Im Ok! But He's Not!

Byun Baekhyun x Park Chanyeol

Other cast:

Kim Jongin - Xi Luhan - Oh Sehun - Do Kyungsoo

Chapter 3

.

.

Kai menelan suapan sushi miliknya dengan wajah segar seperti habis mandi. Setelah beberapa waktu terakhir, tiga hari kemarin barulah dia bisa merasakan yang namanya 'makan dengan khidmat'. Tentu saja, selama tiga hari itu tidak ada yang namanya pembullyan lagi, Kai bersyukur selama itu dia bisa setidaknya hidup dengan tenang. Namun, Kai juga kasihan kepada Baekhyun, walau ketika dia mengingat bagaimana namja manis itu memukul perutnya, seketika membuat peristiwa itu berputar kembali di otaknya. Sumpah! Demi apapun, pukulan Baekhyun benar-benar dahsyat, bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai saat ini.

Kai mengedarkan pandangannya ke arah lain, tepatnya di pojokan kantin, terlihat Baekhyun dan Squad nya sedang berada di sana. Entah sedang mengobrolkan hal apa, yang jelas mereka tampak asyik berceloteh seakan tidak ada siapa-siapa di sini, selain mereka semua. Bahkan suara Baekhyun sampai terdengar di tempat duduk Kai. Baru saja beberapa detik Kai menoleh, tiba-tiba saja Baekhyun mengalihkan pandangannya dan sukses mata mereka bertatapan. Kai merasa jantungnya berdetak dengan sangat cepat, buru-buru dia menjatuhkan matanya ke arah lain agar pandangannya tidak terpaku pada namja mungil di depan sana.

Baekhyun yang tadinya tak berniat beranjak dari tempatnya, mendadak mendapat sebuah ide saat melihat Kai yang duduk sendirian di depan sana. Baekhyun berbisik kepada Luhan dan Kyungsoo, kemudian pamit pada Jongdae dan Yixing yang ada di sana. Sehun dan Chanyeol sedang tidak ikut mereka, karena kedua namja tiang itu pasti akan lebih memilih tidur di Rooftop daripada menghabiskan waktu untuk sekedar makan. Tidak, bukannya mereka tidak suka makan, hanya saja keduanya terlalu malas untuk sekedar mengantri. Kalau ditanya kenapa, jawaban Sehun maupun Chanyeol cuma satu. Terserah orang ganteng, dong mau makan atau nggak!

Baekhyun beranjak dari tempatnya, berjalan menuju ke arah Kai yang masih sibuk makan. Kai terlonjak kaget, saat sumpitnya di rebut paksa oleh namja manis yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya itu. Luhan dan Kyungsoo juga ada di sana, duduk tepat di hadapan Kai. Kai yang merasa ada sesuatu yang tak beres di sini, kemudian menatap ke arah mereka bertiga.

"Apa yang kalian mau?" tanya Kai tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya kepada tiga namja pendek itu.

Baekhyun tak menjawab, dia justru menyumpit sushi terakhir Kai, kemudian melirik ke arah namja tinggi di sampingnya. "Tidak ada. Aku hanya mau makan di sini, memangnya tidak boleh? Ada larangan untuk kami makan di sini?" ujar Baekhyun.

Kai menggeleng. "Hanya saja aneh, kau tiba-tiba mendatangiku seperti ini," balas Kai.

Baekhyun berdecak sebal. "Ck! Aku jahat salah, aku baikpun juga salah. Lebih baik kau diam saja, daripada aku menghancurkan wajahmu dengan sumpit ini!" Kai terkejut setengah mati saat sumpit di tangan Baekhyun, mendadak muncul di depan wajahnya. Kalau saja ada malaikat lewat di sini, bisa dipastikan wajah Kai akan mencium ujung sumpit itu, dan dia yakin akan berakhir di rumah sakit karena hal itu.

"Kau membuatku jantungan, Baek!" seru Kai bergeser ke samping, sejauh mungkin dari Baekhyun yang bisa kapan saja melayangkan sumpit ke wajahnya itu.

"Lu, Kyung, pesan makanan sesuka kalian. Kita akan pesta hari ini! Dan jangan lupa apa yang kubilang padamu tadi, Kyung!" seru Baekhyun menampilkan smirknya bersama Luhan dan Kyungsoo. Sementara Kai hanya bisa bengong melihat interaksi ketiga namja sama ukuran itu. Ukuran tinggi.

"Siap Tuan. Kau mau pesan apa?" tanya Kyungsoo sambil melirik ke arah Baekhyun.

"Aku mau Jjangmyeon, Sushi, Burger, Fried Chicken dan jangan lupa Eskrim Stroberi, Kyung! Kau pesan apa, Lu?" Baekhyun balik bertanya pada Luhan.

Luhan tampak berpikir, kemudian dia mengangguk mantap. "Ramyeon, Tteokbokki, dan minumnya Bubble Tea, jangan sampai salah Kyung, ukuran yang paling besar oke?" ujar Luhan.

Kyungsoo memberikan jempolnya ke arah dua namja itu. "Baiklah, tunggu sebentar!"

Kai masih melirik kepergian Kyungsoo, dan dia agak sedikit merasa aneh dengan porsi makanan mereka bertiga, badan kecil, tapi kenapa makan seperti kuli bangunan? Baekhyun dan Luhan langsung sibuk dengan Ponsel mereka, sementara Kai hanya diam di sana, bingung harus melakukan apa. Mau mengajak ngobrol, dia segan, lagipula Kai tidak terlalu akrab dengan Baekhyun dan Luhan, walau mereka dulu sekelas selama 3 tahun di SMP.

