Pintu besar itu diketuk berkali-kali namun tak ada yang menanggapi. Taemin berdecak, memilih langsung masuk ke dalam ruangan. Toh Jongin tidak akan pernah marah. Tentu saja, karena ia spesial. Pikirnya.
"Jongin-ah"
Pria itu tertidur dikursi kebesarannya dengan kepala tergeletak pasrah pada meja. Pantas Jongin tak menjawab, jika sudah tidur begitu ia seperti orang mati. Mungkin jika diluar ada bencana besar Jongin tidak akan menyadari.
"Aigoo" sorot mata Taemin berubah sendu, memperhatikan Jongin yang terlelap. Bahkan Taemin dapat mendengar dengkuran darinya. Gurat kelelahan terlihat jelas pada wajah Jongin. Taemin meletakkan kotak bekalnya diatas meja. Retinanya masih terpaku pada mantan kekasihnya itu. Perlahan ia menegakkan tubuh Jongin agar menyandar pada kursi. Jika dia terus membungkuk dengan kepala dimeja. Punggung Jongin akan sakit.
"Kau pasti sangat lelah" bisik Taemin mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin. Ia mengulurkan telunjuknya, mengelus alis jongin yang mengkerut dengan lembut. "Istrimu tidak dapat mengurusmu dengan baik" Taemin berkata sinis beranjak menaiki kursi, beringsut duduk dipangkuan Jongin. Sesekali melirik Jongin takut lelaki itu akan bangun tetapi, dia tak terusik sama sekali. Taemin tersenyum senang merasa bebas berbuat apapun.
"Jika kau bersamaku, kau tidak akan seperti ini" rayunya mengelus pipi Jongin seduktif. "Kau pasti menyesal menikahinya" Taemin melirik bingkai foto dimana Jongin dan Kyungsoo berada kemudian menepis foto itu hingga terjatuh kelantai.
"Aku akan membantumu mengakhiri semuanya. Kau akan kembali padaku dan kita akan hidup bahagia" Taemin mengecup bibir Jongin yang sedikit terbuka. Merapatkan tubuh mereka lalu mengambil ponsel Jongin diatas meja. Menekan lambang kamera lalu berpose semesra mungkin. Setelah memastikan hasil fotonya bagus. Taemin segera mengirimkan pada Kyungsoo dengan senyuman mengembang. Ia mengetik capsion.
Kami sedang bersenang-senang sayang.
"Its show time."
.
.
.
Fanfiction ini dan segala isinya bukanlah miliku
Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun.
Warning : Anggap saja dalam ff ini di Korea hubungan sesama jenis sudah menjadi hal lumrah/? Typo(s), YAOI, Boys Love.
Kim Jongin 24 tahun
Do Kyungsoo 22 tahun
.
.
Shinkyu
.
.
Just Married
.
.
Chapter 4: Trid person bagian II
Suasana hening lagi-lagi menyambut Jongin saat tiba dirumah.
"Baby? Aku pulang" Jongin meletakkan sepatunya di rak kemudian mencari Kyungsoo. Ia hanya ingin mendapatkan pelukan selamat datang. Pekerjaan dikantornya benar-benar menumpuk. Belum lagi pegawai yang tidak becus. Menambah bebannya saja. Semoga mood Kyungsoo sudah bagus sekarang. Karena hanya Kyungsoo lah obatnya ketika ia sedang lelah.
"Baby?" panggilnya sambil menyalakan lampu kamar. Terkejut luar biasa menemukan kamar mereka berantakan dengan pecahan kaca berserakan dilantai. Jongin berjongkok untuk mengambil bingkai foto pernikahan mereka yang hampir hancur. Kekhawatiran menghantam dadanya, menyadari kemungkinan adanya pencuri yang mengakibatkan ini semua.
Ia segera bangkit untuk kembali mencari Kyungsoo. Kekhawatiran nampak jelas pada air mukanya. Langkah kakinya terhenti di kamar mandi mereka. Kyungsoo terduduk memeluk lututnya. Wajah lelaki itu berurai air mata.
"Soo!"
Jongin terkejut bukan main, hampir berlari menghampiri, sebelum Kyungsoo melemparkan kotak sabun padanya.
"Jangan mendekat!" pekik Kyungsoo marah. Perlahan berdiri dengan lutut yang gemetar. Seharian menangis tanpa makan apapun cukup menguras tenaga, maagnya yang kambuh membuatnya mual dan ditambah ingatannya yang terus menampilkan foto kemesraan Jongin dengan Taemin dikantor.
Kyungsoo seakan mati rasa. Tak tahu lagi harus bagaimana. Semuanya begitu menyakitkan. Dunianya hancur dalam sekejap. Dulu Jongin selalu mengatakan bahwa dia adalah hidupnya. Semua itu bohong. Kyungsoo bukan hidupnya. Jongin pembohong. Dia memiliki dunia yang lain.
"Kamu kedinginan.." lengan Jongin terulur untuk menyentuhnya tetapi Kyungsoo segera menjauhkan tubuh. Bagai Jongin adalah kotoran menjijikan. Perbuatannya itu cukup membuat Jongin tertohok.
"Kamu kenapa? Katakan padaku? Siapa yang menyakitimu?" beruntun Jongin bertanya. Kebingungan tampak jelas pada mimik wajah lelahnya.
Tubuhnya letih ditambah mendapati keadaan Kyungsoo yang hancur seperti ini. Ia tidak dapat berfikir jernih.
"Kau." telunjuk Kyungsoo mengarah padanya. Seakan pisau yang dapat menusuk dadanya.
Kyungsoo menabrak bahunya kasar setelah menjawab demikian. Meninggalkan Jongin dengan mata memerah menelan rasa ingin tahunya sendirian.
Di dalam kamar mereka yang sedikit remang. Air mata Kyungsoo bagai sudah diperas habis. Tak ada yang tersisa. Kini ia hanya terdiam, terduduk diatas kasur. Merenungi betapa mengenaskan dirinya.
"Baby" Jongin menghampiri ragu. Mendudukan diri di sampingnya. "Apa aku berbuat salah?" tanya Jongin lembut. Memberanikan diri membingkai wajah Kyungsoo di telapak tangannya.
Kyungsoo menutup mata menghalau air mata. "Tolong ambilkan ponselku" bisik Kyungsoo dengan bibir bergetar.
Walau tak paham, Jongin tetap meraih ponsel hitam milik Kyungsoo dimeja nakas kemudian menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Memperhatikan dengan sabar Kyungsoo yang mengotak-atik ponsel tersebut.
"Jelaskan padaku. Ini apa" layar ponsel itu diarahkan tepat dihadapan wajah Jongin. Disana menampilkan foto dimana dia tengah memeluk Taemin.
"..apa..." tenggorokannya tercekat. Kapan foto itu diambil? Jongin tidak merasa berfoto dengan pose seperti itu dengan Taemin. Dia pasti dijebak. "Aku tidak tahu" katanya resah. "Sumpah" lanjutnya ketika Kyungsoo menatapnya dengan mata yang disipitkan.
"Apa lelaki difoto itu adalah kamu?" Mata Kyungsoo memerah menghantam jantung Jongin. Lelaki yang paling ia cintai, yang paling ia jaga kini terluka oleh dirinya sendiri. Jongin tertohok akan pemikirannya. Merasa menjadi pria paling bajingan di dunia ini.
Jongin terdiam tak dapat menjawab. Mau berbohong pun tidak mungkin karena di foto itu memanglah jelas-jelas dirinya.
Diam berarti iya.
Kyungsoo menyadarinya. Ia menutup mulut menghalau jeritan amarah. "Bagimana.. bagaimana bisa" isaknya kecewa. Tersedak oleh salivanya sendiri. Caci maki yang ingin Kyungsoo lontarkan seperti tertanam kembali dalam kerongkongannya. Jongin segera meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Membiarkan Kyungsoo menangis disana. "Kenapa kamu begitu tega?" rintih Kyungsoo tak kuasa menahan nyeri pada sekujur tubuhnya. Fakta yang ada tidak hanya menyakiti hatinya, bagai seluruh sarafnya perih tak terkira. Dalam pelukan hangat suaminya itu ia kembali menangis untuk kesekian kali.
"Maafkan aku" keterkejutan masih menguasai Jongin. Rangkaian kata-kata penjelasan bagai tertelan kembali di tenggorokannya. "Itu bukan seperti yang kamu fikirkan" sanggahnya.
Entah kekuatan dari mana Kyungsoo mendorong Jongin hingga lelaki itu tersentak jatuh kekasur. "Cukup" Kyungsoo berdiri tak dapat menahan lagi.
