Chapter 4
Aku suka dengan permainanmu.
Aku ingin seperti dirimu.
Akan kubuat siapa saja yang mendengar permainanku
Merasakan seperti diriku ketika mendengarmu,
Nee...maukah kau mengajarkan ku?
Gadis itu tersenyum ramah kepada orang yang berada didalam sebuah ruangan itu. Duduk memandang gadis itu heran didepan sebuah Piano klasik hitam yang terlihat mewah. Tatapan lembut gadis itu mengetarkan hatinya. Ini pertama kalinya ia melihat seorang gadis menatap dirinya berbeda dengan yang lain. Jatuh cinta mungkin itu ungkapan yang mengabarkan kondisi perasaannya sekarang. Membalas senyum gadis itu, semakin membuat lekukkan bibir gadis itu melebar. Benang merah yang menghubungkan mereka pun mulai terikat dijari kelingking mereka. Seakan benang merah itu tidak akan pernah bisa putus oleh apapun.[]
*Click...* suara seseorang membuka pintu ruangan itu dengan tiba-tiba ditengah suasana yang serius membuat Kise dan yang lain terkejut. Apa lagi ketika mereka tau siapa yang membuka pintu itu, beberapa dari mereka terbelalak dan terkejut dan sebagian lagi hanya diam seraya menundukan kepala mereka tak berani untuk menatap langsung Akashi yang masuk keruangan itu.
"Aku bisa mendengar suara kalian dari luar, Apa yang sedang kalian bicarakan?" Akashi masuk dengan wajah yang bertanya-tanya apa lagi ia heran dengan sikap mereka yang terlihat dingin kepadanya ketika ia memasuki ruangan tersebut. Akashi menatap satu persatu teman satu tim Orkestara-nya itu, ia penasaran apa yang mereka bicarakan tadi hingga membuat wajah mereka sangat serius apa lagi ketika melihat raut wajah Aomine. Akashi yang keheranan akhirnya menatap Momoi berharap gadis itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Momoi yang terkejut melihat tatapan Akashi yang mengarahnya membuatnya terdiam sejenak dan lalu kembali mengangkat kepalanya.
"Akashi-kun..." panggil Momoi dengan gugup. Tetapi Momoi tidak berbicara lagi setelah memanggilnya.
"Kenapa kalian masih disini? Bukankah kalian sudah harus berada dibelakang panggung." ucap Akashi yang didalam pikirannya masih bertanya-tanya apa yang sedang mereka diskusikan.
"Kami akan segera kesana-tsuu!" seru Kise semangat berusaha untuk menyembunyikan suasanan yang tidak enak ini. Kise masih saja tersenyum walau Akashi tidak merespon seruannya, ia menatap datar Kise dan lalu tatapannya berubah arah ke arah Kuroko.
"Kuroko, Apa kamu melihat Arisa?" tanya Akashi yang membuat semua tersentak terkejut mendengarnya. Mereka semua terdiam.
"..."
"Kenapa kalian diam saja? Apa salah satu dari kalian tidak melihatnya sama sekali? Bukankah itu aneh." Akashi mulai merasa aneh dengan sikap mereka, ia menatap mereka tajam satu persatu secara begantian berusaha untuk membaca pikiran dari raut wajah mereka dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Namun kebanyakan dari mereka membuang muka mereka tak berani menatap langsung ke arah Akashi. Akan tetapi berbeda dengan Murasakibara yang tidak segugup hingga tak berani menatap Akashi seperti mereka. dengan santainya sambil memakan cemilan yang berhambur di meja persegi panjang itu Murasakibara mulai membuka mulutnya.
"Nee...Akachiin, kenapa kamu terus memcarinya. Dari tadi aku melihatmu mondar-mandir di lorong, melihatnya saja membuatku lelah." Dengan datar tanpa ekspresi Murasakibara berbicara.