Sementara Kai yang sibuk dengan pikirannya, Kyungsoo muncul bersama dua pegawai yang sedang membawakan pesanan mereka bertiga. Kyungsoo langsung duduk di samping Luhan yang matanya sudah berbinar menatap makanan di depan mereka. Begitupun dengan Baekhyun yang sudah menelan ludahnya daritadi, Kyungsoo sudah mengangkat sumpitnya menuju ke arah satu paket Sushi. Luhan bahkan sudah menyeruput kuah Ramyeonnya, tidak lupa bubuk cabe yang satu sendok dia masukkan ke dalam sana. Baekhyun hanya makan ayam gorengnya dengan khidmat, mengesampingkan namja yang didekat mereka sedang melongo bodoh.

"Apa kalian sanggup menghabiskann semua ini? Astaga! Perutku akan kembung melihat porsi makan kalian!" seru Kai frustrasi.

Baekhyun yang masih sibuk mengunyah hanya diam, Luhan lah yang menjawab pertanyaan namja yang sedang menatap ngeri ke arahnya. "Tentu saja! Itu kan kau, bukan kami," balas Luhan enteng sambil menghirup kembali kuah Ramyeon super pedasnya.

Kyungsoo sudah menghabiskan Sushinya, namja bermata doe itu mulai beralih ke Jjangmyeon, dan memakannya dengan sangat lahap. Baekhyun sudah selesai dengan acara ayam goreng, namja manis itu mengambil Burger dan mulai memakannya dengan ganas. Luhan masih sibuk dengan Ramyeonnya sesekali mengelap peluh yang berceceran di wajah cantiknya. Membuat Baekhyun menghentikan acara makannya.

"Lu, kurangi makan pedas. Nanti kau sakit perut lagi seperti hari itu! Aku tak tega melihatmu bolak balik toilet karena sembelit!" celetuk Baekhyun malas melihat namja cantik yang kini meminum paksa Bubble Teanya. Baekhyun menyodorkan air putih, yang langsung diterima baik oleh Luhan. Sungguh! Mulutnya seperti kebakaran saja.

"Tapi ini enak, Baek! Rasanya sangat aneh kalau tidak pakai cabe, sama saja seperti ditinggal Sehun keluar negeri. Kurang spesial!" ujarnya.

Baekhyun mual mendadak mendengar balasan namja itu. Dia menarik paksa mangkok Ramyeon Luhan dan menyodorkannya Jjangmyeon. "Ya tapi tidak usah banyak-banyak juga. Perutmu bisa meledak! Lagip—Yaa! Jangan pakai cabe sebanyak itu Luhan!" Baekhyun histeris saat Luhan hendak memasukkan satu sendok Cabe bubuk lagi di dalam Jjangmyeonnya.

Luhan nyengir lebar kemudian mengembalikan bubuk cabe itu ke tempatnya lagi. Kyungsoo hanya menggeleng lelah, melihat tingkah Luhan yang berlebihan itu. Sepertinya namja cantik itu memang tidak jera sama sekali. Kyungsoo tiba-tiba menjatuhkan pandangannya ke depan sana, matanya tak sengaja bertabrakan dengan Kai, membuat salah satu dari mereka mendesis tak suka. Yeah, orang itu adalah Kyungsoo, Kai tak berkutik saat mendapat Deathglare dari namja berkacamata di depannya.

"Kenapa menatapku? Mau kucincang? Kenapa kau hanya diam, makan punyamu sana!" teriak Kyungsoo tak santai.

Kai tergelak mendengar suara tajam namja itu. "Punyaku kan sudah habis—eh, rasanya tadi kau sudah memakan potongan Sushi terakhirku, Baek?" ujar Kai bingung saat melihat 3 potong Sushi ada di dalam bekas wadah tempat dia makan tadi.

"Kau itu bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas daritadi di sana masih ada 3 potong Sushi!" seru Baekhyun mulai melahap eskrimnya dengan wajah sumringah, mengacuhkan wajah bingung Kai yang masih asyik menatap potongan Sushi misteriusnya.

"Tapi tadi? Ah, sepertinya aku memang salah pandang!" ujar Kai sambil menyumpit Sushi nya tanpa curiga sedikitpun.

Baekhyun berdecak senang dalam hatinya. Dasar Bodoh! Tidakkah Kai lihat bagaimana senyum manis namja berwajah cantik yang sedang melahap Jjangmyeon di depannya itu, lalu menaikkan jempolnya tanpa diketahui oleh Kai sendiri. Baekhyun sudah selesai dengan makanannya, begitupun dengan Luhan dan Kyungsoo yang sudah terduduk kekenyangan. Bahkan Baekhyun bersendawa keras sekali. Kai sendiri masih menelan paksa potongan Sushi terakhir yang rasanya semakin aneh di mulutnya. Raut wajah Kai mendadak berubah setelah menghabiskan semua makanannya.

"Shhh kenapa Shhh lidahku rasanya mau terbakar saja!" Kai mengipas-ngipas mulut dengan tangannya.

Baekhyun menguap acuh, lalu menepuk pelan perutnya. "Lu, Kyung, aku sudah kenyang sekali, ayo kita kembali ke kelas!" ajak Baekhyun sambil beranjak dari tempat duduknya, diekori Kyungsoo dan Luhan.

