Yo, chap 4 update, makasih yang sudah bersedia baca.
Bales-bales review dulu...
ichsana-hyuuga : nyahaha aq jg gemes ama mas sai, haha pein sensei serem kan? paling suka sama mur di idungnya *plak* Yosh, mksih reviewnya.
Akasuna noHinata SYIFA'sasUke : suka adegan choujisai ya? Haha aq juga, di chap ini bnyak lho. yosh mksh reviewnya.
Ai HinataLawliet : jiah, mw dicium sasu dia. Haha sasuhina kurang ya? aduh, blm dpt feel ttg mereka | aku arek malang, malang pakis, tp bukan pakisaji tp pakis tumpang/pakis kembar. Kpn2 mampir kerumah ya.
lonelyclover : nyahaha jd pengen ikutan ol breng mreka, ok ini ud update. Mksh reviewnya
UchiHyuuandriana : aku suka aa' gaara haha, chap ini gaara keluar kok. Ini ud updet kilat kan?
Akirainatsu : yey yey chouji jg ada saingan yaitu aq *plak* aq jg tergila-gila sama sai. mksh reviewnya
hyuuchiha prinka : gaara ama aq aja hahay, *Digorok gaara fc* nyahaha thnks Reviewnya ya. . .
OraRi HinaRa : haha sai emang nasipx malang, hoho mksh reviewnya.
Dindahatake : haha biar g dicium chouji, harus ripyu hahay thanks ya...
Ivory Vega : nya... Makasih bnyak reviewnya ya, q tunggu RnR-nya lagi.
Sabaku no uzumaki : wah ud apdet nih, Gk lama kan? q tunggu rnr-nya.
uchihyuu nagisa : kekalimantan bwt brkunjung krmh nenek sekalian liburan hehe, nyaha mkc reviewnya ya.
Kazunari kizuna : siapkan jumboatur mas sai ya jeng*ngasah golok* hyaha mksh reviewnya.
uchihahyuugalover : muakasi buanyak masukannya,*terharu* ni ud updet, Ku tunggu masukannya lg.
Dhinie minatsuki amai : i lope gaara jg. Aq ke kaltim tepatnya samarinda, rumah nenekku. tp aq ke kebalikpapan jg *bilang aja hnya ke bandara* Mksh ripyux ya.
Kecebong : haha dasar murid Laknat, hyoho mksh reviewnya bong.
Hanata chan : qm yg di YA! Haha aq dikasi tugas promo buat event cerpen malah promosi fic sendiri, promo event kan puanjang lebar T.T *males ngetik panjang* Yuph mksh reviewnya.
Pretty cute-hime : ah tidak! Mending sai ama cui aja*plak* haha muakasih RnR-nya.
Kino lolly : hahay sulit bkin humor tanpa ooc, haha ini gk kelamaan kan? Kurasa tidak. makasi reviewnya ya.
Makasih semuanya... Tanpa RnR dari minna-san, gak mungkin ada semangat buat ngelanjut fic ini.
Disclaimer : Mashashi Kishimoto
Pair : Sasuhina, Saiino
Genre : Romance, humor.
.
.
.
.
Sai mengerjapkan matanya. Hal pertama yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa ia tidur di ruang tamu Hinata? Terakhir kali ia masih mengerjakan tugas bersama Sasuke dan yang lainnya. Jemarinya mengucek sepasang onyx yang terasa berat, angin sepoy yang bertiup membuatnya kembali merasakan kantuk. Tunggu! Angin sepoy? Bukankah ruang tamu kediaman Hyuuga tertutup? Bukankah di kediaman Hyuuga tidak ada AC? Lalu?
Sai melirik menggunakan sudut mata. Mendapati makhluk ukuran jumbo sedang sibuk mengipasinya menggunakan koran.
"GYAAAAAAAA! Chouji! Sedang apa kau? Jangan dekat-dekat." Sai histeris. Bulu kuduknya refleks berdiri saat menyadari bahwa Chouji berada tak jauh darinya.
"Sai-chan sudah bangun?" Chouji melipat koran yang tadinya ia gunakan sebagai kipas, "haus? Mau minum? Atau mau cemilan? Aku bagi keripik kentangku ya." Chouji membuka tas besarnya.
"Tidak! Aku tidak mau tubuhku bengkak sepertimu! Yang kumau, MENJAUHLAH DARIKU!" Sai mengumpat penuh penekanan.
"Sai-chan... Jangan galak gitu ah, gak baik."
