Hujan...
Aku benci hujan
Bahkan sangat membencinya
Hari dimana aku kehilangan orang tuaku
Seluruh anggota keluargaku
Seluruh anggota klanku...
Hari dimana seluruh impianku kandas
Hanya bersisa dendam dan kemarahan
Tak ada satupun yang tersisa
Kecuali kegelapan sebagai tujuan akhirku
xXXxXXx
.
Happy reading
.
xXXxXXx
.
.
.
(-)
Inspirasi dari berbagai sumber :
Warning : DANGER ,spoiler, abal, dll
Summary :
Sejak dirinya mengetahui kebenaran dari Madara, tidak ada kata kembali dalam kamus hidupnya. Kehidupan Sasuke seluruhnya hanya dipenuhi dengan kegelapan dan keinginan untuk balas dendam.
Baginya yang utama adalah Itachi. Sosok kakak kandungnya yang semula merupakan musuh utamanya namun sekarang menjadi alasan terpenting untuknya hidup.
Mereka, Konoha, akan membayar semuanya.
Demi kedamaian desa, mereka tega membunuh seluruh klan Uchiha. Memaksa Itachi untuk membantai keluarganya sendiri. Karena rasa sayangnya pada Sasuke, dirinya rela menjadi ninja buronan dan mati di tangan adik kandungnya sendiri.
Untuk memberikan Sasuke kekuatan.
Dan kelak menjadi pahlawan bagi desa.
Namun masa depan yang dilihat Itachi dan Sasuke berbeda.
Sasuke bersumpah ia akan membalaskan semuanya.
(-)
Darker than Night by Lightning Chrome
I do not own Naruto
(-)
xXXxXXx
For As Long I Close My Eyes
Selama aku menutup mata
Darkness that I Can See Only
Kegelapanlah tujuanku
xXXxXXx
.
.
Seorang pemuda keturunan terakhir dari Uchiha, terlihat duduk dalam diam, perban menutupi kedua matanya. Hanya kegelapan yang bisa dilihatnya selama seminggu terakhir.
Benar-benar menyebalkan.
Hanya bisa duduk menunggu tanpa melakukan apapun. Saat ini dirinya berada di sebuah gua tersembunyi dalam gunung. Posisinya berada di daerah timur desa Kumogakure.
Sasuke bukanlah orang yang sabar, dia ingin segera pergi ke Konoha dan mengakhiri segalanya. Membunuh semua orang dan akhirnya... membunuh Naruto.
Sekelebat ingatannya bersama Naruto berputar di memori pikirannya. Kenangan ketika mereka masih bersama. Benar-benar menyebalkan setelah mengetahui kebenaran tentang pembantaian Uchiha, Naruto masih menganggapnya sebagai teman.
Hingga saat ini.
Hanya memikirkan sang bocah Kyuubi itu sudah mampu membuat darahnya mendidih. Tanpa sadar tangan Sasuke mengepal.
"Tidak sabar menunggu perbanmu dilepas?"
Sasuke tidak perlu melepas perbannya hanya untuk mengetahui siapa pemilik dari suara tersebut.
Uchiha Madara.
Pendiri dari klan Uchiha juga sebagai orang yang sama, yang telah memberitahunya kebenaran tentang Itachi. Meskipun dia berterima kasih pada pria tersebut namun bukan berarti dirinya sepenuhnya percaya pada orang itu. Pemuda berusia enam belas tahun ini bukanlah orang yang bodoh.
Dia tentunya sadar pria bertopeng itu hanya menggunakan dirinya sebagai alat untuk kepentingannya. Setelah itu mungkin pria bertopeng itu tak akan pernah peduli lagi pada dirinya.
Merasakan Sasuke tidak menjawab pertanyaannya, Madara kembali melanjutkan, "Waktunya sudah tiba, Sasuke. Dengan terbunuhnya Danzo, kita bisa lebih leluasa masuk ke Konoha dan menghancurkannya." jelas Madara.
"Dendam-mu pun akan terbalaskan."
