder adalah orang-orang yang kuat dan bertenaga besar karena pekerjaan mereka yang berat," jelas Chuck. Dia mengajak Reyna mendekat untuk mengenalkan mereka.

Seorang dari mereka menghampiri Chuck. Anak laki-laki itu berambut pirang pasir berpotongan cepak dan bermata biru. Badannya tegap, tapi raut wajahnya tampak tidak bersahabat. Tapi hal yang menarik perhatian Reyna adalah alisnya yang menukik tajam membentuk kurva lancip, sesuatu yang sulit untuk dilewatkan.

"Hai, Gally," sapa Chuck.

Cowok itu menoleh pada Chuck. Raut wajahnya melembut sebentar sebelum ia menatap Reyna lagi. "Jadi, kau cewek yang datang dari labirin. Siapa kau sebenarnya?" tanya Gally penuh rasa curiga, nadanya tidak begitu menyenangkan.

Reyna tidak terlalu memikirkan sikap cowok itu. Dengan santai Reyna menjawab, "Aku Reyna. Kurasa aku bukan penyihir atau semacamnya."

"Umm… maaf atas sikap Gally, Reyna." Chuck tampak tidak enak. "Gally adalah Keeper para builder. Dia sebenarnya orang yang baik."

Gally mendengus. "Yah, asal kau tahu, Non. Hanya karena kau perempuan bukan berarti aku akan bersikap lembut padamu."

Reyna menjawab dengan wajah tenang, tidak terpengaruh dengan ucapan Gally. "Silakan saja. Aku memang tidak terbiasa dengan kelembutan."

Itu bukan sarkasme, tapi Gally menganggap itu sebagai tantangan. Dia mendengus kasar lalu berbalik menuju teman-temannya. Walau Gally bersikap tidak ramah seperti itu, Reyna tidak merasa kesal padanya. Sama sekali tidak. Mungkin dulunya Reyna pernah berhadapan dengan orang yang lebih menyebalkan dibanding Gally.

'Ha-ah, aku berharap ingatanku segera kembali,' batin Reyna. Kau tentu tidak ingin merasakan betapa frustasinya tidak ingat apa-apa selain sedikit petunjuk yang hampir tidak kau mengerti.

Chuck lanjut memperkenalkan para bricknick yang sedang memperbaiki dinding pondok, tidak jauh dari para builder. Dia juga membawa Reyna mengunjungi ruang medis, tempat Alby dirawat. Di sana mereka bertemu Clint dan Jeff, yang berperan sebagai med-jack, dokter di Glade.

"Apa sengatan Griever begitu parah?" tanya Reyna pada Clint, sang Keeper med-jack.

"Biasanya, memang. Awalnya orang yang tersengat akan demam tinggi, racun Griever membuat mereka berhalusinasi dan berperilaku liar sehingga berbahaya bagi yang lain. Kami terpaksa harus membuang mereka yang tersengat ke labirin pada akhirnya."

Mereka mengamati Alby dalam diam. Tubuh pemuda itu gemetar di antara tali-tali yang mengikatnya ke tempat tidur, mencegahnya mengamuk, erangan kesakitan terdengar begitu jelas. Kaosnya tersingkap ke atas, basah oleh keringat, memperlihatkan luka yang masih terbuka.

Reyna ingat Minho pernah berkata orang yang tersengat Griever akan berbahaya. Itu sebabnya Minho memukul Alby hingga pingsan. Dia memperhatikan luka sengat di tubuh Alby dengan seksama.

"Apa kalian sudah mengobatinya?" tanya Reyna.

Jeff menggeleng. "Sengatan Griever tidak bisa disembuhkan. Tidak ada obat di Glade untuk ini," ucapnya putus asa.

Reyna teringat sesuatu. Segera ia mengecek isi ranselnya, tetapi kemudian berhenti. Ia hendak memberikan nektar dan ambrosia, tetapi Reyna tidak tahu apa efek samping yang didapatkan jika dia mengobati Alby dengan itu. Pandangannya kemudian menangkap botol air seukuran kaleng soda berisi minuman berlabel "Serbuk Tanduk Unicorn, tanpa efek samping" yang terselip di antara isi tasnya dan mengeluarkannya untuk dilihat lebih jelas.

"Apa itu?" tanya Clint dan Jeff bersamaan.

"Serbuk tanduk unicorn. Kurasa ini semacam obat. Mungkin kita bisa mencobanya pada Alby." Reyna menatap kedua med-jack. "Bolehkah?"

Clint dan Jeff berpandangan, seakan saling berdiskusi melalui tatapan mata.

"Kau yakin itu obat?" tanya Jeff.

Clint menghembuskan napas, wajahnya terlihat lelah. "Kurasa dia tidak bisa lebih buruk lagi dari ini."

Clint mempersilakan Reyna mendekati Alby. Perlahan Reyna meminumkan cairan itu pada Alby. Tidak terlalu banyak, hanya seperempat botol. Setelah memastikan Alby menelan obat yang diberikan, Reyna beranjak.

"Beritahu aku kalau terjadi sesuatu. Aku akan kembali berkeliling bersama Chuck." Reyna berjalan keluar ruang medis dengan Chuck mengikutinya di belakang. "Kemana kita selanjutnya, Chuck?"

"Oh, kita akan ke kebun. Di sana tempat para track-hoe bekerja," kata Chuck, dia menuntun Reyna ke bukaan di samping Homestead.


TBC


A/N :

*tebar bunga*

Haii~ sudah apdet nih, apdet (~"v")~

*ditimpuk bantal*

Mohon maaf karena author baru update, jujur aja dengan kesibukan di duta aku sempat lupa nggak buka ffn, jadilah teranggurkan sampai sekarang. Tapi tenang saja, cerita akan tetap update meski nggak pasti xD

Dan yang paling penting, di sini kita tahu satu rahasia, yaitu... Minho nggak bisa masak *ketawa guling-guling*

Minho : author kamvret, kenapa juga kau harus menyebutkan itu di sini?

Newt : karena itu adalah fakta yang semua orang harus tahu, Min.

Thomas : yah, lagipula aku akan lebih berhati-hati untuk tidak menerima makanan darimu nanti.

Minho : dan kenapa kalian berdua ikut-ikutan?

Author : Anyway, tunggu chapter berikutnya yaa..

Thanks for reading!