Seseorang telah tertembak. Peluru masuk ke dada kirinya dan bertemu dengan jantung. Nafas mulai tak terasa di tubuh tak bernyawa yang tergeletak di lantai. Mata Park Woojin membulat. Melihat sosok pria yang sedang menodongkan pistol ke arah mayat di lantai. Pemuda manis yang sedang mencoba beberapa pakaian berteriak ketakutan. Kakinya melangkah keluar dari ruangan dan berdiri di pojokan.
"Guanlin?!" teriak Woojin.
Pria itu, Lai Guanlin dengan santainya menatap mayat hasil tembakannya. Matanya sedikit terbuka, dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Pakaian putihnya kotor dengan noda darah di dada kiri dan sebuah jepitan kecil berwarna merah yang di jepitkan di kantung baju. Pemuda asal Cina berjalan mendekat kearah Woojin, "Kau urus mayat itu. Aku akan membawa Seonho pergi."
Woojin mengangguk, lalu menarik tubuh tak bernyawa ke dalam ruang ganti. Sosok yang di tembaki Guanlin adalah salah satu antek-antek Hwang Minhyun.
Guanlin mendekat kearah Seonho. Mendekatkan tubuh mungil tuan muda dengan dirinya. Mencengkram erat pinggang nan ramping di tangan kirinya, "Ayo pergi."
.
.
.
.
THE BODYGUARD FROM CINA
Main cast:
Lai Guanlin, Yoo Seonho, and other.
Disclaimer:
This is parody of 'The Bodyguard from Beijing'
Semua karakter bukan punya saya. Saya hanya meminjam beberapa untuk kelancaran fanfik ini.
WARN! YAOI, OOC, TYPO, AU.
I hope you enjoy this story~
.
.
.
.
Dua pemuda itu pergi dari ruang ganti. Berusaha keluar dari mall tanpa berurusan dengan antek-antek Minhyun yang sedang mengawasi mereka berdua. "Kau harus tetap disisiku, anak buah Minhyun sedang berada di dekat sini." ucap Guanlin. Tangan kirinya tak henti-henti mendekap tubuh mungil Seonho. Sedangkan si tuan muda hanya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang bodyguard. Berusaha melindungi diri dari anak buah Hwang Minhyun.
Mata elang Guanlin menangkap sosok pria berpakaian cleaning service hendak mengeluarkan pistol dari saku celananya. Tangan kanan Guanlin langsung bertindak, jarinya segera menekan pelatuk yang terdapat pada pistol dan mengarahkannya pada sang cleaning service. Menciptakan bunyi peluru yang terdengar keras di seluruh ruangan. Semua pengunjung segera berteriak ketika mendengar suara tembakan.
Orang-orang mulai berlarian menyelamatkan diri. Anak buah Minhyun berkali-kali salah menembak orang. Korban mulai berjatuhan. Yoo Seonho berada dalam pelukan erat sang bodyguard. Dengan lincah Guanlin menembaki para antek-antek Minhyun, tangan kirinya setia memeluk erat pria mungil bermarga Yoo. Seonho semakin berteriak histeris, matanya tak berani menatap sekeliling. Berharap dirinya masih diberikan kesempatan hidup.
Pemuda asal Cina berusaha berlari. Mereka sedang berada di lantai 5 sekarang, sangat sulit menuju lantai dasar dalam keadaan genting seperti ini. Dari belakang seorang pria mencoba memukul kepala Seonho dengan kapak besar. Pemuda Yoo berteriak sangat histeris. Guanlin dengan lincah menembaki pria tersebut tepat di bola matanya. Sang pria berteriak kesakitan, Guanlin tak segan-segan memotong leher pria tersebut dengan kapak besar yang dibawanya. Darah pria itu muncat ke tubuh Seonho. Pemuda Yoo tak berani membuka matanya.
Aksi brutal semakin menjadi. Banyak orang yang mengincar kematian Seonho disini. Guanlin segera menembaki mereka satu persatu. Tubuh Seonho ia lindungi dengan jas hitamnya, memasukkan pria mungil tersebut kedalan pelukan sang bodyguard. Wajah yang terlihat datar itu menampakkan raut kekejaman. Seseorang hampir ingin menembaki kepala Guanlin, beruntung pemuda itu segera menundukkan kepalanya lalu membalas tembakan orang tersebut.
