PRESENT

.

.

.

My Monster Sister

Cast:

. Byun Baekhyun Exo - Baekhyun (Yeoja)

. Do Kyungsoo Exo - Kyungsoo (Yeoja)

. Kim Jongin Exo - Jongin (Namja)

. Park Chanyeol - Chanyeol (Namja)

. Kris Exo - Wu Yifan (Namja)

. Suho Exo - Joonmeyon (Namja)

Rated T

Genre: Family, Hurt/Comfort

Warning: GS (Genderswitch),Typos,alur absurd,Penyusunan kata yang tidak sesuai dengan EYD,Cerita murni dari pikiran si penulis. :D

-Happy Reading XoXo-

Summary: Baekhyun dan Kyungsoo adalah saudara kandung yang saling bertentangan, mereka tidak bisa akur satu sama lain. Hingga suatu ketika, datang seorang malaikat yang berusaha menyatukan mereka. Tapi bagaimana jika kedua gadis itu mencintai Malaikat itu? Akankah hubungan mereka sebagai saudara kandung akan semakin renggang?

It's Chanbaek, Kaisoo, KrisBaek (Slight), Krissoo (Slight), Chansoo (Slight).

.

.

.

Baekhyun sudah siap untuk pergi bekerja, pasalnya Joonmyeon memintanya untuk bertemu dengan salah satu partner perusahaannya di salah satu perkantoran yang ada di Seoul, maka itu Baekhyun berangkat lebih siang dari biasanya. Pagi ini ia mengenakan terusan putih sebawah lutut dengan cardigan berwarna mocca, siapa saja yang melihatnya pasti akan berkata bahwa Baekhyun sungguh manis. Auranya sebagai wanita karir dan pintar mampu menghipnotis Chanyeol hanya dalam sekejap.

Sementara Baekhyun yang mendapati adiknya sedang duduk bersama pria asing pun akhirnya membelokkan kakinya ke arah mereka duduk.

"Maaf anda..." Tanya Baekhyun.

"Perkenalkan, aku Park Chanyeol. Guru Home Schooling nona Kyungsoo." Chanyeol memberi salam.

"Oh ternyata kau, astaga aku tak percaya jika kau masih sangat muda. Ku pikir kau adalah teman adikku." Jawab Baekhyun tersenyum, senyuman itu begitu indah bagi Chanyeol.

Kyungsoo hanya diam memutar bola matanya malas, "Senyum palsu..." Batinnya.

"Baiklah, aku rasa aku harus pergi. Semoga kau BETAH selama mengajar adikku ini, karena adikku ini agak sedikit sulit dimengerti." Sindir Baekhyun sedikit menegaskan kata betahnya sambil mengusap kepala Kyungsoo dengan sangat terpaksa.

"Tentu saja, No.. Hmm Nyo.." Chanyeol tidak tau harus menyebut Baekhyun dengan sebutan apa.

"Panggil saja dia Nona, meski usianya sudah 35 tahun tapi ia belum menikah." Sahut Kyungsoo benar-benar membuat Baekhyun malu, seketika suasana menjadi canggung.

"Sial! Awas kau Kyungsoo." Dalam hati Baekhyun sambil melirik tajam ke arah Kyungsoo.

Chanyeol akhirnya percaya dengan istilah cinta pada pandangan pertama. Meski sejujurnya ia sedikit terkejut begitu mengetahui usia Baekhyun yang terlampaui jauh dengannya tapi menurut Chanyeol Baekhyun adalah wanita yang berkharismatik. Baekhyun adalah tipe Chanyeol.

.

.

.

Malam harinya Baekhyun berniat untuk mampir ke swalayan karena mengingat persediaan makanannya sudah hampir habis. Ia sibuk memilih-milih makanan yang akan ia beli. Tanpa sadar ada seseorang yang melihatnya dari kejauhan yaitu si Dobi Park Chanyeol.

Chanyeol menghampiri Baekhyun..

"Selamat malam nona Baekhyun." Sapa Chanyeol mengagetkan Baekhyun.

"Kau mengejutkanku, kau disini juga?" Tanya Baekhyun.

"Ya, ada yang harus ku beli." Chanyeol menunjuk ke keranjang belanjaannya.

"Nona, setelah ini bisakah kita minum kopi sebentar?" Tawar Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol dan Baekhyun berakhir di kedai kopi seberang swalayan tadi. Chanyeol memesan secangkir cappucino sedangkan Baekhyun coffee latte. Mereka begitu menikmati kopi masing-masing, keduanya masih tampak canggung. Chanyeol mengakhiri keheningan itu..

"Begini Nona, aku mengajakmu kesini hanya untuk membicarakan soal Nona Kyungsoo."

Akhirnya Baekhyun mengetahui apa yang pria itu bicarakan padanya.

"Kenapa dia?" Jawab Baekhyun datar.

"Apa benar ia dikeluarkan dari sekolah yang dulu karena berkelahi?"

"Benar."

"Kenapa anda memilih untuk Home Schooling ketimbang memasukannya lagi ke sekolah biasa?"

"Karena aku tidak ingin dia membuat masalah. Kyungsoo itu... Entahlah, aku tidak bisa mengerti dirinya. Yang jelas, aku tidak mau mengambil resiko jika Kyungsoo masuk ke sekolah biasa, jadi biar dia belajar denganmu. Tanpa ruang lingkup yang luas. Aku mempercayakannya padamu."

DEG

Chanyeol merasa ada yang aneh disini, Baekhyun seolah-olah menjelaskan bahwa dirinya dan Kyungsoo telah terjadi sesuatu. Tapi ia belum berani menyimpulkannya.

"Baiklah Nona, aku akan bekerja keras. Terima kasih karena telah mempercayakannya padaku."

