Galerians, in.

A/N: Oke, dengan chapter ini hamba menyatakan Project The Radiant Sun dimulai lagi. Yeeey. Oke serius, chapter ini adalah chapter pertama yang hamba tulis saat ada ide lagi buat ngelanjutin fic ini, makanya chapter kemarin itu pendek karena tujuannya memang cuma menjembatani kisah dua chapter sebelumnya dengan plot baru yang sudah hamba pikirkan. BTW, dari sekarang judul dan deskripsi fic juga akan berubah, karena plotnya juga begitu. Hamba gak akan menulis sinetron tertulis lagi, tapi hamba mau mencoba mengembangkan plot dari mbah Masashi jadi cerita tersendiri! Tapi karena gak bisa ngegambar, maka hamba akan berusaha dengan membuat sebuah manga tertulis!

(Tolong jangan sampai lupa membaca A/N di akhir chapter! SANGAT PENTING!)

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes Working

Part 3

(Finally, A Mission!)

Naruto adalah seorang cowok berusia mendekati 16 tahun, seorang remaja yang dianggap sebagai salah satu ninja paling kompeten dalam soal berkelahi di Konoha walau pangkatnya masih Genin. Dan walaupun tidak banyak orang yang tahu, dia juga merupakan satu-satunya murid sang Sannin legendaris yang terekam sejarah. Walaupun kadang masih banyak juga orang bodoh yang meremehkan cowok satu ini ketika mendengar pangkatnya sebagai shinobi yang menurut mereka masih 'rendahan', tak ada satupun orang-orang itu yang bisa angkat suara lagi saat mereka diberitahu nama belakang Naruto yang sebenarnya.

Namikaze. Satu nama yang diagungkan oleh rekan dan ditakuti oleh setiap lawan.

Hanya saja fakta satu ini tak pernah beredar lebih jauh dari Rumah Utama, disebabkan karena Namikaze adalah sebuah nama yang mampu mengakibatkan banyak usaha pembalasan dendam karena eksploit pengguna terakhir nama itu dalam Perang Dunia Shinobi Ketiga sehingga perlu dirahasiakan. Karena setiap kali nama Namikaze diteriakkan dalam medan peperangan, semua ninja yang merupakan musuh Konoha hanya akan menerima satu dan hanya satu perintah.

Kabur.

Sang pemilik nama itu mungkin sudah tiada, akan tetapi, walaupun kejayaan dan harapan yang ditinggalkan oleh nama Namikaze terasa begitu besar dan berat, takkan ada seorangpun yang mengenal Naruto dengan baik mampu mengatakan bahwa pemuda itu tak bisa memikul tanggung jawab yang ditinggalkan oleh orangtuanya. Di umur tak lebih dari 12 tahun, ninja muda itu telah mengalahkan salah satu jenius dari klan Hyuuga walaupun telah menerima serangan yang menyegel semua tenketsu di tubuhnya. Tak lama berselang, dia memanggil pemimpin dari Kaum Katak, dan dengan bantuannya berhasil menang melawan Shukaku no Gaara dan sang youkai Ichibi. Tak hanya itu, kabar bahwa dia berhasil mengeliminasi Ichibi dari medan pertempuran hanya dengan menyundul Gaara telah menciptakan legenda sendiri bagi Naruto.

Secara garis besar, bagi orang-orang yang mengetahui rahasia-rahasia di atas, Naruto adalah seorang pemuda yang telah pantas memperoleh rasa hormat dan menyandang nama Namikaze karena dia adalah shinobi yang siap menjadikanmu keset kaki kalau kau sampai meremehkannya.

Hanya saja orang-orang itu tak tahu kalau shinobi yang mereka hormati dan segani kini sedang terkapar di tanah, di kepalanya terlihat benjolan-benjolan merah menyala dan mulut cowok itu sendiri kini asik mengerang dan mengaduh-aduh ria.

"Kyaaa! Hentaaii!"

"Tu-" satu kata pun belum sempat tercetus oleh mulutnya sebelum Naruto menerima tamparan yang membuatnya melayang di udara dan mendarat di tanah dengan anggunnya.

Cewek itu kemudian memutuskan untuk menginjak-injak kepala sang shinobi sekuat tenaga.

"Hentai! Mesum! Lecher! Lustmolch! 登徒子! 호색가!"

"Aow! Adoh! Ampu-! Sto-!"

Dalam kekang rasa sakit, Naruto berbalik untuk melihat dan matanya melebar ketakutan saat melihat gadis itu menekuk kakinya, menyerupai postur orang yang siap-siap melompat. "Tu-tunggu! Jangan buru-buru!"

Tanpa mempedulikan Naruto yang menghiba, kaum Hawa berambut merah itu melompat dan menghentakkan kakinya sekuat tenaga ke dada Naruto.

KRAK.

"Guooohh! Rusukkuuu! RUSUKKU!"

Naruto telentang dengan air mata anime membanjir di wajahnya. Tak peduli sekuat apa dia, atau sebanyak apa dia melatih tubuhnya, wanita adalah satu spesies yang mungkin takkan pernah dia mengerti dalam hidupnya.

Naruto bahkan tidak memperhatikan kalau di sampingnya seorang lelaki bertopeng porselen berbentuk anjing mendadak muncul dan berlutut.

"Godaime-sama memanggilmu, Naruto-sama."

Yang dipanggil hanya diam, pandangan matanya mengawang-awang ke angkasa tanpa sedikitpun merubah posisinya di atas tanah.

"Naruto-sama?" personal Anbu itu memanggil untuk kedua kalinya, khawatir kalau tadi suaranya kurang keras.

Naruto memutar lehernya dengan gerakan perlahan yang entah kenapa membuat si Anbu agak ketakutan, apalagi saat ia dihadapkan dengan dua mata biru yang kosong. "Hei..."

"Y-ya?"

"Aku tidak mesum kan?" si pirang bertanya dengan suara datar. "Ya kan?"

"H-hah?"

Naruto mengembalikan pandangannya ke langit, matanya kini jadi teduh. "Ahh, tempat ini enak juga. Aku ingin berbaring di sini selamanya."

Si anggota Anbu diam-diam mengutuk Godaime yang sudah mengutusnya. Mengurus orang tidak waras seperti ini tak ada dalam deskripsi pekerjaannya, setan!

~•~

Tsunade adalah orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi, dan itu didukung oleh kemampuannya. Dia adalah salah satu Sannin yang disegani oleh seluruh dunia shinobi, dan dia juga telah dijuluki sebagai shinobi yang memiliki kemampuan penyembuh paling hebat sejagat yang ditambah dengan kemampuan analisa tiada duanya. Dia hanya perlu beberapa inspeksi singkat sebelum mengetahui apa penyakit seseorang sebelum mulai memproses semua data itu dan menemukan solusi penyembuhan yang tepat, dan dengan kemampuan ini ia telah menyelamatkan banyak shinobi yang meregang nyawa.

Namun untuk pertama kali dalam hidupnya, sang Godaime ini tak bisa menemukan penyakit apa yang menghinggapi si cowok pirang dalam kantornya.

Wanita dengan dada luar biasa besar itu melirik Anbu yang tadi menyeret pemuda itu masuk, mencari jawaban dalam diam. Dia hanya mendapat angkatan bahu sebagai jawaban, dan dia juga merasa kalau pandangan personel Anbu itu menyimpan sedikit kebencian yang ditujukan pada dirinya. Tapi Tsunade menepis perasaan itu untuk kembali memusatkan perhatian pada remaja yang sudah ia anggap cucunya sendiri.

Sang cucu yang tadi disebutkan kini jongkok di sudut ruangan, jarinya menggambar lingkaran-lingkaran kecil di lantai sambil menggumam-gumam. Tsunade berusaha menajamkan pendengarannya, namun yang berhasil ia tangkap hanya kata-kata "...tidak mesum...", "...gentleman...", "Tidak pernah melecehkan perempuan dengan sengaja..." dan yang paling akhir "Ero-sennin brengsek..."

