Hohohoho….. fufufufu… selamat datang lagi di petualangan cinta Naruto dan Sakura… hohoho…

Sebelum cabut ke chapter 4, sebelumnya mau ngucapin tengkyu 684 kali sambil bungkuk buat nama-nama dibawah ini…..

ladyavril Haruki, elang-hitam, Rokudaime sama63, Uchiha Kaguro, simple plain , Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura , Ridho Uciha , Adelois

Untuk senpaiku….

Sukie 'Suu' Foxie, Masahiro 'Night' Seiran, Karinuuzumaki

Hehehe, trus Nee-Chan ku

Rey619

Dan untuk semua reviewer nggak login dan silent reader yang NaruSaku Holic

.

.

.

.

Selamat menikmati 4th CHAPTER ini ya…!

#

DISCLAIMER: Masashi Kishimoto- 1999

TIte Kubo- 2001

#

Naruto Shippuden 9th Movie

"THE HUNTING OF SOUL REAPER"

4th Chapter

" INVASION: BEGIN!"

Normal POV

Sakura menapak tangga kantor desa ragu-ragu. Perasaannya sungguh masih tidak karuan meski Naruto sudah menenangkannya berulang kali sejak pagi tadi. Bukan Naruto kalau tidak bisa membuat Sakura yang cemberut kembali tersenyum manis, namun untuk kali ini, Sakura benar-benar muram. Wajahnya sendu dengan raut prihatin yang disembunyikan.

Karena dalam bimbangnya, Sakura yakin bahwa Naruto menyadarinya. Sakura sadar kalau Naruto mendapatkan firasat kalau dirinya baru saja bermimpi buruk.

Ya, tadi malam Sakura baru saja bermimpi lagi. Seperti biasa, seperti mimpi yang sama sebelumnya, berputar, berbunyi dan bermain seperti kaset video rusak yang disetel berulang-ulang. Sakura benci, ia sudah muak dengan mimpinya ini.

Dan lebih parah, kali ini dia bermimpi hingga berteriak menyebutkan nama Naruto berulang kali dan mendapati Naruto berada di sampingnya saat ia terbangun.

Dan pada saat itu, Naruto menatapnya cemas.

Flasback ON

Sakura POV

Cahaya ini muncul lagi, memperangkapku dalam sebuah lapangan luas tak berdinding. Aku menyipitkan mataku, memastikan tak ada debu atau serangan lain yang akan membutakan pandanganku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku kemudian, berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang membuat mata kian sensitif dengan cahaya.

Namun jujur sebenarnya jika buta karena cahaya menusuk ini pun, aku tak perduli. Aku juga tak akan menghiraukan jika tiba-tiba ada hujan kunai yang menyayat habis tubuhku. Asalkan ada jaminan yang kudapat setelahnya. Hanya satu yang kupinta.

Asalkan aku tak melihatnya.

Asalkan aku tak melihat DIA hadir disini, muncul disini, berdiri di depanku lagi. Aku akan menyerahkan segalanya agar aku tak melihat DIA muncul kembali di mimpiku kini. DIA yang dulu berjanji padaku untuk tidak pernah meninggalkanku, disaksikan sekian ribu aliansi ninja 5 negara, tepat 5 tahun lalu.

Namun ternyata sungguh-sungguh sial. Kali ini, di tempat yang sama, di mimpi yang sama. Aku kembali melihatnya.

Hatiku seakan benar-benar hancur. Lantas ku berlari mengejarnya, memegang erat tangannya sebelum beranjak lebih jauh, lalu kurasakan air mataku mulai mengalir.

"N-Naruto-Kun…! Kau mau pergi kemana?"

Dan sosok yang berdiri di depanku ini menoleh, memandangku dengan senyum. Naruto berbalik badan, menyentuh rambut soft pink-ku sambil mengelusnya lembut di belakang telinga, seraya katanya,

"Aku tak akan pergi kemanapun, kenapa kau khawatir sekali?"

"Karena kau mengucapkan sampai jumpa! Sebenarnya kau mau kemana…UKH!"

Dan aliran tangis lemah seketika berubah menjadi jeritan menyayat. Membuatku tak sempat melihat shappire-nya membulat, lalu katanya.

"Aku memang akan pergi, namun hanya sebentar, aku pasti kembali kok." Gumamnya. Aku memandangnya nanar. Memastikan tak ada kebohongan di dalam shappire lembutnya. Diantara nafasku yang sesak, aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat,

"T-Tapi…! Tapi…!"

Dan kalimat ku tiba-tba terputus, bak pemain drama yang melupakan skenario yang diketik sang sutradara. Aku tak tahu harus berkata apapun lagi kecuali….

"….Tapi entah kenapa aku merasa bahwa dirimu akan pergi selamanya, Naruto-Kun…? Kenapa…? Kenapa…? Hiks….Hiks…."

"Tidak Sakura-Chan… Tidak sama sekali. Aku hanya akan pergi sebentar saja. Ada keperluan yang harus kupenuhi. Sangat penting."

Tangannya masih mengusap rambutku yang masai bercampur hawa tangis. Telunjuknya menghapus tarian air mata dari pipiku. Sembab. Aku benci, tak berani lagi memandang wajahnya. Aku baru saja menyampaikan sebuah perasaan yang tertumpuk dan sudah mencekik hati dan rasaku sejak lama, namun bagiku itu belum menyelesaikan semuanya. Ada sebuah ketidakpuasan yang hadir dalam hatiku.

Naruto menghembuskan nafasnya, Mengangkat wajahku ke pandangannya dengan kedua tangannya. Dia menatap emeraldku dalam. Memberikan sebuah isyarat bahwa dia menyayangiku, mencintaiku, akan terus melindungiku dan tak akan pernah pergi meninggalkanku. Dia tersenyum lebar, membuat air mataku berhenti dan bibirku tertarik keatas, tipis.

