Disclaimer:

Naruto © Kishimoto Masashi

Kekkon Sagi © Haruno Aoi

Setting: selalu AU

Warning: selalu OOC, fanfic picisan pembangkit mood author, masih berhubungan dengan Cintaku Seperti Hantu dan Mertuaku Seperti Hantu

.

.

.

-x- Kekkon Sagi -x-

~Dispute~

.

.

.

Kediaman Uchiha terasa lebih ramai malam ini. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur. Diadakan perayaan kecil-kecilan dengan kue ulang tahun di tengah meja makan. Selain keluarga Uchiha, ayah dan ibu Hinata menyempatkan datang. Sebenarnya Sasuke tidak terlalu senang setiap ulang tahunnya dirayakan, namun apa boleh buat Hinata sudah menyiapkan banyak hal bersama tiga wanita lainnya yang juga hadir; ibu mertua, kakak ipar, dan tentu saja ibu kandung dari Sasuke.

Tidak ada satu pun dari teman-teman Sasuke yang diundang, bahkan Sai yang notabene adalah sepupunya juga tidak tampak batang hidungnya. Ada saatnya dimana Sasuke akan mentraktir teman-teman dekatnya di suatu rumah makan yang disesuaikan dengan kantong—kondisi keuangannya. Untung saja ia sudah mendapatkan penghasilan sendiri dari pekerjaan paruh waktunya di akhir pekan, sehingga tidak akan merepotkan orang tuanya untuk menyenangkan hati teman-temannya.

Saat ini di meja makan yang tampak penuh dengan piring hampir kosong, hanya ada Itachi dan Sasuke yang belum menyelesaikan makannya. Hana tengah menidurkan bayinya di kamar Itachi. Para orang tua sedang berbincang di ruang tengah, sedangkan Hinata baru saja pamit ke kamar Sasuke—entah apa yang akan dilakukannya.

Sebenarnya piring Itachi sudah bersih, tetapi ia masih ingin melakukan sesuatu kepada adiknya yang sebelum makan malam tadi ia kerjai habis-habisan. Ia memutar-mutar tubuh Sasuke yang matanya tengah ditutup, sampai membuat pemuda—yang menurutnya sok cool—itu merasa mual. Awalnya ia mewakili keluarganya untuk memberikan kejutan kepada Sasuke, sayangnya ia jadi keterusan. Akhirnya ia hanya nyengir tanpa dosa ketika dipelototi oleh Mikoto. Itu sebabnya Sasuke makan lebih terlambat dibandingkan anggota keluarganya yang lain.

"Bagaimana yang waktu itu?" bisik Itachi yang duduk di sebelah Sasuke. "Berhasil?"

Berhasil apanya! Menyebalkan sekali! Jujur, Sasuke merasa sangat kesal pada kakak semata wayangnya. Geregetan banget melihat kakaknya menyeringai! Tangannya gatal ingin melumuri wajah Itachi dengan sisa krim kue ulang tahunnya. Gara-gara Itachi, ia jadi ribut dengan Hinata. Meskipun tidak lama, tetapi istrinya jadi menjaga jarak darinya. Sepertinya Hinata mulai menganggapnya sebagai pemuda mesum—yah, mungkin sedikitlah karena teman-temannya sering mencekokinya dengan film dewasa atau semacamnya. Tetapi, ia masih sanggup menahan gejolak nafsunya.

Sebelum insiden waktu itu, Hinata berani berkeliaran di dalam kamar hanya dengan balutan jubah mandi serta handuk yang membungkus rambut basahnya. Sekarang, Hinata akan keluar dari kamar mandi hanya jika mengenakan pakaian lengkap dan rambut yang sudah dikeringkan.

Apakah kini Sasuke sebegitu menyeramkan di mata Hinata?

Namun, sebenarnya ia masih beruntung karena istrinya tidak mengusulkan pisah ranjang lagi dengannya.

"Jangan bilang kau belum pernah melakukannya?" Itachi pura-pura syok. Sesaat kemudian ia kembali berbisik setengah mengejek setelah mendapatkan lirikan sinis dari adik tersayangnya, "Semua temanmu pasti sudah pernah melakukannya. Kau tidak malu?"