Ya, balas dendam. Hanya itu tujuannya sekarang. Balas dendam ke semua penduduk Konoha. Memberikan mereka, penderitaan yang sama bahkan berpuluh-puluh kali lipat lebih sakit dan pedih dibandingkan yang dirasakannya saat ini. Orang-orang itu akan membayar semuanya.
"Hnn."
"Aku akan pergi sebentar untuk berpatroli, kau tetap disini."
Dalam sekejap sang pria bertopeng hilang, meninggalkan Sasuke seorang diri dalam kegelapan.
Sendirian berada di dalam gua, Sasuke hanya bisa memikirkan pertarungannya dengan Naruto. "Naruto..." Sasuke menggeram marah. Dia benci tempat ini. Sasuke tahu jika seandainya ia pergi dari tempat ini, Madara akan sangat marah padanya. Namun itu tidak menjadi masalah baginya.
Sasuke sama sekali tidak peduli.
Sasuke mencoba untuk berdiri, ia tidak bisa merasakan apapun di sekelilingnya sampai tangannya menyentuh sesuatu. Dinding gua. Dengan tangan kiri menyentuh dinding dan tangan kanan yang tengah meraba-raba, berusaha mencari pintu keluar, akhirnya Sasuke berhasil keluar.
Sasuke menyesal terlalu meremehkan Killer Bee, membuatnya kehilangan penglihatan. Selama ini, Sasuke begitu khawatir kehilangan Karin, Suigetsu, dan Jugo sehingga Sasuke terpaksa menggunakan jurus terkuatnya. Meskipun mereka hanyalah anak buah namun seiring waktu berlalu, hubungan mereka menjadi lebih dekat.
Namun semua berubah saat Sasuke membunuh Itachi.
Mereka bukan lagi temannya.
Sasuke tidak peduli lagi pada mereka atau siapapun selain dirinya sendiri. Karena...karena satu hal yang pasti, mereka semua akan mati. Sasuke akan membunuh mereka semua. Seluruh penduduk Konoha dan terutama membunuh Naruto.
Angin bertiup seketika, tepat saat sang pemuda Uchiha melangkah keluar dari gua. Sasuke hampir kehilangan pijakannya dan terjatuh, namun ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali. Sasuke bisa merasakan udara yang segar di luar sana, jauh lebih nyaman dibandingkan didalam gua. Sasuke tidak tahu kemana harus pergi, tapi akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kemanapun kakinya melangkah.
Daerah tersebut merupakan wilayah terpencil, meskipun begitu tidak menutup kemungkinan bagi Konoha maupun negara lain untuk menemukannya. Akan lebih baik baginya untuk tetap tinggal didalam gua selama ia belum dapat melihat, namun Sasuke menolaknya. Sudah terlalu lama ia dikurung didalam sana tanpa merasakan udara bebas
Semenjak dirinya memutuskan untuk mengambil mata Itachi, saat itu juga Sasuke telah menutup pintu hatinya pada siapapun. Dia bukan lagi Sasuke yang dulu. Sasuke yang dulu, sudah mati.
Sekarang hanya ada Sasuke Uchiha, sang pembalas dendam.
Pemuda berambut raven itu tidak akan pernah kembali ke Konoha, apapun yang terjadi. Meskipun Naruto selalu mengejarnya, Sasuke tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak akan kembali. Selain itu, Sasuke yakin, meskipun ia kembali, penduduk Konoha tidak akan pernah menerimanya.
"Sasuke!"
Sasuke menghentikan langkahnya. "Tidak mungkin."
0-0-0
~Darker Than Night~
Lightning Chrome Present
Chapter Four : SASUKE APPEARS!
.
xXXxXXx
I Lived till the day I Kill You
Aku terus hidup sampai tiba hari dimana aku bisa membunuhmu
xXXxXXx
.
(-)
Mata merah Kuro mengawasi gadis bernama Sakura yang tengah menyembuhkan luka Hinata. Pandangannya berpindah dari gadis pink itu ke gadis indigo di sebelahnya, gadis Hyuuga itu mulai mendapatkan kesadarannya. Tubuhnya mulai bergerak.
