Anime Naruto – Masashi Kishimoto
Sabaku no Gaara
KIZUNA chapter 4
Enjoy :D
.
.
.
"Tapi kalau mau ketemu.. harus ada perjanjian dulu. Gak lucu kan, pas kita nyamperin bokap Gaara, eh dianya gak ditempet." Sambung Sasuke tanpa menghiraukan Naruto dan Kiba.
"Percuma juga kali kalau kita janjian buat ketemu. Emangnya bokap Gaara mau denger omongan kita, yang gak ada hubungannya sama urusan keluarga mereka." Kata Naruto sambil mengacak-acak rambutnya.
"Bener juga sih Naruto." Sambung Kiba sambil ikutan mengacak-acak rambut Shikamaru.
"EH! Ngapain lo ngacak-ngacak konde gue? (?)" bentak Shikamaru. "Dasar!" keluhnya, sambil kembali berfikir.
"Kita? Hubungan keluarga?" bisik Shikamaru pelan sambil meneliti setiap perkataan Naruto. Gaara hanya terdiam tanpa ekspresi, sementara Sasuke langsung melirik ke arah Shikamaru.
"Lo punya ide?" tanya Sasuke dengan mata yang semakin fokus menatap Shikamaru.
"Jangan panggil gue Shikamaru dari klan Nara, kalau masalah sepele kayak gini gak bisa gue atasin." Kata Shikamaru dengan kerennya.
Beberapa saat seisi rumah Naruto menjadi hening, tanpa ada satu suara pun. Kecuali suara semut, yaa~ cuma orang beriman aja yang bisa denger. (Kayak yang nulis beriman aja -_-). Gaara langsung menatap mata Shikamaru seolah mengerti dengan apa yang terlintas dan dipikirkan oleh anak dari klan Nara tersebut.
"Jadi... rencananya apa?" tanya Naruto polos sambil memasang wajah parno-nya.
"Bego! Otak lo gak jalan ya? Kalau otak lo jalan, pasti lo langsung ngerti apa rencana gue. Emangnya gue mau jelasin hal yang ngerepotin kayak gitu?" Kata Shikamaru sambil menatap Naruto dengan malas.
"Lagian elo! Sejak kapan otak bisa jalan? Kalau kaki ya mungkin aja." Balas Naruto sambil memancungkan bibirnya dan menatap Shikamaru dengan sinis.
"Yaudah, BM sekarang aja." Sambung Sasuke sambil menatap HP yang dipegang Shikamaru.
"Sebenernya rencana lo apa sih? Gue gak ngerti." Naruto langsung celingak-celinguk menantikan apakah ada yang berkenan untuk menjawab pertanyaannya. Sementara Kiba yang juga sama-sama gak tau, cuma diem-diem aja. Biar di kata ngerti gitu.
"Apa boleh buat. Gue harus buang-buang tenaga buat jelasin hal yang sebenernya gak perlu dijelasin. Ngerepotin aja." Keluh Shikamaru. Naruto menatap Shikamaru dengan bodohnya. Walaupun sebenarnya dia emang bodoh.
"Karena ini HP Temari, otomatis siapapun yang ngebales BBM bokapnya, akan menjadi atas nama Temari. Jadi singkatnya, kalau kita ngajak bokap Gaara ketemuan, dia pasti mau..." perkataan Shikamaru langsung di potong Naruto.
"Nah.. BBM langsung aja." Kata Naruto hingga Shikamaru mengernyitkan dahi.
"Tunggu dulu. Keberhasilan rencana ini emang 99% berhasil. Jadi gak akan mungkin untuk gagal. Tapi kita juga harus mikirin resiko sebelum ngelakuin sesuatu." Naruto langsung mengernyitkan dahinya.
"Kok kalimat lo jadi makin sulit sih? Jadi 1% nya ke mana? Terus resikonya apa aja?" Shikamaru hanya menghela napas sebelum melanjutkan.
"Resikonya ada sama bokap Gaara. Kalau dia adalah orang yang teliti, dia bisa ngebedain mana tulisan asli atau ciri khas Temari pas lagi ngetik. Misalnya tanda titik, besar kecilnya huruf dan lain sebagainya. Tapi hal ini bisa gue atasin, karena gue tau ciri khas tulisan Temari itu gimana." Naruto dan Kiba saling berpandangan sambil berbisik.
"Udah sampe tau ciri khas tulisan segala.. bearti emang sering kontak lewat HP. Sekarang malah tukeran HP. Masih aja gak ngaku kalau lagi macarin kakaknya Gaara." Kiba langsung mengangguk-angguk mendengar pernyataan Naruto. Shikamaru hanya menunduk dengan tanda marah yang mengelilingi kepalanya.