Wajah Sasuke memerah, antara malu dan marah. Napasnya juga sedikit memburu, tampak menahan diri untuk tidak menyemprot Itachi dengan berbagai umpatan.

"Selama ini kalian ngapain? Bukannya sudah hampir setahun menikah?"

Saat-saat seperti inilah yang paling dirindukan oleh Itachi setelah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya di suatu apartemen. Baginya menyenangkan sekali melihat ekspresi Sasuke ketika digoda sedemikian rupa olehnya. Karena itulah, setiap pulang ke rumah orang tuanya ia selalu mencari kesempatan untuk menggoda adiknya.

Itachi mencomot tomat ceri di piring Sasuke dan berbuah delikan tajam yang sama sekali tidak mampu memudarkan seringainya. Ia memasukkan tomat merah berukuran mini itu ke mulutnya layaknya bintang iklan yang mencoba menarik minat penonton. Hidung Sasuke terlihat kembang kempis, dan Itachi hanya tersenyum lembut setelah menelan tomat yang sudah dikunyahnya.

Uchiha sulung itu berdeham sekali sebelum melanjutkan aksinya dengan suara yang lebih pelan, "Nanti jangan kaget setelah tahu isi kado dariku…"

Setelahnya Itachi tampak menelungkupkan kepalanya di atas meja. Sebelah tangannya menutup mulutnya yang hampir menganga, sementara kepalan tangan satunya dipukul-pukulkannya pelan ke permukaan meja makan yang berbahan kayu.

"Kau mau bikin jempol kakiku putus?" desis Itachi dengan gigi saling menekan. Ibu jari kaki kanannya masih berdenyut-denyut akibat injakan Sasuke yang tanpa ampun.

Sekarang giliran Sasuke yang menyeringai. "Rasain kau, Baka Ero Aniki," desis Sasuke geram setengah gemas. "Sebaiknya cuci otakmu sebelum Kak Hana berpaling darimu."

"Tahu apa kau tentang dunia orang dewasa, Otouto…?" balas Itachi terkekeh sembari menyentil kening Sasuke.

Mengabaikan Itachi yang masih kesakitan, Sasuke menyusul Hinata ke kamarnya. Ia menaiki tangga dengan tenang namun bersemangat. Begitu memasuki kamarnya, ia tidak melihat gadis berambut panjang itu. Tetapi, ia bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Hinata berada di sana.

Sebuah kotak biru tua di atas tempat tidurnya yang berseprai putih menarik perhatiannya. Entah mengapa ia begitu yakin bahwa kotak kado itu dari Hinata, sementara hadiah-hadiah yang lain masih berada di atas meja belajarnya. Ia mendudukkan dirinya di dekat kotak yang membuatnya penasaran. Dengan hati-hati ia menguraikan ikatan pita biru muda yang mempermanis penampilan kotak kado tersebut. Perlahan ia mengangkat tutup kotak itu dan seketika alisnya mengernyit setelah melihat isinya.

"Suka, tidak?"

Sasuke bahkan tidak tahu sejak kapan Hinata berdiri di dekatnya. Gadis itu naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya, menanti jawaban darinya.

Sasuke mengeluarkan yukata laki-laki berwarna biru gelap tersebut. Menurutnya pakaian seperti itu sangat merepotkan, karena itu ia menolak setiap kali ibunya menawarkan akan membelikan untuknya. Terakhir kali Sasuke mengenakannya, kalau tidak salah waktu masih duduk di sekolah dasar. Waktu itu ia menyukai yukata dengan motif tokoh kartun kesukaannya. Kalau teringat akan itu, ia jadi malu sendiri. Bisa-bisanya waktu itu ia mau mengenakan yukata semacam itu? Ia tidak habis pikir!

"Aku mau nonton kembang api bersamamu kalau kamu memakainya," kata Hinata penuh harap.

"Tidak mau." Sasuke memasukkan kembali pakaian tradisional itu dengan asal.

Ekspresi Hinata berubah murung. Ternyata ia memberikan hadiah yang salah. Sasuke sama sekali tidak menyukainya. Padahal ia ingin sekali melihat Sasuke mengenakannya.

Sasuke menghela napas. "Baiklah, asalkan kamu mau membantuku memakainya."

