Kai tidak terlalu menyukai kegiatan rutin yang ayahnya perintahkan untuknya.

Apalagi kalau bukan kunjungan ke desa-desa terpencil?

Sebagai seorang pangeran, Kai diwajibkan ikut serta dalam berbagai kegiatan seperti belajar akademik, praktek kepemimpinan, berlatih fisik dengan ilmu bela diri, berlatih memainkan senjata, membiasakan diri memikirkan strategi perang, serta masih banyak lagi.

Termasuk melihat bagaimana kondisi rakyat Kerajaan Asteria.

Kai sering diawasi oleh pelayan pribadinya, Krystal Helian. Gadis itu selalu saja mengekor kemanapun Kai pergi. Termasuk ke kamar mandi, walau hanya sampai ke pintu.

Tapi akhirnya, selama 15 tahun dia hidup, remaja itu terlepas dari kungkungan mata coklat Krystal. Pelayannya pasti kalang kabut mencari dirinya. Tapi apa peduli Kai terhadap perasaan orang lain?

"Salah sendiri, kutiduri tidak mau,"gerutu Kai.

Kai memang representasi tepat, untuk seorang pria yang memikirkan selangkangan, selangkangan, dan selangkangan.

"Eh? Sial, ini di mana?!" Cicitnya panik.

"Duh, kenapa aku bisa berteleportasi ke sini ya?" katanya lagi sambil garuk-garuk kepala.

Pasalnya, ada hamparan sawah di kiri kanan jalan lebar yang dipenuhi jejak roda-roda karavan. Nyaris tak ada rumah penduduk kecuali gubuk-gubuk di pematang sawah. Mungkin Kai bisa duduk di sana sebentar.

Belum melangkah, dia mendengar seruan membahana. Langsung saja dia berlari menjauh.

Cari tempat persembunyian!

"TUAN MUDA!"

Itu suara Krystal, pelayannya.

Kai tidak berbalik. Dia terus saja berlari hingga ransel di balik punggungnya melompat-lompat ria. Mau bagaimana lagi? Kai harus menghindari beberapa batu yang terpendam di sebagian jalanan ini. Lalu mata birunya mendapatkan apa yang dia cari, tempat persembunyian, di mana dia menemukan sebuah gubuk.

Dia segera tengkurap di bawah gubuk, menghindari tatapan mata Krystal. Kai meringis tanpa suara, kala kaki jenjang pelayannya yang dibalut kaos kaki putih selutut dan sepatu putih polos tanpa hak, berada tepat di depan wajahnya.

Menyadari satu kebodohan membuat Kai refleks meninju ringan dahinya.

Bodoh! Aku kan bisa berteleportasi!Tapi percuma, kekuatanku tidak berguna di tempat asing ini.

Ingin sekali Kai mengubur dirinya sendiri.

"Tuan Muda ini ada di mana sih?! Besok kan jadwal menuju desa selanjutnya. Ah sudahlah, mungkin beliau ada di penginapan."

Gerutu panjang Krystal mampu Kai dengar dengan baik. Dia mengelus dada lega, kala mendengar suara langkah kaki menjauh. Dari suara hentakan kaki gadis itu, Kai tahu bahwa pelayannya kesal. Pangeran bungsu itu tertawa pelan. Uh! Senang sekali rasanya ia berhasil menghindari ancaman bernama 'Krystal Helian'.

Untuk sehari saja seperti ini, Kai sudah sangat puas.

Setelah keluar dari persembunyiannya, Kai melanjutkan penjelajahan. Dia mendengus karena kemeja putih bagian depan yang dia pakai, dipenuhi noda kecoklatan akibat tanah.

Melangkah bersama sepatu boot setidaknya mengamankan kakinya dari jalanan penuh batu ini. Omong-omong tentang jalanan ini, Kai ingat sedikit memori mengenai jalan ini. Kali ini dia bernostalgia, bukannya tersesat. Di mana dia pernah melewati jalan ini bersama ketiga kakaknya.

Kai tersenyum berseri-seri.

Ketiganya pernah berlibur bersama. Saat itu umur Kai masih 13 tahun. Ketiganya melewati jalan ini murni karena tersesat. Namun kemudian mereka menemukan pemandangan luar biasa. Sama seperti pemandangan yang Kai lihat saat ini.

Sebuah sungai dan air terjun deras berjatuhan.