Kuro sama sekali tidak menyesal telah membuat Hinata menjadi seperti itu. Ini bukanlah kali pertama, Kuro melukainya hingga Hinata tidak sadarkan diri. Kuro masih berbaik hati untuk tidak membunuhnya. Namun yang tidak disangka olehnya adalah kalimat yang keluar dari bibir Hinata ketika gadis itu pingsan.
"S-sensei... gomen-ne, aku janji... aku akan membuatmu bangga-padaku-"
Gadis itu ingin membuatnya senang..
Apa dia tidak tahu kalau dirinya tidak memiliki perasaan. Dia tidak mengenal apa itu cinta maupun perasaan senang atau bahagia. Dia murni adalah monster. Satu-satunya perasaan yang bisa dikeluarkannya hanyalah amarah.
Sepasang mata berwarna lavender terbuka, "D-dimana aku?'
Sakura mengalihkan pandangannya pada sang Hyuuga, tidak mengira gadis tersebut sadar begitu cepat.
"Hinata, kau sudah bangun!" teriaknya. Mata hijau emeraldnya tidak lepas dari sang Hyuuga.
Hinata mencoba untuk duduk.
"Jangan, kau tidak boleh bergerak dulu. Kau sedang terluka, kau butuh istirahat." jelas Sakura menenangkan.
"Hm, dimana yang lain?" tanya Hinata, mengabaikan larangan dari Sakura untuk tetap berbaring.
"Sasuke ada disini...mereka mengejarnya. Aku diperintahkan Kakashi-sensei untuk menjagamu." wajah Sakura mendadak sedih. Sakura ingin sekali mengejarnya, mengatakan kalau ia mencintainya. Namun semua berubah setelah Sasuke mencoba membunuhnya beberapa waktu yang lalu. Harapannya untuk membawa Sasuke kembali lenyap sama halnya dengan Kakashi dan yang lain. "Sasuke-kun..." batinnya.
"Sakura-san?"
Keluar dari pikirannya, Sakura tersenyum pada Hinata, "Ya, Hinata?"
"Pergilah."
Mata Sakura sedikit melebar, "Apa yang..."
"Pergilah, Sakura-san. Kau tentu ingin bertemu dengan Uchiha-san, bukan?" Hinata menatap Sakura, seolah mengerti keinginannya. Sakura pun terdiam. Hinata melanjutkan. "Keberadaanmu disana lebih dibutuhkan daripada disini. Aku sudah tidak apa-apa kok, sungguh." Hinata tersenyum, membuktikan dirinya baik-baik saja.
"Tapi, Hinata. Kakashi-sensei-"
"Soal sensei aku yang akan bicara, selain itu aku adalah keturunan Hyuuga. Kau tidak perlu cemas. Apa kau pikir aku selemah itu?" pertanyaan sekaligus pernyataan itu sukses membungkam mulut Sakura.
Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya Sakura memutuskan, "Baiklah Hinata, aku pergi dulu. Ingat jangan memaksakan diri. Secepat mungkin aku akan kembali. Jangan kemana-mana."
Sakura pun menghilang, meloncat dari pohon ke pohon. Sebelumnya ia sempat berdoa.
"Semoga keputusanku ini tepat."
xXXxXXx
Past can not go back
Masa lalu tidak akan pernah kembali
Don't you dare to know?
Tidakkah kau tahu
xXXxXXx
.
(~)
"Sasuke!"
Laki-laki berambut raven seketika menghentikan langkahnya. "Tidak mungkin." bisiknya.
Dia tidak percaya, keberuntungan sepertinya jauh dari genggamannya hari ini. Padahal Sasuke baru keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Namun perasaan nyamannya yang sudah susah payah dibangunnya kembali hancur tak bersisa.
Sasuke benar-benar tidak mood untuk melawan Naruto sekarang, terlepas dari perban di matanya.
