Sebelumnya makasih buat saran kalian, dan saya memutuskan untuk tidak mengganti fiksi ini jd YAOI. Maaf juga karena part2 sebelumnya banyak kalimat yang ketinggalan/typo. Entah saya yang ceroboh atau memang ada keanehan(?) disini.
Big thanks buat yg udah review ^^ :
, sayakanoicinoe, rainrhainyrianarhianie, KaiHun maknae, Bubbletea94, gwansim84, oniks, askasufa, Bebek, SehunWind, KAIHUN-SHINECHIE, candra, hunnie13, jjonghunnie, Kaihun, miu-ssi, Guest.
MY GIRL
Cast :
Oh Sehun (girl)
Kim Jongin
Xi Luhan (girl)
Do Kyungsoo (girl)
And other cast
Genre :
Highschool lives, Drama, Romance
Rated : T
Author : Ohorat
.
.
.
'Aku menyukaimu.'
Satu kalimat yang terus terngiang ditelinga Sehun, membuatnya tak bisa fokus saat bekerja dan tak bisa tidur nyenyak. Walaupun setiap hari memang seperti itu.
Selama 17 tahun Sehun hidup di dunia ini, baru sekarang ada seseorang yang secara terang-terangan menyatakan perasaannya. Sejak kecil, ia tak pernah punya seorang pun teman. Apalagi namja yang menyukainya. Tapi semenjak kenal dengan namja bermarga Kim itu, dunianya berubah. Bisa dibilang, Jongin adalah teman pertamanya. Sekaligus orang yang pertama menyukainya.
.
.
Play : EXO-K – Growl
Pagi ini Sehun melihat sesuatu yang berbeda dari Jongin. Namja itu berjalan melewati gerbang sekolah dan beberapa siswi yang memandanginya penuh kagum. Rambut hitam yang tidak tertata rapi, seragam yang tak pernah dipakai dengan sempurna-beberapa kancing dibiarkan terbuka- bibirnya yang tebal itu tengah mengunyah permen karet dan sesekali meniupnya menjadi seperti gelembung. Mata sipitnya yang terlihat seperti orang Jepang, selalu menatap tajam ke segala arah.
Namja itu berjalan semakin mendekat ke arah Sehun yang masih berdiri mematung. Entah kenapa jantungnya berpacu sangat cepat saat setiap langkah itu semakin terdengar jelas ditelinganya. Ingin rasanya berlari dan menghindari tatapan itu, tapi untuk melangkah saja kakinya begitu berat. Otaknya benar-benar tidak bisa berjalan normal saat ini. Seperti ada bisikan yang membuat Sehun tak bisa bergerak se-inchi pun.
Suara gelembung dari permen karet yang baru saja meledak tepat di depan kedua mata Sehun membuatnya tersadar. Namja itu tengah berhadapan dengannya.
"Sebegitu tampankah diriku?"
Sehun mengerjapkan matanya berkali-kali setelah mendengar pertanyaan yang bisa saja membuatnya memuntahkan sarapan yang sudah ia telan pagi tadi, "A-aku tidak-"
Belum sempat Sehun menyelesaikan penjelasannya, namja itu kini menarik bahu Sehun dan berjalan disampingnya.
"Bagaimana tidurmu?" tanya namja itu dengan seringaian dibibirnya.
Sehun berontak, ia mencoba melepaskan tangan kanan namja ber-name tag Kim Jongin itu yang melingkar dibahunya, "Apa-apaan kau ini?! Lepaskan!"
"Sudah, diam saja. Banyak orang yang melihat kita." Jongin menatap semua siswa-siswi yang tengah memperhatikan mereka dari berbagai sudut.
Sehun mengernyitkan dahinya lalu mendengus kesal, "Memangnya kenapa?"
"Nanti mereka beranggapan kalau kita adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar."
BUK!
Satu tendangan telak dikaki kanan Jongin. Namja itu hanya bisa meringis kesakitan sambil menatap punggung Sehun yang sudah menjauh.
.
.
.
"Ck. Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja seperti itu? Bahkan aku saja yang hanya mendengar penyataannya tak bisa fokus pada apapun. Sialan kau Kim Jongin!" gerutu Sehun sembari membasuh kedua tangannya di wastafel. Saat pelajaran berlangsung, Jongin terus saja menggodanya. Daripada ia stress sendiri, lebih baik melarikan diri ke toilet. Pikirnya.