Kai tersenyum lebar kala dia berhasil menceburkan dirinya ke dalam sungai. Air merontokkan noda-noda tanah di tubuhnya. Dia membiarkan tubuh dan pakaiannya basah.

Pemandangan alam ini terisolasi. Diapit oleh tiga bukit hijau tinggi. Ada dua bukit yang mengapit pucuk aliran air terjun. Sementara bukit ketiga berada persis di depan air terjun. Kai dan kedua kakaknya saat itu melewati jalan setapak. Jalanan itu dipenuhi tanaman-tanaman rindang, bahkan Chanyeol tak ragu memetik salah satu buah sepanjang perjalanan kemari. Dia bilang, "ini buah Apel. Enak sekali. Cobalah!"

Waktu itu Kai pikir, itu hanya buah beracun yang kebetulan kembaran dengan buah apel.

Kai bahkan jauh lebih polos dulu dibanding sekarang.

Beberapa saat kemudian, Pangeran bungsu dari Kerajaan Asteria itu tersadar dari nostalgia. Segera dia melepaskan seluruh pakaiannya, lalu berendam lagi, dan dirasa bersih dia baru mengeringkan diri dan memakai pakaian kering. Untunglah dia membawa ransel kesayangan beserta isinya.

"Dari dunia membentang dua arah..."

Senandung merdu entah dari mana membuat Kai bergidik.

"Membelah takdir menjadi satu kesatuan..."

Kai masih mematung di tepi sungai. Dahinya mengernyit penuh pemikiran keras.

"Permainan kata akankah berakhir tanpa makna?"

Pangeran bungsu itu merasa, mungkin senandung itu adalah musikalisasi sajak?

Bukan hantu kan ya?

Kai masih penakut untuk yang satu ini.

Tapi suara senandung itu membuatnya terhanyut, sampai jatuh pada rasa penasaran. Setelah berpakaian dan merangkul ranselnya, dia berjalan mengikuti suara itu. Hingga sampailah pada sebuah pohon besar yang terkesan mistis. Pasalnya, akar-akar gantung si pohon beringin bagai rambut-rambut wanita gentayangan yang rontok. Kai terlalu berlebihan dalam membayangkan sesuatu. Harap dimaklumi.

Kai buru-buru bersembunyi di balik batang pohon terdekat, kala melihat seorang gadis keluar dari balik pohon beringin itu. Gadis itu berjongkok pada batu seukuran pantat bayi. Batu itu diukir asal-asalan. Jadi bisa Kai tebak bahwa batu itu...

...adalah batu nisan?

"Hai, bunda..."

Ada dua batu sebenarnya. Gadis itu sedikit menjulurkan tangan pada batu lainnya.

"Hai, ayah..."

Sepintas, penampilan gadis cantik bergaun hijau lusuh itu seperti orang gila. Bisa Kai lihat tepi bawah rok gaun itu sobek di beberapa bagian. Belum lagi ekspresi kesedihan si gadis dan rambut hitamnya sedikit berantakan.

"Aku merindukan kalian... Apa Sang Penguasa menjaga kalian dengan baik, hm?"

Dada Kai bergemuruh. Dia iba pada gadis itu, tanpa alasan yang jelas. Padahal kalau ada seorang gadis memenuhi kriterianya, dia akan rayu gadis itu untuk bergumul bersamanya.

Usia Kai masih 15 tahun, tapi dia sudah bisa merasakan hebatnya bercinta nyaris enam bulan akhir ini.

Apakah orang tuanya salah mendidik?

Atau si hitam ini memang mesum sejak lahir?

Entahlah.

Namun gadis di pandangannya ini berbeda. Kai merasakan bahwa gadis ini tak layak diperlakukan hina. Gadis ini istimewa. Punya aura feminim yang membuat para pria tak tega menyakitinya.

Mungkin bukan aura...

Mungkin senyum lembutnya yang membuat Kai merasa gadis itu spesial.

Apalagi mata biru dipenuhi tekad itu.

Sungguh, Kai seperti melihat jutaan bintang-bintang bernaung di sana.

Sehari setelah itu, Kai semakin penasaran.

Gadis itu bagai representasi tepat tentang, kaum hawa yang selalu membuat kaum adam penasaran.