"Kyungsoo, tidak. Tidak!" pekik Jongin menggelengkan kepalanya ketika melihat Kyungsoo beranjak mengambil koper. Memasukan bajunya kedalam sana.
"Jangan pergi aku mohon. Dengarkan penjelasanku dulu" pinta Jongin merangkak menghampiri Kyungsoo didekat lemari mereka. Mencoba meraih Kyungsoo kedalam pelukannya namun Kyungsoo mendorongnya lagi. "Soo, baby." Jongin tak menyerah akan penolakan istrinya, ia mencoba menarik tangan Kyungsoo agar menghentikan kegiatan mengepak baju dan mengubah niat untuk pergi dari sisinya.
"Jika kamu pergi aku akan mati" ancam Jongin putus asa. Mencengkram pergelangan tangan istrinya.
"Kalau begitu, bukankah kita impas?" Kyungsoo menoleh menatap Jongin terluka. Menyadari rasa sakit dari pancaran mata Kyungsoo, pegangan Jongin pada lengannya perlahan mengendur. "Kamu sudah membunuhku lebih dulu."
Koper besar berwarna hitam itu ditarik Kyungsoo. Mengabaikan teriakan Jongin memintanya untuk tinggal. Mengabaikan foto pernikahan mereka yang terpasang di ruang tamu. Kyungsoo berjalan pasti meninggalkan cintanya. Rasa sakit dan kekecewaan tak mampu membuatnya berkata-kata lagi. Ia takkan bisa tinggal dan membiarkan sakit hati menggrogoti dirinya sendiri.
"Apakah aku tak berarti untukmu, sehingga semudah itu kau meninggalkanku?"
Jongin mendekatinya. Wajah pria itu kusut dan kalut. Kyungsoo menunduk tak mau menatap suaminya itu. Memilih mencengkeram ponselnya. Ia telah memesan taksi. Sebentar lagi taksi itu akan menjemputnya.
"Baby" bisikan itu mengalun, menggores hati Kyungsoo. Lagi dan lagi.
"Kamu sangat berarti." Kyungsoo melirik Jongin yang terpaku disampingnya. "Kamu adalah segalanya. Tapi apakah kamu menganggapku sama?"
Jongin tercekat.
"Kamu mau kemana?" Jongin memandang Kyungsoo khawatir. "Soo jangan pergi. Kamu adalah napasku. Tanpa mu bagaimana aku dapat hidup?"
Kyungsoo mengigit bibirnya menahan isakan. "Berhentilah berkata omong kosong" katanya kemudian mengela napas berat. "Buktinya kamu bahagia bersama dia dibelakangku."
"Kebahagiaanku hanya kamu" cerca Jongin tak sabar.
"Hyung cukup" Kyungsoo mengusap wajahnya frustasi. "Aku sudah tak tahan. Tolong biarkan aku pergi. Aku tidak ingin melihatmu lagi" ia segera membuka pintu utama setelah mendengar suara klakson taksi dibunyikan. Jemputannya telah datang.
"Kyungsoo! ARGHH"
Jongin berteriak kesetanan menghancurkan pajangan hingga pecah berserakan. Bahkan Kyungsoo tidak mau menoleh untuk melihatnya terakhir kali. Ia hanya mampu menatap punggung mungil itu sendu. Jongin meringkuk di lantai yang dingin. Tanpa sadar pipinya telah basah oleh airmata yang mengalir. Ketika ia ditinggalkan orang tua, Jongin tidak menangis. Ketika Taemin meninggalkannya Jongin sempat terpukul tetapi tidak menangis. Kyungsoo satu-satunya yang dapat menjungkir balikan dunianya. Ia menjadi rapuh dan hancur lebur untuk pertama kali. Tangisan menyayat hati berputar di sekelilingnya.
Setelah beberapa saat menumpahkan kesedihan. Sorot onyxnya berubah tajam mengelap penuh tegad. Ia meraih ponsel di dalam saku celana. "Mino." Jongin menelpon kaki tangannya, memikirkan rencana selanjutnya.
Tidak, dia tidak akan pernah melepaskan Kyungsoo begitu saja.
"Ya tuan" diseberang sana Mino menyahut patuh.
"Apakah kau melihat Kyungsoo menaiki taksi?" tanya Jongin sambil mencengkram surainya kalut. Mino selalu berjaga di depan gerbang besar kediaman Kim bersama para Security.
"Ya Tuan, saya sedang mengikuti taksi itu. Tuan Kyungsoo menangis saat menaiki taksi. Saya memprediksi terjadi sesuatu"
Jongin mendengarkan dengan seksama dan tampak puas. Mino memang dapat diandalkan, salah satu ajudannya yang paling taat dan setia.
"Bagus" pujinya singkat tersenyum miring. "Jangan sampai kehilangan jejak. Jangan sampai Kyungsoo menyadari kehadiranmu disekitarnya." perintah Jongin mutlak.
"Laksanakan tuan."
Ponsel itu Jongin lemparkan kelantai hancur bersamaan dengan hatinya yang berserakan.
«»
"Aku harus kemana?" tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri. Supir taksi meliriknya dari kaca spion tampak khawatir.
"Anda baik-baik saja nona?" tanya pak supir cemas. Wajah Kyungsoo pucat dan sangat berantakan.
"Aku lelaki huhuhu" Mendengar dipanggil nona, Kyungsoo kembali menangis seraya mencari tisue untuk membuang ingusnya. "Kita ke bandara pak."
«»
Pukul dua dini hari Oh Sehun mendapat telpon dari orang yang tidak dikenal. Memberitahu bahwa sahabatnya Jongin mabuk tak sadarkan diri di bar. Dengan langkah tergesa Sehun memasuki bar itu. Ia mengabaikan beberapa wanita yang meliriknya tertarik. Tujuannya kini hanya satu. Segera menemukan Jongin. Biasanya walau seberat apapun masalah yang dialami sahabatnya itu. Jongin tidak akan pernah mabuk-mabukan seperti ini. Pasangannya; Kyungsoo melarang keras. Jadi ada apa ini sebenarnya?
Ditengah remang lampu bar dan keramaian. Akhirnya Sehun menemukan Jongin tergeletak disofa dengan banyak botol kosong disekitarnya. Emosinya yang ia pendam kini hilang digantikan rasa iba.
"Jongin-ah? Ya!" Sehun menepuk pipi Jongin kasar. Tidak mabuk saja lelaki itu susah dibangunkan. Apalagi dalam keadaan mengkonsumsi alkohol sebanyak ini.
Tanpa pikir panjang ia segera membopong tubuh Jongin yang sama besar seperti tubuhnya. Sedikit kesulitan namun Sehun dapat tangani dengan mudah. Ia segera keluar dari bar sambil sesekali mengerutu pelan.
«»
Napas Sehun terengah. Keringat menuruni keningnya. Bagai telah lari maraton keliling kota. Jarak dari parkiran ke dalam rumah Jongin lumayan jauh. Ia mengutuk pekarangan Jongin yang cukup luas. Dasar kaya.
Sehun bersyukur Security membantunya membawa tubuh Jongin yang seperti mati dan juga membantu membukakan pintu. Dalam hati ia bertanya-tanya. Kemana Kyungsoo?
Di dalam rumah Jongin sangat berantakan. Seperti pemiliknya sekarang. Sehun segera merebahkan Jongin disofa kemudian mengamati keadaan sekitar. Kyungsoo sangat menyukai kebersihan. Namun keadaan rumah mereka sekarang hancur bagai di acak-acak frustasi oleh seseorang. Pasti ada masalah diantara mereka. Pikir Sehun.
Suara muntahan seseorang menyadarkannya dari lamunan. Sehun segera menghampiri Jongin khawatir. Matanya membola begitu menemukan Jongin terduduk dilantai dengan muntahan berceceran di sekitarnya. Ia menghela napas berat. Ini takkan mudah.
«»
"Kyungsoo-ya, Gwenchana?" Baekhyun menghubungi Kyungsoo pagi-pagi sekali setelah mendengar cerita dari Chanyeol semalam. Bahwa Kyungsoo telah mengetahui semuanya. Kecemasan pada sahabatnya itu membuat Baekhyun resah. Ia tahu sedalam apa cinta Kyungsoo pada Jongin sejak mereka kuliah. Kyungsoo pasti hancur saat ini.
Di seberang sana Kyungsoo menyahut pelan. Samar-samar Baekhyun mendengar suara ramai seperti pasar.
"Yak! Eodiga?!" matahari baru terbit. Kyungsoo sudah diluar rumah? Biasanya jam segini seharusnya Kyungsoo baru bangun tidur.
