A Vocaloid Fanfiction...

.

Mirror by chiyoko-chan23

.

.

DISCLAIMER!

(c) Yamaha Crypton FM

(I'm not own the characters. All of the characters is belong to Yamaha Crypton FM)

.

.

WARNING!

Possibly : Typo(s)/Misstypo, gaje, plot twist (di chapter-chapter terakhir)

.


Bab 3 : Lily

Rin menyeret kopernya dan menyambar tas selempangnya. Paman Rinto memasuki pekarangan rumah-berlari dengan jari telunjuk dan jari tengah mengapit puntung rokok-dan membantu Rin membawa backpack dan barang-barang yang lain.

"Kau yakin hanya ingin membawa ini? Bagaimana dengan-yah, kau tahu sendiri, semua perabot yang ada di rumah ini..."

"Biarkan saja tetap di sini," kata Rin, mendesah pendek. Dia kurang yakin mengenai cermin di kamarnya yang akan ia tinggalkan. Secara tidak langsung, dia juga baru saja memutuskan untuk meninggalkan Lily, teman khayalannya, dan berusaha melupakan semua halusinasi yang menggentayanginya. Paman Rinto menatap ke arah Rin, heran. Dia kemudian memandang ke sekeliling rumah. Asap rokok memenuhi ruangan.

"Uhuk, maaf... aku tidak suka rokok," tutur Rin, sambil menghalau asap-asap yang menghampiri dirinya dan mencegah asap memasuki indra pernapasannya. Paman Rinto melangkah mundur.

"Ah begitu rupanya, maaf." Matanya tertuju pada asbak mungil berbentuk persegi transparan berwarna kelabu, kemudian ia melangkah mendekati asbak di atas meja ruang tamu, lalu mematikan rokoknya di situ. Sementara itu, Rin tengah meneliti pamannya ini secara mendetail dari ujung rambut honey blonde itu hingga ujung kaki dengan sepatu hitam mengkilap yang tampaknya sudah disemir terlebih dahulu. Dia menangkap aura yang sama dengan aura yang dimiliki ibunya. Paman Rinto juga sekilas mirip dengan dirinya. Bertubuh tinggi tegap, dan berwajah tampan. Rambutnya tidak tersisir, tapi sudah rapi. Dia memakai kemeja kotak-kotak merah-biru dan celana panjang jeans hitam yang hampir menutupi sepatunya. Ia juga memakai arloji bermerek di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya tersusun atas tulang-tulang dengan struktur sempurna. Ia memakai kalung dengan rantai besar berwarna silver dan berbandul persegi yang bertulisan METAL.

Rin tanpa sadar berasumsi bahwa Paman Rinto nampak sedikit mirip dengan sosok Len yang telah beranjak dewasa.

Sangat tampan. Mempesona.

"Rin?"

"Eh?"

Rin tersadar dari lamunannya. Dia langsung bergegas keluar dari rumah. Paman Rinto meminta diri membawakan koper dan backpack. Rin menurut.

Dia mengunci pintu depan, dan memastikan pintu samping telah terkunci. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil sedan cokelat tua milik pamannya, persis seperti bayangan Rin. Ia merasa sangat nyaman saat dirinya menduduki jok berbahan kulit, dan ia rasa, ia akan segera tertidur. Lelah.


Tangan putih itu menggapai ujung gaunku, matanya berlinang air mata, bibirnya pucat, rambutnya yang pirang terurai panjang, terayun di udara, dan kakinya hanya sebatas lutut. Dia melayang, jauh... tapi entah bagaimana, dia bisa menarik ujung gaunku.

Aku meraung-raung, menjerit, terisak. Dia hanya tersenyum simpul menatapku. Tangannya, tetap menarik ujung gaunku, seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi selamanya. Aku menjerit, mencakar-cakar permukaan. Keadaan di sekitarku gelap. Ini seperti aku sedang berada di dimensi yang lain, perbatasan antara hidup dan mati.

Eh?

Sebuah cermin memantulkan secercah cahaya yang berkilauan. Aku menyilangkan tanganku di depan wajahku, menghalau pancaran sinar dari dalam cermin yang terasa amat sangat menyilaukan. Beberapa detik setelahnya, cermin itu menelan sosok sang gadis. Bukan menelan, lebih tepatnya menghisap.