"Ada masalah jika aku terus mencarinya?" Akashi mulai terdengar dingin karena ucapan Murasakibara yang membuatnya tersulut emosi, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku heran kenapa Akachiin peduli sekali dengan dia. padahal dia tidak ada disini. Gadis itu juga tidak akan tampil hari ini." Ujar Murasakibara seakan tidak peduli dengan perasaan orang lain disekitarnya yang berusaha menutupi agar Akashi tidak shock mendengar berita yang akan mengejutkannya nanti.
"Murasakibara sudah henti—" Midorima yang takut masalah ini semakin rumit berusaha untuk menghentikan Murasakibara berbicara lebih panjang lagi hingga menghalangi Akashi yang terlihat mulai marah menatap langsung Murasakibara. Akan tetapi ucapnya langsung dipotong Akashi.
"Midorima tolong jangan menghalangiku!" Serunya dingin, mengeser tubuh Midorima didepannya. Cengkraman tangan Akashi kepadannya membuat dia kaget. "...Murasakibara apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Aku tidak suka dengan ucapanmu."
"Bahkan Akachiin saja tidak tau, apa Akachiin benar-benar peduli padanya? Atau hanya membuang-buang waktu saja bermain-main bersamanya?" Murasakibara lalu berdiri dari kursinya berjalan ke hadapan Akashi yang menatapnya sinis. Murasakibara pun ikut membalas tatapannya dengan tatapan merendahakan apalagi tubuh Murasakibara yang besar membuatnya memandang Akashi seperti binatang kecil yang lemah. Akashi benci tatapan itu.
"Beraninya kamu mengatakan itu tentangnya!" Akashi terlihat sangat marah.
"Sudah hentikan! Jangan membuat keributan disini. Kita harus segera ke belakang panggung." Momoi mencoba menjadi penengah mereka dengan mengalihan topik pembicaraan. Ia juga berusaha menenangkan Akashi yang terlihat marah itu agar pertengkaran ini tidak berlanjut kearah yang lebih buruk dari ini. Akan tetapi Akashi yang tidak terima gadis itu dihina oleh Murasakibara membuatnya tidak bisa tenang sebelum Murasakibara mengucapkan maaf kepadanya atas perkataannya itu.
"Tidak usah ikut camput Momoi! Aku ingin mendengar penjelasan darinya yang telah mengatakan hal itu tentang Arisa."
"Akashi-kun!" panggil Momoi berusaha untuk Akashi menghentikan semua pertikaian ini.
"Anak itu namanya Shiganori Arisa, bukan? Apa Akachin tidak tau kalau nama itu sama dengan nama siswi yang mengalami kecelakaan 2 hari yang lalu." Kata Murasakibara mengejutkan semua yang ada disana, termasuk Akashi dengan wajah yang paling terkejut.
"Murasakibara!" teriak Kuroko kaget dengan perkataan Murasakibara tersebut.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." Wajah Akashi menunjukan kebingungan dan keterkejutannya dengan perkataan Murasakibara tadi. Ia merasa semua itu hanya berita bohong belaka. "Arisa bersamaku dua hari ini, Ia selalu datang ke ruang musik untuk berlatih."
"Itu tidak mungkin!" seru Aomine tiba-tiba. Wajah Aomine semakin menampakan raut wajah sedih dan menyesal. Raut wajah mereka mulai berubah menjadi sedih akan suatu hal. Membuat Akashi semakin tidak mempercayai berita itu.
"Akashichii, kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan berita ini dari mu, tapi...mungkin ini sudah terlambat." Kise berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan berita yang mungkin akan membuat Akashi marah karena menutupi berita ini. "...Arisachii, dua hari yang lalu mengalami koma dirumah sakit, karena kecelakaan tabrak lari yang dialaminya."
"Tidak...Kalian pasti bercanda. Apa kalian bercanda denganku, Arisa bersamaku diruang musik!" Akashi terlihat shock ia berusaha untuk tidak mempercayai kebenaran tersebut. "Tidak...Arisa bersamaku...ia bersamaku..." Akashi terus membuat dirinya mempercayai apa yang ia lihat dan rasakan bukan pada berita yang ia anggap sebagai lelucon murahan untuk mengerjai dia agar percaya.
