Remake dari Novel milik EL James.
Fifty Shades of Choi.
Rate : T, BL, Romance, OOC.
Siwon x Kyuhyun.
Disclaimer : Cerita asli milik EL James, saya hanya meremake dengan citarasa Korea.
- Fifty Shades of Choi -
Kyuhyun's Pov-
Aku mengerutkan kening di ponselku, menjulurkan lidah dan kembali menghela nafas. Aku baru saja mengirimkan pesan untuk Changmin ketika Donghae Hyung memasuki Toko. "Jadi, bagaimana kau bisa kenal Choi Siwon?" Suara Donghae Hyung pura-pura tidak terlalu penasaran.
"Aku mewawancarainya untuk koran mahasiswa. Aku menggantikan Henry yang sakit." Aku mengangkat bahu, berusaha terdengar biasa.
"Choi Siwon di Toko ini? Bagaimana bisa, aku masih tidak percaya." Donghae Hyung mendengus, kagum. Dia menggelengkan kepala, "Oh ya, apa malam ini kau ada acara?"
Lagi dan lagi Lee Donghae. Setiap kali dia pulang, dia memintaku berkencan dan aku selalu mengatakan tidak. Memang tidak buruk tapi aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai ide yang bagus. Donghae Hyung memang cukup tampan untuk ukuran pria tapi dia bukan pahlawan sastra, berbeda dari yang selalu aku imajinasikan.
Kalau Choi? Bawah sadarku bertanya. Bayangan saat alisnya terangkat, tersenyum seperti biasa dengan dimple dikedua pipinya, memang senyum joker khas Choi Siwon selalu menawan. Aku buru-buru menghilangkan pikiran itu dan kembali ke duniaku. "Apa Hyung tidak ada acara? Aku pikir, akan ada makan bersama malam ini."
"Oh, itu besok Kyuhyun. Malam ini aku tidak ada acara."
"Maaf, mungkin lain kali, Hyung. Aku harus belajar malam ini. Minggu depan aku ada ujian."
"Baiklah, tapi ingat Kyuhyun, suatu hari nanti kau akan berkata iya."
Aku berharap tidak akan pernah mengatakan itu Hyung. Aku hanya menganggapmu sebagai kakak karena usiamu diatasku dan kau selalu mengayomiku. Aku rasa perasaan seperti ini tidak akan berubah, tidak akan berubah sampai kapan pun.
- Fifty Shades of Choi -
Hari sudah malam, aku pulang ke apartemen seperti biasa. Henry langsung menanyaiku soal kejadian tadi siang. Kupingku panas mendengar semua pertanyaan Henry, aku memilih meninggalkannya. Tidak masalah dia mengomel sendiri bahkan melupakan soal pemotretan.
"Henry sudah cukup, aku akan menghubungi Changmin." Mencari kontak Changmin lalu aku berjalan mendekati jendela. Tidak menunggu lama, Changmin langsung menerima panggilanku.
"Bagaimana mungkin kalian memintaku menjadi fotografer, aku hanya memotret barang bukan orang." Erang Changmin, seperti dugaanku dia akan terkejut mendapat pesan dariku.
"Changmin, tolong bantu aku dan Henry. Jebal Chwang~" Aku memohon, mencengkeram ponselku, mondar-mandir di ruang tamu apartemen sambil menatap keluar jendela.
"Berikan teleponnya!" Henry meraih ponselku, "Dengar, Changmin. Jika kau bersedia, surat kabar kami akan meliput pembukaan acaramu. Kau harus melakukan pemotretan ini besok, oke?"
"Bagus, Kyuhyun akan menelepon kembali memberi tahumu lokasi dan waktunya. Sampai jumpa besok!" Dia langsung menutup panggilan. Henry sama seperti Choi, gila kontrol.
"Masalah fotografer sudah selesai, sekarang yang perlu kita lakukan adalah memutuskan dimana tempatnya. Telpon dia, Kyuhyun." Dia mengacungkan ponsel padaku. "Telpon Choi, sekarang!" Tambah Henry tegas.