Seketika Hinata mengangguk setuju. Namun, sebenarnya ia tidak terlalu mendengarkan kata terakhir yang diucapkan suaminya.

"Eh?"

Sasuke tersenyum miring. "Aku lupa cara memakainya," ujarnya dengan sorot lugu.

Sasuke beranjak ke meja belajarnya, meninggalkan Hinata yang meneguk ludah dengan gugup. Ia ingin segera menemukan kotak hadiah dari Itachi. Kali ini ia harus lebih waspada, atau Hinata akan benar-benar pulang ke rumah orang tuanya. Jangan sampai istrinya membuka kado dari Itachi—tetapi, ia yakin Hinata tidak akan berbuat lancang seperti itu. Paling tidak, jangan sampai Hinata mengetahui hadiah yang diberikan oleh Itachi.

Kening Sasuke kembali mengernyit setelah membuka kotak kecil berwarna kelam yang ia yakini dari Itachi. Bukan barang-barang aneh seperti yang terlintas di benaknya hingga detik sebelumnya. Ternyata sebuah jam tangan hitam—yang entah berapa bulan Sasuke baru bisa membelinya dengan gaji kerja paruh waktunya. Jam tangan yang diam-diam diidamkan oleh Sasuke, dan kini benda itu benar-benar dapat dimilikinya melalui kakak laki-lakinya yang terkadang menyebalkan itu. Well, Sasuke cukup menyesal telah melakukan perbuatan semena-mena terhadap Itachi.

Semoga saja Itachi tidak menyesal telah memberikan hadiah semahal itu pada adiknya yang durhaka. Haruskah Sasuke meminta maaf pada Itachi? Tentu saja, agar hadiah yang sudah diberikan tidak diminta kembali. Dan jangan lupakan ucapan terima kasih.

Sasuke sedang menutup kembali kotak jam tangannya ketika Hinata mengangsurkan sebuah cake kecil semacam cupcake, tetapi mempunyai ukuran yang lebih besar dari biasanya. Di atasnya terdapat sebuah tomat ceri yang ranum, membuat Sasuke ingin segera mencicipinya.

"Aku yang membuatnya," ujar Hinata malu-malu.

Sasuke bangkit dari kursi belajarnya. Ia mengambil alih kue buatan Hinata dengan senang hati. Senyum miring andalannya menghiasi wajah rupawannya sebelum ia menggigit tomat cerinya dan mendekatkannya ke bibir Hinata. Istrinya itu terbelalak, namun sekian detik berikutnya sudah menyambut tawarannya yang tidak bisa ditolak.

.

.

.

Hinata benar-benar membantu Sasuke mengenakan yukata. Ia yakin suaminya itu hanya ingin mengerjainya, tetapi ia tetap saja melakukannya. Sentuhan akhir, Hinata melilitkan obi di pinggang bawah Sasuke. Ia sendiri sudah mengenakan yukata biru lembut dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda. Surai panjangnya disanggul sedemikian rupa, dihias tusuk rambut sederhana yang senada pakaiannya. Malam ini ia memakai bedak yang sedikit tebal dibandingkan biasanya, dengan pemerah pipi dan bibir yang tidak berlebihan. Hanya make up minimalis, namun sudah membuat Hinata tampak berbeda.

Hinata tersenyum puas setelah menyelesaikan tugasnya. Ia memandang Sasuke dari bawah ke atas. Tulang pipinya tampak semakin memerah. Entah mengapa ia sangat suka melihat laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional. Bahkan Sasuke terlihat semakin tampan dan gagah, serta sanggup membuat jantung Hinata berdebar-debar tak karuan.

"Tampannya…" desah Hinata tanpa sadar. Apakah Sasuke adalah seorang samurai di kehidupan sebelumnya? Hinata membatin dan menerawang jauh, padahal nyaris tidak ada hubungannya. Ia juga membayangkan Sasuke mengenakan pakaian para samurai, yang berjalan penuh wibawa dengan katana di pinggang.

"Ada apa sih, Omae?" goda Sasuke disertai seringai, yang sukses membuyarkan lamunan Hinata. "Lagi ngelamunin yang seru-seru, ya? Ngebayangin aku tidak pakai baju?"

