Oyasumi!
Maaf telat update, soalnya lagi banyak kerjaan, tee-hee :p
Oke deh gak usah banyak bacot, langsung aja ke bagian ceritanya!
Ikuze!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : M
Title : Anee-san! Onegai!
Genre : Comedy, Family, Romance
Chapter 4
Pairing : SasufemNaru, ItafemNaru
Warn! : EYD Abal, Alur cepaaaaaaat, Typo banyak banget, OOC, OC, Gajeeee, and many more...
Don't Like, Don't Read
NO FLAME!
Enjoy it!
Note: Just for 18th!
Dilain sisi, Itachi yang sedang menyetir mobilnya tanpa disengaja melihat toko bunga kecil di pinggir jalan. Merasa tertarik, dirinya pun berhenti sejenak untuk mampir ke toko bunga tersebut.
Sebelum Itachi mampir ke toko bunga tersebut, Itachi memarkirkan mobil alphard nya ke pinggiran jalan yang baginya tidak terlalu mengganggu pengendara lain, soalnya selama di perjalanan, dia sama sekali tak menemukan tempat parkiran yang kosong.
Setelahnya dia tiba di depan pintu toko, Itachi melihat-lihat sejenak beberapa bunga-bunga indah yang terpampang cantik di sisi-sisi jendela toko dan gantungan jendela sebelah kanannya, kemudian tanpa ia sadari dirinya pun tersenyum ketika melihat sehelai bunga matahari yang dijadikan logo pintu untuk toko bunga tersebut. Karena melihat bunga tersebut, Itachi jadi mengingat wajah Naruto, soalnya bentuk bunga matahari tersebut mirip dengan Naruto, yaitu indah, bercahaya, lembut, dan mempesona. Karena memikirkan hal itu, Itachi menjadi keukeuh untuk membelikan bunga matahari itu untuk Naruto. Karena menurutnya, memberikan bunga matahari adalah hadiah yang bagus.
Bersama dengan Itachi yang membuka pintu, suara dering pintu masuk pun berbunyi, dan tidak lupa juga suara sambutan si pemilik toko yang waktu itu merapihkan tata letak bunga-bunganya didekat Itachi.
"Selamat datang? Apa yang bisa kubantu?" sapa seorang wanita pemilik toko bunga tersebut kepada Itachi.
"Apakah bunga mataharinya masih ada?" sahut Itachi sopan.
"Ara, pasti untuk kekasih tuan ya?" ujar si pemilik toko menggoda.
"Hehe, bukan, untuk istri saya, hari ini istri saya berulang tahun," sahut Itachi sambil tersenyum lembut.
"Wah, romantis sekali! Jarang-jarang lho ada suami yang seromantis tuan."
"Hehe, aku tidak seromantis itu, malahan aku selalu merepotkannya dengan segala hal yang bodoh."
"Ara, tuan, jangan rendah hati seperti itu. Wanita yang menjadi istri tuan pasti sangat bahagia bisa mendapatkan tuan, mau berapa buket tuan?"
"Hehe, terima kasih. Aku juga beruntung bisa memiliki istri seperti...tidak, tidak cuma beruntung saja, aku juga bahagia bisa memiliki istri seperti dia. Satu buket saja, tapi saya akan mengambilnya sepulang kerja, soalnya kalau kubawa sekarang takut layu, boleh 'kan?"
"Tentu saja boleh, saya akan siapkan tuan."
"Terima kasih. Kalau begitu berapa harga bunganya?"
"Untuk pria yang baik seperti tuan, saya beri diskon 10%, jadi harganya 2500 yen."
"Terima kasih banyak, kalau begitu saya pamit dulu. Nanti sekitar pukul 7 malam akan saya ambil."
"Baik, terima kasih banyak," balas si pemilik toko ketika Itachi melesat keluar dari toko bunga tersebut. Didalam hati si pemilik toko berkata-kata, mengapa pria itu terlalu terburu-buru untuk membeli bunga di tokonya, padahal dia tahu kalau sepulang kerja dia bisa membelinya, lagipula bunga matahari saat ini sedang jarang dibeli orang. Jadi tak masalah kalau harus beli malam-malam. Si pemilik jadi tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan begitu polosnya pria tersebut. Pria itu pasti sangat mencintai istrinya, pikir si pemilik toko dalam hati.