"Mau dijelasin gak sih? Denger dulu sampe selesai!" Naruto dan Kiba langsung tersentak dan kembali terdiam.
"Terus masalah ciri khas tulisan udah bisa diatasin, sekarang kita harus mikirin masalah apa yang harus di buat untuk ngeyakinin bokap Gaara, kalau ada sesuatu yang gak bisa disampaikan lewat HP. Intinya kita ingin kontak secara face to face, bukan dari media sosial kayak gini. Tapi yang gue khawatirin, pas kita udah dapet cara buat ngeyakinin bokap Gaara. Bokap Gaara bakal nelpon kita, tentu kita gak bisa angkat telponnya. Kalau hal ini terjadi, rencana kita gagal total! Jadi kita harus bikin kondisi supaya bokapnya Gaara gak bisa nelpon kita." Sementara Shikamaru menjelaskan panjang lebar, Naruto malahan sibuk mengetik sesuatu dari HP Temari.
"Ahh~ elo itu terlalu mikirin sesuatu sampe jauh begitu. Mana mungkin bokap Gaara mikirin hal yang rumit kayak gitu. Ininih HP-nya. Udah selesai gue BBM-in tuh bokap Gaara." Spontan mata Shikamaru dan Sasuke langsung melompat.
"Ya ampun! Apa yang udah elo tulis! Sialan! Bisa-bisa rencana ini beneran gagal! Padahal ini satu-satunya kesempatan yang bagus buat Gaara." Kata Shikamaru panik sambil mengambil HP dari tangan Naruto. Sementara Naruto hanya melipat kedua tangan di depan dadanya seolah tak melakukan apapun.
PING!
"Ada BBM masuk!" seru Kiba setengah berteriak. Dengan sigap, Shikamaru langsung membuka pesan tersebut dan membacanya.
"Temari kangen ayah? Tumben.. kalau gitu, kita ketemuan di taman Suna, dekat ayunan. Ayah punya waktu kosong sekitar jam 10.30." kata Shikamaru setengah tergunacang karena ulah Naruto yang nyaris aja bikin rencana gagal, tapi malah berhasil. Shikamaru langsung menatap Naruto dengan sinis.
"Hehe.. kalau masalah kangen, kita gak bisa jelasinnya secara logika kan." Ekspresi Shikamaru langsung berubah.
"Yaahh~ kali ini, emang gue gak bisa nyalahin lo. Itu ide yang sama sekali belom kepiran sama gue." Kata Shikamaru sambil tersenyum tipis.
"Ini udah jam 10.00 loh.. tiga puluh menit lagi." Celetuk Sasuke sambil melihat jam yang ada ditangannya.
"Cepetan siap-siap." Kata Kiba sambil menatap Gaara yang masih tak bergerak dari pojokkannya.
"Perlu di dandan mirip gue gak?" Celetuk Sasuke hingga membuat Naruto muntah-muntah (?).
"Dari pada mirip lo, mendingan gue dandan Gaara mirip Tonton!" Gaara langsung menatap Naruto tak berkedip.
"Lo nyamain gue kayak babi?" Gaara mempertajam tatapan matanya. Sementara Naruto hanya nyeringai gak jelas sambil mengangkat jempolnya dan bilang "TERBALIK!"
.
.
.
Setelah waktu menujukkan pukul 10.20, Gaara mulai berjalan menuju taman Suna diikuti Naruto dan yang lainnya. Mereka berjalan di belakang Gaara sekitar lima kaki dari tempat Gaara berada. Naruto dan yang lainnya terus komat-kamit dan berdoa agar pertemuannya berhasil. Mereka langsung bersembunyi di balik batuan pasir begitu melihat seseorang yang berdiri tegak di dekat ayunan.
Gaara berjalan perlahan menghampiri orang tersebut, dan akhirnya berhenti tepat di belakang orang itu. Menyadari ada seseorang di belakang, ayah Gaara langsung membalikkan tubuhnya hingga membuat matanya bertemu pandang dengan mata Gaara.
"Gaara?" kata Ayahnya seolah tak mempercayai sosok yang berada dihadapannya. "Kenapa kamu ada di sini?" sambungnya dengan wajah yang terheran-heran.
"Lama gak jumpa.. ayah." Kata Gaara datar hingga membuat mata Kazekage tersebut terbelalak. Belum lama Gaara bertemu pandang dengan ayahnya, sang Kazekage tersebut langsung membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Gaara lagi.
"Pulanglah." Katanya pelan tanpa menoleh ke arah Gaara.
"Gak ada alasan untuk pulang." Balas Gaara. Sementara teman-teman Gaara sedang memaksa Kiba untuk mendengarkan percakapan dua orang ini.
