I'm free really free!*loncat ke kolam coklat bareng Spongebob*

Akhirnya UN selese juga! Sekarang tinggal libur panjang! Hurrayy!

Saya ucapkan selamat pada Io-aruka, Shirokuro 00, IT wasn't a thing, dan author lain yang juga senasib sama saya! Semoga hasilnya memuaskan, amin...

UN dah lewat! Horee!(Re:CEPET MULAI CERITANYA!)

Hehe.. sampai lupa. Selamat membaca!

#Taufan POV#

Aku dapat melihat semua orang di bawahku tampak cemas. Bagaimana tidak, tubuhku bergerak tidak terkendali di atas skateboard angin yang sedang melayang tinggi. Yah, memang susah untuk menyeimbangkan tubuh di saat kepala pusing begini. Entah imajinasiku atau bukan(aku tidak heran bila ini kenyataan) aku seperti mendengar teriakan Gempa melengking tinggi. Sepertinya dia sudah menyadari aku kabur dari kamar. Aku mempercepat laju skateboard anginku berharap Gempa tidak mengejarku. Bukan, bukannya aku takut dimarahi olehnya. Hanya saja kali ini aku ingin Gempa tidak perlu repot-repot mengendalikan amukan Halilintar. Meskipun aku tidak tahu mengapa Halilintar tiba-tiba mengamuk, tapi aku yakin itu salahku. Jadi, biarkan aku yang mengatasinya. Aku ingin menjadi bagian diri Boboiboy yang bertanggung jawab.

Akhirnya aku sampai di gunung, dan disambut pemandangan kacau balau. Pohon-pohon hangus bertumbangan, batu-batu terbelah, dan bau gosong di mana-mana. Halilintar tampak melemparkan pedang halilintar ke sasaran asal. Ia terus meneriakkan kalimat yang sama secara berulang-ulang.

"AKU MARAH! AKU MARAH! AKU SANGAT MARAH!"

Aku berhenti sejauh 5 m di depannya. Dengan sedikit takut aku mencoba mengalihkan perhatiannya.

"HALILINTAR! BERHENTI!"

Halilintar tampak mematung. Pedang halilintar yang seharusnya ia lempar ke pohon terdekat ia biarkan menggantung di tangannya. Kemudian...

SREET!

Susah payah aku mencoba menghindar dari lemparan tiba-tiba itu. Apa maksudnya? Kenapa Halilintar mencoba menyerangku?

"Halilintar? Siapa itu? Kalau itu namaku, maka aku ingatkan padamu bahwa tidak ada yang boleh memerintahku!"

Eh?

"Aku masih marah! Aku akan berhenti saat marahku sudah hilang! Jadi, kau orang tak dikenal, berhenti ikut campur!"

Oh, great. Sekarang aku mengerti. Dia hilang ingatan, seperti saat mode Halilintar pertamanya muncul. Apa Adu Du biang keroknya?

"Mana si alien hijau kepala kotak itu?"tanyaku.

"Alien? Alien apa?"Halilintar bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya. Yah, setidaknya aku tau satu hal. Alien kotak itu tidak ada hubungannya dengan perubahan sikap Halilintar.

"Ngomong-ngomong, wajahmu yang sangat mirip denganku itu, MEMBUATKU SANGAT MARAH!"Beberapa pedang halilintar menyerbuku. Segera aku menyuruh skateboard anginku bergerak ke samping, mengelak dari pedang-pedang itu. Duh, badanku kedinginan terkena udara gunung yang dingin dan kepalaku bertambah pusing. Pandanganku juga mulai mengabur. Mungkin kalau bagian diriku yang lain sudah datang, ia bisa membantuku.

Tunggu, siapa nama bagian diriku yang satunya ya? Heh?

AKU MULAI HILANG INGATAANNN!

Bagaimana ini? Bagaimana ini? Apakah nanti aku akan hilang ingatan sepenuhnya dan mengamuk bersama Halilintar? Atau yang lebih buruk lagi, mengamuk sambil bertarung melawan Halilintar? Seperti kemunculan mode Taufanku pertama kali? ITU MENGERIKAN!