"Hiiieee menjijikkan! Kalian semua salan! Kenapa kalian diam saja saat melihat Chouji mendekatiku saat aku sedang tidur? Hiks hiks... Demi Jashin, aku tak mau ternoda olehnya," omelnya sembari menatap kesal kearah Sasuke dan Hinata. Air mata buaya nyaris tergelincir di pelupuk matanya.
"Sssttt..." Chouji menyentuh bibir mungil Sai dengan jari telunjuknya yang besar, "tentu saja aku tidak akan menodaimu sebelum kau resmi menjadi istriku."
WHAT? WHAT? WHAT? Istri? ISTRI katanya. Chouji sudah gila! Jelas-jelas Sai ini adalah seorang lelaki sejati, tapi bisa-bisanya si gendut itu berniat memper'istri'-nya? Chouji gila, itu yang dipikirkan pemuda pucat itu saat ini. Entah mengapa ia merasa tubuhnya tiba-tiba merasa meriang saat mendengar kalimat, 'tentu saja aku tidak akan menodaimu sebelum kau resmi menjadi istriku.' Tak ada yang lebih memuakkan dari Chouji dan seribu kata gombalnya. "Lebih baik aku mati bunuh diri dari pada dipinang manusia KEBO sepertimu!" ucap Sai datar, namun dalam hatinya ia histeris geli setengah mati.
"Sai-chan, gak boleh bicara seperti itu! Nanti kalau ada setan lewat bisa gawat."
"Sentannya Kau!" bentak Sai jutek.
"Eh, eh kok gitu sih? Loh kok marah? Jangan gitu Sayang, jangan gitu sayang."
"MENJIJIKKAN! Menjauhlah dariku!"
DUAK!
Telapak kaki Sai yang putih itu mampir di kepala Chouji, membuat pemuda obesitas itu nyari terguling dari posisi duduknya. Sai memang benar-benar tidak sopan.
"Haaaaah..." Sasuke dan Hinata hanya menhela nafas maklum, pemandangan seperti itu tak asing lagi bagi mereka. Sedangkan Gaara? Pemuda berparas tampan itu hanya berkedip-kedip tak mengerti.
"Minna-san, tolong singkirkan Chouji dari sini, kumohon," ucap Sai lirih dengan memasang puppyeyes.
"Eh? Err... Anu." Hinata bingung harus berkata apa, bukan berarti ia tak mau membantu Sai untuk menjauhkan Chouji darinya, hanya saja... Hinata juga sungkan jika harus mengusir Chouji. Sasuke bungkam. Di balik paras datarnya, sebenarnya Sasuke menikmati pemandangan Chouji yang terus mengemis cinta pada Sai. Jadi ia tak rela jika Chouji harus pergi begitu saja, padahal Sai baru saja terbangun dan pertunjukan baru saja dimulai.
"Ah, jika kau tak pergi lebih baik aku saja yang pergi. Minna-san, maaf aku pulang dulu. Bye bye." Setelah mengatakan itu, Sai segera melesat pergi, meninggalkan Chouji dengan tampang cengo, "Sai-chan, aku akan mengantarmu."
"Hiiieeee... Tidak."
Dan kini, di ruang 9x8 meter itu hanya tersisa Sasuke, Hinata dan Gaara. Tiga orang pendiam yang duduk bersama.
"Hah, sudah selesai? Gaara memang luar biasa," gumam Hinata kagum sambil mengamati hasil kerja pemuda berambut merah itu. Gaara hanya mengangguk kecil, "kalau ada tugas lagi, jangan ragu untuk memanggilku."
"Ehem-ehem..." Sasuke berdehem dengan maksud menyindir. Sasuke benar-benar tidak suka pada pemuda panda itu. Mengapa juga Hinata hanya memuji hasil kerja Gaara? Bukankah ia juga banyak berperan dalam menyesaikan tugas dari Pein-sensei? Gini-gini Sasuke juga mau dipuji.
"Kenapa, Sasuke?" tanya Hinata.
"Lain kali Hinata tidak butuh bantuanmu, Gaara! Karena aku yang akan membantunya," ujar Sasuke dingin.
"Aku sedang tidak bicara denganmu," jawab Gaara datar, demikian dengan paras tampannya yang juga tak memancarkan ekspresi apapun.
Atmosfer tegang mulai mendominasi. Tak pernah Sasuke merasa cemburu seperti ini sebelumnya, Gaara memang hebat. Pesona dan daya pikatnya jelas membuat Uchiha bungsu ini merasa was-was, meski Sasuke yakin, pemuda itu tak melebihi ketampanannya. Tapi tetap saja ia tak bisa tenang.