"Eh... gak usah pake nyekik gue juga kali. Yang bakal denger itu telinga gue, bukan leher gue!" bisik Kiba dengan geramnya.
"Lalu? Kamu mau apa ke sini?" Gaara terdiam beberapa saat tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
"Alasan." Terlihat saat mendengar ucapan Gaara, ayahnya terkesiap kaget. Walaupun tidak terjadi kontak mata, tapi Gaara dapat mengetahui hal itu hanya dengan melihat dan merasakannya.
"Karura?" kata ayahnya pelan. Gaara hanya mengernyitkan dahinya, menantikan ucapan yang akan keluar dari mulut ayahnya. Terlihat dari raut wajahnya, Gaara benar-benar merasa khawatir dan gelisah. Ia belum siap untuk mengetahui apapun sekarang, tapi.. apakah Gaara masih punya waktu? Selain hari ini?
"Lima belas tahun yang lalu, ada janin di dalam kandungan Karura. Padahal, dokter telah mengatakan Karura tidak boleh memiliki janin di dalam kandungannya. Itu akan membahayakan dirinya sendiri." Gaara semakin mengernyitkan dahinya.
"Tapi.. dengan berbagai alasan kamu muncul ke dunia. Hingga merenggut nyawa perempuan yang sangat aku cintai." Mata Gaara langsung terbelalak, tangannya bergetar dengan hebat.
"Dari pada tidak ada alasan untuk membuatmu terus hidup, aku memasukkan roh pasir ke dalam tubuhmu. Dengan alasan untuk menjadikanmu senjata bagi desa. Tidak ada harapan apa pun dari kami sebagai orang tuamu. Mau kamu hidup, atau tidak.. sama sekali tidak ada pengaruhnya." Gaara mengernyitkan dahi sambil memegangi dadanya.
"Namun.. alasan itu juga terbuang sia-sia.. kamu gagal sejak dilahirkan.. tidak, bukan Cuma saat dilahirkan, tapi.. kamu adalah kegagalan sejak awal."
"Kakura sudah meninggal dengan tenang tanpa ada kamu didekatnya, Gaara. Dia tidak pernah menginginkan seorang anak setelah Temari dan Kankuro, dan tidak mengganggapmu sebagai anaknya. Kelahiranmu, hanyalah sebuah kecelakaan, yang mencelakakan semua orang. Untuk kali ini, aku mohon.. pergilah.. pergilah sejauh mungkin, dan jangan pernah kembali untuk selamanya." Gaara terus mencengkram dadanya dan meringis kesakitan. Ayahnya langsung meninggalkan tempat itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gaara.
"Kalau ayah mau kayak gitu, aku harap.. saat kepergianku untuk selamanya.. lihatlah aku.." langkah kaki Ayahnya terhenti.
"Walau sebenci apa pun, dan semuak apa pun. Aku mohon.. lihatlah aku untuk yang terakhir kalinya. Anggap aja ini permintaan terakhir dari monster Shukaku yang mencelakakan hidupmu.. ayah." Gaara mencengkram dadanya semakin kuat. Setelah mendengar ucapan Gaara, ayahnya terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"Sudahlah Gaara.." perkataan Sang Kazekage melemah. "Jangan pernah, memanggilku dengan sebutan ayah.. itu sungguh tidak pantas." Mata Gaara terbelalak. ayahnya kembali berjalan menjauhi Gaara tanpa mengatakan sepatah kata pun. Naruto dan yang lainnya langsung menghampiri Gaara dengan khawatir.
"Gaara." Kata Naruto sambil menepuk pundak Gaara. Gaara langsung menampik tangan Naruto dan berjalan menjauhi mereka.
"Makasih temen-temen. Gue udah nemuin alasannya." Kata Gaara sebelum meninggalkan mereka. Mereka hanya menatap punggung Gaara yang berjalan perlahan. Mereka tidak pernah tau, bagaimana raut wajah Gaara pada saat itu. Naruto hanya mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Huoo." Kata Naruto yang tak terima dengan perlakuan ayah Gaara, ia langsung berlari menghampiri ayah Gaara yang berjalan semakin menjauh. Tapi, sebelum hal itu terjadi, Gaara sudah menduga kalau Naruto akan melakukan hal tersebut. Pasir yang berbentuk tangan langsung menangkap kaki Naruto hingga Naruto terjatuh, tetapi pasir Gaara juga melindungi tubuh Naruto agar tidak terhempas ke bawah.
"Oii! Gaara! Lepasin!" seru Naruto dengan pasir yang menyeret-nyeret tubuhnya. Langkah kaki Gaara langsung berhenti, tapi tidak berbalik menatap teman-teman yang berada dibelakangnya.