Tunggu, bertarung melawan Halilintar? Seperti kemunculan mode Taufanku pertama kali? Itu dia! Kalau aku bisa mengulang kembali kejadian itu saat ini, mungkin Halilintar bisa mendapatkan ingatan tentang kejadian itu! Kemudian mungkin saja, dia mulai ingat tentang dirinya, aku, dan-akh! Siapa sih nama orang satunya lagi! Yang pasti, prioritas utama sekarang ialah mengembalikan ingatan Ha-

Bagus, sekarang aku mulai lupa siapa nama makhluk di depanku. Yang aku tahu sih suku kata depannya Ha. Um, Halusinasi? Halangan? Ngomong-ngomong, yang aku sebutkan itu sepertinya bukan nama orang. Sudahlah, itu tak penting. Untung saja aku masih ingat kronologi pertarungan pertamaku dengan Ha- dengan diriku yang pemarah itu. Segera aku membuat angin tornado di sekitar tubuhku. Skateboard anginku sudah kuparkirkan di tempat yang aman, di atas pohon maksudnya. Tornado yang kubuat mengangkat tubuhku ke atas(yang memang sedari tadi sudah di atas) dan otomatis menjadi perisai untukku.

"HWA HA HA HA!"aku mecoba tertawa segila mungkin sambil mengangkat kedua tanganku setengah ke atas. Begini bukan sih? Biarkan sajalah, yang penting orang itu mengingatnya.

"Kenapa kau ketawa-ketawa sendiri! Tidak ada yang lucu! Suara tertawamu membuatku marah!"

Dia tampaknya tidak ingat. Sepertinya aku salah pose. Segera dia menerjangku dengan pedang halilintar di tangannya. Nah, itu! Namanya Halilintar! Akhirnya aku ingat! Oke, bukan waktu yang tepat untuk merayakannya, Tipan. Atau Lipan? Sial, aku sudah mulai melupakan namaku sendiri! Kembali ke topik awal. Untung saja perisai anginku mampu melindungiku dari serangan Halilintar yang bertubi-tubi. Brr.. aku baru sadar angin topan yang mengelilingiku terbentuk dari udara gunung. Tentu saja aku kedinginan. Tapi aku belum bisa menghilangkannya, Halilintar masih menyerangku secara bertubi-tubi. Tubuhku gemetar, kepalaku bertambah berat. Dan rasa-rasanya, aku akan...

"HA-HA-HAAAASYYIHHH!"

#Normal POV#

Boboiboy Halilintar terlempar beberapa meter ke belakang, akibat bersin dahsyat Taufan. Sedangkan Taufan sendiri pingsan tak lama setelah ia mengeluarkan bersin hebatnya. Sedangkan Halilintar masih tergeletak di tanah. Matanya membelalak dengan sempurna. Ingatan-ingatannya mulai terbayang di otaknya.

"HA-HA-HAATSYYIHH!"

"Hai, kau tak apa-apa?"

"HATTSSYYIIH! Sepertinya aku sedikit flu karena berada di dalam robot tu..."

"Heh, ya sudahlah, ayo bergabung!"

"Loh, kenapa ini?"

"Cih, dasar. Gara-gara kau sakit, kita jadi tak bisa kembali menjadi satu Boboiboy."

"Maaf, HA-HATSYIHH!"

"Pelindung kilat!"

"Halilintar, ambil obat flu dari kotak obat."

"Nih, kotak obatnya.."

"Halilintar, obat flunya habis..."

"Jadi?"

"Tolong kau belikan.."

"Kenapa bukan kau saja?"

"Kau kan punya gerakan kilat... Lagipula aku harus menemani Taufan di sini..."

"HATTSSYYII!"

Halilintar terperangah. Ia mulai ingat. Ia, adalah Halilintar, bagian dari Boboiboy, begitu juga Taufan dan Gempa. Ia ditugaskan membeli obat, dan dua penjual obat itu menghabiskan kesabaran Halilintar yang memang sangat sedikit. Kemudian memori-memori masa lalunya mulai bermunculan. Ia mengingat sosok Tok Aba, Ochobot, Yaya, Ying, Gopal, Fang, beserta kenangan-kenangan bersama mereka. Kemunculan Mode Halilintarnya pertama kali, pertarungannya dengan mode Taufan...

Tunggu, jangan-jangan anak yang baru dilawannya tadi Taufan? Ya, hanya Taufan lah yang bisa memunculkan bersin sedahsyat tadi. Dan tawa tadi, sedikit mirip dengan tawa Taufan dahulu saat ia mabuk biskuit Yaya. Halilintar panik. Taufan tidak boleh terluka karenanya! Segera ia berlari ke arah Taufan yang masih tergeletak di tanah. Namun tiba-tiba pandangannya kabur, lututnya terasa lemas, dan... BRUK! Ia menyusul Taufan ke alam pingsan.