Setiap Kai mengucapkan ciri-ciri gadis yang SANGAT. INGIN. DIA. TEMUI. ITU. Semua penduduk desa memberikan jawaban berbeda-beda. Ada ringisan jijik lalu mengibas tangan acuh, ada menjawab cuek 'tak tahu', ada yang mencela 'pelacur', ada yang tersirat nada posesif 'mau apa kau dengannya?', dan masih banyak lagi.

Yang jelas, sulit bagi Kai mencari gadis itu.

"Ah... Si cantik itu kenapa misterius sekali sih keberadaannya," keluh Kai.

"Anda harus segera—"

"Diam dulu ah, Kryst!"

Krystalpun bungkam.

Di pinggir Desa Pollux, tepatnya di pinggir Desa Al Traf, kehidupan masyarakatnya sedikit bebas. Masih saja ada bar di sana. Di mana ada banyak minuman keras. Salah satunya adalah bar yang Kai dan pelayannya kini kunjungi. Kai stress memikirkan gadis itu, jadi dia melampiaskannya di sini. Suara si cantik itu masih terngiang-ngiang, hingga membuatnya mampu membayangkan suara desahannya akan seperti apa.

Bar ini ramai pengunjung. Rata-rata adalah pria hidung belang meminta belaian. Di sini juga banyak kupu-kupu malam. Kai berulang kali melepas rangkulan gadis-gadis yang ingin mendapat belaiannya. Tanpa Kai rayu, mereka pasti mau-mau saja dijajaki oleh si pangeran bungsu. Itulah yang membuat Kai tidak menyukai golongan mereka.

Krystal sendiri ikut membantu dengan tatapan pelototannya. Gadis itu akan menjadi galak apabila majikannya diusik.

"Hadirin semuanya! Segera pasang uang kalian di genggaman, karena sebentar lagi SANG DIVA AKAN MENYUGUHKAN KECANTIKANNYA UNTUK KALIAN SEMUA!!"

Kai menoleh ke arah panggung karena seruan itu.

Pangeran itu menatap tak minat pada panggung. Dia bertopang dagu di meja bartender sambil sesekali menguap lebar. Apalagi pria yang berseru tadi memiliki tubuh tambun, hidung besar bintik-bintik, dan seringai mesum menjijikkan karena giginya agak menguning. Kai pikir, dia harus lebih menjaga badannya agar suatu saat kalau sudah tua, takkan menjadi pria sejelek itu.

Kai bersyukur dalam hati saat pria itu turun panggung.

Lalu takdir pun mempertemukannya pada gadis incarannya.

Si cantik...?!

Kai tak tahu lagi bagaimana menunjukkan percikan kebahagiaan pada dunia!

Gadis itu muncul dari balik panggung. Tersenyum elegan, tidak ada kesan erotisnya sama sekali. Langkahnya diiringi tatapan pongah seakan mengatakan, 'ini adalah aku, gadis sejuta pesona'.

Gadis itu berhenti di tengah panggung, tidak risih saat para pria tua, bahkan yang muda, bersorak memuja padanya seperti ikan-ikan di tambak yang dilempari pelet.

Berbeda dengan gadis malam lainnya, gadis itu memakai gaun berenda royal blue. Gaun yang tergolong sopan. Roknya menyentuh sampai lutut, lengan bajunya mencapai siku, namun lebar hingga saat tangannya terangkat ke udara, lengan gaun itu tersampir ke bawah.

Suara hentakan musik, dari permainan para pemusik pria di balik panggung, direpresentasikan oleh gadis itu menjadi sebuah tarian.

Para pria hidung belang justru semakin dibuat penasaran kala gadis itu menari erotis dengan gaun sesopan itu. Mereka bertanya-tanya, bagaimana indahnya selangkangan si gadis, atau betapa empuknya pantat itu.

Gadis itu tersenyum sinis. Bibirnya membentuk seringai miring dan kerlingan mengundang.

Atau menantang?

Kai tertawa kecil dari kursinya. Menertawakan para pengunjung bar. Mereka sibuk mengintip selangkangan si gadis dari balik rok. Gadis itu justru berputar lalu menggoyangkan pinggulnya, disertai gerakan-gerakan roknya yang justru menambah nilai erotis tersendiri. Apabila ada yang mengintipnya dari bawah panggung, gadis itu akan menekan rok gaunnya ke paha untuk menutup rapat asetnya.

Jika itu terjadi, si cantik akan menggoyangkan telunjuk kanannya. Seakan melarang pria mengintipnya.