Para pengunjung yang lain berhamburan. Woojin segera membantu menembaki para antek-antek Minhyun. Haknyeon segera berlari mencari Seonho berada, dan menghiraukan Bae Jinyoung yang berteriak memanggil namanya. "PAMAN HAKNYEON! TUNGGU AKU!"
Dilain sisi, Guanlin yang sudah membunuh beberapa orang mulai memasuki sebuah restoran yang terdapat di dalam mall bersama Seonho. Mereka duduk di depan seorang pria berkacamata yang sedang menunduk. Mata Guanlin menatap seluruh pengunjung, mereka semua ketakutan. Menundukkan kepala takut-takut jika mereka menjadi korban selanjutnya. Seonho berusaha mengatur nafasnya. Tangan mungilnya masih setia memeluk tubuh Guanlin. Kedua tangan itu tak ingin berpisah dengan tubuh besar sang bodyguard.
"A-aku takut." ucap Seonho sedikit terisak.
Guanlin hanya diam. Matanya masih memantau keadaan. Ia kemudian menatap sosok pria dihadapannya. Dia berkacamata, rambut klimis, memakai tuxedo berwarna coklat muda, dan ada jepitan merah kecil di kemejanya. Tunggu, jepitan merah kecil?
Guanlin berusaha mengingat benda kecil itu. Benda yang ia lihat saat dirinya menembak anak buah Minhyun di ruang pakaian. Mata belatinya menatap intens pergerakan pria di hadapannya. Tangan kanan pria itu perlahan turun kebawah. Berusaha mengambil sesuatu di kantung celana. Guanlin semakin menyipitkan matanya.
DOR
Pria itu tak bernyawa. Seluruh orang kembali berteriak. Seonho segera berhamburan memeluk erat tubuh Guanlin. Pemuda Cina itu hanya menatap datar. Masih dengan wajah tanpa ekspresi. Tangan kanan menembaki pria di depannya.
Guanlin segera melepas jas hitamnya. Jas hitam itu di pasang di tubuh mungil Seonho, "Pergilah duluan. Pastikan kau menutup wajah dan badanmu dengan jas ini." ucap Guanlin tegas.
Seonho mengangguk, lalu ia berlari keluar restoran dan berhamburan dengan pengunjung yang lain. Guanlin mengambil jepitan merah milik pria di hadapannya, lalu memakaikannya di kantung kemeja nya. Ia berlari keluar, berusaha menyusul Seonho yang sudah pergi.
Semua pengunjung berhamburan lari menuju eskalator. Lari terbirit-birit tak tentu arah. Seonho yang berada di tengah-tengah mereka juga berusaha lari. Guanlin berdiri di samping seorang pria yang diam-diam memegang pistol. Mata pria tersebut menatap jepitan merah di kantung kemeja pria berdarah Cina. Kepalanya sedikit mengangguk pada Guanlin. Dia mengira jika Guanlin adalah salah satu anak buah Minhyun, sama seperti dirinya.
Mata pemuda itu menatap Seonho yang sedang turun dari eskalator. Pria itu segera turun dan menodongkan pistolnya kearah Seonho. Dari belakang, Guanlin segera menembakkan pelurunya pada pria tersebut. Pria itu terjatuh dan tubuhnya menggelinding diatas eskalator.
Guanlin segera turun dan mengejar Seonho. Tangannya tak henti-henti menembakkan peluru pada orang yang berniat membunuh tuan muda. Seonho berteriak ketika di depan matanya terdapat sebuah pistol. Pria itu tertawa renyah lalu berkata, "Selamat tinggal, Yoo Seonho."
DOR
Pria itu mati dengan mata terbuka. Dada tertembak oleh peluru yang keluar dari pistol sang bodyguard Cina. Guanlin segera menarik Seonho kedalam pelukannya. Ia kemudian menatap sekeliling, "SEMUANYA TIARAP! INI DARI KEPOLISIAN!" teriak Guanlin masih dengan posisi memeluk pria mungil bernama Seonho.