Di suatu tempat, seorang laki-laki berambut putih panjang bergaya spiky tiba-tiba bersin tanpa tahu penyebabnya.

"Oi, Naruto..." Tsunade buka suara. "Apa yang terjadi padamu?"

Pemuda itu menoleh, mulutnya tak mengeluarkan suara namun matanya menangis lucu ala anime dengan bibir gemetaran, membuat Godaime menyapu wajah sambil menghembuskan napas panjang.

Ah, sudahlah, toh dia tahu apa yang bisa membuat cucunya ini ceria lagi. Sambil berenang minum air.

"Aku takkan berbasa-basi," Tsunade berkata sambil mengeluarkan selembar kertas. "Aku punya misi untukmu."

Sesuai harapan, kalimat itu langsung menghapus aura murung dari sang pemuda dan mata birunya yang tadi berlelehan langsung bersinar terang. "Baa-chan!" saking senangnya, Naruto secara tak sadar melompat dan merentangkan tangannya, berniat memeluk sang Hokage. "AI LAP YU-"

Tsunade menutup matanya dengan kesal sebelum menjentik dahi pemuda yang masih berada di udara itu dengan jari telunjuknya. Kekuatan luar biasa menyebabkan Naruto terpental ke belakang sebelum berguling-guling dan berakhir dengan posisi nungging di depan pintu.

Seakan-akan belum puas menyiksa Naruto hari ini, pintu itu terbuka dan seorang cewek berambut pink sebahu muncul dari baliknya.

"Tsunade-sama, apa kau ada wakt-"

Gadis bernama Sakura itu terdiam saat melihat pantat yang terpampang di depannya. Matanya terbelalak sebentar sebelum menjerit dan menendang benda tak sopan itu sekuat tenaga. "KYAA! HENTAII!"

PRAANGG!

Tsunade kembali menghembuskan napas karena dia harus keluar uang lagi untuk memperbaiki jendela yang pecah.

~•~

"Biaya perbaikan jendela ini akan jadi tanggunganmu, Naruto."

"Oi!" sang pemuda membelalak tak percaya. "Kenapa aku yang disalahkan? Aku ini korban, tahu! KORBAN!"

"Jadi, Sakura..."

"OI! Dengarkan aku!"

Tsunade tak mendengarkan. "Kau tadi mau mengatakan apa?"

"Em..." Sakura mengalihkan pandangannya ke samping, ke arah Naruto yang kini terisak ke bahu sang Anbu yang kejang-kejang jijik, tangannya bergerak dengan mencurigakan ke arah pedang yang tersilang di punggungnya. "Anu, tamu yang Anda undang sudah datang dan sekarang ada di ruang tunggu."

"Oh, begitu," Tsunade memalingkan wajahnya. "Naruto, kemari."

"...Kenapa hari ini semua orang senang sekali menyiksaku?" cowok pirang itu menggumam sambil terus membasahi bahu sang Anbu dengan air matanya. Tangan ninja elit itu sendiri kini sudah menggenggam gagang pedangnya dan mulai menarik senjata itu.

"Naruto," Tsunade memanggil si cowok yang lagi mewek tanpa sedikitpun nada kasihan. "Ikuti aku."

Ninja pirang itu hanya diam sambil mengikuti Godaime dengan wajah sedikit cemberut. Setelah keluar dari kantor Hokage, mereka melangkah menyusuri koridor dan tidak satu menit kemudian, tiba di sebuah pintu besar dengan ukiran-ukiran melingkar.

"Masuk," Tsunade memberi perintah tanpa banyak gonjang-ganjing.

Naruto mematuhi wanita itu dalam diam, penasaran tentang siapa orang yang dibicarakan oleh Sakura. Belum lima detik dia masuk ke ruangan seluas lima belas persegi itu, pandangan Naruto jatuh pada rambut merah tua yang tiba-tiba melesat ke arahnya.

"Naruto-niisan!"

"Geboh!" napas dalam paru-paru sang ninja dipaksa keluar secara bersamaan ketika seseorang menubruk dan memeluknya secara tiba-tiba. Hanya dengan melihat ke bawah, Naruto mengetahui siapa yang baru saja menyerbunya. "N-Negi?"

"Nii-san! Nii-san! Nii-san!"

"Auw auw auw auww! Negi, tolong ya, rusukku lagi patah nih!"

Bocah berumur 10 tahun itu hanya nyengir lebar sambil melonggarkan pelukannya. Melihat tampang yang terlihat sangat gembira itu, Naruto jadi tak punya hati untuk marah.

Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut Negi, "Sudah hampir setengah tahun ya?"

"Un! Aku kangen sekali, Nii-san!"

"Hehehe, aku juga-" kalimat Naruto belum sempat selesai ketika dia mendengar suara pistol meletus. Instingnya dengan segera memerintah Naruto untuk merunduk dan menarik Negi agar terlindungi oleh tubuhnya sendiri.

Naruto merasakan sesuatu melintas di atas kepalanya sebelum shinobi yang sudah cukup pengalaman itu menarik keluar sebuah kunai dan bersiap melemparnya.

"REBORN!" suara lain yang ia kenal membuat Naruto mengurungkan niat. "Kenapa kau tiba-tiba menembak?!" teriakan itu berhenti sebentar seakan-akan sang pemiliknya berpikir sejenak. "Atau yang lebih tepat, kenapa kau bawa pistol?! Ini rumah orang, tahu!"

"Seorang mafia harus selalu siap siaga," Naruto mengikuti arah suara itu dan melihat seorang balita dengan berbaju serba hitam bahkan dengan sebuah topi khas mafia nangkring di kepalanya.

"Kau masih mengincarku, Reborn?" Naruto berdiri, tangannya semakin erat menggenggam kunai. "Jujur saja, aku gak peduli, tapi bagaimana kalau peluru tadi sampai kena Negi?"

Mata mereka bertemu dan air muka kedua orang itu jadi keras. Reborn mengeluarkan sebuah rifle entah dari mana dan Naruto mencabut kunai kedua dari sakunya.

"REBORN!/NII-SAN!"

Remaja dan balita itu tersentak sebelum menjauhkan senjata mereka berdua. "...Kita lanjutkan ini nanti." kata Reborn sambil membalikkan tubuhnya.

Naruto hanya mendengus sambil ikut membalikkan badan, hanya untuk menemukan seorang pemuda berambut coklat bergaya jabrik sepertinya membungkuk 90 derajat. "Maafkan Reborn, Naruto-san! Dia memang suka bikin ulah!"

Naruto menggaruk kepalanya, tak tahu harus menjawab apa. Tapi dia diselamatkan dari kewajiban itu oleh Negi yang muncul di sampingnya. "Sudahlah, tidak usah minta maaf sampai segitunya, Tsuna-niisan. Naruto-niisan juga salah kok," kata Negi. "Nii-san, minta maaf sana gih."

"Hah?!" mata Naruto membelalak tak percaya. "Negi, kau tahu sendiri ini bukan salahku! Dia sendiri yang gagal tapi masih keukeuh saja menjadikanku incaran!"

"Aku. Tidak. Gagal." Reborn menyahut tanpa nada, ekspresi wajahnya pun entah bagaimana tetap datar. "Aku memastikan kalau peluru itu sudah menembus jantungmu."

"Bikin alasan saja," Naruto menyahut pedas sambil mencibir sang hitman. "Faktanya aku masih hidup."

"Tidak untuk waktu lama," Naruto merasa bulu kuduknya merinding ketika melihat balita berpakaian mafia itu sudah memegang sebuah bazooka yang entah disimpannya di mana. "Biar kumusnahkan kau sekarang juga."

"R-Reborn! Hentikan!" Tsuna berusaha mendinginkan situasi walau dia merasa apapun yang dia katakan atau lakukan takkan berpengaruh.