Sorot mata onyx menuruk tajam kearah sepasang iris sea green yang terbingkai lingkar mata berwarna hitam. Dua pasang mata saling tatap dengan tajam. Saling melempar deathglare, memberi isyarat bahwa masing-masing memiliki rasa tidak suka.
"Eh? Ada apa dengan kalian?" Hinata yang mulai merasa ada yang aneh di antara Sasuke dan Gaara, mulai jadi penengah dengan berusaha mencairkan suasana yang mulai beku.
"Hmm... Sebaiknya aku pulang dulu." Gaara berdiri dari duduknya.
"Hn. Itu bagus."
"Sasuke, apa-apaan kau ini?" ucap Hinata yang merasa sungkan pada Gaara.
"Tak apa, Hinata. Lagipula ini sudah sore, besok siang jadwal kita latihan kan? Kita bertemu di dojo, princess." Gaara melambay kecil pada Hinata, kemudian beranjak meninggalkan kediaman Hyuuga. Sasuke hanya menatapnya dengan muak, dan yang paling membuatnya muak adalah Hinata yang balas melambay dengan antusias. Cih! Mood Sasuke benar-benar buruk saat ini.
"Hinata."
"Ya?"
"Kau tau, mengapa si pemuda panda itu sangat baik padamu?" tanya Sasuke penuh selidik, lucu memang jika menanyakan hal konyol itu pada Hinata sendiri. Tapi, Sasuke benar-benar penasaran pada sikap Gaara.
"Emh..." Hinata menggaruk pipinya, bingung. "Tentu dia baik, dia kan temanku hehe..."
"Teman? Tak mungkin sebaik itu, perhatiannya padamu itu lebih dari seorang teman."
"Kenapa? Kau cemburu? Ya... Ya... Gaara memang menyukaiku sejak dulu. Bahkan, dulu kami hampir jadian, untung kau cepat bertindak, jika tidak mungkin aku sudah jadian dengan Gaara."
Kerutan sebal terbentuk samar di kening Sasuke. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Hinata bicara blak-blakan tentang Gaara yang hampir jadian dengannya? Ia benar-benar tak memikirkan perasaan Sasuke saat ini.
"Cih! Sombong."
"Maksudmu?" tanya Hinata dengan nada suara meninggi.
"Sok jadi bahan rebutan pria tampan, kau pasti merasa sangat beruntung kan?" sindir Sasuke pedas.
"Bisa-bisanya kau berfikir begitu? Dasar picik!" Hinata mulai geram. Ingin sekali ia menjambak rambut ayam yang menyepak kebelakang itu.
"Haha..." Sasuke tertawa hambar, "bisa-bisanya kau memanfaatkan jasa dan kebaikan Gaara meski kau sama sekali tak ada hubungan dengannya."
"Why not? Dia saja tidak Keberatan, mengapa jadi kau yang protes?"
"Cih, dasar racun dunia!" cela Sasuke yang benar-benar menusuk benak Hinata. Ya, ini pertama kali sasuke mengatainnya, dan itu sangat menyakitkan.
"Tukang main serong!" cela Hinata tak mau kalah.
"Ck! Aku pulang!" Sasuke mengemasi barangnya.
"Ya! Pulang saja sana!"
Hey... Mengapa Hinata bisa jutek seperti ini? Sungguh! Sasuke tak serius dengan ucapannya tadi, tapi semua terlanjur terucap, tak ada pilihan lain bagi Sasuke kecuali benar-benar angkat kaki dari kediaman Hyuuga. Tak elit kan jika ia menelan ludahnya kembali?
"SASUKE BODOH!"
Teriakan Hinata seakan menusuk hingga ke ulu hati Sasuke. Namun, janggan panggil ia Uchiha jika tak mampu mengendalikan emosi. Ya, apapun yang terjadi si stoic tetaplah stoic, ia tetap melangkah angkuh meski ia sadar bahwa Hinata sedang meradang. Tapi, Sasuke juga sedang ber-mood buruk saat ini. Dari pada harus adu mulut, lebih baik menghindar dulu, bukan? Benar kata orang, disebuah hubungan, masalah kecil saja bisa memicu pertikaian.
.
.
.
.
Sai duduk di bangku tepi sungai. Menatap pantulan senja yang nampak berkilau di permukaan air. Seberkas senyum mengembang tulus di bibirnya saat memandang anak-anak kecil yang asyik bermain bola di padang rumput tepi sungai. Teriakan keceriaan mewarnai setiap sore di pinggiran kota Tokyo.