"Kalian cukup bantu sampe sini." Kata Gaara sambil melangkahkan kakinya dan menjauhi mereka. Sasuke langsung menghampiri Naruto dan membantunya untuk berdiri.
"Kita biarin Gaara sendiri dulu Naruto. Untuk sementara ini, pikirannya lagi kacau." Kata Shikamaru sambil ikut membantu Naruto dan membersihkan pasir yang ada padanya. Mereka pun terdiam dan membiarkan Gaara pergi. Naruto mengepalkan tangannya dengan erat.
"Kazekage sial! Nanti bakalan gue bunuh!"
.
.
.
Pagi menjelang jam 07.15 yang masih di anggap Naruto pagi buta. Padahal bel masuk sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Siswa-siswi sudah berada di dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing. Menantikan kehadiran sensei yang akan memulai pelajaran pertama mereka.
Naruto yang baru sampai di gerbang sekolah berlari sekencang mungkin. Ini bocah gak bosen-bosennya maraton pagi-pagi. Setiap hari telaaaaaaat mulu'. Dia mulai melewati kelas-kelas yang lain, untung kelas X berada paling dekat dengan halaman upacara, jadi Naruto tidak memerlukan tenaga yang lebih ekstra untuk sampai ke sana. Begitu sampai tepat di depan kelasnya, Naruto langsung mengulurkan tangan dan menarik gagang pintu. Begitu pintu terbuka sepenuhnya, ia langsung memandangi seluruh isi kelas. Namun sepertinya dia kehilangan satu sosok.
"Loh, Gaara belom dateng? Tumben banget." Kata Naruto sambil berjalan menghampiri bangkunya.
"Gak masuk. Tadi Kankuro yang anter suratnya. Dia gak pernah telat kali, gak kayak lo!" sahut Kiba yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Naruto yang sudah duduk dibangkunya langsung mengernyitkan dahi sambil memandangi Kiba.
"Lagi ngapain lo?"
"Ngerjain PR!" kata Kiba tanpa mengangkat kepalanya dari buku yang ia kerjakan.
"Masa' sih ada PR? Sini gue liet?" Kata Naruto sambil mengadahkan tangannya kehadapan Kiba.
"Gak ada! Gak ada! Gue tau lo pasti gak bikin." Kiba langsung menyembunyikan contekkannya dari Naruto.
"Emang gak bikin! Bodo amat! Palingan cuma di hukum lari keliling lapangan basket. Itu gak cukup buat bikin kaki gue copot dari badan" Jawab Naruto sambil menatap Kiba dengan sinis.
"Eh.. pulang ini, jenguk Gaara yuk." Usul Shikamaru pada yang lainnya. Naruto yang sedang menyenderkan punggungnya ke kursi langsung menatap Shikamaru.
"Boleh juga tuh. Gue juga lagi gak punya kegiatan." Sambung Sasuke yang sepertinya setuju dengan usul Shikamaru.
"Ajakin gue dong. Kan lumayan, biasanya kalau jenguk orang sakit. Makanannya banyak banget." Sambung Naruto juga hingga membuat Sasuke dan Shikamaru menatapnya dengan sinis.
"Yee.. yang namanya orang lagi sakit, kita harus bawain makanan buat dia. Bukan malah minta makan ke dia. Dasar beruang!" Seru Shikamaru sambil menjitak kepala Naruto.
Hari telah menunjukkan pukul 14.40. Waktunya bagi Konoha High School untuk membunyikan bel-nya. Setelah bel berdering di seluruh pelosok sekolah, dari WC, kantin, sampai po'on yang ada hihi-nya. Siswa-siswi mulai berjalan keluar kelas. Padahal baru aja Kiba bikin PR pagi tadi, eeh~ udah pulang. Mau juga bikin sekolahan yang kayak gini.
Gerombolan Naruto CS yang telah membeli beberapa makanan seperti roti tawar, roti isi coklat, dan buah-buahan untuk Gaara, kini telah berada di depan pintu rumah laki-laki yang gantengnya aduhaaai itu (?) Shikamaru mengetuk pintu rumah Gaara, dan yang membukanya adalah seseorang yang gak sesuai dengan harapan mereka.
"Kirain siapa! Ternyata kalian? Mau apa!" Bentak Kankuro dengan ketus, hingga membuat Naruto dan yang lainnya menjadi tidak enak hati.
"Jelek banget. Kita masuk ya.. mau jenguk Gaara." Kata Kiba Seenaknya sambil nyelonong masuk.
"Eh eh eh! Siapa yang nyuruh lo masuk?" kata Kankuro sambil menarik tangan Kiba. "Pulang sana!" bentaknya lagi sambil mendorong Kiba hingga tubuhnya yang tadi sudah masuk ke dalam rumah, langsung ke luar.