"Kalau kau menembakkan senjata itu, rumahku bisa ikut hancur, tahu." suara tegas yang datang dari arah pintu membuat keempat laki-laki di ruangan itu teringat akan orang lain selain mereka. Sang pemilik suara mengalihkan perhatiannya pada satu-satunya balita di ruangan itu dan berkata dengan nada keibuan. "Reborn-san, sudah kubilang kan kalau kau tak boleh menarget Naruto lagi?"

Reborn tetap mengarahkan bazookanya ke kepala Naruto untuk setidaknya satu detik sebelum menyimpan kembali senjata itu, membuat keempat orang lain dalam ruangan bertanya-tanya di mana si balita bisa menyimpan senjata yang ukurannya bukan main seperti itu. Di samping Reborn, Tsuna terhenyak lega karena tak harus melihat pembunuhan di depan matanya.

Hitman dengan penampilan yang tak sesuai pekerjaannya itu mengubah arah tubuhnya, melepas topi dan membungkuk sedikit. "Maafkan saya, Hokage-sama. saya sudah kelewatan."

Godaime sendiri hanya tergelak mendengar sahutan yang menurutnya kelewat sopan itu. "Hahaha, seperti biasa kalian sangat akrab ya!"

"Baa-chan! Kau tidak sadar kalau dia tadi berniat membuatku jadi daging gosong?!"

Tsunade mengangkat alisnya selama sepersekian detik sebelum mengangkat bahunya. "Eh, paling aku harus membeli karpet baru."

Entah kenapa bermuram durja di sudut ruangan menjadi hobi Naruto sejak hari ini.

"Ngomong-ngomong, Reborn-san, tak kusangka kau mau menerima permintaanku."

Reborn memasang kembali topinya, kemudian bicara dengan nada profesional yang sama sekali tidak cocok dengan penampilannya. "Anda menawarkan harga yang pas. Lagipula, saya juga bisa memakai kesempatan ini untuk mengetes kemampuan Tsuna."

"Eh?!" cowok berambut coklat yang sedari tadi sibuk menenangkan jantungnya merasa kalau sekali lagi ada yang berusaha mencopotkan jantungnya. "Reborn, apa maksudmu?! Jadi ini sebabnya kau menculikku dari sekolah?!"

Reborn membalas tatapan tak percaya Tsuna dengan wajah datarnya. "Betul."

"Agggh!" Tsuna mencengkeram rambutnya sambil berteriak kesal. "Aku gak mau! Aku mau pulang!"

"Jangan merengek, Dame-Tsuna," cowok remaja itu terdiam saat merasakan besi dingin menyentuh dahinya. "Aku ogah mendengar calon bos mafia Vongola merengek seperti anak-anak."

"Tapi aku tidak mau jadi bos mafia!"

"Jadi, Hokage-sama, kembali ke pembicaraan kita tadi. Misi apa yang ingin kau berikan?"

Tidak dihiraukan seperti itu, Tsuna langsung mengikuti jejak Naruto dan ikut jongkok di samping shinobi pirang itu. Negi mengusap-usap punggung kedua cowok yang lebih tua darinya itu sambil berusaha memberi semangat, hal yang kelihatannya tak berpengaruh pada mood mereka berdua.

"Em..." Tsunade menggaruk pipinya sambil sweatdrop melihat aksi menyedihkan kedua pemuda di sudut ruangan. "Seorang klien meminta pengawalan karena jalan menuju rumahnya dipenuhi oleh bandit dan rampok yang suka menyergap bahkan di siang bolong. Aku sudah mengutus seseorang untuk memanggilnya dan kurasa dia akan tiba tak lama lagi."

Seakan menjadi bukti ucapannya tadi, seorang pria brewokan, berambut berantakan, dan mengenakan kacamata muncul di pintu ruangan itu. Tangannya menggenggam sebuah botol minuman keras dan bau alkohol menguar darinya.

"Jadi siapa yang akan mengawalku?" lelaki itu bicara dengan nada yang jelas-jelas menandakan kalau dia sedang mabuk. Andai orang ini bukan klien, Reborn pasti sudah mencabut pistolnya dan menyarangkan sebuah peluru di kepala pak tua itu atas ketidaksopanannya di hadapan Hokage-sama.

"Oi, Naruto, Tsuna, berdiri yang tegap!" Godaime memerintah walaupun di balik nadanya yang tegas masih bersembunyi nada keibuan. Kedua pemuda itu dengan segera mematuhi perintah. "Perkenalkan, Naruto Uzumaki, Tsunayoshi Sawada, dan Negi Springfield. Mereka yang akan mengawalmu kembali ke kota Nami."

"Hah?!" Pria tua itu terbelalak sambil mengamati ketiga orang yang ditugaskan menjadi bodyguard-nya. "Apa aku tidak salah dengar?! Bocah-bocah super ingusan ini?!"

"Tolong jangan lihat buku dari sampulnya, Tazuna-san," Godaime menjelaskan dengan sabar. "Walaupun penampilan mereka, seperti yang kau bilang, ingusan, ketiga pemuda ini punya reputasi sendiri. Tsunayoshi adalah calon bos mafia, Negi adalah penyihir muda jenius yang lulus dari akademi di usia sepuluh tahun, dan Naruto..." Tsunade memandang Naruto yang menunggu perkataannya dengan mata berbinar-binar. "Pokoknya mereka bertiga pasti bisa mengawalmu sampai kau tiba di kota Nami."

"Baa-chan!" air mata Naruto membanjir lagi. "Kenapa cuma aku yang tidak dapat pujian?!"

Negi yang berdiri di samping Naruto menepuk punggung pemuda itu sambil berkata, "Yang sabar ya, Nii-san."

"Negi!" Naruto berlutut agar dia bisa menatap anak sepuluh tahun itu wajah ke wajah. "Aku tidak terlihat selemah itu kan?! Ya kan?!"

Melihat wajah yang meler dengan air mata dan ingus itu, Negi hanya bisa mengucapkan, "Eh..." sambil menggaruk pipi dan mengalihkan pandangannya.

Reaksi yang ia dapatkan dari Negi secara tidak langsung membuat Naruto tahu kalau jawaban pertanyaannya adalah negatif. Ia mengalihkan pandangan ke harapan terakhirnya, tapi Tsuna hanya melakukan hal yang sama persis dengan Negi.

"Ueeehh! Brengsek kaliaann!" Naruto mewek-mewek sambil memukul-mukul lantai. "Dosa apa aku semalam?! Aku sudah buang sampah pada tempatnya! Aku juga tidak lupa membilas setiap kali ke WC! Aku bahkan pakai mouthwash setelah sikat gigi pagi tadii!"

Melihat drama yang berlangsung di depannya, Tazuna mengembalikan tatapannya ke arah sang Hokage dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan wajah sangsinya. "...Ini yang kau sebut pengawal?"

"Hahaha, mereka memang suka bercanda..." Tsunade menggaruk kepalanya sambil tersipu malu.

"Aku tidak terima! Mana mungkin bocah ingusan seperti ini bisa menjamin keselamatanku?! Aku ingin pengawal yang lebih baik!"

Godaime membuka mulutnya untuk menenangkan bapak yang marah-marah itu, tapi dia sudah didului oleh seseorang. "Tazuna-san," Tazuna mengalihkan pandangannya ke arah balita yang berdiri di atas meja. "Anda memang punya hak untuk meminta pengawal yang lebih baik, tapi upah yang harus anda bayar akan naik setidaknya lima puluh persen."

Wajah Tazuna memucat sejenak sebelum dia melontarkan kata-kata pedas lagi. "Dan kau pikir kau siapa sampai berani bicara seperti itu ke orang tua, bayi ingusan?!"

"Paling tidak aku tahu peraturan," sahut Reborn singkat. Tazuna tiba-tiba merasakan mulut sebuah senjata api berlaras panjang menyentuh dahinya. "Dan mengingat kau bukan klienku, peraturan itu juga tidak menyebutkan kalau aku tak boleh membunuhmu," Reborn menarik kokang senjatanya dengan suara klik nyaring. "Panggil aku ingusan sekali lagi dan akan kuhamburkan otakmu di lantai."