Baekhyun hanya mengangguk, tak membutuhkan waktu lama, Baekhyun yang lebih dulu mengakhiri pertemuan itu. Ia pamit pada Chanyeol, keduanya saling membungkuk, disaat yang bersamaan tanpa sengaja kepala mereka malah saling terbentur.

DUGH!

"Ouchhh..." Baekhyun kesakitan dan sibuk mengusap pucuk kepalanya.

Reflek melihat itu, Chanyeol segera menyentuh kepala wanita yang tingginya hanya sebahunya saja. Ia memeriksa bagian mana yang sakit, jarak mereka saat ini begitu dekat. Hembusan nafas Dobi itu terhirup oleh Baekhyun, aroma Mint-nya begitu menyejukkan. Seketika Baekhyun tersadar..

"Hmm aku tidak apa, Chanyeol." Keduanya menjadi canggung, mata Baekhyun tak fokus melirik kemana saja. Seperti menghindari kontak mata dengan Chanyeol.

.

.

.

"Ya Yifan, orang itu sudah dua hari mengajar disini. Ku rasa mereka baik-baik saja." Ucap Baekhyun sedang menerima telepon dari Yifan. Saat ini ia sudah sampai dirumah dan berada dikamar tercintanya.

"Baguslah.. Ku harap adikmu bisa menjadi lebih baik. Kau tau dia masih sangat muda, tidak baik jika ia tidak disibukan dengan hal-hal seperti sekolah. Aku khawatir adikmu akan tumbuh menjadi gadis liar yang tidak terkontrol." Sahut Yifan dari seberang sana.

"Kau benar anggap saja aku sedang melakukan amanat mendiang orang tuaku." Ujar Baekhyun tiba-tiba teringat masa-masa Kyungsoo baru lahir ke dunia dan bagaimana perubahan sikap ayahnya terhadapnya.

*flashback On

Setelah kematian ibunya akibat melahirkan Kyungsoo satu tahun lalu, Akhirnya Baekhyun baru mau menata lagi hidupnya yang sempat sangat berantakan, Gadis yang saat itu masih berusia 20 tahun tersebut merasa sangat sulit menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan ibunya. Hari-hari dilalui dengan meratapi kesedihannya, tapi berkat ketegaran hatinya, ia mulai bangkit.

Saat itu Kyungsoo sudah beranjak usia 1 tahun, ada baby sitter yang merawatnya karena Tn. Byun sibuk bekerja seperti biasa. Baekhyun sama sekali tidak pernah menyentuh adik kecilnya itu, sekalipun saat ia tak sengaja mendapati Kyungsoo dikeadaan sakit atau menangis di dalam keranjang bayinya karena ingin di gendong, ia merasa haram jika harus bersentuhan dengan Kyungsoo. Baekhyun benar-benar tidak peduli dengan tumbuh kembang adiknya sendiri.

"Ayah, hari ini kan ayah libur. Bagaimana jika kita jalan-jalan, aku sedang suntuk karena tugas kuliahku." Rengek Baekhyun dengan manja.

"Maaf Baek bukan ayah tidak mau, tapi besok kan hari ulang tahun adikmu yang pertama. Kita harus mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuknya." Jawab Tn. Byun mengelus rambut halus milik putri sulungnya.

"Jadi ayah lebih memilih untuk persiapan pesta anak itu daripada aku?" Baekhyun mulai merajuk.

"..." Ayahnya hanya diam.

"Aku tak percaya jika ayah setega ini padaku, selama satu tahun aku begitu sulit untuk melanjutkan hidupku, bahkan ayah tidak ada disampingku karena sibuk bekerja dan mengurus Kyungsoo. Apa ayah pernah tau bagaimana hidupku setelah kematian ibu? Ayah sungguh tidak adil."

"Baekhyun!" Panggil ayahnya.

Tapi sayang Baekhyun sudah lebih dulu pergi meninggalkan kamar Tn. Byun. Ia pergi tanpa tujuan, saat ini ia tidak tau harus mengadu pada siapa. Karena Wu Yifan saja sudah meninggalkannya setahun yang lalu, kini Baekhyun hanya seorang diri duduk di sebuah taman mengeluarkan segala luapan emosionalnya.

Hari sudah berganti malam, tapi Baekhyun tak kunjung pulang. Ayahnya mulai khawatir, meskipun sudah duduk dibangku kuliah Baekhyun tetaplah gadis manja ayahnya. Tn. Byun memutuskan untuk mencari kemana perginya Baekhyun.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Tn. Byun sudah mengelilingi seluruh kota Seoul tapi ia tak juga menemui putrinya. Tn. Byun bahkan tidak tau siapa saja sahabat putrinya, mungkin saja anaknya saat ini sedang menginap disana.

Tapi ternyata pikirannya salah saat ia mendapati Baekhyun tengah duduk di pinggir jalan seperti orang gila. Gadis itu menekuk tubuhnya hingga wajahnya tertutup oleh kedua lututnya. Tn. Byun bisa mengenali itu Baekhyun dari pakaian yang ia pakai tadi siang.

"Astaga Baekhie..."

Tn. Byun keluar dari mobilnya berniat untuk menemui putrinya itu,

"Baekhieeee!" Panggil Tn. Byun

Baekhyun mendengar suara ayahnya sedang memanggilnya, ia mendongakkan kepala.

"Ayah..." Lirih gadis yang sudah sangat kacau itu. Hatinya begitu sedih saat ini.

"Bangunlah sayang.." Ayah Baekhyun membantu Baekhyun berdiri, tapi apa yang Ia dapatkan? Baekhyun malah menghempaskan tangan Tn. Byun.

"Untuk apa ayah mencariku? Hixs.. Hixs.."

Syukurlah jalanan disekitar situ sudah mulai sepi, mengingat ini sudah tengah malam.