Tidak, apa artinya ini?

Hentikan sandiwara konyol ini, siapapun!

Tunggu...

Tangannya seolah masih mencengkeram ujung gaunku. Tidak mungkin kan? Dia sudah menghilang, tangannya tidak mungkin...

Aku memandang ke arah cermin. Sebuah cermin dengan bingkai hitam legam, terbuat dari kayu yang terlihat kokoh dan telah dipoles sehingga nampak mengilap seperti baru. Cahaya itu telah menghilang seiring dengan terhisapnya gadis misterius itu.

Ini seperti semacam anekdot kuno yang sering dibacakan nenek ketika aku masih kecil. Tapi anehnya, ini lebih terasa mengerikan. Darah yang mengalir dalam tubuhku seolah membeku. Tanganku tremor. Kakiku kram. Tidak bisa menapak lebih jauh. Aku terbaring di permukaan berwarna hitam, ditelan dengan gelapnya keadaan sekitar. Sesuatu yang kelam menelanku. Aku tidak bisa melawan.

Aku berusaha memastikan diriku tetap baik-baik saja, tapi bahkan, aku tidak bisa melihat dengan jelas di mana tanganku dan di mana kakiku. Keadaan terlalu gelap, jauh lebih gelap dari sebelumnya. Aku menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar. Aku tidak bisa bernapas. Sesak. Rasanya seperti mau mati.

Dan pandangan terakhirku tertuju pada sebuah mawar hitam yang mengeluarkan darah, diterangi sebuah sinar yang entah berasal dari mana.

Mawar... hitam... darah...

Pandanganku mengabur.


Mobil sedan putih berhenti di depan sebuah rumah yang menjulang tinggi, berwarna putih, dan nampak benar-benar elegan. Rin menggeliat di jok belakang dan menguap lebar-lebar saling merentangkan kedua tangannya ke udara. Paman Rinto melihat ke arahnya melalui sebuah kaca yang tergantung di langit-langit mobil bagian tengah depan.

"Sudah sampai Rin. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Ia menatap Rin. Rin merasakan aura yang terasa seperti ibunya.

"Ah ya, nyenyak," sahut Rin. Ia kemudian mengambil tas selempang di samping tubuh mungilnya. Manik aquamarine-nya menangkap figur Paman Rinto tersenyum simpul ke arahnya. Dia keluar dari tempatnya, dan membuka bagasi mobil, kemudian mengeluarkan koper dan backpack milik Rin. Rin juga lalu keluar dari dalam mobil.

Pintu depan terbuka, dan menampakkan sosok yang familiar. Wanita tua yang keriput, tapi masih nampak bahagia dan anggun. Nenek Rin dari pihak ibu. Dia meneliti tubuh Rin dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian tersenyum. Senyuman macam apa itu, entahlah... yang jelas, Rin berlari memeluk neneknya, meski dia jarang bertemu, setidaknya, dia yakin, itulah yang lumrah dilakukan oleh seorang cucu pada neneknya.

"Kau berpenampilan rapi hari ini," kata nenek. Rin tersenyum, mengangguk mengiyakan.

"Aku sudah berusaha sebisa mungkin."

"Bagus. Sekarang, kau boleh masuk ke dalam."

Rin menyeret kopernya. Kakinya menapak langsung pada lantai marmer. Dekorasi rumah teramat mewah. Bahkan, di hadapan Rin sekarang, setelah ruang tamu super besar, terdapat sebuah piano berwarna hitam kinclong yang tertutupi dengan rak pajangan. Langit-langit rumah didekorasi sedemikian rupa sehingga mirip krim dalam kue tar. Guci-guci antik yang bernilai seni tinggi diletakkan di dekat sofa, sebagian di dalam lemari pajangan. Pot-pot berisi bunga imitasi; seperti pohon bonsai yang diletakkan di atas meja ruang tamu yang terbuat dari kaca, cukup membuat Rin terperangah.

Sekaya inikah neneknya?