"Akashi-kun..."dengan pelan dan serius Kuroko memanggil Akashi yang terlihat kacau tersebut. " dua hari yang lalu, aku tidak melihat Arisa diruang musik setelah atau pun sebelum Akashi masuk keruangan itu. Aku hanya melihat Akashi-kun bermain piano seorang diri disana, memainkan lagu yang sama seperti yang dimainkan Arisa-san." Kuroko terlihat takut dan khawatir dengan kesehatan Akashi saat ini.
"Tidak mungkin! Aku bersama Arisa kemarin, dia berlatih dengan keras untuk hari ini. Dan dia—" tiba-tiba Akashi berhenti berbicara membuat semua yang ada diruangan itu terdiam heran. Akashi menginggat kembali perkataan Arisa yang aneh. Pertanyaan yang membuatnya bertanya-tanya ketika itu -Jika aku menghilang dari hadapanmu, apa yang akan kamu lakukan- Akashi tidak membayangkan kalau perkataan itu benar-benar menjadi kenyataan. Tiba-tiba Momoi menitikan air matanya, padahal ia telah sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak keluar karena akan merusak riasannya. Tetapi perasaan kesedihan yang menyesak ini membuatnya tidak dapat membendungnya.
"A-Akashi, maafkan aku tidak memberitahumu lebih cepat. Arisa...dia tidak sadarkan diri setelah kecelakaan itu dan kemarin sore Arisa tidak bisa bertahan lebih lama lagi di rumah sakit. Dia telah—" Momoi berusaha untuk tidak menanggis tetapi semakin ia menginggat keceriaan gadis itu ketika bersamanya membuat dia tidak bisa menahannya. Momoi pun mulai terisak menanggis membasahi pipinya. Kuroko yang melihat seorang gadis menanggis seperti itu tidak bisa tinggal diam, dia mencoba menenangkan Momoi walau sebenarnya ia juga ingin menanggis. Semua hanya bisa terdiam.
"Tidak...tidak mungkin, kemarin sore aku bersamanya diruang musik. Kalian jangan berani-beraninya mempermainkanku dengan mengarang cerita seperti itu!"
"SADARLAH!" teriak Aomine kepada Akashi dengan kesal. "Harusnya kamu yang lebih mengetahui tentang hal ini ketimbang kami yang hanya temannya! Apa kamu sudah mulai gila karena gadis itu, HAH?!" Aomine meluapkan emosinya yang tak terkontrol, ia berdiri dari sofa dimana ia duduk tadi berjalan dengan langkah yang menyentak kearah Akashi menarik kerah kemeja putihnya dengan paksa dan berteriak dihapannya. "GADIS YANG KAMU CINTAI ITU SUDAH TIDAK ADA!"
"Aomine tenanglah!" Kise berdiri menahan tubuh Aomine yang seperti ingin menghajar Akashi.
"Aomine...segera lepaskan tanganmu dariku." Pintah Akashi dingin dengan tatapan tajam yang menusuk. Membuat Aomine yang melihat tatapan itu tersentak kaget dan langsung melepaskannya.
"Tch!" setelah melepaskan Akashi, langsung mengambil koper biolanya dan langsung pergi meninggalkan ruangan ini. Kebetulan ketika Aomine akan membuka pintu ruang itu seseorang masuk keruangan tersebut. Ia adalah staff dari acara ini yang sepertinya sedang mencari peserta yang akan segera tampil,
"Apa disini ada yang bernama Aomine Daiki dengan nomor peserta 6 dari instrumen biola? Dia harus segera ke belakang panggung."
"...itu Aku." Jawab Aomine kepada staff itu, berjalan melewati Akashi dalam diam, mengebrak pintu dengan kasar ketika ia keluar bersama staff itu.
"Daiki-kun..." Momoi menghapus perlahan air matanya, melihat sikap Aomine yang terlihat sangat sedih saat ini.
"Aku yakin saat ini dia pasti sedang kacau. Soalnya Arisa yang mengenalkan dia kepada dunia musik ini dan sekarang..." Kise ikut terbawa perasaan sedih yang terus menyelimuti ruangan ini. Murasakibara yang sendari tadi berdiri seraya memperhatikan Akashi yang hanya terdiam mematung setelah mendengar berita yang membuatnya terlihat sangat terkejut hingga seperti ini.