Seketika itu juga Sasuke berbalik namun disambut dengan pukulan dan cengkraman di kaki dan tangannya. Sasuke jatuh tersungkur. Sasuke menggerutu, "Naruto-ka?"
Mata safirnya mengawasi Sasuke yang berada dibawahnya, "Apa yang terjadi pada matamu, Sasuke?"
"Bukan urusanmu."
Kakashi mencoba untuk mengendalikan emosinya, dari melihat kondisinya saja Kakahi sudah tahu. Sasuke dalam keadaan lemah sekarang. Kulitnya pucat, berkeringat dan mata sharingannya dalam keadaan tidak aktif. "Kenapa kau sendirian di sini, Sasuke?"
"Sudah kukatakan, SAMA SEKALI BUKAN URUSANMU!" bentak Sasuke, kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.
Dari yang bisa pemuda raven itu rasakan, kedua orang itu, Kakashi dan Naruto ada disini. Jika ingatannya tidak salah, pemuda yang bernama Sai itu juga ikut bersama mereka. Tidak jadi pertanyaan dimana Sakura berada. Dia sama sekali tidak peduli akan keberadaannya.
Situasi saat ini lebih penting, Sasuke kali ini berharap entah Madara atau Zetsu untuk segera datang. Dirinya sadar, saat ini posisinya sebagai pihak yang terlemah.
Naruto mengambil langkah maju lebih dulu. Mata safirnya tidak henti-hentinya memandang Sasuke. "Kenapa matamu diperban, Sasuke?" Naruto bertanya sekali lagi.
"Aku bilang, bukan urusanmu!" cakra gelap Sasuke mendadak meningkat, bersamaan dengan itu muncul aliran petir chidori dari tubuhnya. Naruto dan Sai seketika terjatuh.
Tinggal Kakashi yang masih berdiri.
Sasuke bangkit dan mengaktifkan Kirin. Mata Kakashi seketika melebar, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Jurus Kirin Sasuke menahan pergerakannya. Mendongak ke atas, ia bisa melihat Chidori Sasuke yang mengarah padanya.
"Sialan..." pikirnya tidak bisa apa-apa, selain mempersiapkan dirinya untuk menerima jurus mematikan dari Sasuke.
.
xXXxXXx
~Darker Than Night~
If really there is an end
I like to know
xXXxXXx
.
Sudah beberapa menit berlalu semenjak kepergian Sakura, Hinata hanya tetap terdiam. Ia sadar akan pandangan mata Kuro yang masih senantiasa mengawasinya. Gadis itu tidak mengerti kenapa Kuro merahasiakan dirinya dari publik. Berbagai asumsi bermunculan dikepalanya, mungkin karena ia adalah iblis pembunuh yang berbahaya di Konoha, sehingga ia diincar oleh banyak ninja.
Meskipun penasaran, tak sekalipun Hinata pernah menanyakannya secara langsung pada iblis itu. Kuro merupakan seorang yang tertutup. Dia bukanlah orang yang dengan mudahnya menceritakan kehidupan pribadinya pada orang lain. Selama menjalani hidupnya bersama Kuro, hidup Hinata hanya diisi dengan latihan, latihan, dan latihan.
Hanya beberapa kali saja, laki-laki itu pergi. Paling lama sekitar dua minggu.
Hinata ingat, betapa bahagia dirinya ketika iblis itu pergi. Hinata mendapatkan liburan panjang. Mungkin bagi orang lain dirinya akan dianggap sinting, namun tidak demikian dengan Hinata. Baginya yang terbiasa selalu ditemani atau lebih tepatnya diikuti oleh Kuro, hal itu sangatlah bernilai.
Hinata lebih bebas menjalani kegiatan pribadinya (omake itu beneran lho).
Meskipun begitu, Hinata cukup penasaran kemana iblis itu pergi.