"Baek, aku akan menghubungimu lagi nanti, hm? Keuno"
Tut
Tut
Tut
"Sial" Baekhyun memandang ponselnya kesal. Menyadari satu hal. Kyungsoo pasti melarikan diri dari rumah. Masalahnya Kyungsoo itu buta arah. Dia mudah sekali tersesat. Karena sebab itulah Jongin tidak memperbolehkannya untuk keluar rumah sendirian.
«»
Hari ini Sehun menjadi bolos kerja demi mengurusi sahabat bodohnya. Ia segera menghubungi Luhan dan menjelaskan semuanya agar istrinya itu tidak khawatir dan ia pun meminta salah satu maid mereka dirumah untuk datang agar mebereskan kekacauan di kediaman Kim.
"Kau berhutang banyak padaku." Sehun berkata seraya melirik Jongin yang terdiam bagai batu. Entah jiwa pria berkulit tan itu dimana. Pandangan mata Jongin tak fokus menatapnya. "Mandilah" ia menepuk pundak Jongin yang duduk dihadapannya dimeja makan. Jongin telah bangun satu jam yang lalu namun penampilannya sama seperti semalam, kacau dan berantakan masih mengenakan seragam kantornya. Diatas meja sudah tersedia sarapan yang dibawakan maid Sehun. Mungkin Luhan yang membuatnya dirumah. Pikirnya.
Seakan baru tersadar oleh sesuatu Jongin tiba-tiba menggebrak meja. "Pinjam ponselmu! Aku harus menghubungi, Mino."
Dahi Sehun berkerut. Walau ragu ia tetap memberikan ponselnya pada Jongin. "Kemana ponselmu?" tanyanya penasaran.
"Hancur" Jongin menyahut singkat. Menekan beberapa nomor dan mendekatkan ponsel itu pada telinganya. "Mino, bagaimana?"
Sehun memperhatikan dengan seksama.
"Apa! Kehilangan jejak? Bagaimana bisa?" Jongin mencengkram rambutnya frustasi.
"Tidak becus. Cari Kyungsoo sampai ketemu!"
"YAK" Sehun langsung menahan Jongin yang akan membalikan meja yang terdapat makanan mereka. Sehun bangkit dari duduknya dan menghampiri Jongin. Menekan pundak Jongin meminta lelaki itu untuk tenang. "Emosi seperti itu takkan memecahkan masalah." nasihat Sehun. Beruntung Jongin menurutinya. Lelaki itu sudah dapat mengendalikan emosi.
"Ada apa? Ceritakan padaku. Aku akan membantumu."
Sepasang mata Jongin memandangnya. Wajah lelaki itu pias terguncang. "Kyungsoo..."
«»
Jeju 07:30
Kyungsoo menoleh kesana-kemari. Ditengah keramaian pasar ia mencari sesuatu untuk dimakan. Perutnya tidak dapat diajak kompromi. Sejak kemarin ia tak mengkonsumsi apapun. Kepalanya mulai sakit akibat pengaruh penyakit maagnya. Ia bisa saja mampir pada restoran yang berjejer apik di sana. Tetapi isi dompetnya tidak bisa diajak kerja sama. Kyungsoo tidak membawa atm. Benar-benar ceroboh. Bagaimana ia dapat bertahan hidup tanpa uang dan tempat tinggal?
Bingung dengan tujuannya. Langkah kaki Kyungsoo terhenti ditengah keramaian. Mulai ketakutan dengan keberadaan orang-orang asing disekitarnya. Penyesalan mencengkram dada Kyungsoo. Jika saja ia tidak dikendalikan emosi. Mungkin kini ia masih dirumahnya yang hangat dan aman bersama dengan suaminya.
"Jongin hyung" panggil Kyungsoo pelan. Sepasang mata bulatnya mulai berair. Dengan wajah pucat pasi Kyungsoo kembali berjalan menyeret kopernya. Tidak tahu akan kemana.
«»
"Taemin?! Taemin yang itu?" cecar Sehun terdengar kesal setelah mendengar semua cerita Jongin.
"Ya" jawab Jongin pelan penuh penyesalan.
"Kau ini bodoh atau apa?" Sehun tak habis pikir bagaimana otak Jongin berjalan. Ia saja hafal betul tabiat Taemin dulu. Mana mungkin Jongin lupa? Taemin sangat serakah dan egois. Ia selalu mendapatkan apapun yang ia mau. Jongin membuka lengan seakan menawarkan pelukan pada Taemin kembali. Tentu saja Taemin akan salah sangka dan mengira bahwa Jongin masih mencintainya dengan segala kebaikan yang Jongin beri selama ini.
"Aku tidak berfikir sampai kesana" Jongin mengela napas. Matanya bergulir pada dapur. Disana biasanya Kyungsoo mundar-mandir memasak dengan mengenakan apron yang lucu. Bayangan Kyungsoo itu perlahan menghilang bagai kabut. "Kyungsoo pergi hun" Jongin berkedip dan tersenyum miris.
"Dia salah paham"
"Apa kau tahu kemana Kyungsoo pergi?" tanya Sehun dengan nada lebih tenang. Jika ia ikut emosi tentu saja semua masalah ini akan tambah runyam.
Jongin menggeleng. "Aku sudah meminta Mino mengawasinya. Kyungsoo ke bandara dan Mino kehilangan jejak disana"
"Bandara? Bisa gawat kalau Kyungsoo sampai keluar negeri" dengan sigap Sehun mengambil ponselnya yang tergeletak dimeja lalu menekan-nekan keypad. Segera menghubungi Kyungsoo.
"Ponselnya tidak aktif" Sehun berkata setelah suara operator yang menjawab panggilannya. Raut cemas membayangi wajah Jongin.
"Makanlah, kau harus memiliki banyak energi untuk membereskan ini semua" mangkuk berisi sandwich Sehun dorong ke arah Jongin.
"Aku akan bertemu Taemin untuk meminta penjelasan darinya." Ungkap Jongin kemudian mengambil salah satu sandwich itu. Memakannya lahap. Pikiran berkenala. Apa yang Kyungsoo lakukan sekarang? Apakah dia sudah makan juga?
«»
Kyungsoo tidak ingat berapa lama ia berjalan. Sebelumnya ia telah membeli dua potong roti dan susu kemasan. Kakinya sudah tak kuat lagi membawanya melangkah. Pandangannya berkelana, dirinya berada ditempat yang benar-benar asing.
Dengan langkah gontai Kyungsoo menuju bangku dibawah pohon rindang. Menghalau dari panasnya matahari. Tempat yang cocok untuk mengisi energi dan beristirahat sejenak.
Kyungsoo menyenderkan koper besarnya di pohon lalu mengeluarkan roti dan susunya. Makan dengan tenang. Jongin...
Ia menggelengkan kepala kalap. Mencoba menghilangkan bayangan lelaki itu. Keputusannya untuk pergi setidaknya sedikit meringankan beban batinnya. Namun tetap saja visual suaminya itu mengikuti, menyakiti hatinya terus menerus. "Apakah dengan tidak ada aku. Kau sekarang bersamanya hyung?" bisik Kyungsoo diantara angin dan dedaunan yang berhembus. Berharap Jongin mendengar disana.
Ditengah kekalutan hatinya. Lamat-lamat Kyungsoo seperti mendengar seseorang memanggil namanya. Ia refleks berdiri, pandangannya menyapu tempat sekitar mencari asal suara.
Tak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pria berdiri memandangnya. Pria itu melambai dan Tersenyum menghampirinya.
«»
Taemin melangkah pasti menuju ruangan Jongin setelah mendapat perintah untuk menemui Sajangnimnya itu.
Setelah melemparkan senyum ramah pada sekretaris Jongin di luar ruangan, pintu besar itu ia dorong pelan. Senyum lebarnya perlahan luntur ketika mendapati bahwa Jongin tidak sendirian. Sehun berdiri bersandar pada kursi sementara Chanyeol menatapnya tajam dari sofa.
"Masuklah"
Perasaan Taemin saja atau suara Jongin sangat dingin padanya. Bagaikan ia adalah pembuat masalah yang harus dilenyapkan segera.
"Ada apa Jongin?" Mata Taemin bergulir pada Sehun dan Chanyeol yang menatapnya—mengintimidasi.
"Apa sebenarnya tujuanmu, mencoba mendekati Jongin kembali?" Chanyeol bersuara seraya berjalan menghampiri Taemin. Setiap jarak yang dihapuskan menimbulkan kegugupan pada Taemin. Ia membuang muka, lebih memilih menatap Jongin dengan tanda tanya besar dikepala.
Apa maksud semua ini?
