Minna, ketemu lagi dengan Kisafuuma. Dan selamat hari kemerdekaan Indonesia yang ke 69 yaa. Makasih buat semua yang udah baca karyaku, especialy Yuna Seijuurou yang sudah mau jadi tokoh utamaku. Cie, cie, yang jadi pairnya Akashi. Huehehehe.

Oke, langsung aja ke ceritanya, oke?

.

.

.

Kuroko no Basuke

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Warnings: typo(s), ooc, I don't take advantage by this fanfiction.

.

.

.

Happy reading!

Sore hari yang tenang dengan daun-daun cokelat berguguran. Di sebuah makam bertuliskan kanji dengan dupa di depannya tertancap tangkai-tangkai merah yang digunakan sebagai alat sembahyang pun menyala di ujungnya dan menghasilkan asap. Angin musim gugur membelai tubuh kurus seorang gadis remaja yang terbalut dalam baju hitam kelamnya sedang berdoa di depan makam tersebut. Lalu, disebelahnya juga ada seorang wanita paruh baya yang surai rambutnya juga berwarna kemerahan yang bisa kita persepsikan bahwa itu adalah ibu dari gadis tersebut. Si Ibu juga berdoa di depan makam tersebut.

Yuna membuka matanya dan menyelesaikan ritual doanya. Begitu juga ibunya. Kedua pasang tangan tersebut turun dari kepalan dan mereka bangkit dari simpuh mereka.

"Yuna, maafkan Ibu. Harusnya Ibu memberitahu ini sejak awal,"ucap sang Ibu dengan nada menyesal.

Yuna menggeleng pelan, lalu tersenyum lembut pada ibunya. "Yuna tak apa-apa kok, bu. Yuna mengerti. Ibu menyembunyikannya sampai di waktu yang tepat aku mengetahuinya. Aku merasa Ibu sudah memilih waktu yang tepat kok,"ucapnya.

Sang Ibu mendesah panjang, lalu ia rangkul Yuna mendekat padanya dan mengusap-usap bahunya sambil mengecup pelan pucuk kepalanya. "Maafkan Ibu, sayang. Maaf, tapi mungkin ini yang terbaik. Aku tahu Ayahmu itu seperti apa dan bagaimana dia sebenarnya. Dia benar-benar baik, sama sepertimu. Namun, ia harus meninggalkan kita untuk selamanya,"ujar Ibunya lirih.

Yuna yang lebih tinggi beberapa senti dari Ibunya hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Lalu, mereka berdua pun berjalan pergi meninggalkan makam itu.

.

.

.

"Yuna,"panggil sang Ibu.

"Ya, bu?"

"Apa saat ini ada seseorang yang kamu sukai?"tanyanya.

Mata Yuna terbelalak dan wajahnya menjadi sedikit merona. "A-apa maksud Ibu dengan...orang yang kusuka?"

"Hihihi...terlihat dari wajahmu, sayang,"ucap Ibunya sambil menunjuk wajah Yuna. Sedangkan Yuna sendiri kebingungan dan memegang wajahnya sendiri.

"Memang ada apa dengan wajahku, Ibu?"

"Wajahmu itu adalah wajah wanita yang sedang jatuh cinta, sayang,"jawab Ibunya sambil membelai lembut pipi Yuna dengan punggung tangannya.

"Huh? Aku...ja-jatuh cinta?"

"Iya, sayang. Aah, kau mengingatkanku dengan diriku yang dulu ketika bertemu dengan Ayahmu waktu kuliah. Aku sama sepertimu dulu, yang awalnya tak tahu apa-apa tentang cinta akhirnya mengerti tentang hal itu dari Ayahmu. Oh, Yuna, Ayahmu waktu melamar Ibu sangatlah romantis, sayang. Pas saat musim gugur ini juga Ayahmu melamar Ibumu ini,"ujar sang Ibu dengan wajah merona.

Sedangkan Yuna yang mendengarkannya hanya bisa terbengong Ibunya yang sudah tak muda lagi, namun kecantikan tetap memancar di wajahnya.

"Yuna, kalau memang kamu sudah menemukan cintamu yang sebenarnya, maka saat itulah kamu akan belajar mengenai cinta yang sebenarnya, yaitu cinta antara kau dan laki-laki yang kamu cintai,"ucap sang Ibu menatap lembut anaknya.