Aku cemberut padanya dan merogoh saku jaketku untuk mengambil kartu namanya. Aku mengambil napas dalam, dengan jari gemetar aku memanggil nomor tersebut. Dia menjawab pada dering kedua. Nada suaranya terpotong, tenang dan dingin.
"Hallo."
"Hmm... Mr. Choi? Ini Cho Kyuhyun." Aku tidak mengenali suaraku sendiri, aku sangat gugup.
"Mr. Cho, senang mendengar suaramu." Suaranya telah berubah, dia terkejut dan dia terdengar begitu hangat bahkan menggoda. Napas sesak dan aku memerah, aku sadar bahwa Henry menatapku, mulutnya terbuka dan aku bergegas ke dapur untuk menghindari tatapan yang tidak diinginkan itu.
"Hmm.. Kami ingin melakukan pemotretan untuk artikel." Bernafas, Kyuhyun bernafas! Paru-paruku menarik napas dengan tergesa-gesa, "Besok, besok kami akan melakukan pemotretan itu. Dimana tempat yang nyaman bagimu, tuan?" Aku hampir bisa mendengar seringainya melalui telepon.
"Aku menginap di Lotte World Hotel. Bagaimana kalau jam sembilan tiga puluh, besok pagi?"
"Oke, kita bertemu disana." Aku terengah dan mendesah seperti anak kecil.
"Aku menunggunya, Mr. Cho."
Aku membayangkan kilatan jahat di mata hitamnya., bagaimana bisa dia membuat empat kata sepele yang sangat menggoda! Aku menutup telepon. Henry sudah ada disebelahku, menatap dengan ekspresi penuh kekhawatiran dan bingung di wajahnya.
"Cho Kyuhyun, kau menyukainya! Aku belum pernah melihat atau mendengar kau begitu terpengaruh oleh siapapun sebelumnya. Kau benar-benar memerah."
"Oh Henry, kau kan tahu aku malu sepanjang waktu. Ini risiko yang harus aku tanggung, jangan mengada-ada." Kataku keras. Dia berkedip padaku dengan terkejut, "Aku hanya merasa dia mengintimidasi, itu saja." Lanjutku.
"Lotte World Hotel, aku tahu tempat itu. Aku akan menelpon manajernya dan menegosiasikan ruang untuk foto."
"Bagaimana kau bisa dapat nomor manajernya?" Aku mengernyit heran.
"Kau lupa, aku wartawan Kyuhyun." Henry membangga, aku hanya memutar saja. Jika dia bisa mendapatkan hal seperti itu kenapa dia tidak mencari nomor Choi juga? Ah aku lupa kalau Choi orang berkuasa yang tidak tersentuh.
"Aku harus belajar, selamat malam!" Aku tidak bisa menyembunyikan rasa risihku pada Henry ketika aku meninggalkan dapur. Dia terus saja menatapku dengan tatapan curiga, apa terlihat jelas jika aku memang terpengaruh oleh Choi Siwon?
Aku gelisah malam ini, memimpikan mata Choi, baju lengan panjang, kaki panjang, jari panjang dan senyumnya. Aku bangun dua kali, hatiku berdebar-debar. Oh, aku akan terlihat buruk besok kalau aku tidak tidur dengan cukup malam ini. Aku meninju bantalku dan mencoba untuk tidur. Ayo tidur dan berhenti memikirkan, Siwon!
- Fifty Shades of Choi -
09.00 AM at Lotte World Hotel.
Aku, Henry, Changmin dan Jonghyun pergi ke hotel. Seperti yang dijanjikan oleh Mr. Choi, kami akan melakukan pemotretan di salah satu kamar hotel. Jonghyun adalah teman Changmin, dia akan membantu mengatur pencahayaan. Ketika Henry menjelaskan pada resepsionis bahwa kita disini untuk pengambilan gambar Ceo Choi Enterprise, kami langsung mendapatkan kamar suite.