Ketika Kuro kembali, dia bertindak seolah-olah tidak pernah pergi. Laki-laki yang mirip dengan Sasuke itu tidak pernah menjelaskan apapun padanya. Hinata ingin sekali bertanya, namun diurungkannya ketika melihat tatapan mengerikan Kuro.
"Kau sudah pulih. Sekarang bangunlah!" Kuro melihat Hinata menggigit bagian bawah bibirnya, iblis itu tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Kau harus melakukan apa yang kukatakan, kau mengerti, Hyuuga?"
Nada bicaranya dingin dan datar, tampak seperti biasanya. Hinata mencoba untuk berdiri namun gagal dan kehilangan keseimbangan, tapi untungnya ada sebuah lengan yang menangkapnya sebelum dirinya sempat terjatuh.
Waktu seakan berhenti berputar.
Mata merah Kuro membulat, demikian pula halnya dengan Hinata. Kuro tidak bisa berpikir jernih, ia lekas melepaskan kembali tangannya dan sukses membuat Hinata 'bruk' terjatuh.
"Ow," rintihnya seraya mengusap pantatnya.
Kuro yang terkejut dengan tindakannya barusan, memalingkan muka. "Cepatlah berdiri, kau tahu aku tidak suka menunggu, manusia!" ujarnya dengan nada kasar. Hinata hanya bisa mengangguk, patuh.
Dengan susah payah, Hinata berdiri dan mendekati Kuro, yang entah kenapa sama sekali tidak memandang wajahnya. Hinata menahan nafas, "K-kuro-sensei...?"
"Sasuke ada di tempat ini, namun tidak lama lagi bocah itu akan pergi. Kau sebaiknya mengawasi dia dari kejauhan." Kuro berbicara dengan nada datar, kali ini dirinya berjalan lebih dulu di depan Hinata.
Hinata yang bingung hanya bisa terdiam.
Wajahnya masih terlihat blushing, memikirkan kejadian beberapa detik yang lalu.
"Kau mau pergi atau tidak?" seketika Kuro berhenti hanya untuk menengok Hinata yang ada di belakangnya.
"I-iya."
Hinata sedikit berlari untuk mengejar ketinggalannya. Mereka berdua berjalan dalam diam. Hanya kesunyian yang menemani kepergian mereka. Namun kali ini bukanlah kesunyian yang baik, melainkan kesunyian yang mengganggu.
"Apa sebenarnya yang terjadi padaku?" batin mereka berdua.
0-0-0-0
Sai melihat dalam diam, menyaksikan interaksi ketiganya. Hawa ketegangan di antara ketiganya bisa dapat ia rasakan. Mata Sasuke yang ditutupi oleh perban, dengan wajah yang ditekuk dan bibir yang ditekan ke bawah. Meskipun orang itu adalah Sai, namun sudah dapat dibaca dengan jelas, Sasuke dalam keadaan marah.
Mata Sai beralih menatap Naruto. Berbagai macam emosi terpancar dari pandangan matanya. Sedih, kecewa, dan sebagainya. Dirinya tahu, Naruto akan melakukan segala cara untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha, terlepas apakah pemuda raven tersebut menyukainya atau tidak.
Sasuke merupakan teman Naruto yang paling berharga, tidak peduli apapun kata orang lain terhadapnya.
Beralih ke Kakashi, jounin itu terlihat putus asa. Dia tahu, Kakashi sudah kehilangan harapan pada Sasuke, mengingat pria tersebut pernah berencana untuk membunuh Sasuke,namun tidak berhasil.
Ketika mereka berbicara, Sai bisa melihat aura kemarahan dalam diri Sasuke yang semakin meningkat. Sebelum dia sempat bereaksi, Sasuke sudah terlebih dahulu mengeluarkan chidori dan menyerang Kakashi. Naruto dan Sai tidak dapat menghentikannya.
Jounin berambut putih itu mencoba untuk menggunakan kagebunshin namun sebelum dia menggunakan jurusnya, ada yang terlebih dahulu melangkah di depannya dan memblokir jurus chidori Sasuke. Menengadahkan kepalanya, ia bisa melihat orang yang berdiri di depannya, tidak lain adalah Sakura. Kakashi menyipitkan matanya, "Apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya mengawasi Hinata!"