"Jawab saja, Taemin. Kami disini memastikan kau tidak memperdaya Jongin lagi" Sehun merangkul Chanyeol. Mengangkat dagunya congkak. Seakan menantang Taemin. Menanti tindakan Taemin selanjutnya.
"Aku tidak mengerti" bulir air mata berlomba-lomba keluar. Taemin pura-pura terisak, menutup mulutnya. Suara Taemin terdengar lemah. Tak menyangka akan dipojokan seperti ini.
Chanyeol membuka mulut tampak geram namun tak ada sepatah katapun yang keluar. Sementara Sehun hanya mendengus memilih menyingkir dari hadapan Taemin. Muak akan semua drama yang lelaki itu ciptakan.
"Sudahlah" Jongin yang sedari tadi diam kini bersuara menengahi mereka. "Chanyeol, Sehun sebaiknya kalian keluar. Aku bisa mengatasi ini." perintahnya, menghela napas keras-keras. Mencoba meringankan beban yang menumpuk dadanya.
Senyum Taemin mengembang menyangka Jongin sedang berusaha melindunginya. Kedua sahabat Jongin itu menurut meninggalkan ruangan walau sesekali mengumpat. Dalam hati Taemin berjanji akan membalas mereka yang kurang ajar terhadapnya. Seharusnya mereka lebih sopan karena ia calon istri Jongin yang baru.
Mungkin Jongin memanggilnya kemari untuk membahas perbuatannya kemarin. Berterima kasih karena ulahnya itu membuahkan hasil. Saat ini Jongin terbebas dari belengu istrinya yang tidak becus itu.
"Apa mau mu?" desis Jongin bagai ular berbisa. Siap membunuh Taemin kapan saja. Sorot matanya gelap penuh amarah.
"J-jongin" Taemin tergagap. Kakinya melangkah mundur. Meretas jarak diantara mereka. Ia ketakutan. Baru kali ini Jongin berekspresi seperti itu padanya.
"Kenapa kau mengirim foto seperti itu pada Kyungsoo!? Lancang sekali kau!" dalam sepersekian detik Jongin merengut kemeja Taemin—mencengkramnya kuat.
Tarikan Jongin pada kerahnya benar-benar kuat. Ia tercekik. Pasukan oksigen semakin menipis. Taemin tersedak membuka mulutnya—meraup udara sebanyak mungkin, memenuhi kebutuhannya.
"JAWAB!" wajah Jongin memerah menahan amarah.
"Akk!—" lengan Taemin mendorong bahu Jongin terus menerus. Mencoba melepaskan diri. Ia telah mencurahkan tenaga tetapi Jongin bahkan tidak bergeser sama sekali.
Menyadari wajah Taemin hampir membiru. Jongin segera melepas cengkramannya lalu membuang muka tak perduli. Tak mau melihat Taemin yang hampir sekarat akibat perbuatannya.
Taemin membungkuk sesekali terbatuk. Ia mengelus lehernya yang memerah. Melotot pada Jongin, tak percaya. "Kau tanya kenapa..." ia berkata lemah, masih shock akan perlakuan kasar Jongin sebelumnya.
"Bukan kah sudah jelas karena aku mencintaimu?!" teriak Taemin sambil mendorong tubuh Jongin kasar hingga sedikit terjengkang.
Jongin mendelik. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi" sanggahnya.
Sepasang mata Taemin terbelalak. Terkejut akan balasan Jongin. "Pembohong" umpatnya tak percaya, tersenyum sinis. "Kau dulu sangat mencintai ku."
"Dulu." dengus Jongin. Menekankan satu kata yang Taemin ucapkan.
"Tidak. Tidak. Tidak." Taemin menolak—menggelengkan kepalanya kencang. Mendekati Jongin, mencoba memeluk pria itu. Tetapi Jongin terlebih dahulu mundur beberapa langkah—menjaga jarak darinya.
"Kau selalu baik padaku, kau tidak pernah menolak bekalku, dan terkadang kau bersedia mengantarku pulang!" cecar Taemin tak terima. Sakit hati akan pengakuan Jongin yang tidak sesuai harapannya. "Kau pasti mencintaiku" Taemin berkata putus asa. Wajahnya mulai berurai air mata.
Mendengar itu Jongin sedikit terenyuh. Emosi pada tatapan matanya perlahan luluh. "Kau salah paham." walau bagaimanapun dulu mereka teman baik dan sangat dekat.
Sesaat keheningan mengisi kekosongan.
"Aku melakukan semuanya hanya demi kesopanan. Aku tak mau kau terbebani akan hutangmu padaku." Jongin akhirnya berkata selang beberapa saat. Menarik lengan Taemin agar duduk disofa. Menenangkan lelaki itu yang terlihat sangat terguncang.
"Ku pikir kau masih mencintai ku." bisik Taemin menundukan kepala. Tidak mau beradu pandang dengannya.
Jongin bergumam maaf berkali-kali. Taemin hanya tersenyum miris menyadari bahwa Ia terlalu percaya diri dan perbuatannya yang keterlaluan sekali.
"Aku pasti menghancurkan rumah tanggamu" Taemin menatap Jongin serba salah. Mengusap air mata dengan lengan kemejanya. Tak mau terlihat jelek dan lemah.
Jongin menatapnya lama tanpa berkomentar apapun. Banyak kata yang ingin ia ungkapkan. Namun sulit untuk terutarakan. Mimik wajahnya begitu datar menahan kesakitan.
Perasaan bersalah menyesakan dada Taemin. Ia baru menyadari betapa kacaunya penampilan Jongin saat ini.
Perkirannya salah besar. Perbuatannya memang berhasil tetapi ia tak mengira; Jongin tidak senang sama sekali, malah terlihat menderita. Walau Taemin mencintai Jongin dan berharap memilikinya. Tapi jika ulahnya menghancurkan hidup Jongin tentu Taemin tidak akan mengharapkan itu semua.
"Apa kau sangat mencintainya?"
Jongin tersenyum miris. "Dia adalah napasku. Sebagian dari jiwaku, Tae. Bagaimana mungkin aku tidak mencintainya."
Tertohok, Taemin justru tertawa terbahak-bahak. Menertawai jalan hidupnya yang begitu menyedihkan. Ia tertawa dengan air mata yang tak henti mengalir.
«»
Seorang pria bersurai coklat dengan mata sipit menghampiri Kyungsoo.
"Kyungsoo?" tanya pria itu memastikan pandangannya tidak salah.
"Baekbeom hyung?" pria yang sangat mirip dengan Baekhyun itu tersenyum lebar. Kakak Baekhyun sudah seperti kakaknya juga. Dia dulu sangat akrab dengan keluarga Baekhyun. Orang tuanya terkadang keluar kota hingga dia sering ditinggalkan. Beruntung keluarga Byun mau menampungnya untuk sementara.
"Apa kau sedang liburan?" tanya Byun Baekbeom ramah, melirik koper besar milik Kyungsoo yang bersandar di pohon. "Kebetulan sekali ya."
Kyungsoo terdiam tak dapat menjawab. Ia hanya menatap roti dalam genggamannya.
"Kyungsoo? Kau baik-baik saja?"
"Apa yang hyung lakukan disini?" Kyungsoo balik bertanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Urusan bisnis. Hari ini hari terakhir jadi aku memilih jalan-jalan sebentar"
Kyungsoo hanya mengangguk kecil.
"Dimana Jongin?" Kakak laki-laki Baekhyun itu bertanya. Mengedarkan pandangan mencari keberadaan suami Kyungsoo.
Kyungsoo tidak pernah berjalan-jalan sendirian. Jongin pasti akan selalu menemaninya kemanapun. Masih tersimpan jelas dalam ingatan Baekbeom bagaimana posesifnya Jongin pada teman adiknya itu dulu.
Ia dan Jongin cukup akrab dikarenakan ada beberapa urusan bisnis. Ia bahkan hadir dalam upacara pernikahan mereka.
Mendengar nama Jongin disebut. Dada Kyungsoo bagai dicubit. Roti yang tadinya ia kunyah kini terasa hambar. Entah bagaimana mulanya perutnya mulai melilit. Diafragma seperti menekan paru-parunya. Kyungsoo terengah-engah tak sanggup menelan roti dalam mulutnya. Ia menekan ulu hatinya seakan dapat meredakan rasa sakit disana. Kyungsoo nemuntahkan rotinya, isi perutnya mendesak keluar ditambah kepalanya yang terus berdenyut menyakitkan.
"Kyungsoo? Kyungsoo!" tubuhnya diguncang pelan. Keringat dingin menuruni dahinya. Kyungsoo merasa diambang kesadaran. Samar ia dapat melihat Baekbeom mencoba menopangnya.
Dan semuanya gelap.