Gempa muncul sambil terengah-engah. Ia mengutuk dirinya yang tergolong lamban dibandingkan dengan Boboiboy yang lain. Setelah sampai, ia disambut pemandangan sekeliling yang porak-poranda, serta Halilintar dan Taufan yang terbaring di tanah.

"Hoi, Tornado! Hujan! Kalian tidak apa-apa kan?"tanya Gempa cemas seraya menghampiri mereka berdua. Sayangnya baik Halilintar maupun Taufan masih berada di alam pingsan sehingga mereka tidak bisa memprotes Gempa yang entah sengaja atau tidak salah menyebut nama mereka.

"Uhh... Atok..."Taufan mulai sadar dan menggumam tidak jelas. Gempa segera menyentuh kening Taufan.

"Ufh Panas! Sepertinya demamnya bertambah parah. Dasar, pasti dia terlalu banyak terkena udara gunung yang dingin. Aku harus segera membawanya ke rumah. Hoi Hujan! Bangun! Ayo kita pulang!" Gempa mengguncang-guncang badan Halilintar namun tidak ada respon. Gempa mulai panik. Ia segera meraba pergelangan tangan Halilintar. Bagus, dia masih hidup. Jujur saja Gempa tidak tahu apa yang terjadi jika salah satu bagian dirinya meninggal. Apakah dirinya akan menghilang juga? Duh, fokus Gempa! Membawa mereka kembali ke rumah adalah prioritas utama saat ini. Gempa memukulkan kedua Tangan Batunya ke tanah. Dari dalam tanah muncullah 2 onggokan tanah yang kemudian pecah, menampilkan 2 sosok makhluk ciptaan dan bawahan Gempa. 2 mini Golem Tanah. Yah, secara harfiah mereka berdua tidak ada bedanya dengan Golem Tanah biasa, hanya saja ukuran mereka menjadi lebih kecil. Gempa menyuruh para Golem Tanahnya mengangkat tubuh Taufan dan Halilintar(ngomong-ngomong Gempa masih salah menyebut nama mereka berdua, membuat para Golem Tanahnya kebingungan). Gempa dan Golem Tanahnya menuruni gunung dan bersiap pulang ke rumah. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut. Ia telah melupakan sesuatu yang penting.

Ia... lupa jalan pulang ke rumahnya.

Gempa tak kehabisan akal. Ia segera menghampiri ibu-ibu di tepi jalan sambil bertanya.

"Bu, boleh saja bertanya arah pada ibu?"

"Silahkan nak.." jawab ibu-ibu itu.

"Kira-kira kalau mau pergi ke rumah Tok Aja lewat mana ya?"

"Tok Aja? Siapa itu?"

"Atok saya. Yang punya kedai kopi.."

Ibu-ibu tersebut bertambah bingung.

oooooooooooooooooooo

Akhirnya sampailah Gempa, Taufan, dan Halilintar di rumah. Untunglah ibu- ibu tadi cukup pintar untuk menyadari bahwa yang dimaksud Gempa itu rumah Tok Aba. Bahkan setelah ditunjukkan jalan yang benar oleh ibu- ibu itu, Gempa masih saja tersesat. Tapi, biarlah. Semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang 3 Boboiboy selamat sampai ke rumah, tak lama sebelum hujan turun membanjiri Pulau Rintis. Gempa sedang mondar-mandir di dapur, raut mukanya seperti marah campur bingung. Halilintar tampak tertunduk du kursi dapur, bak anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Taufan sendiri sudah dikembalikan ke kamar Boboiboy. Demamnya bertambah parah, sehingga Gempa langsung menyelimutinya dengan selimut tebalnya dan menambahkan dua botol pemanas di kasur.

"Jadi, kamu mengamuk hanya karena penjual obat?"tanya Gempa tajam sambil melirik Halilintar.

"Iya, habis penjual obatnya menyebalkan.."jawab Halilintar sambil menunduk.

"Tapi, kamu harus mengendalikan emosimu! Kamu kan tahu kalau kita memiliki kuasa super! Nanti kalau sampai melukai orang lain bagaimana? Semarah apapun Boboiboy, dia tidak pernah melibatkan orang lain! Kamu kan juga Boboiboy, harusnya kamu juga seperti itu!"Gempa memarahi Halilintar panjang lebar. Halilintar yang tampak marah menggebrak meja keras.