Namun senyumku berubah menjadi raut takut yang sangat, air mataku kian membanjir tatkala tangan kekar yang mengapit wajahku tiba-tiba pecah menjadi serpihan, mengikuti sosoknya yang menghilang perlahan dari atas.

"N-Naruto-Kun!"

Sosok ini memaksakan senyum lembut diantara wajahnya yang hampir habis tak terlihat, lalu hilang terbuai ruang cahaya menyilaukan.

"N-Naruto-Kun….! TIDAK….!"

Senyum itu bergerak melebar, mengucapkan kata-kata membuatku terkena serangan jantung yang kian menghebat.

DEEGH..!

"Jaa ne…..ore-No Hime…."

Serpihan-serpihan penuh warna seperti pelangi yang kian mendekati wajahnya menarik sosok dari hadapanku, pelan namun pasti, Naruto lenyap.

"Tidak….!"

Sakura!
"TIdak…..!"

Sakura!
"Tidak…..!"

"SAKURA-CHAN!"

Dan mataku terbuka paksa, menarikku dari alam mimpi buruk dengan amat keras. Mataku mendarat pada bulatan tragis shappire yang memandangku dengan penuh kekhawatiran. Rambutku basah karena keringat dingin yang merembes. Detak jantungku masih berkejar-kejaran. Aku mengatur nafas yang tersengal, menelan ludah seraya memandang kosong tanpa daya pada Naruto yang sedang memandangku dari atas. Kakinya masih berada dibawah selimut, namun setengah badannya ke atas bertumpu duduk pada pinggul.

Aku menelan ludah, berusaha merangkai rasio acak ikatan otakku.

Mimpi….

..ini mimpi…

..Yah… ini mimpi….

Naruto bangkit dari bed, mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral. Aku baru saja akan duduk dan menolaknya, namun kelakuanku ini malah membuatnya bertambah mudah menawarkan gelas air itu padaku. Aku terhenyak. Tak mampu mengelak lagi.

"Minumlah dulu."

Kusambut gelas air putih yang hadir di depan hidungku ini dengan setengah hati. Namun anehnya -entah karena memang takut atau tegang- hanya dalam hitungan detik kemudian kuhabiskan isi dari gelas itu. Naruto meraih kembali gelas, menaruhnya lagi di atas meja. Matanya gelisah, aku tahu dari wajahnya kalau dia sekarang amat khawatir memikirkanku.

Dan tatkala dia duduk di sampingku, tangan kekarnya membopongku lembut. Aku tak menolak saat jemarinya menghapus jejak tangis yang tercetak di pipiku. Bodoh, aku seakan tersadar. Aku menangis. Aku menangis dalam mimpiku. Mimpi buruk.

Dan suara Naruto menarikku dari ambang khayal,

"Apa yang tadi kau mimpikan, Sakura-Chan?" tukasnya. Aku mendelik, lalu kataku,

"Ahh….E-ng…. Tak apa-apa. Hanya mimpi-"

"-Buruk?"

kimi ga naita, naita, naita,
Lie Lie Lie
boku ha shitta
aida no koida no kankei nai

Kau menangis, menangis, dan menangis,

(Lie Lie Lie) Dusta, Dusta, Dusta

Aku tahu

Bahwa sungguh cinta dan romantisme bukanlah masalah

Naruto memotong kalimatku dengan kata yang baru saja ingin ucapkan untuk mengakhiri jawabanku . Aku mengangguk pasrah. Naruto mendekatkan wajahnya padaku, bibirnya mendarat lembut di keningku. Aku mendongak, dan kutahu dia berkata lagi,

"Kau berteriak-teriak dalam mimpimu sambil menangis. Dan kau meneriakkan namaku, Sakura-Chan. Kau bilang 'jangan pergi' Itu membuatku khawatir….." Cetusnya.

"….Bisa kau ceritakan padaku mimpi apa kau tadi?"

She says Good-bye
wakare mo e ni naru AKUTORESU
in my eyes
I say Good-bye
tame ikuderu hodo kirei na
in the moonlight

Dia ucapkan 'Good-Bye'

Meski kita berpisah, kau bagaikan sepotret aktris

Dimataku

Aku ucapkan, 'Good-Bye'

Dia sungguh cantik dibawah sinar rembulan

Dan itu membuatku menghela nafas.

Dan aku hanya tercenung. Tak berani kupandang wajahnya lagi. Aku rela kalau sekarang ini dia mungkin marah karena aku tak mau jujur. Bagaimana lagi, bukannya tak ingin menceritakan mimpiku, namun memang sejak awal aku sudah bertekad kalau mimpiku tak akan pernah kuceritakan. Ini mimpi buruk.

Dan seburuk-apapun kehidupan kami, aku dan Naruto sudah siap untuk menghadapi semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi hingga akhir hayat. Terutama soal perasaan. Aku menyanggupi hal itu. Bagi kami, saling berterus terang adalah hal yang paling penting.

Namun hatiku serasa goncang, karena sepertinya aku harus benar-benar ingkar janji sekarang. Aku benar-benar tak berani untuk membuka mulut.

Dan sebuah keajaiban terjadi.

Saat aku bersiap menunggu omelan dari Naruto, suamiku ini malah tersenyum lebar, lalu merebahkan tubuhnya santai diatas kasur. Matanya beredar di langit-langit kamar.

"Kalau tak mau sekarang cerita juga nanti saja…."