"Ternyata bukan aku saja yang merasakan itu." Ucap seseorang yang kini tengah berdiri disamping Sehun. Ia tersenyum sembari membasuh kedua tangannya.
Sehun mengernyitkan dahinya bingung, lalu menatap seseorang disampingnya. Lidahnya seketika kaku saat melihat siswi yang sedari tadi sibuk membasuh tangannya lalu mengambil beberapa tissue.
"Kau sepertinya sangat dekat dengan Jongin-" kini siswi itu menghadap ke arah Sehun, matanya menatap name tag yang menempel di dada kiri siswi berambut brunette itu, "-Oh Sehun."
Rasa tegang semakin merasuki Sehun saat ia menatap mata bulat dihadapannya. Ia menelan ludahnya saat kakak kelasnya itu memanggil namanya. Lalu ia pun menatap name tag gadis bermata bulat itu, 'DO KYUNG SOO'.
"Kau baik-baik saja Oh Sehun?" tanya siswi bermarga Do itu. Nada bicaranya membuat Sehun semakin menegang. Sepertinya kakak kelasnya ini tak suka dengannya.
"Jangan takut. Aku tidak akan melukaimu." Ucapnya sembari mengelus rambut Sehun, "Selama kau tidak mengganggu ketenanganku."
Dan lutut Sehun pun melemas saat Kyungsoo meninggalkannya di toilet.
.
.
.
Kepala Sehun semakin terasa pusing saat ini. Beberapa jam yang lalu, ia bertemu dengan kakak kelas 'misterius' di toilet. Belum lagi ia harus memperhatikan guru didepan kelas, sementara namja disampingnya terus saja menggodanya tanpa henti. Kepalanya terasa ingin pecah sekarang juga. Sehun berpikir, tidak hanya Kyungsoo yang berbahaya, tapi Jongin juga. Anak itu semakin aneh saja semenjak menyatakan perasaannya pada Sehun.
Play : EXO-K – Peterpan
Grep!
Seseorang menarik tangan Sehun tiba-tiba. Sehun yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah tertarik menuju area parkir. Siapapun yang menariknya paksa saat ini, Sehun ingin sekali menendangnya.
"Ck. Kenapa kau tiba-tiba menarikku?!" kesal Sehun saat tangannya terlepas dari namja yang seharian ini mengganggunya, Jongin.
"Ikutlah denganku!" perintah Jongin sembari melempar helm ke arah Sehun. Beruntung gadis itu refleks menangkapnya.
"Kemana? Aku tidak mau!"
Karena tak mau membuang waktu dengan berdebat, Jongin pun memakaikan helm itu dengan paksa. Membuat Sehun hanya bisa menggeram kesal.
Jongin menaiki motor sport berwarna putih miliknya sebelum kemudian menyalakan mesin yang terdengar mengaum itu. Bukannya naik, Sehun masih berdiri ditempatnya dengan raut wajah masam.
"Ayo naik!"
"Aku tidak mau naik jika supirnya tak menggunakan helm!"
Jongin terkekeh, "Aku hanya bawa satu helm. Cepatlah naik!"
"Aku tidak mau mati muda, jadi jangan macam-macam!" ancam Sehun sambil duduk dibelakang Jongin yang hanya bisa tersenyum.
.
Dengan tangan Sehun yang memeluk erat, Jongin menembus jalanan kota Seoul dengan kencang. Seolah tak pernah mendengar apa kata Sehun saat ia menaiki motornya tadi. Senyumannya tak lepas sepanjang jalan. Apalagi kini tangan Sehun tengah melingkar diperutnya. Rasanya ia tak ingin mengakhiri perjalanan ini.
.
.
"Kita sudah sampai." Ucap Jongin setelah mematikan mesin motornya didepan sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
Dengan gemetar, Sehun turun dari motor besar itu. Ia melepas helmnya lalu memukulkan pelindung kepala itu pada Jongin yang mulai meringis kesakitan.
"Sudah kubilang jangan ngebut!"
"Kau tidak menyuruhku untuk tidak ngebut. Kau hanya bilang jangan macam-macam."
Lagi-lagi Sehun menggeram kesal dibuatnya.