"Tapi, Ibu. Cinta itu kan banyak, bukan hanya mencintai orang yang kusuka saja kan?"

"Ya, itu juga bisa. Ibu pun juga mencintaimu sebagai anakku, cinta antara ibu dan anak. Namun, cintamu pada orangmu satu-satunya nanti akan berbeda. Kamu yang dalam masa pubertas akan mempelajari hal itu sampai ke jenjang kedewasaan. Maka, dari itu belajarlah untuk mencintainya dari sekarang. Siapa tahu dialah pasangan hidupmu nanti,"ujar Ibunya sambil tersenyum lembut pada Yuna.

Yuna pun membalas senyum sang Ibu. "Baik, bu,"

"Ne, Yuna, kalau tidak salah beberapa hari yang lalu kamu belanja dengan seseorang kan? Yang anak berambut merah itu kan?"tanya Ibunya tiba-tiba.

"I-iya, memang kenapa?"

"Hihihi...kalian terlihat serasi sekali. Seperti pasangan muda,"ujar Ibunya sambil tersipu.

"I-Ibu! Jangan berpikiran seperti itu dong. Aku kan malu,"ucap Yuna agak kesal dengan wajah merona merah.

"Ah, tapi kamu terlihat senang saja bersamanya bukan?"

Oke, kali ini Yuna terdiam mendengar pertanyaan sang Ibu yang memang ingin tahu tentang anak semata wayangnya ini. Yuna pun mengalihkan pandangannya ke depan dengan wajanya yang masih memerah. Sang Ibu yang melihatnya hanya tersenyum lebar.

"Ne, siapa nama anak itu?"tanya Ibunya.

"A-Akashi Seijuuro,"jawab Yuna terbata-bata.

"Heeh? Namanya benar-benar sama dengan namamu ya. Enaknyaa..."

"Apanya yang enak dari nama yang sama, bu?"

"Katanya kalau kamu bisa menemukan pasangan dengan nama yang sama denganmu, berarti kamu orang yang beruntung loh. Di dunia ini banyak orang yang memiliki nama yang sama, namun presentase untuk pasangan dengan nama yang sama itu kurang dari satu persen loh,"jelas sang Ibu.

"Lalu, apa hubungannya denganku dan Akashi?"

"Artinya, kalian itu pasangan yang amat langka, sayaang,"jawab Ibunya dengan semangat.

"Heeeh?"

.

.

.

Bruk!

Aku menjatuhkan diriku di atas kasurku yang empuk. Aku mengusap keningku yang berkeringat, lalu menoleh ke arah ponselku yang terletak di meja kecil di sebelah kasurku. Aku meraih ponselku dan membukanya. Saat layar ponsel itu menyala, aku melihat tanda telepon merah yang terpampang di sudut kiri atas layar yang menandakan adanya beberapa panggilan tak terjawab masuk.

"Siapa ya?"

Selama aku di tempat pemakaman aku tidak membawa ponsel. Jadi aku tak tahu kalau ada yang menelpon. Aku langsung membuka menu log panggilan. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat nama pemanggil yang terpampang di layar ponselku.

"Akashi-kun...?"

Dan aku makin terkejut ketika melihat berapa kali ia menelponku dalam catatan panggilan tak terjawab. 20 panggilan tak terjawab. Dan terakhir dia menelponku adalah pukul 17.40.

Kira-kira ada apa dengannya hingga ia menelponku berkali-kali? Apa aku harus menelpon dia balik ya?

Tanganku bergetar dengan ibu jariku yang sekarang berada diatas tombol hijau. Telepon, tidak, telepon, tidak. Keraguan menyelimutiku hingga seluruh tubuhku merinding semua. Sampai akhirnya ibu jariku menekan tombol hijau dan menyambung ke nomor ponsel milik Akashi di sana.

Jantungku berdetak kencang sekali. Wajahku juga memanas selama aku menunggu jawaban panggilan dari Akashi. Tanganku juga makin bergetar memegang ponselku yang kutempelkan dekat telinga kananku.

'Tuuut...tuuut...tuuuut...klek!'

"Halo?"

Ah, akhirnya diangkat juga.

"Ano, Akashi-kun?"

"Yuna? Ini Yuna kan?"