Sepertinya di belakang piano, terdapat sebuah taman indoor dengan akuarium raksasa. Rin meneliti setiap sudut ruangan, sementara neneknya mengikuti dari belakang.

"Kamarmu ada di lantai atas," kata nenek. Rin mengangguk penuh semangat. Matanya kemudian teralihkan pada sebuah tangga melingkar mewah dengan susuran tangga yang sepertinya terbuat dari perak mungkin? Tangga itu terletak di samping ruangan besar di mana piano diletakkan di sana. Ini tidak seperti rumah biasa. Lebih bisa disebut sebagai kastil yang telah lama dimimpikan Rin dalam tidur malamnya ketika masih kecil dulu.

"Ini... benar-benar hebat," Rin berucap, bergetar. Nenek menepuk bahunya.

"Kau bisa membereskan pakaian dan barang-barangmu ke dalam kamarmu, kemudian kembalilah ke sini. Akan ada parfait buah dan golden pudding sauce untukmu."

"Kedengarannya seperti makanan mahal," komentar Rin. "Aku sepertinya akan betah tinggal di sini."

Tidak Rin, tidak semudah itu. Tidak semudah dan tidak seindah yang kau bayangkan.

"Baguslah. Nenek senang mendengarnya. Koyuki-san akan membantumu merapikan semuanya."

Rin beranjak dari ruang tamu menuju ke hadapan sebuah tangga. Dia menaiki tangga sambil mengangkat kopernya meski agak kesulitan. Kemudian, sesosok gadis berkacamata dengan balutan seragam maid dan bandana kucing mengejutkan Rin.

"Aku Yamada Koyuki. Panggil aku Koyuki. Akulah yang akan melayani dan membantumu selama kau di sini," suara cempreng keluar dari mulut sang gadis. Rin mengangguk-angguk.

"Silakan, ini dia kamarnya." Ia membuka pintu berwarna hitam itu, kemudian pemandangan yang tersuguh benar-benar membuat Rin takjub. Dia tidak menduga hal semacam ini akan menyambutnya. Inikah yang dimaksud sebagian orang sebagai 'titik awal kehidupan yang sebenarnya'? Rin tersenyum lebar.

"Benarkah ini kamarku?"

"Tidak mungkin aku berbohong, ahahaha."

Rin membiarkan kopernya tergeletak begitu saja di atas lantai yang tertutupi dengan karpet bulu yang menggelitik telapak kaki. Ia kemudian menerjang ranjang dan merasakan keempukan yang luar biasa.

"Ini... benar-benar hebat!" Ia mengulang ucapan yang sama, tapi kali ini dengan penekanan pada kata 'hebat'.

"Biar kubantu merapikan semuanya." Koyuki meraih koper dan membuka resletingnya. Ia mengeluarkan semua pakaian-bisa dibilang tidak terlipat dengan rapi-dari dalam koper, kemudian merapikan semua lipatan pakaiannya dan lalu memasukkannya ke dalam sebuah lemari berwarna cokelat. Lemari itu sepertinya terbuat dari kayu jati, yang harganya pasti sangat mahal.

Perasaan Rin sebenarnya tidak sebahagia yang kau pikir. Antara senang dan sedih. Di sini, semuanya memang masih terasa asing. Ditambah, Rin tetap tidak bisa menerima kepergian sang ibu dengan begitu mudahnya. Tidak untuk selamanya. Bahkan, jika Rin telah menghabiskan seluruh hidupnya, dia akan terus berduka atas kematian ibunya. Hidup tidak seindah ketika ibunya masih hidup. Memori Rin akan ibunya mungkin akan terkikis seiring berjalannya waktu, tapi sepertinya, meski akan ada yang terkikis, kenangan-kenangan indah yang menyisakan tangis dan tawa bersama ibunya akan terus membekas dan takkan pernah lenyap tertiup angin. Rin telah bertekad, bagaimanapun caranya, meski dia harus terus berduka atas kematian ibunya, masa depannya adalah sesuatu yang harus ia hadapi saat ini. Ia harus menyongsong masa depan. Bagaimanapun caranya itu adalah hal yang mutlak.

