A/N : Aloooow minna~~! Saya balik lagiiii~~! Ini chapter 4 udah selesaii.. Maafkan bila OOC atau banyak typo-nya… Saya akan berusaha sebaik mungkin…

Baiklah, dengan ini, saya persembahkan~

Buku yang Mengubahku dan Temari #4

Naruto © Masashi Kishimoto

Story and Plot © Arezzo Calienttes 'Namikaze

Pair : ShikamaruxTemari

.

.

Don't like? Hush! Hush! Don't read!

Sebelumnya :

Temari pun tersenyum senang. Ia masuk ke rumahnya, dan melihat Shikamaru sudah pulang. Tanpa mengacuhkan Shikamaru, Temari langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba, langkahnya terhenti oleh kata-kata Shikamaru, "Temari, kau selingkuh?" tanya Shikamaru dengan tatapan tajam.

.

Tanpa berbalik, Temari menjawab Shikamaru, "Apa pedulimu?"

"Aku suamimu, Temari. Hargai aku sedikit!" seru Shikamaru.

"Kau pikir kau sudah menghargaiku, eh? Kau mencampakanku tahu!" Temari berbalik, lalu menatap Shikamaru tajam.

Shikamaru pun melompat berdiri, "Apa? Aku TIDAK selingkuh! Dan aku TIDAK mencampakanmu sama sekali!" seru Shikamaru.

"Tidak mengaku ya?" ujar Temari sinis, "Sudah jelas kan tiga tahun lalu kau selingkuh?"

Shikamaru ingin meledak, tapi kembali diingatnya apa yang ada di halaman kedua buku pemberian ayahnya itu, "Jagalah Amarahmu,"

Shikamaru pun menatap Temari, "Temari, aku percaya padamu, kau tidak mungkin selingkuh," ujar Shikamaru. Dan ia pun berjalan menuju kamarnya.

Temari masih mengeraskan hatinya, dan tidak menghiraukan Shikamaru.

.

Shikamaru masuk ke kamarnya. Masih dengan tampang frustasi, akhirnya ia mencoba menelpon Naruto.

"Halo?" ujar Naruto.

"Hai. Ada yang mau ku ceritakan," ujar Shikamaru.

"Apa?"

"Temari, tadi aku bertengkar denganya,"

"Shika! Yang penting adalah kepercayaanmu terhadap Temari. Kau jangan berprasangka buruk begitu!"

"Ini ada bukti, Naruto! Aku melihatnya sendiri!" seru Shikamaru.

"Tiga tahun lalu kau bilang Temari juga melihatnya. Tapi semua itu tidak benar, kan, Shika?" tanya Naruto.

"Hm, kau benar. Apa yang harus ku lakukan kalau begitu?"

"Ke sekolah. Tanya kepastian pada Kepala Sekolahnya. Siapakah Sasori itu sebenarnya."

"Hm, hm. Benar juga. Berarti, besok aku harus cuti?" tanya Shikamaru.

"Terserahmu. Mau cuti atau tidak,"

"Oke. Naruto, terimakasih saranmu," ujar Shikamaru. Ia pun memutuskan sambungan telepon.

Shikamaru mencoba tenang. Ia pun berbaring di tempat tidurnya. Kembali teringat olehnya bahwa ia harus membaca dan melakukan setiap hal yang dikatakan oleh buku pemberian ayahnya itu. Diambilnya buku itu, dan membuka lembaran berikutnya, "Percaya kepadanya…"

Itulah isinya. Shikamaru merenung, "Percaya pada Temari, ya…" gumamnya. Setelah itu, ia menutup bukunya dan menguap lebar, "Hoaaamh… Selamat tidur," ucapnya.

.

Pagi ini Shikamaru tidak membuatkan sarapan serta minuman untuk Temari. Ia pun sekarang masih tertidur pulas di kasurnya. Mungkin ia berpikir karena hari ini dia cuti, jadi ia bisa tidur sepuasnya. Shikamaru memang pemalas.

"Kriiingggg! Kringgg!" ponsel Shikamaru berdering. Shikamaru pun membuka matanya perlahan, dan meraih ponsel yang ada di meja. "Cih, Naruto. Merepotkan," ucapnya lalu menekan tombol hijau pada ponselnya.

"Hooaammhh… Halo?"

"Shika! Kau baru bangun? Katanya hari ini kau mau ke sekolah?" tanya Naruto.

'Benar juga, ya…' pikir Shikamaru. "Eh, memang sekarang jam berapa?" tanyanya.