Mata hijaunya tidak lepas memandang Sasuke, jantungnya berdebar begitu cepat. Sakura bisa merasakan aura membunuh yang keluar dari tubuh pemuda Uchiha itu. "Sasuke..."
"Hinata baik-baik saja. Dia sudah sadar. Dia memintaku untuk membantu kalian." jelasnya.
Sasuke menggerutu, dia bisa merasakan orang-orang yang mengejarnya mulai bertambah banyak. Dia ingin sekali membunuh mereka semua, namun apa daya, saat ini dirinya berada dalam kondisi lemah. Dengan perban yang melilit matanya, dirinya tidak bisa menggunakan jurus kekkei genkeinya. Kalau Madara mengetahui hal ini, Sasuke yakin pria tersebut akan marah besar. Sasuke telah berani melanggar perintahnya.
"Sasuke, kau ingat apa yang kukatakan tempo hari?" Naruto bertanya, mata safirnya tidak lepas memandang Sasuke yang berjarak hanya beberapa meter darinya.
Pemuda Uchiha itu menolak untuk menjawab, satu-satunya hal yang dipikirkannya saat ini hanyalah cara untuk meloloskan diri. Dengan hati-hati, jari-jarinya mengambil sebuah bom. Dengan cepat dirinya menarik bom tersebut, "Tidak, aku tidak lupa. Saat kita bertemu lagi, saat itu juga aku akan membunuhmu!" Sasuke melemparkan bom kilat tersebut ke tanah, dan secepat kilat lenyap dari pandangan.
Naruto dan lainnya menutup mata mereka. Hingga asap hilang, mereka melihat ke sekeliling, Sasuke sudah pergi.
"Sialan." desis Naruto, menyadari cakra Sasuke yang telah menghilang.
.
xXXxXXx
Spinning Wheel of Fate
Two People Meet Because of Fate
xXXxXXx
.
"Sialan!" sebuah kalimat kasar terlontar dari bibir pemuda Uchiha. Saat ini dirinya berada cukup jauh dari Naruto dan lainnya. Nafasnya tampak terengah-engah. Saat ini dia berada di sebuah kuil yang terletak dikedalaman hutan desa Kumogakure. Ekspresi marah dan benci masih terlihat di wajah tampannya.
Sasuke benar-benar kesal dengan situasinya saat ini. Harus melarikan diri dari orang-orang Konoha. Sasuke bersumpah setelah perban di matanya dilepas, Sasuke akan membuat perhitungan dengan mereka semua. Tiba-tiba Sasuke merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
"Uchiha-Sasuke-desu ne?"
Sebuah suara perempuan terdengar dibelakangnya. Sasuke membalikkan badannya. Meskipun dirinya tidak bisa melihat, dia bisa merasakan cakra yang kuat menguar dari perempuan asing di depannya. Tidak salah lagi cakra milik seorang kunoichi.
"Siapa kau?" Sasuke bertanya, ia belum pernah merasakan cakra orang ini, kemungkinan besar, cakra ini berasal dari ninja lain yang belum pernah ditemuinya.
Perempuan asing itu terdiam, entah apa yang dipikirkannya, ia hanya menatap wajah Uchiha terakhir didepannya.
"Hyuuga... Aku Hyuuga."
Sasuke terenyak, tidak mengira dirinya kembali bertemu dengan salah satu ninja dari Konoha. Dan lagi Hyuuga adalah klan terkuat kedua setelah klan Uchiha. Nasib memang tidak berpihak padanya hari ini.
"Huhuhu..." perempuan didepan Sasuke memandang aneh Sasuke.
"Huwahahahahaha!" Sasuke tertawa bak seorang evil.
Tidak peduli seorang wanita, Hyuuga atau siapapun, hanya satu yang jelas. Wanita asing itu adalah musuh baginya. Sasuke memandang Hyuuga dengan tatapan membunuh. Aura gelap memancar di seluruh tubuhnya.