Hanya suite berukuran biasa, sepertinya Mr. Choi sudah menempati salah satu yang terbesar di hotel ini. Kami diantar ke kamar yang elegan, bersahaja, dan berfurnitur mewah. Ini jam sembilan, kami memiliki setengah jam untuk menyiapkan peralatan dan juga background.
"Changmin, kita akan mengambil gambar di dinding. Atur itu karena ada beberapa pose berdiri untuknya." Kata Henry, "Jonghyun, atur kursi untuk pose lainnya. Kyuhyun, kau bisa meminta pelayan untuk membawa beberapa minuman." Iya Nyonya! Lihat, Henry begitu mendominasi. Aku memutar mata, tetapi melakukan apa yang dikatakannya.
Setengah jam kemudian, Choi Siwon masuk ke suite kami. Ya ampun! Dia mengenakan kemeja putih, terbuka di kerahnya dan celana flanel yang menggantung dari pinggulnya. Rambut acak-acakannya masih lembab sehabis mandi. Mulutku jadi kering melihat dia, dia begitu hot. Choi masuk diikuti oleh seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan, dalam setelan gelap dan dasi tajam yang berdiri diam di sudut.
"Mr. Cho, kita bertemu lagi." Choi mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya tanpa berkedip. Ketika aku menyentuh tangannya, aku menyadari getaran yang nikmat mengalir menembus diriku.
"Mr. Choi, ini Henry Lau." gumamku sambil melambaikan tangan ke arah Henry yang maju ke depan, sambil menatap tepat di mata hitamnya!
"Mr. Lau yang ulet. Bagaimana kabarmu?" Dia tersenyum kecil, "Aku rasa kau baik-baik saja. Minggu lalu, Kyuhyun bilang kau sedang tidak sehat."
"Aku baik-baik saja, terima kasih Mr. Choi." Henry menjabat tangan Choi kuat-kuat tanpa mengedipkan kelopak mata. "Terima kasih telah meluangkan waktu untuk melakukan ini." Tambah Henry, memberikan senyum sopan.
"Dengan senang hati." Choi mengubah tatapannya padaku dan aku memerah.
"Dia adalah Changmin, fotografer kami." Kataku sambil menunjuk Changmin yang sudah siap dengan kameranya, Changmin tersenyum penuh kasih sayang padaku. Matanya berubah dingin saat melihat Choi. "Apa kabar, Mr. Choi?" Changmin menjabat tangan Choi.
"Selalu baik." Ekspresi Choi berubah juga ketika ia membalas jabatan tangan Changmin.
"Dimana kau akan memotretku?" Tanya Choi pada Changmin. Nada suaranya terdengar samar-samar mengancam tapi Henry tidak akan membiarkan Changmin mengatur pertunjukan.
"Mr. Choi, silahkan kau bisa duduk di sini. Hati-hati kabel pencahayaan. Kami juga akan melakukan beberapa foto dengan posisi berdiri." Henry mengarahkan Choi ke kursi yang telah disiapkan.
Jonghyun menyalakan lampu, lalu Jonghyun dan aku berdiri kembali untuk menonton ketika Changmin mengambil gambar. Dia mengambil beberapa foto dengan kamera genggam, meminta Choi untuk memutar seperti ini, seperti itu, memindahkan lengan, lalu meletakkannya lagi. Changmin mengambil beberapa jepretan, sementara Choi duduk dengan pose sabar dan alami selama sekitar dua puluh menit.
Harapanku telah jadi nyata, aku bisa berdiri dan mengagumi Choi dari tempat yang tidak terlalu jauh. Dua kali mata kami bertatapan dan aku harus melepaskan diri dari tatapan berawannya.
"Sekarang saatnya posisi berdiri." Henry menginstrusikan. Dia berdiri, dan Jonghyun bergegas menyingkirkan kursinya. tombol pada Nikon Changmin mulai mengklik lagi.
"Aku pikir sudah cukup." Gumum Changmin lima menit kemudian.
"Bagus." Kata Henry puas. "Terima kasih lagi, Mr. Choi." Henry menjabat tangannya, begitu juga Changmin.
