"Tadaima!" Sepeda kesayangan milik Hinata yang tadi sore menjadi saksi bisu sekeping memori mengerikan bersama Kageyama sudah diparkir di garasi. Hinata menguap beberapa kali.

Hinata melepas sepatunya. Ia berhenti di dekat loker sepatu sebelum mulai melangkah masuk. Sepenuhnya menyadari keheningan yang jarang terjadi di kediaman keluarga Hinata. "Kaa-chan? Natsu?"

Hinata melenggang ke ruang keluarga. Gagal mendapati keberadaan sang ibu yang biasanya memang berada di sana. Seharusnya, karena ia hafal betul dengan rutinitas harian di jam-jam sekian. Pukul delapan malam, Ibunya selalu menonton drama picisan di televisi, lalu dilanjutkan dengan acara reality show bertema komedi pada pukul sembilan-tiga-puluh. Itulah sebabnya Hinata tidak pernah bisa menonton siaran langsung pertandingan Tim Voli Nasional jika pertandingannya berada pada kisaran jam itu.

Masih belum puas, Hinata mencari di ruang lain. Kamar, ruang tengah, terakhir di dapur. Ada selembar catatan kecil di permukaan pintu kulkas. Ditempelkan dengan magnet.

Shoyo. Ibu, ayah, dan Natsu pergi ke Meguro. Ibu tidak tau kapan pulangnya. Jaga rumah baik-baik ya. Jangan lupa memberi makan Taro.

Dahinya berkerut, orang tuanya jarang sekali meninggalkan Hinata sendirian. Ia bahkan tidak pernah benar-benar menjaga rumah sendirian. Biasanya berdua dengan Natsu, dan itu pun hanya sampai jam sebelas malam. Orang tuanya akan pulang sebelum tengah malam.

Hinata menghela nafas. Berusaha masa bodoh dengan absennya teman dalam menghabiskan malam. Firasatnya berkata ia akan baik-baik saja walau orang tua serta adiknya tidak berada di rumah dalam kurun waktu yang Hinata tidak ketahui. Ya sudahlah.

Lagi-lagi Hinata menguap lebar. Dengan mata yang hampir terpejam seluruhnya, Hinata terus berjalan ke arah kamar tanpa mempedulikan sekitar. Belakangan ini ia insomnia, karena itulah Hinata berniat tidur sampai pagi.

Menjaga rumah memang tidak seburuk itu. Tapi di lingkungan rumah Hinata, hanya ada beberapa tetangga dan jarak antar rumah pun lumayan jauh. Sebagian besar daerah itu masih berupa sawah. Jadi, ya, kalau ada maling yang kebetulan menyatroni rumahnya saat Hinata sedang sendirian di rumah, barangkali ia hanya bisa pasrah. Mau minta tolong juga keburu meregang nyawa.

Hinata menjatuhkan diri di kasur. Tidak berganti pakaian, tidak melepas kaus kaki. Ia ingin mandi–badannya terasa luar biasa lengket. Tapi dia sudah terlalu malas, terlebih setelah insiden bersama Kageyama. Hinata hanya ingin tidur sampai pagi. Kedua matanya terpejam erat.

Saat ia hampir memasuki alam mimpi, ia mendengar suara langkah kaki. Entah sungguhan suara langkah kaki atau bukan, dirinya tidak tau. Hinata berusaha mengabaikan suara itu. Lagipula suara itu berasal di luar rumahnya.

Barulah ketika suara itu terdengar semakin dekat, Hinata memaksa dirinya membuka mata. "Mungkin Kaa-chan sudah pulang."

Dengan keyakinan bahwa orang tuanya sudah pulang, Hinata berpikir untuk mengintip dari jendela–yang tirainya belum ia tutup. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Kaki kirinya sempat terantuk meja. Jemarinya menyentuh pinggiran kusen jendela. Hinata menerjapkan mata beberapa kali sebelum benar-benar melihat ke luar jendela.

Sayangnya yang ia lihat samasekali di luar dugaan. Bulu kuduknya berdiri sedetik setelah ia menyadari bahwa yang ditangkap oleh indera pengelihatannya bukan wujud ibu, ayah, serta adiknya.

