Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, typo(s), AU, Fem!Dei.
Pairing: SasoFem!Dei, one-sided ItaFem!Dei, and one-sided err...SasoSaku.
~Eternal Love~
Seorang pemuda berdarah Uchiha terlihat turun dari mobil mewahnya tepat di depan sebuah toko kue yang selalu ia kunjungi setiap pagi sebelum ia berangkat ke kantor. Ia merasa mengunjungi toko ini, tepatnya melihat wajah manis dari penjaga toko kue ini setiap pagi, sebagai salah satu dari beberapa hal yang wajib ia lakukan setiap hari.
Angin dingin menyapa kulitnya ketika ia melangkah mendekati toko kue yang tertutup. Kedua alisnya tertaut, tak biasanya toko kue itu tertutup saat ia datang. Itachi menoleh ke kiri, namun tak mendapati Deidara datang dari arah tersebut. Saat ia mencoba untuk mendekati toko kue milik Deidara, ia terhenti saat kakinya terasa menyentuh sesuatu. Saat ia menunduk, dilihatnya sebuah ponsel tergeletak di bawah begitu saja. Setelah beberapa detik hanya menunduk menatap ponsel itu, akhirnya pemuda ini tersadar bahwa ponsel yang ditatapnya adalah milik Deidara. Segera ia berjongkok untuk mengambil ponsel tersebut, sedikit menautkan kedua alisnya saat melihat wallpaper yang Deidara gunakan untuk ponselnya. Perlahan Itachi mulai berpikir mengapa ponsel Deidara bisa tergeletak begitu saja di depan tokonya sedangkan Deidara tak terlihat di sekitar sana.
Sesuatu yang buruk terjadi pada Deidara, itulah kesimpulan yang Itachi dapat.
Dengan menggenggam erat benda kecil yang baru ditemukannya, Itachi masuk ke dalam mobilnya.
.
.
Napas yang memburu terdengar begitu jelas di ruangan yang gelap dan tertutup. Sesekali jeritan kesakitan seorang perempuan terdengar mengiringi, dan tawa dari beberapa pria menyusul jeritan tadi. Cahaya matahari menyelinap masuk dari ventilasi udara—satu-satunya celah bagi cahaya untuk masuk—menerangi ruangan gelap itu.
Seorang gadis terlihat duduk di sebuah kursi kayu, dengan tangan terikat di belakang kursi tersebut dan kaki yang juga terikat. Hampir seluruh bagian tubuhnya diikat dengan tali tambang dengan erat, menjaga agar gadis—yang kekuatannya tidak seberapa—itu agar tidak bisa melepaskan diri. Kedua matanya ditutup dengan sehelai kain berwarna hitam. Rambut pirangnya tergerai berantakan, luka goresan dan luka lebam terlihat di beberapa bagian kulit putihnya.
Gadis itu kembali menjerit saat rambut pirangnya dijambak dengan kasar oleh seorang yang tak bisa ia lihat. Tapi ia yakin orang ini adalah salah satu dari beberapa pria yang membawanya dan mengikatnya di ruangan ini.
"Deidara," pria tersebut berbisik. "Kau memang cantik. Kurasa wajar jika nyonya Haruno ingin menyingkirkanmu agar putrinya tidak memiliki saingan yang berat."
Deidara mengatupkan bibirnya yang sedari tadi terbuka untuk membantunya bernapas. Giginya gemeretak menahan amarah saat mendengar nama marga yang baru saja di sebutkan oleh salah satu penculiknya ini. Deidara memberontak, mencoba melepaskan diri dari tali tambang yang mengikat tubuhnya di sebuah kursi kayu.
Sebuah tawa pelan yang mengerikan terdengar begitu jelas di telinga Deidara saat pria yang menjambak rambutnya itu mendekatkan bibirnya pada telinga Deidara.
"Lepaskan aku!" pekik Deidara.
Tawa yang tadi hanya berupa tawa pelan kini berubah menjadi tawa yang keras dan menggema di ruangan tertutup itu.