Dan mungkin saja, rantai kehidupannya sesungguhnya baru dimulai dari hari ini. Sejak dia bertemu Kurosawa Len, setidaknya, dia memiliki seorang teman. Seseorang yang bahkan juga menginginkannya sebagai teman. Dan Rin benar-benar memiliki secercah harapan lagi untuk membuat reputasi yang baik di Crypton.


"Jadi sekarang kau tinggal dengan nenekmu?" tanya Len. Rin mengangguk.

"Apakah keterlaluan jika aku baru tahu bahwa nenekku ternyata orang kaya?" tanya Rin.

"Jelas aneh," sahut Len. Rin balik menatapnya dengan bingung, kemudian, ia memalingkan wajahnya lagi.

"Ternyata memang aneh."

"Tapi tidak seaneh yang kau bayangkan, mungkin lho. Oh ya, seperti yang kuduga, aku sekaligus ingin berbicara mengenai desas-desus yang mulai tersebar. Jujur, aku resah, karena banyak yang mengira kita ini pasangan serasi. Oke, kita tidak pacaran, hanya sekedar teman," ujar Len. Rin menoleh ke arah Len.

"Desas-desus... seperti apa?"

"Seperti yang kubilang tadi. Banyak yang mengira kita ini pacaran, dan kebanyakan, respon mereka akan hal tersebut tidak positif. Mereka berpikir, kalau kita ini pasangan serasi karena sama-sama tergolong aneh. Itu ejekan, bukan pujian," gerutu Len.

"Menyakitkan sekali," desis Rin. "Tak kuduga akan seperti ini."

"Yeah, aku juga."

Detik-detik selanjutnya adalah detik-detik yang canggung. Tak ada yang berbicara. Taman sekolah sepi. Mungkin, banyak murid-murid Crypton yang menguntit mereka dengan cara yang terlalu jenius, tapi yang jelas, di sini, di taman sekolah Crypton, seperti tak ada orang kecuali mereka berdua. Seolah semua murid hilang ditelan bumi. Lenyap begitu saja. Rin menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan setidaknya ada satu atau dua orang yang bersileweran di depan taman.

Tapi matanya tidak menangkap figur apapun.

"Hey, apa jangan-jangan sudah jam masuk?" Len memecah keheningan. Rin mengangguk.

"Gawat. Ayo kita kembali!"

Keduanya berlari secepat yang mereka bisa dan memasuki gedung sekolah seperti orang bodoh, karena koridor sekolah masih penuh dengan murid-murid yang sibuk berbicara satu sama lain, sambil sesekali melirik ke arah mereka.

"Belum jam masuk, ah, syukurlah," Len menghembuskan napas lega. Sementara itu, Rin merasa ada sesuatu yang ganjil dengan murid-murid lain. Seolah... mereka saling bercengkerama dan bergosip mengenai sesuatu hal yang entah kenapa, Rin merasa, hal itu berkaitan dengan dirinya.

Tidak, jangan konyol.

Rin mencoba menepis berbagai pikiran aneh yang melintas di benaknya. Tidak mungkin dirinya menjadi buah bibir kan? Kecuali jika itu adalah hal yang baik, Rin tidak akan merasa resah. Tapi, bagaimana jika justru sebaliknya?

"Oi, Shinoda Rin?" Len menggerak-gerakan telapak tangannya tepat di depan wajah Rin. Rin tersadar.

"Eh?"

"Kau melamun? Memikirkan sesuatu?"

"Ah, tidak. Eh, aku ke kelas dulu. Sampai jumpa nanti." Rin melambaikan tangan dengan gugup, kemudian berlari menuju kelasnya. Benar, ada yang tidak beres. Apakah memang seluruh murid Crypton tengah membicarakan dirinya?

Ya Tuhan... aku baru saja hendak membuat reputasi yang baik. Tapi... oh ayolah

Rin memasuki kelas. Seluruh pasang mata tertuju padanya. Beberapa anak kemudian berbisik-bisik satu sama lain. Rin melangkah menuju ke meja yang ditempatinya, duduk, dan melirik ke arah teman-temannya. Mereka saling berbisik. Berbisik tentang apa?