Cip Cip Cip
Seringai mematikan terpancar di wajahnya, di telapak tangannya muncul kilatan petir chidori. Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya.
"Aku akan membunuhmu!"
Chapter Four Complete
To be Continued
Author: Akhirnya sudah mencapai chapter 4, chapter ini lebih pendek dari chapter-chapter sebelumnya. Terima kasih minna untuk dukungan dan reviewnya.
Untuk chapter Gaahina, memang romansanya belum kelihatan, sabar saja.
Pertanyaan selanjutnya, pairnya kok banyak banget, ya jelaslah saya kan penggemar semua pair Hinata.
Tergantung reader nantinya lebih memilih Hinata sama siapa.
Saya ingin menunjukkan meskipun Hinata berpasangan dengan Sasuke, bukan berarti cuma terputus di situ saja.
Untuk Sasuhina, chapter depan mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya.
Omake berdasarkan cerita asli, namun gaya bahasanya saya bedain dengan yang inti di atas.
Kebanyakan dari omake akan menjadi spoiler nantinya. Seandainya reader lebih jeli melihat, banyak kalimat yang saya tulis merupakan sebuah misteri.
Saya tidak menulis kata demi kata secara asal. Banyak rahasia yang terkandung di dalamnya.
Saya salut pada Masashi sensei, Komik yang ditulisnya berisi rahasia, namun didalam rahasia itu masih ada rahasia lagi.
Itulah yang ada di fic ini.
Di fic ini banyak kejutan yang reader tidak akan sangka, karena itu tolong jangan men-judge suatu fic jelek atau tidak sebelum membaca akhirnya.
Bagi yang memiliki pertanyaan lain, silahkan kirim saja.
Berikut ini adalah cerita tambahan selanjutnya.
Omake :
Summary : Kuro pergi entah kemana, hal itu menimbulkan tanda tanya di pikiran Hinata, kemanakah iblis itu pergi. Cerita kali ini berkisah Hinata dan Hanabi, cerita ini merupakan bab penting yang akan diketahui di chapter-chapter mendatang. Untuk Omake komedi di chapter berikutnya baru dimunculkan.
Pairing : Hinata & Hanabi
Cek it dot.
Action,
Aneh sekali, kemana sensei-nya itu. Sudah dua jam berlalu, namun laki-laki itu belum kelihatan batang hidungnya. Biasanya pada jam segini, iblis itu akan berlatih dengan dirinya. Membuatnya babak belur dan pada akhirnya membiarkannya sendiri dalam kesakitan. Sesekali gadis indigo itu tampak celingak celinguk sendiri, seperti orang tidak waras.
Hanabi yang melihat kelakuan kakaknya hanya bisa bengong. "Nee-san, sedang apa, sih?" Hanabi menyentuh pundak kakaknya dari belakang. Sontak membuat Hinata terkejut dan berteriak.
"A-ah, kau Hanabi, ti-tidak kok, nee-chan tidak sedang apa-apa." Hinata mencoba untuk tertawa, menghilangkan kegugupannya pada adik semata wayangnya. Hanabi memiringkan alis, ia sudah dapat menduga, ada yang disembunyikan oleh nee-san-nya itu.
"Nee-san, jawab yang jujur. Apa sebenarnya yang nee-san sembunyikan?" tanya Hanabi berusaha mencari kebenaran. Matanya tidak henti-hentinya memandang Hinata dengan perasaan khawatir.
Meskipun mereka berdua tidak terlalu akrab dan terlanjur bermusuhan, namun jauh didalam hati Hanabi, dirinya sangat menyayangi nee-sannya itu. Seandainya tou-san-nya itu tidak selalu membandingkan mereka berdua dan bersikap sama kepada keduanya, Hanabi yakin mereka berdua akan jadi saudara yang sangat dekat.
Hinata memandang sedih wajah Hanabi.