"Jam delapan,"

"Hah! Sudah dulu, ya! Aku harus siap-siap!" seru Shikamaru. Ia melompat dari kasurnya dan meletakan ponselnya di atas meja. Ia pun segera menyambar handuk dan segera mandi.

.

Setelah bersiap-siap, Shikamaru menyalakan mesin mobilnya dan ngebut menuju Konoha International High School yang kira-kira berjarak sepuluh kilometer dari rumahnya. Di perjalanan Shikamaru gelisah. Ia membayangkan kalau Temari ternyata benar-benar selingkuh dengan pria berambut merah bernama Sasori. Ia juga membayangkan kalau hubungannya dengan Temari berakhir di perceraian. Berkali-kali ia tepis pikiran itu jauh-jauh, tapi tetap saja bayangan itu datang dengan sendirinya tanpa Shikamaru suruh.

Setelah setengah jam berada di perjalanan, Shikamaru akhirnya sampai ke Konoha International High School. Ia memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Temari, dan ia pun langsung menuju kantor Kepala Sekolah—tentunya secara berhati-hati karena ia tidak ingin bertemu dengan Temari.

Setelah sampai di depan ruang kantor Kepala Sekolah, Shikamaru pun mengetuk pintu, "Tok-tok-tok."

"Ya, silahkan masuk," terdengarlah sahutan dari dalam. Shikamaru memegang kenop pintu dan membukanya perlahan, "Permisi…" katanya.

"Wah! Shikamaru-san," sapa Kepala Sekolah—yang dapat kita sebut sebagai Kakashi, "Apa kabar? Ayo duduk," kata Kakashi mempersilahkan Shikamaru untuk duduk.

"Hmm, aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Shikamaru.

"Tentu saja baik. Ada apa, Shikamaru-san?" tanya Kakashi to the point.

"Tidak, aku hanya ingin menanyakan, apakah kau kenal dengan seseorang bernama Sasori?" tanyanya.

"Tentu saja. Dia temanku. Ada apa memangnya?"

"Hmm, kau tahu dia bekerja di mana?" tanya Shikamaru lagi.

"Dulu, dia bekerja sebagai dokter di Konoha Health Hospital. Sekarang ia bekerja di sini. Sebagai asisten istrimu, Shikamaru-san. Kau kenal Sasori?"

"Hmm, tidak. Tapi, aku mendengar Temari menyebut nama Sasori. Dan bahkan ia makan dan tertawa bersama Sasori. Aku hanya takut," jawab Shikamaru. Kakashi hanya mengangguk-angguk.

"Kakashi-san, kau tahu kenapa Sasori pindah ke sini? Padahal seharusnya menjadi dokter kan lebih baik,"

"Hm, adiknya bersekolah di sini. Dan ia mau mengawasi adiknya selama di sekolah. Karena itu dia menjadi guru disini," jelas Kakashi.

"Oh, begitu," kata Shikamaru mengerti.

"Kalau begitu, kau mau melihat Sasori? Dia sedang mengajar. Ayo, biar ku antar." tawar Kakashi.

"Boleh. Tapi, tidak perlu diantar. Aku ke sana sendiri saja. Terimakasih atas infonya, Kakashi-san," ujar Shikamaru.

"Hm, baiklah."

Shikamaru menjabat tangan Kakashi. Dan ia pun segera keluar dan menunju kelas fisika. Dari kejauhan ia bisa melihat Temari sedang mengajar di depan kelas, bersama seorang laki-laki berambut merah. 'Mungkin itu yang namanya Sasori,' pikir Shikamaru. Setelah ia puas karena sudah melihat Temari, akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang.

'Aku seharusnya lebih percaya pada Temari. Dia 'kan istriku. Dia tidak mungkin berselingkuh,'

.

"Temari-san!" seru Sasori saat istirahat. Temari pun menoleh dan melihat Sasori yang memanggilnya. Ia pun tersenyum, "Halo, Sasori-san," sapanya.

"Hmm, halo, Temari-san. Mau makan siang?" tanya Ssori.

"Ya. Kau sudah makan?"

"Kebetulan belum. Bagaimana kalau kita makan bersama di café biasa?" tawar Sasori.

"Hmm, baiklah. Ayo," kata Temari semangat.

Sesampainya di café, mereka pun segera memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang-bincang. Seringkali mereka tertawa terbahak-bahak bersama. Banyak bahan yang mereka bicarakan. Mulai dari kelakuan lucu murid-murid mereka, sampai sinetron di televisi pun dibicarakan. Sejenak ini untuk memulihkan kepenatan kepala mereka setelah mengajar. Ini memang baik untuk Temari. Mengingat ia memang jarang tertawa.

Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke sekolah. Temari pun bertemu dengan Tenten, "Temari-san! Sini!" katanya Tenten dan menarik tangan Temari dan membawanya menjauh dari Sasori.

"Kenapa, Tenten-san?"

"Tadi, kalian ngapain aja?" tanya Tenten penasaran.

"Ah, kau mau tahu saja," kata Temari.

"Hei, aku kan temanmu. Pantas dong kalau aku mau tahu," ujar Tenten.

"Hm, baiklah, tadi kami makan bersama,"

"Huummm… Aku tidak percaya. Makan bersama kok sambil ketawa-ketawa mesra begitu…?" tanya Tenten menggoda. Pipi Temari mulai memerah, "Jadi, kau membuntutiku, hm?" tanya Temari sinis untuk menyembunyikan rasa malunya.

"Haha, jangan marah begitu, Temari-san," gurau Tenten, "Tapi, apakah kamu benar-benar suka pada Sasori?"

"Hm, perlahan-lahan, iya. Hehe,"

"Huh… Mau di kemanakan nanti si rambut nanas?"

"huh," sahut Temari tidak perduli.

"Hnn. Baiklah. Selamat bersenang-senang dengan Sasori," kata Tenten dan meninggalkan Temari. Saat itu juga, Sasori menghampiri Temari, "Itu siapa?"

"Tidak, itu temanku. Dia guru juga di sini. Namanya Tenten."

"Tenten? Oh, begitu," sahut Sasori cuek. Mereka pun kembali ke kelas fisika dan mulai mengajar lagi.

.

Ting tong…

Bel rumah Shikamaru berbunyi. Sang tuan rumah yang sedang asyik menonton televisi pun kaget. 'Siapa? Temari? Cepat sekali ia pulang,' pikirnya. Ia pun membukakan pintu dan melihat sosok pria berambut blonde sedang nyengir di depan pintu, "Shika! Halo!" sapanya.

"Hmm…" sahut Shikamaru. Ia pun meninggalkan Naruto dan masuk ke dalam.

"Hoi, aku gak boleh masuk nih?" tanyanya.

"Kau kan sudah lama menjadi temanku. Masa' masuk saja harus ku suruh-suruh?"

"hehe, iya deh," ujar Naruto dan masuk ke dalam rumah Shikamaru. Naruto duduk di ruang tamu sementara Shikamaru mengambilkan minuman untuk mereka berdua.

Setelah Shikamaru duduk di hadapan Naruto, mereka mulai melakukan perbincangan.

"Shika, tadi sudah ke sekolah? Jadi siapa sebenarnya Sasori?" tanya Naruto.

"Menurut informasi dari Kakashi sih, Sasori itu asistennya Temari,"

"Hah? Bagaimana bisa?"

"Aku juga tidak tahu mengapa dia memilih jadi asisten Temari," kata Shikamaru.

"Tapi, dia itu Sasori Akasuna kan? Si pemilik Konoha Health Hospital?" tanya Naruto.

"Kata Kakashi ya. Dia pindah ke sekolah karena ingin mengawasi adiknya yang bersekolah di Konoha International High School," ujar Shikamaru.

"Hmm. I see. Tapi, Shika. Percayalah pada Temari. Terus tanamkan di pikiranmu kalau Temari itu adalah istri yang setia,"

"Ya, tentu saja, Naruto," ujar Shikamaru.

"Teruslah berusaha demi Temari! Jangan menyerah, ya! Terus lakukan apa yang diperintahkan di buku itu. Agar masalahmu cepat selesai," nasihat Naruto.

"Kau seperti ayahku," kata Shikamaru mengejek.

"Hehe, berarti aku sudah bisa jadi ayah dong?" ujar Naruto.

"Huh, dasar kau,"

"Hehe… Sudah dulu, ya, Shika. Semangat! Aku pulang dulu. Salam untuk Temari," ujar Naruto.

"Iya, salam juga untuk Hinata," kata Shikamaru. Ia pun mengantar Naruto sampai ke pintu rumahnya. Setelah Naruto menjauh dan sudah tidak kelihatan, ia pun kembali masuk ke dalam dan menutup pintu rumahnya.

Selang dua jam kemudian, Temari pun sampai ke rumah. Shikamaru menyapanya, tapi tidak dipedulikan. Shikamaru menyerah saja. Toh memang ia sudah biasa.

Karena sudah larut, dan Temari pun sudah sampai rumah, akhirnya Shikamaru memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan ia tidur.

.