"Apa-apaan sih lo? Pake narik-narik segala lagi." Keluh Kiba sambil menampik tangan Kankuro dari lengannya.
"Tadi kan gue udah nyuruh kalian pulang! Gak denger banget sih! Gaara tuh lagi pengen istirahat, gue mau lo jangan ganggu dia, untuk hari ini aja! Bisa gak sih! Dasar ketiak Katsuyu!" Bentak Kankuro sambil membanting pintu dihadapan Naruto dan yang lain. Mereka hanya tercengang dengan sikap kankuro yang tidak biasa itu. Keadaan hening sesaat, setelah itu mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Emang Katsuyu punya ketiak ya? Katsuyu itu kan siput?" Kata Naruto melepas keheningan sesaat dari mereka.
"Peduli banget ama ketiak lo!" Bentak Kiba pada Naruto. "Kok dia begitu amat sih? Amat juga gak begitu-begitu. Sewot banget kan?" keluh Kiba sambil membersihkan pasir yang menempel kuat ditangannya.
"Pasir?" Gumam Shikamaru sambil melihat Kiba yang berusaha membersihkan pasir yang begitu lekat di lengan bajunya.
. . .
Tamu tak di undang yang abis di usir Kankuro hanya berjalan-jalan keliling kampung tanpa tujuan yang jelas. Kaki mereka terus melangkah, kalau di ukur-ukur, jauhnya perjalan mereka itu, dari Konoha ampe Amagakure. Naruto yang mulai merasa kelelahan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke teman-temannya.
"Udah cukup! Gue capek! Kita ini mau jenguk Gaara, bukan jalan-jalan keliling kampung." Keluh Naruto sambil terduduk di atas tanah.
"Lo mau di bentak-bentak ama Kankuro lagi? Kalau gue sih no!" Bentak Kiba pada Naruto hingga membuat Sasuke mendengus kesal.
"Dasar, dua orang berisik." Keluh Sasuke pelan.
"Mendingan kita balik lagi deh ke rumah Gaara. Siapa tau Gaara udah berubah pikiran." Kata Naruto sambil merengek pada teman-temannya yang lain.
"Lo gak liat tadi kita udah di usir Kankuro, lo mau di usir lagi?" Jawab Kiba yang mau-maunya aja ngeladenin Naruto. Shikamaru hanya menghela napas panjang, ia membuang wajahnya (Dibuang ke mana tuh?). Tatapan matanya langsung terfokus pada keramaian orang-orang yang ternyata adalah kakak kelas mereka. Shikamaru terdiam sesaat sambil mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba matanya langsung terbelalak seolah baru menyadari sesuatu.
"Jadi begitu? Sial! Kayaknya gara-gara temenan sama orang bego, kecerdasan gue jadi tumpul." Perkataan Shikamaru pun membuat teman-temannya menoleh kearahnya. Terutama Naruto, setelah mendengar kalimat BEGO dari Shikamaru.
"Maksud lo apa? Ngajak berantem?" Kata Naruto sambil menatap Shikamaru dengan sinis dan menyisingkan lengan bajunya.
"Sekarang kita balik ke rumah Gaara." Kata Shikamaru sambil berjalan meninggalkan teman-temannya.
"Setujuuuuuuu!" Seru Naruto sambil mengikuti Shikamaru yang telah berada dihadapannya.
"Apa?" Tanya Sasuke heran sambil mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Shikamaru.
"Balik lagi?" Tanya Kiba pula dengan heran seperti yang dirasakan Sasuke.
.
.
.
Tok tok tok..
Pintu kembali di ketok, dan kali ini Temari lah yang membukakan pintu.
"Kalian?" perkataan Temari pun terhenti begitu Shikamaru langsung nyelonong masuk ke dalam rumahnya.
"Gaara? Gaara?" teriak Shikamaru begitu masuk ke dalam rumah. "Di mana Gaara?" lanjut Shikamaru begitu matanya bertemu pandang dengan Temari.
"Lo ngomong apa sih?" keluh Temari yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Shikamaru.
"Gue Cuma mau nanya, Gaara di mana?" kali ini Temari mengernyitkan dahinya.
"Loh.. emang Gaara gak pulang bareng kalian ya?" dan kali ini Shikamaru lah yang mengernyitkan dahi.
"Pulang bareng kami? Bukannya tadi Gaara gak sekolah ya?" sambung Kiba dari luar rumah. Kali ini perkataan Kiba kembali membuat kerutan pada dahi Temari.
"Kalian gak usah main-main ya?" kata Temari sedikit menahan emosinya.