"Ah, maaf. Aku tidak bisa berjanji untuk melepaskanmu. Mungkin tuan dan nyonya Haruno akan memberi kami perintah untuk membebaskanmu jika pertunangan putri mereka sudah dilaksanakan."
Sebuah seringaian tipis terukir di bibir Deidara saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh penculiknya. "Jadi kalian menculikku karena keluarga Haruno takut aku bisa menghentikan pertunangan Sasori dengan Sakura? Yang benar saja? Aku tidak bisa melakukan itu, un."
"Hmm..." pria berambut putih yang sedari tadi menjambak rambut Deidara, kini menjauhkan tangannya dari rambut pirang yang tergerai berantakan. "Kau benar. Kau memang tidak bisa mencegah pertuangan itu. Hanya saja tak ada salahnya untuk berjaga-jaga, bukan?"
"Kabuto, kau bicara terlalu banyak." Kini suara lain terdengar.
Deidara terdiam sesaat, memikirkan apa yang dikatakan oleh pria bernama Kabuto yang sudah membeberkan banyak hal padanya. Ini aneh, pikirnya. Seorang penculik membeberkan informasi tentang siapa yang membayar mereka kepada korbannya adalah tindakan yang bodoh, karena tentu saja korban penculikan itu akan melaporkan kepada polisi sesaat setelah ia dibebaskan.
Jika penculikan ini bermotif lain, misalnya sang penculik menagih uang tebus kepada keluarga korban penculikan, wajar jika penculik itu membeberkan apa tujuan sang korban diculik. Tapi jika motifnya bukan untuk meminta uang tebus, maka seharusnya penculik tidak perlu membeberkan infomasi apapun kepada korban.
Kecuali...
Deidara tersentak saat ia menyadari sesuatu.
Jika penculik ini merencanakan untuk membebaskannya setelah pertunangan Sasori dan Sakura selesai dilaksanakan, mereka tidak mungkin membocorkan siapa yang membayar mereka dan apa tujuan mereka menculik Deidara.
Jadi mereka menculik Deidara bukan untuk menahannya sementara lalu melepaskannya.
Deidara mengepalkan tangannya, giginya gemeretak menahan amarah.
Mereka menculik Deidara untuk membunuhnya.
Krieet
Terdengar pintu kayu tua yang terbuka perlahan.
"Ah, tuan Orochimaru."
Seorang pria berambut hitam panjang perlahan menutup pintu di belakangnya setelah ia memasuki ruangan tersebut. Mata keemasannya menatap seisi ruangan, mendapati tiga bawahannya duduk bersandar di tembok dengan membawa masing-masing satu botol minuman keras di tangannya, seorang gadis terikat di kursi kayu, dan seorang bawahannya yang berdiri tak jauh dari gadis itu. Kondisi ruangan yang tertutup dan kurangnya sirkulasi udara ini membuat pria bernama Orochimaru itu mendengus.
"Apa saja yang kalian lakukan? Aku tidak mendengar tangisan perempuan itu," ucap Orochimaru seraya berjalan mendekati Deidara yang masih duduk tertunduk.
"Ah..." Kabuto tersenyum tipis. "Itu karena dia sama sekali tidak menangis, tuan."
Orochimaru menatap Kabuto dengan tatapan tidak percaya. "Begitukah?" tanyanya kemudian kembali menatap Deidara. Ia bisa melihat beberapa luka goresan pisau di kulit putih gadis itu, di sekitar lengan dan kakinya.
"Kalau begitu, aku ingin membuktikannya dengan mataku sendiri," ujar Orochimaru seraya mengambil sebuah pisau lipat dari saku celananya. Kabuto mengangguk dan mundur beberapa langkah, memberi ruang bagi tuannya.
Orochimaru menjambak rambut Deidara, memaksa gadis itu untuk mengangkat kepalanya. Perbuatannya ini berhasil memancing sebuah ringisan pelan dari bibir Deidara.
"Kau boleh menjerit, menangis, dan berteriak sesuka hatimu." Seringian muncul di bibir Orochimaru saat ia menempelkan mata pisaunya yang dingin di pipi Deidara.