«»
"...Kyungsoo tidak ada disana eommonim?"
Jongin sudah menghubungi semua kenalan Kyungsoo dan hasilnya nihil. Kini ia menghubungi mertuanya, semoga Kyungsoo memilih pulang kerumah orangtuanya. Jongin akan sedikit lebih tenang jika istrinya itu berada disana.
"Tidak ada? ...animida. Gwenchana eommonim. Maaf mengganggu"
Sambungan dengan ibu dari Kyungsoo itu terputus. Ponsel dalam genggamannya Jongin remas resah. Ia telah membeli ponsel baru dengan nomor telpon yang sama. Tentu bukan hal yang sulit untuk orang sepertinya.
"Kamu dimana baby?" Jongin bertanya pada diri sendiri. Ingin mencari ke sekeliling Seoul namun Mino mengatakan bahwa Kyungsoo menaiki pesawat. Entah kota atau negara mana yang Kyungsoo tuju. Jongin sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun.
Mungkin sudah ratusan kali Jongin mencoba menghubungi istrinya itu. Sebanyak itu pula operator yang menjawabnya mengatakan bahwa nomor itu tidak aktif. Jongin merasa ia akan gila.
Suara langkah kaki menarik perhatian Jongin. Kyungsoo berlari melewatinya dengan cucian yang menumpuk menutupi muka. Kaki kaki kecil itu bergerak lincah sambil sesekali memekik "Hujan! Hyung hujan! Cucianku"
Kyungsoo terpeleset, jatuh terduduk. Cuciannya berhamburan dimana-mana. Hujan cukup deras mengakibatkan halaman mereka tergenang air sehingga kaki Kyungsoo yang habis dari luar basah. Bukan membantu Jongin melihat sosok yang mirip dirinya malah tertawa. Sampai Kyungsoo mengejar dengan kaos kaki ditangan bersiap menyumpal mulut Jongin itu. Namun lagi-lagi Kyungsoo malah terpeleset untuk kedua kali.
Jongin terkekeh, perlahan mendekati Kyungsoo yang tergeletak mengenaskan dilantai tapi sebelum lengan Jongin terulur untuk menyentuhnya. Kyungsoo menghilang seiring dengan angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Senyum yang tadinya terlukis kini hilang digantikan dengan air mata yang mengenang.
"Baby..."
lagu kesedihan terus Kyungsoo putar dalam kepala Jongin.
«»
Rumah sakit tampak lenggang. Hanya terdapat beberapa pengunjung yang berlalu lalang. Baekbeom mengigit bibirnya resah penglihatannya terus tertuju pada pintu unit gawat darurat yang tertutup rapat. Dimana para dokter dan perawat bekerja menyelamatkan Kyungsoo. Setelah menimbang-nimbang cukup lama. Koper hitam itu akhirnya Baekbeom buka. Mencari ponsel milik Kyungsoo menghubungi seseorang yang pasti sedang cemas sekarang.
«»
Bagaikan mimpi, Jongin menggucek matanya.
My Kyungsoo is calling
Dalam sepersekian detik Jongin menggeser lambang telpon berwarna hijau.
"HALO?! Kyungsoo? Kamu dimana? Maafkan aku! Aku akan menjemp—"
"Jongin?"
Suara orang asing menjawabnya. Eforia dan kelegaan yang membuncah musnah seketika. Alisnya merengut dalam. Lelaki lain menggunakan ponsel milik Kyungsoo. Lelaki lain sedang bersama Kyungsoo entah dimana saat ini. Jongin bisa merasakan dadanya terbakar api cemburu.
"Siapa kau?!" bentak Jongin kasar. Ia berdiri lalu berjalan mundar-mandir tak sabaran.
"Kyungsoo—"
Suara diseberang sana mengalun lirih. Namun Jongin masih dapat mendengarnya dengan jelas. Kekhawatiran seketika menyentak Jongin. Wajahnya medadak pucat pasi.
"Ada apa dengan istriku?" Suara Jongin terdengar panik. Jantung pria itu berdetak keras. Berdentum di telinganya. Ia menunggu dengan sabar seseorang disana menjawab pertanyaannya.
Rangkaian kata diucapkan diseberang sana. Seakan mencabut nyawa Jongin perlahan dan pasti. Mulutnya membuka menutup namun suara tak mau keluar. Tercekat ditenggorokan.
Kyungsoo.
Kyungsoo.
Nama itu terus dipanjatkan dalam sanubari. Kunci mobil di meja, Jongin rengut kasar. Tanpa memperdulikan penampilannya lelaki bermata tajam itu berlari menuju garasi. Sebelum memasuki mobil Jongin menghubungi salah satu anak buahnya terlebih dahulu.
"Siapkan pesat pribadi menuju jeju."
Mobil silver itu melaju kencang membelah jalanan.
«»
"Hyung!" Jongin memanggil Baekbeom. Mereka melanjutkan pembicaraan ditelpon saat Jongin sudah mendarat di Jeju.
"Cepat sekali kau datang. Kupikir kau akan tiba besok" Baekbeom berkata bingung. Memandang heran Jongin yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Itu tidak penting. Bagaimana Kyungsoo?" Jongin tidak bisa menyembunyikan kecemasan dalam intonasinya. Dibenaknya saat ini hanya Kyungsoo dan Kyungsoo. Di dalam pesawat ia merasa akan mati karena kekhawatiran. Baru sehari Kyungsoo kabur tapi lelaki yang ia cintai itu langsung masuk rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Dokter sudah menanganinya. Dia sudah dipindahkan di ruang rawat inap. Kyungsoo tidak bisa pulang. Ia harus dirawat beberapa hari."
"Tapi kenapa?"
Baekbeom menggeleng. Kurang mengerti mengenai medis. "Mereka mengatakan ini mengenai luka pada lambungnya"
Jongin terkejut bukan main. "Apa?"
"Sebaiknya kau temui dokter untuk meminta penjelasan lebih lanjut" Baekbeom menepuk punggungnya. "Jongin aku harus pergi sekarang. Sebelumnya aku sudah memesan pesawat pulang menuju Seol besok. Maaf tidak bisa menemanimu menjaga Kyungsoo"
"Iya hyung. Terimakasih" Jongin membungkuk dalam. Bersyukur dalam hati Baekbeom yang menemukan Kyungsoo bukan orang jahat.
Kesan pertama Jongin memasuki ruangan ialah seba putih, bersih berbau obat-obatan. Ia mengedarkan pandangannya kemudian terpaku pada ranjang. Disana Kyungsoo tertidur lemah. Jongin melangkah mendekat. Hanya beberapa jam mereka terpisah tetapi cukup menimbulkan rindu yang tak terkira. Setiap jarak yang ia hapuskan bagaikan dalam mimpi. Baru saja Jongin membayangkan Kyungsoo dirumah kini dihadapannya ada sosok Kyungsoo yang asli. Namun dalam keadaan yang tidak Jongin harapkan sama sekali.
Sejenak Jongin dibuat terperangah menatap istrinya. Jarum Infus menusuk lengan kurus Kyungsoo.
"Baby..." Jongin mendekat—duduk disamping ranjang Kyungsoo. Mengambil telapak tangan Kyungsoo dan mengelusnya penuh perasaan.
"Aku telah menyakitimu sampai seperti ini." bisik Jongin pada Kyungsoo. "—Seharusnya aku saja yang berada diposisimu.. aku.." Jongin mengerjap menghalau air mata. Tercekat tak tahu lagi harus berkata apa.
Suara ketukan pintu mengintrupsinya. Seorang perawat menghampiri dengan senyumanan sopan. "Tuan ini adalah obat. Pastikan Tuan Kyungsoo meminumnya satu sendok sebelum makan" botol berukuran cukup besar itu diserahkan pada Jongin.
"Suster bagaimana keadaan istri saya?" tanya Jongin setelah meletakkan botol obat itu dimeja samping tempat tidur Kyungsoo.
"Tuan Kyungsoo sudah lebih baik, kami sudah memberikan obat anti nyeri. Efek sampingnya Tuan Kyungsoo mungkin tak akan bangun hingga besok pagi"
Jongin tidak tahu harus berespon seperti apa. Rasanya seperti ada sesuatu yang tak kasat mata mengenggam kuat-kuat organ dalamnya. Jika saja dia bisa meluruskan semua masalah mereka, Kyungsoo tidak akan seperti ini. Semuanya adalah salahnya.
"Tuan anda bisa menemui dokter diruangannya. Jika ingin bertanya lebih lanjut." perawat itu melemparkan senyum sebelum berpamitan keluar.
Jongin balas tersenyum dan mengangguk mengerti.