Mataku membulat,

"…..Yang penting kau harus cerita. Oke, Ne?" Lanjutnya lagi. Dia kembali bengkit, menyentikkan telunjukknya di atas hidungku, lalu cengengesan. Naruto kian membaringkan dirinya lagi, membelakangiku. Aku belum sempat menjawab saat dalam sekejap, dengkuran halusnya terdengar.

Aku kikuk, namun sedetik kemudian bibirku yang masih merekah kaku lantas menunggingkan senyum.

Aku berbaring perlahan seraya menarik selimut ke atas dadaku yang terbalut daster. Aku mendongak sebentar ke arah punggung Naruto yang benar-benar terlelap. Kuusap rambut kuningnya pelan, lalu kurangkul dirinya hangat.

END of Flashback

Normal POV

Dan sejak bangun tidur hingga Naruto berangkat ke kantor Hokage, Sakura berulang kali minta maaf.

Dan kau tahu apa yang terjadi?

Naruto dengan santai mengibaskan tangannya dan berucap,

"Tak usah kau pikirkan, aku tahu kau kelak akan cerita kalau waktunya sudah tiba. Bukankah sudah kubilang tadi?"

Mungkin kalimat tadi sempat menenangkan Sakura yang tahu betul watak suaminya yang periang, Sakura amat yakin itu. Namun baru dua menit Naruto meninggalkan rumah, kata-katanya yang dimaksudkan untuk menghibur dirinya malah seakan menambah beban.

Beban akan ketidakjujurannya.

Oh nanka tari nai nanka tari nai kimi ga mou inai
Oh yappa tari nai yappa tari nai kimi ga mou inai
kanari naita naita naita
Cry Cry Cry
Boku ha naita,
Honto ha kimi shika inai inai inai

Oh tada naita naita naita
Cry Cry Cry
Boku ha Liar

Lie-La-La Lie-La-La Lie Lie Lie
Lie-Lie-Lie-Lie-la-LieLie-Lie-Lie-la-Lie...
Lie Lie Lie...

Oh... Itu sungguh tak cukup, ada sesuatu yang kau biarkan terlewat
Oh... Itu sungguh tak cukup, aku tak bisa merasakan celah yang kau tinggalkan

Kau benar benar menangis, menangis, menangis

Cry Cry Cry (menangis menangis menangis)
Dan aku pun menangis

Karena kaulah yang benar benar kumiliki, benar benar kumiliki, benar benar kumiliki

Oh... Kau hanya menangis, menangis, menangis
Cry Cry Cry (menangis menangis menangis)
Aku seakan menjadi pendusta

Lie-Lie-Lie-Lie-la-LieLie-Lie-Lie-la-Lie
Lie-Lie-Lie-Lie-la-LieLie-Lie-Lie-la-Lie...
Lie Lie Lie...

Dan itu pula yang membuat perempuan muda ini ragu untuk melangkah menaiki tangga kantor desa. Sekian hari sudah ia tersiksa dengan sebuah perasaan aneh hasil produksi mimpi buruknya ini, dan ia sudah bertekad untuk memecahkan masalah ini . Sendiri.

Maka sejak Naruto berangkat pula, Sakura berniat untuk mengambilnya dari Naruto.

Mengambil apa?

Dan ide konyol itu baru saja matang di sini, di bawah anak tangga kantor Hokage.

Sekian menit dia berdiam diri, hingga akhirnya kakinya menapak perlahan, menaiki anak tangga satu demi satu.

######

Naruto membaca setiap rinci setiap laporan yang datang pagi ini ke kantornya. Wajahnya serius. Kali ini yang duduk di kursi Hokage adalah sosoknya yang asli, guna melakukan kontrol langsung dari kantor Hokage. Sebagian bunshin-nya disebar di pos-pos penjagaan dan militer. Mengecek keadaan tiap-tiap pos setiap satu jam sekali.

Otomatis, setiap kejadian penting langsung dapat dilaporkan padanya. Semua laporan menjurus pada titik yang rata-rata sama, dan memang itu yang ia ingin dengar. Paling tidak, Naruto bisa memastikan kalau Konoha harus siap saat serangan datang.

Harus siap.

Apapun yang terjadi harus siap.

Naruto memperhatikan lembaran laporan dalam map berikutnya. Diperhatikannya tabel yang mencantum sekian nama dan biodata singkat. 5 menit berlalu dan dia mendengus.

Jadi ternyata 'Si Raja' berikutnya belum ada yang sanggup? CIH!

Naruto mendecih kesal.

Bukan tanpa alasan Naruto mengumpat tadi.

Alasannya jelas, sebab-musababnya juga sudah tentu mengecewakan;

Karena untuk sementara ini tak ada Jounin generasi baru yang bisa betul-betul berguna selain beberapa orang. Itu pun wajah mereka sudah terlalu familiar dengannya. Konohamaru, Udon, Moegi, Hanabi. Dan ada sekitar sepuluhan nama lain yang pantas dijadikan sandaran berikutnya.

Hanya sepuluh? Oh, ayolah kawan, Ini sama sekali tidak lucu! Kenapa kualitas bertambah tapi kuantitas juga tidak melonjak?

Konohamaru Team mungkin sedikit bisa diandalkan, namun yang lain?

Tahan, Naruto. Sabar-sabar. Baru setahun sistem ini berjalan, pasti akan berujung pada kesuksesan nanti.

Naruto mengubah sistem ujian akademi ninja menjadi setingkat lebih rumit. Dan ini berlaku dari rapat pertamanya dengan petinggi Konoha. Neji yang bertugas mengurusi akademi secara umum pun setuju, karena dengan diperketatnya ujian kenaikan tingkat ninja, membuat presentase peremehan ujian menurun drastis, yang berujung pada prestasi rata-rata akademi ikut meningkat sejak 5 tahun terakhir.