Seluruh pengunjung tiarap. Hanya Guanlin dan Seonho yang masih berdiri. Pemuda Yoo semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang sang bodyguard. Tangan mungilnya mencengkram erat kemeja putih Guanlin.
"AAAAAA~" seorang wanita hamil berteriak. Tubuhnya oleng dan hampir terjatuh. Seonho yang melihatnya segera melepaskan pelukan Guanlin dan menahan tubuh wanita hamil itu.
"A-anda tidak apa-apa?" tanya Seonho khawatir.
"T-tidak apa-apa." ucap wanita hamil tersebut. Tangan kanannya mengambil pistol di dalam tas gendongnya, hendak menembak Seonho.
Guanlin yang melihatnya segera melempar pisau yang terdapat di lantai ke tangan wanita itu. Pisau mendarat tepat di urat nadi sang wanita yang ternyata berpura-pura hamil. Bantalan besar keluar dari dalam bajunya. Guanlin segera menembaki wanita tersebut tepat di dada nya.
Seonho terkejut ketika wanita itu mati di pelukannya. Ia langsung menjatuhkan wanita itu ke lantai. Dua orang berniat membunuh Seonho dari kejauhan. Guanlin yang melihatnya segera menembaki salah satunya. Satu pria itu segera menembaki pelurunya kearah Guanlin. Pemuda Cina segera berguling di lantai mall, berusaha menghindari peluru yang hampir mengenai tubuhnya secara bertubi-tubi. Tangannya segera melepas pelatuk dari pistol. Menembaki pria itu secara bertubi-tubi.
"SEONHO TUTUP TUBUHMU DENGAN JAS HITAMKU!" teriak Guanlin pada Seonho. Pemuda Yoo yang ketakukan segera sujud dan menutupi seluruh tubuhnya dengan jas hitam. Guanlin segera menembaki sebuah kunci yang menahan beberapa ratus balon di langit-langit mall. Satu persatu balon warna-warni mulai berjatuhan. Menghalangi pandangan musuh untuk menembak Seonho.
Beberapa kali juga anak buah Minhyun salah menembak orang karena terhalang ribuan balon yang berjatuhan. Guanlin yang ingin menembak anak buah Minhyun pun menahan diri, takut-takut tembakannya meleset dan mengenai orang lain. Entah kebetulan atau apa, disamping kirinya terdapat skateboard. Guanlin segera mengambil papan panjang beroda empat tersebut lalu menidurkan diri diatasnya. Kaki panjangnya mendorong kuat lantai agar skateboard berjalan. Papan panjang beroda empat itu berjalan kearah Seonho yang sedang sujud sambil menutupi dirinya dengan jas hitam. Tangan besar Guanlin segera menarik tubuh Seonho lalu menidurkan tubuh tuan muda di atas tubuhnya. Tangan kirinya memeluk erat tubuh mungil Seonho, sedangkan tangan kanannya menembak tepat kepala sang lawan. Berterima kasihlah pada balon-balon yang sudah menghalangi pandangan para musuh sehingga nyawa Seonho selamat.
Seonho yang tertidur diatas tubuh Guanlin pun semakin mempererat pelukannya. Ditenggelamkannya wajah serta kepala ke dada bidang tentara Cina. Berpelukan diatas skateboard yang berjalan cepat. Guanlin segera bangkit dari atas skateboard lalu menggendong tubuh mungil tuan Yoo. Seonho melingkarkan kedua kakinya di pinggang Guanlin. Kedua tangannya memeluk erat leher sang bodyguard. Wajahnya di tenggelamkan di leher pemuda Lai. Posisi Seonho nampak seperti seekor koala yang sedang memeluk erat pohon bambu. Mata tajam Guanlin masih sibuk memperhatikan sekeliling. Ketika salah satu anak buah Minhyun hampir menembak punggung Guanlin, dengan sigap Woojin menembaki orang tersebut.