Disinilah Jongin kini, berdiri di depan ruangan dokter Choi. Setelah menimbang-nimbang cukup lama akhirnya ia mengetuk pintu. Terdengar sahutan didalam menyuruhnya untuk masuk.
"Saya wali dari tuan Kyungsoo. Dok"
"Ah duduk lah" Choi Siwon menujuk kursi dihadapannya. Berkas-berkas pasien ia singkirkan dari meja.
"Jadi.. istri saya sakit apa?" tanya Jongin to the point.
"Maagnya sudah parah." Siwon menatap Jongin serius. "Saya khawatir lambung Kyungsoo luka."
"Sudah berapa lama Kyungsoo tidak makan?" Tanya Siwon kemudian.
Jongin menunduk tidak tahu harus menjawab apa. sebelum bertengkar ia benar-benar sibuk bekerja, tidak pernah memperhatikan pola makan istrinya. Padahal Jongin tahu bahwa Kyungsoo memiliki riwayat penyakit maag. Dia benar-benar bukan suami yang baik.
Siwon menghela napas.
"Makanan yang tidak dijaga. Mengkonsumsi coffee yang berlebihan ditambah faktor Stress menjadi pemicunya."
Menunduk, Jongin kehilangan kata-kata. Perasaan bersalah mencengkram dadanya. Ia sedikit kesulitan bernapas.
"Saya harap Tuan Kyungsoo diawasi. Pastikan dia makan walau sedikit tapi sering. Jangan berikan ia beban fikiran terlalu banyak. Saya lihat Kyungsoo sedikit depresi."
Jongin tercekat. Ia merasa ingin mati saja.
"Ini merupakan resep, silakan tebus diapotik"
"Saya mengerti dok, permisi."
«»
Masih disana, terduduk dibangku kursi didepan ruang rawat Kyungsoo. Tatapan Jongin kosong. Semua kejadian kemarin kembali berputar dalam kepala Jongin bagai kaset rusak.
Suara semangat Kyungsoo yang meminta ijin padanya— saat ingin mengunjungi kantor.
Air mata Kyungsoo yang menuruni pipi.
Makanan yang tak Kyungsoo sentuh. Hanya diaduk-aduk diatas piring.
Hingga koper yang Kyungsoo tarik. Dengan air mata yang membasahi pipi.
Kedua tangan Jongin memutih saking kuatnya ia remas frustasi. Senyum pahit terulas dibibirnya.
"Semua ini adalah salahku." Jongin berkata dengan nada pahit. Perasaan bersalah lagi-lagi menyesakan dirinya.
"Jika saja aku dapat menjaga Kyungsoo. Jika saja aku lebih perhatian. Jika saja dari awal aku jujur" untaian kata-kata penyesalan takkan merubah apapun. Semuanya sudah terlambat. Kyungsoo telah menjadi korban. Jongin tahu tapi tetap tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Ia beranjak menuju jendela kaca yang memisahkan ruangan Kyungsoo dengannya. Tatapan Jongin sepenuhnya terpaku pada sosok Kyungsoo yang terlelap. Ia mengulurkan jemarinya. Mengelus wajah Kyungsoo dari kaca dengan telunjuk penuh rindu.
"Maafkan hyung." Sepasang mata Jongin panas. Air mata terdesak berlomba-lomba keluar. Deras membasahi pipinya yang tirus. "Kyungsoo ya." Suara Jongin parau. Dia mendekatkan keningnya pada kaca yang dingin. Kerinduan dan perasaan bersalah menguasainya.
Jika kau sakit seperti ini, aku merasakan ada bagian dariku yang mati.
«»
"Jongin bagunlah"
Baekhyun mengguncangkan tubuh Jongin kasar. Bagaimana bisa suami sahabatnya itu tidur dibangku kecil diluar ruangan Kyungsoo seperti ini. Kenapa tidak didalam saja bersama Kyungsoo? Toh mereka sudah suami istri. Baekhyun bertanya-tanya dalam hati.
"Baek, kau datang?" rambutnya ia sisir pelan. Sambil mengucek mata Jongin berdiri menyambut Baekhyun. Semalam dia menghubungi lelaki itu untuk segera ke jeju, ia bahkan memesankan tiket untuknya.
"Bagaimana keadaan Kyungsoo?" tanya Baekhyun sinis. Kesal akan perlakuan Jongin pada sahabatnya.
Jongin tersenyum kecut. Ia menengok pada jendela sebelum mengalihkan tatapannya kembali pada Baekhyun. "Belum bangun"
"Dengar kim. Jangan pernah menyakiti Kyungsoo lagi, atau tamat riwayatmu." ancam Baekhyun menekan dada Jongin dengan kuku jarinya.
Jongin meringis. "Sebelum itu aku akan membunuh diriku sendiri lebih dulu." tutur Jongin memandang Baekhyun hampa.
"Tolong rawat Kyungsoo" pintanya pada Baekhyun.
"Tentu aku akan melakukannya. Tapi, kenapa tidak kau saja?" Dahi Baekhyun mengkerut heran.
Jongin tersenyum miris. "Dokter mengatakan Kyungsoo tidak boleh dibiarkan Stress atau membebankan fikirannya. Nanti maagnya bertambah parah. Kehadiranku hanya akan menyakiti Kyungsoo"
"Syukurlah kau tahu diri" Baekhyun meleos melewati Jongin. Memasuki ruangan Kyungsoo meninggalkan Jongin sendirian diluar.
Jongin kembali duduk dikursi dan merenung. Ia memang pantas mendapat perlakuan seperti ini.
«»
Kedua mata bulat itu perlahan terbuka. Ditengah kesadarannya Kyungsoo melihat lelaki familiar tengah membuka jaket.
"Baek?" panggilnya serak kemudian ia terbatuk lemah. Sosok itu menghampirinya khawatir. membantu membenarkan bantal dan menyodorkan air mineral. Kyungsoo langsung minum dengan tergesa. Ia sangat haus.
"Kupikir kau Baekbeom hyung" kata Kyungsoo setelah merasa tenggorokannya lebih baik. Bersandar pada bantal dibelakangnya.
"Kenapa kau berhalusinasi tentang kakakku" Baekhyun menyeringai meledek Kyungsoo. Dulu saat kecil Kyungsoo sempat naksir pada Baekbeom.
Kyungsoo terkekeh. "Dia yang membawaku, kerumah sakit"
"Benarkah?" Alis Baekhyun terangkat, terkejut. Ia akan menghubungi kakaknya nanti.
"Apa dia yang mengatakan tentang kondisiku?"
Baekhyun terdiam, Kyungsoo sepertinya tidak mengetahui keberadaan Jongin. Ia malah menyangka Baekbeom lah yang memberitahunya. Baekhyun tidak tahu harus berkomentar apa.
"Apa kau tidak makan dengan baik?" Baekhyun balik bertanya mengabaikan pertanyaan Kyungsoo sebelumnya.
Kyungsoo membuang muka. "Tidak nafsu makan." gumamnya dengan kekecewaan yang tersirat.
"Jika ada masalah, jangan menyiksa diri sendiri seperti ini. Dasar bodoh!" Baekhyun mengumpat kesal.
Sudah hampir dua hari Kyungsoo dirawat dirumah sakit Jeju. Ia mulai jengah. Bosan dengan makanan rumah sakit dan keberadaan Baekhyun yang menganggunya.
"Baek kapan kau pulang?" sore itu setelah minum obat. Kyungsoo terbaring dikasur sambil menonton tv yang tersedia dikamar rawatnya.
"Apa kau muak melihatku terus?" Baekhyun mengangkat alis, menghentikan kegiatannya mengusap apel untuk Kyungsoo makan.
"Sedikit" Baekhyun melotot padanya sementara Kyungsoo terbahak. "Apa Chanyeol tidak khawatir padamu?" tambah Kyungsoo sambil terkekeh kecil.
"Chanyeol tidak keberatan, jangan banyak berfikir cepatlah sembuh agar tidak merepotkanku lagi" Baekhyun berkata sinis namun Kyungsoo menanggapinya dengan senyuman. Mengerti bahwa ucapan sahabatnya itu tidak bersungguh-sungguh. Baekhyun sangat menyanginya, mereka telah bersama sejak kecil sudah seperti saudara kandung.
"Terimakasih, baek"
Kyungsoo memperhatikan jemari lentik Baekhyun yang mengupas apel merah lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil agar mudah Kyungsoo makan.
Lagi lagi Kyungsoo merasakan tatapan itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela kamarnya was-was. Bulu kuduknya meremang seketika. Belakangan ini Kyungsoo seperti diperhatikan seseorang. Bagaikan ada orang yang menatapnya dari jendela sana.