Si cantik membodohi para pria itu?

Tanpa sadar, Kai terhanyut di setiap tarian si gadis cantik.

Kai juga tak perlu khawatir apabila gadis itu disentuh sembarangan. Karena para pengawal bar akan menegur para tamu yang nekad naik ke atas panggung.

Bar ini memperlakukan si cantik secara khusus.

Yah... Karena si cantik adalah gadis istimewa...

Kai menjilat bibir bawahnya.

"Tuan muda...?"

"Sstt! Aku sedang menikmati pemandangan bidadari..."

Krystal memutar bola mata jengah.

Namun Kai harus kecewa kala gadis itu mengakhiri tariannya dengan rentangan tangan kanan di atas, dan tangan kiri direntangkan ke muka.

Gadis itu mendongak, menatap tajam dunia, masih tersenyum menggoda. Wajahnya berhiaskan keringat dan helaian rambut menempeli pipi basahnya.

Gadis itu seksi.

Sial!

Erang Kai setelah gadis itu berbalik dan pergi ke belakang panggung.

Namun saat Kai pergi ke belakang panggung, mengabaikan larangan para pengawal bar...

...gadis itu sudah tak bisa Kai temui lagi.

•••

MY OTHER DEVIL

.

Main Genre :

Romance, Fantasy

Main Chara :

-Lu Han as Luhan Xaviera and Luna Demonia

-Oh Sehun as Willis Demonia / Sehun Xavier

Other Chara :

-Kim Jongin as Kai Asterian

-Park Chanyeol as Chanyeol Asterian

-Wu Yifan as Kris Asterian

-Do Kyungsoo as Kyungsoo Xavier

-Byun Baekhyun as Baekhyun Xavier

-Huang Zitao as Zitao Xaviera

and others

Main Couple :

HUNHAN

Other Couple :

Kailu, Chanlu, Krislu, and others

Note : GS for uke (kecuali Baekhyun dan Kyungsoo), RATE M, TYPO, HAREM

.

.

Chapter 03 : Si Cantik yang Ranum

.

.

.

"Buah yang ranum, apabila tidak segera dimakan, dia hanya akan membusuk tidak berguna."

—Kai Asterian—

.

.

.

.

.

•~•~•~•~•

Naluri seorang penari tidak bisa dibohongi. Luhan Xaviera tanpa basa-basi langsung turun dari kereta kuda dan ikut hanyut dalam musik. Dia tidak peduli apabila tingkahnya mempermalukan dirinya sendiri. Dia hanya suka menari, sesederhana itu.

Setiap hentakan musik menjadi energi dan arti tersendiri untuk gerak tubuh Luhan. Sampai-sampai si cantik juga ikut memeragakan gerak tari 'Penyambutan Pendatang Baru'.

Tarian itu hanya ada apabila penghuni baru istana, berkedudukan tinggi, datang untuk tinggal di dalamnya. Berbeda dengan tari 'Penyambutan Tamu', tari ini ditarikan oleh penari wanita (untuk pendatang baru wanita), atau penari pria (untuk pendatang pria). Gerakan untuk menyambut pria atau wanita pun berbeda. Gerakan untuk wanita lebih luwes, bersama setelan gaun warna merah muda dan mahkota bunga-bunga. Musik pun mengiringi di balik barisan penari, sibuk menyenangkan hati si pendatang.

Luhan berhenti menari tepat di putaran terakhir. Kakinya tepat menapak di depan anak tangga pertama. Rambut hitamnya kini tersampir di depan bahu. Dadanya naik turun. Senyum merekah bersama tawa kecil mengiringi. Keringat membuat kulit tubuh putihnya berkilauan. Kemudian disusul dengan tepuk tangan kecil lalu berbalik dan membungkuk hormat pada para penari.

"Terima kasih atas sambutannya!!!"

Oh Sang Penguasa... Betapa aku merindukan musik dan menari..!

Serunya senang. Kemudian dia membekap mulutnya, agak malu karena seharusnya Luhan menjaga etikanya.

Semua penari hanya tersenyum karena lugunya calon Perhiasan mereka. Setelahnya, mereka membungkuk hormat sembari berucap,

"Selamat datang di istana kami, Nona Muda Luhan..."

Semua pemandangan itu diserap baik oleh ketiga Pangeran Asteria.