"Main-main? Apa bagusnya kalau kami Cuma mau main-main? Bukanya tadi Kankuro yang antar surat sakit Gaara ke kelas kami?" sambung Sasuke sambil menunjukkan surat yang di bawa Kankuro tadi. Dengan sigap, Temari langsung merampas surat itu dari tangan Sasuke. Ia mulai membaca kata per kata dari surat tersebut.
"Mana lagi tuh si Kankuro? Tadi brutal banget dia ngusir kita." Celetuk Kiba yang langsung mendapat perhatian dari Temari.
"Ka.. Kankuro?" Temari menjadi semakin kebingungan.
"Jelas itu bukan Kankuro.. Tapi..." perkataan Shikamaru terhenti. Kini semua perhatian teralih padanya.
"Gaara.." Lanjut Shikamaru hingga membuat mata orang-orang ini melompat.
"Apa maksud lo?" tanya Sasuke yang katanya jenius, tapi juga kagak ngerti yang beginian dan begituan.
"Pasir.." sahut Shikamaru singkat.
"Pasir?" gumam teman-teman mengulang kalimat Shikamaru.
"Gue juga telat nyadarnya. Tadi, waktu Kankuro narik tangan Kiba, beberapa pasir unik yang Cuma dimilikin Gaara, nempel erat di tangan baju Kiba." Kiba kembali memerhatikan tangan bajunya, yang masih menempel sedikit pasir unik yang dikatakan Shikamaru.
"Dan lagi, tadi gue liat kakak kelas kita baru aja pulang, beberapa saat setelah kita di usir sama Kankuro. Jadi pertanyaannya? Secepet itukah Kankuro sampai ke rumah, padahal teman-teman kelasnya baru aja keluar dari gerbang sekolah." Penjelasan Shikamaru terhenti.
"Dengan kata lain.. orang tadi bukanlah Kankuro. Tapi... itu Gaara." Sambung Shikamaru. Bukan Cuma mata yang melompat, Kali ini hidung mereka juga bisa di lepas pasang dengan ingus yang naik turun.
"Apa yang ada dipikiran Gaara?" Gumam Sasuke.
"Gue belum mikir sampe ke situ." Keluh Shikamaru sambil mengehembuskan nafas panjang.
"Apa semua ini.. gara-gara kemarin ya?" celetuk Naruto hingga membuat teman-temannya terperangah.
"Kemarin? Kenapa kemarin?" tanya Temari heran.
"Kemarin.. waktu Gaara Wadaaaaww !" perkataan Naruto langsung terhenti begitu beberapa teman menjitak kepalanya serentak. Temari langsung terperanjat kaget.
"Bukan apa-apa.. entar gue bisa jelasin semuanya. Kami permisi dulu." Kata Shikamaru sambil menarik tangan Naruto dan berjalan menjauhi Temari. Temari hanya terdiam dengan penuh pertanyaan yang mengumpul dikepalanya.
.
.
.
"Haaaa.. bisa-bisa kepala gue pendarahan luar dalem nih.." Keluh Naruto.
"Siapa suruh lo nyeletuk gak karuan. Sukur-sukur elo gak gue cekik pake kagemane no jutsu gue." Keluh Shikamaru sambil memengangi kepalanya.
"Maaf deh." Sahut Naruto pelan sambil memegangi benjolan yang tumbuh subur dikepalanya.
"Jadi. Di mana kita harus nemuin Gaara?" sambung Sasuke melepas perdebatan diantara Shikamaru dan Naruto.
"Apa jangan-jangan..." perkataan Kiba terhenti begitu perhatian terfokus kepadanya.
"Gaara.. bunuh diri." Sambungnya.
BELTAK !
"Itu masalahnya. Gaara orang yang tertutup." Jawab Shikamaru atas pertanyaan Sasuke.
"Dan lagi. Karakternya pediam." Sambung Sasuke.
"Hmm.. bener tuh.. bener.." Sambung Naruto juga.
"Aduuuh.. hei.. gue kok dicuekin? Asem lo semua.." Keluh Kiba sambil mengejar teman-temannya yang semakin menjauh, tak lupa memegangi kepala benjolnya yang habis di jitak Shikamaru.
"Gue coba telpon deh." Kata Naruto sambil mengambil handphone yang ada di saku celananya. Dan tiba-tiba, sebuah note kecil ikut keluar dari saku celananya hingga terjatuh di atas jalan.
"Ada yang jatuh." Kata Sasuke sambil memungut note yang baru saja dijatuhkan Naruto.
"Waduuh.. gue lupa! Tadi Kakashi nyuruh gue nganter note itu ke Nek Tsunade! Sini!" kata Naruto sambil merampas Note yang berada di tangan Sasuke.
"Ceroboh banget sih. Mendingan kita anter sekarang, daripada dapet masalah dari Tsunade-sama." Sambung Shikamaru sedikit kesal.
.
.
.
Di depan ruangan Tsunade.