"Baek apa kau melihat ada orang diluar kamar rawat ku?" Kyungsoo mulai resah.
"Tentu saja, ada perawat dan pengunjung lain mungkin"
Kyungsoo termenung. Tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Ia segera menggelengkan kepala. Mensugesti diri sendiri bahwa itu semua mungkin hanya halusinasinya saja.
Dibalik tembok Jongin berjongkok memegang dadanya. Degupan jantungnya bertalu. Hampir saja ketahuan. Ia mengusap keningnya gugup, menyeka keringat. Dengan hati-hati Jongin bergeser. Mengintip istrinya yang imut itu lewat celah kecil jendela yang terbuka. Kerinduan melesak dalam dada. Disana Kyungsoo menggerutu menekan-nekan remote tv kasar. Memindahkan chanel yang tidak menarik.
Sorot mata Jongin terus mengikuti pergerakan Kyungsoo. Kemarin dia hampir ditangkap Security. Mungkin perawat disana melaporkan tingkah lakunya yang mencurigakan. Setelah melalui perdebatan panjang, memberikan tanda pengenal dan membeberkan alasan masuk akal. Akhirnya Jongin diperbolehkan kembali mengintai Kyungsoonya. Menjaga dalam diam. Memastikan Kyungsoo baik-baik saja. Walau kadang rindu tak dapat ia tahan memaksanya untuk masuk lalu memeluk tubuh mungil itu erat-erat. Namun keadaan dan luka hati Kyungsoo pasti belum sembuh benar. Jika ia egois, melakukan itu semua demi kebutuhannya saja Kyungsoo akan shock dan pasti sakitnya kembali kambuh.
"Baek..." Kyungsoo menghentikan kunyahannya. Apel dimulutnya mulai terasa hambar.
"J-jongin, kenapa dia tidak datang?" tanyanya, menelan apel dalam mulutnya. Bibirnya ia gigit kuat-kuat. Teringat akan suaminya yang saat ini sendirian di Seoul.
Apa Jongin baik-baik saja?
Apakah saat ini Jongin bahagia bersama Taemin?
Pertanyaan itu selalu menghantui Kyungsoo selama ini.
"Apa yang ada dikepalamu itu" Baekhyun membuyarkan lamunannya. "Jangan banyak berfikir. Kau hanya perlu fokus pada kesembuhanmu" lengannya menyentuh jemari Kyungsoo. Baekhyun menatap wajah pucat Kyungsoo iba.
"Dia bahkan tidak mencariku" isak tangis yang Kyungsoo berusaha pendam berhari-hari akhirnya lepas sudah. "Aku sangat merindukannya, sampai rasanya sesak sekali" dada terbalut baju pasien itu Kyungsoo cengkram. Menunjukan betapa sakit yang ia rasakan.
"Percayalah dia merindukanmu juga" Baekhyun beringsut menenggelamkan Kyungsoo dalam pelukannya. Menenangkan lelaki itu yang menangis hebat. Ia membisikan kata-kata penenang dengan mata yang tertuju pada jendela.
Disana Jongin membeku menyaksikan dan mendengar semuanya.
«»
"Kyungsoo aku keluar dulu untuk membeli makan siang" Kyungsoo hanya mengangguk menangis cukup menguras tenaganya.
"Istirahat lah"
Baekhyun menutup pintu dan medapati Jongin duduk ditempat biasanya sambil memeluk lututnya. Ia menoleh begitu menyadari seseorang memperhatikannya.
"Baek"
"Ikut aku"
Jongin bangkit berdiri, mengikuti Baekhyun tanpa bertanya apapun lagi.
«»
Cklek
Pintu kamarnya terbuka lagi, Kyungsoo yang hampir tertidur menoleh kesal.
"Baekhyun kau ini—"
Omelannya terhenti begitu orang itu memasuki kamarnya. Kyungsoo tercekat. Melotot tak percaya.
"Taemin?"
Lelaki cantik itu tersenyum pendek. "Apa kau Kyungsoo?" Suara Taemin mendayu merdu. Kyungsoo muak mendengarnya membayangkan lelaki itu yang selalu bermesraan dengan suaminya dikantor. Kyungsoo membuang muka tak sudi menatap Taemin.
"Apa mau mu?"
Taemin memperhatikan keadaan Kyungsoo yang lemah. Selang infus menggantung menopang cairannya. Wajah pucat pasinya menyayat dada Taemin.
Dia lah yang menyebabkan penderitaan bagi Kyungsoo dan Jongin.
"Jongin tidak masuk kerja belakangan ini" Taemin meremas tangannya. Bingung memulai pembicaraan dari mana.
Sepasang mata bulat itu tertutup meresapi nyeri yang merayap ketika nama suaminya diucapkan Taemin.
"Aku menanyakan keberadaannya pada sekretarisnya. Dia mengatakan Jongin disini."
"Disini?" Kyungsoo membeo tak percaya. Sama sekali tidak menyadari Jongin disekitarnya. Jika memang Jongin disini. Mengapa suaminya itu tidak menengoknya?
Taemin mengangguk. "Kyungsoo-ssi" panggilnya ragu. "Aku.. aku-minta maaf.." ia terbata-bata menunduk dalam.
Kyungsoo hanya terdiam memperhatikan Taemin. Menunggu ungkaian kata yang akan lelaki itu utarakan.
"Jongin adalah lelaki yang setia. Kami tidak pernah berselingkuh."
Retina Kyungsoo mulai kabur oleh airmata.
"Seberapa keras aku merayunya. Jongin hanya menanggapi sekedarnya... tetapi dia selalu baik padaku. Sikapnya membuatku salah paham" Taemin tersenyum pahit mengingat kembali kenangan mereka selama ini.
"...ternyata dia memang baik pada semua orang" ungkapnya tertohok.
Mendengarnya Kyungsoo tersenyum simpul. Kecemburuan yang selama ini menggrogoti perlahan luntur.
"... dia membayarkan hutang ayahku. Memberiku pekerjaan. Tapi aku malah menghancurkan rumah tangganya." Taemin terduduk dilantai. Jatuh bersimpuh dihadapan ranjang Kyungsoo. "Maafkan Jongin, dia tidak pernah berselingkuh denganku. Hanya kau satu-satunya yang dia cintai Kyungsoo-ssi"
Kyungsoo tersentak namun kelegaan membanjiri hatinya. Ternyata ia hanya salah paham selama ini. "Bangunlah" katanya tidak nyaman dengan posisi Taemin yang berlutut dilantai.
"Tidak" Taemin menggeleng keras kepala. "Aku mohon maafkan Jongin. Foto.. itu aku yang mengirimnya.. Jongin tidak melakukan apapun" ia akan melakukan segalanya agar bisa memperbaiki kesalahannya. Ia mencintai Jongin, tidak ingin Jongin menderita. Jika dengan Kyungsoo, Jongin bahagia Taemin rela melepas lelaki itu pergi.
Kyungsoo tersenyum kecut, ia mengangguk tak bisa berkata-kata.
"Bangunlah, jangan seperti ini" risih Kyungsoo tidak suka posisi Taemin seakan mengemis meminta maafnya seperti ini. Bagaimanapun Kyungsoo masih memiliki nurani.
"Aku akan memaafkan suamiku, tetapi tidak denganmu. Kau sudah keterlaluan."
Taemin menangguk maklum. Lega karena tujuannya jauh-jauh ke Jeju untuk menemui Kyungsoo akhirnya tercapai.
"Gwenchana. Jongin memindahkanku ke cabang perusahaan di Jepang. Aku tidak akan menganggu kalian lagi."
Kyungsoo terdiam, tidak sempat terlintas dalam benaknya Jongin akan sampai melakukan tindakan itu.
"Baiklah kalau begitu. Kurasa aku sudah menjelaskan semuanya" Taemin mengusap matanya yang sedikit berair. "Kyungsoo jangan pernah meninggalkan Jongin lagi. Atau aku akan datang dan mengambilnya darimu"
Kyungsoo tertawa. "Tidak akan" sahutnya singkat dengan mata menyipit.
"Aku pergi. Semoga lekas sembuh" Taemin berpamitan melemparkan senyum singkat sebelum berlalu keluar ruangan.
Kyungsoo menggapai meja disamping tempat tidurnya. Mengambil ponselnya lalu menggeser kunci menampilkan foto Jongin saat sedang fokus menonton bola. Foto yang ia ambil diam-diam. Perlahan Kyungsoo mengecup foto itu membayangkan bahwa Jongin asli yang dihadapannya.