"Karena kau anak ayah.." Lirih Tn. Byun

"Tidak, anakmu hanya Byun Kyungsoo." Teriak Baekhyun.

"Apa yang kau katakan? Kalian anak ayah, ayah sangat menyayangi kalian. Percayalah nak."

"Ku mohon pergi dari sini, aku tidak butuh ayah. Aku bisa hidup sendiri! Ayah urus saja anak kesayangan ayah itu, bukankah tinggal beberapa menit lagi ia akan berulangtahun?"

Baekhyun berlari meninggalkan Tn. Byun, ia pergi ke seberang jalan. Disusul oleh Tn. Byun.

Tapi siapa sangka, saat Tn. Byun berlari guna menyusul putrinya ada sebuah mobil van hitam yang melaju sangat cepat.

Tiiiinnnnn... Tiiiiiiiiinnnnn...

"ARGGGGHHHHHH!"

CIIITTTTTTT

Baekhyun menoleh ke belakang, matanya terbelalak saat melihat tubuh ayahnya terpental sangat jauh. Ia tak percaya melihat dengan mata kepalanya sendiri ayahnya tertabrak sebuah mobil.

"Ayaaahhhh!"

Baekhyun berlari sekencang-kencangnya ke arah Tn. Byun.

"Ayahhhhhhh..." Lirih Baekhyun saat melihat ayahnya sudah berlumuran darah, bahkan sulit untuk membuka mulutnya.

"Baek... Argghhh.."

"Bertahanlah ayah, aku akan menghubungi ambulans." Baekhyun begitu panik.

"Baekkk.. Uhukkkk.."

Baekhyun terhenti saat ia melihat tampaknya ayahnya ingin mengatakan sesuatu.

"Apa yang ingin ayah katakan? Hixs hixs.."

"A...yah sa..ngat.. Uhukkk.. Menyayangimu Baek.."

Baekhyun meraih tangan ayahnya dan sibuk menciuminya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, air mata penuh penyesalan karena telah marah pada ayahnya.

"Ber..janjilah u..ntukk menjaga adikmu. Apapun yang terjadi..."

"Dan katakan padanya..."

Sejenak Tn. Byun terdiam, matanya mulai terpejam. Baekhyun semakin panik..

"Ayah..."

"Selamat ulang ta...hun..."

Disaat yang bersamaan akhirnya Tn. Byun menghembuskan nafas terakhirnya. Baekhyun sungguh tidak percaya, ini seperti mimpi baginya karena dengan terpaksa ia menyandang status anak yatim piatu diusianya yang masih sangat muda, disaat ia masih membutuhkan uluran tangan orang tuanya, bahkan gadis itu belum sempat membahagiakan mereka. Semua terlalu cepat...

Kedua orang tuanya harus meninggal tepat hari ulang tahun Kyungsoo hanya berbeda tahunnya saja. Sejak saat itu Baekhyun menutup hatinya untuk menyayangi Kyungsoo, tak akan ia biarkan rasa sayang hinggap di hatinya untuk gadis bermata besar itu. Obsesinya akan kesuksesan benar-benar menggelapkan mata dan membutakan hatinya. Kepahitan dimasa lalu membuat gadis itu menjadi sekeras batu, jauh dari kata Cinta. Ia pikir dengan menjadi sukses dan mandiri, maka ia akan mampu menghidupi Kyungsoo dan tentunya ia bisa mengendalikan adiknya sesuka hatinya kelak. Ini bukan akhir, tetapi pertunjukan ini baru saja akan dimulai.

*Flashback End

"Baek, kau baik-baik saja?"

Lamunan Baek buyar, matanya kini berkaca-kaca.

"Sudah dulu ya, aku ingin istirahat. Aku rasa aku sangat lelah."

Suara Baekhyun mendadak bergetar menahan tangis.

"Baiklah, selamat malam sayang."

Baekhyun menutup teleponnya, ia membaringkan tubuhnya dan menangis dibalik selimut tebalnya itu.

"Ayah.. Ibu.. Aku sangat merindukan kalian." Lirihnya.

.

.

.

Chanyeol mulai membaca situasi rumah keluarga Byun, ia memutar otak bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengan Baekhyun. Akhirnya ia menukar jam belajar Kyungsoo menjadi malam hari, karena ia tau Baekhyun harus bekerja di pagi hari dan pulang di malam harinya.

Tak terasa sudah seminggu Chanyeol mengajar di rumah Kyungsoo. Setiap hari diam-diam ia mencuri pandang kepada Baekhyun dan selalu memperhatikan wanita itu. Bagaimana dengan Kyungsoo? Tentu saja semakin hari ia semakin menyukai Park Chanyeol, tak khayal jika di dinding kamarnya telah tertulis sebuah tulisan yang ia tulis dengan menggunakan Liptik, "I love u, Dobi."

Sewaktu ketika Baekhyun masuk ke kamar adiknya, ia pernah melihat tulisan itu. Hanya saja ia tidak tau Dobi itu siapa, menurutnya Dobi adalah nama yang aneh, bukan seperti nama orang korea. Lagipula apa pentingnya Kyungsoo? Ia berusaha untuk tidak peduli.

.

.

.

Malam itu Chanyeol tak sabar untuk menanti kepulangan Baekhyun, sedari tadi ia tampak gelisah. Itu bisa terlihat oleh Kyungsoo. Gadis itu merasa penasaran.

"Kau tampak gelisah, ada apa?" Tanya Kyungsoo. Chanyeol menggaruk kepalanya canggung.

"Tidak, lanjutkan belajarmu. Sampai dimana kita tadi...?"

"Apa kau sedang ada janji? Sejak tadi kau melihat ke arah jam."

"Nona..."

CEKLEK

"Aku pulanggggg..."

Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang, sontak Chanyeol berdiri dari duduknya ia siap menyambut pujaan hatinya dengan senyuman terbaiknya. Tapi seketika senyuman itu memudar saat ia mendapati Baekhyun pulang bersama seorang pria yang tak lain adalah Wu Yifan.

Kyungsoo menghela nafas panjang, ia begitu malas karena kedatangan Yifan. Ia mulai merasa sudah tidak aman dirumahnya sendiri.

"Selamat malam Nona." Sapa Chanyeol dengan senyum kecutnya.

"Ahh.. Yifan kenalkan ini guru Kyungsoo, Park Chanyeol."

Yifan dan Chanyeol saling berjabat tangan. Kyungsoo pura-pura sibuk dengan tugasnya. Yifan melirik sebentar ke arah gadis mungil yang sudah seminggu tak ia temui itu.

"Bagaimana Kyungsoo? Apa ia belajar dengan baik?" Tanya Yifan, Kyungsoo mendecih mendengar itu.

"Tentu tuan, ia adalah murid yang baik. Sejauh ini sudah lumayan pesat perubahannya."

"Bagus kalau begitu.."

"Yasudah, kami tinggal dulu. Selamat melanjutkan." Sahut Baekhyun.

Baekhyun sejenak menatap ke arah Chanyeol. ia teringat akan insiden malam itu, saat tak sengaja keduanya terbentur. Harum nafas pemuda itu masih melekat diingatan Baekhyun. Seketika ia mengusap wajahnya kasar, Baekhyun berusaha untuk melupakan itu semua. Karena yang ia tau, hanya Yifanlah yang mampu menarik perhatiannya.

KrisBaek pun masuk ke dalam kamar tanpa rasa canggung. Ada rasa sesak didada Chanyeol, kenapa ia tidak rela melihat itu semua? Salahnya yang berani menyukai wanita seperti Baekhyun yang sudah pasti akan mengencani pria yang mapan dan dewasa. Sangat berbanding jauh dengannya.

Wajah sedih itu ternyata terlihat oleh Kyungsoo. Kyungsoo begitu peka terhadap Chanyeol, maklum saja karena ia menyukai pemuda itu. Tapi percuma saja jika Kyungsoo menanyakannya pada Chanyeol, pasti ia tidak akan menjelaskannya.

.

.

.

Sepulang dari mengajar di tempat Kyungsoo, Chanyeol memutuskan untuk pergi ke lapangan basket. Hanya ada ia seorang, Ia meluapkan kesedihan hatinya dengan memainkan bola tersebut, namun tak ada satupun yang berhasil masuk ke dalam ring. Pemuda itu semakin kesal, seolah tak mempedulikan rasa lelahnya ia terus saja berlari kesana kemari dan mendriblekan basket tersebut hingga masuk ke ring. Lagi-lagi meleset, akhirnya ia melempar bola itu ke sembarang arah dan menjatuhkan dirinya dengan nafas yang menderu.

"Arggggghhhhh! Kau sungguh bodoh Park Chanyeol. Kenapa kau tidak mencari tahu terlebih dahulu? Bagaimana bisa kau menyukai wanita yang sudah memiliki kekasih?" Lirihnya.

.

.

.

Keesokan harinya, seperti biasa Kyungsoo bangun lebih awal daripada Baekhyun, kali ini ada sesuatu yang ia butuhkan dari kakaknya. Demi mengambil hati wanita monster itu, Kyungsoo harus bersusah payah membuatkannya sarapan serta bekal makanan untuknya. Apa yang Kyungsoo inginkan?

"Tunggu!"

Langkah Baekhyun terhenti saat ia mendengar suara Kyungsoo dari arah meja makan. Ia menoleh..

"Ada apa?" Tanyanya dingin.

"Aku sudah membuatkanmu dan Yifan sarapan, makanlah dulu."

"Oh, tumben sekali. Bahkan kau membuatkan ku Bekal segala.." Baekhyun terlihat meremehkan makanan buatan adiknya.

Ia duduk di bangku yang sudah disiapkan oleh Kyungsoo. Sesekali Kyungsoo melirik ke arah pintu kamar Baekhyun, kenapa makhluk tinggi itu tak ikut keluar bersama Baekhyun?

"Mana Yifan? Kenapa ia tidak keluar bersamamu?"

"Ia masih tidur, sepertinya ia akan disini sampai menunggu ku pulang. Kenapa?" Jawab Baekhyun sambil memotongi pancake diatas piringnya.

"Baek, ada yang ingin aku katakan."

"Apa? Katakan saja."

Sebenarnya Kyungsoo tidak yakin akan hal ini, tapi mengingat sekarang ia tidak memiliki kesibukan apapun, maka ia semakin sulit untuk bisa menyisihkan uang sakunya.

"Bisakah kau berikan aku uang?"

Baekhyun sejenak berhenti dan melirik ke arah Kyungsoo yang ada di bangku depannya.

"Untuk apa? Apakah uang saku bulananku tidak cukup?"

"Kim Jongin hari ini berulang tahun. Dan aku..."

Baekhyun mendengus kasar, ia meletakan garpunya dengan kasar.

"Jadi kau akan memberikan hadiah untuk kekasihmu itu, hem?"

Kyungsoo hanya mengangguk.

"Jika kau tidak sanggup untuk memberikannya hadiah, kau tidak perlu memaksakannya. Kau pikir aku bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk membelikan hadiah pada kekasihmu yang kurus itu?" Baekhyun bersedekap dengan wajah menyebalkannya itu.

"Tapi hanya kali ini saja ku mohon, Baek. Kau bisa memotong uang saku ku kalau kau mau?" Kyungsoo kali ini tampak memohon.

"Bagus.. Aku senang kau memohon padaku, gadis bodoh." Batin Baekhyun.

"Ku mohon, Baek.." Lirih Kyungsoo.

