::

Sungmin melirik ke arah Kyuhyun dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Kyuhyun tampak sangat marah, sedikit menakutkan.

Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman. Tetapi walaupun begitu, jantung Sungmin serasa berpacu ketika Kyuhyun semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan.

Kalau gaya Kyuhyun menyetir seperti ini, dia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Sungmin berjanji dalam hati, melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar.

Kenapa Kyuhyun tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?

*** CRUSH IN RUSH ***

Mereka sampai di apartement Kyuhyun dan lelaki itu masih membisu, membuat suasana tidak enak, lelaki itu lalu membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Sungmin masuk,

"Silahkan, anggap seperti rumah sendiri." Kyuhyun bergumam memecah keheningan, dia lalu masuk di belakang Sungmin dan membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi.

Lama kemudian suasana tetap hening sehingga Kyuhyun menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya ketika melihat Sungmin masih berdiri di sana dengan gugup di dekat pintu sambil meremas-remas jemarinya.

"Kenapa kau masih berdiri di situ?" Kyuhyun tampak terkejut menatap Sungmin.

Pipi Sungmin merah padam, dia tampak malu, "Eh... aku... aku tidak tahu harus kemana..."

Kyuhyun menghela napas panjang menghadapi kepolosan Sungmin, perempuan ini luar biasa polosnya hingga Kyuhyun merasa menjadi serigala yang sedang berusaha menerkam gadis kecil bertudung merah yang tidak tahu apa-apa.

Dengan sedikit gusar Kyuhyun berdiri, merasa agak menyesal karena suasana hatinya yang buruk membuat Sungmin terkena imbasnya. Ya. Telepon pengacaranya tadi benar-benar merusak moodnya. Kyuhyun langsung menutup telepon setelah mengucapkan penolakan yang kasar, tidak memberi kesempatan pengacara ayahnya untuk berbicara.

Dasar lelaki tua yang kurang ajar. Meskipun tahu itu salah, Kyuhyun terus menerus mengutuki ayahnya. Seenaknya saja dia berusaha kembali mengatur kehidupan Kyuhyun setelah dulu dia meninggalkan Kyuhyun dan ibunya, apakah dia pikir Kyuhyun adalah manusia yang tertarik dengan gelar dan harta? Tidak! Lelaki tua itu seharusnya tahu betapa puasnya Kyuhyun karena menolak permintaannya, Kyuhyun bahkan akan sangat senang kalau lelaki itu memohon dan menyembah-nyembahnya dan dia akan tetap menolak permintaan lelaki tua itu dengan puas.

Setelah menghela napas panjang, Kyuhyun menatap Sungmin yang tampak kebingungan dengan ekspresinya yang berubah-ubah. Kasihan juga gadis ini. Harinya sudah buruk dan Kyuhyun yakin demamnya masih belum begitu reda, sekarang harus menghadapi emosinya pula.

"Kemari, akan kutunjukkan kamarmu. Sebenarnya ini kamar yang sama yang kau tempati ketika kau sakit." Walaupun begitu Kyuhyun tidak bisa menahan suaranya yang terdengar ketus, "Lain kali jangan bersikap canggung di sini, kita hanya berdua dan sikap canggungmu membuat suasana tidak enak. Lakukan apa yang kau suka, anggap saja rumah sendiri, kalau kau ingin menonton televisi silahkan, kalau kau ingin membuat makanan silahkan, lakukan apa saja yang kau suka, nanti kita akan membahas beberapa aturan, apa yang boleh dan tidak boleh di rumah ini, tapi sekarang kau boleh beristirahat dulu. Aku juga lelah, mau tidur siang." Sambil terus berbicara, Kyuhyun mendahului Sungmin yang terbirit-birit mengikutinya melangkah ke kamar kedua di apartemen yang cukup luas itu, Kyuhyun membuka pintu kamar itu dan melirik ke arah Sungmin, "Masuklah dan istirahatlah dulu, nanti sore kita bicara."

Setelah itu, tanpa melirik sedikitpun pada Sungmin, Kyuhyun berlalu.

