Chapter 4 – What Was That Means
Summary
Saat Soo Won baru saja melakukan perjanjian kerja sama alias gencatan senjata dan membuat aliansi dengan kerajaan Xing, Kou Ren menanyakan apa maksud Soo Won melindungi Yona di peristiwa kemarin tapi pertanyaan itu terlanjur dijawab seseorang oleh yang mengantar Lily ke ruangan itu.
"bagaimana keadaan jenderal Joo Doh?" tanya Soo Won pada Keishuk saat mereka berjalan beriringan di lorong.
"luka di tubuh beliau sangat parah, butuh waktu setengah tahun untuk sembuh total dan masa pemulihan agar bisa kembali bertempur di garis depan memerlukan waktu setahun... beberapa hari ini kondisinya memang kritis tapi masa kritisnya sudah lewat berkat penanganan dari tim medis yang cepat dan tepat" jawab Keishuk lalu memberitahu bahwa untuk sementara waktu Soo Won akan dikawal Kyo Ga "jenderal Kyo Ga bermaksud kembali belajar di kastil Hiryuu untuk sementara waktu...".
Sementara Kyo Ga belajar di kastil Hiryuu sembari mengawal Soo Won, Tae Jun sebagai wakil jenderal suku api yang akan berdiam di kastil Saika untuk mewakilinya.
"kami harap yang mulia bersedia bersabar untuk sementara waktu sampai kami mendapatkan beberapa penjaga terbaik yang akan mengawal anda setelah jenderal Kyo Ga kembali ke Saika" ujar Keishuk menundukkan kepala, memberi hormat.
"tak masalah, perdana menteri Keishuk" ujar Soo Won memasuki ruang singgasana, dimana Kou Ren dan Tao yang dikawal Yotaka, Neguro, Vold dan Algira.
Ke-4 jenderal tiap suku kecuali Joo Doh yang absen kali ini juga sudah menunggu di ruang singgasana yang terasa angker kali ini akibat suasana tegang yang terasa mengapung di udara ruangan itu.
"sayang sekali, tak ada jenderal Joo Doh, jadi tak ada yang bisa kugoda kali ini" celetuk Geun Tae memecah suasana.
"jenderal Geun Tae, tolong seriuslah sedikit, kita ada di depan perwakilan kerajaan lain" sahut Kyo Ga.
"apa saja terserah, yang penting bisa kita mulai dan akhiri dengan cepat agar kita bisa cepat pulang?" gerutu Tae Woo yang terlihat jelas wajah cemberutnya.
"dari tadi kau terlihat uring-uringan, nak... kenapa bad mood begitu? harusnya ini keuntungan bagi suku angin, kan?" tanya Geun Tae.
"berdamai dan bisa menjalin aliansi dengan kerajaan Xing jadi keuntungan bagi suku angin atau bagi kerajaan Kouka... salah, mungkin lebih tepatnya... untuk yang mulia Soo Won, kan? aku pribadi dan anak-anak suku angin yang lain tak merasa diuntungkan atas apa yang terjadi baru-baru ini" ujar Tae Woo sinis.
"sudahlah, jangan ribut disini... kalian tak malu di hadapan putri kerajaan Xing?" ujar Joon Gi meredakan suasana "nak, aku mengerti kau khawatir pada kesehatan tetua Mundok, tapi untuk saat ini lebih baik jika kau fokus pada pekerjaanmu sebagai jenderal".
"kenapa dengan tetua Mundok?" tanya Geun Tae.
"yah, aku sempat bicara dengan jenderal Tae Woo barusan, katanya tetua Mundok jatuh sakit jadi jenderal Tae Woo akan langsung bergegas pulang begitu rapat ini selesai" jelas Joon Gi.
Geun Tae sontak terkejut "bisa sakit juga kakek itu? sakit apa?".
"hanya... kondisi tubuh beliau menurun akibat shock, jadi bisa dibilang akibat kondisi psikis..." sahut Tae Woo memalingkan wajah.
"baiklah kalau begitu, kita mulai saja..." ujar Soo Won berdiri di tempat duduknya.