-x-x-x-x-
"TIDAAAAKKKK!"
Naruto berteriak sekeras mungkin ketika Sasuke mulai berani memasukkan jemarinya kedalam cd-nya, sambil terkadang memberontak dan mendorong Sasuke untuk menjauhinya. Sedangkan Sasuke yang melakukan hal tersebut malah menikmati aktifitasnya, bahkan ketika mendengar jeritan Naruto, Sasuke semakin liar memainkan bagian bawah Naruto dengan jemari-jemari panjangnya.
Naruto sudah tidak tahan lagi, rasa nikmat dan sakit yang bercampur-aduk itu membuat nafas Naruto tidak teratur dan membara, sehingga membuat wajahnya memerah semerah tomat, apalagi ketika merasakan bahwa klitoris nya di tekan-tekan oleh Sasuke.
Dia kenikmatan? Iya, hal itu tidak bisa dipungkiri lagi kalau Naruto begitu kenikmatan dengan perbuatan Sasuke, karena selama ini dirinya tak pernah melakukan hal semesum ini pada Itachi, soalnya Itachi selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dirinya tidak punya waktu untuk melakukan ini, tetapi bagi Naruto hal yang terjadi sekarang adalah salah. Sasuke adalah adik iparnya, masa iya dia harus melakukan hal 'itu' dengan adik iparnya? Bukankah ini namanya pengkhianatan? Mengingat hal itu, Naruto jadi mengeluarkan air mata dalam desahannya karena merasa bersalah kepada Itachi karena tidak bisa melindungi diri. Kalau terus begini, maka keperawanannya akan direnggut oleh adik iparnya, bukan oleh Itachi yang notabene adalah suami sah nya.
"Sasu-ke~, ku-mohonh...henti...kanh...ahahahn~" seru Naruto disela-sela desahannya.
"Apa yang kau katakan Naruto-nee, hentikan? Bukankah kau menikmatinya?" balas Sasuke semakin ganas memainkan jemarinya dibagian bawah Naruto.
"Tidak! Aku tidak menikmati...nyaaahhhn...ahnnn...kumohon hentikanh...aku kakakmu!" seru Naruto lagi mencoba melawan.
"Naruto-nee, apa kau tidak menyayangiku?" balas Sasuke sambil memperdekat jarak wajahnya dengan wajah Naruto. Dan karena hal itu, Naruto pun terkejut hingga kemudian mengalihkan perhatiannya kearah lain.
"Aku menyayangimu, tapi sebagai adik, tidak lebih dari itu," balas Naruto di goyangan kecil badannya yang dilakukan oleh jemari Sasuke.
"Begitu ya, jadi cuma sekedar adik...tapi Naruto-nee, apa kau tidak ingat dengan apa yang kau katakan ketika aku masih SMP?"
"Eh?!"
"Waktu itu kau pernah bilang..."
_Flashback_
Kembali ke zaman dimana Sasuke masih SMP kelas dua (13 tahun), sore itu Sasuke berada di ayunan taman bermain bersama dengan Naruto di sebelahnya. Naruto yang waktu itu memiliki waktu senggang memilih untuk menemani Sasuke yang katanya tidak memiliki teman karena terlalu sok keren. Padahal kalau mau tahu, Sasuke memang sudah keren, jadi mana mungkin kata 'Sok keren' bisa menjadi ejekkan baginya. Jadi ketika mengingat-ingat keluhan Sasuke yang bilang 'sok keren' tersebut, Naruto jadi tertawa-tawa sendiri.
"Sudahlah Sasuke, jangan cemberut begitu," mulai Naruto sambil memaju mundurkan ayunannya.