"Te...terimakasih..." Sungmin berseru gugup, entah Kyuhyun mendengarnya atau tidak karena lelaki itu sudah melenggang kembali ke ruang tengah.

*** CRUSH IN RUSH ***

Sungmin memasuki kamar itu, kamar yang sama tempatnya di rawat ketika ia sakit. Dia terperangah ketika melihat luasnya kamar itu. Semuanya lengkap, dari ranjang busa yang besar di tengah, lemari berwarna krem yang elegan dan meja rias yang dilengkapi dengan kaca minimalis yang begitu bening. Ada sebuah televisi besar di dinding, televisi layar datar yang hanya pernah Sungmin lihat di televisi... dan juga pendingin dan pemanas...tentu saja kamar ini ada pendingin beserta pemanasnya, Sungmin tersenyum merasa malu karena sadar dia benar-benar kampungan.

Di flatnya tidak ada pendingin atau pemanas, bahkan kipas angin pun tidak ada karena Sungmin tidak mampu membelinya. Pernah dia membawa tabungannya yang berhasil disisihkan dari uang makannya, sejumlah tujuh puluh lima ribu won ke sebuah supermarket yang di dalamnya juga menjual barang-barang elektronik. Pada akhirnya Sungmin keluar dengan tangan kosong, menggenggam uang tabungannya itu di tangannya.

Ketika sudah melihat-lihat berbagai merek kipas angin, dia mendapati bahwa yang termurah, dengan ukuran paling kecil dan merk menengah adalah seharga sembilan puluh ribu won. Ada beberapa dengan merk tidak terkenal masih mematok harga enam puluh ribu won. Tetapi bukan hanya harga yang membuat Sungmin batal membeli, benaknya tiba-tiba memutuskan bahwa dia bisa bertahan tanpa memakai kipas angin, bahwa uang itu sebaiknya disimpan untuk keperluan lain yang lebih penting, seperti membeli sabun mandi atau shampo dan berbagai keperluan rumahan lainnya.

Alhasil Sungmin harus melalui lagi malam-malam di panasnya di seoul yang kebetulan sedang mengelami musim panas dengan udara lembab dan lengket. Tetapi setidaknya hatinya tenang karena dia masih memegang uang simpanannya sebagai pegangan di kala perlu.

Dan sekarang, melihat pendingin itu Sungmin tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, dia mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malamnya yang panas dan penuh keringat. Dengan ingin tahu, Sungmin menyalakan pendingin itu, memencet tombol ON. Sungmin tahu cara menyalakan pendingin karena dia sering menyalakan dan mengatur suhu pendingin di cafe tempatnya bekerja dulu. Dan kemudian, ketika pendingin itu menyala, udara sejuk langsung menghembusnya. Membuat senyumnya makin lebar.

Setelah yakin pintu kamarnya tertutup dan Kyuhyun tidak bisa melihatnya, Sungmin duduk di ranjang itu, menepuk-nepuknya dan sekali lagi tersenyum senang, ranjangnya empuk. Tidak seperti ranjang lembek dan keras entah dengan usia berapa lama di kamar kontrakannya yang penuh dengan serangga tak terlihat, kadang terasa menggigit kulitnya dan menimbulkan ruam-ruam di kulitnya. Ranjang yang ini pasti tak ada serangganya... pikir Sungmin sambil menepuk-nepuknya lagi, dan ranjang ini empuknya luar biasa.

Puas menikmati empuknya ranjang itu, Sungmin meraih tas-nya dan mulai berbenah. Di bukanya lemari empat tingkat berwarna krem itu dan mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, ketika selesai dia tersenyum masam dan merasa malu, keseluruhan pakaiannya bahkan tidak bisa memenuhi satu tingkat yang paling atas di lemari itu, lemari itu jadi tampak kosong dan menyedihkan.

Tetapi tidak apa-apa, Sungmin tidak malu dia hanya punya sedikit pakaian, setidaknya dia masih bisa berganti pakaian setiap hari dan bersih serta wangi, biarpun pakaiannya sedikit, Sungmin tidak pernah memakai pakaian yang sama selama beberapa hari, setiap dia memakai baju, ketika mandi, dia selalu mencuci pakaiannya sehingga ketika keesokan harinya pakaiannya sudah kering dan wangi lagi.