Deidara tersentak saat merasakan sensasi dingin yang mengerikan di pipinya, namun ia tak berani bergerak sedikitpun karena ia tahu gerakannya hanya akan membuat keadaan semakin parah.
Sebuah pekikan terdengar dari bibir Deidara saat merasakan sesuatu yang tajam menusuk kulitnya, selanjutnya menimbulkan sensasi panas yang membakar dan rasa sakit yang mati-matian ia tahan. Merasa pekikan keterkejutannya tadi membuat sang penculik puas, Deidara menutuskan untuk mengigit bibirnya sekuat yang ia bisa untuk menahan agar tak ada pekikan, jeritan, maupun teriakan keluar dari mulutnya. Perlahan ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari pipinya dan menetes dari dagunya.
Orochimaru mengerutkan dahinya saat tak menerima respon yang ia inginkan. Ia baru saja mengiris pipi gadis itu walaupun tak cukup dalam untuk meninggalkan bekas luka, tapi cukup untuk membuat perempuan pada umumnya menangis dan menjerit kesakitan.
"Untuk gadis kecil sepertimu, kurasa kau cukup kuat," bisik Orochimaru seraya melipat pisaunya kembali.
Deidara tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya bisa terdiam menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Seluruh luka yang ia dapatkan dari para penculik itu terasa terbakar.
"Tuan Orochimaru, apa kita perlu merusak wajahnya agar Sasori tidak menginginkannya lagi?"
"Kau tahu itu tidak perlu kita lakukan, Kabuto. Biarkan Sasori melihat wajah cantik pujuaan hatinya untuk yang terakhir kalinya saat pemakaman Deidara nanti," sahut Orochimaru diiringi dengan tawa yang terdengar seperti desisan ular.
Walaupun Deidara berusaha untuk tidak merasa takut, namun tubuhnya sepertinya tidak mengikuti perintahnya karena ia bisa merasakan tubuhya gemetar ketakutan. Membayangkan bagaimana raut wajah Sasori saat melihat tubuh Deidara yang tak bernyawa membuat Deidara takut. Lalu Sasori akan menikah dengan Sakura dan memiliki mertua yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginan mereka. Deidara tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia harus melarikan diri, bagaimana pun caranya.
Jika saja di dekatnya ada benda tajam, mungkin ia bisa melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Tapi ia tidak bisa melihat, tidak bisa bergerak, belum lagi para penculiknya berjaga secara bergantian dan tak pernah meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Setidaknya itulah yang Deidara pelajari setelah dua puluh empat jam lebih berada di ruangan ini. Ia mulai khawatir apakah ibunya baik-baik saja. Selama seharian penuh ia tak kembali ke rumah, ia yakin ibunya tengah mencemaskan dirinya. Lalu bagaimana dengan Sasori? Deidara menerka-nerka.
"Aku ingin bertanya satu hal," ucap Deidara.
Orochimaru menyeringai. "Apa itu?"
"Kenapa kalian tidak membunuhku sejak kemarin? Kenapa kalian harus membunuhku setelah pertunangan Sasori dan Sakura selesai?"
Raut wajah Orochimaru terlihat terkejut, begitu pula dengan Kabuto dan tiga orang rekannya yang lain. Namun sesaat kemudian Orochimaru kembali menyeringai dan merendahkan tubuhnya untuk menyetarakan tingginya dengan Deidara.
"Untuk seorang korban penculikan, kau terlalu berani untuk menanyakan hal ini," sahut Orochimaru.
"Aku tidak memerlukan komentarmu, aku hanya memerlukan jawabanmu un!"
"Berani sekali kau membentak tuan Orochi—" Kabuto tak bisa menyelesaikan kalimatnya saat melihat Orochimaru mengangkat tangannya, memberi isyarat bagi Kabuto untuk diam.
"Kau gadis yang sangat menarik, wajar jika Sasori sangat menginginkanmu," ujar Orochimaru.