"Aku tidak cemberut, wajahku memang seperti ini, dari dulu aku terkenal dengan si muka rata, jadi jangan bilang aku sedang cemberut," balas Sasuke tidak suka seraya mengalihkan perhatiannya ke arah lain untuk menyembunyikan rasa malunya, karena apa yang dikatakan Naruto tadi memang benar adanya. Namun sayangnya sebelum Sasuke mengalihkan wajahnya, Naruto sudah menyadarinya lebih dulu sehingga dirinya tersenyum melihat wajah memerah Sasuke. Soalnya jarang-jarang dia melihat sikap menggemaskan Sasuke, karena setiap harinya, Sasuke selalu saja bersikap cuek dan dingin dirumah.
"Oh, benar juga. Kau 'kan memang terkenal dengan wajah ratamu ya, maaf, hehe," seru Naruto berpura-pura sambil tersenyum manis pada Sasuke, dan Sasuke yang saat itu tanpa sengaja melihatnya pun langsung menunjukkan wajah memerah yang dipenuhi rasa terpesonanya pada Naruto.
"Are? Kenapa wajahmu memerah begitu? Apa kau demam?" tanya Naruto bodoh, lalu dirinya turun dari ayunannya dan berjalan menghampiri Sasuke dan kemudian menarik wajah Sasuke kearahnya dan menempelkan dahinya dengan dahi Sasuke. Mengetahui bahwa Naruto melakukan hal itu, seluruh tubuh Sasuke pun mulai gemetaran dan kemudian dengan refleks dia mulai mendorong Naruto agar menjauh darinya, dan alhasil karena perlakuannya, bokong Naruto pun membentur tanah dan menjerit kesakitan.
"Ittei...Mou~ apa yang kau lakukan?" lirih Naruto seraya memandangi Sasuke dengan tatapan tidak suka.
"Itu salahmu sendiri, kenapa coba menempelkan dahimu padaku," balas Sasuke datar seraya melipat kedua tangannya dengan gaya coolnya.
"Eh? tapi 'kan aku gak berniat buruk, aku 'kan cuma mengecek temperature badanmu, mou~" balas Naruto tak mau kalah seraya beranjak bangun dari tanah.
"Tapi tidak dengan cara itu, kalau kau memakai cara itu, kita terlihat seperti orang yang..."
"Yang?"
"Yang..."
"Hmm?"
"Hah, lupakanlah!"
"Eh? kenapa? Aku penasaran nih?"
"Tidak mau, itu sangat memalukan."
"Ah mou~, kau jahat sekali, seenaknya saja mengatakan sesuatu yang membuatku penasaran, kalau kau laki-laki seharusnya katakan sepenuhnya, jangan buat gadis didepanmu ini penasaran!" balas Naruto dengan ekspresi wajah cemberut. Sedangkan Sasuke malah tersentak ketika mendengar balasan Naruto tersebut, soalnya perkataan Naruto tersebut membuatnya merasa seperti berada di suasana dimana dia ingin menjawab pernyataan cintanya. Sehingga jantungnya pun mulai berdegup-degup kencang, dan rasanya seluruh darahnya mendidih, bahkan sampai ke bagian nadinya. Sasuke sudah tidak tahan lagi, sampai berapa lama dia akan menyembunyikan perasaan ini. Dalam waktu dekat, pasti hasilnya akan sama, yaitu dirinya harus menyatakan cintanya, walaupun dia tahu kalau umurnya itu berbeda jauh dengan umur Naruto. Tetapi yang namanya cinta, bukankah tidak mengenal umur? Pikir Sasuke.
"Aneki, aku akan mengatakannya kalau kau mau berjanji sesuatu padaku," gumam Sasuke mulai berbicara.
"Eh? apa itu? katakan?" balas Naruto ketikanya dirinya menghentikan sifat kekanakannya.
"Berjanjilah padaku bahwa suatu hari nanti kita akan menikah," balas Sasuke to the point, namun dengan tidak menatap Naruto, atau bisa dibilang mengalihkan perhatiannya kearah lain.
"Oke! Jadi beritahu apa yang kau katakan tadi," sahut Naruto tanpa fikir panjang lagi, sedangkan Sasuke malah terkejut dibuatnya.
"Serius?"
" iya, cuma menikah 'kan janjinya?"
"Ta-tapi aku serius, bolehkah?"