"Aku berharap segera membaca artikelmu, Mr. Lau." Gumam Choi lalu menoleh padaku yang berdiri dekat pintu. "Maukah kau jalan denganku, Mr. Cho?" Tanyanya.
Aku benar-benar tidak menyangka. Aku melirik cemas pada Henry yang mengangkat bahu. Aku melihat Changmin cemberut di belakang Henry. "Tentu." Jawabku gugup.
"Selamat siang semua." Kata Choi saat ia membuka pintu, berdiri di samping memberi jalan padaku dulu. "Silahkan Mr. Cho." Dengan gugup aku berjalan terlebih dahulu diikuti olehnya.
Ada apa ini? Apa yang diinginkannya? Aku berhenti di koridor hotel, gelisah, gugup ketika Choi muncul dari ruangan diikuti oleh seorang pria dengan setelan rapi. "Aku akan meneleponmu, Teddy." bisiknya ke orang itu.
Teddy berjalan kembali ke koridor dan Choi mengalihkan tatapannya padaku. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?
"Apa kau mau minum kopi denganku?"
Jantungku melonjak sampai ke dalam mulutku. Kencan? Choi Siwon memintaku berkencan. Dia menanyakan apakah kau ingin kopi. Mungkin ia berpikir kau belum benar-benar terbangun, bawah sadarku merengek padaku mencibir lagi. Aku berdeham berusaha mengendalikan diriku.
"Aku harus mengantar semua orang pulang." ucapku meminta maaf.
"TEDDY!" panggil dia membuat aku melompat. Teddy, yang telah mundur ke koridor, berbalik dan menuju kembali ke arah kami.
"Apa mereka semua akan pulang ke universitas?" Tanya Choi, suaranya lembut dan bertanya. Aku mengangguk, terlalu terkejut untuk berbicara.
"Teddy dapat mengantar mereka. Dia supirku, mobilku besar dan dia bisa mengangkut peralatan juga."
"Yes, sir." Teddy sudah berdiri di sekitar kami.
"Tolong kau antar fotografer, asistennya dan Mr. Lau ke Universitas." Perintah Choi.
"Of course, sir!" Teddy membalas.
"Sekarang kau bisa minum kopi denganku!" Choi tersenyum seolah-olah itu kesepakatan yang sudah terlaksana. Dia kembali bertingkah bossy?
"Ayo!"
Aku berjalan menyusuri koridor, lututku gemetar, perutku penuh dengan kupu-kupu. Aku akan minum kopi dengan Choi Siwon walaupun aku benci kopi. Kami berjalan bersama menyusuri lorong hotel yang lebar menuju lift. Apa yang harus kukatakan padanya? Pikiranku tiba-tiba lumpuh dengan ketakutan. Apa yang akan kita bicarakan? Apa kesamaanku dengan dia?
Suara yang lembut, hangat mengejutkanku dari lamunan. "Sudah berapa lama kau kenal Henry?"
"Sejak tahun pertama kami kuliah, dia teman baikku."
Di depan lift, dia menekan tombol panggil lalu bel berbunyi segera. Pintu terbuka menampilkan pasangan muda tengah berpelukan dengan bergairah. Terkejut dan malu, mereka melompat berpisah, menatap dengan rasa bersalah ke segala arah kecuali ke arah kami. Choi dan aku melangkah masuk ke lift. Aku berjuang untuk menjaga wajahku biasa saja, jadi aku memandang ke lantai, merasa pipiku berubah merah muda. Ketika aku mengintip ke arah Choi, ada sedikit senyum di bibirnya.
Pintu terbuka dan sangat mengherankan. Choi meraih tanganku, menggenggam dengan jari yang panjang dan dingin. Aku merasa aliran listrik kembali melaluiku, detak jantungku sudah cepat berakselerasi. Saat ia membawaku keluar dari lift, aku bisa mendengar cekikikan tertahan dari pasangan tadi meledak di belakang kami. Choi terlihat kembali menyeringai, seringai khas joker yang menakutkan.