"CEPAT PERGI! BAWA TUAN SEONHO MENJAUH DARI SINI!" teriak Woojin. Tangannya mulai kembali fokus menembaki beberapa lawan.
Guanlin berterima kasih pada Woojin, lalu kakinya dengan cepat turun ke lantai dasar. Berlarian ke tempat parkir mobil, lalu menurunkan Seonho dari gendongannya. "Kau duduk di sampingku," ucap Guanlin.
Seonho hanya bisa mengangguk. Lalu ia duduk di sebelah kursi pengemudi. Guanlin segera masuk dan menyalakan mesin. Sosok pria dengan pakaian polisi muncul di samping mobil. Berniat menembaki kaca jendela mobil dan kepala Seonho.
"GUANLIN! AWAS!" teriak Haknyeon. Dirinya segera berlari dan berhadapan langsung dengan polisi jadi-jadian tersebut. "BAWA TUAN SEONHO PERGI! BIAR AKU YANG MENGURUS ORANG INI." ucap Haknyeon sambil menodongkan pistolnya pada wajah polisi jadi-jadian tersebut. Mata Haknyeon sempat membaca nametage sang pria, namanya adalah Kwon Hyunbin.
Hyunbin segera menembaki beberapa pelurunya pada Haknyeon. Jinyoung yang daritadi mengejar langkah pemuda Joo terperangah menatap kejadian didepannya. "PAMAN HAKNYEON!!!!"
Wajah Haknyeon seketika memucat. Tangannya mencoba menekan pelatuk di pistolnya, dan ternyata pelurunya habis. Ia lupa mengisi peluru kemarin. Tubuhnya kembali di tembak oleh Hyunbin. Guanlin yang tak terima Haknyeon di tembak pun membuka jendela mobil, lalu menembaki wajah Hyunbin dengan brutal.
Haknyeon jatuh, ia terdampar diatas tanah. Dengan sedikit kekuatan, dirinya berusaha berteriak. "B-bawa T-tuan pergi! Uhuk—aku t-tidak apa-apa!"
Guanlin yang sebenarnya tak tega meninggalkan Haknyeon sendiri akhirnya pergi membawa Seonho menjauh dari mall. Mobil mercy berwarna hitam mulai terlihat menjauh dari pandangan Haknyeon. Jinyoung segera lari terbirit-birit menghampiri paman Joo dengan air mata yang mulai membanjiri wajahnya. "P-paman... hiks—paman tidak akan mati kan? Hiks—"
Haknyeon sedikit tertawa, lalu tangannya mengeluarkan sebuah kalung yang menempel pada lehernya. "Uhuk—tenang saja. A-aku memiliki 9 nyawa uhuk—selama aku punya kalung ini, nyawaku aman."
Bocah berumur 10 tahun masih menangis. Meratapi Haknyeon yang sedang menahan tangis. Woojin yang baru datang segera membopoh tubuh Haknyeon dan membawanya pergi ke rumah sakit bersama Jinyoung. Meninggalkan mayat Kwon Hyunbin sendirian di area parkir dengan wajah yang sudah tak berbentuk.
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 20.00 malam. Sang bodyguard Cina beserta tuannya berada di dalam kamar. Hanya berdua. Tangan sang bodyguard menjelajahi paha serta betis tuan muda. Melingkarkan helaian perban untuk menutupi beberapa luka lecet. Seonho hanya diam dan menatap bagaimana telaten nya Guanlin dalam mengobati betis dan pahanya.
Perban sudah menutup rapat luka Seonho. Pemuda Yoo itu kembali menatap mata Guanlin yang sedang berjongkok di hadapannya, "Terima kasih."
Guanlin menatap sekilas wajah Seonho, dirinya ingin bangkit dari hadapan sang tuan. Tangan mungil Seonho menahan lengan kekar sang bodyguard, "Tunggu dulu."
Sekali lagi, pemuda Cina itu kembali menatap wajah Yoo Seonho. Pria mungil itu membuka kancing kemeja Guanlin. Perlahan, tubuh sixpack dengan dada yang sangat bidang terpampang jelas di mata coklat Seonho. Tangan lentik pemuda Yoo perlahan menyentuh dada bidang sang bodyguard. Perlahan tapi pasti, Guanlin hanya menatap tangan yang menempel pada dada bidangnya. "Dadamu terluka." ucap Seonho melihat sebuah sayatan kecil di dada Guanlin.