BRAK!

"Nah, sekarang kamu tidak mengendalikan emosimu lagi!"marah Gempa.

"Boboiboy dan aku berbeda! Boboiboy punya kalian berdua, sedangkan aku hanya punya si pemarah Halilintar!"teriak Halilintar.

"Apa maksudmu?"ujar Gempa sedikit terkejut melihat Halilintar mengamuk di depannya. Bukan, bukannya ia terkejut atas amukan Halilintar. Ia terkejut karena wajah Halilintar seperti... mau menangis. Mengetahui keadaan wajahnya, Halilintar membenamkan kepalanya ke meja.

"Boboiboy memiliki kamu, Gempa yang sabar, atau Taufan yang ceria. Boboiboy berhati besar karena ada dirimu di dalam dirinya. Boboiboy juga menjadi anak yang ceria karena ia punya Taufan. Sedangkan aku, aku hanya kemarahan. Boboiboy tidak memerlukan dirinya yang pemarah. Kadang aku merasa seperti.. aku tidak diperlukan oleh Boboiboy..."

Gempa tidak bisa melihat wajah Halilintar karena tertutup tangan, namun ia bisa mengetahui bahwa saat ini Halilintar sedang menangis. Ditepuknya bahu Halilintar pelan.

"Kamu salah. Kita semua punya arti penting bagi Boboiboy. Lagipula, betapapun berbedanya sifat kita, kita tetap sama. Kita adalah satu Boboiboy. Kita semua adalah seorang anak yang baik, ceria, dan superhero yang kuat. Jadi kamu juga sama. Meskipun kamu pemarah, kamu juga seorang anak yang baik, bahkan kamu mampu berpikir cepat dibandingkan kami berdua. Meskipun terkadang kamu mengamuk, tapi kamu tidak pernah bermaksud untuk melukai orang lain, kan? Dan terkadang kamu juga nekad, tapi kamu juga selalu berusaha untuk melindungi orang lain kan? Kamu berguna untuk Boboiboy, Halilintar. Kita dibutuhkan oleh Boboiboy, bukan, tanpa salah satu dari kita, Boboiboy bukanlah Boboiboy. Karena kita adalah satu."ujar Gempa dengan lembut. Ia dapat merasakan Halilintar menjadi lebih tenang. Namun, Halilintar masih membenamkan wajahnya di meja. Gempa tersenyum, Halilintar tidak ingin orang lain melihatnya menangis, meskipun bagian dirinya sendiri sekalipun.

Tiba-tiba terdengar erangan dari kamar Boboiboy. Gempa yang panik segera naik ke atas, namun Halilintar sudah mendahuluinya. Setelah sampai, Halilintar menyingkap selimut yang dipakai Taufan. Tampak muka Taufan sangat merah. Gempa kemudian datang sambil membawa termometer dan segera memakaikannya ke mulut Taufan.

"Astaga! 40 oC! Dia demam parah!"Gempa berseru panik.

"Mana obatnya? Taufan harus meminum obat secepatnya!"Halilintar berseru tak kalah paniknya.

"Aku tadi lupa membeli obat! Bagaimana ini?"Gempa menutup wajahnya dengan tangan. Halilintar tampak berpikir-pikir sebentar. Kemudian...

"Gempa, segera kompres dahi Taufan. Aku akan membelikan obat untuknya."

"Apa! Pada malam hujan lebat seperti ini? Jangan nekat Halilintar!"

"Tidak apa-apa, lagipula dari awal membeli obat memang tugasku. Baiklah, aku pergi dulu."Halilintar segera melesat keluar, tidak dihiraukannya teriakan Gempa menyuruhnya memakai payung. Di bawah rintik hujan, Halilintar mencari toko obat. Namun sebagian besar toko obat telah tutup. Halilintar terus mencari. Akhirnya ia menemukan satu toko obat yang masih buka.

"Beli obat demamnya satu. Cepat."kata Halilintar padat dan singkat kepada bapak penjual obat. tak lupa dengan wajah sangar, membuat bapak-bapak tersebut segera memberikan pesanan Halilintar. Halilintar segera mengambilnya, menaruh uangnya di meja kasir, dan dengan cepat melesat ke rumahnya. Tak dihiraukannya lagi bapak penjual obat yang hendak memberikan uang kembalian. Akhirnya ia sampai di rumahnya dalam keadaan basah kuyup. Segera ia pergi ke kamar Boboiboy. Dilihatnya Gempa telah terlelap di samping kasur. Sebaskom air hangat tampak mengepul di samping Gempa. Tampak selembar handuk basah menduduki dahi Taufan yang juga terlelap. Demamnya mulai sedikit turun. Halilintar segera membangunkan Taufan.