"Hyung maafkan aku" telunjuknya mengelus foto Jongin lembut. "Seharusnya aku percaya padamu" Kyungsoo mengigit pipi dalamnya. Mencegah untuk menangis lagi. "Cepatlah datang dan menjemputku. Aku merindukanmu" ia mendekap ponselnya erat. menutup mata rapat-rapat. Mencoba tidur berharap dalam mimpi dapat bertemu dengan Jongin disana. Setidaknya rindunya sedikit terobati.
Sementara itu diwaktu yang sama Baekhyun dan Jongin duduk berhadapan di kantin rumah sakit.
"Sampai kapan kau bersembunyi seperti itu?"
Baekhyun memutar bola mata jengah.
"Kau dengar sendiri, dia sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukannya?" tambah lelaki bermata sipit itu.
Namun Jongin hanya tersenyum simpul.
"Jika aku mengatakan tidak merindukannya. Berarti aku bohong Baek"
"Kalau begitu temui dia!" cecar Baekhyun tak sabar.
"Keberadaanku akan menambah bebannya. Kyungsoo tidak boleh banyak fikiran" sanggah Jongin keras kepala berbanding terbalik dengan keinginan hatinya. Ia ingin berlari menuju Kyungsoo saat ini. Mencium dan memeluk lelaki itu selamanya.
"Kau salah" Baekhyun menatap Jongin sendu. "Dia butuh kamu. Kau satu-satunya yang dapat membantunya untuk sembuh"
Jongin terpaku memandang Baekhyun tak percaya, bagai apa yang Baekhyun ucapkan hanya omong kosong semata.
"Dia mencintaimu sama besarnya seperti yang kau rasakan. Kau bahkan tidak tahu. Namamu selalu ia panggil dalam tidurnya. Kyungsoo membutuhkanmu bahkan dalam alam bawah sadarnya."
Helaian surai Jongin terjatuh menutupi mata menyembunyikan air mukanya yang sedih tak terkira.
"Tunggu apa lagi, temui dia Jongin. Katakan bahwa kau selalu disisinya selama ini. Katakan bahwa dia adalah orang yang paling kau cintai"
"Tapi.. bagaimana jika dia.. tidak suka akan kehadiranku.. bagaimana jika dia kini membenciku? Aku telah menyakitinya begitu banyak" keraguan terlihat jelas dalam sorot mata Jongin.
"Rumah tangga akan ada sakit dan air mata. Semua itu wajar. Sebagai kepala keluarga kau jangan pengecut dan melarikan diri. Temui dia, buat dia mengerti akan semua yang terjadi selama ini." Baekhyun sebelumnya telah mengetahui kebenaran bahwa masalah Kyungsoo dan Jongin hanya salah paham semata.
"Kau benar" Jongin bangkit berdiri dengan senyum yang mengembang. Semangatnya terisi kembali. Dia beranjak lalu mendekap Baekhyun singkat mengungkapkan betapa berterima kasihnya ia akan kehadiran Baekhyun yang membatunya dan menyadarkan dari keraguan yang membelenggunya. Kemudian Jongin berlari menuju kamar rawat Kyungsoo. Menuju istrinya yang paling ia sayangi. Mengakhiri penderitaan mereka selama ini.
Pintu itu Jongin buka perlahan takut menimbulkan suara yang dapat mengusik Kyungsoo didalam. Ragu kembali mengusai dirinya. Teringat akan perkataan Baekhyun sebelumnya Jongin langsung meyakinkan diri. Tidak ia harus menghadapi ini sekarang atau tidak sama sekali.
Setelah mengatur napasnya. Tiba-tiba ia menjadi luar biasa gugup. saat ini seperti ketika ia melamar Kyungsoo dulu. Bedanya dulu ia khawatir Kyungsoo akan menerima lamarannya atau tidak. Kini ia khawatir Kyungsoo akan menerima kehadirannya atau tidak.
Tubuh mungil itu meringkuk bagai janin. Begitu rapuh. Jongin melangkah mendekati Kyungsoo yang terlelap. Kini ia bisa memandangnya dengan jarak dekat. Ketika telah tiba dihadapan istrinya. Bernapas diruangan yang sama. Lutut Jongin terasa lemas karena rindu menggrogoti menemukan tempat ia pulang.
"Jongin"
Suara itu pelan tetapi Jongin mendengarnya dengan jelas. Kyungsoo memanggil namanya dalam tidur. Kyungsoo membutuhkannya.
"Jongin hyung, jangan tinggalkan aku" Kyungsoo merintih memeluk dirinya sendiri. Jongin menyaksikan semuanya dalam keheningan. Ia mengambil ponsel dalam pelukan Kyungsoo. Membuka ponsel itu dan mendapati foto dirinya. Seketika sengatan sedih menghantam matanya.
Jongin meletakkan ponsel itu dimeja lalu beringsut tidur disamping Kyungsoo. Meraup tubuh mungil itu masuk kedalam dekapan hangatnya.
Ketika tubuhnya bersentuhan dengan Kyungsoo perasaan itu datang. Cintanya meluap hingga memenuhi semua organ. Semuanya terasa pas. Serpihan hatinya yang berserakan kini mulai menyatu kembali.
"Aku disini sayang" bisik Jongin ditelinga Kyungsoo dengan mata sedikit berair. Ia mengecup helaian surai hitam Kyungsoo menyalurkan perasaan kasihnya.
Bagaikan mendengar apa yang Jongin ucapkan. Kyungsoo mendekat menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jongin. Menyesap aroma suaminya yang begitu ia rindukan. "Hyung.." Kyungsoo membuka mata. "Apakah aku bermimpi?" tubuhnya menjauhi Jongin. Namun tak memisahkan pelukan mereka.
"Tidak" Jongin tersenyum lebar. Mengelus pipi tembem Kyungsoo dengan ibu jarinya. "Maafkan aku... Taemin"
Kyungsoo menubruk tubuh Jongin hingga keningnya teratuk dagu Jongin. Menghentikan ucapan suaminya. "Sudahlah. Aku sudah tahu"
Kyungsoo menatap mata Jongin dalam, tertawa ketika Jongin balas menatap nya dengan alis bertauan bingung.
Jongin menarik Kyungsoo kedalam pelukan eratnya. Sangat erat sampai Kyungsoo sedikit kesulitan bernapas. Dalam dekapan Jongin, Kyungsoo tidak protes sama sekali. Ia sangat senang dapat merasakan pelukan Jongin lagi.
"Jangan pergi lagi"
"Huum" Kyungsoo bergumam dengan senyuman lebar.
"Baru kabur beberapa jam, sudah masuk rumah sakit."
Kyungsoo mendelik mencubit pinggang Jongin. "Yak!"
Jongin tertawa menundukan kepalanya. Bibirnya menggapai bibir Kyungsoo. Menyesapnya lama.
"Berjanjilah padaku. Dimasa depan tidak ada rahasia. Kita harus membicarakan semuanya dengan jujur" Kyungsoo menjauhkan wajahnya melepas ciuman mereka. Mengulurkan kelingkingnya pada Jongin. Dengan adanya kejujuran mereka akan lebih bisa memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dengan demikian bila memang ada sesuatu yang tidak benar seperti dulu dapat dibenarkan segera serta segala sesuatu yang menyebabkan masalah dapat dihindari dan diselesaikan. Dengan kejujuran ini pula rasa kecurigaan atau perasangka buruk antar mereka dapat dihindari.
Jongin mengulurkan kelingkingnya menautkan dengan milik Kyungsoo. "Kau juga tidak boleh menyimpulkan semuanya sendiri."
Kyungsoo meringis menyadari kesalahannya. Mereka memperhatikan kelingking yang saling bertaut itu dengan sorot penuh lega. Kyungsoo meringkuk mencari kehangatan pada tubuh Jongin. Dengan senang hati Jongin menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Bawa aku pulang hyung" bisik Kyungsoo manja. Semakin merapatkan tubuh mereka. "Kamu sudah ada dirumah." sahut Jongin dalam.
Kening Kyungsoo merenyit. Berfikir keras maksud suaminya. Dirumah apanya? Mereka dirumah sakit saat ini.
Mengerti akan kebingungan Kyungsoo yang menggemaskan. Jongin tersenyum geli.
"Kemanapun kamu pergi. Sejauh apapun itu. Kamu akan kembali padaku. Karena Aku lah tempat kau pulang. Aku lah rumahmu"
Kyungsoo bersemu, membiarkan Jongin mencium punggung tangannya lembut.
end for this chap!
Thanks for reading. Review please?
Coming soon
Chapter 5: Waktumu bersamaku.
"Kyungsoo jangan pergi!"
"Aku cuma mau ke kamar mandi-_-"
Sampai jumpa di chapter selanjutnya :)