Namun tentu berefek samping; Jumlah peserta ujian kenaikan tingkat baik Chunin ataupun Jounin menurun hingga 40%. Kualitas meningkat, kuantitas menurun.

Dan dengan peningkatan kualitas yang ada ini membuat Naruto sumringah. Kenapa kuantitasnya juga tidak turut naik?

Masih soal waktu, gumam Neji saat itu. Dan Naruto pun mengakui perkataan Neji tatkala itu adalah benar adanya. Dalam waktu yang cuma setahun dia memerintah ini tak mungkin langsung membuahkan hasil yang signifikan begitu saja.

Dan sekarang masalah itu menambah sedikit persenan penat yang bersarang di kepala Naruto. Hanya ada satu pertanyaan yang bersarang di kepalanya waktu itu.

Apa benar-benar hanya kami yang bisa melawan mereka? Tanpa ada kader-kader baru?

Kuso! Sekali lagi Naruto mengumpat. Memisahkan map biru ini kepojok meja dengan kasar, membedakannya dengan tumpukan laporan lain yang dengan manja menunggu. Naruto beralih membaca.

Dan pintu terbuka. Naruto melirik sebal kearah pintu, namun sontak berubah saat melihat sosok pinky manis memasuk ruangan, di tanganya memegang bento berwarna biru.

"S-Sakura-Chan…."

Naruto lantas memaksakan senyum simpul pada Sakura. Ia menghitung-hitung, berarti ini hari kelima Istrinya mengantarkan bekal kalau dihitung dari hari pertama kali Sakura datang ke danau. Sakura mendekati Naruto, berdiri di samping suaminya sambil menunduk, tersenyum manis. Naruto paham akan maksudnya. Dia bangkit lalu mengecup manis dahi Sakura, sekedar melepas rindu. Naruto Lalu berjongkok, menarik pinggul Sakura kedepan wajahnya hingga dapat mencium perut besarnya.

Dan sosok di dalamnya seakan tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa getaran yang mengundang kontraksi kebagian atas tubuh Sakura mengatakannya.

"A-Aaakh…!"

Tangan Sakura menghalau titik dimana tadi Naruto mencium perutnya. Calon bayinya sehat, amat sehat. Dan pastinya selama delapan bulan sudah Sakura melewati masa kehamilan, bukan sekali dua kali Sakura mendapat 'tendangan' seperti itu. Naruto kaget.

"Daijobu, Sakura-Chan?"

"Aah, e-eng..tak apa, dia hanya 'menendang'." Gumam Sakura. Naruto melengos, wajahnya menampilkan rasa bersalah.

"Hei, tak usah pasang wajah begitu. Lagipula ini sudah biasa, khan?" Sergah Sakura sambil berusaha menarik senyum meski otot perutnya masih menahan rasa nyeri yang menyentak. Naruto mendongak kearah istrinya, memastikan tak ada kebohongan meskipun sedikit. Sakura tersenyum meyakinkan.

Naruto lalu tersenyum tipis, berdiri, mengambil kursi yang menganggur di sudut ruangan, menaruhnya di samping kursi pribadinya lalu kembali duduk. Membiarkan Sakura yang pasti langsung sedikit kikuk dengan perlakuan 'no comment' barusan. Naruto diam saja.

Sepertinya untuk urusan berbohong, aku lebih pintar darinya. Batinnya.

Naruto tak menoleh pada Sakura sedikit pun saat kembali membuka-buka laporan yang masih kurang dari 11 map lagi menumpuk dimejanya. Dan Sakura menangkap kesan itu. Kesan serius itu muncul lagi.

Dan Naruto memang sengaja sedikit mempermainkan istrinya soal 'no comment' barusan. Naruto yakin Sakura akan menyimpulkan bahwa ' Namikaze Naruto suamiku sedang dalam keadaan tidak biasa. Dan aku harus mengetahuinya kenapa.'

Namun untuk pengecekan laporan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kejadian itu. Naruto benar-benar menunjukkan tajam shappire-nya kali ini. Dia benar-benar serius.

Semenit berlalu membuat Sakura terdiam tanpa ada kelanjutan sambutan hangat dari suaminya. Sakura merasakan kakinya serasa membeku. Dingin. Sakura melirik suaminya, menaruh bento diatas meja, lalu menggenggam erat bahu Naruto.

"Sedang sibuk, ya?"

Dan kata-katanya barusan sepertinya berhasil membuat Naruto mulai mencair dalam keseriusannya, ditaruhnya map yang belum ada dua menit dibacanya itu.

"Sepertinya ya, Ne…." Naruto menjawab sekenanya. Suaranya lirih, namun kedua tangannya mengatup di depan mulut. Membuatnya seakan lebih sedang memikirkan sesuatu yang penting dari pada sekedar membaca laporan. Sakura ber-ooh... ria tanpa suara tanda mengerti.

"...Dan mungkin itu akan membuatmu khawatir kalau kau tahu." Lanjutnya lagi. Sontak Sakura mengangkat alis.

"Memangya, kenapa, hei?" Sergah Sakura kini. Tangannya bergelayut manja di bahu Naruto. "Kita khan biasa bicara bareng, kau lupa tentang masalah kurikulum akademi itu? Jangan lupa kalau Bunga di sampingmu ini yang juga turut andil dalamnya, Baka." Sakura lantas terkekeh, berharap akan jawaban manja ,"kenapa ada baka-nya diakhir?" atau "Ya, wakattattebayo."

Namun ternyata tidak.