Kami melintasi lobby yang luas dan ramai dari hotel menuju pintu keluar tapi Choi menghindari pintu putar, dan aku ingin tahu apakah itu karena ia harus melepaskan tanganku? Choi berbelok ke kiri dan berjalan ke pojok, dimana kita berhenti menunggu lampu-lampu pejalan kaki untuk berganti. Dia masih memegang tanganku, sekali lagi aku katakan, Choi Siwon memegang tanganku. Tidak ada seorangpun yang pernah menggenggam tanganku.
Aku merasa pusing, aku mencoba meredakan seringai aneh yang mengancam muncul. Kau harus tenang Kyuhyun! Alam bawah sadarku memohon padaku. Kami berjalan empat blok sebelum kita sampai di Coffee Shop, dimana Choi melepaskanku untuk menahan pintu terbuka sehingga aku bisa melangkah masuk.
"Bagaimana kalau kau yang memilih meja, sementara aku memesan minuman. Apa yang kau mau?" Tanyanya, sopan seperti biasa.
"Aku mau... Aku ingin minum teh saja, aku tidak biasa meminum kopi."
Dia mengangkat alisnya. "Tidak minum kopi? Apa kau tidak suka?"
"Aku tidak minum kopi di pagi hari."
Dia tersenyum. "Oke, apa tehnya pakai gula?"
Untuk sesaat aku tertegun, berpikir itu adalah sikap sayang tapi untungnya pikiran bawah sadarku menendang dengan cepat pikiran itu. Hanya bertanya soal gula, aku terlalu banyak berkhayal.
"Tidak, terima kasih."
"Ingin pesan makanan?"
"Tidak, terima kasih." Aku menggeleng, dan dia berjalan menuju ke counter.
Aku duduk di bangku dekat pintu masuk, diam-diam menatap dia dari bawah bulu mataku saat ia berdiri di baris menunggu untuk dilayani. Aku bisa mengawasinya, dia tinggi, berdada bidang dan langsing. Sekali atau dua kali dia menggerakkan jari panjang ke rambutnya yang sekarang kering tapi masih acak-acakan. Dia sexy dan hot! Aku menggigit bibir dan menunduk menatap tanganku lagi.
"Sedang memikirkan sesuatu?" Choi kembali mengejutkanku.
Aku jadi merah. Aku hanya berpikir tentang mengeluskan jariku di rambutnya dan bertanya-tanya apakah itu akan terasa lembut ketika disentuh. Dia membawa nampan dan menaruh di atas meja kecil bundar dari kayu. Ia meletakan teh dan kopinya, tampak ada pola daun indah di kopinya. Dia juga membeli muffin blueberry untuknya. Ia duduk di depanku dan menyilangkan kakinya yang panjang. Dia terlihat begitu nyaman dan santai, aku iri padanya.
"Memikirkan apa?" Tanya Choi lagi.
"Tidak, aku suka tehnya." Suaraku tenang. Aku tidak bisa percaya duduk berhadapan dengan Choi Siwon. Dia mengernyit, dia tahu aku menyembunyikan sesuatu. Aku mulai menyesap tehku, rasanya enak seperti biasa dan sedikit menenangkan saat aku merasa panik dibawah tatapan matanya, ia memiringkan kepalanya memberikan pandangan bertanya ke arahku.
"Apa dia pacarmu?" Tanya Choi, mendadak dan mengejutkan.
"Siapa?" Aku tidak tahu siapa yang dia maksud.
"Fotografer, Changmin kan namanya?"
Aku tertawa, gugup tapi penasaran. Apa yang memberinya kesan itu? "Tidak, Changmin adalah teman baikku. Kenapa kau berpikir jika dia pacarku?"
"Saat kau menatapnya dan dia juga menatapmu." Tatapan mata hitamnya menahanku. Dia begitu mengerikan, aku ingin berpaling tapi aku sudah terpesona.
"Dia sudah seperti keluarga, ayah kami berteman dan begitupun dengan kami."
Choi mengangguk sedikit, tampaknya puas dengan penjelasanku lalu melirik ke bawah pada muffin blueberry. Tangannya yang terlihat lebih besar dariku mulai memotong muffin, "Apa kau mau?" Dia bertanya dengan senyum rahasia dan geli miliknya.