Deidara mengerutkan dahinya. Mengingingkan? Ia tak menyukai kata itu. Sasori tidak sekedar menginginkannya. Sasori mencintainya. Ia tahu itu.
Deidara diam dan menunggu.
Tak lama kemudian Orochimaru kembali bicara. "Kami tidak langsung membunuhmu karena sebelum kau mati, tuan dan nyonya Haruno ingin bertemu dan bicara langsung denganmu. Mungkin sedikit menyiksamu. Tapi saat ini mereka masih sibuk mempersiapkan pertunangan anak mereka, jadi mereka akan memiliki waktu untuk bertemu denganmu setelah acara pertuangan nanti."
Deidara mengangguk mengerti. Alasan yang logis.
Itu berarti Deidara masih bisa memikirkan bagaimana cara membebaskan diri sebelum acara pertunangan itu selesai. Tepatnya, sebelum besok malam.
.
.
.
Sasori menggeram saat setelah beberapa kali mencoba menghubungi Deidara, Deidara tetap tidak menyahuti panggilannya. Sasori menatap layar ponselnya dengan tatapan frustasi. Ia berpikir sekarang Deidara menghindarinya karena besok Sasori sudah bertunangan dengan perempuan lain. Sasori berpikir Deidara sudah menyerah. Ia hanya tidak tahu apa yang tengah terjadi pada Deidara saat ini.
"Jika kau sangat mencemaskannya, kenapa kau tidak berusaha mencarinya dan bicara langsung dengannya?" tanya Gaara yang duduk di sebuah kursi dengan sebuah buku terbuka di atas meja di hadapannya. Sasori tahu ia tak harus menjawab pertanyaan sepupunya itu karena mereka sama-sama tahu Sasori tidak mungkin bisa meninggalkan rumahnya karena penjagaan yang sangat ketat dari orang tuanya dan bawahan mereka.
"Mungkin Deidara tidak ingin bicara denganku lagi," ucap Sasori yang masih menatap ponselnya, namun kali ini dengan tatapan kecewa.
Gaara yang sedari tadi sibuk membaca buku, kini mengalihkan tatapannya kepada Sasori. "Apa kau ingin aku pergi kesana dan memastikannya?" tanyanya menawarkan bantuan.
"Tidak perlu," sahut Sasori. "Kita tidak perlu mengganggungnya lagi."
Untuk sesaat mata Gaara menatap lekat wajah Sasori, seolah mencoba membaca apa yang Sasori rasakan sebenarnya. Beberapa saat kemudian, ia menggumamkan "hm" pelan seraya kembali membaca bukunya.
Tiba-tiba pintu kamar Sasori terbuka dan seorang perempuan berdiri di sana dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Sasori-kun!"
"Apa di keluarga Haruno tidak diajarkan sopan santun untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membuka kamar orang lain, nyonya Haruno?" tanya Sasori dingin, kilat amarah terlihat jelas di kedua manik Hazel-nya. Sedangkan Gaara tetap mempertahankan posisinya duduk memunggungi pintu masuk agar tak ada yang bisa melihat senyum yang tersungging di bibirnya setelah mendengar apa yang Sasori katakan.
Perempuan yang berdiri di dekat pintu itu berkedip. Tak lama kemudian Sakura muncul dari balik punggungnya, sedikit membungkuk dan menggumamkan kata 'maaf' atas kelancangan ibunya.
"Besok acara pertunangan kalian, jadi malam ini kami menginap di rumahmu agar besok kita bisa berangkat bersama ke Hotel. Aku, Sakura, dan ibumu akan memasak untuk makan malam kita semua. Jadi nanti kau, dan juga Gaara-kun harus turun ke ruang makan jam tujuh malam untuk makan malam berasama kami."
"Kau mengundangku untuk makan di rumahku sendiri? Bukankah itu terdengar konyol?"
Ibu Sakura mengerutkan dahinya kemudian pergi begitu saja disusul oleh Sakura setelah gadis itu menggumamkan kata 'maaf' sekali lagi kepada Sasori.
Gaara menggelengkan kepalanya. "Calon istri dan calon mertuamu."