"Hei Baek shhh, bagaimana denganku? Shhh ini benar-benar pedas. Hei jangan tinggalkan aku—air Shhh!" Kai berteriak saat melihat kepergian ketiga namja pendek itu. Sebelum mereka benar-benar menjauh, Baekhyun menoleh sekilas dan tersenyum sangat manis ke arah Kai di belakang sana.

"Ah ya Kai, terima kasih traktirannya!" teriak Baekhyun sekeras mungkin.

1 Detik

2 Detik

3 Detik

Kai masih diam memproses ucapan Baekhyun barusan. Dia tersadar saat rasa pedas di mulutnya kembali terasa. Namja tinggi itu masih asyik mengipasi mulutnya, bahkan bibirnya sudah memerah dan bengkak saking pedasnya. Astaga! Kai bisa gila! Apa ada lagi yang lebih buruk daripada, kau kepedasan, lalu ditinggalkan sendirian, dan parahnya tanpa minuman.

"Maaf, Tuan! Silakan bayar dulu semua makanan yang dipesan teman-temanmu tadi!" seorang pegawai mendadak muncul dan mengejutkan Kai. Sontak rasa pedas di mulutnya menguap mendadak berganti dengan rahangnya yang jatuh ke bawah saat mendengar ucapan Noona di depannya ini.

"Tapi..." Ah terkutuklah Baekhyun dan kedua konconya itu. Kai merasakan ketiban sial dua kali berturut-turut, sudah dibiarkan sendirian, sekarang dia juga yang harus membayar semua makanan ini. Seharusnya dari awal Kai sudah sadar, kalau memang ada yang tidak beres di sini. Mana mungkin Baekhyun rela membiarkannya makan dengan tenang. Ah Kai, kau memang bodoh!

Sebelum Kai sempat berkata-kata, seorang namja berkacamata muncul di antara mereka berdua. Dia meletakkan sebotol besar air putih di depan Kai, lalu menyodorkan beberapa lembar uang yang sejumlah dengan harga makanan yang mereka makan tadi.

"Menyusahkan saja!" seru namja itu langsung berlalu meninggalkan Kai yang masih mematung di bangku kantin. Kai masih menatap kepergian nanja pendek itu, lalu tersenyum samar dan menegak air putih yang diberikan namja itu tadi.

.

Baekhyun, Luhan tertawa terbahak sambil memegang perutnya kalau mengingat kejadian beberapa saat lalu, sedang Kyungsoo hanya menepuk pelan bahu kedua sahabatnya sambil ikut tertawa pelan.

"Tidak kau lihat bagaimana wajahnya tadi? Ahahah perutku sakit sekali," ujar Luhan masih asyik memegang perutnya.

Baekhyun ikut tertawa dan menarik Kyungsoo mendekat. "Kau benar, Lu. Kyungsoo memang hebat. Berapa banyak wasabi yang kau masukkan ke sana? Atau kau memasukkan cabe rawit ke dalamnya?"

"Entahlah, yang jelas aku memesan Sushi yang bisa membuat mulut terbakar," balas Kyungsoo enteng. Sontak, Baekhyun langsung menaikkan jempolnya ke atas sambil terus tertawa kencang.

"Tapi, kenapa tadi kau menolongnya, Kyung? Apa kau suka padanya?" tanya Luhan masih terus tertawa.

Baekhyun tiba-tiba berhenti berjalan. Luhan dan Kyungsoo ikut berhenti, dan menatap aneh ke arah namja yang sedang mengepalkan tangannya itu. "Tuan kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo pelan.

"Kau tidak boleh menyukainya! Tidak akan kubiarkan dia mendekatimu, Kyung! Kau tidak boleh berurusan dengannya lagi!" seru Baekhyun menekankan kata-katanya, membuat Kyungsoo dan Luhan mendadak panik di tempat.

"Tuan aku tidak menyukainya! Aku hanya mentraktir kalian, bukan membantunya!" elak Kyungsoo, membuat Baekhyun terdiam beberapa saat.

"Benar begitu?" tanya Baekhyun. Kyungsoo mengangguk meyakinkan, setelah namja manis itu tersenyum, barulah Luhan dan Kyungsoo bisa bernapas lega.

Ketiga namja itu berjalan di koridor yang sudah sepi, karena bel masuk baru saja berbunyi beberapa detik tadi. Luhan masih asyik tertawa saat mendengar celotehan Baekhyun dan Kyungsoo yang benar-benar mengocok perutnya. Bahkan mereka bertiga tak sadar, kalau dua namja tinggi sedang berjalan menuju ke arah mereka.

"Baek, aku perlu bicara denganmu. Berdua!" seru Chanyeol saat tiba di depan mereka bertiga. Luhan yang melihat kedatangan Sehun, langsung mendekat dan memeluk erat lengan namja itu.

"Eoh kau mau menggodaku, Chanyeol?" Baekhyun tersenyum-senyum sinting. Begitulah dia kalau bertemu Chanyeol, bahkan dia lupa kalau dia sedang kesal tadi. Hah! Byun Labil Baekhyun!

"Baek aku serius!" seru Chanyeol jengah.

"Ck! Kau mau mengajakku serius? Punya apa kau?" tanya Baekhyun tak nyambung.

Chanyeol sangat lelah. Dia menghentakkan pelan kepalanya ke dinding di sampingnya. Sedang si iblis kecil itu malah tertawa senang di tempatnya. Melihat bagaimana raut kesal Chanyeol, itu merupakan hiburan tersendiri baginya. "Baek sekali saja kau tidak usah bercanda! Berhenti mengerjai Kai, Baek! Kau sudah sangat keterlaluan padanya!" seru Chanyeol.