Otak Sasuke sedang korslet atau bagaimana sih…?

"Mesum."

Hinata turun ke lantai satu dengan wajah memerah. Sasuke mengekor padanya tanpa memudarkan cengiran penuh kemenangan. Ia mengenakan geta yang sudah dipersiapkannya di undakan dekat pintu depan, diikuti Sasuke yang juga melakukan hal yang sama.

"Ittekimasu…" pamit Hinata sebelum keluar rumah.

"Itterasshai," balas Mikoto yang melihat mereka berdua dengan senyum mengembang. Setelah keduanya menghilang di balik pintu, ia kembali menemani Fugaku. Ia dan suaminya lebih memilih menonton ledakan bunga api di langit melalui teras samping rumah mereka.

.

.

.

Sasuke merangkul pundak Hinata sejak keluar rumah sampai tiba di kawasan stan-stan makanan dan aksesoris yang berjejer rapi. Angin musim panas berhembus pelan, menggoyangkan furin berbahan kaca dan lampion-lampion yang bergantungan. Dengung percakapan para pengunjung berbaur dengan suara denting lonceng keramik yang bersahutan.

Sasuke mengipasi wajahnya dengan kipas berbahan kertas yang baru saja dibelinya. Yukata dan lautan orang benar-benar membuatnya gerah. Teman-temannya mengatakan akan berkumpul di dekat jembatan merah Konoha, di tempat yang sudah dipesan oleh mereka. Sasuke menggandeng Hinata ke sana, tetapi langkahnya terhenti di tengah perjalanan ketika melihat Naruto menjadi salah seorang dari kerumunan pengunjung yang sedang menangkap ikan mas koki menggunakan jaring kertas. Pemuda berambut pirang itu tidak sendiri karena ada Sakura yang menemaninya.

Hinata menurut saja saat Sasuke mengajaknya berjalan lagi sebab pemuda itu lebih mengetahui lokasi strategis yang akan menjadi tempat menonton mereka. Ia mengikuti Sasuke kemana pun pemuda itu membimbingnya. Ia juga turut melangkahkan kakinya menuju galeri tembak yang didatangi oleh Sasuke.

"Kamu ingin yang mana?" tanya Sasuke setelah membayar untuk satu sesi permainan tembak.

Di antara beberapa benda yang lucu maupun aneh, boneka kucing abu-abu paling menarik perhatian Hinata. Tampang boneka itu mirip Sasuke yang sok cool. Ia jadi terkikik geli dan membuat Sasuke memandang heran padanya. Namun setelah ia menunjuk boneka yang diinginkannya, pemuda itu langsung membidik sasarannya.

Tembakan pertama meleset. Selanjutnya tidak jauh beda. Setelah tembakan ketiga, Sasuke membayar lagi untuk sesi berikutnya. Padahal ia sudah terlalu percaya diri akan menumbangkan boneka yang diinginkan oleh Hinata hanya dengan satu kali tembak. Ternyata ia baru mendapatkannya setelah melepaskan lima tembakan.

Hinata memeluk boneka imut itu dengan gemas. Ia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Sasuke sekaligus pemilik galeri yang ramah. Ia menggandeng lengan Sasuke ketika meneruskan perjalanan menuju jembatan merah sungai Konoha yang selalu kering pada musim panas. Sasuke mengajaknya mempercepat jalannya setelah melihat lambaian tangan Kiba di kejauhan. Ia juga bisa melihat Sai serta dua perempuan lainnya.

Tiba-tiba Sasuke menghentikan langkahnya karena dirasakannya Hinata tidak bergerak maju. Ia menoleh ke belakang, dan seketika matanya terbelalak melihat seorang laki-laki berambut merah memeluk Hinata yang kini berekspresi tak jauh berbeda dengannya. Tanpa buang waktu Sasuke menarik salah satu pundak lelaki itu hingga pelukannya terlepas paksa sekaligus membalikkan tubuh orang kurang ajar yang tidak lebih tinggi darinya tersebut.