"Tidak apa, tidak parah." jawab Guanlin datar. Pemuda Cina itu segera melepas tangan Seonho dari tubuhnya, lalu berjalan keluar kamar.
Seonho terdiam. Mengamati kaki kanannya yang habis diobati oleh bodyguard yang selama ini selalu ia anggap menyebalkan. Sedikit senyuman mengembang di wajah pemuda manis yang berstatus guru TK tersebut.
Kakinya melangkah keluar dari kamar. Keadaan rumah sangat sepi. Dirinya hanya berdua bersama Guanlin. Daehwi menyusul ke rumah sakit, membawa pakaian ganti untuk Haknyeon yang dirawat akibat luka tembaknya. Ya, besok Seonho dan Guanlin akan menjenguknya.
Rumah besar berlantai dua terlihat sedikit gelap. Kaki kecil Seonho bergerak menuruni tangga, berjalan menuju kamar sang bodyguard. Pintu kamarnya tak tertutup. Pemuda Yoo sedikit mengintip kedalam kamar, terlihat seorang Lai Guanlin yang sedang mengobati luka-luka nya. Tubuh bertelanjang dada sang bodyguard sukses membuat seburat merah di pipi kenyal Seonho. Dengan posisi Guanlin yang membelakangi Seonho, mata pemuda manis itu dapat melihat jelas punggung serta bahu lebar sang tentara Cina. Bagaimana otot-otot itu terlihat di punggung serta lengannya. Sinar rembulan yang muncul dari jendela membuat tubuh kekar itu terlihat bersinar.
Guanlin sedikit meringis, menahan rasa sakitnya sendiri. Tubuh pria itu berbalik menghadap Seonho. Kini, terpampang jelas bagaimana kekarnya tubuh itu. Dada bidang nan lebar, bentuk kotak-kotak yang terdapat pada otot perutnya, serta bagaimana keringat mengalir di tengah dada bidangnya. Sungguh, Seonho gelagapan sendiri melihat pemandangan indah di depannya.
"Sedang apa kau disitu?" tanya Guanlin dengan suaranya yang terdengar sangat berat. Oh Tuhan, Seonho berani bersumpah bodyguard Cina itu terlihat berkali-kali lebih tampan dari biasanya.
Perlahan tubuh sang bodyguard mendekatinya, tangan kanan sang bodyguard sesekali mengusap pelan rambutnya yang basah. Wajahnya yang selalu terlihat datar itu, rahangnya yang keras, bibir yang tak pernah tersenyum, dan bahu lebarnya.
Seonho semakin gugup. Pemuda mungil itu menunduk, tak sanggup menatap keindahan dunia yang ada pada tubuh Guanlin. "A-aku hanya lewat."
Tuan Yoo berusaha pergi, namun tangan besar mulai menahannya pergi. Jantung Seonho berdegup keras. Perasaan apa ini? Mengapa jantungnya berdetak sangat cepat? Nafasnya mulai sesak, keringat dingin mulai keluar dari tubuh pemuda Yoo. Sungguh, Seonho sedang tidak terkena penyakit asma 'kan?
"Kakimu masih sakit?" tanya Guanlin.
"T-tidak." jawab Seonho singkat.
Perlahan, tangan besar itu menjalar ke rambut Seonho. Mengusapnya pelan, "Lain kali, kau harus mengikuti aturanku. Bocah nakal." ucap Guanlin sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Lai Guanlin memamerkan senyumannya yang menawan. Hanya tersenyum kecil, namun sukses membuat Seonho terhipnotis.
Dan untuk pertama kalinya pula, Yoo Seonho membalas senyuman sang bodyguard dengan tulus.
"Ya, tuan bodyguard."
.
.
.
.