"Tidak, terima kasih." Aku mengerutkan kening dan menunduk menatap tanganku lagi.
"Pria yang aku temui kemarin di toko, dia bukan pacarmu juga?"
"Tidak, Donghae Hyung hanya teman. Seperti yang aku katakan kemarin, dia adik boss." Oh, ini semakin konyol. "Kenapa kau bertanya?"
"Kau tampak gugup ketika berdekatan dengan pria."
Apa dia bilang! Apa dia tidak tahu kalau aku tidak pernah seperti ini sebelumnya! Aku hanya gugup saat dekat denganmu, Choi!
"Aku hanya merasa kau mengintimidasi." Wajahku merah membara, menatap tanganku lagi dan aku mendengar suara tarikan nafas tajam.
"Kau pasti menganggapku menakutkan." Dia mengangguk. "Kau sangat jujur. Jangan melihat ke bawah, aku ingin melihat wajahmu."
Aku melirik dia dan dia memberiku senyuman tapi masih terlihat wajah kerasnya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan." Dia bernafas. "Kau misterius, Mr. Cho."
"Tidak ada yang misterius tentangku." Ucapku cepat, jelas kau yang misterius bukan aku.
"Tapi aku pikir kau sangat mandiri. Kecuali bila kau tersipu malu, aku hanya berharap aku tahu apa yang menyebabkannya." Dia memasukkan sepotong kecil muffin ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah pelan-pelan, dia tidak mengalihkan pandangan dariku.
"Apakah kau selalu membuat pengamatan pribadi seperti itu?"
"Aku tidak menyadari aku melakukannya. Apakah aku telah menyinggungmu?" Dia sepertinya terkejut.
"Tidak." Jawabku jujur.
"Bagus."
"Tapi kau sangat sewenang-wenang." Balasku tenang.
Dia mengangkat alis dan jika aku tidak salah, dia sedikit tersipu juga.
"Aku sudah terbiasa mendapatkan apa yang aku mau, Kyuhyun." Bisiknya. "Dalam segala hal. Aku bisa mendapatkannya."
"Apakah kau anak tunggal?" Tanya dia berubah arah dengan cepat.
"Iya." Jawabku cepat.
"Ceritakan tentang orang tuamu."
Mengapa dia ingin tahu? Ini sangat membosankan.
"Ibuku tinggal di luar kota bersama suami barunya, ayah tiriku tinggal sendiri di Busan."
"Lalu ayahmu?"
"Ayahku meninggal saat aku masih bayi."
"Maaf." Ia bergumam dan wajah sekilas menyesal.
"Aku tidak ingat dia, aku hanya melihatnya di foto."
"Dan ibumu menikah lagi?"
Aku mendengus, "Bisa dibilang itu."
Dia mengerutkan kening. "Kau tidak mau memberikan banyak info, kan?" Katanya datar, menggosok dagunya seolah berpikir keras.
"Begitu juga denganmu."
"Kau sudah mewawancarai aku sekali dan aku bisa mengingat beberapa pertanyaan yang cukup menyelidik itu." Dia menyeringai ke arahku.
Ya ampun, dia mengingat pertanyaan tentang gay itu. Sekali lagi, aku sangat malu. Dalam beberapa tahun mendatang, aku membutuhkan terapi intensif untuk tidak merasa malu seperti ini setiap kali aku ingat pertanyaan itu.
"Apa kau akrab dengan ayah tirimu?"
"Tentu saja, aku dibesarkan olehnya. Dia adalah satu-satunya ayah yang kutahu."
"Seperti apa dia?"
"Dia hangat tapi sedikit pendiam."
"Pendiam seperti anak tirinya." Choi menambahkan. Aku menahan diri untuk tidak memutar mata padanya.
"Ceritakan tentang orang tuamu juga." Giliran aku yang meminta.
Dia mengangkat bahu, "Ayahku seorang pengacara, ibuku adalah seorang dokter anak."