Sungmin lalu mengatur kosmetiknya dimeja rias yang besar dan lagi-lagi meja itu tampak kosong dan menyedihkan karena Sungmin hanya punya satu bedak tabur, satu lipstick, deodoran dan satu splash cologne murahan yang dibelinya di minimarket, serta satu sisir kecil, Sungmin menambahkan sambil tersenyum, kosongnya meja rias itu tidak mengganggunya, malahan membuatnya terkikik geli, menertawakan dirinya sendiri. Ya ampun. Kamar ini begitu bagusnya, terlalu bagus dan sempurna untuk dirinya!

Setelah puas memandang suasana kamarnya yang sejuk, Sungmin melongok ke arah kamar mandi. Ada kamar mandi pribadi di dalam kamar ini! Lagi-lagi Sungmin membayangkan ketika tinggal di flatnya yang melihat sabun, shampoo yang telah tersedia dalam wadah khusus di dinding, dia menambahkan sikat giginya dan tersenyum bahagia.

Sambil bersenandung, Sungmin membanting tubuhnya di ranjang matanya tersenyum menatap langit-langit kamar itu... bahkan langit-langit kamarnya pun indah... hatinya dipenuhi rasa syukur. Alangkah baik hatinya Kyuhyun memberkan tempat tinggal untuknya, tempat seindah ini yang sama sekali tidak dibayangkannya. Sungmin berjanji dia akan menjadi pelayan yang terbaik untuk Kyuhyun.

*** CRUSH IN RUSH ***

Ketika terbangun, mata Sungmin langsung terarah ke arah jam besar di dinding, dia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya dia ketiduran akibat suasana kamar yang begitu nyaman. Dan sekarang sudah jam lima sore. Astaga... betapa malunya Sungmin, dia telah berjanji dalam hati akan menjadi pelayan yang baik, tapi yang dilakukannya malahan tidur begitu lama.

Setengah melompat, Sungmin masuk ke kamar mandi, dan mandi. Merasa takjub bahwa air di kamar mandi itu bisa disetel panas ataupun dingin. Setelah selesai, Sungmin memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.

Suasana tampak lengang, ruangan apartemen remang-remang, dan hanya terdengar suara TV yang sayup-sayup, Sungmin melangkah ke ruang tengah dan mendapati Kyuhyun sedang tidur tengkurap di sofa, lelaki itu telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang santai dan tampak sangat lelap. Pipi Sungmin memerah ketika mengamati punggung telanjang Kyuhyun yang sedikit berotot, dia melangkah dengan sangat hati-hati melewati Kyuhyun dan kemudian melangkah menyeberangi ruang tengah menuju dapur.

Sungmin akan memasak makan malam dan membuat teh hangat, setidaknya ketika Kyuhyun bangun, makanan sudah tersedia.

Di dapur, Sungmin melihat sebuah kulkas besar berwarna hitam, dengan hati-hati Sungmin membuka kulkas itu dan sedikit merenung melihat isinya. Kyuhyun rupanya tidak suka memasak, yah dia kan lelaki yang tinggal sendirian, buat apa repot-repot memasak kalau bisa membeli atau pesan antar makanan? Sungmin melihat bahan makanan yang seadanya di sana.

Ada sosis di freezer, dan di kotak sayuran di bagian bawah ada wortel dan brokoli. Sungmin memutuskan membuat sup sederhana.

Karena tidak ada kaldu, Sungmin merebus sebagian sosis dengan potongan besar hingga airnya berminyak, lalu memasukkan bawang yang sudah ditumisnya dengan mentega ke sana – untunglah Kyuhyun mempunyai beberapa siung bawang putih yang sudah setengah mengering di kulkasnya – Aroma harum langsung tercium ke seluruh penjuru dapur. Sungmin lalu memasukkan wortel yang sudah di potong-potongnya, sementara brokolinya akan dimasukkan belakangan setelah air mendidih. Setelah itu, Sungmin membumbui supnya dan mencicipinya.