Mereka masih berdiri mematung di depan pintu utama istana. Kira-kira puluhan anak tangga dari atas kaki Luhan.

"Si cantik..."

Gumaman Kai mengundang pelototan aneh dari mata bulat Chanyeol.

"Apa dia bilang?" Tanya Chanyeol pada Kris. Yang ditanyai hanya mengangkat bahu acuh.

Segera Kai menuruni tangga, tanpa peduli ritual tarian itu belum selesai. Kris tidak mencegah, hanya diam di tempat sembari memperhatikan keduanya.

Namun matanya langsung terbelalak kala melihat Kai membalik tubuh Luhan, memeluknya, lalu menciumi bibirnya singkat sebanyak dua kali dan berkata, "akhirnya aku menemukanmu!!"

Chanyeol pun sama. Rasanya dia ingin memukul kepala adiknya karena tak sopan pada lawan jenisnya.

Tapi Luhan yang paling terkejut. Dia meraba bibirnya dan mengigitinya seraya memandang sendu Kai. Lebih kepada tak bisa menerima kenyataan bahwa ciuman pertamanya direnggut oleh pemuda aneh.

"Ciuman pertamaku..."

"JADI ITU CIUMAN PERTAMAMU, ASTAGA AKU SENANG SEKALI...!"

Luhan tersentak.

Kai berseru senang bersama senyum bodohnya.

Kedua kakaknya malah tersedak ludahnya sendiri.

Luhan memundurkan langkahnya. Dia menatap aneh pada Kai, "maaf... Ehm...?"

"Kai. Namaku Kai Asterian."

Asterian?

"O...oh... Mohon maaf, Pangeran Kai. Saya rasa tindakan anda keterlaluan tadi."

"Kenapa harus kau yang meminta maaf, cantik? Seharusnya aku yang meminta—"

"Kai, bisakah kau menunggu sampai penyambutannya selesai?" kritik Kris. Kai hanya mendongak, menjulurkan lidah ke arahnya, lalu kembali melempar cengiran khas ke Luhan. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjapkan mata karena bingung.

"Argh!"

Kai memekik kesakitan.

"Pangeran, tidak sopan mencium gadis di depan umum! Meski penyambutan ini kacau karena tiba-tiba ada yang menari di tengah para penari, anda juga tak boleh membuat penyambutan ini semakin kacau. Apa anda paham?"

Baik Kris maupun Chanyeol tidak menyadari bahwa seorang wanita parubaya datang menghampiri Kai. Bahkan tak segan menarik daun telinganya. Keduanya saling melirik lalu menahan tawa, sementara Kai sibuk protes.

"Haish! Bibi Heechul, bisakah kau tidak melakukan ini padaku terus hah?!"

"Kau yang salah kenapa jadi aku yang kau bentak, hah?"

Wanita parubaya berwajah garang itu adalah Heechul Zeer. Kedudukannya di istana adalah sebagai Kepala Pelayan sekaligus pengasuh dari ketiga Pangeran Asterian. Dia memiliki rambut hitam legam, disanggul sederhana dengan sentuhan mutiara putih, dan kipas penuh bulu-bulu putih senantiasa berada di genggaman untuk dikibaskan di bawah dagunya. Meski matanya ramah dan nampak humoris, pada dasarnya dia kategori wanita 'galak'.

Ketiga pangeran mengakuinya.

Jadi ketika Kai menerima jeweran Heechul, maka hukuman segudang pun menanti di detik berikutnya.

"Pangeran Kai."

"I...Iya...?"

Kedua kakak Kai sibuk menahan tawa, Luhan hanya berdiri canggung di belakang punggung Kai.

Mata Heechul memicing bagai singa betina memburu rusa. Membayangkan hal itu membuat Luhan semakin ciut. Padahal yang diserang singa betina itu adalah Kai, kan?

"Sebaiknya anda merenung di dalam perpustakaan dan baca buku berjudul 'Tata Hukum Kerajaan Asteria'. Setelah itu kau baru bisa mengerjakan ujian dariku, dan jika nilaimu masuk standar minimum, kau akan bebas berkeliaran tanpa Krystal."

"TIDAK! BIARKAN AKU DI SINI MENEMANI SI CANTIK!!"

"Siapa yang anda maksud si cantik, dasar hitam!"

PTAK..!