"I-Iya, ini aku,"

"Hari ini kenapa kamu tidak masuk sekolah? Ada urusan apa? Dan kenapa kau tidak memberitahuku?"tanyanya bertubi-tubi dan dengan nada marah –atau tepatnya khawatir-.

"Maaf, aku hari ini pergi ke makam ayahku dan berdoa di sana sekaligus berkunjung ke rumah induk,"jawabku dengan nada pelan terbata-bata.

"Ayahmu? Bukankah kamu dulu bilang kalau Ayahmu bercerai dengan Ibumu?"tanya Akashi.

"Yaah, memang. Tapi baru kutahu kalau sebenarnya Ibu tak pernah bercerai, ternyata Ayahku itu adalah seorang tentara veteran. Ia dikirim ke Palestina untuk ikut bertempur. Dan ternyata ia meninggal dan jasadnya dibawa pulang ke Jepang. Jadi,..."

Aku mengambil jeda sebentar untuk berdeham, "Jadi aku hari ini izin untuk datang ke pemakamannya,"lanjutku.

"Begitu ya..."

"Un.."

"Syukurlah kalau begitu. Besok kamu masuk kembali kan?"tanyanya.

"Iya, aku akan masuk kembali kok. Oh ya, ada PR ngga?"tanyaku langsung mengalihkan pembicaraan.

"Ada, matematika minat dan sejarah. Nanti kupinjam catatannya ke kamu,"ucapnya.

"Eh? Sungguh? Terima kasih. Aku sangat terbantu, Akashi-kun. Maaf merepotkan,"ucapku girang.

Akashi hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. Dan tak lama keheningan mulai menyelimuti kami. Lalu, tiba-tiba terdengar suara deheman darinya di seberang sana.

"Uhm...sudah makan belum?"tanyanya.

"Ng...belum. tapi sebentar lagi aku akan makan malam dengan Ibuku,"jawabku singkat.

"Oh..oke. Kalau begitu sudah ya,"

"Iya, maaf ya kalau sampai membuatmu menelponku berkali-kali hari ini. Aku benar-benar ceroboh tadi,"ucapku dengan nada agak direndahkan.

"Iya, ngga apa-apa kok. Oh ya, Yuna, aku...emm.."

"Ya?"

"Ah, tidak apa-apa. Sudah ya, selamat malam,"ucapnya mengakhiri pembicaraan kami.

"Oh ya, selamat malam, Akashi-kun,"sahutku.

Lalu, sambungan telepon pun terputus. Namun, di dalam pikiranku aku penasaran apa yang akan dikatakan Akashi sebelum kami memutus pembicaraan. Kedengarannya seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting, tapi...ah, sudahlah.

.

.

.

.

Tanpa Yuna sadari diseberang sana Akashi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat ia merona sampai ke telinganya dan jantungnya berdebar kencang.

"Bodoh...aku tak bisa mengatakannya kalau aku merindukannya,"gumamnya pelan sambil merutuk kesal.

.

.

.

.

Keesokan harinya...

"Yuna,"panggil Akashi yang berada tepat di sebelah kiri Yuna.

"Ya? Ada apa?"

"Ini, yang kujanjikan kemarin,"ujarnya sambil menyerahkan dua buku tulis pada Yuna.

"Oh iya, terima kasih ya, Akashi-kun,"sahut Yuna sambil tersenyum lebar.

Lalu, ia membuka lembaran buku catatan itu satu per satu. "Wah, ternyata tulisanmu bagus dan rapi ya, Akashi-kun,"puji Yuna sambil melirik tulisan-tulisan Jepang yang tertoreh di atas putihnya kertas.

"Ah, biasa saja,"sahut Akashi malas.

"Uhm...beneran kok, kalau dibanding dengan tulisanku malah..."Yuna melirik ke bukunya sendiri. Lalu menyengir lebar, "...jauh dari yang kamu bayangkan,"lanjutnya.

Karena penasaran Akashi pun mengambil salah satu buku catatan Yuna yang berada di atas mejanya dan membukanya. "Tulisanmu juga bagus kok. Selama bisa dibaca maka itu sudah termasuk bagus,"ucapnya lalu menaruh buku itu kembali ke atas meja.