"Tentu-ttebayo! Aku juga serius, jadi katakan," balas Naruto sambil tersenyum pada Sasuke yang memandanginya tidak percaya. Tetapi ekspresi itu tidak bertahan lama, ekspresi tersebut berubah menjadi senyuman penuh kebanggaan. Ia tidak menyangka bahwa Naruto punya perasaan yang sama seperti yang ia rasakan.
"Yang mau kukatakan adalah...kalau kita melakukan cara itu, maka kita terlihat seperti orang yang sedang berpacaran," gumam Sasuke tidak lama kemudian.
"Sou ka, jadi begitu toh, kalau aku melakukannya dengan cara itu, maka kita seperti orang yang berpacaran ya?"
"Aku menyukaimu..." gumam Sasuke malu-malu dengan kepala menunduk.
"Eh?" desah Naruto ketika merasakan bahwa Sasuke seperti mengatakan sesuatu.
"Aku menyukaimu, Aneki," ulang Sasuke, namun kali ini dengan nada yang antusias.
"Aku juga menyukaimu Sasuke-kun," balas Naruto sambil tersenyum hangat, dan kemudian tanpa disadari olehnya, Sasuke berhambur memeluk Naruto secara mendadak sehingga membuat Naruto kehilangan keseimbangan dan kemudian terjatuh ke tanah lagi, namun dengan jerit tawa gelinya atas perlakuan kekanakkan Sasuke itu.
_Flashback End_
Naruto membelalakkan kedua matanya, tetapi bukan ingatan tersebut yang membuatnya terkejut, melainkan karena kesalah pahaman Sasuke. Yah, Sasuke telah salah paham tentang pembicaraannya waktu itu dengannya. Waktu itu, dia tidak bermaksud untuk menikah secara serius, dia berfikir kalau Sasuke berkata demikian karena dirinya berniat untuk bermain nikah-nikahan dengannya, tetapi setiap kali dirinya lagi senggang, Sasuke selalu sibuk, dan ketika Sasuke lagi senggang, Naruto yang malah sibuk, dan itu terus terulang sampai pada akhirnya Naruto mencintai Itachi.
Dan masalah dia menyukai Sasuke, jawabannya tetap sama dengan apa yang ia sebutkan tadi, yaitu 'Menyukai Sasuke sebagai adik' tidak lebih dari itu.
"Kau bilang kau akan menikahiku, tetapi nyatanya kau malah menikahi kakakku, apa kau tahu, hatiku sakit saat tahu kau menikahinya."
"Sasuke kau salah..."
"Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk melupakanmu, tapi hasilnya nihil, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, aku benar-benar mencintaimu Naruto-nee! Aku sangat mencintaimu!"
"Sasuke deng..."
"Karena hal itu, aku tidak mau menyerah, walaupun kau sudah di claim menjadi milik kakakku, aku tetap akan memilikimu, tidak perduli bagaimana caranya, karena itulah aku memilih untuk tinggal dirumah ini, agar aku selalu bisa bersama denganmu."
"Sasuke..."
"Lalu, ketika didetik-detik diriku yang mencoba mengambilmu dari Itachi, si Shinigami itu datang dan meminta sesuatu yang bodoh. Tetapi asal kau tahu Naruto-nee, aku sebenarnya senang ketika tahu kalau dia meminta hal itu, karena bagiku permintaannya akan membantuku untuk membuatmu mencintaiku..."
"SASUKE!"
Bersama dengan teriakkan keras itu, sebuah telapak tangan kanan Naruto pun melayang kearah pipi Sasuke sehingga membuat rasa nyeri yang mendalam kepada pipi kiri Sasuke. Karena merasa terkejut dengan perlakuan Naruto tersebut, Sasuke pun membelalakkan kedua matanya lalu menghusap pipinya yang nyeri tersebut dengan jemari yang ia pakai untuk memainkan bagian bawah Naruto tadi.
"Yare-yare~ padahal aku baru saja datang, tetapi malah adegan drama yang kulihat. Hah! gak menarik ah, balik aja lagi ah," lirih Ino yang mengintip di jendela kamar Naruto hingga kemudian terbang melayang meninggalkan rumah tersebut dengan ekspresi penuh kecewa.