Kai meringis kala mendapat pukulan kipas di kepalanya. Meski jeweran di telinganya dilepaskan, Heechul masih menggenggam erat pergelangan Kai dan menariknya di balik punggung. Heechul mencegah si Pangeran Bungsu berteleportasi.

"Kalian berdua!!"

Kris dan Chanyeol kali ini diam mematung. Keduanya sibuk bertukar pikiran beberapa detik, lalu berjalan menuruni tangga mendekati pengasuh mereka.

"Bibi Heechul, ini semua salah Kai. Tolong jangan ikut sertakan aku," gumam Chanyeol tanpa rasa iba pada adiknya yang kini sibuk memohon-mohon di balik punggung Heechul.

Kris hanya diam sambil sibuk melirik Luhan. Gadis itu sedikit tersenyum melihat interaksi kedua adiknya dan Heechul.

Lalu mata mereka bersitatap. Luhan melempar senyumnya sebagai bentuk rasa sopan, tapi Kris justru memalingkan muka.

"Kalian bertiga sebaiknya merenung di perpustakaan bersama-sama."

"Tunggu, apa?!" Kris berseru protes, "Bibi, sebentar lagi ayah pulang dari Pertemuannya dengan Kerajaan Roxie, dan beliau ingin aku menyelesaikan urusanku di Kota Deimos, jadi ya... Aku harus ke Deimos sekarang..."

Heechul berdecak, "saya tahu anda berbohong. Saya hafal jadwal kalian jadi tolong, lakukan hukuman kalian sebagai konsekuensi melakukan dan membiarkan seorang pria melecehkan wanita."

Kris menghela nafas. Berbeda dengan Chanyeol, Kris benci perpustakaan.

Kai jelas tak terima. Ia tak bermaksud melecehkan si cantiknya, tapi wanita tua itu malah berargumen yang bukan-bukan.

"Apa aku melecehkanmu, cantik?!"

Luhan hanya diam menatap Kai saat ditanyai.

Kai memang terlalu bodoh dalam memperlakukan wanita atau gadis menggunakan perasaan. Harusnya dia tak mempertanyakan hal yang jelas-jelas membuat si gadis malu. Seharusnya sebagai pria jantan, dia meminta maaf pada gadis itu.

"Hukuman anda ditambah dengan tidak mendapat jatah makan malam dan bermalam di perpustakaan."

"HEI...!! KALI INI APA SALAHKU?!"

Perintah mutlak Heechul tak bisa dibantah. Setelah menyuruh dua pelayan pria menyeret Kai ke dalam perpustakaan, walau sedikit dramatis mengingat Kai itu agak hiperbolis, Heechul langsung tersenyum lembut pada Luhan. Kris dan Chanyeol terkesiap kala melihatnya. Pengasuh mereka sepertinya kerasukan iblis saat di dekat Kai, tapi langsung dianugerahi malaikat saat bertatapan dengan Luhan.

Pengaruh pesona Luhan sungguh luar biasa.

"Senang bertemu denganmu, Nona Luhan. Sepertinya penyambutannya cukup sampai di sini. Maafkan wanita tua ini karena gagal mencegah anak-anak asuhnya berbuat hal tak baik padamu."

Luhan menggeleng lemah. Bibir merah mudanya terpoles apik, berkilau oleh sinar mentari, ditambah senyuman dan suara lembut hingga kedua pria terpaku sejenak melihatnya.

"Seharusnya saya yang meminta maaf. Saya seharusnya tidak ikut menari."

Belum Heechul mengeluarkan suara, bibirnya dia katupkan. Lirikan kelereng hijaunya langsung menghunus kedua pria di sampingnya. Kris tersenyum simpul sambil memandangi Luhan, sementara Chanyeol membulatkan matanya sambil memiringkan kepala karena penasaran pada Luhan. Heechul berdeham cukup keras. Kedua kakak Kai itu tersentak. Luhan sendiri memandangi Kris dan Chanyeol bergantian, lalu tersenyum sambil membungkuk hormat, "selamat siang pangeran..."

"Si...siang..." Chanyeol canggung dengan lawan jenis. Karena baginya, sahabat dan pasangan hidupnya hanyalah buku-buku.

Lalu imajinasinya pun muncul.

Chanyeol berimajinasi bagaimana dia akan belajar mempraktekan beberapa kisah romansa kuno, dari buku yang dia baca. Bersama Luhan, Chanyeol rasa kegiatan itu akan sangat menyenangkan.