Pemuda berambut merah itu hanya tersenyum miring ke arah Sasuke yang mendadak terdiam, sebelum memandang Hinata dengan sendu. "Kamu tidak merindukan mantan pacar pertamamu, Honey?" Ia melirik sinis Sasuke saat melanjutkan ucapannya, "Ups, sorryold habits die hard."

"Sa-Sasori…?" gumam Hinata dengan mata yang masih membulat.

Pemuda bernama Sasori itu menghela napas lega. "Syukurlah kamu belum melupakanku…" ujarnya ringan.

Hinata belum berkutik ketika Sasori meraih sebelah tangannya yang memegang boneka, sementara genggaman Sasuke pada tangan lainnya masih begitu erat. Banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya, tetapi belum sanggup dilontarkannya. Sudah hampir setahun pemuda yang pernah menjadi teman sekelasnya itu kembali ke kampung halamannya; Suna. Ia masih tidak menyangka dan belum percaya bisa bertemu lagi dengannya dalam kesempatan yang tak terduga.

"Aku akan berada di Konoha sampai liburan musim panas berakhir," ujar Sasori yang seolah dapat membaca pikiran Hinata yang kini sedang disibukkan berbagai pertanyaan. "Selama di sini, aku tinggal di rumah kakakku. Dia baru pindah ke Konoha, ikut suaminya. Sebenarnya aku hanya membantunya pindahan, tapi dia malah menyuruhku menginap sampai akhir Agustus di rumah baru mereka."

Hinata hanya membulatkan mulutnya tanpa suara mendengar penjelasan panjang Sasori. Ia benar-benar tidak tahu harus berucap seperti apa dalam keadaan seperti ini. Apalagi sedari tadi Sasuke masih bungkam. Ia tidak ingin Sasuke marah padanya.

"Ayo mampir ke stan milik kakakku," ajak Sasori tanpa menerima suatu penolakan, "Mereka menjual takoyaki."

Hinata belum mampu berkata-kata. Ia melirik Sasuke yang tengah memandang tajam—entah apa yang menjadi objek penglihatannya.

"A-aku…"

"Kau juga mau ikut, Sasuke?" tanya Sasori dengan nada rendah dan penuh penekanan.

Perlahan Sasuke melepas tautan jemarinya dengan jari-jari Hinata. Mendadak suasana hatinya memburuk. Apalagi Hinata tidak berusaha melepaskan pegangan tangan Sasori. Ia juga merasa bahwa pemuda yang pernah menjadi rekannya di klub judo sekolah itu menjadi lebih menyebalkan dari terakhir kali ia berinteraksi dengannya.

"Kalian bersenang-senanglah," ujarnya dingin sebelum meninggalkan mereka berdua.

Sasori tidak mengizinkan Hinata mengejar Sasuke. Ia menggunakan alasan berupa singkatnya liburan yang tersisa agar Hinata bersedia menemaninya. Setidaknya ia ingin Hinata menghabiskan waktu sejenak dengannya selama ia berada di Konoha.

.

.

.

Pesta kembang api kali ini sama sekali tidak menyenangkan bagi Hinata. Lebih baik ia menonton dari teras rumah saja daripada menyaksikannya dengan hati hampa tanpa Sasuke di sisinya. Sejak Sasuke meninggalkannya tadi, ia belum melihatnya lagi, bahkan suaminya itu tidak mencarinya. Ia memasuki rumahnya yang sudah gelap dengan langkah berat. Sasori telah menawarkan untuk mengantarkannya pulang, namun ia malah menolak niat baik pemuda itu dan nekat pulang ke kediaman Uchiha seorang diri. Padahal sudah hampir tengah malam, untung saja ia tidak menemui sesuatu yang buruk selama dalam perjalanan.

Sepertinya mertuanya sudah terlelap. Ia bisa sedikit bernapas lega karena tidak harus membuat alasan sedemikian rupa kepada mereka. Ia berjalan mengendap menuju lantai dua. Jangan sampai mertuanya terbangun dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Ia bahkan belum tahu dimana Sasuke saat ini. Tangannya yang memeluk boneka kucing abu-abu tampak gemetaran. Semoga Sasuke baik-baik saja dan segera pulang.