Dia memiliki keluarga makmur. Aku kagum pada pasangan sukses yang mengadopsi tiga anak, dan salah satunya berubah menjadi manusia tampan yang menguasai dunia bisnis. Apa yang membuatnya bisa seperti itu? Orangtuanya pasti bangga.
"Lalu saudara-saudaramu bekerja apa?"
"Zhoumi bekerja di bidang konstruksi dan adik perempuanku di Paris, belajar di bawah bimbingan beberapa koki Perancis terkenal." Mata berkabut dengan rasa terganggu. Dia tidak ingin berbicara tentang keluarganya atau dirinya sendiri.
Pembicaraan soal keluarga dan sedikit membahas soal karir saudaranya membuat aku ingat kembali pada tugasku. Aku harus belajar untuk bisa lulus dan memulai karirku seperti Mr. Choi ataupun saudara-saudaranya yang sukses.
"Sepertinya aku harus pergi. Aku harus belajar untuk ujian."
"Untuk ujian?"
"Iya, ujian sudah menantiku senin besok."
"Aku akan mengantarmu sampai parkiran."
"Terima kasih atas tehnya, Mr. Choi."
"Terima kasih kembali, Kyuhyun. Dengan senang hati. Ayo!" Dia memerintah dan memegang tanganku. Aku menurut dan mengikutinya keluar dari coffee shop.
Kami berjalan kembali ke hotel. Dia terlihat tenang seperti biasa sedangkan aku berusaha keras untuk mengukur seberapa jauh acara minum kopi pagi ini. Kami sudah sampai di persimpangan, di seberang hotel. Aku sadar bahwa waktu kita bersama sangat terbatas.
"Apakah kau punya pacar?" Aku bertanya, kenapa aku bertanya seperti itu? Ah, mulutku yang nakal bertanya begitu saja.
"Tidak, aku tidak berpacaran." Jawabnya tenang.
Apa artinya ini? Dia pasti berbohong kepadaku. Pria sempurna ini tidak punya pacar? Apa benar jika dia masih bingung soal seksualitasnya? Maksudnya pertanyaanku yang memalukan waktu itu, jawabannya masih menggantung. Apa benar dia gay atau bukan? Aku harus pergi dari dia. Aku berjalan maju, dan aku tersandung ke arah jalan.
"Awas, Kyuhyun!" Choi menjerit. Dia menyentak tangan yang dia genggam begitu keras sampai aku jatuh dipelukannya ketika seorang pengendara sepeda motor lewat dengan cepat, nyaris menyambarku. Itu semua terjadi begitu cepat. Ketika aku jatuh, aku dalam pelukannya dan dia memelukku erat-erat di dadanya. Aku menarik napas menyedot aroma mint dari tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Bisiknya. Satu lengannya memelukku, menggenggamku di tubuhnya, sementara jari-jari tangannya yang lain menelusuri wajahku dengan lembut, lembut menyelidik, memeriksaku. Ibu jarinya menyapu bibir bawahku. Dia menatap ke mataku dan aku menahan tatapan cemasnya. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun, aku ingin dicium. Aku ingin merasakan bibirnya di atas bibirku.
Aku menatap mulut Choi Siwon yang indah seperti pahatan. Terpesona dan dia menatapku, tatapannya menyipit, matanya gelap. Dia bernapas lebih keras dari biasanya. Dia menutup matanya, menarik napas dalam dan kepalanya bergoyang kecil seolah-olah menjawab pertanyaan diamku.
"Kyuhyun, kau harus menghindariku. Aku bukan orang yang tepat untukmu." Bisiknya. Aku mengerutkan kening ke arahnya, dan kepalaku berputar karena penolakan.
"Tarik nafas, Kyuhyun, bernafas. Aku akan membantumu berdiri dan membiarkan kau pergi." Katanya pelan dan dengan lembut melepaskan pelukannya.
Aku mencoba berdiri dengan benar. Jiwaku berteriak, membuatku seperti kehilangan sesuatu. Dia meletakan tangan di bahuku, memegangku dalam jangkauannya. Dia tidak menginginkan aku, dia benar-benar tidak menginginkan aku.