"Reborn-san, hentikan," Tsunade menegur halus sambil meletakkan tangannya di sniper rifle yang, sekali lagi, dikeluarkan Reborn entah dari mana. "Tapi, Tazuna-san, Reborn-san tidak keliru. Saya bisa memberi pengawal berpangkat Chuunin untukmu, tapi tarifnya juga akan naik." Tsunade menunjuk ketiga pemuda yang berdiri tidak jauh darinya. "Lagipula, kalau hanya sekedar rampok atau bandit di jalan, saya jamin kemampuan ketiga orang ini sudah sangat mencukupi."

Tazuna masih menyimpan sangsi dalam sorot matanya. Tapi keuangannya sekarang tak memberinya banyak pilihan. Jadi dia menenggak isi botol yang sejak tadi ia pegang sebelum berbalik meninggalkan ruangan. "Bah, mengecewakan!"

Setelah pintu tertutup dengan bunyi debam nyaring, Reborn perlahan-lahan mengangkat kepalanya untuk menatap Tsunade. "Hokage-sama, kalau kau mau, aku bisa melenyapkan pak tua itu. Gratis, dan yang paling penting, bersih."

"Hahaha, tak perlu, tak perlu, Reborn-san," Tsunade hanya tergelak sambil menepuk-nepuk kepala balita di sebelahnya seperti tidak mendengar kalau dia baru saja ditawari bisnis pembunuhan. "Hal ini sudah sering terjadi kok. Tapi terima kasih sudah membelaku."

"Satu hal lagi, bukannya dia itu orang awam? Kenapa dia bisa jadi klien?"

"Hm? Oh, dulu masyarakat kota Nami sudah sering minta perlindungan pada Konoha. Nami adalah kota perdagangan yang cukup sukses, sehingga sering diincar oleh bandit." ekspresi Tsunade berubah sedikit. "Tapi sekarang sudah agak beda sih..."

Reborn menyadari perubahan raut wajah Godaime tapi memutuskan untuk tidak menyuarakan pikirannya.

"Naruto, Tsuna, Negi!" panggil Tsunade. "Misi kalian dimulai besok pagi. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin."

"Baik, Hokage-sama!" ketika ia hanya mendengar dua suara menjawabnya, Tsunade menjulurkan kepalanya untuk melihat melewati Tsuna dan Negi, hanya untuk menemukan pemandangan Naruto yang masih memukul-mukul lantai yang sudah banjir dengan air matanya.

"Naruto! Jawab atau kujitak kau!"

Sadar bahwa 'jitakan' sang Godaime bisa membuat seluruh kepalanya menembus lantai, Naruto buru-buru berdiri dan menjawab. "B-bahikh!"

Tsunade mengurut kepalanya ketika mendengar jawaban dari Naruto yang sedang ingusan parah itu. Dia kadang bertanya-tanya mengapa ia bisa menyayangi cucu yang sangat menyedihkan ini?

~•~

Eksistensi shinobi bukanlah satu-satunya rahasia yang disimpan oleh dunia ini. Di samping komunitas para ninja, ada juga sebuah lain komunitas yang tak kalah berpengaruh dibanding para shinobi, yakni komunitas penyihir.

Adalah hal yang lumrah jika kedua komunitas yang berbeda haluan dan kemampuan ini sering terlibat cekcok di masa lampau, tapi seiring perkembangan jaman, banyak faksi yang mulai membuat aliansi. Hal ini tentu saja masih menyangkut status mereka yang harus terus dijaga kerahasiaannya dari masyarakat awam. Sehebat-hebatnya usaha para shinobi dalam menjaga rahasia, tetap saja mereka adalah manusia yang bisa membuat kesalahan. Mereka juga kadang bisa 'terpeleset' dan menyisakan saksi atas aksi-aksi mereka.

Sekalipun jutsu para shinobi ada ratusan ragamnya, tetap saja sebagian besar didedikasikan untuk pertarungan dan walaupun memang ada yang gunanya untuk menghapus ingatan, jutsu itu berlevel tinggi dan tak banyak yang bisa memakainya karena perlu kemampuan genjutsu tingkat tinggi. Tak hanya itu, jutsu ini tidak efektif karena sekali dipakai jutsu itu akan menghapus seluruh memori korban secara permanen, prosesnya pun cukup lama, dan perlu chakra yang tidak sedikit untuk mengaktifkannya.

Kebutuhan akan kemampuan untuk menghapus memori secara parsial dan efisien ini hanya dimiliki oleh para penyihir. Untuk urusan inilah bantuan para penyihir dibutuhkan oleh shinobi.

Namun itu bukanlah satu-satunya alasan bagi faksi shinobi dan penyihir membuat aliansi. Fakta bahwa kebanyakan shinobi merupakan petarung jarak dekat walau jaman sudah modern terkadang membuat mereka dalam bahaya setiap kali harus menghadapi lawan yang memakai senjata api. Shinobi mungkin memiliki kecepatan dan reaksi tubuh yang superior, namun tidak jarang mereka kalah jumlah dan menyebabkan banyaknya korban berjatuhan sebelum misi bisa diselesaikan. Penyihir kembali menjadi solusi untuk permasalahan ini, karena dibanding shinobi, mereka memiliki sihir-sihir ofensif yang sangat efektif untuk jarak menengah ke atas, dan sesuai level kemampuan mereka, penyihir-penyihir itu bisa mengisi berbagai variasi posisi, mulai dari infantry, sharpshooter, bahkan sampai heavy artillery.

Ini tidak berarti para penyihir tidak meraup untung dari aliansi. Kebanyakan penyihir, walaupun ada pengecualian, memiliki tubuh yang lemah karena kemampuan penyihir memang hanya membutuhkan kekuatan mental dan bukan fisik, membuat kemampuan bertarung jarak dekat mereka hampir tidak pernah jauh-jauh dari angka nol. Dan kelemahan mereka ini semakin diperkuat oleh fakta bahwa sekali konsentrasi mereka buyar, sihir yang akan mereka gunakan pun akan berkurang drastis tenaganya, bahkan tak jarang langsung pupus tanpa bersisa. Sekuat apapun sihir yang mereka gunakan, nyawa mereka akan segera terancam jika ada satu saja lawan yang berhasil mendekat. Bahkan ada kasus satu skuad penyihir yang dibantai hanya oleh seorang lawan yang merupakan seorang ahli CQC (Close Quarter Combat) dan tahu persis bagaimana memotong jarak tanpa ketahuan. Dan jawaban dari permasalahan ini, tentu saja, adalah kerjasama dengan para shinobi. Dengan mempercayakan keselamatan mereka pada para shinobi, kaum penyihir bisa memfokuskan seluruh konsentrasi mereka untuk mengeluarkan sihir.

Sebuah kebenaran menarik lain dari shinobi adalah fakta bahwa kehidupan mereka tidak hanya memiliki sisi putih. Dalam aplikasi sebenarnya, tidak jarang shinobi harus melaksanakan misi-misi kotor seperti pembunuhan atau bahkan pembasmian. Walaupun mungkin kedengarannya sangat tidak menyenangkan bahkan cenderung mengerikan, namun setiap komunitas punya kewajiban untuk menjamin kemakmuran para shinobi maupun rakyat yang dinaungi oleh komunitas itu, dan kebanyakan pekerjaan 'kotor' itu selalu memberi upah yang tak bisa dibantah jumlah nominalnya.

Fakta inilah yang membawa kita ke aliansi kedua para shinobi, yaitu mafia.