Baek memilih untuk diam menghabiskan makannya karena waktunya sudah tidak banyak. Kyungsoo masih menanti jawaban Baekhyun.

Selang tiga menit akhirnya Baekhyun menghabiskan sarapannya, tanpa mempedulikan Kyungsoo yang masih setia menantinya, ia beranjak dari duduknya dengan santai.

"Bagaimana Baek, apa kau bisa memberikannya?" Kyungsoo memastikan.

Baekhyun mengeluarkan senyum miringnya, ia begitu bahagia bisa melihat Kyungsoo kesusahan seperti saat ini.

"Kau mau tau jawabannya?"

"..."

"DALAM MIMPIMU!"

DEG

Sungguh Baekhyun yang kejam, ia pergi begitu saja tanpa membawa bekal yang sudah Kyungsoo siapkan untuknya. Kyungsoo membatu, amarahnya kini berada dipucuk kepalanya. Ia sungguh tidak tahan dengan sikap Baekhyun.

Di ambilnya kotak bekal itu kemudian ia membuangnya di tempat sampah begitu saja. Kyungsoo berlari ke kamarnya dilantai dua, ia menangis karena kesal.

.

.

.

Masih dihari yang sama, hanya saja waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kyungsoo baru saja menyelesaikan makan siangnya. Sepertinya Yifan tidak menyentuh sarapan yang ia buatkan tadi pagi, terbukti dari utuhnya Pancake yang ada di atas meja makan. Kyungsoo merasa hari ini ia sudah membuang banyak makanan untuk orang-orang yang tidak menghargai apa arti makanan itu.

Kyungsoo sedang asik mencuci piring, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pelukan seseorang dari belakang. Pelukan yang begitu erat bahkan mampu membuat Kyungsoo sulit bernafas.

GREP

"Astaga! Apa yang kau lakukan Yifan?" Teriak Kyungsoo terkejut.

"Ssstttt.. Jangan berteriak, aku hanya ingin memeluk adik kecilku saja." Sahut Yifan seduktiv.

Kyungsoo berontak, ia beberapa kali berusaha untuk melepaskan dirinya dari Yifan namun gagal karena pria itu lebih kuat.

"Ku mohon lepaskan aku..."

"Ku dengar-dengar kalau tidak salah tadi pagi kau berseteru dengan Baekhyun. Kalau boleh tau, apa yang kalian debatkan?" Tanya Yifan kini ia mengendus-endus rambut Kyungsoo.

"Kau sungguh tidak sopan!"

"Ayolah, aku tau kau sedang membutuhkan sejumlah uang kan untuk membelikan kekasihmu yang bodoh itu hadiah?"

"Dengar Yifan, jika kau tidak melepaskan pelukanmu ini aku bersumpah akan memberitahukannya pada Baekhyun." Ancam Kyungsoo yang terus meronta-ronta.

"Hahahahaha... Kakakmu terlalu mencintaiku, ia tidak akan mempercayai adik yang di bencinya ini."

Kyungsoo kehabisan kata-kata, jika dipikir-pikir ada benarnya, Baekhyun tidak akan mempercayainya. Karena ia terlalu mencintai pria brengsek seperti Yifan.

Tapi kenapa mendadak dadanya terasa sesak saat mendengarkan perkataan Yifan, benarkah Baekhyun menceritakan semuanya termasuk kebencian Baekhyun terhadapnya?

"Aku punya banyak uang, bahkan aku bisa memberimu lebih dari yang kau butuhkan. Tapi kau harus menciumku. Kau benar-benar mengingatkan aku pada mendiang adikku."

DEG

Kyungsoo tak menyangka jika selama ini apa yang ia pikirkan tentang Yifan benar adanya, Yifan hanya pria brengsek yang berniat untuk mempermainkan kakaknya. Padahal jika dilihat, Baekhyun sungguh bahagia semenjak kehadiran Yifan dihidupnya. Tapi apa yang dilakukan Yifan? Hanya sebuah pengkhianatan.

Tubuh gadis itu bergetar hebat, ia benci pada Baekhyun yang pintar tapi terlalu bodoh dalam memilih pria. Tak bisakah ia merasakan sesuatu yang menjanggal dari kekasihnya itu.

Yifan membalikkan tubuh Kyungsoo dengan kasar, kini Kyungsoo hanya pasrah. Tenaganya telah habis karena pemberontakan yang ia lakukan sedari tadi.

Ia bisa melihat jelas seringai yang terpasang di wajah si Brengsek itu. Begitu menjijikan! Wajah itu semakin mendekat ke arah Kyungsoo, sementara Kyungsoo sibuk membolak-balikan wajahnya guna menghindar dari Yifan.

Tiba-tiba...

PLAK!

Kyungsoo berhasil menampar Yifan hingga tercetak kemerahan di pipi mulus pria itu.

"Sial!" Rutuk Yifan menghempaskan tubuh Kyungsoo hingga tersungkur ke lantai.

Dengan sisa tenaga yang ada, Kyungsoo berlari ke kamarnya dan ia mengunci pintu. Gadis itu begitu ketakutan...

.

.

.

Setelah kejadian tadi siang, Yifan memutuskan untuk kembali ke apartmentnya dengan alasan ada beberapa teman lamanya yang akan berkunjung kesana. Dan tentu saja, Baekhyun hanya mempercayai kekasihnya.

Kyungsoo mengetahui kepergian Yifan dari suara mobilnya yang terdengar hingga ke kamar gadis itu. Setelah dirasa aman, Kyungsoo turun ke bawah karena ia harus secepatnya menyelesaikan tugasnya sebelum Baekhyun kembali nanti. Ia tidak ingin menambah masalah hari ini, baginya sudah cukup apa yang Yifan lakukan tadi kepadanya. Saat sedang melanjutkan cuci piring, tercetus sebuah ide yaitu membuatkan kue untuk Jongin. Mengingat Kyungsoo yang tak memiliki uang untuk membelikan hadiah lain. Ia pun bergegas untuk membuat kue tersebut meskipun dalam suasana hati yang kacau, yaitu hampir diperkosa oleh kekasih kakaknya sendiri.