Di lain sisi, Naruto terengah-engah kelelahan dengan apa yang terjadi sekarang serta teriakannya yang keras tadi. Sambil memberikan ekspresi kesal kepada Sasuke, dirinya menarik kerah baju Sasuke tersebut kearahnya sehingga membuat wajah mereka berdua bertemu satu sama lain.
"Kau yang terburuk Sasuke!, apa begitu cara laki-laki untuk mendapatkan perempuan? Kalau kau melakukan hal selicik itu, mana mungkin perempuan yang kau sukai akan menyukaimu. Sadarlah Sasuke, kelakuanmu sudah seperti hewan!" sembur Naruto kasar dengan nada sekeras mungkin sehingga membuat telinga Sasuke yang mendengarnya jadi berdengung keras.
Sasuke terdiam meresapi perkataan Naruto tersebut. Lalu otaknya pun merespon bahwa perkataan Naruto ada benarnya. Kalau dia melakukan hal ini, berarti dirinya sama saja seperti hewan, dan kelakuan yang kasar begini juga bukanlah ciri khasnya. Sebenarnya apa yang ia lakukan sampai harus membuat Naruto sesakit ini? kenapa dirinya harus memaksa Naruto melakukan ini kalau hasilnya hanya akan membuat Naruto membencinya? Yang tentunya berakhir dengan dirinya yang tidak dapat sebutir cinta pun kepada Naruto. Memikirkan hal itu, air mata pun mengalir keluar dari sudut matanya karena membayangkan bagaimana jadinya Naruto kalau kejadian ini diteruskan. Membayangkan Naruto menangis saja dirinya sudah tidak kuat, apalagi kalau membuat Naruto kecewa padanya? Mungkin itu bisa menjadi senjata paling mujarab yang akan membuatnya malas hidup.
"Maaf, maafkan aku Aneki...maafkan aku, aku benar-benar bodoh," lirih Sasuke disela-sela tangisnya seraya memeluk Naruto yang berada dibawahnya. Dan Naruto yang berada dibawahnya tentu saja membalas memeluk Sasuke, dan bukan hanya sekedar memeluk, dia juga mengelus-elus rambut pantat ayam Sasuke bermaksud untuk menenangkan Sasuke yang suara tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Aku juga minta maaf Sasuke, karena telah membuatmu salah paham. Sebenarnya waktu itu aku tidak berfikir untuk benar-benar menikahimu. Kukira kau cuma mau bermain nikah-nikahan denganku, tetapi hasilnya malah jadi begini. Maafkan kebodohanku, ya?" balas Naruto sambil mengelus-elus rambut Sasuke penuh kasih sayang.
"Jadi...Naruto-nee tidak mencintaiku?" balas Sasuke seraya melepaskan pelukannya, namun masih dengan menindih tubuh Naruto.
"Maaf, aku menyukaimu, tetapi cuma sekedar rasa suka seorang kakak kepada adik..."
"Kenapa?"
"Aku sudah menjadi milik Itachi, jadi aku tidak mungkin mengkhianati-nya. Itachi adalah orang yang baik, dan dia juga cinta pertamaku. Aku tidak mungkin kuat untuk pergi darinya. Jadi kumohon mengertilah, ya?"
"Begitu ya, jadi beginikah akhirnya?" gumam Sasuke seraya memasang ekspresi kecewa.
"Eh?" desah Naruto ketika menyadari ekspresi Sasuke tersebut.
"Terima kasih Naruto-nee, walaupun aku tidak bisa memilikimu, aku sudah bahagia bisa bersama denganmu," gumam Sasuke lagi seraya beranjak bangun dari badan Naruto yang ia tindih, sedangkan Naruto malah merasa kalau pembicaraan ini jadi agak tidak mengenakan. Lalu beberapa detik kemudian Naruto pun mulai menyadari apa maksud dari perkataan Sasuke, atau lebih tepatnya ketika melihat ekspresi tanpa cahaya hidup yang diberikan Sasuke yang memunggunginya.