Mendengar kata mafia sendiri pasti membuat seseorang menghubungkannya dengan kriminalitas dan dunia kejahatan. Tapi bagi komunitas shinobi, aliansi dengan mafia adalah hal yang esensial mengingat misi-misi yang mereka dapat dari faksi yang identik dengan setelan hitam dan senjata api itu merupakan salah satu sumber penyeimbang pendapatan dan pengeluaran utama. Tak hanya itu, ketentuan aliansi juga mewajibkan mafia untuk menjaga kerahasiaan rekan mereka, dan ini berarti hal yang membahayakan kerahasiaan tapi tak bisa diselesaikan oleh shinobi maupun penyihir karena mereka tak bisa bergerak terang-terangan, akan diurus oleh para mafia. Dan bagi mafia yang cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi kewajiban mereka, tugas mengencangkan 'simpul longgar' adalah sesuatu yang mudah mereka laksanakan.

Dan di antara banyaknya aliansi yang dibentuk oleh ketiga komunitas ini, kerjasama yang disulam oleh Konohagakure merupakan salah satu yang paling kuat dan manjur di seluruh dunia. Sisi penyihir dari trimurti ini diisi oleh Asosiasi Sihir Kanto. Fakta bahwa markas asosiasi ini dibangun di sekeliling World Tree yang notabene adalah keajaiban dunia bagi komunitas penyihir, sudah cukup menjadi bukti bahwa ASK diisi oleh penyihir-penyihir bereputasi tinggi dan telah diakui eksploitnya.

Sisi mafia yang menjadi rekan Konoha dan ASK adalah sebuah organisasi yang dijuluki Vongola Famiglia. Organisasi mafia yang bermarkas di Italia ini jumlah anggota terbesar di antara semua mafia yang ada, bahkan siapapun yang menjadi bos Vongola mendapat julukan capo di tutti capi (bos dari semua bos). Mengingat besar dan kuatnya Vongola Famiglia, siapapun yang berani mencari masalah dengan organisasi ini, sengaja atau tidak, hampir bisa dipastikan harus menyiapkan batu nisan dan kuburan yang akan segera mereka tempati.

Jika itu masih kurang, mereka yang keturunan langsung dari Vongola Famiglia memiliki kemampuan supranatural yang bisa menandingi jutsu dan sihir. Mereka mampu menciptakan dan mengendalikan api dalam bentuk termurni, yang dijuluki Shinuki no Honoo. Konon, satu Vongola yang bisa menggunakan api ini takkan kalah walaupun dia harus menghadapi satu pasukan berkekuatan ratusan orang sekalipun.

Lalu mengapa semua fakta di atas begitu penting? Karena sekarang cerita ini akan terfokus pada salah satu contoh aliansi ini, dalam bentuk 3 orang laki-laki dengan penampilan yang berbeda sedang memasukkan tas ke bagasi sebuah mobil. Pertama, seorang pemuda berambut pirang yang memakai celana jins hitam dan atasan jumpsuit jingga-hitam favoritnya, di balik penampilannya, cowok bernama lengkap Naruto Uzumaki dengan tinggi badan hampir 180 cm ini adalah seorang shinobi dengan keahlian yang... ehem.

"Oi!"

Pemuda kedua memakai bawahan jins biru tua dan jaket hoodie berwarna senada dengan rambut jabrik cokelatnya. Melihat wajah cowok 14 tahun yang terlihat tidak serius dan lembek ini, takkan ada seorangpun yang menyangka bahwa dia adalah calon penerus bos Vongola Famiglia. Raut wajahnya yang seperti mengatakan bahwa pemuda itu tak bisa melukai bahkan seekor kucing sekalipun ini menyembunyikan seorang petarung yang membuat takjub kawan maupun lawan. Karena Tsunayoshi Sawada adalah Vongola Decimo, sang pengguna Api Langit yang menaungi seisi Bumi.

Di samping kedua orang itu, berdiri seorang anak-anak yang usianya tak mungkin lebih dari 10 tahun, walaupun setelan dan dasi yang ia kenakan agak tak sesuai dengan penampilannya. Tapi pemandangan ini adalah hal yang lumrah, karena Negi Springfield adalah seorang bocah jenius yang sudah bekerja sebagai guru walaupun usianya masih sangat belia. Dan identitasnya sebagai guru itupun masih menyembunyikan sebuah rahasia bahwa dia lulus dari sebuah akademi sihir ternama. Dan mengingat usianya, itu adalah hal yang sangat mengesankan.

Si cowok pirang bernama Naruto mendengus puas setelah menemukan posisi yang pas sehingga semua koper yang mereka bawa muat di dalam bagasi. Sambil menutup bagasi, ia melempar pandangan ke arah si rambut coklat yang entah kenapa terlihat galau sejak pagi tiba. "Tsuna, kau kenapa?"

Yang ditanya cuma menghembuskan napas panjang, mengingat kembali percakapan yang ia alami malam tadi.

"Apa maksudmu kau tidak ikut?!"

"Artinya, aku tidak ikut. Titik."

"Tapi bagaimana kalau ada bahaya di jalan?! Aku tidak bisa mengaktifkan Api Langit tanpa peluru khususmu!" Tsuna menepuk dahinya seperti ingat sesuatu. "Benar juga, masih ada pil itu kan?"

"Tsuna," Reborn hanya membalas tatapan Tsuna dengan wajah datar seperti yang biasa ia lakukan. "Kau tak bisa bergantung pada peluru atau pil itu selamanya. Kau harus mulai belajar mengeluarkan Api Langitmu tanpa bantuan eksternal. Tapi internal."

"Agghh, aku gak ngerti! Dan biarpun aku ngerti, aku gak tahu bagaimana caranya!"

"Biar kuberikan satu petunjuk. Shinuki no Honoo bisa diaktifkan berdasar dua kondisi ini. Satu, untuk membebaskan diri dari penyesalan. Dua, untuk mencegah penyesalan."

Tsuna menggelengkan kepalanya yang mulai pusing karena terlalu banyak berpikir. Jarang sekali Reborn memberinya petunjuk yang lebih mirip teka-teki semacam ini. Dan seberapapun Tsuna memutar otak sampai waktu tidurnya berkurang drastis, ia tetap tak bisa memecahkannya.

"Tsuna?" panggilan Naruto yang disertai kibasan tangan di depan wajah Tsuna membuat lamunan cowok 14 tahun itu buyar. "Kau tak 'papa? Kalau mau ke toilet lakukan sekarang, perjalanan kita bakal panjang."

"A-ah, aku baik-baik saja kok," sahut Tsuna sambil menggelengkan kepalanya.

"Kau yakin? Aku tidak tanggung jawab kalau kau sakit perut di tengah jalan lho."

"Beneran kok. Negi sendiri bagaimana?"

"Ah... kalau anak itu sih," Naruto mengedikkan kepalanya untuk menunjuk ke arah Negi yang kini dengan penuh semangat masuk lewat pintu kanan mobil sedan itu dan keluar lewat pintu kiri, sebelum berputar lewat depan dan mengulanginya dari awal lagi. "Kayak orang kesuntik tiga dosis adrenalin."

"Ah, hahaha. Dia kan baru sepuluh tahun," Tsuna terkekeh melihat kelakuan bocah yang sudah mereka anggap adik sendiri itu. "Ngomong-ngomong, siapa yang nyetir?"

Naruto menjawab dengan suara datar. "Aku."

Negi yang dari tadi tidak bisa diam seperti monyet yang pantatnya kebakaran tiba-tiba berhenti bergerak di tengah jalan, warna wajahnya mulai mengalami perubahan drastis seperti yang dialami Tsuna.

"Kau?"

"Yep."

"Beneran?"

"Serius."

Tidak sepersekian detik kemudian Tsuna sudah berlutut di tanah dengan wajah tertunduk sambil menangis tersedu-sedu. "Kusoooh, aku masih mau hidup, brengsek!"

"Oi."

Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Negi yang sama-sama berlutut, tapi bedanya bocah itu meraung-raung sambil menarik-narik rambutnya.

"Nekane-neesan! Tolong maafkan kepergiankuu!"