Baekhyun mendengus. "Ck! Kai Kai dan Kai! Apa tidak ada topik lain selain si sialan itu? Apa dia sangat penting bagimu, Chanyeol sampai kau mengkhawatirkan segitunya? Lalu aku ini apa bagimu? Kalau kau hanya ingin mengatakan hal tak penting, sebaiknya kau pergi dari hadapanku atau aku akan menendang kemaluanmu itu!" seru Baehyun berapi-api, berkebalikan dengan hatinya yang mendadak sakit saat Chanyeol kembali membuka luka lamanya.

"Baek kenapa kau jadi seperti ini!"

"Aku? Kau saja yang bodoh!" Sekalipun itu Chanyeol, kata-kata kasar tak akan pernah absen dari mulut manis si iblis kecil.

"Baek dengarkan aku dulu," Chanyeol menarik pelan lengan yang lebih pendek, namun dia harus menelan rasa pahit, ketika Baekhyun menghempaskan tangannya sangat kasar dan menuding wajah tampan namja di sampingnya.

"Terserah kau! Aku muak denganmu! Ayo Kyung kembali ke kelas. Kau tidak mau melihat Tuanmu ini meledak seperti waktu itu, bukan?" Kyungsoo mengangguk paham dan segera menarik lengan Baekhyun dan Luhan agar segera menjauh dari sana, sebelum Baekhyun benar-benar mengamuk dan menendang barang berharga milik Chanyeol.

Chanyeol menghela napasnya lelah. Dia mengira rencananya akan berjalan dengan mudah, tapi ternyata ini sama sekali tidak berjalan. Sehun hanya menepuk pelan bahu namja itu, dan mengajaknya ikut kembali ke kelas.

Luhan melirik Ponselnya, Baekhyun masih dalam mode diam di samping Kyungsoo, yang sibuk mengelus bahu Tuan mudanya itu. Namja cantik itu menyimpan HP dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun dan Kyungsoo.

"Hei Kyung, Baek? Hari ini Appaku ulang tahun. Kalian berdua akan kujemput nanti sore. Jangan sampai lupa, oke? Kau dengarkan ucapanku Tuan Byun?!" Luhan menekankan kata-katanya sambil melirik tajam ke namja manis itu. Sedang namja berkacamata di dekatnya hanya mengangguk mengiyakan.

.

.

"Annyeong Ajusshi! Selamat ulang tahun!" ujar Kyungsoo sambil tersenyum manis dan menyerahkan kotak kadonya pada Tuan Xi yang hanya terkekeh.

"Kau repot sekali, Kyung. Baiklah terima kasih!" seru Tuan Xi mengelus pelan puncak kepala namja itu.

"Selamat ulang tahun Ajusshi!" teriak Baekhyun keras. "Doaku hanya satu. Kuharap di umurmu yang sudah segini, kau bisa semakin kuat! Yeah, You Know What I Mean? Siapa tahu Eommaku itu kepengen punya Adik!" seru Baekhyun kelewat semangat sambil menampilkan senyum iblisnya dan melirik ke arah Luhan. Tuan Xi dan namja itu langsung ber-high-five ria, mengesampingkan Luhan yang sedang menahan amarah di ubun-ubunnya.

"Yaa! Mati kau Baek!" teriak Luhan sambil mengejar namja mungil yang sudah mendahuluinya di depan sana. Kyungsoo menutup wajahnya malu, sedang Tuan Xi dan Nyonya Xi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak lelaki itu.

"Kurasa situasinya terbalik, Kyung. Kalau begitu, kau saja yang jadi anakku!" seru Tuan Xi terkekeh.

Kyungsoo tertawa pelan. "Kau bisa saja, Ajusshi. Ya sudah, aku mau menyusul mereka. Sampai ketemu lagi!" Kyungsoo berteriak dan ikut mengejar dua temannya yang sudah saling berlari tak tentu arah di depan sana.

Tuan Xi menatap kepergian Kyungsoo, ikut menggelengkan kepalanya, dia baru saja hendak berlalu saat tak sengaja mendengar suara familier di dekatnya.

"Halo Paman! Selamat ulang tahun!" seru namja tinggi itu.

"Woah, calon menantuku sudah datang," balas Tuan Xi seraya menjabat tangan namja jangkung itu.

Si tersangka langsung tersenyum kikuk. "Eh Paman bisa saja," balas namja itu.

"Tidak usah sungkan, aku kan calon besan Appamu,"

Namja tinggi itu semakin terpojok, dia menggaruk tengkuknya malu, bahkan wajahnya sudah memerah saat ini. "Em Paman, omong-omong di mana, Luhan?"

.

Baekhyun dan Luhan masih asyik berlari-larian tak jelas di halaman luas rumah Appa Luhan, sementara Kyungsoo di belakang sana sudah tersengal-sengal dengan napas yang tak beraturan, namja berkacamata itu bahkan berhenti sebentar untuk mengatur napasnya. Sedang Luhan, namja itu menggeram dan beberapa kali kedapatan memaki Baekhyun dengan kesal, saat namja mungil itu mendadak memamerkan bokong sintalnya di depan sana dengan bangga.

"Yaa! Berhenti memamerkan bokongmu sialan!" teriak Luhan pecah, sedang namja manis itu hanya tertawa terbahak sambil terus berlari, tak mengetahui kalau di depannya ada seorang namja tinggi yang membelakanginya. Kyungsoo baru saja mau mengeluarkan suaranya, namun Tuannya itu lebih dahulu menabrak tiang listrik di depannya. Maksudku namja tinggi tadi.