Rasanya lumayan, meskipun dengan bumbu dan bahan yang lebih lengkap, sup ini akan terasa lebih enak. Tidak ada nasi, tetapi ada kentang di kulkas, Sungmin memutuskan membuat kentang tumbuk. Beberapa kentang yang sudah dikupas, di kukus sampai empuk, lalu dihancurkan dengan dicampur sedikit garam, krim kental dan susu tawar kental. Selain itu Sungmin membuat scramble eggs sebagai lauknya. Dan jadilah masakannya itu.

Ketika Air mendidih dan Sungmin menyeduh teh, tiba-tiba sosok Kyuhyun sudah berdiri bersandar di ambang pintu dapur.

"Baunya enak."

Sungmin memekik, hampir menjatuhkan teko teh-nya. Untunglah dia sigap menahannya, kalau tidak Sungmin mungkin harus masuk rumah sakit karena tersiram air panas yang baru mendidih. Dengan gugup Sungmin menatap Kyuhyun dan tersenyum,

"Aku memasak dengan bahan seadanya di kulkas, kuharap kau tidak marah karena aku lancang."

Kyuhyun mengangkat bahunya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana santainya yang sedikit melorot di pinggang, dia tampaknya tidak terganggu dengan pipi Sungmin yang memerah karena penampilannya, lelaki itu duduk di kursi tinggi di meja dapur, dan bertopang dagu,

"ambilkan aku makanan, aku lapar."

Sungmin langsung mengambil mangkuk dan menyendokkan sup yang masih panas di sana, dia juga mengambil kentang tumbuk di piring bersebelahan dengan scramble eggs yang dia buat.

Dengan was-was Sungmin mengamati Kyuhyun makan, takut kalau lelaki itu memuntahkan makanannya karena tidak menyukai rasanya. Tetapi yang ditakutkan Sungmin tidak terjadi, lelaki itu makan dengan lahap dan cepat, dan ketika di tengah makan, Kyuhyun mengangkat kepalanya dan mengernyit,

"Kenapa kau tidak ikut makan?" Tanyanya.

Sungmin meremas-remas kedua tangannya, kebiasaannya jika merasa gugup dan bingung,

"Aku... eh... bukankah pelayan tidak makan bersama majikan? Biasanya seperti di drama-drama, pelayan makan di dapur setelah majikannya makan."

Kyuhyun terkekeh, tawa yang mencairkan wajah dinginnya yang tampan,

"Memangnya kau hidup di jaman feodal? Lain kali kurangilah menonton drama yang penuh intrik palsu itu Sungmin, ayo makanlah!"

Karena perintah Kyuhyun terdengar begitu tegas, Sungmin akhirnya menyerah dan memutuskan makan bersama Kyuhyun, dia lalu mengambil makanannya, tak henti-hentinya berucap syukur atas makanan yang tersedia begitu mudah untuknya tanpa perlu mencemaskan hari esok lagi. Dan kemudian melahap makanannya dengan senang, ternyata dia lapar.

Kyuhyun hanya tersenyum menatap Sungmin, mereka lalu menyelesaikan makannya dan Kyuhyun melompat berdiri, melirik ke arah teko teh yang sudah disiapkan Sungmin. Teh melati yang harum mengepul dengan aroma yang menggoda selera. Kyuhyun sebenarnya lebih memilih kopi. Tetapi sepertinya Sungmin harus diajari untuk menggunakan mesin kopi, menggiling bijinya dan menciptakan takaran kopi hitam sesuai seleranya, perempuan itu pasti hanya bisa membuat kopi instan.

"Bawa teh-nya ke ruang tengah, ayo kita bicara sambil minum teh." Gumamnya sambil berlalu.

Dengan segera, Sungmin mengambil nampan dan meletakkan teko teh beserta beberapa cangkir di sana, lalu mengikuti Kyuhyun ke ruang tengah.