"Taufan, ayo bangun. Minum obat."

Taufan pun bangun dan duduk di atas kasur. Halilintar mengambil sendok dan meminumkan obat sirup tersebut ke mulut Taufan.

"Sekarang tidur lagi."perintah Halilintar. Taufan pun menurut dan kembali berbaring. Halilintar segera menuju pojok kamar dan tidur dengan posisi duduk.

ooooooooooooooo

Pagi harinya...

"UWAH! Aku sudah sembuh! Demamku sudah turun!"teriak Taufan kegirangan. Halilintar sendiri segera menutup kuping.

"Berisik! Kalau kau ribut terus, lebih baik kau sakit lagi saja!"bentak Halilintar yang dibalas muka cemberut Taufan.

"Sudah, sudah. Mari kita bersatu kembali!"

"Tunggu dulu. Kita jangan bersatu dulu."ucapan Gempa sukses membuat Halilintar dan Taufan keheranan.

"Kenapa Gempa!"tanya Taufan polos, namun membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Gempa.

"LIHAT KAMAR INI! APA KALIAN PIKIR TOK ABA AKAN SENANG MELIHAT KAMAR CUCUKAN BERANTAKAN SEPERTI INI?!"

Mereka pun mennyadari keadaan kamar Boboiboy yang porak-poranda bagai dilandan topan(dalam hal ini, itu memang kenyataannya). Gempa segera memberi ultimatum.

"Kalian berdua, bereskan kamar ini."

"Lah kamu?"

"Aku akan membereskan dapur."selesai memberi perintah, Gempa menuju dapur yang sekarang berantakannya mengalahkan dapur barak tentara. Sembari bersih-bersih, Gempa terus memikirkan ucapannya. Tadi malam ia bilang bahwa mereka bertiga adalah satu kesatuan. Namun rasanya sulit dipercaya, mengingat betapa berbedanya mereka bertiga. Suara gaduh dari atas membuyarkan lamunan Gempa.

"Bwa ha ha ha! Jadi kemarin kamu mengamuk gara-gara dipermainkan sama nenek-nenek penjual obat? Konyol seka-ADUH! LEPASKAN TELINGAKU HALILINTAR!"

"Dasar kamu ya! Memangnya kamu sembuh gara-gara siapa hah!"

"Ampun ampun Halilintar! Jangan jewer aku!"

Gempa melihat kegaduhan antara mereka berdua dengan pandangan bingung. Ia tidak habis pikir, apa mungkin kita bertiga itu satu kesatuan? Apa di dalam diri Boboiboy Halilintar dan Taufan juga sering bertengkar? Namun ia segera menepis pikirannya dan menegur mereka berdua.

"Kalian berdua, berhenti bertengkar. Cepat bereskan kamar ini."

Halilintar dan Taufan menurut dan melanjutkan kembali aktifitas mereka. Gempa sendiri kembali turun sambil melirik sekilas kepada Taufan yang telinganya telah memerah dan Halilintar dengan baju merahnya yang basah.

Tunggu, baju merahnya yang basah?

"Halilintar, kenapa bajumu basah begitu?"

"Kemarin kan aku kehujanan."jawab Halilintar watados.

"Dasar! Kan aku sudah bilang pakai payung! Jangan-jangan semalaman tadi kamu tidur dengan baju basah seperti itu. Aduh! Nanti kamu sakit!"

"Jangan khawatir, aku tidak selemah Taufan. Aku tidak akan sa-HATSYIH!"

Halilintar tumbang ke lantai. Taufan memandang Gempa.

"Gempa, sepertinya Halilintar sakit..."

Hening

.

.

.

"TIDAAAAKKKKKK!"

End

Fyuh, selese juga.

Dan sesuai suara terbanyak, maka Halilintar kubuat sakit!

*Liat readers bawa golok* Waa! Tunggu sebentar! Masih berlanjut kok!

Sekuelnya mau kubuat, tapi nunggu plot yang sesuai aja. Dan aku mau tanya sedikit.

Readers semua setuju gak kalo Halilintar kubuat OOC di sekuelnya?

Itu saja dan dimohon reviewnya!

Ciao!