"Permisi dulu." Bisik Shikamaru.
"Ah.. langsung masuk juga gak apa-apa. Lagian juga Cuma nenek-nenek." Celetuk Naruto tanpa menghiraukan perkataan Shikamaru. Ia langsung memegang gagang pintu dan menariknya. Hingga menampak seseorang yang tak terduga oleh mereka.
"Haaa? ELO?!" seru mereka serentak begitu mendapati seseorang dihadapan mereka.
"Ngapain kalian di sini?" tanyanya dengan wajah yang polos.
"Harusnya kami yang nanya gitu. Ngapain lo disini? Gak sekolah, dan nyamar jadi Kankuro segala!" Bentak Kiba dengan suara berisik khasnya.
"Auff.. auff.." anjingnya pake ikut-ikutan lagi.
"Ketahuan ya?" singkat Gaara sambil menatap teman-temannya dengan raut wajah yang tak tertarik sama sekali.
"Gaara?" Gumam Shikamaru sambil mengepalkan tangannya. Gaara membalas tatapan Shikamaru dengan datar.
"Klan Nara emang hebat." Shikamaru hanya mendengus kesal, mendengar ucapan Gaara.
"Gue gak butuh pujian dari lo saat ini." Gaara memalingkan wajahnya.
"Itu.. bukan pujian."
"Hei.. hei.. kalian datang ke sini Cuma mau buat keributan diruanganku?!" bentak Tsunade sambil melipat ke dua tangan kedadanya dan menyenderkan punggung kesenderan kursi yang ia duduki.
"Maaf Tsunade-Sama. Kami gak bermaksud begitu." Kata Shikamaru sambil membungkukkan tubuhnya.
"Jadi kalian begitu?" celetuk Naruto sambil melipat ke dua tangan didadanya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa?" kata Tsunade setengah meninggikan nada suaranya.
"Hebat juga, nenek bisa pacaran sama Gaa.." belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya, tubuhnya langsung melayang dengan tinjuan super yang diberikan Tsunade kepadanya. Beberapa temannya hanya terdiam sambil menelan ludah dengan mata yang terbelalak begitu hembusan angin dasyat lewat dihadapan mereka.
"Gue gak bisa jelasin apa-apa ke kalian." Sambung Gaara memecahkan kesunyian.
"Alasan kayak gitu harusnya mendapat penolakan. Tapi, lo pasti punya alasan sendiri. Kami bisa ngerti itu." Jawab Shikamaru. Bijak, memang bijak.
Tak lama kemudian...
"Toloooong.." kata Naruto sambil berjalan ngesot dengan tubuh yang babak belur.
"Hahaa.. ngapain lo? Rasainn.." kata Kiba dengan senangnya.
"Sialan lo." Keluh Naruto.
"Gak usah main-main, sekarang mana Note dari Kakashi." Pinta Tsunade.
"Oh, iya lupa." Naruto langsung sembuh total dan berdiri dengan tegap memberikan note tersebut pada Tsunade.
"Ngerepotin." Keluh Naruto begitu note itu telah sampai ke tangan Tsunade.
"Nah Gaara, sekarang kamu boleh pulang." Kata Tsunade sambil membuka lembaran per lemabaran dari note tersebut. (jangan-jangan itu buku mesum yang biasa di baca sama Kakashi? BELTAK! Ikutan melayang di tinju Tsunade).
.
.
.
"Gaara, lo habis dari mana?" tanya Temari yang telah menyambut kedatangan Gaara sejak tadi.
"Temari?" singkat Gaara seolah tak ingin menjelaskan apapun.
"Apa maksud surat kebohongan kayak gini Gaara?" temari Menunjukkan surat yang ia dapat dari Sasuke. Gaara hanya menatap dengan sendu.
"Temari.. maaf." Sambungnya sambil memalingkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Temari menuju kekamarnya. Temari hanya menundukkan kepalanya dan mencengkram kertas yang berada ditangannya.
"Gue pulang." Kata Kankuro dan langsung disambut suasana dingin oleh Temari.
"Ini.. bukan kulkas kan?" langsung di hantam Temari dan Kankuro.
"Kenapa?" tanya Kankuro yang menyadari raut sedih dari wajah kakak perempuannya.
"Tolong bicara sama Gaara ya.. kayaknya dia lagi ngerasa sepi." Tanpa basa-basi, Kankuro segera meninggalkan Temari dan bergegas menuju kamar Gaara.
...
"Gaara, gue masuk ya?" kata Kankuro yang telah membuka pintu kamar Gaara. Gaara menatap Kankuro dan mengangguk pelan.
"Ada yang pengen lo omongin gak?" tanya Kankuro sambil duduk di tempat tidur Gaara, dan memandang Gaara yang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Gak." Singkatnya.