Kyuhyun sudah duduk di sofa, matanya mengarah ke televisi besar yang sedang menayangkan pertandingan basket, dia lalu menatap Sungmin yang meletakkan nampan itu di meja, dan berdiri ragu-ragu di sana,

"Duduklah, kau tidak akan duduk di lantai seperti pelayan-pelayan di jaman feodal bukan?" gumam Kyuhyun ketika lama Kira tidak juga duduk, dalam hati dia menggeleng-gelengkan kepala. Pantas saja gadis ini ditindas oleh atasannya yang jahat itu, dia benar-benar lemah dan polos.

Sungmin duduk di ujung sofa dengan ragu, menatap Kyuhyun yang bersila dengan santai sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke televisi,

"Kau mungkin perlu berbelanja, di lantai basement apartement ini ada supermarket yang menjual sayuran dan bahan makanan, kau bisa memenuhi kulkas dengan berbelanja di sana, belilah apapun yang kau perlukan untuk memasak, aku akan memberimu uang belanja. Tapi, janagn terlalu banyak membeli sayur karena aku tidak terlalu menyukainya."

Sungmin menganggukkan kepalanya, menyimpan rasa kagumnya pada apartemen ini yang bahkan mempunyai fasilitas supermarket di lantai bawahnya. Orang kaya memang selalu dimudahkan dalam segala hal... batinnya.

"Dan kita akan tinggal bersama di sini, aku sebenarnya tidak punya aturan ketat, hanya ada beberapa yang harus dihormati. Pertama, aku tidak begitu suka suara bising, jadi kalau kau mau menyalakan televisi atau apa, atur suaranya supaya tidak berisik. Kedua, aku tidak suka susu putih, kecuali di campur dengan kopi, jadi jangan memberikanku itu... Ketiga aku biasanya bekerja di malam hari, mulai jam sembilan malam, dan karena itu aku membutuhkan tidur yang lama di pagi harinya, biasanya aku bekerja jam sembilan malam sampai jam lima pagi lalu aku akan sarapan dan tidur jam sembilan pagi sampai sore dan aku tidak suka diganggu..."

Sampai di situ Sungmin mengernyit, berusaha memahami gaya hidup Kyuhyun tetapi tetap saja tidak paham. Lelaki ini seperti vampir, bekerja di malam hari dan tidur ketika ada matahari.

"Kau mendengarkan?" Kyuhyun menegurnya, membuat Sungmin tergeragap.

Ketika sudah mendapatkan perhatian Sungmin, Kyuhyun melanjutkan, "Sampai di mana tadi? Hmm Oh ya.. keempat..."

Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu, membuat Kyuhyun mengernyit karena merasa terganggu.

"Siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan?" gerutunya, melangkah ke arah pintu dan mengintip. Ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya, Kyuhyun mendesah kesal, tetapi tetap membuka pintunya itu,

"Apa yang kau lakukan di sini, Changmin?"

Seorang lelaki yang amat sangat tampan melangkah dengan senyum lebar, memasuki ruangan. Sungmin terpesona, karena lelaki itu... sungguh terlalu tampan. Ada sesuatu di tangannya, lelaki itu memegang wadah biola dari bahan kulit kaku berwarna cokelat gelap. Lelaki itu pemain biola?

Dan kemudian, Changmin masuk menatap Kyuhyun masih dengan senyumannya, tidak mempedulikan tatapan kesal Kyuhyun,

"Aku butuh bantuanmu teman. Ada seorang perempuan yang dijodohkan ibuku untukku dan dia terus memaksa meskipun aku menolaknya mentah-mentah. Ibuku mengatakan karena adikku Kibum sudah menikah dengan si brengsek Siwon yang beruntung itu, aku tidak boleh terlalu lama menunda pernikahan. Parahnya... perempuan yang dijodohkan oleh ibuku itu mengejar-ngejarku sampai nyaris menakutkan."

Changmin mengangkat bahunya, "Jadi aku melarikan diri dari rumah, mengatakan harus menjalani pelatihan intensif yang tidak bisa diganggu, dan sepertinya aku harus merepotkanmu, aku tahu kau punya apartemen tiga kamar dengan dua kamar yang masih kosong, jadi izinkanlah aku menumpang sementara di sini."

.

.

.

To be continued. . .

Review~