"Kau tidak akan mati! Kau akan hidup! Tenanglah Sasuke," seru Naruto seraya beranjak bangun dari kasurnya.
"Mana mungkin aku bisa hidup, aku tidak bisa melakukan 'itu'."
"Apa yang kau katakan? Kau bisa melakukannya."
"Dengan siapa?"
"Dengan teman nakalku."
"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Aku tidak mungkin melakukannya dengan orang yang tidak kukenal, pasti rasanya akan berbeda dengan apa yang kulakukan denganmu, Naruto-nee."
"Eh? benarkah? Tetapi bukankah kau tinggal menghamilinya saja?"
"Tetap saja, kalau tidak ada cinta, aku tidak mungkin bisa menghamilinya."
"Apa sih maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti?" tanya Naruto bodoh seraya berjalan mendekati Sasuke. Sedangkan Sasuke yang memunggunginya malah senyum-senyum sendiri.
"Kalau ingin menghamili seseorang, kita perlu cinta. Karena cintalah yang membuat sperma kita bekerja dengan baik. Karena sperma yang bekerja dengan baik, maka kesuburan pun akan kita dapatkan, sehingga hasilnya gadis yang kita tiduri akan hamil dengan cepat," jelas Sasuke layaknya professor ketika dirinya memutarkan tubuhnya kebelakang.
"Benarkah begitu? Aku tidak pernah tahu tentang itu?" sahut Naruto dengan pose sedang berfikir.
"Tentu saja Naruto-nee tidak pernah tahu, soalnya itu adalah rahasia terdalam untuk seorang pria."
"Oh begitu toh, lalu apa yang harus kita lakukan?" balas Naruto dengan polosnya. Sedangkan Sasuke malah semakin memberikan senyuman menyeramkannya karena merasa bahwa Naruto telah masuk ke jebakannya.
"Cuma ada 1 cara, yaitu aku harus melakukan seks denganmu Naruto-nee."
"Hah! kau mengatakannya lagi? aku tidak mau...ah! jangan bilang kau memanfaatkan suasana?" balas Naruto dengan tatapan curiga.
'Shimatta!' gumam Sasuke dalam hati karena merasa sudah ketahuan.
"Kenapa kau terdiam? Jangan bilang perkiraan ku benar?"
"Ano...Naruto-nee..." gumam Sasuke salting.
"Hm, Sasuke. Ternyata sifat bejatmu sudah tidak ketulungan, keluar dari kamarku dan fikirkan apa yang kau katakan!" bentak Naruto geram seraya mendorong punggung Sasuke kearah pintu.
"Naruto-nee, apa kau mau aku mati?" gumam Sasuke dengan nada seolah-olah sedang memohon di daun pintu kamar Naruto.
"Kau tidak akan mati! Aku akan mencarikanmu seks partner, jadi kau tidak perlu takut, oke!" balas Naruto dingin seraya bersiap-siap menutup pintu kamarnya.
"Tapi...Naruto-nee..."
"Daripada kau memikirkan mati terus, lebih baik kau fikirkan hari apa ini!" potong Naruto geram sampai pada akhirnya menutup pintu dengan kerasnya hingga tak lama kemudian terdengar suara ceklekkan pintu terkunci dari dalam.
Sasuke tak mengira kakak iparnya bisa tahu rencana kotornya tersebut, sekarang dia mau apa? keinginannya yang mau melakukan seks dengan kakaknya malah jadi khayalan semata. Memang benar sih tadi dia sudah merasakan begitu nikmatnya payudara dan bagian bawahnya, namun hal itu masihlah belum cukup. Soalnya masalahnya si suke junior belum merasakan apa-apa, sehingga membuat ketegangan si suke junior jadi terbuang sia-sia.
"Mission Failed...yah?"
TBC
A/N: Haha, padahal udah lama gak update, eh lemonnya malah gak ada, haha#plak!
Gomen-gomen, ini 'kan baru awal-awal, jadi kelihatan gimanaaaaa gitu kalo langsung ke inti lemon, jadi untuk yang menunggu lemonnya mohon bersabar ya, lagi diproses hihi :p#plak!
Tunggu chapter depan ya^^
Bye-bye!