"Oi!"

"Ngapain lagi kalian sekarang?" suara yang Naruto kenali dari kemarin membuat pemuda itu berbalik ke arah pemiliknya. "Kalian ini gak bisa hidup tanpa ngebanyol ya?"

"Ahaha..." Naruto mengangguk malu-malu. "Ossan, kau sudah siap pergi?"

"Tentu saja, kau pikir kenapa lagi aku ada di sini?" nada suara bapak itu sudah kurang pedasnya jika dibanding kemarin. Tazuna sendiri kini menjulurkan kepalanya kesana kemari seakan mencari sesuatu. "Mobilnya ada, tapi mana supirnya?"

"Oh, aku yang nyetir."

Tazuna terdiam sebentar.

"Uooohh, mengapa hal ini terjadi saat aku sudah hampir bertemu anak dan cucuku?! Kenapaa?!"

"OI!"

~•~

"Hoo, ternyata kau emang bisa nyetir ya..." Tazuna berkomentar dari kursi depan.

"Tentu saja, kampret!" semprot Naruto sebelum menggumam dengan wajah cemberut. "Kenapa sih gak ada orang yang percaya kata-kataku?"

"Tapi kapan kau belajar nyetir, Nii-san?"

"Aku tidak pernah dapat misi bulan kemarin. Berlatih seharian juga kadang bisa bikin bosan, jadi aku cari kegiatan lain untuk refreshing. Contohnya ya kursus nyetir mobil atau kursus memasak."

"Hah?" Tsuna memiringkan kepalanya. "Kenapa juga kau perlu kursus memasak?"

"Kau lupa kalau aku hidup sendirian ya?" sahut Naruto sebelum tergelak. "Yah, bagus juga sih aku ngambil kursus itu. Aku baru tau kalau ada cara motong sayur tanpa harus luka."

Tsuna dan Negi sweatdrop berjamaah saat membayangkan figur kakak mereka berusaha memotong kubis dengan jari-jari yang memuncratkan darah setiap kali pisau bertemu talenan.

Negi mengggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghapus imajinasi yang membuatnya agak mual itu, sebelum menjulurkan kepalanya di antara kursi depan. "Ngomong-ngomong, Tazuna-san? Kenapa kau minta pengawalan? Kalau dari tadi aku lihat sih kelihatannya jalan ini aman-aman saja."

"A-ahh, kurasa aku hanya paranoid," pak tua itu berjengit sedikit, satu reaksi yang tidak lepas dari pengamatan Naruto. "Sudahlah, bukannya lebih bagus kalau kita tidak ketemu bandit?"

"Hmm," Negi mengangguk-angguk setuju. "Oh ya, Nii-san-"

Negi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba mobil mereka oleng ke samping sambil mengeluarkan suara berdecit yang membuat jantungnya berhenti berdegup sejenak. Jeritan ketakutan dilepaskan oleh Tsuna yang duduk di sampingnya

"Naruto-niisan?!" mata Negi melebar ketika melihat sebuah kunai sudah menancap di bahu kakaknya. "Nii-san!"

"Tsuna, Negi! Tutup jendela kalian!" Naruto menyalakkan perintah. Tangannya meraih gagang kunai yang menancap di bahunya sebelum mencabut benda itu, membuat darah merembes dan mulai membasahi lengan jumpsuitnya.

Shinobi berpengalaman itu melempar pandangan kesana kemari. Walaupun mungkin dia terlihat seperti orang yang terkena serangan karena tak siaga, alamat kunai yang terbenam di bahunya tadi sebenarnya tertuju pada Tazuna yang duduk di sebelahnya. Dia sangat yakin dia tak melihat atau merasakan keberadaan siapapun di kedua samping jalan. Dan jika kunai yang melukainya ini adalah sebuah penanda, maka kalimat 'bandit dan rampok' yang ada di deskripsi misinya baru saja berubah menjadi 'ninja'.

Insting Naruto kembali membunyikan sirine nyaring ketika dua kilatan besi tertangkap oleh matanya. Tak sampai hitungan detik, dia tiba-tiba merasakan mobil yang ia kendarai menjadi oleng dan lepas kendali, membuat Naruto sadar kalau senjata yang dilemparkan oleh siapapun penyerang mereka telah bersarang di ban depan kendaraan itu.

Kecepatan kendaraan mereka tak lebih dari 40 km perjam, namun hilang kendali telah membuat mobil itu membelok sendiri ke arah kiri dan mulai mendekati pembatas jalan. Tanpa buang waktu, Naruto menoleh ke belakang dan berteriak, "Negi! Angkat mobilnya!"

Perintah sang figur kakak membuat bocah sepuluh tahun itu tersentak. Namun reflek yang ditempa oleh latihan membuat Negi mampu melaksanakan perintah itu tanpa menyia-nyiakan waktu. Ia menarik tongkatnya yang tergeletak di lantai mobil. "Ras tel ma scir magister..." kalimat aktivasi terucapkan oleh mulut Negi, dan tak sampai dua helaan napas, bemper mobil yang jaraknya tidak sampai 10 inci dari pembatas jalan terhindar dari tabrakan karena seluruh tubuh mobil melayang, diangkat oleh angin yang membungkus kendaraan itu.

Setibanya mereka di tanah, Naruto segera menginjak rem dalam-dalam, membuat mobil itu mengeluarkan bunyi decit nyaring dan menyisakan bekas yang dalam di permukaan tanah.

Sesegaranya setelah mobil itu berhenti, Naruto segera keluar dan bergerak ke depan mobil, kuda-kudanya menandakan bahwa dia siap untuk lawan apapun. Pandangannya beredar tiga ratus enam puluh derajat, berusaha menemukan siapa penyerang mereka. Di belakangnya, dua suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya sesaat.

"Nii-san?" Negi terdengar waspada, namun ada sedikit ketakutan tersimpan di suara bocah itu. "Kau melihat siapa yang menyerang kita?"

"Tidak. Siapapun penyerang kita, mereka ahli bersembunyi," Naruto melirik Tazuna yang masih duduk di mobil dengan wajah pucat pasi. "Dan melihat kunai tadi, kurasa kita tidak sedang berurusan dengan bandit, apalagi rampok."

"Agghh!" Tsuna yang mudah panik berteriak sambil mencengkeram kepalanya. "Tuh kan, apa kubilang?! Kenapa sih Reborn tidak mau mendengarkanku?!"

Dahi Naruto berkerut mendengar kalimat itu tapi perhatiannya langsung teralihkan ketika merasakan sesuatu dari genangan air yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seakan menjawab kecurigaannya, genangan air itu bergerak naik dan mulai membentuk dua sosok berjubah hitam. Hitai-ate yang terpasang di kepala mereka memiliki tanduk dan alat yang mirip masker pembantu pernapasan terpasang menutupi wajah kedua ninja itu.

"Hebat juga kau, bisa menyadari keberadaan kami."

Posisi Naruto merendah sedikit dengan mata makin terpicing sementara dua cowok di belakangnya terpekik pelan. "Mana mungkin ada genangan air kalau tak ada hujan," Naruto memiringkan kepalanya sedikit. "Tsuna! Negi! Lindungi pak tua itu!"

Kaki Naruto menegang. "Biar aku yang urus ini."

Naruto menyerbu kedua Nukenin (Ninja Pemburu) itu dengan sedikit kekhawatiran tersimpan dalam kepalanya. Dia tahu bahwa duluan menyerang seperti ini bisa merugikannya, tapi dia juga tak bisa membiarkan kedua pemuda dan klien di belakangnya ada dalam bahaya.

Kekhawatirannya terbukti. Ketika jarak Naruto hanya tinggal tiga langkah, kedua ninja di depannya tiba-tiba melesat, masing-masing mengisi sisi kanan dan kiri Naruto. Mata shinobi remaja itu makin melebar saat melihat sebuah rantai besi bersisi tajam yang dihubungkan oleh senjata berbentuk gauntlet yang terpasang di tangan kedua lawannya.