"Tch. Mengaku dari keluarga terhormat."
"Keluarga Haruno memang keluarga terhormat," ucap Gaara, matanya masih terfokus pada bukunya. "Tapi sebenarnya mereka tidak sebanding dengan Akasuna. Keluarga yang sederajat dengan Akasuna hanya keluarga Uchiha dan Hyuuga. Dan dari dua keluarga itu, tidak ada calon yang tepat untuk menjadi calon istrimu, karena di Uchiha sulit mendapatkan keturunan perempuan, dan di Hyuuga, agar keturunan mereka tetap berdarah murni Hyuuga, mereka tidak mengizinkan keturunan mereka menikah dengan orang dari keluarga lain. Kalaupun seandainya salah satu dari dua keluarga itu memiliki calon istri untukmu, aku yakin kau tetap akan menolaknya."
"Tentu saja." Hanya Deidara, ia membatin kemudian Sasori terdiam sesaat. "Aku sudah mendengar peraturan di keluarga Hyuuga itu, seperti yang terjadi pada Neji dan Hinata."
"Kau mengenal mereka?"
"Hyuuga Hinata berteman baik dengan Deidara."
"Begitu rupanya." Gaara bergumam. "Aku tidak mengerti kenapa Deidara bisa dikelilingi oleh orang-orang seperti kalian. Maksudku, Itachi dari Uchiha, Hinata dari Hyuuga, dan Sasori dari Akasuna. Mungkin dia bukan gadis sembarangan."
"Mungkin karena dia dulu bersekolah di sekolah yang sama dengan kami karena ia mendapatkan beasiswa."
"Hmm bersekolah di sekolah elit karena dia cerdas? Menarik." Mata Gaara bergerak perlahan membaca kalimat demi kalimat di dalam bukunya. "Jadi Hyuuga juga akan datang ke acara pertunanganmu besok?"
"Entahlah." Sasori merebahkan tubuhnya di tempat tidur, melipat kedua tangannya di belakang kepalanya. "Mengingat keluarga Hyuuga tidak begitu menyukai kedua orang tuaku, sepertinya mereka tidak akan datang."
Gaara membalik halaman di bukunya. "Kurasa keturunan Haruno kali ini memiliki keberuntungan yang tidak biasa."
"Dan keturunan Akasuna kali ini memiliki ketidakberuntungan yang luar biasa." Sasori menambahkan, memancing tawa pelan dari Gaara.
Sasori memejamkan matanya perlahan, melihat bayangan Deidara di dalam pikirannya. Ia hanya bisa berharap Deidara baik-baik saja.
.
.
"H-hentikan!"
Deidara memekik tertahan saat merasakan Orochimaru mengigit bagian di perpotongan lehernya hingga mengeluarkan darah kemudian menghisapnya dengan kasar. Beberapa saat lalu seluruh bawahan Orochimaru meninggalkan Orochimaru dan Deidara di ruangan gelap tersebut.
"Ssh, kau diam dan nikmati saja," ujar Orochimaru di telinga Deidara, kemudian mengulum daun telinga gadis itu, membuat tubuh Deidara gemetar ketakutan. Mata Deidara masih tertutup, ia belum dilepaskan dari tali yang mengikatnya, dan tidak bisa melawan perlakuan Orochimaru membuat air mata mengalir perlahan membasahi kain hitam yang menutupi matanya.
"Oh? Akhirnya kau menangis juga." Orochimaru tertawa puas seraya mengusap pipi Deidara dengan punggung tangannya. Bibirnya kini mengecup leher Deidara kemudian bergerak ke pundak gadis itu lalu turun ke lengannya.
"Danna..." Deidara berbisik di sela tangisannnya, berharap Sasori datang untuk menyelamatkannya.
Seraya menjilati bibirnya sendiri, Orochimaru kini mengeluarkan pisau lipatnya untuk mencabik-cabik baju yang Deidara kenakan.