Luhan menutup mulutnya, begitupun dengan Kyungsoo. Baekhyun jatuh terduduk di atas tubuh namja yang ditabraknya. Sial! Bokongku sakit sekali hah! batin Baekhyun mengerang. Luhan dan Kyungsoo segera menghampiri kedua orang yang masih tak bergerak di depan sana.

"Yaa! Menjauh dari tubuhku, Baek!" seru namja itu kuat.

Baekhyun tersadar dari keterdiamannya, kemudian menelisik ke seluruh tubuh namja yang sedang dia duduki. "Aku seperti kenal dengan suara ini—Huaa Luhan ternyata dia pacarmu!" balik Baekhyun yang berteriak kuat membuat namja tinggi itu terkejut bukan main dan langsung bangkit dari jatuhnya. Sontak saja Baekhyun terjengkang ke belakang dan jatuh untuk yang kedua kali. Beruntunglah, kali ini bokongnya hanya mencium rumput, bukan besi.

.

Di sinilah keempat orang itu terdiam. Di kamar Xi Luhan. Baekhyun tengah memeluk erat Kyungsoo di atas sofa, sedang Luhan duduk di atas ranjang bersama Sehun yang sejak tadi mengeluhkan bagian belakang tubuhnya yang seperti akan remuk saja. Luhan mengurut keras-keras punggung namja jangkung itu. Setelah insiden tertabrak-Baekhyun, Luhan langsung menyeret ketiganya masuk ke rumah untuk mengobati Sehun, bagaimanpun, semua kejadian ini adalah karena dia yang tadi meneriaki Baekhyun.

"Aish! Jangan kuat-kuat, Lu!" ujar Sehun menggeliat saat tangan Luhan menekan keras punggungnya, membuat Sehun nyaris berteriak kalau saja tak ingat dia adalah seorang namja gentle, yang tak akan berteriak, sekalipun ada serangga di dalam celananya. Oh kalau urusan itu, mungkin Sehun tak akan ragu untuk mengeluarkan lengkingannya.

"Apa itu benar-benar sakit?" Luhan mulai memelankan pijatannya.

"Tentu tidak, kalau saja bukan si bantet itu yang menimpa punggungku! Baek tubuhmu benar-benar berat, tahu!" seru Sehun.

Baekhyun melepaskan pelukannya, lalu menatap tajam ke arah yang lebih tinggi. "Aku tidak gendut tahu!" sungutnya mengerucutkan bibir sebal.

"Aku tidak bilang kau gendut, Baek!" elak Sehun tak terima.

Baekhyun berdecak sebal. "Lalu yang kau maksud 'Baek, tubuhmu benar-benar berat tahu' itu apa?" ujar Baekhyun mendekati arah ranjang, dimana Sehun masih terbaring memunggung di sana, dengan Luhan yang masih setia memijitnya.

"Sudahlah Tuan, dia sedang sakit. Apa kau tak kasian?" akhirnya Kyungsoo bersuara dan menarik Baekhyun agar kembali duduk di dekatnya.

Baekhyun hanya mendengus sebal, namja mungil itu kembali memeluk erat Kyungsoo yang sedang membelai surai kecoklatannya dengan lembut. Luhan masih asyik memijit punggung Sehun, sedang namja itu merasa mengantuk saat merasakan pijatan Luhan, yang demi apapun sangat nyaman. Baru saja dia hendaj memejamkan matanya, Sehun langsung melotot saat namja cantik di sampingnya menekan kuat-kuat lagi punggung Sehun.

"Yaa! Itu sakit, Lu!" ujar Sehun langsung bangkit dari tengkurapnya dan menatap ke arah namja cantik di dekatnya itu.

"Siapa suruh kau tertidur. Omong-omong dimana teman tiangmu itu?" Luhan membereskan kekacauan yang ada di ranjangnya, kemudian menatap ke arah Baekhyun dan Kyungsoo yang masih asyik berpelukan di sana.

"Chanyeol maksudmu?" tanya Sehun memakai bajunya.

"Chanyeol? Dimana?" suara Baekhyun tiba-tiba terdengar menggema di dalam kamar Luhan. Namja mungil itu melepas pelukannya dan menatap ke sekeliling dengan wajah penasaran.

Sehun tak menghiraukan tingkah namja itu. "Dia sibuk! Kau tahu sendiri, katanya sih dia mau ke game center bersama, Kai." balas Sehun acuh.

Baekhyun mendadak diam saat mendengar balasan yang lebih tinggi, Kyungsoo ikut terdiam di samping Baekhyun. Luhan melirik ke arah namja manis yang sedang pura-pura sibuk dengan Ponselnya itu.

"Kenapa mereka semakin dekat saja? Hei Sehun, bisa kau jelaskan kenapa temanmu itu sama sekali tak peka dengan perasaan anakku hah? Astaga! Bahkan si bodoh itu menyukainya dari SMP! Apa hatinya itu terbuat dari batu?" Luhan berkicau dengan raut tak percaya, sedang Baekhyun tak berani sekedar mengucapkan apapun, suaranya tiba-tiba saja mendadak hilang.

Sehun hanya diam. "Dia bukannya tak peka, Lu, hanya saja..." ucapan Sehun terpotong saat namja mungil di depan sana lebih dahulu bersuara.