Ketika rantai besi tajam itu hampir sampai di lehernya, Naruto dengan paksa menjatuhkan tubuhnya, membuat dirinya paralel dengan tanah. Dari posisinya, Naruto mendongak dan menemukan kalau dua lawannya kini sudah berlari ke arah Negi yang gugup dan Tsuna yang jelas-jelas ketakutan.

Dengan geraman singkat, Naruto memutar tubuhnya 180 derajat dan menancapkan kunainya dalam-dalam di tanah, tapi tidak sebelum memastikan senjata itu mengait rantai besi yang digunakan musuhnya. Naruto melipat tangannya di depan dada dan melompat ke depan.

Dua shinobi yang sudah siap menyerang Tsuna dan Negi tiba-tiba merasa pergerakan mereka terhalang. Kedua orang itu menoleh ke belakang dengan bersamaan, hanya untuk dikagetkan oleh sebuah kunai yang mengait rantai mereka dan semakin terkejut lagi oleh sebuah sosok dengan jumpsuit berwarna jingga tiba-tiba mendarat di antara mereka berdua dengan tangan terlipat.

Mata lawan Naruto melihat sebuah kibasan cepat dan sekitar 3 milidetik berikutnya merasakan bogem mentah menghampiri wajah mereka. Kekuatan tinju itu cukup untuk membuat mulut mereka memuncratkan darah dan mementalkan mereka kembali ke posisi mereka semula.

Sementara Naruto meneruskan pertarungannya, Negi membuka pintu dan berusaha menarik Tazuna yang pucat pasi keluar dari mobil, tapi bapak itu malah berontak. "Tazuna-san, kau harus keluar dari mobil!"

"D-diam kau! Mobil ini bisa dikunci kan?! Jadi pasti lebih aman di dalam!"

"Tazuna-san, kau tidak sadar kalau yang mengincarmu adalah ninja?! Kau pikir pintu mobil ini bisa melindungimu?!" Negi menghardik Tazuna. "Dan Tsuna-niisan, jangan diam saja! Bantu aku!"

Yang dipanggil tersentak sebelum mengangguk tanpa suara. Wajahnya yang pucat pasi menunjukkan pergolakan yang sedang terjadi dalam dirinya. Di tangannya memang sudah terpasang Vongola X-Glove, senjata kepercayaannya, tapi tanpa Api Langit, benda itu hanyalah sepasang sarung tangan wol biasa!

Saking tenggelamnya calon bos Vongola itu dalam masalahnya sendiri, dia tidak menyadari kalau kelompok Nukenin yang menyerang mereka memiliki satu anggota ekstra yang telah memilihnya sebagai mangsa karena penampilannya yang terlihat paling lemah bahkan dibanding bocah kecil itu. Pembunuh bayaran itu menarik satu napas singkat sebelum melompat dari pohon tempatnya bersembunyi, gauntlet di tangannya yang bercakar tajam siap mencabik korban berikutnya.

"TSUNA-NIISAN!"

Tsuna hanya terpana saat merasakan tubuhnya didorong oleh Negi yang kenapa terlihat panik. Proses berpikir remaja 14 tahun itu langsung terhenti saat melihat tangan bercakar berayun di depan matanya. Detik berikutnya, Tsuna merasakan darah hangat menciprati wajahnya.

Pemuda itu tak mampu mengeluarkan suara saat ia melihat tubuh adiknya sudah terbaring di tanah, sebuah luka memanjang nampak di lengan kirinya.

"...Negi...?"

Shinobi pembunuh bayaran itu sendiri melompat ke belakang untuk memperbaiki posisi dan menyiapkan serangan lain. Dia tak menyangka kalau bocah itu cukup berani untuk mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan cowok lemah itu, tapi toh takkan butuh waktu lama untuk membereskan mangsanya semula.

Naruto sedang berusaha keras menghindari serangan dari dua lawannya yang memiliki teamwork jempolan ketika dia tak sengaja melempar pandangannya ke arah mobil. Pemuda itu langsung tertegun saat melihat Tsuna berlutut di samping Negi yang terkapar... dan berlumuran darah.

Kedua pemuda yang masih tertegun dan seakan terpisah dari dunia itu merasakan ada sesuatu yang meraung dan meronta dalam diri mereka. Di dalam ruang fikir mereka, terdengar sebuah suara yang sangat mirip rantai yang putus.

Nukenin ketiga yang mengincar Tsuna mengurungkan niatnya untuk menyerang saat melihat remaja itu berdiri perlahan-lahan. Bukan aksi itu yang menarik perhatiannya, tapi sebuah api kecil yang tiba-tiba menyala di dahi targetnya itu. Selagi ia bertanya-tanya tentang apa maksud hal ini, api di dahi Tsuna menyala semakin terang dan besar.

Dan dia jadi terbelalak ketika sarung tangan wol yang terpasang di tangan mangsanya tiba-tiba bercahaya terang dan berubah menjadi sebuah sarung tangan hitam terbungkus api dengan emblem berbentuk huruf X di tengahnya.

Tapi hal yang paling membuatnya terkejut adalah wajah Tsuna. Kalau sebelumnya raut wajah pemuda itu terlihat lembek dan pengecut, kini yang nampak oleh matanya hanyalah ekspresi dingin yang membuat bulu kuduknya merinding. Sorot mata yang pada awalnya menyiratkan rasa takut itu kini berubah menjadi tajam, menjanjikan bahwa ada hukuman yang akan segera dijatuhkan.

Dua Nukenin yang menghadapi Naruto merasakan perubahan aura yang drastis tak seberapa jauh dari posisi mereka sekarang, namun mereka tak sempat mengalihkan perhatian karena jalur napas dua pembunuh bayaran itu tiba-tiba tersumbat oleh sebuah nafsu membunuh yang sangat mengerikan di depan mereka.

"Kalian," satu kalimat yang sama, tapi diucapkan oleh dua suara yang berbeda. "Kalian melukai Negi."

Insting Nukenin di depan Tsuna memberi perintah pada shinobi itu untuk menyilangkan gauntletnya ke depan tubuh saat lawannya bergerak dengan kecepatan yang tak bisa ia ikuti dengan matanya. Sesuatu menghantam gauntletnya dan ia bisa merasakan senjata yang sepenuhnya terbuat dari besi itu penyok seperti baru ditimpa sebuah battering ram. Pembunuh bayaran itu makin terbelalak saat merasakan panas yang hebat dan melihat gauntletnya mulai meleleh.

Matanya melebar ke ukuran maksimal saat sadar kalau hanya satu serangan dari tinju yang dibungkus sarung tangan hitam itu hampir menghancurkan senjatanya.

Ninja tanpa nama itu mengangkat wajahnya, dan keringatnya semakin mengucur saat ia dihadapkan dengan ekspresi dingin Tsuna yang jauh lebih menakutkan dari makhluk apapun yang pernah ia temui. Dia hanya bisa terdiam di tempat ketika Tsuna menarik tinjunya yang diselimuti jilatan Api Langit sekali lagi, siap menyudahi pertempuran singkat ini.

"Big Bang Axle."

Hantaman tinju yang disertai ledakan besar itu membuat sang Nukenin merasa ditabrak oleh sebuah kereta api ekspres. Luka-luka bakar yang parah ia terima selagi tubuhnya melesat ke belakang dan menghantam pohon di samping jalan yang langsung remuk, serpihannya beterbangan ke semua arah.

Rekan shinobi yang sudah tak sadarkan diri itu tak sempat mengamati keadaan teman mereka, karena dua Nukenin itu kini disibukkan oleh seorang shinobi berambut pirang yang mencengkeram gauntlet mereka dengan masing-masing tangan. Sorot mata yang seakan siap menelan mereka bulat-bulat dan nafsu membunuh yang membuat oksigen sulit masuk ke paru-paru mereka itu cukup untuk menciutkan nyali Nukenin yang tak menyangka akan menghadapi seorang monster seperti ini. Rasa takut mereka makin bertambah saat melihat gauntlet mereka mulai retak di bawah tekanan jari-jari pemuda yang mencengkeramnya.