"Inikah Akashi yang tidak pernah kalah dalam kompetisi itu? inikah komposer yang kata orang jenius? Melihat kenyataan saja ia tidak bisa. Aku tidak mau diarahkan oleh orang yang mulai mengkhayal seperti dirimu." Dengan tatapan merendahkan lagi Murasakibara melihat kearah Akashi.
"Murasakibara cukup. Jangan perbesar masalah ini." Midorima agak jengkel dengan sikap Murasakibara yang keterlaluan seperti itu. Murasakibara seperti tidak menghormati kepergian Arisa dan terus memanas-manasi Akashi, Midorima sangat tidak suka dengan sikap seperti itu.
"Midorima Shintarou nomor peserta 7 dari instumen klarinet, segera kebelakang panggung." Kembali seorang staff acara masuk keruangan itu untuk memanggil peserta selanjutnya yang akan segera tampil. Jika Midorima sudah dicari berarti sekarang ini Aomine sedang bermain diatas panggung. Terdengar samar-samar suara gesekan biola yang kuat tapi terdengar sedikit kacau akan tetapi sangat indah. Mendengar permainan Aomine saat ini seperti mendengar suara isi hatinya yang tidak karuan. Akan tetapi Aomine sangat hebat walau terkesan seperti asal-asalan namun isi gambaran dari lagu itu dapat tergambar dipikiran para pendengar dengan jelas apa yang disampaikan oleh lagu tersebut, tentu saja juri akan mempertimbangkan soal teknik permainannya jika Aomine memainkan lagu sebagus ini. Paganini - 24 Caprices for Solo Violin, Op.1 No.24 in A minor. Midorima lalu keluar bersama staff acara itu. setelah perginya Midorima diruangan itu. Kise merasa tekanan dan suasana di ruangan itu semakin berat walau mereka terselimuti oleh kesunyian mereka sendiri.
"Aku mau mencari udara diluar." Akhirnya Kise tidak tahan dengan tekanan didalam dan ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu, terlebih lagi dia akan segera berada dipanggung ia harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu sebelum naik keatas panggung. Melihat Akashi yang seperti shock dan hanya terdiam saja membuat Kuroko khawatir.
"Akashi-kun, kamu tidak apa-apa?" tanya Kuroko pelan.
"Akashi..." Momoi juga terlihat khawatir dengan sikap Akashi sekarang ini. Ia tidak berbicara maupun bergerak sedikitpun.
"Baik, Sekarang terserah diri kamu saja. Kamu aku ijinkan tidak mengikuti arahanku. Aku tidak akan menyalahkanmu ikut atau tidak ikut dalam latihan. Asalkan kamu dapat membawa kemenangan untuk tim kita." Nada dingin Akashi yang tiba-tiba itu membuat Kuroko merinding. "Sebentar lagi kita akan lulus dan kamu boleh dengan sesuka hati mencari konduktor yang kamu mau...dan satu lagi—selamanya kamu tidak akan bisa mengalahkanku." Dengan tatapan dingin dan menusuk Akashi melihat kearah Murasakibara seperti menantang.
"Tempat ini benar-benar menjengkelkan. Aku ingin segera lulus dari sini saja..." Murasakibara yang merasa kesal keluar dari ruangan ini meninggalkan Akashi dan yang lain. Momoi menatap Kuroko dengan sedih semua ketakutannya akan pertikaian yang membuat mereka berpisah akhirnya menjadi nyata. Begitu juga Kuroko yang takut akan hal ini terjadi, janji yang pernah ia buat dengan Momoi untuk tetap menyatukan mereka agar selalu bersama-sama dalam sebuah tim hancur begitu saja karena berita yang tidak disangka-sangka. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa diputar balikan kembali. Segalanya berakhir disini. Semuanya cinta, harapan dan persahabatan mereka telah berakhir tanpa tau seperti apa masa depan mereka sebelum dan setelah badai ini akan berlalu.
To be Contiuned...