"Ah, begitu ya. Terima kasih,"

"Oh ya, mampirlah ke atas atap lagi. Kemarin Reo merengek-rengek mencari kamu tuh,"ucap Akashi seraya berjalan menjauhi Yuna.

"Reo? Maksudmu Reo-senpai?"tanya Yuna.

"Iya,"

"Baiklah, aku akan ke atap nanti. Tapi, aku harus ke ruang guru dulu, ada yang mau kuurus,"ucap Yuna berjalan menyusul Akashi.

"Iya kah? Ya sudah, kutunggu di atap,"

Yuna mengangguk, lalu memisahkan diri dari Akashi dan berjalan ke ruang guru. Sedangkan Akashi sendiri berjalan menuju atap.

.

.

.

"Jadi, kamu mau ulangan susulan?"

"Iya, sensei,"

"Kamu tidak usah ulangan, kamu bikin artikel aja ya. Kasihan kamunya harus banyak ikut lomba,"ujar ibu paruh baya itu.

"Tidak usah, saya lebih baik ikut ulangan susulan saja,"sanggah Yuna menolak dengan halus.

"Hhh...jadi, kamu mau kapan bisa ikut ulangan?"

"Bagaimana kalau besok?"usul Yuna.

"Baiklah, besok kamu sudah harus siap ya. Nanti akan saya buatkan soalnya untukmu,"ucap guru tersebut seraya tersenyum lembut pada Yuna.

"Baik, terima kasih, sensei,"

Setelah mengalami perbincangan singkat itu, Yuna berjalan keluar ruang guru dan berniat kembali ke kelasnya karena bel sudah berbunyi menandakan masuknya pelajaran kelima. Namun, tiba-tiba tiga orang gadis menghadangnya di jalan dan reflek ia berhenti tepat di hadapan mereka.

"Hei, cantik,"

"Mau kemana kamu?"

Yuna langsung menegang kala mereka menyapanya dengan nada agak mengejek. Sedangkan yang satu lagi mendekat ke arahnya dan mengangkat dagunya. "Wajah ini dan rambut ini...kamu mau menyamai Sei-kun ya?"tanyanya sambil menyipitkan matanya.

"Iya, sudah namanya sama, rambutnya pun juga merah. Benar-benar mirip Sei-kun ya, Yuna-chan,"

"Apa maksud kalian?"tanya Yuna dengan nada ketakutan. Tangannya pun bergetar.

"Ah, kami hanya menyapamu saja kok...atau tepatnya mau memberitahumu sesuatu..."ucap yang satu di belakang Yuna sambil memelintir rambutnya dengan telunjuknya.

"Mem-memberitahu apa?"

"Kau tahu Akashi Seijuurou kan?"

Yuna mengangguk.

"Kalau kau tahu dia kamu pasti sudah tahu apa saja prestasinya. Aku...atau kami bertiga ini adalah pengurus klub fansnya Akashi-kun,"ujar yang berambut panjang.

"Yaa, dan tidak sembarang orang bisa mendekati, Akashi-sama. Hanya mereka yang anggota klub kami sajalah yang bisa mendekatinya~"sambung yang berada disamping kiri Yuna.

"Dan karena kamu adalah orang asing bagi kami maka..."ucap yang dibelakang Yuna sambil menarik rambut yang terpelintir di jari telunjuknya.

"Aah!"jerit Yuna.

"Jangan kau coba-coba mendekatinya yaa~"lanjutnya berbisik di telinga kanan Yuna.

Yuna mengangguk patah-patah sambil meringis kesakitan. Kemudian, perempuan yang menarik rambutnya tadi melepasnya dengan kasar, lalu mereka bertiga pun pergi meninggalkannya sendirian di koridor yang sepi. Tubuhnya bergetar hebat karena shock yang dialaminya tadi. Yuna pun berjongkok sambil memeluk dirinya sendiri yang bergetar hebat. Ingin rasanya ia menangis di sana saat itu juga, namun saking kagetnya dia sampai tak bisa mengalirkan air matanya.

Ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin dan mengeluarkan perlahan berharap ia bisa kembali tenang. Caranya itu sepertinya cukup berhasil karena ia pun bisa sedikit tenang setelah digencet oleh tiga perempuan tadi.

'Yuna bersabarlah..' gumamnya dalam batin.

To be continued...

Mind to RnR?