"Kakak, tolong lemparkan bolanya." Seorang anak berteriak pada Sai, saat bola merah yang ia mainkan terlempar di dekat Sai.
"Ahahaha, baik." Sai berdiri dari duduknya, melangkah menuju bola merah itu, "ini dia." Sai membungkuk dan meraih bola merah itu, namun ia heran sejenak saat mata onyxnya menangkap sepasang kaki indah tepat di depan posisi bola itu.
"Sai..."
BLUK
Bola dalam genggamannya kembali terjatuh saat mendengar suara itu. Sai sedikit mengangkat wajahnya, hanya untuk menatap pemilik suara yang menyesakkan itu.
"Apa?" sahut Sai dingin.
"Kumohon, dengar aku! Sungguh, aku menyesal-"
"Yah, aku juga menyesal bertemu denganmu!" Sai beranjak dari tempatnya, sebelumnya ia menyempatkan diri untuk meraih bola merah dan melemparkannya kembali pada anak-anak kecil yang bermain di tepi sungai.
"Ku akui, dulu aku memang mempermaikanmu, tapi tanpa disadari aku jadi benar-benar menaruh hati padamu." Ino menggengam lengan Sai, menahannya agar tak menjauh darinya.
"Dibayar berapa lagi kau?" Sai menoleh menatap Ino.
Ino menggeleng cepat, "tidak Sai! Aku bersumpah, setelah insiden dulu, aku mengembalikan semua uang Asuma sensei, aku juga langsung putus hubungan dengannya, karena aku terlanjur menyukaimu."
Sai bungkam, detik berikutnya ia menepis jemari Ino yang menggenggam lengannya. Lantas ia kembali duduk di bangku kayu, menatap kosong tiap pemandangan menjelang malam. "Yah. Itu sudah berlalu, aku tidak peduli."
"Apa kau tak bisa memaafkanku."
Sai melirik kearah Ino, gadis itu perlahan duduk di samping Sai, meski nampak raut keraguan di parasnya. Pemuda tampan itu menghela nafas panjang, lantas ia mengalihkan pandangannya pada gadis blonde itu, "yah, aku memaafkanmu." Senyum palsu dengan mudah mengembang di bibirnya.
"Benarkah itu?" Secuil ragu terselip di benak Ino, gadis itu jelas saja masih tak percaya dengan pengungkapan Sai. Jika dipikir oleh logika, tak mungkin seseorang dengan mudah memaafkan seseorang yang pernah memberikan luka yang dalam di hatinya.
"Aku... " Sai tertunduk, "juga tidak tau."
"Sai, aku mencintaimu, aku masih mengharapkanmu."
"Lupakan."
Ino menoleh cepat, "apa maksudnya?"
"Tak akan ada lagi masa depan untuk hubungan kita."
"Sai..."
Sai terdiam, jelas saja status Ino yang merupakan cinta pertamanya begitu meninggalkan kesan mendalam di benaknya. Namun disisi lain, gadis itu pula yang menghancurkan hatinya hingga tak berbentuk. Bohong jika saat ini Sai berkata telah memaafkan gadis blonde itu, bukankah hati itu seperti cermin? Sekali dipecahkan, tak akan bisa utuh seperti semula meski direkatkan dengan lem termahal sekalipun.
"Beri aku satu kesempatan."
Tidak lagi! Sai bersumpah tidak akan bemberikan kesempatan lagi untuk Ino. Memangnya siapa orang bodoh yang menjatuhkan dirinya di lubang yang sama? Lebih baik memberikan kesempatan itu pada orang yang menyayanginya dengan tulus, bukan? Termasuk Chouji? Oh tidak, tidak! Lebih baik dilamar tante-tante janda jablay seperti Tsunade-sensei dari pada Chouji. Hiiee... Sai tak mampu membayangkan jika Chouji sampai nekat melamarnya. Apa kata dunia? Harkat martabatnya akan hancur sebagai lelaki tulen. Wajar jika saat ini Sai mengutuk ibunya yang melahirkannya sebagai lelaki yang TERLALU rupawan. Sampai-sampai, orang yang ber-gender sama dengannya saja turut menggilainya. Hah! Mungkin piriran Sai terlalu narsis.
"Sai? Kenapa?" Ino mengibaskan jemarinya di depan wajah Sai. Heran, sedari tadi pemuda itu terus termenung.