Dirinya tidak bisa seperti orang lain pada umumnya. Bebas berkumpul dengan keluarganya, bercanda bersama, menjalani hidup bahagia bersama. Tidak pernah bisa. Selalu ada tembok penghalang bagi dirinya dengan anggota keluarga lain.
Di keluarga Hyuuga terdapat dua keluarga, keluarga Souke (utama) dan keluarga Bunke (cabang). Keluarga Souke berisi anak sulung dan Bunke berisi anak bungsu. Hinata yang lahir pertama menjadi anggota keluarga Souke sementara Neji sepupunya yang merupakan anak dari pamannya menjadi anggota Bunke.
Itu sudah ditakdirkan.
Dirinya menjadi pewaris Hyuuga (hyuuga heiress) untuk klannya.
Sampai hari itu tiba, saat dimana putri kedua dari Hiashi lahir yaitu Hanabi.
Detik-detik kematian kaa-san.
Mata Hinata membulat, kepalanya terasa sakit. Hinata memegangi kepalanya. "Ne-nee-san! Nee-san kenapa?" tanya Hanabi seraya mengguncang-guncang tubuh kakaknya. Ekspresi cemas terpancar di wajahnya.
Keringat mengucur dari wajahnya. "Kenapa? Kenapa hanya mengingat kaa-san terasa sakit begini?" Hinata menutup mata berusaha menghilangkan trauma dalam yang pernah dialaminya. Dirinya tidak ingin mengingatnya lagi.
Tidak mau.
Akhirnya setelah beberapa lama, sakit itu berangsur-angsur menghilang. Hinata menoleh, mendapati wajah cemas adiknya. Hinata tersenyum.
"A-aku tidak apa-apa, Hanabi. Kau tidak perlu cemas." ucapnya sambil mengusap rambut Hanabi.
"Baiklah kalau begitu."
Hinata mengangguk, ia kemudian berdiri. "Aku pergi latihan, katakan pada tou-san, aku pulang larut." bersamaan dengan itu, Hinata melangkah keluar dari ruang latihan. "Nee-san!" Hanabi memanggilnya, langkah Hinata terhenti.
Hinata membalikkan badannya, memandang Hanabi dengan penuh tanya. Hanabi yang dipandanginya sedikit blushing, ia menggaruk kepalanya. Kepalanya menunduk, namun beberapa detik kemudian kembali terangkat.
"Me-meskipun kita tidak pernah dekat dan terlanjut bermusuhan... Namun kita tetap bersaudara..." Hanabi tampak grogi mengatakannya. Ia mulai angkat kaki, namun berhenti hanya untuk mengatakan pada Hinata. "Aku tetaplah adikmu, nee-san."
Mata lavender Hinata membulat.
"Aku menyayangimu, nee-san." ujar Hanabi sekali lagi sebelum menutup pintu ruangan. Meninggalkan Hinata seorang diri di ruangan tersebut.
Tanpa sadar air mata Hinata menetes. Sebuah senyum tipis terpatri di wajahnya.
"Aku juga menyayangimu, Hanabi-chan."
Di dalam kamarnya, Hanabi tersenyum lega. Telah menyampaikan perasaannya pada Hinata. Setidaknya beban dalam hidupnya sudah hilang setengah. Tidak jauh dari sana, ayahnya Hiashi berdiri dalam diam. Wajahnya mendadak berubah sedih. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain melihat. Dalam hati ia sangat menyesal, kedua putri yang dicintainya harus menerima nasib seperti ini.
"Hiashi-sama?" sebuah suara milik keponakannya, Neji menginterupsi pikirannya. Neji yang baru pulang dari misi menghampiri pamannya.
"Wajah anda terlihat pucat, ada apa?" Neji bertanya penuh perhatian. Tidak pernah dirinya melihat wajah pamannya itu sepucat sekarang ini. Dilihatnya Hiashi menggeleng, pemimpin klan Hyuuga itu menjawab, "Tidak, tidak ada apa-apa." Meninggalkan Neji seorang diri diliputi kebingungan.
End of Omake