"Hanya saja, dia memang tak pernah benar-benar mencintaiku! Kalimat itukan yang akan kau ucapkan, Oh Sehun? Lu, aku mendadak mengantuk. Aku izin pulang dulu, ne!" seru Baekhyun seraya tersenyum miris.

Luhan, Kyungsoo dan Sehun hanya membeku menatap kepergian namja manis yang sudah menghilang dari pandangan mereka. Kyungsoo dan Luhan menghela napas secara bersamaan. Sehun hanya tertunduk lemah, dia juga tak ingin Baekhyun seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah berusaha mengatakannya pada Chanyeol, tapi entah keras kepala dari siapa yang membuat namja tinggi itu jadi begitu kejam pada Baekhyun. Atau semua ini hanya salah satu rencananya untuk balas dendam. Sehun terlalu lelah, dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang Luhan. Namun samar-samar dia mendengar percakapan dua namja pendek di depan sana.

"Kyung, apa sekarang waktunya aku menjodohkan Baekhyun dengan sepupuku?"

.

.

Baekhyun menarik kembali cairan menjijikan yang mau keluar dari hidungnya, matanya memerah, dengan hidung yang daritadi tak berhenti bersingut-singut, mencoba menahan ingus yang hendak turun dari tempatnya. Selepas acara-pulang-mendadak-dari-rumah-Luhan, yang namja mungil itu lakukan hanya duduk meringkuk di atas sofa, sambil terus menyeka air matanya yang terus meleleh perlahan. Bahkan suara teriakan Kyungsoo di depan sana sama sekali tidak dia hiraukan. Karena sudah lelah, Kyungsoo menyerah, dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya, yang hanya berjarak 1 KM dari tempat tinggal Baekhyun.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke depan sana, dimana sebuah ruangan tertutup, yang dipintunya masih tertempel jelas tulisan tangan pertama Baekhyun. Air mata namja mungil itu tiba-tiba turun lagi di wajah sembabnya.

"Hikss! Bahkan di saat seperti ini, kalian tidak datang menemaniku. Hikss, aku benar-benar merindukanmu Appa, Eomma! Kumohon keluar!" seru Baekhyun lirih.

Namja itu berjalan gontai menuju ke tempat yang di pintunya terdapat tulisan 'Appa&Eomma' di depan sana.

BRAK! BRAK! BRAK!

Baekhyun tiba-tiba memukul kuat pintu di depan dengan seluruh tenaganya. "Hiks, kumohon buka!" Lagi dan lagi, dia memukul benda tak bersalah itu sambil berharap pintu di depannya terbuka lebar dan menampakkan wajah Appa dan Eommanya. Namun, semua itu hanya harapan belaka, bahkan suara deritan pun tak terdengar di depan sana.

Baekhyun merosot jatuh ke lantai, namun tangannya masih betah menggedor-gedor pintu di depannya. Namja itu putus asa. Dia menempelkan kepalanya, pukulannya di pintu sudah melemah seiring air mata yang lolos mengalir di kedua wajahnya. Tak berapa lama, namja manis itu sudah tertidur dengan air mata yang terus mengalir.

DUAR!

JDAR!

"AKH Eomma!" Baekhyun terkejut bukan main dengan suara mengerikan itu. Tubuh mungilnya kembali menegang, saat satu-satunya cahaya yang ada di ruangan perlahan menghilang, berganti dengan kegelapan yang mendominasi ruang tamunya. Baekhyun memeluk erat lututnya, sambil merapalkan kalimat-kalimat penenang yang sering diucapkan Eommanya ketika dia masih kecil dulu. Mungkin Baekhyun memang rajanya berkelahi dan membully, tapi percayalah, setiap orang pasti punya kekurangan. Dan satu-satunya kekurangan Baekhyun adalah, saat seperti ini.

"Hikss! Chanyeol kau dimana, hiks!" Baekhyun mulai meracau dengan ucapannya, dia meraba-raba kantong celananya, setelah menemukan benda yang dicarinya, namja mungil itu segera menempelkan Ponselnya. 1 menit dia menunggu, namun sama sekali tak ada balasan dari seberang sana, Baekhyun menjatuhkan ponselnya ke lantai dan kembali menyembunyikan wajah sembabnya di antara dua lutut.

"Chanyeol! Chanyeol! Aku benar-benar, takut!"

Sementara itu di sisi lain.

Dua orang namja tinggi yang sibuk dengan monitor di depannya, terpaksa berteriak sebal saat saat layar komputer mereka berubah hitam dengan keadaan gelap di sekitar mereka. Bahkan wajah salah satunya tak kelihatan. Kau tahu siapa yang kumaksud? Tentu saja si namja tan itu, buktinya, Chanyeol mendadak panik sendiri saat tak menemukan keberadaan Kai di dekatnya.

"Kai! Kau dimana!" teriak Chanyeol.

"Aku ada di sampingmu!" balas Kai kesal setengah hati, karena, sungguh demi celana dalam Superman miliknya, bahkan Kai sama sekali tak bergerak dari tempatnya berdiri sekarang.

Chanyeol tak menjawab, dia merogoh paksa kantong celananya, setelah menemukan ponsel miliknya, barulah namja itu bisa bernapas lega. Namun kelegaannya hanya sekejab ilusi, karena matanya langsung melotot saat melihat panggilan tak terjawab di sana. Dengan terburu, Chanyeol mengambil asal tas miliknya kemudian menarik paksa Kai yang bengong sendiri melihat betapa raut wajah khawatir di wajah namja tinggi itu.

"Ada apa?" tanya Kai bingung, tapi dia masih mengikuti langkah tergesa Chanyeol di depan sana.