"Cerita aja."
"Gak."
"Gue tau lo lagi gak baik-baik aja. Wajah lo murung banget dari kemarin. Kenapa mau nanggung beban sendirian sih? Gue kan kakak lo. Kita kan saudaraan. Ayo kita tanggung beban ini sama-sama." Perkataan Kankuro membuat Gaara mengepalkan tangannya hingga bergetar hebat.
"Ayah.." singkat Gaara. Dan kali ini Kankuro lah yang mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi.
"Maaf Gaara." Kali ini perkataan Kankuro membuat Gaara membalikkan tubuh ke arah kakaknya.
"Untuk?" tanya Gaara.
"Semuanya.." singkat Kankuro.
Gaara hanya terdiam menatap Kankuro. Namun dalam tatapannya, ada hal yang aneh. Gaara mengerjap-erjapkan matanya. Ia melihat Kankuro menjadi dua. Gaara semakin kebingungan dan kembali mengerjapkan matanya. Namun jumlah Kankuro semakin banyak dan bertambah banyak. Hingga ia mendapatkan pandangan kabur dari dirinya. Melihat ada yang aneh dari Gaara, Kankuro bergegas menghampiri adik bungsunya ini.
"Gaara? Lo baik-baik aja kan?" tanya Kankuro dengan panik.
Pandangan Gaara semakin sendu. Dalam kornea matanya, tak ada cahaya atau bayangan apapun didalamnya. Ia seolah membuka mata, namun tak sadarkan diri. Hingga Gaara tak dapat menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Ia terjatuh tepat di pundak sang kakak.
"Temari! Temari!" teriak Kankuro dengan keras pada kakaknya.
"Kenapa sih? Gak usah teriak-teriak kek. Lo panggil gue sekali juga gue pasti.." perkataan Temari terhenti begitu menatap Gaara yang telah berada didekapan Kankuro. "PINGSAN?"
"Untung gue gak manggil lo sekali, kalo gue manggil lo sekali, pasti lo pingsan." Celetuk Kankuro.
"Gak usah becanda lagi. Maksud gue, Gaara yang pingsan." Keluh Temari dengan khawatir.
"Lo nuduh gue manggil Gaara sekali?"
BELTAK
"Gue lagi gak mau becanda sama lo, cupektong!" Bentak Temari setelah selesai menjitak kepada Kankuro.
"Aduuuh.. sakit bego! Nih anak nantangin gue berantem ya?" Temari mengernyitkan dahinya.
"Sejak kapan gue bilang ngajak lo berantem?" Kankuro langsung menunjuk mata Temari.
"Elo emang gak bilang, tapi mata lo yang bilang. Tato kebo!" kali ini Temari menggulungkan lengan bajunya.
"Elo yang ngajak gue berantem. Sini lo, celana ketat cangcuters!"
"Boleh, ayo maju!." Tantang Kankuro lagi.
"Berisik." Keluh seseorang yang berada dalam dekapan Kankuro. Kankuro dan Temari langsung terkesiap kaget.
"Ga.. Gaara? Lo gak apa-apa?" kata ke dua kakaknya ini. Mereka mengkhawatirkan nafas Gaara yang kelihatan berat.
"Gue gak bisa tidur kalo kalian berisik." Keluhnya sambil melepaskan diri dari Kankuro.
"Lo sakit ya? Lo gak kayak biasanya deh." Kata Temari sambil memengahi kening Gaara dengan punggung telapak tangannya.
"Gak apa-apa kok." Kata Gaara sambil menampik tangan Temari. "gue mau tidur, kalian bisa keluar?" pinta Gaara.
"Gak, gue gak mau keluar." tolak Kankuro.
"Kalo gitu, kalian bisa ninggalin gue sendiri?" pinta Gaara lagi.
"Nah, kalo yang itu bisa. ayo Temari." Sahut Kankuro sambil menarik tangan Temari.
"Dasar, padahal intinya sama-sama nyuruh kita keluar. Dasar upil jangkrik." Keluh Temari sambil mengikuti Kankuro yang keluar dari kamar Gaara. Tanpa sengaja, kaki Temari menyentuh sesuatu yang tergeletak di lantai kamar Gaara.
"Botol?" kata Temari sambil membungkuk dan menatap sebuah botol obat yang barusan ia tendang.
Tanpa diketahui Temari, Gaara langsung merebut botol itu dengan tangan pasir miliknya. Spontan Temari langsung terkejut dengan perbuatan Gaara.
"Ini bukan obat apa-apa kok." Kata Gaara yang menyadari ekspresi parno dari Temari.
"Gaara.. bukannya itu obat..." Temari mengernyitkan dahinya.
To be continue