Dua puluh hari telah berlalu, tetapi, Temari belum juga bisa memaafkan Shikamaru. Shikamaru semakin frustasi dan stress. Ia berpikir mengapa masalah ini tidak kunjung selesai, padahal ia telah melakukan apa yang di perintahkan di buku pemberian ayahnya itu—walau memang ada beberapa yang tidak ia lakukan. Misalnya, ia tidak mendoakan agar hubungannya dengan istrinya bisa membaik. Ia juga terkadang tidak dapat menahan emosinya.

Sebaliknya, kelihatannya Temari lebih terlihat ceria. Mungkin karena ia sering tertawa bersama Sasori. Tidak hanya makan bersama, setiap sabtu pasti mereka juga jalan-jalan ke mal atau makan malam bersama.

.

Tapi Shikamaru masih tetap berusaha. Sekarang pun ia sedang berbaring di kasurnya sambil membaca buku pemberian ayahnya.

"Letakan setangkai bunga kesukaanya di dekat minuman pagi yang kau buat," itu isi dari halaman yang kini ia baca.

"Ha? Beli di mana? Pagi-pagi mana ada toko bunga yang buka," ucapnya. Lima menit ia berpikir, kemudian ia mengingatb kalau nenek Chiyo punya taman bunga. Ia semangat untuk menunggu besok.

.

Di Minggu pagi yang masih gelap, Shikamaru terbangun oleh alarmnya. Ia segera menuju rumah nenek Chiyo, dan meminta izin untuk mendapatkan setangkai bunga mawar putih, karena itulah bunga kesukaan Temari. Memang agak sulit untuk membujuk nenek Chiyo, karena ia sangat menyayangi bunga-bunga yang indah. Tapi, berkat kegigihan Shikamaru, akhirnya nenek Chiyo mau memberikan setangkai bunga.

"Terimakasih, Nek!" seru Shikamaru dan berlari kembali kerumah.

"Ya, semoga berhasil, Nak Shika!" sahut nenek Chiyo.

Sesampainya Shikamaru di rumah, ia segera membuatkan Temari teh manis panas dan semangkuk bubur. Tak lupa ia susun bunga di samping hidangan tersebut.

Tapi, di luar dugaan, Temari ternyata sudah bangun. Ia melihat Shikamaru yang sedang repot menyusun mangkuk, gelas, dan vas bunga.

"Sedang membuat keributan, eh?" tanya Temari tiba-tiba. Shikamaru terkejut, "Temari?"

"Apa? Kau masih belum kapok apa? Sudah ku bilang aku-tidak-mau-menerima-sarapan-darimu," katanya dan menekankan nada pada enam kata terakhir.

"Aku hanya membuatkanmu sarapan, dan menyediakan setangkai bunga. Itu tidak salah, kan?" tanya Shikamaru.

"Terserah. Aku tidak mau menerima sarapan darimu,"

"Hm, ya sudah kalau begitu," ujar Shikamaru santai. Ia pun meninggalkan Temari.

"Shika," panggil Temari. Untuk yang pertama kalinya selama mereka bertengkar Temari memanggil Shikamaru dengan panggilan pendek seperti itu.

"Y-ya?" jawab Shikamaru gugup.

"Aku hanya ingin memberikanmu ini. Tanda tangani sekarang juga," ujar Temari sambil menyodorkan amplop dan pulpen. Shikamaru bingung. Ia menerima amplop itu dan membukanya. Shikamaru terkejut membaca isinya.

"T-Temari… Jadi, kau menginginkan ini…?" tanya Shikamaru lirih. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca.

"Ya. Aku mau kau menandatangani surat perceraian ini. Sekarang." ujarnya tegas.

_To Be Continue_

A/N : aaa! Akhirnya di apdet jg ni fic. Ada yang nunggu?

Hehe.. Pendapat saya tentang chapter ini : Amburadul. Diksi payah. Emang udah dari awal kali ya…?

Chapter ini bener2 dikerjain waktu lagi males2nya. Jadi kalau banyak typo maklumin, karena saya juga enggak ngedit ulang. Hehe…

Maaf juga, kalau di chap ini banyak kalimat yang sangat tidak efektif, dan gak jelas.

Yah, mohon maap ya, author lagi gak semangat, jadi jelek deh. Lalu, chapter ini gak ada balessan review ya… Pokoknya makasih banyak bagi yang udah review, nunggu, dan suka sama fic ini. Saya senang sekali. Semoga pada masih berbaik hati untuk menyumbangkan review lagi buat chapter 4 ini.

Arigatou, minna!

Cheerio,

Arezzo Calienttes 'Namikaze

11-May-2012

10;10 p.m

Review please?