Sekelebat bayangan putih. Berada di dekat taman bunga tulip milik Natsu, tepatnya di bawah pohon jambu.

Hinata spontan menutup tirai. Melangkah mundur, lalu jatuh terjengkang di atas tikar. Belakang kepalanya terantuk lantai dengan keras. Hinata berusaha kembali bangkit. Melompat ke atas kasur sambil melapisi seluruh bagian tubuhnya dengan selimut tebal. Barulah ia bersuara,

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

Warning: Sho-ai, KageHina, typo, lawakan receh, fluff gagal, possibly OOC, pendek, abal, etcetra.

Word count (story): 1.5k

Haikyuu! by Haruichi Furudate

I own nothing but this fic. I gain nothing but personal pleasure~

.

One Week Boyfriend

Bagian Empat

.

Peraturan Keempat, pihak yang terkait harus paham bahwa permainan ini serius. Selama tujuh hari itu, keduanya sungguhan menganggap lawan bermainnya adalah kekasihnya. Tidak akan seru jika tidak sungguhan,kan?

.

Astaga. Ia lupa kalau sekarang ini malam Jum'at. Hinata merinding disko. Suhu tubuhnya mendadak turun drastis. Tanpa sadar ia meremas ujung selimut yang digenggamnya. Ia sendirian, SENDIRIAN.

Ini adalah kali kedua Hinata merapal berbagai do'a keselamatan di hari Kamis. Kedua matanya terpejam erat. Di pikirannya terlintas berbagai kemungkinan. Sayangnya sebagian besar yang terpikirkan olehnya hanya kemungkinan yang buruk. Jika bukan kemungkinan, maka kejadian buruk. APA ITU, APA!?

Tidak akan ada yang menolongnya. Dalam hati, Hinata menyesali banyak hal dan mengingat dosanya. Ia belum memberi makan Taro, ia belum mencuci sepatu volinya, ia belum menepati janji Pertarungan di Tempat Sampah, ia belum pernah mendapat nilai di atas limapuluh, ia belum mengembalikan es krim Natsu yang kapan hari ia makan, ia belum menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara.

Hinata menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia belum ingin mati di tangan siapapun–atau apapun–yang sekarang ada di pekarangan rumahnya.

Kepalanya pening karena dipakai berpikir berlebihan. Siapa, siapa yang bisa menolongnya? Setidaknya mengurangi kecemasannya saat ini. Menelpon orang tuanya? Sayangnya orang tuanya memiliki kebiasaan mematikan ponsel saat malam hari. Bu Guru wali kelasnya? Hinata tidak punya cukup nyali untuk menelpon guru di malam hari–sejujurnya ia lebih tidak ingin malu karena ketahuan ketakutan saat menjaga rumah.

Hinata berusaha membayangkan dirinya sebagai orang lain. Jika seseorang berada di posisinya saat ini, kira-kira siapa yang akan mereka hubungi? Barangkali jika tinggal di perumahan, maka ia akan menelpon satpam penjaga pintu gerbang. Jika seorang perempuan, maka mungkin ia akan menghubungi pacarnya–

–tunggu. Kageyama. Benar juga, Hinata bisa menghubungi dia. Kemungkinan besar Hinata akan ditertawakan oleh Kageyama. Belum lagi jika Kageyama menceritakan hal ini pada Tsukishima. Tapi persetan dengan semua itu.

Hinata meraba permukaan meja, mencari ponselnya. Keypad ditekan dengan ganasnya, merangkai sejumlah digit angka yang dihafal mati oleh Hinata.

Degup jantungnya tidak kunjung stabil, malah sebaliknya. Seolah tengah berlomba dengan suara nada sambung telepon. Hinata harap-harap cemas.

"KAU TIDAK–"

"Kageyama."

Hinata tidak lagi peduli dengan apapun. Ia bahkan tidak bisa mengontrol diri. Suaranya terdengar begitu memalukan. Apapun asal dirinya tidak sampai menangis.