Malam ini Kyungsoo berpenampilan sangat cantik, ia mengenakan Rok span hitam selutut dan sweater rajut biru navy. Ia membuat dengan sahabatnya untuk bertemu di Taman waktu itu, Kyungsoo yakin Jongin akan menyukai kue buatannya.

Di sepanjang perjalanan, Kyungsoo teringat kejadian memilukan tadi siang. Bagaimana mungkin Yifan melakukan itu padanya?, Kyungsoo harus mencari cara agar bisa keluar dari masalah ini. Ia hanya berharap semoga Yifan tidak menginjakkan kaki lagi dirumahnya.

.

.

.

"Kenapa kau lama sekali?" Tanya Jongin. Saat ini dua remaja itu tengah duduk dibangku taman.

"Maafkan aku, hari ini aku mengalami hari yang berat, kkamjong." Lirih Kyungsoo.

"Kau bertengkar lagi dengan kakakmu?"

"Begitulah.. Tapi ada lagi yang lebih mengerikan."

"Apa? Katakan padaku...?" Jongin cemas.

Kyungsoo terdiam, ia menatap Jongin cukup lama. Pemuda itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Lupakan! Aku tidak sudih mengingatnya, yang terpenting sekarang kita rayakan dulu ulang tahunmu."

Jongin menggelengkan kepala, lagi-lagi gadis itu tidak ingin membuatnya khawatir. Kyungsoo membuka sebuah kotak yang berisikan kue tart kecil manis yang tertancap sebuah lilin di atasnya. Jongin terharu melihat itu..

"Apa kau yang membuatnya?"

"Tentu, dengan sepenuh hatiku." Jawab Kyungsoo.

Kyungsoo menyalakan lilin tersebut, dan mereka pun menyanyikan lagu ulang tahun Jongin hanya berdua saja. Jongin begitu bahagia, bahkan ia hampir saja menitikkan air matanya.

"Sekarang tiup lilinya, jongin." Titah Kyungsoo. "Tapi sebelumnya kau harus buat satu permintaan ya?" Timpalnya.

Kim Jongin memajukan wajahnya ke arah Lilin yang menyala itu, matanya terpejam sejenak sampai ia kembali membuka matanya dan siap meniup lilinnya.

"Yeayyyyy... Selamat ulang tahun sahabatku." Kyungsoo memeluk Jongin. Senyumnya begitu tulus.

"Terima kasih."

"Apa yang kau minta?" Kyungsoo penasaran.

"Kau mau tau?"

"Tentu, kurasa tuhan tidak akan keberatan jika doamu telah aku ketahui."

"Baiklah, aku meminta pada Tuhan... Kebahagiaanmu."

DEG

BLUSH

"Jongin..." Lirih Kyungsoo.

"Aku hanya ingin kau bahagia Kyungsoo, sungguh. Maaf jika sebagai sahabat aku masih banyak kekurangan, contohnya tubuh kurusku ini. Mungkin suatu saat jika ada berandal datang padamu meskipun aku sudah berusaha menolongmu, aku akan tetap kalah melawan mereka. Hahahaha.."

Kyungsoo terharu mendengar penuturan sahabatnya itu. Tampak bodoh dan konyol. Oh ayolah, yang Kyungsoo inginkan adalah sosok tampan, tinggi, pemberani dan terutama bisa melindungi Kyungsoo.

"Tapi, aku akan tetap berusaha untuk selalu ada disampingmu. Sekalipun aku harus babak belur karena para berandal itu. Dan satu lagi, aku tidak bisa membelamu dihadapan kakakmu itu. Kau tau, ia seorang wanita dan aku menghormatinya karena ia adalah kakakmu. Aku tidak mungkin bertingkah kurang ajar kan." Tambah Jongin.

TES

TES

Air mata Kyungsoo terjatuh, ia tak kuasa menahan air matanya. Ternyata ia memiliki sahabat yang begitu menyayanginya. Jongin yang melihat itu pun segera menghapus air mata yang ada dipipi Kyungsoo.

"Seperti ini, aku akan menghiburmu disaat kau sedang sedih."

"Kau membuatku sedih, bodoh." Kyungsoo memukuli lengan Jongin.

Sementara dikediaman keluarga Byun.

Baekhyun merasa lapar, ia tidak tau harus membuat apa. Karena Baekhyun tidak bisa masak seperti Kyungsoo, ia hanya bisa membuat Roti panggang, Omelete dan pancake saja. Ia bosan jika harus membeli makanan diluar. Wanita itu memutar otaknya, bagaimana caranya agar ia bisa mengolah bahan-bahan yang ada didalam kulkas.

TING

TONG

"Gadis bodoh! Pasti dia lupa membawa kunci." Gerutu Baekhyun sinis.

Dengan langkah santai, ia pergi menuju ke arah pintu.

CEKLEK

Mata sipit itu membesar, ternyata itu adalah Park Chanyeol.

"Selamat malam Nona, apa Nona Kyungsoo ada?" Sapa Chanyeol dengan senyum canggungnya.

"Dia sedang keluar, memangnya hari ini tidak libur? Seharusnya anak itu tau jika kau akan datang." Baekhyun membiarkan Chanyeol diluar.

"Baiklah, mungkin sebaiknya aku kembali besok saja. Selamat malam No..."

"Selamat malam Park." Potong Baekhyun. Kemudian..

BLAM!

Baekhyun menutup pintunya begitu saja tanpa menunggu Chanyeol menyelesaikan perkataanya.