Rin hanya diam. Tidak lama setelah itu, bel masuk berdering. Murid di dalam kelas duduk di tempatnya masing-masing, kemudian seorang guru muda dengan rambut hijau toska memasuki kelas sambil mengapit buku-buku tebal dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menenteng sebuah tongkat kayu berwarna cokelat tua. Ia nampak seumuran dengan murid-murid di dalam kelasnya; terlihat seperti murid SMA. Berkacamata, langsing, dan benar-benar elok. Rambutnya diikat dengan gaya twintail dan poni yang menutupi dahinya.

Sang guru menebar senyuman yang sangat amat mempesona ke penjuru kelas.

"Hatsuko Miku, guru baru, mengajar tata bahasa, salam kenal. Ah ya, aku sangat suka daun bawang, ahahahaha, tidak penting ya jika kuceritakan pada kalian? Umurku dua puluh satu tahun, dan aku hobi mendengarkan musik. Eh, itu juga tidak perlu kuceritakan ya? Orangtuaku punya bisnis pakaian di ujung jalan dekat Crypton, dan aku juga suka men-desain pakaian. Sebenarnya, cita-citaku menjadi desainer, tapi tidak tercapai, hahaha. Dan satu lagi, aku sangat senang anak-anak kecil, tapi bukan berarti aku pedofil! Aku minus tiga karena terlalu sering menatap layar laptopku untuk internetan. Aku juga, aku juga punya sebuah blog yang masih sepi pengunjung. Ngg... lalu, lalu, aku tidak punya pacar, hehe. Tapi jadi jomblo itu menyenangkan kok! Hidup ini pasti lebih berwarna, seperti warna pelangi. Tidak ada hubungannya yah? Ya sudah, pokoknya seperti itulah perkenalan singkatku. Sepertinya, hari pertama belajar tata bahasa tidak akan terlalu serius. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat kalian senang dengan pelajaran yang kuajarkan. Atau bahkan, meski kalian sudah SMA, aku mungkin akan membuat beberapa permainan menarik seputar pelajaran dan sedikit ajang... em, curhat mungkin? Ahahaha, yang semacam itulah. Taruhan, kalian pasti langsung jatuh cinta dengan pelajaran tata bahasa."

Sepertinya, itu bukan perkenalan yang terbilang singkat, Hatsuko Sensei.

Rin memandangi sang guru baru tersebut sambil menyipitkan matanya.

Benarkah dia seorang guru? Dia bahkan terlalu banyak bicara seperti anak kecil. Dan, oh tunggu, dia benar-benar cantik! Rambutnya... berkilauan indah dan kakinya juga ramping.

Hatsuko Sensei memalingkan pandangannya ke seluruh sudut kelas sambil tersenyum.

"Adakah yang mau bertanya? Barangkali, ada yang mau lebih dekat denganku? Ah, bercanda kok, ahahaha."

Dan dia juga terlalu banyak tertawa...

Tidak ada yang merespons. Tidak ada yang mengacungkan tangan. Hatsuko Sensei merasa canggung. Dia kemudian terkekeh dan menggaruk-garuk pipinya dengan tampang yang luar biasa culun. Rin mengernyit.

"Oh iya! Aku lupa menambahkan satu hal yang penting. Aku punya teman khayalan, tapi dia sangat aneh. Yah, entahlah... sejak kecil, aku sering melihat hal-hal seperti makhluk halus atau apa yang sering orang katakan sebagai hantu. Tidak, mereka tidak sepenuhnya terlihat seperti itu. Mereka itu, ah, mereka berwujud seorang anak-anak. Ahaha, karena itulah mungkin aku suka pada anak-anak? Tapi, kebanyakan dari mereka menghilang setelah aku bertemu mereka. Namun, ada satu yang tetap menemaniku ke manapun aku pergi. Aku menamainya Hatsuko Aoki, karena dia berambut biru pendek. Dia benar-benar cantik lho. Entahlah, dia muncul setelah sepupuku yang masih kecil lenyap secara misterius. Aku bertanya-tanya apakah itu dia, karena wataknya sama, tapi aku tidak berusaha berpikir seperti itu."

Tunggu.

Rin mendelik.