Tak ada apapun yang berada dalam pikiran namja itu. Kecuali satu nama yang sejak tadi terus berputar di otaknya. "Baekhyun! Dia benar-benar takut dengan gelap!" serunya sambil terus berlari, melupakan Kai yang diam di belakang sana. Yang jelas tujuan Chanyeol hanya satu untuk sekarang ini. Rumah Baekhyun.

Chanyeol semakin mempercepat larinya, saat sudah masuk ke perkarangan rumah yang sangat gelap di depan sana. Namja jangkung itu langsung menggedor-gedor tak sabaran pintu rumah Baekhyun. "Baek! Kau baik-baik saja? Baek, buka pintunya! Yaa! Baek!" karena merasa tak ada jawaban, Chanyeol langsung mendobrak paksa pintu rumah Baekhyun, dan beruntung dengan segala kekuatan tubuhnya, benda itu terbuka sepenuhnya.

Chanyeol menajamkan pandangan ke seluruh ruangan, dia menyalakan senter Ponselnya, dan matanya seketika melotot saat melihat tubuh seseorang yang sedang meringkuk di sudut lemari. Chanyeol langsung berlari ke sana, dan melemparkan asal tasnya lalu memeluk namja mungil itu dengan sangat erat. Chanyeol bisa merasakan kalau tubuh namja di pelukannya ini benar-benar bergetar hebat.

Baekhyun mendongakkan wajahnya saat merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Chanyeolnya lah yang ada di hadapannya saat ini. Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya, dan mengelus pelan bahu namja mungil itu.

"Uljima! Aku ada di sini," bisik Chanyeol lembut, seperti sebuah lullaby di telinga Baekhyun.

Baekhyun menatap dalam ke arah Chanyeol. "Kau datang? Kau benar-benar datang, kukira kau tak akan datang!" racaunya tak jelas tapi masih bisa tersenyum manis.

"Tenanglah. Aku tak akan pergi kemanapun," bisik Chanyeol lagi, kali ini dia mengecup pelan puncak kepala namja manis di pelukannya.

Lama mereka berpelukan, sebelum akhirnya sebuah suara membuat keduanya sontak menoleh ke arah depan sana. Kai terdiam saat melihat ke arah dua namja itu, lalu pandangannya jatuh ke arah Baekhyun yang mendadak menatap kosong ke arahnya, sungguh walaupun di sini sangat gelap, Kai bahkan bisa merasakan bagaimana raut tak suka Baekhyun akan kehadirannya.

Baekhyun melepaskan paksa pelukannya dan mendorong kuat tubuh namja jangkung di depannya. Dia menatap tajam ke arah Kai yang masih bengong di sana. Chanyeol masih mengerjab melihat perubahan drastis raut wajah Baekhyun. Lalu pandangan Baekhyun tertuju ke arah Chanyeol, yang merasakan aura aneh menguar di sekitar namja mungil itu.

"Kenapa dia ada di sini? Kau yang mengajaknya? dan Kau, aku sudah pernah bilang jangan muncul lagi di hadapanku, Kim Jongin!" teriak Baekhyun dengan suara tercekat karena sungguh suaranya serak dan seakan tak bisa keluar, karena kebanyakan menangis tadi.

"Baek, tenanglah!" ujar Chanyeol pelan.

Baekhyun mendesis tajam, berbeda sekali dengan Baekhyun yang manis beberapa waktu yang lalu. "Kau diam, Chanyeol! Aku tidak bertanya padamu!"

"Baek, aku tak bermaksud buruk padamu," ujar Kai pelan.

"Baek tenanglah, Kai tidak akan macam-macam padamu. Ayo kita ke apartemenku saja, Baek!" ajak Chanyeol menenangkan namja mungil yang masih menggeram tertahan di tempatnya.

"Pergi!"

"Ayo—Apa?" tanya Chanyeol tak percaya dengan apa yang di dengarnya kali ini. Dia menajamkan lagi telinganya, berharap dia tidak salah dengar. Biasanya, Baekhyun akan langsung mengiyakan ajakannya.

"Kubilang pergi! Bawa juga teman sialanmu itu!" teriak Baekhyun kalap dengan tangan terkepal kuat.

Otak Chanyeol mendadak blank mendengar ucapan namja itu. Kai, jangan tanya, dia bahkan sudah nyaris ini menangis saat ini. Bagaimana mungkin Baekhyun masih membencinya sampai sekarang. Chanyeol mencoba bersabar dengan namja di depannya, dia hendak meraih tubuh Baekhyun, namun yang lebih pendek langsung bangkit berdiri dan menatap takut ke arah mereka berdua.

"Baek, kumohon tenanglah," seru Chanyeol lagi mencoba menarik tangan namja itu.

Baekhyun mundur ke belakang. "Kubilang pergi, Chanyeol!" teriaknya dengan suara kalut. Bahkan Baekhyun menjambak rambutnya dengan kuat, Chanyeol langsung menjauhkan tangan Baekhyun dari aset berharganya itu.

"Baek dengarkan aku—Yaa! Baekhyun!" Chanyeol berteriak kalap saat namja itu mendadak melemparkan vas bunga yang ada di dekatnya.

"Aku bilang pergi! Pergi dariku! Tinggalkan aku sendiri, hikss!" suara Baekhyun berubah parau dia kembali merosot jatuh ke lantai.

"Baek," Kai hendak menghampiri namja mungil itu namun tertahan karena Baekhyun kembali melemparkan apapun yang ada di dekatnya ke arah Kai.