TBC
Balasan review chapter sebelumnya:
Love.Kadi: Huhu, terima kasih sudah mampir xD Dan, semoga chapter ini bisa lebih memuaskan dari sebelumnya :)
MarkeunhyuckLee: Koko Guan suka diem diem xD Terima kasih sudah membaca :)
Daana-Yo: Haha, terima kasih sudah menunggu fanfik ini xD /elap ingus/ Jaehwan terlalu sibuk mengurus perusahaan lele nya:(( jadi, Seonho dianggurin. Huehue mungkin akan ada beberapa pair yang akan muncul di fanfik ini x"D Untungnya sih bukan Seonho, jadi tenang saja hoho~ Terima kasih sudah membaca :)
Karen Ackerman: Huhu pak hakim sakit membawa berkah xD /digampar/ karena apalah arti Seonho tanpa Guanlin :(( Woojin tidak peka :(( /ditendang/ Hoho bahaya kalo Guanlin sampai ikut masuk kedalam ruang ganti xD Terima kasih sudah membaca :)
Ellegisnt: Maklum, pemikiran Seonho masih childish:(( /ditendang/ Huaaa jadi merasa sedikit bersalah nih, maafkan jika saya publishnya kemalaman :"" /sungkem/ Minhyun belum mendapat hidayah, jadi ya... gitu /dilempar/ Hehe, saya senang kamu sudah memberi komentar dan saran untuk fanfik ini :)) Terima kasih sudah membaca dan terima kasih juga untuk dukungannya! Semoga chapter depan lebih memuaskan dari chapter sebelumnya xD
Guest: Seonho sok tsundere ceritanya:')) /plak/ hehe, Guan selalu melindungi Seonho kok. Bapak Jaehwan lagi sibuk ngurus ternak lele, biar bisnisnya semakin maju xD /ditendang/ wkwk Terima kasih sudah membaca :)
Privateyira: Guan tetap disini Seonho kok, tenang saja xD Hoho memang sedikit bandel, jadi begini:')) Ya, SAYA JUGA SETUJU ADANYA PENIKUNGAN DISINI /dilempar beton/ Terima kasih sudah membaca :)
Park RinHyun-Uchiha: Hehe, saya fast update xD Seonho masih terlalu childish, tapi nanti dia berpikir dewasa kok xD Terima kasih sudah membaca :)
byankai: Uhhh terima kasih banyak xD /elap ingus/ Di usahakan akan fast update kok xD Terima kasih sudah membaca :)
Erumin Smith: Hehe sudah di lanjut kok, Terima kasih sudah membaca :)
kkamo: Ya, saya akui memang agak ngebut, mungkin karena efek lagi mumet trus maksa lanjutin, huwaaa maaf jika chapter kemarin kurang memuaskan TvT /sungkem/ untuk character death mungkin bisa kita lihat nanti hoho xD /plak/ Terima kasih sudah membaca :)
Guesschu: Haha ya, saya selipkan moment Jaehwan dan Seonho sebentar wkwk. 'mas optimus' membuatku ngakak xD /dilempar kayu/ JINSEOB TIDAK KARAM PERMISA, HAHAHA~ /teriak pake toa/ /dilempar kolor/ Wkwkwk banyak-banyaklah ber istigfar nak :) /mendadak alim/ hoho Terima kasih sudah membaca :)
SayaTest: BUKAN SEONHO KOK BUKAN x""D Terima kasih sudah membaca :)
khongguansayangseonho: Seonho lagi dapet mangkanya sensian sama Guan xD /dicincang/ Terima kasih sudah membaca :)
sjhwmd: Hehe, sayangnya Guan cuma mau posesif ke Seonho:(( /tibatiba dilempar golok/ Terima kasih sudah membaca :)
A/n:
HALO SEMUA~ HAHAHA ADAKAH YANG MERINDUKAN DIRIKU?! /gak/ Oke, pertama-tama maafkan jika chapter sebelumnya kurang ngefeel, ya saya akui chapter sebelumnya memang membosankan :"" Tapi, semoga chapter sekarang bisa lebih baik daru chapter sebelumnya :) Terima kasih yang sudah memberikan review, follow, serta vote untuk fanfik ini xD /tebar bunga/ sekian, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~
-levieren225