Saat perjanjian damai alias gencatan senjata secara tertulis sudah disetujui kedua belah pihak yang ditutup dengan singkat dan damai meski ketegangan yang ada tak berkurang, tak disangka Kou Ren bertanya pada Soo Won "bisa jelaskan apa maksud tindakanmu saat itu?".
"maksudnya?" tanya Soo Won balik.
"baiklah, aku akan langsung saja... kenapa kau melindunginya?" sahut Kou Ren menunjuk ke belakang "masih ada Neguro sebagai saksi, perlu kubeberkan siapa yang kumaksud disini jika kau tak mau menjawab pertanyaanku?".
"itu..." ujar Soo Won menundukkan kepala, ia merasa terpojok karena masih ada para jenderal dan Keishuk di ruangan itu.
"gadis yang ia lindungi saat itu adalah gadis yang ia cintai, apa jawaban itu cukup memuaskan bagimu, putri Kou Ren?".
Mereka yang ada di ruangan itu terkejut karena tahu-tahu Yasmine muncul di ruang singgasana yang seharusnya tak bisa dimasuki orang lain dengan mudah di tengah penjagaan ketat saat ini terlebih mereka sedang melakukan rapat.
"kau...!?" ujar Tao dan Kou Ren menunjuk Yasmine.
"mau apa kau kemari?" sahut Soo Won ketus.
"tak usah sinis begitu, tadinya aku hanya ingin mengantarkan anak yang tersesat, tapi karena putri Kou Ren menanyakan hal yang menarik, jadinya kujawab saja terlebih kau dan gadis itu sama-sama masuk daftar dari tiga tipe orang yang kubenci" ujar Yasmine menyeringai melihat Soo Won, lalu melempar Lily yang ia panggul ke lantai "ini kirimannya".
"aduh..." erang Lily memegangi pinggulnya lalu menunjuk Yasmine "hei!? bersikaplah dengan lembut sedikit pada sesamamu, apa susahnya?! dasar barbar!? kenapa kau ini kasar sekali?!".
Yasmine melipat tangan dengan wajah tanpa ekspresi "aku merasa tak punya kewajiban atau keuntungan dengan bersikap lembut padamu, nona".
"ibumu lembut sekali begitu, kenapa anaknya kasar sepertimu?" gerutu Lily.
"biar saja, aku kan anaknya Oni, lupa ya?".
"kalau ibumu tahu kau bicara begitu, nanti kau ditamparnya lagi, lho... apa kulaporkan saja nanti saat kami bertemu lagi, ya?".
"yah, jangan, dong...".
"Lily!?" ujar Joon Gi memeluk Lily erat "kau ini kemana saja? kau bikin ayah dan ibu khawatir karena kau pergi tanpa kabar selama setengah bulan setelah kau hanya meninggalkan surat di tempat tinggalmu di Sensui yang berisi agar kami tak mencarimu, dasar anak nakal?!".
"tuh, pulang sana ke rumahmu dengan ayahmu" ujar Yasmine mengayunkan tangan.
"kau ini, benar-benar niat sekali mengusirku, ya? setidaknya berterimakasihlah sedikit karena aku sudah membantu kalian kali ini" ujar Lily memicingkan mata.
"yah, biar begini aku cukup berterima kasih atas pertolonganmu, kok... kalau tidak, bisa-bisa gadis itu takkan berhenti menangis" ujar Yasmine menghela napas.
"Lily, siapa dia?" tanya Joon Gi.
"sebelum kujelaskan... ayah, bisa lepaskan aku? Malu kan dilihat yang lain?" ujar Lily tersipu malu sambil menepuk-nepuk tangan Joon Gi.
"tak apa-apa kan, Lily? sesekali biarkan ayahmu memanjakanmu" ujar Geun Tae tertawa dan menepuk-nepuk kepala Lily.
NB :
Baca cerita lengkapnya tentang apa yang terjadi antara kerajaan Kouka dan kerajaan Xing di Crossover Darkness Dragon and Heaven's Dragon (Prequel of Rainbow Dragon)