"Jangan mendekat! Chanyeol, kumohon pergi!" suruhnya dengan nada memelas. Chanyeol masih menatap tak percaya ke arah namja yang sedang terisak di depannya.

"Baekhyun, jangan seperti ini!" seru Chanyeol masih keukeuh berada di sana.

Baekhyun mendadak geram dengan tingkah mereka. "Aku bilang pergi! Atau aku yang akan memaksa kalian agar keluar dari sini! Kubilang pergi!" Baekhyun mendorong paksa tubuh Chanyeol sampai terjengkang ke belakang.

Namja jangkung itu akhirnya menyerah. Dia segera mengambil tas yang dia lemparkan tadi, lalu perlahan beranjak, walaupun dia sama sekali tak ingin bergerak sesenti pun dari tempat itu. Namun melihat bagaimana raut wajah Baekhyun, mau tak mau Chanyeol menjauh perlahan dan menarik paksa Kai yang masih bergetar menatap ke arah Baekhyun di depan sana. Sekali lagi, Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang sudah tenang di tempatnya, namun raut wajah namja itu sama sekali tidak bisa dibohongi, membuat Chanyeol segera mengajak Kai pulang, sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.

Baekhyun masih tak berniat untuk melepaskan pandangannya dari punggung Chanyeol yang semakin menjauh di depan sana. Penampilan namja mungil ini sangat jauh dari kata layak. Rambut yang berantakan, mata sembab, hidung memerah, serta pandangan yang kosong seperti mayat hidup. Baekhyun kembali terdiam dalam kesendiriannya, perlahan mulai menelungkupkan wajahnya, tak memperdulikan kalau pintunya kembali terbuka dan menampakkan sosok namja pendek berkacamata yang sedang menghela napas lelah di depan sana. Kyungsoo masuk dan menghidupkan saklar lampu, yang beruntungnya listrik sudah hidup sejak tadi.

"Sst diamlah. Kau tidak sendiri," seru namja itu langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat, memberikan segala kekuatannya untuk yang lebih kecil.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Satu kata: Kacau. Beberapa barang terletak asal di lantai, serta tumpukan kaca bekas pecahan vas bunga yang berada tak jauh dari tempat Baekhyun terduduk. Dia berdecak tak percaya, kemudian melirik namja mungil yang masih terdiam di dalam pelukannya itu dengan tatapan prihatin.

"Besok aku akan membereskannya, kau tidur di rumahku malam ini, oke?" ujar Kyungsoo langsung mengangkat tubuh bongsor namja di depannya. Baekhyun tak banyak protes, dia langsung mengalungkan tangannya di leher namja itu, begitu Kyungsoo berjongkok di depan tubuhnya.

Kyungsoo mengunci pintu rumah Baekhyun, sebelum mereka berdua berjalan keluar dari area rumah namja itu. Kyungsoo sudah memberi tahu Luhan tentang hal ini tadi, dan kalian tahu apa jawaban dari namja cantik itu. Kyungsoo dimarah-marahi habis-habisan oleh Eomma kedua Tuannya itu. Sambil terus bersungut dan menceramahi Kyungsoo di telepon, namja cantik itu juga mengucapkan kata-kata yang tadi sore sedang mereka perbincangkan.

"Aku benar-benar akan menjodohkan Baekhyun dengan sepupuku, daripada anakku itu terus-terusan seperti ini! Aku tidak tahan melihatnya menderita, Kyung!"

Kata-kata itu masih melekat jelas di telinga Kyungsoo, bahkan dia sangat ingat bagaimana suara Luhan yang menggebu sekaligus kelewat geram saat mengucapkannya tadi. Namun Kyungsoo bukannya tak setuju, hanya saja dia punya alasan lain untuk menolak usulan Luhan itu. Kyungsoo tahu, Luhan pasti bermaksud baik, namun Kyungsoo juga sudah bilang ke namja itu kalau dia tidak bisa memaksakan hal itu ke Baekhyun. Belum lagi, dia melihat bagaimana Baekhyun sungguh-sungguh mencintai namja tinggi itu, dan untuk alasan lainnya, Hanya Kyungsoo yang tahu alasannya mengapa.

"Kyung? Boleh aku tidur sebentar di sini?" suara serak Baekhyun menyentakkan Kyungsoo dari dunia fantasinya tadi.

Kyungsoo tersenyum, walaupun dia tebak Baekhyun tidak akan bisa melihatnya. "Tidurlah, aku akan membangunkanmu ketika sudah sampai," balas Kyungsoo. Dan tak butuh waktu yang lama, dengkuran halus sudah terdengar di sekitar telinga Kyungsoo.

Namja berkacamata itu tersenyum tipis. "Jangan menangis lagi, Tuan!" serunya.

Saking konsentrasinya dengan Baekhyun, namja itu tak menyadari ada seseorang yang sedang melirik sendu ke arah mereka. Tepatnya ke namja manis yang sedang berada di gendongan Kyungsoo itu. Dia menghela napasnya kasar, menempelkan punggungnya ke besi pembatas dekat tempatnya berdiri, lalu meraba dada bagian kirinya seakan merasakan sesak yang sama, ketika ditinggal sendirian. Namja tinggi itu memejamkan matanya erat, lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri.

"Maafkan aku, Baek! Seharusnya aku mengatakan semuanya dari awal. Maaf membuatmu menunggu terlalu lama. Aku akan mengatakan semuanya secepat mungkin!"

TBC

_Baekhyunwife