"Terima kasih." Aku bergumam. Bagaimana mungkin aku salah membaca situasi di antara kita. Apa pantas aku berpikir jika dia juga menyukaiku? Aku benar-benar bodoh, mungkin memang benar jika hanya aku yang tidak normal. Dia pria yang normal dan tidak mungkin menyukaiku, tidak mungkin menyukai pria.
"Terima kasih untuk apa?" Ia mengerutkan kening.
"Untuk menyelamatkanku." Bisikku.
"Aku senang aku disini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu. Apakah kau ingin masuk dan duduk di hotel sebentar?"
Aku hanya ingin pergi. Semua harapan samarku yang tak terucapkan telah putus. Dia tidak menginginkanku. Aku sadar dan berpikir, siapa aku ini? Aku mengomeli diri sendiri yang telah begitu bodoh. Karena tatapannya, karena kebaikannya hari ini dan cara dia menyelamatkanku, aku berpikir jika dia menyukaiku. Bahkan aku berpikir saat posisi kami seperti tadi, aku mengharapkan ciumannya.
Apa yang Choi Siwon inginkan darimu? Pikiran bawah sadarku mengolok-olok. Aku segera berjalan melintasi jalan, sadar bahwa Choi belakangku. Di luar hotel, aku berbalik sebentar untuk menghadap padanya tapi tidak bisa menatap matanya.
"Terima kasih atas teh dan pemotretannya." bisikku.
"Kyuhyun, aku..." Dia berhenti dan kesedihan dalam suaranya menuntut perhatianku, jadi aku terpaksa sedikit menatap ke arahnya. Mata hitamnya suram saat ia membelai rambutnya. Dia tampak sedih, frustrasi, ekspresinya tegang.
"Ada apa, Siwon?" Tukasku kesal, dan untuk pertama kali aku memanggil nama depannya.
"Semoga ujianmu berhasil." Bisiknya.
Hah? Inilah sebabnya mengapa ia terlihat begitu putus asa? Inikah ucapan perpisahannya? Hanya memberiku ucapan semoga berhasil dalam ujianku?
"Terima kasih." Aku tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaraku. "Selamat tinggal, Mr. Choi." Aku berbalik, samar-samar kagum bahwa aku tidak tersandung dan tanpa memandang untuk kedua kalinya. Aku menghilang di trotoar menuju garasi bawah tanah. Sampai jumpa Choi Siwon, sampai jumpa Mr. freak controlku.
- Fifty Shades of Choi -
TBC.
Next Part!
"Kyuhyun?" Dia sepertinya terkejut mendengar suaraku. Lalu otakku yang bingung segera sadar, bagaimana dia tahu ini aku?
"Kenapa kau mengirimkan aku buku?" Cercaku padanya.
"Kyuhyun, kau baik-baik? Kau kedengarnya aneh." Suaranya penuh perhatian.
"Aku bukan orang aneh, kau yang aneh." Tuduhku.
"Kyuhyun, kau minum?"
"Apa pedulimu?"
"Aku, aku ingin tahu. Dimana kau?"
"Di sebuah bar."
"Bar mana?" Dia terdengar putus asa.
"Sebuah bar yang ramai."
"Bagaimana kau pulang?" Dia menyerah menanyai orang mabuk.
"Aku akan menemukan caranya." Pembicaraan ini tidak seperti yang aku harapkan.
"Bar apa namanya? Kyuhyun, dimana kau, katakan sekarang!"
Nada suaranya begitu sangat diktator, gila kontrol seperti biasanya.
"Kau begitu mendominasi." Aku tertawa kecil.
"Kyuhyun, bantulah aku. Dimana kau sekarang?" Choi Siwon menyumpahiku.
Aku tertawa lagi. "Aku di Apgujeong."
"Apgujeong sebelah mana?"
"Selamat malam, Siwon."
"Kyuhyun! Jangan di tutup!"
Thanks for reading, review, follow and favorite. Terus review ya~