"Ada apa?" tanya seseorang di seberang telepon. Mulanya ia hendak menyemprot Hinata karena sudah membangunkannya dari tidur. Tapi suara Hinata terdengar begitu lemah–ini bahkan kali pertama Kageyama mendengar Hinata yang seperti ini.

Hinata berusaha keras mengendalikan suaranya agar tidak semakin bergetar berlebihan. Berkali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Genggaman pada ponselnya terlampau kuat. "T-Tolong aku."

"Apa maksudmu?" Kageyama menaikkan sebelah alisnya.

Hinata tidak banyak bergerak karena masih paranoid. "Ceritanya panjang. Pokoknya sekarang ada seseorang–atau sesuatu–di halaman rumahku. Aku tidak tau itu maling atau apa." Terangnya, "yang jelas, aku tadi melihat sekelebat bayangan putih."

Hinata tidak tau jika Kageyama terperanjat dari kasurnya. "O-Oke, sekarang kau mau memastikannya?"

"YANG BENAR SAJA!" teriaknya–dengan suara pelan. Hinata ingin sekali memaki-maki Kageyama.

Kageyama berpikir sejenak. Yang terbesit di benaknya hanya Hinata sedang butuh distraksi. Secara, tidak mungkin Kageyama bisa ke rumah Hinata dan literally, menolongnya. Jaraknya jauh, terlebih sekarang sudah terlalu larut malam.

"Hinata, bagaimana jika kita cerita-cerita saja? Apapun lah, random juga tak apa."

Hinata tidak sadar dirinya sudah tidak lagi mencengkram ponsel, dirinya sudah tidak meringkuk ketakutan, dirinya sudah tidak membentengi diri dengan selimut tebal, dirinya sedang tersenyum lebar sambil memandangi langit-langit kamarnya.

.

Alarm yang ia set sedang menjalankan tugasnya, menyuarakan bunyi nyaring yang menggema di kamar Hinata. Tangannya meraba permukaan meja. Jam digital itu tidak lagi meraung-raung.

'Beri aku waktu lima menit lagi untuk tidur.' Hinata membetulkan posisi selimut yang nyaris jatuh dari kasur. Ditendang sedemikian rupa.

Lima menit itu berulang sebanyak sembilan kali. Hinata melotot dengan mulut ternganga.

Ia terlambat bangun untuk latihan pagi. Daichi-san akan menghukumnya. Kageyama juga pasti murka. Mampus. Hinata menyesal sudah mengoceh terlalu banyak hal bersama Kageyama. Mereka baru tidur saat jam menunjukkan pukul 2 pagi.

Karena semalam ia tidak mandi, maka pagi ini ia harus mandi. Masa bodo dengan fakta bahwa Hinata hampir terlambat untuk datang ke latihan pagi. Hinata menyambar asal selembar handuk bersih, kemudian berlari ke dalam kamar mandi.

Hinata ingin headdesk. Perutnya memberontak minta diisi–tentu saja, ia semalam tidak makan apapun. Pintu kulkas dibuka dengan brutal. Teriakan frustasi mengikuti setelahnya. Kulkasnya kosong melompong. Hanya ada beberapa botol air mineral, sayur-mayur, beberapa potong ayam mentah, dan setoples selai kacang. Tidak ada buah-buahan, susu, atau apapun yang sekiranya bisa mengganjal perutnya hingga beberapa waktu ke depan.

Hinata tidak mungkin memasak di saat dirinya sudah jelas-jelas terlambat datang ke latihan pagi. Satu-satunya hal layak yang ia temukan adalah sekotak kopi susu. Tanpa pikir panjang, Hinata menyambar kopi tersebut. Segel sedotan dirobek asal. Likuid dalam kotak itu tandas dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik. Hinata berlari, "Ittekimasu!"

.

Hinata mendobrak pintu ruang klub voli. Harapannya sirna seketika, tidak ada siapapun di ruangan itu. Latihannya sudah dimulai. Hinata mengumpat berkali-kali. Ia belum memulai latihan pagi, tapi tubuhnya sudah dibanjiri keringat.