Chanyeol hanya tersenyum memaklumi, ia pikir wajar saja Baekhyun bersikap dingin dan formal padanya karena ia hanya seorang guru, guru dari adiknya.

Chanyeol membalikkan tubuhnya, baru saja kakinya melangkah 10 langkah. Tiba-tiba...

CEKLEK

"Hai, Park b-bisakah kau membantuku?"

.

.

.

Kim Jongin dan Byun Kyungsoo kini tengah menghabiskan waktu mereka berdua ditaman dalam rangka hari ulang tahun pemuda berkulit Tan itu. Setelah menghabiskan kue Tartnya, Kyungsoo meminta Jongin untuk bermain bola basket. Ia duduk dipinggir lapangan, seolah-olah sedang memberikan semangat. Setelah itu ada saatnya dimana Jongin mengajari Kyungsoo cara memasukan bola ke dalam ring. Mereka tampak bersenang-senang malam itu, meskipun semua terkonsep sederhana.

Cuaca memang tidak pernah bisa diterka. Seperti malam ini, Tiba-tiba saja kota Seoul diguyur hujan seolah tanpa permisi. Kedua anak remaja itu membiarkan tubuhnya dibasahi oleh guyuran air hujan, mereka berlari kesana kemari. Bermain petak umpat selayaknya anak kecil hingga lupa akan waktu. Kita biarkan Kaisoo dengan dunianya..

Berbeda dengan Kaisoo. Chanyeol dan Baekhyun tengah berkutat di dapur. Ya, Baekhyun meminta Chanyeol untuk membuatkannya Nasi goreng kimchi. Hujan diluar tak menyurutkan semangat Chanyeol untuk memamerkan salah satu bakat terpendamnya, yaitu memasak. Ia ingin mempersembahkan hidangan yang lezat untuk tuan putrinya.

Seperti pasangan suami istri, Baekhyun berdiri disamping Chanyeol yang sibuk mengolah bahan-bahan yang diperlukan. Ia sedikit takjub pada Chanyeol, selain pintar ternyata pemuda itu juga bisa memasak. Sesekali Chanyeol meminta Baekhyun untuk mencicipi masakannya..

"Aku rasa masih hambar, bisa kau tambahkan garam sedikit lagi?" Ujar Baekhyun, ekspresi wajah Baekhyun saat itu sungguh menggemaskan. Ia ingin sekali mencubit hidung mungil yang ada di wajah wanita itu.

Keadaan canggung itu mulai mencair. Terkadang mereka bercanda, Baekhyun mengajak Chanyeol untuk bermain pedang-pedangan dengan menggunakan spatula. Bahkan Baekhyun dengan usilnya menggelitik telinga renyah itu dengan daun seledri, alhasil Dobi itu kegelian dan ia membalas menggelitik pinggang ramping Baekhyun. Tak tanggung-tanggung, mereka bertingkah selayaknya penyanyi dengan menggunakan spatula sebagai Mic-nya.

Kyungsoo sudah lelah untuk bermain-main dengan Jongin, hampir satu jam mereka terkena hujan tak dipungkiri rasa dingin mulai menggerogoti tubuh Kyungsoo. Bibirnya mulai membiru, Jongin yang cemas pun akhirnya membawa Kyungsoo pulang.

Tapi ada yang aneh saat Kyungsoo melihat lampu rumahnya masih menyala, padahal ini sudah pukul 11 malam. Apa Baekhyun lupa lagi mematikan lampu sebelum tidur?

"Mampirlah, kau sangat basah jongin. Akan ku buatkan kau susu hangat."

"Tapi Kyung, kakakmu..." Jongin menahan langkah Kyungsoo.

"Dia pasti akan mengerti. Ayolah..."

Dengan terpaksa menghargai keinginan Kyungsoo, Jonginpun ikut.

CEKLEK

"Aku pulaaanggg.."

Baekhyun dan Chanyeol menoleh secara bersamaan ke arah pintu masuk.

"Kau baru pulang?" Sahut Baekhyun.

Kyungsoo terkejut saat ia mendapati Baekhyun tengah duduk di sofa ruang tv bersama Chanyeol.

"Dobi Hyung..." Panggil Jongin seakan tak percaya adanya Chanyeol didalam rumah Kyungsoo.

Baekhyun mengernyitkan dahinya begitu melihat Chanyeol dan Jongin begitu akrabnya.

"Jadi Dobi itu..." Batin Baekhyun.

"Hai Kai ternyata kau berteman dengan nona Kyungsoo?" Ujar Chanyeol beranjak dari duduknya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Jongin bertanya-tanya.

"Aku adalah guru nona Kyungsoo." Jawab Chanyeol.

"Kyung, kenapa kau tidak memberitahuku? Jadi sekarang kau mengikuti program Home Schooling?"

"Hmm yaa.. Aku lupa memberitahumu." Jawab Kyungsoo pelan, ia terus memusatkan pandangannya ke arah Chanyeol. Kyungsoo cemburu melihat pemuda itu bersama kakaknya, apalagi jika dilihat nampaknya mereka baru saja makan malam bersama. Apa benar mereka seakrab itu? Jika benar, lantas sejak kapan?

"Duduklah, akan aku buatkan kau susu hangat." Tambah Kyungsoo datar.

Burung hantu itu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman Jongin. Mendadak moodnya menjadi buruk, dari sana ia bisa mendengar Jongin dan Chanyeol yang sibuk berbincang.

"Wahhh jadi ternyata Dobi itu Park Chanyeol?"

Kyungsoo terkejut melihat Baekhyun sudah berdiri dibelakangnya.

"Apa maksudmu?" Kyungsoo pura-pura tidak mengerti.