Mereka bahkan tak melihat gerakan Naruto yang begitu cepat, menarik kedua tinjunya sebelum memukulkannya tanpa ampun. Dua Nukenin itu sangat yakin kalau tinju sang lawan sudah terhalang oleh gauntlet mereka, lalu kenapa kekuatan pukulan itu juga terasa di dada mereka?

Tapi pertanyaan itu tak pernah terjawab, karena setelah tulang rusuk mereka yang keempat patah, rasa sakit yang luar biasa sudah mengirim mereka ke alam ketidaksadaran sebelum tubuh mereka menemui nasib yang sama seperti sang rekan yang kalah duluan, walaupun pohon yang menerima tubuh mereka tak hanya sekedar remuk, tapi patah dan tumbang seketika.

Tapi ada satu hal yang berhasil mereka lihat sebelum kesadaran mereka menghilang, satu hal yang takkan pernah dapat mereka lupakan andai ini bukan momen terakhir kehidupan mereka, dan itu adalah sepasang mata dengan retina hitam total dan iris berwarna kuning keemasan yang membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang bukan manusia.

Kedua Nukenin itu kadang dijuluki Setan Bersaudara, tapi mereka tahu bahwa yang mereka hadapi adalah seorang Iblis sesungguhnya. Iblis yang akan menyeret mereka ke dasar Bumi yang paling kelam dan mencabik tubuh mereka perlahan-lahan sampai napas terakhir dihembuskan.

~•~

"Negi!"

Dengan kepanikan dan kekhawatiran sangat kental di raut wajahnya, Naruto bergegas ke sisi Negi dan mengangkat bocah itu sambil membalikkan tubuhnya. Guru kecil itu kini terengah-engah, wajahnya berkeriut menahan sakit.

"Brengsek...!" Naruto menyumpah sambil menggeretakkan giginya. Otaknya berputar dengan kecepatan sebuah engine mobil Nascar, mencari-cari cara yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan adiknya.

"Maafkan aku, Naruto-san..." sebuah suara menyesal terdengar dari Tsuna yang tiba di sampingnya. "Gara-gara aku, Negi..."

"Brengsek, Tsuna, ini bukan waktunya minta maaf!" hardikan Naruto membuat remaja 14 tahun itu berjengit. Tapi sebelum Naruto sempat buka suara lagi, sentuhan kecil yang terasa di tangannya membuat pemuda itu memalingkan wajah dengan kecepatan yang membuat lehernya terasa berderak kecil.

"...N-Nii-san?"

"Negi!" Tsuna cepat-cepat ikut berlutut di samping bocah itu. "Kau tidak apa-apa?!"

"U-un..." Negi mengangguk lemah, bibirnya yang pucat sedikit gemetar selagi ia melihat berkeliling. "M-Musuhnya...?"

"Kau tak usah khawatir, kami sudah mengurus mereka." jawab Naruto. "Yang lebih penting, khawatirkan dirimu sendiri."

"A-ahh..." Negi melihat ke tangan kirinya, di mana ada sebuah luka memanjang yang masih mengalirkan darah. "Tsuna-niisan, bisa tolong kau ambilkan tongkatku?"

Tsuna mematuhi perintah itu tanpa suara, memastikan kalau Vongola X-Glove yang terpasang di tangannya tidak sedang memancarkan api selagi ia memungut tongkat yang tergeletak di tanah dan membawakannya ke sang pemilik.

Setelah menerima tongkatnya, Negi menutup matanya untuk memperoleh sedikit konsentrasi. Tidak sampai hitungan detik cahaya hijau lembut membungkus tongkatnya, dan setelah Negi meletakkan tongkat itu ke lukanya, bekas sayatan memanjang itu mulai menutup walau dengan sangat perlahan.

Wajah Tsuna dan Naruto serta merta terisi rasa lega, membuat kedua pemuda itu bisa bernapas sedikit lebih baik dari sebelumnya. Setelah melihat warna wajah Negi yang mulai berkurang pucatnya, Naruto menyandarkan anak itu ke bemper mobil selagi ia berdiri dan mengarahkan perhatiannya pada Tsuna.

"Tsuna, di dalam tasku ada tali. Ikat ketiga Nukenin itu."

Nada otoriter yang terkandung suara Naruto membuat Tsuna tahu kakaknya itu takkan menerima bantahan. Selagi sang Vongola Decimo bergerak ke arah bagasi, Naruto sendiri melangkah ke pintu kiri mobil dan membukanya dengan paksa, menyebabkan orang yang duduk di baliknya berjengit.

"Keluar."

Perintah tanpa basa-basi itu benar-benar membuat Tazuna ciut nyali dan langsung patuh.

"Kenapa para Nukenin ini mengincarmu?"

Suara Naruto membawa sebuah wibawa yang membuat Tazuna merasa harus jujur dan mengaku saja, tapi kekeraskepalaan bapak itu membuatnya malah mengatakan hal sebaliknya.

"H-hah? Kaupikir aku tahu? K-kenapa kau bisa sangat yakin mereka tidak mengincar kalian?"

Tazuna langsung sadar kalau dia sudah salah omong saat kerahnya dicekal dan dia ditarik hingga matanya bertemu pandang dengan sepasang mata biru langit yang kini menyala dengan api kemarahan.

"Kau lihat itu?" Naruto mendesis sambil mengedikkan kepalanya ke arah Negi yang tersandar di tubuh mobil. "Aku mungkin takkan terlalu ambil peduli kalau hanya aku yang diserang. Tapi Negi terluka." cengkeraman Naruto pada kerah Tazuna semakin kuat, membuat pak tua itu ingin merepet karena ketakutan. "Kau pikir ada seorang kakak yang tidak murka melihat adiknya terluka?! Kunai pertama yang mereka lepaskan ditujukan untukmu, aku tahu mereka mengincarmu jadi sekarang berhentilah membual dan beritahu aku yang sebenarnya!"

"B-baik...! Baik...!" Tazuna mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pasrah, membuat Naruto melepaskan cekalannya dan membuat pak tua itu jatuh terduduk di tanah. Tazuna duduk bersila dan menghembuskan napas panjang.

"Aku menunggu."

Tazuna mengangkat kepalanya.

"Ini dimulai sekitar satu tahun yang lalu..."

To be Continued...

A/N: It's official, fic ini sekarang berubah haluan menjadi fic crossover NarutoxMahou Sensei NegimaxKatekyo Hitman Reborn. Perubahan dari universe asli sudah pasti bisa ditemukan karena hamba harus menyesuaikan dengan universe fic ini sendiri. Hamba sendiri mengakui kalau fic ini sangat jauh dari kata bagus, tapi adakah yang mau ngasih komentar? Hamba kepengen tahu apa ada orang yang mau mendukung Project The Radiant Sun ini. Oh yeah, BTW, nantikan chapter depan yang menyimpan aksi complete baddassery oleh Tsuna dan Naruto. Mau tau gimana? Oke, quick preview.

Naruto membuka pintu, tangannya yang bebas mengeluarkan suara berkeretak. "Aku tak peduli Gato menyewa ratusan prajurit bayaran. Aku punya jutsu."

Tsuna melangkah di sampingnya, mengencangkan sarung tangan hitamnya sambil berkata dingin, "Dia bisa saja menyewa puluhan Nukenin. Aku punya sarung tanganku."

"Aku tak peduli walau dia punya pasukan perang. Aku punya tangan dan kakiku."

Dua pemuda itu melangkah keluar dari rumah Tazuna, bibir mereka mengucapkan satu kalimat yang sama. "Ini bukan soal misi atau kewajiban."

"Ini adalah harga diri seorang kakak."

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.