"Pergi ke perpustakaan, sekarang!"

Lamunan indah Chanyeol hancur berkeping-keping.

Kris dan Chanyeol pergi bersama hati mereka yang dongkol. Melihat punggung keduanya tak lagi terlihat, Heechul terkekeh geli di depan Luhan, "mereka sangat menggemaskan. Tolong maklumi tindakan mereka. Jika mereka kembali membuatmu tak nyaman, aku akan menghukum mereka lebih keras."

"Ah... Itu tak perlu."

Heechul memperhatikan wajah ayu Luhan, hingga akhirnya memberi elusan di pucuk kepala.

"Baiklah, nona Luhan... Silahkan masuk. Anggap istana ini tempat tinggalmu sendiri."

.

.

.

.

.

Heechul sepertinya lupa kalau Kai memiliki kekuatan sihir menyebalkan, turunan dari leluhur Asterian, dimana dia bisa kabur dengan leluasa. Pemuda itu mengabaikan ocehan dan petuah tak penting dari kedua kakaknya. Biarlah mereka menggonggong bagai anjing kelaparan.

Dan di sinilah Kai sekarang.

Dia sekali lagi tak bisa mengontrol sihirnya dengan baik. Alhasil ingin hati berteleportasi di depan pintu kamar Sang Perhiasan Istana, tapi sihirnya justru membuatnya berada di tempat yang jauh berbeda.

Ruangan ini keramat. Bahkan untuk Kris si Putra Mahkota. Tidak adanya penjagaan ketat tak bisa membuat Kai leluasa memasuki ruangan ini. Pemuda itu merenung sekarang. Ada perasaan aneh menelusup dirinya untuk memasuki ruangan ini. Perasaan itu berupa penasaran akan sesuatu hal.

Kai sendiri tak tahu hal apakah itu.

"Yang Mulia Pangeran Kai... Sepertinya anda ingin menguping, ya?"

Kai menoleh ke sumber suara, tepat di samping telinganya, pada seekor peri bersayap capung yang berterbangan di telinganya bagai laron. Kai tidak terkejut sama sekali dengan adanya peri di istana ini. Mereka adalah makhluk immortal langka yang ditugaskan untuk menjaga istana. Barier sihir mereka terkenal sangat kuat untuk perlindungan diri dikala kerajaan diserang. Tempat tinggal mereka pun tepat di balik pintu ruangan ini.

Kai menggusak-gusak rambut coklat si peri menggunakan ujung jari telunjuknya. Peri itu tertawa kecil, suaranya sangat menggemaskan dan menenangkan.

"Apa yang kau maksud dengan mengintip, Kyung-Kyung? Aku tidak mengintip karena pintunya tidak kubuka."

Peri itu mendengus kasar, mata bulatnya dipicingkan untuk mengintimidasi. Tapi hasilnya malah membuatnya tambah imut,

"Kyung-Kyung pikir Pangeran Kai menguping pembicaraan Ratu Lili dan Nona Cantik!"

"Nona cantik? Siapa?"

"Itu... Nona Luhan Xaviera. Beliau kan tujuh hari lagi dinobatkan sebagai Perhiasan Istana, sudah biasa kalau Ratu Lili meramalnya, mengingat Nona Luhan calon Perhiasan Istana."

Jadi benar ya kalau Si Cantik dijadikan Perhiasan Istana?

Kalau seperti itu jadinya sama saja dengan,

Buah yang ranum, apabila tidak segera dimakan, dia hanya akan membusuk tidak berguna.

Ugh, si cantik terlalu ranum untuk diacuhkan.

Entah kenapa pemikiran aneh Kai membuat sesuatu muncul di otaknya.

Matahari mungil imajiner kini menaungi pucuk kepala Kai.

"Kau tidak mau masuk, Kyung-Kyung?"

"Mau! Madu mawar pesanan Ratu Lili sudah ada di sini," peri bernama Kyung-Kyung memberikan cengiran lucu sambil memeluk sekeranjang mungil berisi setetes madu, "Kyung-Kyung harus memberinya pada Nona Cantik!"

"Hei... Kau juga memanggilnya nona cantik ya?"

"Karena Nona Luhan memang cantik. Dia juga bilang kalau Kyung-Kyung persis adiknya. Huaaaa... Kyung-Kyung ingin suatu saat jadi adiknya Nona Cantik!"