Tidak ada cara untuk menyelinap masuk ke gedung olahraga tanpa ketahuan bahwa dirinya datang terlambat. Tas selempang kesayangan diletakkan asal di salah satu sudut kosong ruangan. Hinata mengambil sepatu voli lalu berlari sambil menentengnya.

Dia tak lagi takut dimarahi Kageyama atau dihukum Daichi-san. Karena dua hal itu mau tak mau akan dihadapinya. Dengan kata lain; pasrah.

Jarak ke gedung olahraga kurang beberapa puluh meter lagi. Hinata berhenti saat melihat Kageyama. Dirinya hampir berteriak karena kaget. Tapi hal itu urung terjadi.

Kageyama. Berdua, dengan seorang perempuan yang belum pernah Hinata lihat. Mengulangi kejadian yang dilihat Hinata beberapa hari yang lalu. Tanpa tau kejadian utuhnya, Hinata sudah tau jika perempuan itu baru saja mengutarakan perasaannya pada Kageyama.

"Tapi maaf, aku menolak. Aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Ya, yang kau sebut pacaran."

Seharusnya tidak ada yang aneh dari jawaban Kageyama. Tapi satu sudut dalam hatinya terasa tidak nyaman. Kageyama hanya berkata sedang berpacaran, bukan sudah berpacaran.

Memangnya sejauh itu perbedaannya?

.

REVIEW KALIAN BIKIN DAKU SENYUM-SENYUM SENDIRI. Tolong, daku gapernah bales review. Koneksi cacad bgt kalau bales lewat email dudududuh :") Diusahain dibales kalau udah ada koneksi memadai.

Terima kasih banyak buat kaliah yang baca, review, fav, ataupun follow. Daku terharu banget. Bener-bener ga nyangka :""""""""3 Peluk cium satu-satu deh! Semoga ga kapok baca fiksi ini.

.

(Warning: authornya nge-rant. Ngoceh sepanjang ratusan kata.)

Ffn ribet banget ya bukanya. Semoga gaada kata atau spasi yang hilang.

HAHAHAHA, ciao. Makhluk brengsek ini (berani) muncul lagi. DAKU TAU INI FIKSI TERBENGKALAI LAMA SEKALI. Tercatat terakhir kali diupdate pada 29 Juni 2015. Yang berarti, lebih dari setahun yang lalu. Daku ngakak banget pas baca ulang fiksi ini. Gimana ceritanya dulu daku bisa dengan pedenya publish ini? JUDULNYA ITU DUNGU ABIS PLS DAKU GAGAL PAHAM. Tapi ya sudahlah, ini tulisan yang daku buat selagi daku muda. I'll keep this fiction as one of billions silly things that i've done.

Ada beberapa hal yang bikin makin lama apdetnya. Daku butuh waktu buat bikin ulang plot. Karena draft yang udah daku buat di hape (dengan polosnya) didelete sama adek tercintah :")

Banyak yang harus dilakukan; terutama karakterisasi mereka yang ternyata daku bikin asal banget :") Daku tau ini fiksi lebih dari parah, but pls don't send any flames to me.

Oh iya, soal word count yang cenderung sedikir itu, daku sengaja. Sejak awal fiksi ini memang ringan. Jadi udah daku putuskan kalau jumlah katanya antara 1.2k sampai 1.9k.

KALIAN TAU BETAPA SENANGNYA DAKU, chapter lalu daku masukin hint Shunsuke Imaizumi dari fandom sebelah. Dan ternyata, TERNYATA, impian daku jadi nyata. Aktor yang meranin Imaizumi di yowapedal Drama TV itu sama dengan aktor yang meranin Kageyama di haikyuu stage play. Yak benar, Tatsunari Kimura. Engeki Haikyuu ruined my life~ Actually, hype daku agak aneh karena chara favorit daku di haikyuu bukan Kageyama (masuk lima besar pun tidak). Tapi HE'S TOO PERFECT AND I CAN'T WhhhAIT—

Oke stop. Bisa-bisa ngoceh sepanjang 300 kata. Sampai jumpa di chapter depan~ Jangan sungkan-sungkan buat ngirim uneg-uneg atau komentar kalian~

.

.

white poppies, yana