"I Love u, Dobi." Baekhyun mendengus kasar. "Jadi ternyata telah terlibat cinta segitiga antara Kim Jongin, Byun Kyungsoo dan Park Chanyeol. Astaga! Bahkan mereka berteman." Timpalnya

"Kau jangan mencampuri urusanku! Urus saja hidupmu.." Sahut Kyungsoo yang sedari tadi membelakangi kakaknya.

"Ternyata kau benar-benar gadis murahan!"

DEG

Perkataan Baekhyun membuat Kyungsoo merasa panas. Semua tidak seperti yang Baekhyun kira. Salahnya telah berbohong waktu itu, mengakui Jongin sebagai kekasihnya. Kini disaat Baekhyun mengetahui perasaan Kyungsoo terhadap Chanyeol, ia menjadi salah paham.

"Kenapa kau diam saja?" Ujar Baekhyun menyilangkan tangannya didada.

"Aku tidak mempunyai waktu untuk meladeni wanita gila sepertimu." Jawab Kyungsoo berhasil memancing amarah Baekhyun.

Susu hangat untuk Kim Jongin telah siap, Kyungsoo melewati Baekhyun yang sedang memasang wajah kesal padanya begitu saja. Itulah Baekhyun, ia begitu pemarah.

.

.

.

"Maaf membuatmu menunggu lama." Ujar Kyungsoo meletakkan susu hangat di atas meja.

"Oh jadi kau adalah gadis yang bersama Kai malam itu ya?" Tanya Chanyeol pada Kyungsoo.

"Sial! Apa saja yang sudah si hitam ini katakan pada Chanyeol? Apa ia sudah mengatakan yang tidak-tidak?" Batin Kyungsoo.

"Iya benar." Jawab Kyungsoo singkat.

Tak lama Baekhyun datang..

"Baiklah, karena ini sudah malam. Aku rasa aku harus segera tidur. Dan berhubung kau ternyata sudah bertemu dengan Kyungsoo dan Jongin, maka izinkan aku untuk pamit tidur." Ujar Baekhyun.

"Selamat malam Nona Baekhyun." Sahut Chanyeol.

"Oh ya, terima kasih atas masakannya ya. Aku harap kita bisa melakukannya lagi lain waktu." Baekhyun mengeluarkan smirknya, ia sengaja ingin membuat Kyungsoo cemburu dan benar saja terbukti dari wajah Kyungsoo yang tampak menahan marah. Sementara Chanyeol, ia begitu senang mendengarnya.

Akhirnya mereka bertiga melanjutkan perbincangan mereka. Hanya 30 menit setelah kepergian Baekhyun, dua pemuda itu pamit pulang karena hari sudah terlalu malam dan hujanpun sudah reda. Udara malam ini begitu dingin, Kyungsoo melihat sepertinya Chanyeol tidak memakai mantel, ia hanya mengenakan kemeja tipis maka itu Kyungsoo berniat untuk meminjamkannya sebuah shawl berwarna merah.

"Tunggu!"

Dua pemuda itu saling bertatapan, apa yang akan dilakukan Kyungsoo dengan shawl itu. Jongin yakin bahwa sahabatnya pasti akan memasangkan shawl padanya, karena jika dilihat pakaian Jongin masih sedikit basah. pikirnya, Kyungsoo pasti tidak ingin Jongin kedinginan. Namun sayang, keyakinan Jongin pupus saat ia melihat gadis yang ia sukai malah memasangkan shawl tersebut kepada Chanyeol.

DEG

Hati Jongin serasa ditusuk-tusuk.

"Pakailah, diluar sangat dingin. Jika kau sakit, kau tidak bisa mengajarku." Ujar Kyungsoo begitu tulus.

Chanyeol merasa canggung, ia menatap tak enak pada Jongin.

"Dan kau Jongin, rumahmu kan dekat. Aku rasa tidak apa kan jika kau menahan dingin sebentar saja."

Kyungsoo dengan polosnya mengatakan itu. Jongin terpaksa tersenyum untuk menutupi kesedihannya.

"Santai saja Kyung.. Walau tubuhku kurus, tapi aku kuat." Sahut Jongin sekuat tenaga mencoba untuk tetap ceria.

"Yasudah selamat malam semuanya, sampai bertemu lagi..."

.

.

.

Kim Jongin kini sedang berdiri di Balkon kamarnya seorang diri. Ia sengaja mematikan lampunya agar tak terlihat orang lain dari luar. Tapi sekarang sudah pukul 3 dini hari, harusnya untuk seorang siswa kelas 1 SMA, ia sudah tidur karena besok pagi harus berangkat sekolah. Apa yang dilakukan Jongin disana?

Kim Jongin tak bisa mengelak bahwa sahabatnya menyukai Park Chanyeol. Tatapan mata Kyungsoo saat memakaikan Shawl pada pria yang memiliki tubuh lebih tinggi daripadanya itu sungguh penuh arti.

Hatinya sakit, hatinya hancur bahkan hatinya mati rasa. Itulah yang Jongin rasakan.

"Hixs.. Hixs.. Kapan kau akan menyadari bahwa aku menyukaimu, Kyungsoo.." Lirih Jongin.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Kyaaa.. Jongin Galau, please jangan galau Jongin kan masih ada aku. *peace

Aduh kayanya makin berbelit nih ceritanya ya, tapi gimana Chanbaek momentnya? Udah puas belum? Apa masih kurang so sweet?

Maafin kalau tulisannya masih berantakan, kosa kata masih terbatas. Ini juga sambil belajar kok.

Masalah Yifan, iya aku sengaja memang bikin dia antagonis, karena sebenernya dia juga penghantar Baekhyun ke Chanyeol. Soalnya kalau Baekhyun gak sama Chanyeol, kasian si Jongin gak bisa dapetin Kyungsoo.

Pokoknya ikutin aja ya terus. Jangan lupa minta Reviewnya buat nyemangatin aku nulis. Ok?

GOMAWO :D