Guru ini-guru baru ini-juga mempunyai teman khayalan? Teman... khayalan? Rin kembali berpikir mengenai Lily. Lily yang sangat misterius, hanya muncul di dalam cermin, dan itu tak selalu terjadi.

Ada gunanya juga guru ini banyak bicara.

Rin bertekad akan membuat dirinya lebih dekat dengan Hatsuko Sensei.


Rin merebahkan diri di ranjang kamarnya sepulang sekolah. Ia masih memikirkan soal Hatsuko Sensei dan teman khayalannya yang bernama Hatsuko Aoki. Entah kenapa, Rin teringat mengenai Lily.

Di dalam kamar Rin, ada sebuah meja rias yang dilengkapi cermin. Rin duduk di hadapan cermin. Dia mencoba untuk bertemu dan berkomunikasi dengan Lily.

"Kau meninggalkanku sendirian... Rin. Kau... jahat... sekali..."

Suara itu... lagi?

Bulu kuduk Rin menegak.

Apa yang dimaksud oleh suara-suara aneh tersebut? Rin tidak sedang berhalusinasi kan?

"Aku kesepian. Kenapa kau tak membawaku bersamamu? Kenapa? Karena kau tidak membutuhkanku? Aku kesepian, Rin."

Suara itu melolong, terdengar menyayat hati.

"Suara siapa itu?! Tunjukkan dirimu!" teriak Rin, ketakutan.

"Bagaimana bisa aku menunjukkan diriku kalau kau meninggalkanku?!"

Suara itu terdengar marah. Rin terkejut.

"Me-meninggalkanmu?"

Tidak ada sahutan.

Rin bergidik ngeri. Ia duduk di tepi ranjang, menoleh ke sekeliling untuk menemukan asal suara. Tapi nihil. Ia tidak menemukan sosok apapun di dekatnya. Tidak, tidak mungkin kalau hanya ada suara tanpa pemilik bukan?

"Aku Lily."

"Eh?" Tatapan Rin berubah ketika nama Lily terdengar di telinganya. Lily? Itu suara Lily?

"Aku temanmu. Tapi, kau tidak membawaku bersamamu ke tempat di mana kau tinggal sekarang? Kau kejam!"

"Apa maksudmu dengan meninggalkanmu?! Aku bahkan tidak-"

Rin tidak melanjutkan kata-katanya.

Tidak, ia tidak mencerna dengan baik arti dari kalimat-kalimat Lily. Kenyataan bahwa ia memang tidak membawa Lily bersamanya.

Karena Lily berada di dalam cermin.


A/N

Hai, hai! *cium readers satu per satu* /dibakar sekampung

Maaf lama update... ahaha, soalnya, mood nulis fik tiba-tiba hilang belakangan ini :v /dilindes

Ah iya, mungkin chapter 4 akan lama update-nya, karena Senin ini, saya mau US SD /anggap saja sama dengan UN/ sampai Sabtu lagi jadwalnya, hiks hiks, tapi setelah itu, saya bebassss, boleh ngapain aja, karena apa? Karena habis US ini, kegiatan sekolah nggak ada belajar lagi, alias free sampai tiba hari kelulusan, yeay xD

By the way, ada tokoh baru di sini, yep, Hatsuko Miku itu Miku, dan Hatsuko Aoki itu anggap aja Aoki Lapis yaa~~ ngomong-ngomong, Ao itu artinya memang biru kan? Wehehehe... dan maaf, kalau alurnya terlalu lambat atau nggak jelas ;3;

Kritik dan saran yang membangun di kolom review sangat dibutuhkan. Saya amat sangat berterima kasih pada siapa saja yang meng-kritik beberapa bagian yang mungkin kurang enak dibaca atau ada yang salah, entah itu typo atau salah deskripsi di dalam fik ini. Yah, pokoknya, kritik dan saran oke? Saya juga mau menjadi penulis yang berkembang dalam menulis fik :"v

Sekian, sampai bertemu di chapter 4! Sekali lagi, mungkin akan lama update-nya, tapi, mohon maklum ya karena saya mau US~ sekalian minta doanya :v /dibunuh/

Oh ya, makasih buat yang udah review~ /sungkem/