Dua jawaban yang biasanya keluar dari mulut Naruto dalam perbincangan semi-resmi ini seperti sekarang ini tak keluar sama sekali. Naruto tetap bergeming. Matanya menatap tajam kedepan. Tanpa respon sama sekali pada Sakura. Maka jelas, perempuan muda berambut soft pink ini merasa semakin terasing.

"…Masalah ini terlalu berat, Sakura-Chan." Cetus Naruto kini, shappire-nya yang menatap tajam melirik sedikit pada emerald,

"…..Konoha akan diserang."

Dan sontak, emerald disampingnya membulat.

"A-Apa? Diserang? Maksudm-!"

Mimpi itu...! Jerit inner Sakura,

Dan seperti yang tiga hari kemarin di danau, Sakura merasakan dirinya kembali terkena serangan jantung ringan. Matanya sesaat membulat, lalu membatin.

Naruto, apakah-….

Sakura lantas tak melanjutkan khayalnya lagi tatkala pintu kantor Hokage terbuka. Shikamaru masuk,

"Sumimasen Hokage-Sama…." mendekati meja Hokage, lalu gumamnya,

"….Tetua memanggil, sekarang."

Naruto mengrenyit, sekarang?.

Ia mendengus sesaat, lalu katanya,

"Sekarang ini? Bukannya dua jam lagi?" Shikamaru menggeleng,

"Aku juga tak tahu pasti, namun mereka sudah berkumpul di aula, menunggu kehadiranmu. Aku akan pergi dulu memanggil Kakashi Sensei dan yang lain. Kau pergilah dulu, Naruto." Cetusnya.

Naruto memberi isyarat dengan mata. Shikamaru mengangguk. Jarang sekali setahun ini dia memanggil nama orang di depannya ini dengan nama asli. Pemuda nanas ini melambaikan tangan, lalu pamit.

Naruto menatap sosok kosong yang kini sudah tak ada ditempatnya. Baru akan berpaling kembali pada istrinya yang makin terlihat tegang sejak Shikamaru datang tatkala 2 orang ANBU kini menyeruak masuk entah dari mana, lalu membungkuk hormat.

Naruto memberi isyarat pada ANBU di sebelah kanan, ninja spesialis suiton, elemen air level-S ini mendongak lalu bergumam,

"Sumimasen, Hokage-Sama!"

"Bicaralah," Sergah Naruto.

"Kekkai lapis dua desa sudah diperkuat menjangkau jarak 2 kilo luar kekkai lapis pertama sesuai perintah. Pelapisan lebih lanjut akan siap dilaksanakan sewaktu-waktu. Laporan selesai!"

"tak perlu. Kembali ketempat dan perintahkan semua jounin untuk bersiaga tingkat 2-1. Siapkan perintah untuk menginstruksi ke barak aman sewaktu-waktu. Laksanakan! "

"Hai!"

"Kau, yang di sampingnya, laporkan!"

" Penjagaan di delapan titik sudah dipersiapkan. Menara dengan alat berat sudah disiapkan 16 buah, masing-masing ditempatkan sepasang di masing-masing titik. Jadwal piket kedelapan menara sudah ditetapkan dengan waktu 3X8 jam sehari. Laporan selesai!"

"Bagus, sampaikan pada divisi logistik untuk menyiapkan pasokan pangan seperlunya. Bekerjasama dengan mereka untuk gerakan lebih lanjut, hubungi Shizune-San dan Godaime Hokage untuk koordinasi bidang medis! Kembali ketempat!"

"Hai!"

Dan sosok dengan topeng beruang barusan sudah lenyap begitu saja, mengikuti jejak temannya yang barusan datang bersamanya dengan topeng ayam jago.

Sekarang kembali hanya Naruto dan Sakura dikantor ini. Sang Rokudaime bangkit dari duduknya, menatap Sakura nanar. Shappire-nya menyala-nyala, dan Sakura benar-benar tak mau melihatnya seperti ini.

Terlalu kejam. Begitu batinnya.

"A-Ada apa Naruto? Kenapa sepertinya genting sekali? Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tak pernah cerita padaku?"

"…..Karena kau tak perlu tahu, Sakura-Chan. Aku paham kalau kau amat ingin membantu, tapi tugasmu sekarang adalah duduk di rumah dan menunggu, okay?" Dielusnya rambut sewarna cherry yang tergerai sebahu milik Sakura, namun Sakura berang. Ditepisnya tangan tan Naruto. Lalu nyaris menjerit tajam,

"Tapi aku harus tahu, Naruto!" Sakura menekan suaranya yang mulai melengking.

"Kau tak tahu apa aku bisa menahan diriku atau tidak jika rasa penasaranku masih ada? Apakah salah jika aku tahu?" Lanjutnya. Naruto mengangkat alis. Namun seakan tak perduli, Naruto membingkai wajah cantik istrinya dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengecup keningnya lembut. Membuat rona merah sontak muncul di kedua belah pipi Sakura.

"Tidak."Katanya, " Kau sama sekali tidak salah, kau berhak tahu. Sakura-Chan…."

"…...Namun mungkin bukan sekarang. Kau akan tahu jika waktunya tiba." Naruto mengakhiri kalimatnya dengan senyum. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, tak rela jika dibiarkan terperangkap dalam rasa penasaran seperti ini.

"Dakedo, Nar-"

"Sekarang pulanglah." Potong Naruto cepat." Aku janji akan pulang tepat waktu malam ini, jadi kuharap akan ada makan malam yang romantis untuk kita berdua, hm? Akan kumakan bekal ini setelah rapat nanti."