"Jangan bergerak atau pisau ini akan melukaimu," ujar Orochimaru yang mulai merobek baju Deidara dengan menggunakan pisaunya, sedikit terganggu oleh tali yang mengikat Deidara, namun ia tak memutuskan untuk melepaskan tali itu. Deidara ingin meronta, namun benar apa yang Orochimaru katakan. Jika ia meronta, pisau yang sedang mengiris bagian bajunya itu mungkin saja mengiris kulitnya.
"Hentikan, un..." bisiknya lirih, tak tahu harus berbuat apa lagi.
Brak!
Suara pintu terbanting.
"Tuan Orochimaru, kita terkepung!"
"Terkepung?" Orochimaru menjauhkan dirinya dari Deidara.
"Polisi sudah mengepung gedung ini. Kita harus segera kabur, tuan!"
Tanpa bicara apa-apa, Orochimaru berlari keluar dari pintu bersama salah satu bawahannya tadi. Samar-samar Deidara bisa mendengar sirine polisi dan suara tembakan. Namun sebelum Deidara menyadari apa yang terjadi, kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
"Deidara!"
Ia bisa mendengar seseorang memekik memanggil namanya, namun ia tak ingat suara siapa itu.
Tak lama setelahnya Deidara bisa merasakan seseorang melepaskan tali yang mengikat tubuhnya, kemudian melepaskan penutup matanya. Perlahan Deidara mengerjapkan matanya, lalu mendongak untuk melihat siapa yang menyelamatkannya.
"I-Itachi-san..."
Hanya itu yang Deidara katakan sebelum kesadaran benar-benar meninggalkannya, dan sebelum tubuhnya terjatuh ke lantai, sepasang lengan yang kuat menangkapnya dan mendekapnya erat.
.
.
Uchiha Itachi berdiri membelakangi sebuah pintu rumah sakit dengan tulisan 'Ruang ICU' di bagian atas pintu tersebut. Ia baru saja meninggalkan ruangan di mana Deidara di rawat. Ia memutuskan untuk meninggalkan ruang ICU itu untuk memberitahukan kabar ini kepada Sasori. Namun di sinilah dirinya kini, berdiri dengan bimbang. Apakah ia harus memberitahukan Sasori apa yang terjadi pada Deidara dan bagaimana keadaan Deidara sekarang, walaupun ia tahu Sasori tidak akan datang karena pastilah ia tidak diberi izin untuk keluar rumah oleh kedua orang tuanya, mengingat besok adalah hari pertunangannya.
Itachi juga tahu kedua orang tua Sasori sudah menyuruh bawahan mereka, pria-pria bertubuh kekar, untuk berjaga di sekitar kediaman Akasuna agar Sasori tidak bisa meninggalkan rumah itu. Itachi menarik diri dari lamunannya saat ponsel milik Deidara yang berada di genggamannya, bergetar. Menatap ke layar—mencoba melihat siapa yang tengah menghubungi Deidara—Itachi segera menekan tubuh hijau di ponsel Deidara kemudian mendekatkannya ke telinganya.
"Dei—"
"Sasori," ucap Itachi pelan.
"Itachi? Apa yang kau... Di mana Deidara?"
"Deidara...sekarang berada di ruang ICU, The University of Tokyo Hospital."
"ICU?" terdengar keterkejutan dari Sasori. "Apa maksudmu—apa yang terjadi pada Deidara?"
Itachi menghela napas. Jika Sasori—yang dingin dan biasanya tidak menunjukkan ekspresi apapun —menjadi panik seperti ini, akan sulit sekali untuk menenangkannya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Jika kau bisa datang ke sini, maka aku akan menjelaskannya," sahut Itachi. Beberapa saat menunggu, Sasori tidak memberi sahutan sama sekali. Barulah akhirnya Itachi sadar bahwa Sasori sudah memutuskan pembicaraan mereka.
Sekali lagi Itachi menghela napas.
"Itachi."
Ia menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Terlihat seorang pria berjalan mendekatinya disusul oleh dua orang pria lainnya di belakangnya. Mereka bertiga sama-sama mengenakan seragam kepolisian.
"Bagaimana keadaan Deidara?" tanya pria itu.