"Kalau begitu, boleh dong aku masuk?"

Peri bernama Kyung-Kyung tampak berpikir keras. Jari mungilnya mengetuk-ngetuk dagu, lalu dijentikkan sembari berkata, "oke!"

Kyung-Kyung terbang persis di depan hidung Kai, membuat pantat mininya sedikit menyentuh pucuk hidung Kai. Refleks Kai mundur satu langkah agar tak menganggu gerak peri imut itu. Harum bunga mawar pun sekelebat menjahili hidungnya. Kai tersenyum menikmati aroma itu.

Di sisi lain, Kyung-Kyung menerbangkan keranjang bawaannya menggunakan sihir, lalu membiarkan kedua tangan mungilnya kosong. Setelahnya, kedua telapak tangannya menyentuh pintu, hingga akhirnya cahaya berkelip bagai bintang-bintang bermunculan menyelimuti pintu tersebut. Tak selang lima detik, pintu pun terbuka.

Semakin lebar pintu bergeser, suara seorang wanita semakin jelas terdengar.

"Pesonamu diluar logika."

Kyung-kyung dan Kai saling melirik mendengar perkataan seorang wanita. Bisa dipastikan kalau wanita itu adalah Ratu Lili. Mereka juga melihat siluet punggung seorang gadis dari balik kain kelambu. Mereka tebak, itu pasti si cantik.

"Sayangnya, pesonamu mampu membunuh banyak pihak."

Kai lagi-lagi melirik Kyung-Kyung. Yang dilirik hanya memeluk keranjangnya sembari mengepak-ngepakkan sayap untuk terbang masuk ke dalam ruangan.

"Pesona yang mencegahmu terbunuh."

Kai melangkah ke dalam ruangan. Bisa dia lihat banyaknya tanaman-tanaman tumbuh di ruangan ini. Kesejukan pun menghampiri. Meski tanpa cahaya matahari, tanaman-tanaman itu sepertinya tumbuh begitu rindang.

"Namun mendorong orang lain untuk membunuh dan dibunuh."

Kai berhenti melangkah. Dahinya mengernyit.

"Aku sarankan, Luhan Xaviera, untuk menutup wajahmu untuk mencegah para pria menikmati wajahmu tanpa adanya ikatan pernikahan."

Kai pikir ramalan Ratu Lili semakin tidak masuk akal. Belum lagi aturan yang sama tidak masuk akalnya.

"Bisakah kau menyanggupinya setelah Penobatan Perhiasan Istana dimulai?"

Kai melihat siluet si cantiknya mengangguk kaku.

Tak lama kemudian, Kyung-Kyung kembali terbang mendekati Kai.

Namun sebelum benar-benar mendekat, Kyung-Kyung dibuat bergidik kala melihat tangan Kai terkepal kuat.

Kai terlihat benar-benar marah.

•~•~•~•~•

AUTHOR NOTE :

Alur lambat ini membunuhku perlahan~~~

(chap besok perdana hunhan ketemuan!!) #banzai...!!!

Curcol dikit ya... Gak dibaca juga gak ngefek apa-apa kok :))

ALHAMDULILLAH akhirnya selesai juga, fyuhh!! Chap ini selesai 1 hari sebelum aku tahu kabar dating Kai. (Jadi ragu buat post gegara Kaijen. Terus dapat Ilham! 'woi kebanyakan yang baca HHS, ngapain ragu?!') Aku bukan Kaisoo shipper dan kai stan sih, tapi ikutan sedihnya. Apalagi chap ini isinya Kai semua. Jadinya mikir ya, kita HHS strong banget! (Apalagi aku yang suka HUNHAN cuma modal... 'wah mereka mirip, lucu!'). Aku suka HUNHAN dengan alasan sesederhana itu (aku telat 'mengenal' mereka, sedih jadinya).

Makasih buat HUNHAN, karena mereka aku suka EXO, bahkan nularin rasa sukaku ke adikku (adikku dulu suka BTS, lha pindah EXO gegara kutularin). Adikku sekarang jadi Baekhyun stan dan Chanbaek shipper #kakakyangberdosakahaku? :3

Terima kasih atas reviewnya ya! Makasih udah dukung FF HUNHAN yang kian hari kian punah.

Salam hangat, sayang kalian...

Surabaya, 03 Januari 2019