Tangan Naruto bergerak merangkul, mendekap Sakura hangat. Naruto membiarkan bidadarinya ini merasakan detak jantungnya. Istrinya tak melawan, membayangkan rengkuhan Naruto membawanya beberapa saat ke awang-awang. Sakura menarik badannya saat merasa dekapan suaminya kian renggang, lalu katanya,

"…..Baiklah, aku akan pulang. Kau harus janji pulang cepat malam ini, kalau tidak…"

Sakura kian mengesalkan dengan senyum yang memotong kalimatnya ini, Naruto kikuk. Beberapa detik melihat suaminya salah tingkah, Sakura menjulurkan lidah, membuat Naruto sweatdrop.

"…..Nanti kupastikan tidak ada lagi ciuman selamat pagi untukmu hey, S-U-A-M-I-K-U tercinta!" Sergahnya kini, lalu tertawa riang. Naruto masih kikuk, lalu dua detik berikutnya kemudian tertawa renyah mengikuti.

"Heh, tapi kalau aku bisa pulang tepat waktu malam ini, berarti aku akan dapat ciuman 18 kali sehari donk? Hey-ADUH!"

Sebuah jitakan mendarat di kepala Rokudaime. Naruto meringis, Sakura melipat dada, mendengus, seraya memalingkan wajah.

"Dasar mesum!"

Naruto cemberut, lalu katanya,

"Sakura –Chan kejam sekali. Hey, aku menyerah, ikut-kata-katamu saja, Ne. " Naruto mendekap istrinya dari belakang, mengigit sedikit telinga Sakura, memaksanya untuk mendesah kegelian,

"Iiih…! Naruto, geli! BAKA!" Jerit Sakura, namun tak dilepaskannya rangkulan suaminya. "Pokoknya kau harus janji, dan tidak ada tapi-tapian!"

"Iya, aku janji, Ne. Kau tahu aku tak pernah bisa berbohong padamu, khan?"

"He-em, ya! Ya!" Sakura melepaskan diri dari pelukan Naruto, berdiri di depannya lalu mengecup pipi kanan-kirinya. Agresif, membuat ninja yang –yang tak pernah bisa diprediksikan- di Konoha ini kian melongo.

Sakura menarik Naruto keluar dari meja Kage, lalu mendorongnya kearah pintu.

"Yang tadi kuanggap tanda setuju perjanjian kita. Kau terima atau tidak, aku tak perduli. Sekarang, kumpul sana! Nanti para tetua kelamaan menunggumu. "

Naruto tetap kikuk, namun Sakura kian mendorongnya lagi, kini semakin mendekati pintu kantor Hokage.

"Hey…hey….Sakura-Chan. Aku bisa jalan sendiri kok, tak usah didorong begitu…." Timpalnya,

"….Iya, aku janji." Naruto berdiri di depan pintu sesaat, memandang istrinya heran, menangkap suatu hal yang ganjil menurutnya, lalu matanya membulat.

"Eeeh… Sakura-Chan tidak pulang?"

Dan gadis didepannya menggeleng.

"Aku sedikit kangen dengan suasana ruangan ini. "jawabnya. "Jadi kupikir tak ada salahnya jika aku berdiam dulu, sekedar reuni."

Naruto tersenyum mendengarnya. Ia berbalik, membuka pintu. Lalu berhenti beberapa saat. Sebelum kembali berbalik badan, menutup pintu yang barusan sudah terbuka. Naruto berjalan kearah Sakura yang berdiri di tengah ruangan.

Naruto mengecup lembut bibir Sakura, yang dibalas pula dengan lumatan lembut. Dua menit mereka berciuman, hingga Naruto menarik bibirnya lalu menarik nafas. Sakura mengikuti, namun tatkala Naruto beranjak meninggalkan, Sakura kaget, tercenung.

Dan sebelum Naruto sempat melangkah lebih jauh. Sakura menahan tangannya. Naruto menoleh, lalu mengerutkan kening.

Sakura menunggingkan senyum, lalu menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuk. Naruto terenyuh.

Istri agresif, bahaya.

Naruto bergerak maju, menahan bibir Sakura dengan telunjuknya sebelum mendaratkan bibirnya sendiri pada dahi putih Sakura. Sang Ratu Emerald kaget bukan main.

Dan kemudian dia merasa sangat malu.

Malu karena apa? Entahlah.

Banyak penafsiran berbau suami istri yang tak mampu diungkapkan secara kritis. Namun intinya, mereka sama-sama ingin melakukannya. Sakura merasa cukup dengan kecupan, Naruto pun sebenarnya sependapat, namun terkadang dia sendiri lebih 'waras' untuk soal ini dibanding Sakura.

Naruto menjauhkan bibirnya dari dahi Sakura. Mendapati istrinya menunduk dalam, memandangi entah apa yang ada di bawah kaki mereka berdua. Naruto melengos, bukan sekali dua kali Sakura seperti ini. Sakura selalu meminta lebih, dan Naruto tak pernah tak mengabulkannya.

Kecuali sekali ini.

"Sakura-Chan," Gumamnya perlahan. Desahan nafasnya menggantung. Naruto tahu bahwa meski resiko apapun yang terjadi dengan ciuman panas macam itu, tetap saja Sakura merasa sedih.

"Aku akan kembali nanti, ya. Kau bisa menungguku satu bulan lagi, khan. Saku-"

Menunggu?

"-Kenapa tidak sekali ini saja?" Sergah Sakura. Naruto tercenung.

" Karena aku harus lebih belajar bersabar, Sakura-Chan." Jawabnya tegas, lalu lanjutnya,

"Kau mau membantuku khan, Ne?"

Sakura tak menjawab. Dia lebih memilih diam hingga tanpa sadar Naruto sudah mendaratkan lagi bibirnya padanya. Sakura kaget, dan dengan lembut membalasnya.

Ajaib, kecupan manis tiada tara itu seakan menyampaikan suatu pesan.