Selama di kamar, Hinata hanya berjalan mondar-mandir. Malahan ia belum mengganti pakaiannya dengan piyama. Sesekali ia akan duduk di tepi ranjang, kemudian berdiri lagi dengan resah. Perhatiannya terus terbagi antara pintu kamar dan jam yang menunjukkan sudah lewat tengah malam. Kemanakah Sasuke sampai selarut ini? Andai suaminya itu membawa ponsel, ia pasti akan menghubunginya sejak tadi dan mungkin tidak akan sekhawatir sekarang. Sering meninggalkan ponsel di meja belajarnya memang salah satu kebiasaan buruk Sasuke.

Perhatian Hinata langsung terenggut ke arah pintu setelah melihat knopnya berputar pelan. Namun, sekarang ia masih saja merasa was-was jika yang membukanya adalah ayah atau ibu mertuanya. Hingga wajahnya menunjukkan kelegaan setelah sosok Sasuke muncul dari balik pintu yang dibuka. Ia menghela napas lega dan menghampiri Sasuke.

"Kamu ke mana saja?" tanyanya lembut.

Sasuke mengabaikan Hinata dan langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Wajahnya tampak kusut dan penampilannya menjadi berantakan. Ia menguraikan obi yukata gelapnya sebelum membenamkan diri di bawah selimut tebalnya.

Hinata sudah mengenakan baju tidurnya saat menyusul Sasuke. Perasaannya bercampur aduk saat ini. Ia tidak menyangka Sasuke akan sebegitu marah sampai tidak menghiraukannya.

Hinata hampir memekik ketika Sasuke yang dikiranya sudah tidur mencengkeram erat salah satu pergelangan tangannya. Mata pemuda itu tampak menggelap dan kosong.

"Kamu … minum sake?" tanya Hinata ragu-ragu seusai mencium aroma yang menyengat dari napas Sasuke.

Pemuda itu melumat bibir Hinata sebagai jawaban. Jantung Hinata berdebar tak terkendali, namun bukan debaran yang menyenangkan. Baru kali ini Sasuke memperlakukannya seperti itu. Ia takut—sangat takut. Matanya memburam karena air mata yang menggenang. Ia memalingkan wajahnya, setengah sadar ia bisa merasakan Sasuke yang bergerak ke atas tubuhnya.

"Apa dengan melakukannya akan membuatmu lega?" lirih Hinata dengan terisak, "Jika iya, lakukan."

Tanpa kata, Sasuke turun dari tempat tidur dengan yukata yang tidak terikat obi lagi. Ia menggeser pintu oshiire dengan kasar dan mengeluarkan futon yang kemudian digelarnya di salah satu sudut ruangan.

.

.

.

Hinata duduk termenung di lantai kayu teras samping rumah dengan kaki yang direndamnya di bak berisi air dingin. Ia mengipasi wajahnya dengan lemah sambil memikirkan hubungannya dengan Sasuke belakangan ini. Suaminya itu memang masih mau berbicara dengannya, tetapi menjadi lebih dingin dari biasanya.

Apa karena Sasori? Pemuda berambut merah itu kan hanya mantan kekasihnya. Apa tidak boleh kalau ia dan Sasori berteman?

Mungkin saja kemurkaan Sasuke disebabkan oleh Hinata yang kurang tegas dalam menghadapi Sasori. Atau mungkin karena alasan lain yang hanya diketahui oleh Sasuke. Bahkan Hinata takut menanyakan penyebabnya, ia tidak mau bertengkar dengan Sasuke.

Suasana hati Hinata menjadi sangat buruk, apalagi ia tidak akan melihat Sasuke hingga seminggu ke depan. Padahal sekarang pun ia sudah merindukan Sasuke. Pemuda itu memutuskan untuk mengikuti club camping yang diadakan sekolahnya—khususnya klub judo. Tadi pagi Sasuke berangkat, dan lagi-lagi meninggalkan ponselnya. Jangan-jangan Sasuke sengaja menghindarinya.

Gadis berambut gelap itu menghela napas dengan sedih, entah sudah yang ke berapa kali dalam hari ini. Semoga sepulangnya Sasuke dari club camping, hubungan mereka berdua menjadi lebih baik.

.

.

.

End of Chapter 4: Dispute

Sunday, March 04, 2012

Mind to CnC or RnR?

Thank You