"Dia belum siuman, tou-san," sahut Itachi.
Uchiha Fugaku, kepala kepolisian di Tokyo, mengangguk mendengar jawaban dari putra sulungnya.
"Aku akan mengusut kasus ini. Apakah kau mencurigai seseorang yang mungkin berada di balik kasus penculikan ini?" tanya Fugaku, sedikit berbisik agar orang-orang yang berlalu-lalang di dekat mereka—di koridor rumah sakit—tidak mendengar apa yang ia katakan.
"Menurutku, ini ulah Haruno," sahut Itachi, dingin.
Fagaku mengangguk seolah ia sudah menebak sejak awal bahwa jawaban itulah yang akan diberikan oleh Itachi.
"Kami memerlukan kesaksian dari korban. Hubungi aku saat Deidara sudah siuman."
"Tentu, tou-san."
Setelahnya, Fugaku dan dua bawahannya pergi meninggalkan Itachi. Sedangkan Itachi memutuskan untuk masuk ke ruang ICU untuk memastikan keadaan Deidara, lagipula jam besuk belum habis jika ia masih bisa berada di sisi Deidara untuk menjaganya.
Dirinya duduk di sebuah kursi yang tersedia di sebelah tempat tidur Deidara, sedikit terpancing emosi saat melihat beberapa luka gores dan lebam di kulit Deidara. Tangannya mengepal di pangkuannya. Ia mencoba mengatur napasnya untuk mengatur agar amarahnya tidak bergejolak.
Itachi mengambil sebuah handycam dari saku jas kantornya, membolak-balik benda itu dengan enggan hanya untuk memastikan benda itu baik-baik saja. Jika Sasori datang nanti, ia akan memberikan benda ini padanya seperti apa yang Deidara inginkan.
Sekitar setengah jam berlalu, seorang perawat masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Tidak seperti ruang ICU pada umumnya yang bisa ditempati oleh beberapa pasien, ruang ICU tempat Deidara di rawat ini hanya untuk satu pasien saja.
Perawat tersebut tersenyum ramah pada Itachi.
"Maaf, di luar ada yang ingin menjenguk pasien," ujarnya.
Itachi berkedip kemudian berdiri, mengikuti perawat itu untuk meninggalkan ruangan ICU itu sekaligus untuk melihat siapa yang datang menjenguk Deidara. Sama halnya dengan ruang ICU pada umumnya, penjenguk yang boleh masuk ke ruangan itu hanyalah satu orang, tidak bisa lebih. Ketika tiba di luar, Itachi terlihat terkejut melihat kehadiran dua laki-laki berambut merah dan seorang perempuan berambut merah muda. Awalnya Itachi heran mengapa Sasori bisa keluar dari rumahnya, namun pertanyaannya itu terjawab saat melihat kehadiran Sakura. Kedua orang tua Sasori mengizinkan ia pergi selama ia bersama Sakura walaupun Itachi yakin orang tua Sasori tidak tahu kemana Sasori pergi. Dan kehadiran laki-laki berambut merah yang tidak Itachi kenal, tak terlalu ia ambil pusing.
"Bagaimana keadaan Deidara?" tanya Sasori dengan napas terengah dan raut wajah panik.
"Keadannya membaik, walaupun ia masih belum siuman."
Saat Sasori ingin masuk ke ruangan ICU, Itachi mencegahnya.
"Sebelum kau menjenguknya, kita perlu bicara."
.
.
.
_TBC_
Ps: The University of Tokyo Hospital itu katanya rumah sakit yang dibuat oleh Universitas Tokyo. Karena rumah sakitnya elit, saya masukin Deidara ke sana deh /pluk.
Wah ItaDei agak gimana gitu di chapter ini ya, trus Orochi hampir ngegrepe (?) Dei lagi *mati dibunuh Sasori*
Oke setelah setengah tahun gak ngelanjutin fanfic ini, akhirnya ide bisa kembali walaupun dengan sedikit paksaan. Semoga minna masih inget sama fanfic ini ya. Yosh, tunggu chapter 5 ya~