Aku mencintaimu, Ne, dan aku butuh bantuannmu untuk melatih kesabaranku. Apakah kau bersedia, Sakura-Chan?

Tapi aku tak merasa keberatan jika kau mau menciumku lebih dari itu, Ne! Kau tahu aku tak akan pernah melawan…

..lagipula-

Aku hanya minta bantuanmu, Sakura-Chan. Kau bersediakah?

..

Aku hanya memohn bantuanmu, kau mau atau tidak?

..Eengh…..

Yah….Kau menang sekarang, Naruto-Kun.

Kemudian, entah berapa lama mereka berciuman tadi, Naruto dan Sakura saling menjauhkan kedua bibir mereka. Naruto menatap penuh cinta bidadarinya yang kini berani mendongak. Mengacak rambutnya sebelum pergi keluar kantor sambil menunggingkan senyum.

"Naruto-Kun!"

Naruto berpaling,

"Ya?"

"Arigatou… "

Naruto yakin akan terdiam kemudian selama sekian detik kalau Sakura tidak mengulang kata-katanya tadi,

"Kubilang, arigatou, Ne. Karena aku…

.Hontou ni aishiteru yo…..

Naruto-Kun…."

Satu detik….

Dua detik…..

Tiga detik….

Naruto bisa merasakan detak jantungnya serasa tiba-tiba melejit. Kecepatan organ terpenting dalam sejarah manusia miliknya ini langsung seakan terpompa dahsyat, menjalarkan darah ke penjuru tubuh. Senyumnya merekah kian, semburat merah turut menghiasi pipi tan-nya juga. Naruto menyentuh gagang pintu.

Tepat sebelum melangkah keluar, Naruto berpaling kembali kedalam, memandang istrinya dengan tatapan perpisahan yang manis seraya tersenyum lebar,

"Jaa ne… Ore no Hime."

DEEGH!

"Jaa ne, N-Naruto-Kun…."

Tangan Sakura melambai pada sosok yang kini sudah lenyap didepannya. Dalam hatinya yang terdalam dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, namun kian lega beserta detak jantungnya yang semakin bertalu-talu dahsyat. Mungkin dia tak tahu kalau dadanya yang semakin berdebar bertolak amat jauh dengan jantung Naruto yang malah semakin tenang dengan senyumnya yang kian melebar seiring dengan langkahnya menjauhi pintu.

Karena dua kalimat perpisahan tadi benar benar membuatnya jantungan. Kali ini Sakura nyaris sesak nafas. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat seraya menahan isak. Dia tak ingin untuk mengingatnya lagi. Sama sekali tidak.

Mimpi. Sekali lagi mimpi.

Dan entah mimpi apapun itu, rencananya harus tetap sukses. Tinggal satu langkah lagi sebelum mencapai inti dari misimu ini Sakura! Inner-nya tertawa penuh kemenangan.

Meskipun sebutir air mata mulai meluncur melintasi pipi putihnya, Sakura benar-benar ingin tertawa. Tawa pahit.

Tak ada. Sama sekali tak ada jaminan untuk itu.

Jaminan?

Namun tidak ada salahnya mencoba, khan?

Inner Sakura sekali lagi mencoba meyakinkan hal itu. Sakura menarik nafas lega, sentuhan dalam perutnya mengisyaratkan sekian hal yang klise. Dan Sakura hanya berharap anak yang berada di dalam perutnya ini bisa diajak bekerjasama paling tidak untuk saat ini.

"Hei, Ibu pikir tak ada salahnya sedikit berbohong pada Ayahmu, khan?"

Sosok mungil di dalam perutnya ini kembali bergerak, Sakura merasakan adanya sentuhan perlahan yang membalas telapaknya. Sakura tersenyum.

Hingga kemudian senyumnya ini berubah gundah.

Naruto mungkin sudah menjadi amat ahli soal pemerintahan. Namun kebodohannya tetap nggak ketulungan, mungkin.

Dan jujur sekarang Sakura amat mensyukuri hal itu. Sangat bersyukur dan tidak ada lain lagi kata yang bisa diungkapkan untuk ini.

Karena bagian dari rencananya sudah berjalan mulus, dan jikalau Naruto sedikit lebih pintar dari ini mungkin rencananya akan sedikit dipersulit karena butuh waktu yang sedikit banyak akan lebih tercurah untuk mengambil benda itu. Benda itu.

Emeraldnya mendarat pada sebelah kiri meja Hokage. Benda itu ada disitu.

Gulungan rahasia yang selama ini membuatnya terus berprasangka buruk ada disitu. Bersandar tegak pada meja Hokage. Sakura mungkin tak bisa terus berspekulasi dalam dugaan semata bermodalkan pengamatannya selama 4 bulan ini. Naruto mungkin biasa membawa gulungan di punggungnya dalam mode Sannin, ataupun saat berpergian dengan jubah Hokage. Namun untuk yang empat bulan ini?

Sakura entah dapat ide dari mana untuk curiga. Gulungan yang ini bukan gulungan yang biasa dibawanya dalam mode itu.

Percaya atau tidak, tapi Sakura amat yakin.

Dan hanya ini kesempatan untuk membukanya. Hanya kali ini.

Gulungan misterius itu hanya bisa dibuka kali ini.

Diam-diam Sakura menahan nafas saat tangannya terulur pada gulungan merah di depannya ini. Selangkah lagi.