"Ayo masuk!" ajak Jongin setelah turun dari motornya. Sehun masih terdiam ditempatnya. Ia menatap takut Jongin. Meskipun sibuk, terkadang Sehun menyempatkan dirinya untuk menonton tv, apalagi berita. Ya, akhir-akhir ini banyak sekali korban perkosaan. Ia takut Jongin adalah salahsatu pelaku mesum itu.
Jongin meraih tangan Sehun dan menggenggamnya, "Jangan takut. Aku tak akan berbuat macam-macam."
Setelah mendengar perkataan itu, Sehun hanya bisa menyetujuinya tanpa berkata apapun. Entahlah, ia rasa Jongin benar.
Jongin membuka pintu dan mereka pun memasuki rumah yang terlihat sepi itu. Mata Sehun terus saja menelusuri tiap sudut ruangan, banyak sekali barang-barang aneh disana. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan ruangan itu; berantakan.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang sepertinya itu adalah ruang tamu. Ruangan ini pun tak beda dengan ruangan tadi, meskipun tak terlalu berantakan. Sedikit tertata. Hanya sedikit.
Sehun terkejut saat matanya menangkap dua orang tengah duduk dengan posisi yang lumayan berani. Di sofa merah itu terdapat seorang yeoja yang hanya terbalut tank top dan rok mini sedang duduk diatas paha seorang namja. Penampilan mereka pun tak jauh dengan ruangan ini, sedikit berantakan.
Sehun menundukan kepalanya setelah tidak sengaja melihat dua orang aneh itu.
"Aku kira tak ada orang disini." Ujar Jongin datar. Sama seperti saat pertama kali Sehun mengenalnya.
"Kau lupa Kai? Bukankah tempat ini adalah markas kita?" namja dengan senyuman aneh itu bertanya.
Jongin tak menjawab, hanya menatap keduanya datar. Seolah mengerti dengan tatapannya, yeoja itu turun dari paha si namja lalu duduk disampingnya.
"Kau duduklah dulu. Aku akan mengambil minuman." Perintah Jongin sambil menatap Sehun yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.
Sehun hanya mengangguk sebelum kemudian duduk disamping pasangan yang sedari tadi menatap Sehun.
Rasa takut, gugup, canggung, semuanya merasuki Sehun saat ini. Kedua orang itu tak henti-hentinya menatap Sehun seolah menelanjanginya.
"Kau pacarnya Kai?" tanya namja yang hanya memakai t-shirt tak berlengan itu pada Sehun.
"Ah? Kai?" Sehun mengernyitkan dahinya bingung.
"Maksudku Kim Jongin. Apa kau pacarnya?"
Belum sempat Sehun menjawab, yeoja disampingnya terkekeh. Membuatnya semakin bingung.
"Tidak mungkin dia pacarnya. Gadis pendiam seperti dia bukan type Jongin."
Sakit. Itu yang Sehun rasakan tepat dihatinya. Matanya mulai memanas seolah ada yang mendesak keluar dari sana. Tidak seharusnya ia berada disini. Tidak seharusnya ia menyetujui saat Jongin mengajaknya.
"Se-sepertinya Jongin masih lama. Aku pergi dulu." Ucap Sehun dengan nada bergetar. Ia melangkahkan kakinya begitu Jongin sampai diruang tamu dengan segelas minuman ditangannya.
Sehun menatapnya sekilas sebelum ia keluar dari tempat yang disebut markas itu. Sementara Jongin, ia menatap Sehun bingung saat keluar begitu saja.
"Apa yang kalian katakan padanya?" tanya Jongin datar namun penuh penekanan membuat keduanya terdiam.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA?!" bentak Jongin sambil membanting gelas digenggamannya menjadi hancur berkeping-keping diatas lantai. Belum sempat dua orang itu menjawab, Jongin sudah berlari meninggalkan mereka yang masih terdiam.
.
.
Sehun melangkahkan kakinya secepat mungkin. Hatinya tak berhenti berdenyut sedari tadi. Air matanya pun terus saja mengalir meskipun ia berkali-kali menghapusnya. Tak peduli orang-orang melihatnya dengan tatap aneh, ia terus saja berjalan. Semuanya terlalu sakit.
'Gadis pendiam seperti dia bukan type Jongin'
Perkataan dan kekehan itu bagai mantra sihir yang tak bisa lepas dari pikirannya.
Tak seharusnya ia ke tempat ini.
Tak seharusnya ia mengenal Jongin.
.
.
.
REVIEW DULU BIAR SEMANGAT BIKIN LANJUTANNYA ^^