"Ah?"
"Kau sedang tidak enak badan ya?" Jemari Ino menyentuh lembuh kening Sai.
Sai menepis jemari Ino,"aku baik-baik saja. Ha-hachii. Err makin dingin saja, aku harus pulang." Sai beranjak meninggalkan Ino dengan terburu-buru. Entah mengapa ia tak bisa kasar pada gadis itu, Sai membencinya, tapi ia tak kuasa untuk mencurahkan emosinya. Yah, akan jauh lebih baik jika menghindari kontak dengannya. Sai berlari membelah jalanan kota Tokyo yang mulai diselimuti warna hitam malam, ia harus cepat sampai di tempat kost jika tak ingin membeku di jalanan.
BRAAKK!
Tubuhnya limbung saat ia tak sengaja menabrak seseorang, dan nyaris saja ia terjatuh jika tak ada tangan besar yang menahan pinggangnya.
Sai terdiam. Terpaku menatap sosok yang menahan tubuhnya.
1. Detik...
2. Detik...
3. Detik...
4. Detik...
5. Detik...
"KYAAAAAA CHOUJI! LEPASKAN TANGANMU! MENJIJIKKAN!"
Mendengar itu, yang bersangkutan hanya menhela nafas pasrah dan akhirnya benar-benar melepaskan tangan besarnya dari pinggang Sai
BRAKKK!
Oh! Pasti sakit rasanya saat terjatuh di trotoar. Sai sayang Sai malang, sepertinya hanya ada dua pilihan untuknya saat ini, pulang diantar Chouji atau jalan kali terpincang-pincang ke tempat kost yang masih berjarak 2 KM.
.
.
.
Sasuke menatap ragu ponsel di genggamannya, "telpon, tidak, telpon, tidak, telpon, tidak." Sebelumnya, tak pernah terbesit rasa ragu seperti ini. Kejadian tadi siang memang terlalu memalukan, ia terlihat sangat childish. Huh! Di mana Sasuke yang selalu cuek? Hinata, gadis itu memang selalu sukses membuat Sasuke terlihat seperti orang lain. Sasuke mengutak-atik ponsel di genggamannya, ia sudah bertekat, malam ini ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Hinata. Sasuke tak akan bisa tidur nyenyak jika masalahnya dengan Hinata belum benar-benar clear. Sasuke menempelkan ponselnya pada telinga, ia sedikit menarik nafas, mencoba menenangkan batinnya yang gelisah.
"Moshi-moshi..."
Tunggu! Sasuke heran mengapa yang mengangkat telfon darinya adalah laki-laki, dan Sasuke benar-benar hafal suara itu, Gaara, tidak salah lagi. Tapi, bagaimana bisa handphon Hinata ada di tangan Gaara?
"Di mana Hinata?" tanya Sasuke to the point.
"Dia masih di toilet. Maaf, telphonnya harus kumatikan, sebentar lagi filmnya dimulai. Tut tut tut."
"Kurang ajar! Ternyata mereka sedang nonton bersama?" Sasuke mencengkram erat ponsel di genggamannya, bersiap melemparkannya jauh. namun, setelah dipikir kembali berapa harga BB-nya itu, ia urungkan niatnya dan segera menyelipkan ponselnya ke saku celana.
.
.
.
.
"Wah, sudah mulai." Hinata duduk di samping Gaara. Gaara mengangguk kecil, "hm... Baru saja mulai. Ini ponselmu, tadi terjatuh."
"Wah pantas tadi ku cari-cari tidak ketemu, ternyata ada padamu."
"Iya, tadi Sasuke menelfon," ucap Gaara dengan raut wajah datar.
"Hah? Lalu? Apa yang kau-"
"Ya kubilang saja kita sedang nonton." Yah, sekali lagi tiada ekspresi di parasnya, seakan tak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Haaa? Mati aku."
~TBC~
.
.
.
Entah! Pas bikin adegannya Chouji ama Sai, aku GELI banget! Hiieee, tapi ada yang bilang SUKA adegan ChoujiSai ya? haha,,, aku juga suka tapi GELI *garuk2*
Yo minna-san, kali ini yang review dicium mas Gaara lho... Buat yang cowok dicium mbak Hinata hahaha. KRITIK dan SARAN juga saya terima dengan senang hati...
BTW buat yang pengen kenal saya, add FB Cui'Pz Cherry ya, atau yang pengen ngobrol-ngobrol bareng author+readers lain, silahkan bergabung di grup FB 'KOMUNE'