Dan Sakura kini telah benar-benar menyentuh gulungan itu. Sakura menelan ludah,

"Naruto-kun…gomen-ne…"

######

Hingga akhirnya waktu pun pelan perlahan berlalu, detik-detik berganti, memutar matahari dari ufuk hingga kembali ke ufuk. Terus menerus, hingga tanpa terasa 4 hari terlewati. Naruto dan Rookie 12 tetap menyibukkan diri untuk menyambut hari yang akan menjadi sebuah siang yang panjang. Dibantu para ANBU dan jounin generasi baru, Mereka bangun pagi-pagi, menunggu matahari terbit dengan penuh ketegangan. Barak pengungsian sudah dibangun lewat jalur rahasia.

Maka tinggal 1 hari lagi sebelum hari itu.

Dan saat perintah untuk mengungsikan seluruh penduduk Konoha baru saja diturunkan, Saat matahari belum terbit, saat para Jounin dan ANBU yang sedang sibuk di tower dan pusat kontrol kekkai sibuk dengan melawan rasa bosan dan kantuk yang luar biasa, saat dimana pertahanan Konoha tidak dalam keadaan penuh. Saat dimana Konoha berada dalam keadaan lengah.

..….

..

..

….….

Segerombolan orang dengan kimono hitam berlapis jubah putih menjulur berjalan melintasi sebuah gerbang ghaib yang terbuka lewat sebuah lubang di langit. Lubang itu berputar, seperti pintu dimensi dan memunculkan ruang pintu khas rumah adat Jepang. Katana yang menggantung di kimono mereka terayun-ayun, gagah, angkuh, dan dingin.

Kecuali yang sedang berjalan di depan, seorang dengan kimono hitam legam berdisain jas dan rambut jabrik oranye. Pedang hitamnya mengacung kedepan, untaian rantai yang memanjang sekitar 20 senti di gagang pedangnya yang terlihat lemas. Menipu.

Karena pupil coklatnya memancar sebuah kebencian.

Gerombolan ini turun perlahan, melayang di langit beberapa detik sebelum akhirnya menapak tanah, berjalan mengikuti jalan hutan Konoha yang setapak. Baru beberapa langkah saat mereka tiba-tba berhenti.

"Kekkai, heh?" Gumam Hitsugaya. Mata zamrudnya memicing, memandang beku pada lapisan chakra yang terlapis sepuluh langkah di depan mereka, lalu mengumpat.

"Memuakkan."

"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ichigo?" Sergah Kurotsuchi, matanya berputar-putar. "Sepertinya akan sedikit menghambat jika kita tak temukan cara cepat untuk membuka kekkai pelindung ini."

Tak ada suara, Bahkan Yamamoto yang seorang Kapten Komandan pun tidak. Mereka menunggu.

Pemilik mata coklat ini terdiam. Bukan tanpa alasan dia tak langsung menjawab pertanyaan Kurotsuchi. Dalam sel-sel otaknya terlintas sesosok gadis bermata violet manis gelap. Rambut hitamnya seakan mengayun, terus memanggil Ichigo dalam diamnya. Gadis dalam pikirannya tersenyum penuh cinta. Tangan kirinya mengelus perutnya yang kian membesar, hingga orang yang melihatnya akan menyangka gadis eboni setinggi 143 senti ini ditelan oleh janin yang dikandungnya. Tangan kanannya melambai lembut pada Ichigo, seraya mengucapkan kalimat yang selalu didengar Ichigo setiap pagi.

"….Hati-hati dijalan, Ichigo. Jangan lupa cepat pulang untuk makan malam, Aku dan anak kita menunggu…"

Ichigo menghela nafas. Matanya menutup sedetik,

"...Rukia... doakan aku dari sana, cintaku..."

Matanya membuka, aura reiatsu hitam legam muncul. Melingkupi tubuh Ichigo, namun sesaat kemudian berhenti saat Ichigo mengayunkan tangan kedepan mukanya, menarik reiatsu hitam untuk mampir kesana, meninggalkan sebuah topeng bercorak putih dengan pola oranye bergaris melintang kedua matanya. Tak ada yang berubah dari penampilan wajah Ichigo, kecuali matanya yang coklat berubah menjadi kuning, menyipit tersembunyi di balik topeng. Mengundang belasan pasang mata yang mengelilinginya beralih padanya.

Ichigo baru saja mennyerap energi YIN negatif milik zanpakutounya untuk meningkatkan daya kekuatannya dan teraplikasi dalam wujud topeng putih bercorak. Hollow.

"Tak usah buang-buang tenaga untuk yang satu ini. Hanya butuh sebuah serangan langsung berkekuatan penuh untuk menjebol kekkai sial ini, kalian semua, tolong mundur sedikit." Suaranya mendua. Seakan ada dua orang di dalam sana.

Dan reiatsu hitam legam kembali datang , kali ini membungkus zanpakutou-nya. Ichigo menarik pedangnya keatas dan mengayunkannya kuat-kuat kearah kekkai yang mendinding tepat saat para Shinigami mendaratkan kakinya di atas tanah beberapa langkah di belakangnya.

"…Taring Langit Pembelah Bulan…..

..GETSUGA TENSHOU…!"

Dan letupan energi sewarna dengan reiatsu meluncur, membentur kekkai dengan keras. Energi hitam itu tertahan di atas kekkai selama beberapa detik sebelum suara retakan seperti kaca perlahan terdengar di masing-masing telinga Shinigami.

K-KREK…

KR-KRAAK….!

Dan kekkai lapis kedua Konoha pun pecah.

.

.

.

~~~TBC~~~

######

Fiiuh…. Semakin hari semoga ni ffn nggak semakin GAJE… hehehe…. IchiRuki NYASAR? -sori numpang lewat- *DIRASENGAN* hohohoho… (^-^)m

Huh, ane dah kehabisan hyourogan nih, nggak usah banyak khutbah lagi! Bisa tolong dikirim sedikiiiiiiit aja buat ane…? ( ^_^)